[Vignette] STAND ALONE – Who’s My Destiny

whos my destiny (STAND ALONE 1)

[vignette] Who’s My Destiny?

Tittle: Who’s My Destiny?// scriptwriter: ER // cast: Im Jaebum a.k.a JB (GOT7), Mark Tuan (GOT7), Park Jinyoung a.k.a Junior (GOT7), Lee Yura (OC) // support cast: Lily Han (OC) // Genre: Romance, school life, hurt/comfort // Category: vignette // Duration: ± 2988 word // rating: PG-15

Disclaimer : Got7 not belongs to me. OC and the story are mine. Happy reading!

 “kau dapat jatuh cinta pada siapapun. Tapi pada akhirnya hanya satu yang benar benar kau inginkan dan kau butuhkan untuk selalu bersamamu~”

Musim gugur, 2013

Seorang gadis terduduk di salah satu kursi di bandara Incheon. Kepalanya tertunduk, mukanya memerah dan menampakkan kesedihan –yang lebih tepatnya kemarahan yang terpendam-. Terlihat genangan air di pelupuk matanya namun ia berusaha menahannya agar cairan itu tak jatuh dari matanya. Dari kejauhan, ia terlihat seperti sedang menunggu seseorang.

-Di pintu masuk Waiting Room terminal keberangkatan-

Seorang lelaki meminta kedua orangtuanya untuk masuk lebih dulu ke waiting room, sementara ia akan menyusul karena sesuatu yang harus diurusnya terlebih dahulu. Ia berjalan menyusuri lorong dimana banyak orang melakukan salam perpisahan dengan orang yang diantarnya. Akhirnya ia melihat sosok gadis itu. Seorang gadis yang duduk sambil menundukkan kepalanya. Ia menghampirinya lalu duduk bersimpuh mensejajarkan kepalanya dengan sang gadis.

“ hei, tadi aku lewat sini tapi kenapa kau tak memanggilku”

“…..” gadis itu masih terdiam

“apa tak ada sesuatu yang ingin kau berikan padaku?”

“……..”

“apa kau tak ingin memberiku kenang-kenangan?”

gadis itu kemudian mengangkat kepalanya dan melihat mata lelaki itu lalu ia mengatakan

“apakah kau menginginkan kenangan dariku?” tanya sang gadis

“tentu saja, aku ingin sesuatu yang bisa membuatku selalu mengingatmu, sayang” kata lelaki itu sambil tersenyum manis dan menunjukkan eye-smile-nya

“kau tidak perlu mengingatku lagi Jaebum-sunbae”

“apa?” lelaki bernama Im Jaebum itu kaget karena tak pernah menyangka bahwa kekasihnya akan mengatakan hal seperti itu

“kubilang kau tak usah mengingatku lagi!”

“apa yang kau katakan?” Jaebum berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tadi salah dengar

“kurasa hubungan ini harus diakhiri.. selama ini aku selalu bergantung padamu.. dan saat kita terpisah oleh jarak dan waktu, aku merasa tak sanggup untuk menjalaninya. Bagaimana mungkin  kita memiliki hubungan tetapi aku tak bisa melihat dan bersamamu lagi”

“tapi kita masih bisa—“

“kita tidak bisa. Ini semua terlalu sulit untukku…” gadis itu kembali menunduk untuk menahan air matanya yang hampir jatuh. Ia terlalu malu untuk menangis di tempat seramai itu.

“baiklah kalau begitu.. aku mengerti..” jaebum memegang pipi gadis itu dengan kedua telapak tangannya. Terdengar nada penuh kekecewaan dari perkataannya itu, meski ia berusaha meredamnya.

“Yura-a, aku akan menuruti keinginanmu…ba- baiklah kita putus meskipun ini sangat berat untukku… aku akan melepaskanmu.. tapi bisakah kita bersama lagi saat aku menyelesaikan kuliahku dan aku kembali ke korea?”

