Danger [2/4]

dangerbybbon

DANGER [2/4]

Scriptwriter: Elisomnia

Title: Danger

Cast: Jeon Jungkook (BTS), Alexa Choi (OC), Min Yoon Gi (BTS), other…

Genre: Crime, psychology, thriller, angst

Duration: Chaptered

Cover by Bbon

Previous part: 1

––JUNGKOOK sudah mati! Perkenalkan… aku JASON––

|..|

Author POV

Lelaki itu disana. Termakan oleh kegelapan. Kaos kumal, rambut kusut, wajah pucat bak tak ada darah yang mengalir. Duduk memeluk lutut beralaskan lantai sel yang dingin. Benar-benar mirip mayat hidup.

Tatapnya yang sayu memandang kosong pada jari-jari kakinya. Suara tangisan, kesakitan, dan rintihan adalah makanannya sehari-hari. Perih… sangat menderita.

Air matanya tak terasa mengalir turun. Membuatnya berkilau kala terkena sinar lampu yang tak sengaja masuk melalui celah. Sayang, hatinya tak seterang kilau itu.

Ia terus merutuki nasibnya dalam hati.

Kenapa mereka harus mati?

Kenapa aku tidak bisa menolong mereka saat itu?

Kenapa ini terjadi padaku?!!

