[Ficlet] Protect You

Protect You

Protect You

“Aku akan selalu bermain denganmu dan melindungimu

dari hyung yang nakal, apapun yang terjadi!”

Scriptwriter vaadrinanta

Cast Park Ara (OC), Hong Jisoo (SEVENTEEN) and Others|

Duration Vignette | Rating  General |Genre slight! Fluff

Akihr-akhir ini sungguh memusingkan bagi seorang Park Ara. Seharusnya dalam satu minggu kedepan merupakan minggu tenang sebelum ujian akhir semester. Namun masih ada 3 sketsa lagi yang harus dikumpulkan akhir minggu ini. Ara juga belum siap secara fisik dan mental untuk menghadapi ujian akhir semester.

Cerita kakak tingkat Ara saat awal masa-masa perkuliahan ternyata benar, waktu luang dan hari libur bagaikan sebuah dongeng di jurusan kuliah yang tengah ia jalani saat ini. Menjadi seorang arsitektur merupakan cita-citanya sejak kecil, namun ia tidak tahu ternyata dunia perkuliahan begitu berat dan betul-betul membutuhkan komitmen yang tinggi.

Hari ini Ara memutuskan untuk mengistirahatkan otak dan tubuhnya sejenak dari semua beban perkuliahan. Dalam keadaan seperti ini, biasanya Ara memutuskan pergi ke panti asuhan dan bermain seharian bersama anak-anak disana untuk mengembalikan motivasi belajarnya.

“Nenek Kim!” sapa Ara dengan ceria saat ia melihat nenek Kim sang pemilik panti sedang minum teh di teras sambil mengawasi beberapa anak kecil yang sedang berlari-lari di halaman.

“Ooh, anak gadisku Ara, sepertinya sudah lebih dari satu bulan kau tidak menjenguk adik-adikmu. Kau tidak lupa dengan kami kan?” sambut nenek Kim sambil merentangkan kedua tangannya lantas menyambut Ara dengan pelukan yang hangat.

“Maaf nek, akhir-akhir ini aku pusing sekali mengerjakan tugas yang deadlinenya semakin dekat. Ditambah lagi ujian akhir semester sudah semakin dekat. Apa nenek sehat?”

“Ya, masih bugar layaknya gadis susiamu. Haha”

“Iya iya, nenek juga tetap cantik. Tapi tidak lebih cantik dari aku.” Ara balik menggoda.

“Ara-ya, kau ingat Jisoo teman bermainmu yang diangkat anak saat kalian masih berumur 7 tahun? Aku ingat, saat Jisoo pergi kau tidak mau makan selama 1 minggu karena tidak ingin dipisahkan darinya.”

“Ya aku ingat,” mana mungkin Ara melupakan teman baiknya semasa kecil yang selalu melindungi Ara dari anak-anak panti jahil yang lebih tua beberapa tahun diatas mereka “ada apa dengannya nek?”

“Baru-baru ini ia kembali dari Amerika, katanya ia ingin melanjutkan kuliah di Seoul. Ia sempat berkunjung beberapa kali kesini.”

Ara ingat saat Jisoo pergi, ia merengek-rengek ingin diadopsi juga oleh calon orang tua Jisoo karena tidak ingin berpisah dari Jisoo. Tapi calon orang tua Jisoo hanya ingin mengadopsi satu anak. Hal itu membuat Ara sedih dan kesepian padahal Jisoo sudah berjanji akan selalu bermain dengannya dan tidak akan membuat ia kesepian.

-FLASHBACK-

“Huaaaaaa aaaaaa, mengapa kalian meletakkan boneka kucingku diatas sana? Huaaaaa” rengek Ara yang masih berumur 5 tahun ketika boneka kucingnya diletakkan diatas lemari mainan yang tinggi oleh Jongdae dan Baekhyun.

“Hahahaha ayo ambil kalau bisa, katamu kau bisa menggunakan sihir yang diberikan oleh ibu peri.” Ejek Jongdae.

“Hei hyung! Kenapa kalian melakukan ini pada Ara? Kalian keterlaluan, akan kuadukan kalian ke nenek Kim!” Jisoo mencoba memberanikan diri melawan kedua hyungnya yang jahil.

“Kamu tidak usah bertingkah seperti pahlawan. Dasar anak kecil, bisanya cuma mengadu pada nenek Kim! Hahaha. Ayo kita tinggalkan saja mereka!” Baekhyun mengajak Jongdae pergi meninggalkan Jisoo dan Ara.

“Ara, jangan menangis. Aku akan mengambilkan boneka mu. Tunggu ya.”

“Huaaaa tapikan itu sangat tinggi, kau tidak akan dapat mengambilnya Jisoo.”

Jisoo tergolong cerdas untuk anak seumurannya, dengan badannya yang kecil ia meyeret kursi hingga ke depan lemari mainan, tepat dibawah boneka kucing Ara disangkutkan oleh kedua hyungnya. Lalu Jisoo mengambil sapu yang ada di sudut ruang bermain. Setelah ia naik ke kursi ia mencoba meraih boneka kucing tersebut dan menggesernya ke pinggir hingga boneka itu jatuh ke bawah.

“Waaah Jisoo! Kau sudah menyelamatkan bonekaku! Terimakasih ya!” Ara sangat senang saat boneka kesayangannya kembali kepelukannya, lalu ia memeluk Jisoo dan mengecup keningnya.

