[Vignette] Solace

20160209160651

solace.

a movie by tsukiyamarisa

starring [BTS] Kim Seokjin and [OC] Park Minha genre AU, Friendship, Hurt/Comfort duration Vignette rating G

.

“Kamu seperti kakak lelakiku, tahu.”

.

.

.

Kim Seokjin sesungguhnya tak mengenal gadis itu.

Ia tak tahu namanya, pun di mana ia bersekolah. Ia juga tidak diam-diam menyukainya, lantaran Seokjin sudah punya seseorang yang menarik atensinya di sekolah. Mereka pun tidak terlalu sering bertemu; paling hanya jika kebetulan berpapasan di halte atau Seokjin melihatnya melintas di depan rumah. Yah, mengingat mereka tinggal di satu kompleks, itu wajar, bukan?

Jadi, bagi Seokjin, gadis itu hanyalah satu dari sekian banyak tetangga yang ia punya.

Sampai hari ini tiba, dan kuriositasnya naik ke permukaan.

Seokjin melihatnya duduk di taman dekat kompleks tempat tinggal mereka, sendirian dan masih mengenakan seragam sekolah. Jam menunjukkan pukul lima sore, sehingga ia pikir, gadis itu pasti baru saja pulang sekolah dan memutuskan untuk mampir. Mungkin mencari udara segar, atau mungkin pula hanya ingin melepas penat. Bukan hal aneh, lantaran sebagian besar penghuni kompleks ini memang suka berjalan-jalan atau menghabiskan waktu di taman itu.

Namun, tatkala Seokjin melintasi taman itu lagi pada pukul sembilan malam, sang gadis masih ada di sana.

Duduk sendirian di atas kursi kayu, sibuk membaca buku dengan menggunakan penerangan lampu taman. Seragam sekolahnya masih melekat, pun dengan tas sekolah yang diletakkan di sampingnya. Well, Seokjin tak butuh waktu lama untuk menyimpulkan bahwa gadis itu belum pulang ke rumah, tetapi…

…mengapa?

Alasan pertama yang terlintas di benak Seokjin adalah gadis itu lupa membawa kunci, sehingga ia tidak bisa masuk sementara orangtuanya belum pulang. Klise memang, tapi terdengar masuk akal dan bisa terjadi pada siapa saja. Yang jelas, kala Seokjin melangkah mendekat untuk bertanya, ia sama sekali tidak mengharapkan sebuah gelengan sebagai jawaban.

“Aku bawa kunci rumah, kok.”

Hanya itu jawaban sang gadis, seraya ia kembali mengarahkan pandang pada buku di tangannya. Dari jarak dekat, Seokjin bisa melihat judulnya—sebuah novel fantasi yang belakangan banyak dibaca teman-teman sekelasnya.

“Lalu, kenapa kamu di sini?” tanya Seokjin lamat-lamat, tak bermaksud mengganggu atau menyinggung sebelum menambahkan, “Maksudku, di luar dingin, tahu. Kamu baik-baik saja?”

Sejenak, gadis itu bungkam. Memilih untuk menyelipkan pembatas bukunya lebih dulu, kemudian menutup novel tersebut. Tatap kembali terarah pada Seokjin, ekspresi wajahnya datar dan sedikit muram. Mau tak mau, Seokjin pun mulai merutuki dirinya sendiri. Merasa bahwa ia telah ikut campur urusan orang, ketika seharusnya ia—

“Aku baik-baik saja.”

“Sungguh?”

Yeah. Kalau begitu….”

Suaranya mengecil, tetapi Seokjin bisa melihat sang gadis beranjak mengambil tasnya. Menundukkan kepala cepat-cepat sebagai sapaan, sebelum akhirnya berderap keluar dari taman. Tinggalkan Seokjin yang hanya bisa melongo kebingungan, sampai ia sadar bahwa gadis itu tidak mengambil jalan yang mengarah ke kompleks rumah mereka.

Apa ia terganggu? Apa aku telah mengusirnya?

Merasa bahwa ialah yang telah membuat gadis itu pergi, Seokjin pun lekas menggerakkan tungkainya. Sedikit berlari, dengan mudah menyusul si gadis berambut pendek. Pandangan mata mereka kembali bertemu, dan bohong jika Seokjin tidak merasa bersalah saat ia melihat air mata melapisi manik kelam gadis itu.