“…..”Yura terdiam dan bingung dengan pernyataan Jaebum. Dia tidak ingin terjebak dalam harapan palsu dengan terus menunggu Jaebum yang entah akan mengingatnya atau tidak saat lelaki itu sangat jauh dari jangkauan matanya. Tapi kemudian lelaki bermata sipit yang terlihat dewasa tersebut meyakinkan…

“aku tidak yakin bahwa aku bisa melupakanmu meskipun aku ada di Inggris. Aku ragu apakah aku bisa jatuh cinta dengan gadis lain selain dirimu..”

“aku tak tahu… aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku setelah ini….” kata Yura masih tetap menundukkan kepalanya berusaha menemukan keyakinan dan kepercayaan dalam hatinya untuk lelaki yang sangat ia cintai –lelaki cinta pertamanya

“saat aku pulang ke korea kemudian kau melihatku dan jantungmu masih berdegup kencang saat melihatku, berlarilah kepadaku dan peluklah aku… karena akupun akan melakukan hal sama saat aku melihatmu”

Yura hanya mengangguk tanda mengiyakan permintaan Jaebum

CUP~ Jaebum mendaratkan bibirnya ke bibir Yura sebagai tanda perpisahan.

-Di sisi lain Bandara Incheon-

Seorang lelaki dengan penampilan sangat keren keluar dari terminal kedatangan. Ini pertama kalinya ia datang ke Korea. Ia berjalan sambil menarik koper besarnya sambil mendengarkan lagu dari headphonenya. Ia tidak terganggu dengan orang yang berlalu lalang sampai perhatiannya tertuju pada seorang gadis yang duduk di kursi dan seorang lelaki yang bersimpuh di hadapannya yang sedang berciuman.

“wow… apakah orang-orang Korea sedramatis itu?” kata lelaki yang bernama Mark Tuan itu

“ cih..apa mereka tidak malu melakukan itu di hadapan banyak orang seperti ini”

lelaki itu menggelengkan kepalanya kemudian melanjutkan perjalanannya.

*

*

*

 “hah ini hari pertamaku masuk ke sekolah di korea. Aiiish.. hanya gara-gara aku sering pulang lewat tengah malam, ayah dan ibu jadi khawatir kalau aku akan menghancurkan masa depanku sendiri. Dan mereka menyekolahkan aku di korea. Apa sekolah ini lebih bagus dari sekolahku yang dulu?” Mark mendongak di depan pintu apartemennya sambil berpikir mengapa orang-orang menyukai hal-hal yang dramatis. Ya, memindahkan sekolah ke Korea hanya karena Korea merupakan salah satu negara yang masih menjujung tinggi budaya lokal dan tidak terpengaruh oleh budaya luar yang menyesatkan, bagi Mark adalah hal yang berlebihan, dramatis. Sampai sekarang ia tak habis kenapa orang tuanya bisa sekreatif itu merancang masa depan Mark. Huh!

lelaki itu kemudian menaiki skateboardnya menuju sekolah yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Ia memang lebih senang menaiki skateboardnya daripada naik bus untuk pergi ke tempat yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya.

Ia mengendarainya skateboardnya dengan kecepatan tinggi sampai ia hampir menabrak seorang gadis hingga terjatuh karena kaget.

“hei..are you okay? i’m sorry…” Mark menghampiri gadis itu dengan wajah ‘meminta maaf’. Meskipun ia tinggal di Amerika tapi dia bukan tipikal orang yang tidak peduli pada orang lain. Ia masih menghargai orang lain, meskipun ia jarang sekali menunjukkan rasa hormatnya. Baginya, menghargai dan menghormati adalah hal yang berbeda.

“berhati-hatilah.. ini bukan di Amerika” gadis yang mengenakan seragam sama dengan Mark bernama Lee Yura itu menjawab dengan ketus.

“maaf.. aku tidak sengaja” Mark berteriak pada gadis yang berjalan meninggalkannya.