Bocah itu menelungkupkan kepalanya diatara kedua lututnya dan ditutupnya dengan kedua tangannya. Bahunya berguncang. Dari pelan hingga sangat kencang. Isakan itu semakin jelas terdengar. Nafasnya tersendat-sendat tak karuan. Ia menangis semalaman.

~~~

Lingkaran hitam menghiasi mata Jungkook pagi itu. Matanya pun sedikit cekung akibat kurang tidur. Tubuhnya makin kurus saja. Semua makanan yang seorang petugas berikan didepan pintu selnya itu sama sekali tak disentuhnya. Diliriknya pun enggan.

Tubuhnya masih di tempat yang sama, tak berpindah satu senti pun. Duduk diam sambil memeluk lutut dan memandang kosong pada lantai sel yang kotor. Bertahan pada kegelapan yang menyelimutinya. Pikirannya juga kosong.

Pikiran yang entah melayang kemana dan telinga yang seolah tuli membuatnya tak menyadari jika pintu selnya berdecit. Baginya tak penting melihat siapa yang datang. Ia tak punya siapa-siapa lagi. Memangnya ada yang ingin menjenguknya?

“Jungkook,”

Suara lembut seperti itu tak mungkin mampu mengalahkan segala suara kepedihan dalam benak anak itu. Terlalu sakit sehingga apapun rasa dalam kehidupan ini tak begitu terasa pada dirinya. Hanya sakit, sakit, dan sakit.

Jungkook, matanya hampir terpejam saat tangan hangat menyentuh pundaknya. Dan disitulah ia tersadar, bahwa ia tak sendirian di dalam sel ini. Ada Ale yang sudah berjongkok disampingnya diiringi senyum manis.

“Apa kau masih ingat aku?”

Jungkook menatap Ale lamat-lamat sebelum akhirnya membuang muka dengan raut yang dari awal memang sudah datar. Hal itu membuat Ale menghela nafas pelan. Gadis itu tahu, Jungkook sangat menderita. Ia paham rasa sakitnya kehilangan orang tua yang kita cintai, karena ia belum lama ini juga mengalaminya.

“Aku tahu bagaimana perasaanmu, Jungkook.” Ale mengambil tempat disamping Jungkook, namun nampaknya anak itu tak peduli. “Aku tahu persis rasanya ditinggal orang yang kita sayangi.” Jungkook masih membuang muka, ia sedang malas bicara dengan siapapun––bukankah ia memang tidak pernah bicara setelah kejadian itu?

“Karena…” suara Ale tercekat. “Karena… aku juga pernah mengalaminya.” Dan karena satu kalimat itulah berhasil membuat Jungkook menoleh. Ditatapnya Ale yang menundukan sedikit kepalanya. Ada senyum tipis bercampur kepedihan di wajah Ale.

Tatapan Ale menerawang, “Sekitar 3 bulan yang lalu, orang tuaku tewas dalam kecelakaan pesawat.” Jungkook semakin menatap Ale lekat.

“Saat itu, ibuku mengabariku bahwa lusa ia dan ayahku akan mengunjungiku di Seoul. Aku yang sedang banyak pekerjaan terlalu sibuk sehingga pesannya pun ku abaikan dan kembali bekerja. Setelah semua pekerjaan kuselesaikan aku pergi tidur.” Jungkook masih setia mendengarkan Ale berbicara.

“Besoknya aku tak ingat jika semalam ibuku berkata akan datang. Yang ada di otakku hanyalah pekerjaan yang menumpuk. Bahkan sampai lusa pun aku masih tak ingat.” Satu isakan meluncur dari bibir tipis Ale. Jika sudah membicarakan tentang orang tuanya ia akan menjadi sangat cengeng. Ia memain-mainkan ujung denim yang dipakainya sambil bercerita.

“Hingga sore harinya saat aku menyalakan televisi, aku disuguhkan dengan berita lokal. Sebuah berita tentang kecelakan pesawat. Membicarakan tentang pesawat seketika itu juga aku teringat kedua orang tuaku.” Ale mengambil nafas sejenak sebelum melanjutkan. “Aku takut jika mereka berada dalam pesawat yang jatuh itu. Rasa takutku terjawab saat kulihat samar-samar wajah yang kukenal diantara puing-puing pesawat itu. Ya, mereka adalah orang tuaku.” Ale tersenyum miris mengenang peristiwa itu. Menurutnya, semua itu salahnya. Ia yang terlalu sibuk bekerja sampai mengabaikan orang tuanya. Pesan ibunya pun tak dibalas. Ibunya pasti khawatir dan ingin cepat sampai di Seoul untuk bertemu dengan putrinya. Tapi malah ‘itu’ yang didapat wanita paruh baya beserta suaminya itu.

Ale segera mengusap air matanya cepat dan tersenyum manis. Ia berusaha untuk tegar meski kenyataan berkata lain. Air mata itu tak kunjung berhenti. Ale menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Ia butuh menenangkan diri sejenak. Jungkook yang masih menatap Ale dengan datar mencoba untuh meraih pundaknya namun Ale sudah mendongak untuk menatap anak itu. Membuat laki-laki dengan kaos kotor itu mengurungkan niatnya.

“Aku baik-baik saja.” Sambil tersenyum Ale berkata.

Mulut Jungkook terbuka sedikit seperti hendak mengatakan sesuatu, namun,

>Kraaakkk<

Pintu sel yang dibuka paksa itu mengejutkan mereka berdua.

“Waktu jenguk sudah selesai. Silahkan tinggalkan tahanan segera.” Ucap lelaki paruh baya berbadan besar itu garang. Tahanan? Pikir Ale.

Ale menatap Jungkook sejenak. Ia tak yakin akan meninggalkan anak itu sendirian. Tersirat ketakutan dimata hitam Jungkook saat melihat lelaki berbadan besar itu.

Lelaki itu menarik kasar tangan Ale untuk segera keluar dari sel saat gadis itu berada dekat dengan pintu sel. Lelaki itu menerobos masuk dan,

>Plaakkk<

Ale menutup mulutnya karena terkejut dan tak percaya.

“Sampai kapan kau akan mendiamkan makananmu hah?!” seru lelaki itu menggelegar. Jungkook yang memegangi pipinya akibat tamparan keras dari lelaki itu tak berniat untuk menjawab. Ia semakin bungkam.

“Aku bertanya padamu bocah! Jadi jawablah!”

>Plaakkk<

Jungkook jatuh tersungkur dengan menahan rasa sakit. Ale tak kuasa melihat itu. Jungkook menatap Ale dengan tatapannya yang seolah mengatakan ‘Tolong aku’. Ia hendak maju sebelum sepasang tangan menggiringnya keluar.

Ya!” Bentaknya pada sang empunya tangan. “Kenapa kau menarikku, Hyo Shin? Dia butuh bantuanku.” Hyo Shin yang berdiri dihadapannya menatapnya datar. “Aku hanya menolongmu. Kau kan tak suka kekerasan.” Jawab pria tinggi itu enteng. “Apa?! Dia yang harus ditolong, bukan aku!”

Hei, Ale.” Ale menoleh saat namanya dipanggil. Tuan Park berjalan santai kearahnya sambil memakan donat dan membawa sekaleng minuman soda. “Oh, ada kau juga Hyo Shin?” Hyo Shin tersenyum. “Kau menjenguk Jungkook?” Tuan Park beralih menatap Ale. Ale mengangguk kalem menjawab itu. “Sudah kau pikirkan cara menangani anak itu?” Ale terdiam sejenak lalu ia tersenyum penuh arti, “Tentu saja sudah, Tuan.”

