T(w)o Day-s (Part 4)

twoday-s

T(W)ODAY-S

By:  C.AK (GK)

wp:  wordyworldgiana.wordpress.com

MC:  Suho (EXO), Jimin (AOA) | SC:  Changmin (TVXQ) | Genre:  AU, Crime |

Duration:  Series/Chaptered | Rating:  T

Previous part: 1. 2. 3

Saat orang yang menghubunginya mengatakan kalau dia bertemu dengan orang yang menyebabkan kematian orang tuanya terlihat seperti kecelakaan. Suho langsung keluar dan melihat sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari sekolahnya. Tanpa menaruh curiga yang besar dia mengikuti orang tersebut dan sampai di sebuah pabrik lama di dekat pelabuhan.

Tapi setelah mereka sampai di tempat sepi itu Suho semakin yakin ada yang tidak beres yang sedang dan akan di hadapinya. Dalam beberapa saat semua terbukti benar.  Seseorang memukul kepalanya dari belakang sampai dia tidak sadarkan diri.

Berlahan kesadarannya kembali. Tanpa langsung membuka matanya, Suho merasakan kedua tangan dan kakinya terikat di kedua sisi kursi. Kemudian dia mendengar bunyi besi-besi berdentang nyaring dekat dengan telinganya. Kepalanya sakit luar biasa hingga membuatnya meringis kesakitan. Lalu pelan-pelan membuka matanya dan melihat dengan jelas orang-orang yang sekarang berada di sekelilingnya setelah beberapa kali mengerjapkan mata karena pandangannya yang kabur.

Dia bergerak melepaskan diri meskipun hasilnya tetap nihil. Ikatan di tangan dan kakinya terikat dengan kuat. Sampai salah satu dari mereka mengeluarkan suara tawa yang menggema di pabrik yang tidak terpakai itu.

“Kim Joon Myeon!” teriaknya.

Suho melihat seorang pria yang mungkin seusia dengan kakeknya meskipun tubuh pria ini terlihat lebih atletis dari kakeknya. Pria itu tersenyum sinis saat berjalan kearahnya. Kemudian dia berhenti tepat di hadapan Suho yang kembali mencoba melepaskan diri.

“siapa kamu? Apa maumu? Lepaskan aku!”

Pria itu memasang ekspresi datar diwajahnya, “siapa aku? apa mauku?” dan dia tertawa terbahak-bahak membuat bulu kuduk Suho berdiri. “aku sudah pernah melepaskanmu sepuluh tahun yang lalu apa itu masih belum cukup? Apa aku masih kurang baik?”

“apa yang kau bicarakan?”

Pria itu membungkuk dan mendekatkan wajahnya pada wajah Suho, “ayahmu, Kim Hun Joon mengambil sesuatu dariku dan menyembunyikannya. Dan hari itu dia membawamu dan ibumu untuk menyembunyikannya. Dimana? Dimana dia menyimpannya?”

Bayangan ayahnya mengenakan seragam kepolisian dan ibunya yang seorang jaksa melesat dalam pikirannya. Hari itu, apa yang terjadi hari itu? dia sama sekali tidak bisa mengingat apapun yang terjadi ‘hari itu’.

Tiba-tiba laki-laki itu menarik rambutnya dan mendorong kepalanya ke belakang dengan kasar, “kau tau apa yang aku lakukan pada orang tuamu?” dia terdiam sejenak dan tersenyum sinis, “aku menyabotase kecelakaan mobil yang dialami oleh orang tuamu. Kau ingat saat mobilmu meledak? Ingat?”

Suho menatap benci pada laki-laki yang lebih terlihat sebagai psikopat. Aku pasti akan membunuh laki-laki ini. aku pasti akan membunuhnya seperti dia membunuh orang tuaku. Pria tersebut kembali berdiri tegak.

“dimana mereka menyembunyikannya?” tanyanya sekali lagi.

“bukti apa yang kau maksud?! Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan!” Suho berteriak melepaskan amarahnya pada laki-laki yang hanya membalasnya dengan tertawa. “aku pasti akan membunuhmu! Aku pasti akan membunuhmu!”

Bukk!!

Laki-laki itu meninjunya tepat di wajahnya. Perih dan sakit yang dia rasakan di sebelah wajahnya bahkan sampai di seluruh kepalanya  tidak sebanding dengan sakit hatinya mendengar pengakuan oleh pembunuh orang tuanya.