Gadis itu tak menanggapinya dan pergi begitu saja.

“wajah gadis itu terlihat familiar… aiiiish tapi tak penting aku memikirkannya” Mark kemudian menggelengkan kepalanya dan melanjutkan perjalanannya ke sekolah. Ia mengikuti Yura –gadis yang sebenarnya dilihat Mark di bandara dan baru saja terjatuh karena skateboardnya– yang memasuki sekolah yang sama dengannya. Setiap gadis yang melihat Mark hampir semuanya terpesona dengan kehadirannya. lelaki tampan yang cantik dan sangat keren. Sungguh kesan pertama yang sempurna.

“ hei ternyata kita satu sekolah, kau ada di kelas berapa?

“kau tidak perlu tahu”

“namaku Mark.. lalu siapa namamu?”

“panggil aku sunbae.. bersikaplah sopan padaku”

“apa?”

“kau pasti anak kelas 1 atau kelas 2 kan? Aku siswa kelas 3 jadi panggil aku sunbae dan hormati aku sebagai seniormu” kata Yura sambil menatap lurus ke depan tanpa menoleh kepada Mark yang berjalan di sampingnya. Putus dari lelaki yang ia pacari selama dua tahun dan sangat ia cintai  –apalagi lelaki itu adalah cinta pertamanya– sudah membuatnya sedih dan mudah marah. Ia berpikir kalau dia tak akan lagi merasa utuh seperti dulu ia bersama Jaebum. Meskipun sebenarnya ia yang memutuskan hubungannya dengan lelaki itu. Sungguh perempuan yang egois.

“ah iya aku mau ke ruang guru untuk memperkenalkan diri.. bye bye…”

Mark akhirnya pergi ke ruang guru dan menunggu bel masuk di ruang guru untuk diperkenalkan di kelasnya.

Di kelas 3C

“Yura-a, bagaimana keadaanmu?” tanya seorang gadis teman semeja Yura yang bernama Lily Han.

“aku baik-baik saja” jawab Yura menelungkup sambil menyandarkan kepalanya di meja.

“kau tidak terlihat baik-baik saja”

“….”

“apa kalian benar benar putus?’

“…..”Yura tetap diam dalam lamunannya. Ia merasa harinya sangat buruk dan sama sekali tidak bersemangat setelah apa yang ia alami dua hari yang lalu di bandara.

“aish Sudah kuduga. Seharusnya ini tidak boleh terjadi. Kalian sudah bersama selama 2 tahun lalu kalian putus hanya karena ia kuliah di luar negeri? Hah kau sungguh aneh.. lelaki sempurna sepertinya kau putuskan begitu saja hanya karena kau—–“

Ceklik-

Pintu kelas terbuka. guru datang bersama seorang murid baru. Dan semua mata memandang penuh kekaguman terhadap sosok yang menjadi penghuni baru di kelas mereka.

“selamat pagi anak-anak.. hari ini saya datang bersama seorang murid baru pindahan dari Amerika.. ia belum cukup bagus berbahasa korea.. jadi tolong dimaklumi dan semoga kalian dapat beradaptasi dengan baik. Silahkan perkenalkan dirimu Mark” kata guru yang bernama Jo In Sung tersebut.

“hello.. namaku Mark yi-en Tuan. Tetapi kalian bisa memanggilku Mark. Aku pindahan dari Century High School di Los Angeles, California, Amerika Serikat. Semoga kalian semua dapat menerima kehadiranku, dan mohon kerjasamanya.” Kata Mark sambil menundukkan badannya.

“silahkan duduk di kursi kosong di pojokan sana, Mark.”

“terima kasih Guru.”

Ceklik-

Saat Mark duduk di belakang tempat duduk Yura, masuklah seorang siswa yang datang terlambat.

“selamat pagi.. maaf saya terlambat Guru..” kata lelaki bernama Jinyoung itu sambil menunduk tanda hormat.