~~~

Alexa POV

“APPPPAAAAAAAA….??!!!!!”

Aku menyeruput cappuchinoku santai. Mengabaikan teriakan melengking dari kedua sahabatku.

“Apa kau yakin, Ale?” Hyo Shin dengan tampang terkejutnya.

“Kurasa itu bukan ide yang tepat.” Yoon Gi yang berujar tenang.

Aku mencomot kentang goreng dan mencolekannya pada saus tomat kesukaanku. Menatap kedua lelaki yang duduk dihadapanku dengan tenang. “Memangnya kenapa? Aku sudah diskusikan ini dengan Tn. Park, dan dia setuju saja.” Hyo Shin kalang kabut antara menyedot jus jambunya dan menelan keripiknya. “Hei, tenangkanlah dirimu, Hyo.” Seruku. Ia langsung terbatuk dan dengan sigap Yoon Gi menyodorkannya jus jambu yang langsung diminumnya sampai tandas.

“Kau tahu, aku sangat tak percaya saat kau mengucapkan itu dua menit yang lalu. Wajar saja aku seperti ini.” Aku memutar bola mataku lalu dengan cepat menjitak kepalanya, “Kau ini jangan berlebihan. Belajarlah tenang sedikit.” Ia meringis memegangi kepalanya sambil mengumpat pelan.

Yoon Gi mencondongkan badan lalu menopang dagunya diatas meja, “Kau yakin akan melakukannya?” aku mengetuk-ngetuk permukaan meja sebelum mengangguk dan menatap Yoon Gi. “Kurasa membiarkan Jungkook tinggal di rumahmu akan merugikanmu.” Yoon Gi berucap lagi.

“Mengapa bisa merugikanku?”

“Tentu saja bisa. Dia sakit. Kutekankan sekali lagi, dia SAKIT. Dia bisa saja mengamuk dan menghancurkan rumahmu tanpa kau sadari.” Aku kembali menjitak kepala Hyo Shin karena dia begitu menyebalkan. Menyambar pertanyaanku dengan begitu cepat. Aku kan jadi kaget.

Hei ayolah, aku hanya ingin menolongnya. Aku tak tahan melihatnya disiksa di sel itu lagi. Tak seharusnya ia mendapat perlakuan seperti itu.”

Kulihat dua sahabatku itu terdiam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Author POV

Walaupun kafetaria di kepolisian itu cukup ramai. Tapi kesunyian mendadak menyelimuti meja  dimana tiga bersahabat itu duduk. Hanya suara ketukan jari Yoon Gi yang seirama terdengar di meja bundar itu.

“Terserah kau saja lah. Aku pergi.” Hyo Shin memundurkan kursinya lalu beranjak dari tempat itu. Ale dan Yoon Gi memandanginya sampai menghilang di belokan.

Yoon Gi mengangkat cangkir americanonya dan menyeruput cairan hitam pekat itu perlahan. Diambilnya waffle yang sejak tadi teronggok tak tersentuh di atas meja.

“Kutanya sekali lagi, kau tetap akan membawanya kerumahmu?” lelaki itu memasukan waffle ke dalam mulutnya dalam sekali lahap. Ale mengangguk yakin. Ia masih tetap pada pendiriannya. “Aku tak peduli kalian akan bilang apa tapi aku tak akan berubah. Aku ingin menolongnya dan itu sudah tugasku.” Suara dengan nada monoton memasuki gendang telinga Yoon Gi. Membuat lelaki itu mengangguk-angguk mengerti.

“Baiklah, apapun keputusanmu aku akan mendukungmu. Tapi kau juga perlu berhati-hati, mengerti?” Ale balik tersenyum membalas senyuman manis Yoon Gi.