“harusnya aku membunuhmu. Membuatmu menyusul kedua orang tuamu yang suka ikut campur itu. Tapi karena aku masih punya sedikit belas kasihan padamu aku membiarkanmu hidup. Dan melihat kau hidup bergelimang harta dengan kekayaan kakekmu itu aku jadi penasaran bagaimana rasanya kalau dia juga kehilangan satu-satunya keluarga yang dia miliki.”

“katakan dimana mereka menyumbinyakan bukti itu dan aku akan melepaskanmu.”

Nafas Suho tersengal-sengal menahan amarah dan sakit bersamaan. “bukti? Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Kenapa tidak kau bunuh saja anak itu bersama dengan orang tuanya? kenapa membiarkannya hidup tanpa ingatannya tentang apa yang terjadi saat itu.”

“kenapa? Karena aku juga seorang kakek, melihatmu membuat aku teringat pada cucuku.” Pria itu tertawa sinis melihat kearahnya. “setelah sepuluh tahun aku mengirimkan cucuku untuk mencarimu. Tapi gadis bodoh itu sama lembeknya dengan ibunya yang juga mirip seperti ibunya.”

Suho melihat pria tersebut duduk di kursinya semula. “mungkin sebentar lagi anak itu akan sampai kemari. Dan aku akan membuatnya melihatmu mati lalu aku akan membunuhnya dan membunuh saudaranya yang lemah itu, lalu membunuh ayah mereka yang tidak tahu diri itu dan kemudian membunuh ibu mereka. Putri kesayanganku yang memilih untuk di adopsi oleh keluarga ibunya.”

“kau sakit!” jerit Suho. Dia merasa muak dan mual mendengar orang itu menceritakan rencana pembunuhan yang ada dalam kepalanya.

Lalu salah satu diantara orang-orangnya membisikkan sesuatu kedekat telinganya dan membuatnya tersenyum lebih lebar lagi. “sepertinya cucuku sudah sampai. Sebentar lagi kau akan bertemu dengannya.”

Jimin berlari sekuat tenaganya sampai kedepan pintu pabrik tak terpakai itu sebelum dua orang suruhan Park Byeong Su menahan tangannya dan mengawalnya masih kedalam. Dia berhenti memberontak setelah melihat Park Byeong Su berdiri dengan kedua tangan didalam saku celananya.

“aku sudah tahu rencana busukmu! Aku tidak akan biarkan kau melakukan ini! aku tidak akan membiarkan bukti itu jatuh ketanganmu.” Jeritnya.

Byeong Su tertawa terbahak-bahak, “cucuku sayang, setelah sekian lama tidak bertemu dengan kakekmu apa seperti ini kau memperlakukannya? Tidak ada pelukan?”

“langkahi mayatku.” Gumamnya sinis. “dimana dia? dimana Kim Joon Myeon?!”

“kau akan melihatnya sebentar lagi.” ujar Byeong Su sambil mempermainkan rokok di tangannya. “tidak sabar ingin bertemu dengan teman ‘dekat’mu?”

Mata Jimin terbelalak mendengar kata teman ‘dekat’ yang diucapkan Byeong Su. “kau kira tidak ada yang mengawasimu dengan tugas yang aku perintahkan padamu? Aku juga tahu dia mengikutimu saat kau menerima namanya kemarin dari orang-orangku.”

“kau menyuruh mereka mengikutiku?!”

“tentu saja, Jimin-ku sayang.”

Jimin meronta agar bisa lepas dari dua orang laki-laki yang memegang kedua tangannya. “aku tidak akan membiarkanmu. Aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya. Tidak sehelai rambutpun aku tidak akan membiarkanmu!”

“apa kau tidak sadar kalau itu sudah sangat terlambat untuk menyesalinya? Kau sudah banyak terlibat Shin Jimin.” Ujar Byeong Su. “bawa dia kedalam.”

Mereka masuk lebih jauh ke dalam pabrik. Disanalah dia melihat pemuda itu, Kim Suho atau yang baru beberapa jam yang lalu dia kenal sebagai Kim Joon Myeon. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya dengan lebam biru yang mulai terlihat di wajahnya.

“apa yang kau lakukan padanya?” jerit Jimin pada mereka tanpa melepaskan pandangannya dari Suho.

Dia melihat pemuda itu berlahan mengangkat wajahnya dan melihat lurus kearahnya. Jimin melihat Suho mulai mengenalinya dan bergerak berusaha melepaskan tangan dan kakinya yang terikat dikursi saat melihat Jimin di pegang oleh dua orang suruhan Byeong Su.

“lepaskan dia!” Suho berteriak dengan suaranya yang paling keras sambil terus mencoba melepaskan tali yang mengikatnya. “lepaskan dia!”