“kau tidak biasanya terlambat.. tapi duduklah”

“terima kasih, Guru” Jinyoung kembali memberi hormat kemudian menuju tempat duduknya di samping Mark. Selama perjalanannya ke tempat duduk, ia memandang sosok gadis yang duduk di depan Mark yang selama ini selalu menarik perhatiannya sambil tersenyum manis.

Sementara sang guru keluar kelas sebentar untuk mengambil bukunya yang ketinggalan..

“hei.. apakah kau murid baru itu?” tanya Jinyoung pada Mark saat ia sudah duduk di kursinya.

“iya.. namaku Mark. Siapa namamu?”

“aku Jinyoung.. aku ketua kelas disini” katanya sambil tersenyum ramah. Siapapun yang melihat senyum Jinyoung pasti akan langsung terpikat karena senyumnya yang begitu menawan dan terlihat sangat tulus. Tapi bagi Yura, gadis yang disukainya sejak pertama kali ia melihatnya 2 tahun yang lalu, senyumnya sama sekali tak memiliki efek pada perasaannya karena satu-satunya senyum yang ia sukai adalah senyuman Jaebum yang kini sudah menjadi bagian dari masa lalunya. Ah lagi-lagi ia mengingat Jaebum.

“ummm.. kalau kau butuh apa-apa kau bisa meminta bantuanku karena aku ketua kelas disini.”

“siapa nama sunbae yang duduk di depanku ini?” tanya Mark tanpa basa basi kepada Jinyoung. Sedangkan gadis yang dipanggil ‘sunbae’ itu sama sekali tak merespon atas panggilan yang ditujukan untuknya.

“namanya Lee Yura. Dia seumuran dengan kita, jadi jangan panggil dia sunbae. Sunbae bermakna untuk memanggil senior. Mungkin kau harus belajar bahasa korea sedikit lebih keras lagi Mark-ssi.” Jelas Jinyoung panjang lebar kepada Mark.

“oo ya aku mengerti.” Mark mengeluarkan senyum sok imutnya sambil memandang ke arah Yura, namun gadis itu tetap tak bergeming-tak mengacuhkannya sama sekali

“Oiya aku belum mengetahui tentang sekolah ini, menurutmu siapa orang yang bisa menemaniku berkeliling sekolah?”

“sebenarnya ini tugasku.. tapi aku ada rapat klubku nanti sepulang sekolah.. jadi aku tak bisa”

“oh.. kalau begitu —“

“Yura-a.. apa kau bisa menemani Mark untuk mengenali sekolah? Kurasa kau sudah terbiasa dengan hal begini, kau kan manager tim basket” tanya Jinyoung pada Yura. Ia memotong pembicaraan Mark yang belum selesai

“terserah kau saja.” Jawab gadis itu tak acuh karena ia sedang sangat malas untuk berdebat dengan ketua kelasnya tersebut. Meskipun Jinyoung menyukai Yura, tetapi ia tak pernah menunjukkannya pada gadis itu. Ia memperlakukan Yura seperti teman yang lainnya, jadi tak ada yang menyadari bahwa Jinyoung sebenarnya menyukai Yura. Jinyoung adalah lelaki sopan dan memiliki attitude yang baik. Dia tahu kalau Yura sedang menjalin hubungan dengan Jaebum, sehingga ia sama sekali tak mengganggu hubungan mereka. Bahkan sekedar keinginan agar mereka segera putus pun tak pernah muncul dalam benaknya. Ia hanya mencintai Yura dalam diam.*

*

Jam pulang sekolah

Yura menemani Mark berkeliling sambil mendeskripsikan setiap ruang dengan penjelasan singkat disertai raut muka datar. Tujuan terakhir mereka adalah lapangan basket. Di lapangan itu terdapat para siswa yang sedang bermain basket.