“Kamu—“ Seokjin menelan ludah, merasa bodoh jika ia menyuarakan pertanyaan semacam ‘kamu baik-baik saja, bukan?’ untuk kali kedua. Maka, alih-alih, ia pun menggaruk tengkuknya dan bergumam, “Sudah makan?”

“Apa?”

“Sudah makan? Sejak tadi… kamu belum pulang, ‘kan?”

Lagi-lagi, sang gadis tidak langsung menjawab. Ia hanya mengedip pelan, memandang Seokjin seolah-olah lelaki itu baru saja mengucapkan hal yang tak bisa ia mengerti. Kepalanya ditelengkan, keraguan untuk menjawab terlihat jelas di wajahnya.

Jadi, Seokjin pun memutuskan untuk kembali membuka mulut.

“Aku tak punya maksud apa-apa, sungguh,” ucap Seokjin, entah mengapa merasa kalau ia perlu menjelaskan. “Aku hanya… yah, kita tinggal di satu kompleks, bukan? Walau kita tidak saling kenal, tapi kurasa tak ada salahnya jika aku membantu. Sebagai tetangga, kamu tahu?”

Gadis itu mengangguk pelan.

“Kalau begitu, kamu sudah makan?”

Berbeda dengan tadi, kali ini ada seulas senyum yang terbentuk. Diikuti dengan gelengan kecil, selagi jemarinya sibuk memainkan ujung kemeja seragam. “Belum. Tapi—“

“Aku mau ke minimarket dekat sini. Mau ikut?”

“Eh—“

“Biar kubelikan sesuatu,” jawab Seokjin santai, bahu dikedikkan selagi sang gadis kembali memandanginya dengan tatap terkejut. “Tetangga, ingat? Dan anggap saja sebagai permintaan maaf. Karena sudah mengusikmu di taman tadi.”

“Aku tidak—“

“Aku memaksa. Omong-omong, namaku Kim Seokjin,” potong Seokjin lagi, memasang senyumnya sembari berjalan ke arah minimarket. “Aneh, ya, kita tinggal berdekatan tapi tidak pernah saling mengenal. Jadi, bagaimana aku harus memanggilmu?”

.

-o-

.

Namanya Park Minha.

Gadis itu pendiam, enggan membuka mulut kecuali untuk menjawab pertanyaan Seokjin. Satu-satunya frasa yang ia ucapkan lebih dulu adalah ‘terima kasih’—saat Seokjin membelikannya satu cup ramyeon dan mengantarkannya pulang. Namun, alih-alih menganggapnya aneh atau tidak sopan, ia malah berhasil membuat rasa penasaran Seokjin makin bercokol di dalam benak.

Memang, siapa lagi sih, yang akan berkata kalau dirinya ‘hanya bosan’ sebagai alasan untuk duduk di taman selama berjam-jam?

Selain itu, dilihat dari sikap Minha yang sengaja menghindari pandang Seokjin kala  menyuarakan jawabannya, sang lelaki langsung tahu kalau ada yang tidak gadis itu ungkapkan. Ada yang ia sembunyikan, tetapi Seokjin juga enggan bersikap kurang ajar dan melanggar privasi orang lain. Lagi pula, untuk ukuran dua orang yang baru saling mengenal, Seokjin sudah berbuat cukup banyak, bukan? Tidak semua orang mau dengan mudah membagi masalahnya, dan mungkin saja Minha termasuk ke dalam tipe itu.

Tetapi, waktu berlalu.

Dan Seokjin kembali melihatnya duduk sendirian di taman.

Sama seperti kali pertama itu, Seokjin tak bisa menahan keningnya untuk tak berkerut dalam. Langkah kaki berbelok ke arah taman, mendadak lupa akan tujuannya untuk segera sampai di rumah. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dan ia sendiri terpaksa pulang selarut ini akibat mengerjakan tugas kelompok di rumah temannya. Jalanan sudah sepi, teramat hening sampai-sampai Seokjin bisa mendengar isakan gadis itu.

“Minha-ya?”

Mendekati sepasang ayunan tempat Minha duduk, Seokjin menyuarakan panggilan itu dengan suara nyaris berbisik. Ia tidak mau mengagetkan, pun membuat Minha merasa terganggu. Yang bisa Seokjin lakukan hanyalah ikut duduk di ayunan yang kosong, membiarkan deritnya mengisi kesunyian sementara ia menunggu.