“Mau tambah kentang lagi?”

~~~

Jungkook memandang lingkungan sekitarnya yang masih terasa asing. Dengan tatapan polos bak seorang bocah berusia 7 tahun, matanya menyisir seluruh halaman depan sebuah rumah bergaya klasik dengan warna pastel yang kalem. Banyak bunga tumbuh disana, sangat terawat. Ada pohon besar di sudut halaman. Dan ada ayunan kecil dibawah pohon itu. Rumputnya hijau. Membuat suasana di rumah ini semakin hidup.

Diikutinya langkah seseorang di depannya dengan ragu, namun rasa aman perlahan menyelimutinya saat memasuki rumah itu.

Interior yang sederhana namun sangat indah. Nuansa putih mendominasi rumah besar itu. Sofa beludru merah di tengah ruangan terlihat sangat menawan saat dipadukan dengan karpet hitam bulu-bulu dibawahnya. Meja kaca dihadapannya membuat tampilan ruang tamu sederhana itu makin elegan.

Memasuki ruang keluarga, “Meow…”

Jungkook spontan berjengit ke belakang karena kaget. “Oh kalian, lucu sekali.” wanita disampingnya memeluk ‘mereka’ dengan begitu sayang.

“Jungkook, ini kucing-kucingku. Brad dan Ema. Mereka satu-satunya keluargaku.” wanita itu––yang tak lain adalah Ale, menggendong kucing-kucingnya menuju ke arah Jungkook.

Kucing Anggora berbulu cokelat lebat dengan mata kuning menyala, memandang Jungkook tajam saat anak itu menggendongnya. “Itu namanya Brad.” Ale menggendong kucing satunya yang berwarna putih bersih dengan mata hitam pekat juga bertubuh agak panjang dengan ceria, “Yang ini Ema, dia kucing Persia.”

Jungkook menurunkan kucing-kucing itu sambil tersenyum tipis. “Dan mulai sekarang kau juga akan menjadi keluargaku, Jeon Jungkook.” Jungkook menoleh menatap Ale. Senyumnya semakin merekah.

“Terimakasih.”

Ale tertegun sesaat. Itu pertama kalinya Jungkook mau bicara––walaupun singkat, setelah kejadian yang menewaskan orang tuanya tempo hari. Dalam hati ia tersenyum.

~~~

Sisi tergelap dalam dirinya menyeruak keluar. Menatap dunia kegelapan yang tak selalu bisa dilihatnya. Penuh misteri dalam langkahnya menyusuri bayang. Menjadikannya sesuatu yang berbeda malam itu.

Tatap polosnya berganti dingin. Senyum manisnya berubah sinis. Aura kalem yang bertahun-tahun ini melekat mengelupas tergantikan oleh aura iblis. Gelap dan suram.

Pergi ke dapur, kamar mandi, ruang keluarga, seluruh rumah ia telusuri hanya untuk sekedar bermain. Malam adalah waktunya untuk bermain.