“ini yang terakhir. Lapangan basket.” Setelah mengatakan itu, Yura melamun dengan air muka yang menunjukkan kesedihan.

Flashback-

‘”Yura-a! Aku diterima di Cambridge University!” Jaebum menghampiri Yura sambil teriak kegirangan kemudian memeluknya.

“benarkah?” begitulah ekspresi terkejut Yura saat mendengar bahwa kekasihnya diterima di salah satu universitas paling bergengsi di dunia tersebut. Ia senang tetapi entah mengapa hatinya terasa sangat sakit memikirkan hal-hal yang mungkin terjadi saat Jaebum jauh darinya. Ia belum siap untuk jauh dari Jaebum. Ia sama sekali tak siap.

“apa maksudmu dengan pertanyaan seperti itu sayang?”

‘”ah tidak.. aku hanya terkejut.. ternyata priaku ini sangat jenius.” Kata Yura dengan senyum yang terlihat tidak tulus. Jaebum tahu benar kalau kekasihnya itu pasti merasa sedih meskipun ia tak menunjukkannya. Tapi masuk universitas itu adalah impian Jaebum. Bahkan ia tidak bisa memenuhi permintaan kekasihnya untuk mendaftar di Universitas Seoul saja agar mereka dapat bertemu setiap saat.

“aku tahu ini sangat berat untukmu, tapi aku berjanji bahwa meskipun kita jauh.. tapi hatiku akan selalu untukmu.. dan aku akan menghubungimu setiap saat”

“selamat untukmu.. umm aku harus rapat untuk penggantian ketua tim basket setelah kau tidak menjabat lagi.” Yura berusaha untuk mengalihkan pembicaraan dan menghindari perbincangan yang lebih panjang dengan prianya tersebut.

“sayang.. apa besok kau bisa mengantarku ke bandara?”

“aku sibuk. Maaf” jawab Yura sambil berlalu dari pandangan Jaebum

Gadis itu tidak benar-benar mengikuti rapat penggantian ketua tim basket. Tapi ia duduk dan menangis tersedu-sedu di balik pohon besar di dekat lapangan basket.

-flashback end-

Musim Panas, 2014

Hubungan Yura dan Mark semakin dekat. Entah apa yang terjadi hingga mereka menjadi dekat. Banyak hal yang dilakukan Mark untuk menarik perhatian Yura meskipun ia tahu sangat sulit untuk menaklukan hati seorang gadis yang masih patah hati karena ditinggalkan-atau mungkin terpaksa meninggalkan– kekasihnya yang dulu. kedekatan mereka berdua membuat Jinyoung menjadi kacau dan hopeless karena setelah gadis yang disukainya putus dari kekasihnya, ia bahkan tak memiliki keberanian untuk menyatakan perasaannya, bahkan ia membiarkan gadis itu dekat dengan siswa baru teman semejanya. Ia benar-benar tak bisa berbuat apa-apa. Ia terlalu malu untuk menunjukkan perasaannya secara gamblang, ia hanya memberikan perhatian, dan mungkin waktu, jika kebetulan gadis itu membutuhkannya. Ya, Yura akhir-akhir ini mulai melihat Jinyoung. Maksudnya, ia mulai menganggap bahwa Jinyoung ada, bukan hanya sebuah benda yang tak terlihat olehnya. Sedangkan yang dapat Jinyoung lakukan hanyalah mengawasi dan melindungi gadis itu dari jauh, dan memastikan gadis itu aman meskipun ia tak pernah benar-benar ada di sampingnya.

Hingga di suatu pesta prom..