Butuh hampir sepuluh menit sampai Minha menghapus air matanya, lantas bergumam dengan suara serak:

“Aku tidak mau pulang. Aku benci berada di rumah.”

Seketika itu juga, Seokjin tahu bahwa ini adalah topik yang selalu dihindari Minha. Topik yang tak pernah disinggung saat mereka bertemu dan bertukar sapa, pun kala Seokjin memergokinya asyik membaca novel di taman. Ini juga berbeda dengan konversasi singkat mereka selama sebulan terakhir—di mana keduanya membahas soal sekolah, novel yang sedang Minha baca, atau ketika Seokjin kelepasan bercerita tentang gadis yang ia suka.

Ini serius; sehingga Seokjin pun memilih untuk bungkam dan mengizinkan Minha kembali berbicara.

“Orangtuaku bercerai dua tahun lalu,” ucapnya datar, berusaha agar sisa-sisa tangisnya tidak ikut terdengar. “Aku tinggal dengan ayahku, dan saudara kembarku tinggal bersama Ibu.”

Seokjin masih diam, tetapi membiarkan maniknya bergerak untuk melirik Minha. Mengamati selembar foto yang ada di genggaman gadis itu, sedikit samar di bawah remangnya cahaya lampu taman. Meskipun begitu, Seokjin masih bisa melihat dua sosok yang berangkulan di sana. Laki-laki dan perempuan, tersenyum lebar ke arah kamera seolah tak ada beban di pundak mereka.

“Kamu merindukannya?”

“Aku lebih dari sekadar rindu, tahu,” balas Minha cepat, helaan napasnya terdengar. “Kalau saja aku bisa bertemu dengannya, atau meneleponnya, kurasa aku akan baik-baik saja. Tetapi….”

“Tapi?”

“Itulah sebabnya aku tak mau pulang.” Minha kini menoleh ke arah Seokjin, membiarkan pandang mereka bertukar selama beberapa sekon. “Itulah sebabnya aku sering berada di sini. Ayah memang selalu pulang larut, atau terkadang ia malah tidak pulang hingga beberapa hari. Namun, berada di rumah sendirian itu menyebalkan. Sama menyebalkannya dengan kehadiran Ayah di sana, karena ia paling hanya akan memarahi atau menasihati macam-macam.”

“Dan melarangmu bertemu atau menelepon kakakmu?” imbuh Seokjin, paham ke mana arah obrolan mereka. “Apa aku benar?”

Minha mengangguk. “Selain itu, Kakak juga tidak pernah menghubungiku. Mungkin kami sama-sama dilarang, mungkin ia sibuk dengan hidup barunya. Aku tidak tahu. Aku hanya benar-benar benci dengan hidupku, itu saja.”

Setelah itu, tak ada yang berbicara. Minha memilih untuk kembali mengamati foto di tangannya, sementara Seokjin sibuk memikirkan pengakuan sang gadis.

Jujur saja, ia tidak menyangka kalau masalah macam itu yang akan ia dengar. Seokjin sendiri belum pernah punya teman atau kenalan yang terjebak di tengah situasi seperti milik Minha, sehingga ia tak yakin harus berkata apa. Tambahkan fakta bahwa gadis itu baru duduk di kelas dua SMP—tiga tahun lebih muda dari Seokjin tetapi sudah mengalami begitu banyak hal.

Maka, satu-satunya hal yang bisa Seokjin lakukan sebagai penghiburan adalah….

“Sudah makan?”

“Makan?”

Satu kedikan bahu, seraya Seokjin bangkit dan meregangkan lengannya. “Iya, makan. Katanya, makan bisa membuat suasana hatimu membaik, lho.”

“Kak Seokjin suka makan, ya?”

Seokjin tergelak ringan, lega ketika ia melihat Minha mulai berdiri. “Begitulah. Makanan manis cocok dalam situasi seperti ini. Bagaimana dengan cokelat hangat atau—“

“Sebenarnya, aku ingin es krim,” potong Minha lamat-lamat, tangan terangkat untuk mengusap leher. “Um…

“Malam-malam begini?”