Mengambil pisau dari dapur dan jalan-jalan di sekeliling rumah menjadi hobinya. Memotong tumbuhan, melempari kelelawar, menguliti sampai memutilasi hewan-hewan malam ia sudah biasa.

~~~

“Jungkook, kau sering mengunci diri di kamar. Sebenarnya ada apa?” Jungkook tertunduk, melipat kedua tangannya rapat di depan dada. Sangat rapat seperti menutupi sesuatu. Tapi Ale tak mempermasalahkan itu.

Sudah satu bulan setengah Jungkook tinggal di rumahnya. Namun, anak itu sepertinya masih sangat tertekan. Mengunci diri di kamar dan hanya keluar saat waktunya makan. Sebenarnya apa yang ia lakukan di dalam kamar?

“Kau tidak melakukan percobaan bunuh diri kan?” tanya Ale lagi memastikan. Pertanyaan barusan membuat Jungkook kaget dan menatap Ale tajam. “Noona, aku tak sebodoh itu!” yap, Jungkook memanggil Ale dengan sebutan ‘noona’. Karena memang Ale empat tahun lebih tua dari Jungkook.

Ale tersenyum lembut, “Syukurlah kau masih punya kesadaran. Jadi ada apa?” Jungkook kembali tertunduk sambil memilin ujung sweeternya.

Noona tahu penyebabnya.” Tatap ragu Ale terpancar. Gadis itu menghela nafas pelan. “Apa karena orang tu––” belum sempat Ale menyelesaikan kalimatnya Jungkook sudah mengangguk.

“Aku mengerti perasaanmu. Aku akan memberimu waktu untuk menenangkan diri.” Hibur Ale, “Tapi kau juga jangan mengunci diri begitu. Itu membuatku khawatir. Oke?” Jungkook nyengir, “Baiklah, noona.”

Jungkook sudah lumayan banyak bicara sekarang. Hal itu membuat Ale tersenyum puas dalam hati.

>Ting Tong<

Mereka berdua menoleh bersamaan kala suara bel berbunyi. Ale beranjak dari sofa dan membukakan pintu.

“Hyo Shin?” Hyo Shin tersenyum manis diambang pintu sambil membawa cokelat.

“Tumben kau mampir?” yang ditanya tak langsung menjawab, malah ia menerobos masuk sebelum si pemilik rumah mempersilahkan.

“Apa salahnya mengunjungi rumah sahabatku sendiri?” Ale masih merasa aneh melihat Hyo Shin kini berada di rumahnya. Terakhir kali Hyo Shin kemari mungkin sekitar 7 bulan yang lalu. Bahkan saat orang tuanya meninggal hanya Yoon Gi yang ada disampingnya.

“Sudahlah, jangan diam begitu. Ini aku bawa cokelat. Ayo dimakan bersama.” Hyo Shin menggandeng tangan Ale menuju sofa. Namun langkahnya terhenti saat jaraknya sekitar 3 meter dari sofa. Matanya terpaku pada seseorang yang sedang duduk manis dan balik menatapnya di atas sofa merah itu.

Oh, ia lupa. Jungkook juga tinggal di rumah ini sekarang.

Seolah mengerti situasinya, Ale maju menghampiri Jungkook.

“Jungkook, bincang-bincangnya kita lanjutkan nanti lagi ya? Ada tamu.” Jungkook mengangguk dan beranjak dari sofa. Dia memilih bermain bersama Brad dan Ema tak jauh dari sofa.

Ale mempersilahkan Hyo Shin duduk. Mereka duduk dengan keheningan sejenak. Ale tak peduli pada Hyo Shin yang diam. Gadis itu mengambil cokelat yang dibawa Hyo Shin lalu memakannya.

Hei, kau bilang kita makan cokelatnya bersama. Ayo makanlah!” Ale mulai merasa jengah dengan aksi diam pemuda di depannya.

“Kau masih membiarkan ‘dia’ tinggal disini?” balas Hyo Shin seperti angin yang berbisik.

“Apa?” Ale memajukan telinganya hingga berada dekat di bibir Hyo Shin. “Tak kusangka kau masih membiarkan anak itu tinggal disini.” Ale memperlambat kunyahannya––dia makan cokelat, dan memalingkan pandangannya dari Hyo Shin. Sikap Ale itu jelas membuat Hyo Shin menghela nafas berat.

“Harus kukatakan berapa kali, huh? Dia––”

“Aku tahu kau membenci Jungkook. Berhentilah memusingkan masalah ini!” potong Ale cepat dengan sorot matanya yang tajam.

“Sebenarnya apa tujuanmu kemari?” tambah Ale. Pandangan Hyo Shin berpaling kepada Jungkook yang sedang memangku Brad dan Ema bergantian sambil tertawa. Merasa diperhatikan, Jungkook menoleh. Manik Hyo Shin dan Jungkook bertemu. Jungkook menatap Hyo Shin tajam. Hyo Shin sedikit menegang. Dia melihat aura ketidak sukaan dan kebencian di mata bocah 17 tahun itu.

“Ale, aku peringatkan, kau harus segera membawa anak itu pergi dari sini. Dia berbahaya.” Ale mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu? Dia baik kok.” Hyo Shin menggeleng dalam, “Tidak Ale, penampilannya menipumu. Kau harus menuruti perintahku. Bawa dia pergi atau kau akan menyesal.” Ale mulai memandang Hyo Shin tidak suka. “Hyo, jahat sekali kau berkata begitu tentangnya. Dia hanya anak yang butuh dorongan untuk hidup.” Hyo Shin menghela nafas––lagi, malas. “Kau bisa temukan sesuatu jika melihat ke dalam matanya.” Ale memandang Hyo Shin dalam diam, tak sedikitpun berniat untuk menjawab. ”Tak apa kalau kau tak mempercayaiku. Tapi aku akan mencari bukti bahwa dia memang berbahaya dan… SAKIT!”

Hyo Shin bangkit dari sofa. Memandang Jungkook sejenak sebelum pergi dari situ. Bocah itu masih bermain bersama kucing-kucing Ale, dengan senyum dan gelak tawa seolah tak terjadi apa-apa

TBC

Pernah dipost diblog pribadi : https://elisomundo.wordpress.com/
Mampir ya😀

5 thoughts on “Danger [2/4]”

  1. Jungkook seperti memiliki kepribadian ganda, mungkin apa yg dikatakan hyo sin benar, bahwa jungkook itu berbahaya! Penampilannya menipu ale!

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s