“Yura-a.. maukah kau berdansa denganku?” Mark mengajak Gadis itu berdansa. “baiklah” Yura pun mengiyakan

Ya malam ini mereka berdua berpasangan meskipun tak ada status hubungan spesial. Bagi Yura, Mark adalah teman pria terdekat yang menemaninya setiap hari. Mark adalah pria yang setidaknya mampu untuk mengalihkan pikirannya tentang Jaebum. meskipun tidak seluruhnya, hanya sedikit –sedikit saja-.Ia sempat berpikir untuk menyukai Mark, tetapi kemudian pikiran itu ditepisnya karena ia sangat tahu, setelah kelulusannya Mark akan kembali ke negara asalnya. Ia tidak ingin kehilangan seseorang sekali lagi. Jadi ia membatasi dirinya-dan juga Mark– agar mereka tidak terlibat dalam hubungan yang rumit karena melibatkan perasaan.

Mereka kemudian berdansa tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut mereka berdua. Mereka berdansa, tetapi di pikiran mereka masing-masing sedang berkecamuk berbagi macam pikiran yang menambah suasana canggung di antara mereka. Sampai akhirnya…

“Yura-a.. aku menyukaimu.”

“…..”

Yura diam saja saat Mark menyatakan perasaannya. Perasaannya bimbang antara rasa nyaman yang didapatkannya dari Mark setiap hari, tetapi jantungnya tidak berdetak kencang seperti yang dirasakannya dulu terhadap Jaebum. Bahkan akhir-akhir ia mulai memikirkan seseorang, tapi tentu saja bukan Mark. Karena ia sudah mematikan perasaan semacam itu terhadap Mark sebelum mereka sedekat ini. Iya, Yura merupakan semacam gadis yang dapat mengontrol perasaannya sendiri. Jarang sekali ditemui, bahwa pikiran dan hati seseorang dapat sinkron seperti yang terjadi pada Yura. Ia adalah gadis yang beruntung. Ia patah hati, tapi ia bisa segera bangkit lagi meskipun awalnya ia merasa sangat kesulitan merasakan sesak di dadanya setiap mengingat lelaki cinta pertamanya itu. Toh akhirnya ia berhasil meskipun belum sepenuhnya. Setidaknya ia tak akan menjadi gadis zombie hanya gara-gara patah hati. Ia tak akan menunjukkan bahwa ia sedang menderita, setidaknya orang lain tak perlu tahu bahwa ia sedang menderita, karena baginya hanya ada dua kemungkinan ketika orang lain tahu bahwa ia menderita, yaitu mengasihaninya atau menertawainya. Maka ia memilih untuk bahagia, bagaimanapun caranya. ‘Dunia tak selalu soal cinta, girl’. Begitulah sugesti yang Yura berikan pada dirinya sendiri. Karena ia tak akan membiarkan otak dan hatinya terpuruk terlalu lama. mungkin orang lain akan memandang Yura sebagai gadis yang heartless. Mungkin yang lainnya akan mengaguminya karena kekuatan hatinya.

“Yura-a.. maukah kau menjadi pacarku?” Mark melanjutkan kalimatnya, setelah keheningan menyelubungi mereka selama beberapa menit.

“….” Yura masih tak bereaksi sedikitpun

Mark merasa bingung atas reaksi Yura yang tidak menolak ataupun menerimanya. dan akhirnya…

 CUP~

 ia spontan mencium bibir gadis itu di depan semua orang hingga semua orang melihat ke arah mereka. Mark cukup lama menempelkan bibirnya pada gadis yang tidak menunjukkan reaksinya sama sekali tersebut. Hingga apa yang mereka lakukan tertangkap oleh mata Jinyoung.

Pikiran tentang Jaebum, Mark, dan Jinyoung melayang-layang di otak Yura hingga ia tak bisa bereaksi terhadap ciuman Mark. Ia bukannya terkejut dan merasa berdebar-debar. Ciuman itu justru mengingatkannya pada sesosok lelaki yang selalu ada untuknya bahkan jauh sebelum ia berpacaran dengan Jaebum apalagi dengan Mark. Lelaki itu adalah Jinyoung. Ya! Akhirnya ia mulai sadar bahwa selama ini orang yang ia butuhkan adalah Jinyoung. Satu-satunya lelaki yang tak pernah meninggalkannya, pun tak pernah mengganggunya saat ia dekat dengan seorang pria. “bukankah ia lelaki yang sangat setia?” batin Yura

Akhirnya Yura melepaskan ciuman Mark dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.