“Es krim bisa membuat perasaanku lebih baik,” balas Minha, tanpa sadar kembali melirik foto di tangannya. “Dulu aku dan kakakku—“

“Oke, oke. Aku akan membelikanmu es krim.” Seokjin cepat-cepat berujar, membuat Minha lekas mendongak dengan binar di matanya. “Dengan satu syarat.”

“Hm?”

“Lain kali, kamu bisa bercerita padaku. Atau kamu bisa minta ditemani makan yang manis-manis.” Seokjin mengambil jeda sejenak, menyilangkan kedua lengan sebelum menambahkan, “Lagi pula, lebih baik untuk menceritakan masalahmu dibanding memendamnya sendiri, ‘kan?”

Minha mengangguk, mempertimbangkan usul itu sejenak. “Menurut Kak Seokjin, begitu lebih baik?”

“Iya,” timpal Seokjin, bergerak untuk menepuk pundak Minha sekilas sebelum mengajaknya berjalan ke minimarket. “Dan mungkin, kamu bisa memberiku saran. Untuk mendekati gadis yang kusukai itu. Dia galak sekali tiap kudekati, tahu.”

Mendengarnya, Minha sontak tergelak. Seakan telah lupa dengan masalahnya sendiri, memberi Seokjin waktu untuk berceloteh soal gadis pujaannya. Keceriaannya kembali muncul, terlebih kala Seokjin mengulurkan dua cup es krim kepadanya. Sembari mengucapkan terima kasih, Minha pun menaikkan ujung-ujung bibirnya dan mulai membuka tutup cup.

“Kak Seokjin.”

“Ya?”

“Kenapa Kak Seokjin baik padaku?” tanya Minha, tangan sibuk menyendok es krim. Menyuapkannya ke dalam mulut, sebelum menambahkan, “Hanya karena aku tetanggamu?”

Seokjin mengangkat bahu. “Mungkin.”

“Mungkin?”

“Bisa juga karena aku tidak pernah punya adik; dan bersikap baik padamu sepertinya adalah hal yang benar untuk dilakukan.”

Paham, Minha kembali menggumamkan rasa terima kasihnya. Atensi beralih pada es krim yang ada, memilih untuk menghabiskannya lebih dulu sebelum memulai percakapan lagi.

“Omong-omong, Kak….”

“Kenapa?”

“Kamu mengingatkanku akan seseorang,” kata Minha, sementara keduanya berjalan keluar dari minimarket. Langkah kaki terarah pada kompleks tempat tinggal mereka, tak lagi terasa seberat tadi. “Kamu seperti kakak lelakiku, tahu. Kurasa, itu sedikit membuat rasa rinduku berkurang.”

“Benarkah?”

Yep.” Minha mengiakan, memandangi Seokjin lekat-lekat sebelum akhirnya berucap, “Jadi, bolehkah aku menganggap Kak Seokjin sebagai kakakku?”

Seolah sudah bisa menduga permintaan itu, Seokjin hanya mengulum senyum. Ia tak perlu berpikir lagi, membiarkan kepalanya terangguk begitu saja. Menghadirkan ekspresi senang di rupa Minha, seraya Seokjin sendiri tertawa karenanya.

.

.

.

Tentu saja, Minha-ya. Lagi pula, punya adik sepertimu kurasa akan menyenangkan.”

.

fin.

a/n:

buat yang bertanya(?) gimana Minha dan Seokjin kenal, well ini ceritanya. Anyway, I’ll post the third part of Messed Up tomorrow!

See ya and please leave some review!

3 thoughts on “[Vignette] Solace”

  1. Park Minha, kalau nggak salah dia ini kembarannya Jimin ‘kan? Hehe
    asik yaa punya tetangga ganteng plus baik.
    Rasanya pasti kangen bgt deh nggak bisa telponan sama kakak. Aku bisa memahaminya, ceritanya sama kyk aku. Untuk masalah kakaknya aja siih…

    Suka

  2. Park Minha, kalau nggak salah dia ini kembarannya Jimin ‘kan? Hehe
    asik yaa punya tetangga ganteng plus baik.
    Rasanya pasti kangen bgt deh nggak bisa telponan sama kakak. Aku bisa memahaminya, ceritanya sama kyk aku. Untuk masalah kakaknya aja siih…
    Dan, Jin nggak jauh2 dari makan yaa.

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s