Byeong Su tertawa terbahak-bahak dan kali ini orang-orangnya ikut tertawa bersamanya. “lepaskan dia? kau tidak tau kalau karena dia aku membiarkanmu hidup selama sepuluh tahun ini dan karena dia juga aku akan membuatmu menyusul orang tuamu. Kenalkan, Shin Jimin, cucu perempuanku.”

“aku mohon, aku mohon jangan sakiti dia. Aku mohon.” Jimin kehilangan tenaga di kakinya dan menangis memohon pada Byeong Su untuk tidak menyakiti Suho saat Byeong Su menyuruh orangnya untuk kembali memukul pemuda itu. “aku mohon!! Park Byeong Su, Hentikan!!”

Melihat mereka tidak juga berhenti memukul Suho, Jimin menginjak keras kaki kedua laki-laki yang menahannya dan berlari menuju Suho tapi Byeong Su lebih cepat dan gesit darinya. Laki-laki itu menarik tangannya dan memukul wajahnya dengan keras hingga membuatnya terjerembab ke tanah.  Menahan rasa sakit dan juga amarahnya, Jimin mengepalkan tangannya hingga memutih.

“kau mencari bukti itu, kan?” tanpa menoleh pada Byeong Su, Jimin mengungkit soal bukti yang tidak dia ketahui. “bukti itu tidak ada padanya.”

Byeong Su menarik rambut Jimin dan memaksanya berdiri, “apa yang kau ketahui?”

“bagaimanapun kau memaksanya untuk mengingat dimana orang tuanya menyimpan bukti itu, kau tidak akan pernah mendapatkannya.” Jimin berbicara dengan nada sinis sambil menahan rasa sakitnya, “karena dia tidak pernah menjadi saksi. Kau membunuh Kim Joon Myeon bersama orang tuanya hari itu dan kau memberikan hidup yang baru untuk Kim Suho.”

“jangan bicara bertele-tele! Cepat katakan apa yang kau ketahui tentang bukti-bukti itu?!” bentak Byeong Su.

Jimin tertawa sinis kearah pria tersebut dengan tatapan kebencian dari matanya, “Park Byeong Su, kau sudah kalah jauh sebelum Kim Hun Joon mengumpulkan bukti-bukti kejahatanmu. Kau…” dia mencoba menepis tangan yang mencengkram rambutnya dengan sangat kuat. “kau sudah kalau sejak istrimu memilih bunuh diri daripada bertahan denganmu. Kau sudah kalah sejak putri tunggalmu lebih memilih menjadi anak dari orang tua ibunya dibanding mengakuimu sebagai ayahnya dan kau sudah kalah sejak kau hidup dalam ketakutan karena anak yang kau biarkan hidup itu akan mendapatkan ingatannya sewaktu-waktu.”

“dasar gadis bodoh!!” Jimin kembali terjatuh ke tanah dengan keras saat Byeong Su menamparnya dengan kuat.

“kau kira aku akan dengan mengatakan itu aku akan percaya begitu saja denganmu dan membiarkan anak itu hidup?” Byeong Su merampas senjata yang dipegang oleh anak buahnya dan mengarahkannya pada Jimin. “kau kira sejak kau masuk ke sekolah itu aku tidak memperhatikan gerak-gerikmu. Aku melihatmu, Jimin sayang. Kakekmu ini sangat menjagamu. Aku bahkan melihat kalau anak bodoh itu mengikutimu kemanapun kamu pergi dan mencoba dekat denganmu.”

Byeong Su tertawa terbahak-bahak sementara tidak ada hal yang lucu yang bisa di tertawakannya, “kau suka pada anak itu? sayang? Cinta?”

“Ji…Jimin-ah.” Dia mendengar suara Suho yang terdengar serak. “Ji…min.”

Tidak hanya Jimin yang memperhatikan Suho tapi Byeong Su tersenyum sinis seperti baru saja mendapatkan ide bagus untuk dilakukannya. Dia kembali menarik rambut Jimin lalu berjalan mendekati Suho. Beberapa langkah di depannya dia memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan ikatan Suho dan memaksanya untuk berdiri. Sementara Jimin kembali di hempaskan ke tanah.

“kau suka pada cucuku bukan?” tanyanya pada Suho. “sekarang kau tahu, gadis bodoh yang kau sukai itu adalah cucu dari pembunuh kedua orang tuamu. Kau masih menyukainya?”

***

One thought on “T(w)o Day-s (Part 4)”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s