“kau sedang mencari apa? Aku disini.” Kata mark mengiba

“ah.. Mark.. aku harus pergi. Maaf.” Yura pergi begitu saja meninggalkan Mark yang terdiam mematung tak percaya bahwa cintanya ditolak-meskipun Yura tak mengatakan penolakan secara jelas- oleh gadis yang selama beberapa bulan ini sangat dekat dengannya. “mungkinkah bukan aku yang berhasil membuatmu bangkit lagi?”  batin Mark kecewa. Kemudian ia pergi dari ruang pesta itu sampai matanya menemukan seorang gadis yang mengetuk pintu sebuah mobil sambil menulis sesuatu di kaca mobil tersebut. Mark tahu kalau Yura adalah gadis di bandara yang dilihatnya sedang berciuman dengan seorang pria yang bersimpuh di hadapan gadis itu saat pertama kali ia sampai di Korea. Maka sejak ia mengetahui bahwa Yura adalah gadis itu, saat itu Mark yakin kalau akan sangat sulit untuk mendapatkan hati gadis itu. Tapi ia tak pernah menyerah meskipun gadis itu seringkali menyiratkan penolakan terhadap suatu hubungan yang diinginkan oleh Mark. Karena sampai Mark mengungkapkan perasaannya pada gadis itu, ia masih memiliki keyakinan bahwa Yura pasti akan membuka hati untuknya, sampai Yura memutuskan untuk meninggalkannya yang mematung tanpa ia mendapatkan jawaban apapun dari gadis itu. Sampai pada akhirnya–

Yura mengetuk pintu mobil Jinyoung kemudian menulis di kaca jendelanya yang sedikit berdebu “I NEED YOU…I LOVE YOU” dengan mata yang terlihat akan menangis. Lelaki di dalam mobil itu keluar kemudian memeluk gadis itu sambil menitikkan air mata di pundak gadis itu karena ia begitu bahagia bahwa akhirnya gadis yang dicintainya membalas perasaan yang dijaganya selama ini. Jinyoung akhirnya memberikan ciuman pertamanya pada gadis itu. Ya mereka berciuman. Mesra dan hangat. Bahkan mereka tak menyadari bahwa ada seseorang tak jauh dari situ sedang menatap mereka dengan tatapan nanar dan menyedihkan.

kau dapat jatuh cinta pada siapapun. Tapi pada akhirnya hanya satu yang benar benar kau inginkan dan kau butuhkan untuk selalu bersamamu~”

-FIN-

ER’s notes:

Hallo reader-nim, ini FF pertamaku. Salam kenal semuanya J terima kasih sudah membaca dan Maafkan untuk pic-art-nya, aku Cuma ngambil di google image (dan gak bisa ngedit pakai photoshop), maafkan nggak menyertakan credit di fotonya, aku gak tau itu punya siapa >< Terima Kasih!

6 thoughts on “[Vignette] STAND ALONE – Who’s My Destiny”

  1. Ini cerita hanya based on my imagination dan (kayaknya) hampir mustahil terjadi di dunia nyata.. Tapi mungkin juga terjadi Hehe..
    Terima kasih atas apresiasinya ya, sofiekim-ssi🙂

    Suka

      1. Untuk cerita ini sebenarnya ada lanjutannya sih dek.. Tapi masih ngantri di waiting listnya ifk hehe.. Tapi karena stand alone jadi ya ini bs dianggep udah ending ^^
        Oiya aku erlin 91line [pardon my age ya :v]
        Kalo berkenan bisa kunjungi er-fanfiction.blogspot.com kalo mau baca lanjutannya ya, dek sofie🙂 [bisa dibilang promosi dikit ini :D]

        Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s