“Sebaiknya kau jangan main sendirian, kau harus bermain bersamaku agar tidak diganggu oleh Jongdae dan Baekhyun hyung lagi. Aku akan selalu bermain denganmu dan melindungimu dari hyung yang nakal, apapun yang terjadi!” ujar Jisoo dengan wajah berapi-api.

“Haha baiklah. Janji kau akan melindungiku?”

“Ya aku berjanji!”

Mereka pun melakukan perjanjian dengan menautkan jari kelingking mereka yang kecil.

-FLASHBACK END-

 “Hei, kenapa melamun? Cepatlah kau sapa adik-adikmu di dalam. Seungkwan dan Hansol sering menanyakanmu akhir-akhir ini.”

“Baiklah nek, jika nenek butuh sesuatu panggil saja aku di dalam.” Ara pun masuk dan bermain bersama adik-adiknya. Terutama Seungkwan dan Hansol, adik kesayangan Ara.

Beberapa bulan sebelum Ara diangkat anak oleh orang tuanya sekarang, Seungkwan dan Hansol datang ke panti asuhan. Sejak Jisoo pergi, Ara jarang bermain dengan anak-anak lainnya, ia lebih sering menghabiskan waktu bersama nenek Kim dan membantu nenek Kim merawat Seungkwan dan Hansol saat mereka masih berumur satu tahun.

Selama 15 menit bermain dengan Seungkwan dan Hansol, seseorang memperhatikan mereka dari pintu masuk ruang bermain. Seungkwan terlalu bersemangat melempar bola hingga Hansol tidak dapat menangkapnya, alhasil bola tersebut menggelinding hingga berhenti saat menabrak kaki seseorang yang daritadi memperhatikan mereka bermain.

“Jisoo hyung!! Tolong lempar bolanya. Ayo main bersama kami.” Sambut Seungkwan dan Hansol dengan ceria.

Saat itulah Ara melihat ke arah orang yang dipanggil Jisoo oleh adik-adiknya. Ara merasa ada sesuatu yang menggelitik di perutnya ketika matanya bertukar pandang dengan mata Jisoo. Ia ingat mata Jisoo yang berbinar-binar dan selalu menatapnya dengan lembut. Sekarang tatapan itu masih sama, namun sekarang tatapan itu berhasil membuat Ara lupa bagaimana cara menyapa Jisoo seperti dulu, ada rasa canggung diantara keduanya.

“Eng, Jisoo? Lama tidak berjumpa”

“Hai, apa kabar?” sapa Jisoo dengan senyumnya yang hangat sembari mengulurkan tangan mengajak Ara bersalaman.

“Em, ba-baik.” Ara merutuki dirinya sendiri dalam hati, kenapa ia tiba-tiba bisa secanggung ini menghadapi Jisoo? Ayolah, Jisoo kan teman masa kecilnya. Dulu mereka selalu bermain bersama dan bergandengan tangan saat pergi membeli permen coklat ke warung Bibi Cha.

“Ara nuna, mengapa wajah nuna memerah?” tanya Seungkwan dengan polosnya.

Jisoo menahan senyumnya.

Demi apapun rasanya ingin sekali Ara mencubit-cubit pipi Seungkwan untuk membungkam mulutnya atas pertanyaan polos yang membuat Ara semakin malu, “mungkin karena pantulan cahaya matahari dari luar hingga membuat wajahku terlihat merah, Seungkwan-ah” Ara berkilah dan memberikan senyum paksa pada Seungkwan yang kemudian berlalu dan melanjutkan bermain bola bersama Hansol tanpa merasa berdosa sedikitpun.

.

.

“Jadi kau ingin mengambil jurusan musik?”

“Ya begitulah” ujar Jisoo sambil memasukkan permen coklat ke mulutnya.

Suasana diantara mereka sudah tidak terlalu canggung seperti tadi. Sekarang mereka sedang duduk di bangku taman di dekat panti asuhan sambil menikmati permen coklat yang dulu  sering mereka beli di warung Bibi Cha.

“Mengapa kau memutuskan kembali ke Seoul?”

“Hmmmm,” terdapat jeda cukup lama bagi Jisoo untuk melengkapi kata-katanya “karena aku pernah berjanji pada seorang gadis kecil untuk selalu melindunginya, dan aku ingin meminta maaf karena aku pergi meninggalkannya dan tidak memberi kabar sama sekali.”

“Pacarmu ya?” Ara penasaran, tapi ia tidak ingin mendengar jawaban ‘Ya’ dari Jisoo.

“Entahlah, hahaha.”

“Hmm? Maksudmu?”

“Dia dulu belum menjadi pacarku. Sekarang aku baru bertemu dengannya setelah sekian lama, dan aku tidak tahu apakah dia sudah memiliki seseorang yang spesial.”

“Mengapa tidak kau tanyakan saja?”

“Apa menurutmu tidak aneh menanyakan hal seperti itu pada teman lamamu yang baru kau temui setelah sekian lama berpisah? Mungkin nanti, setelah ia sudah terbiasa dengan kehadiranku dan tidak ada rasa canggung lagi diantara kami.”

Ara hanya mengangguk-angguk setuju dengan Jisoo, akan sangat aneh jika tiba-tiba ada seorang teman lama yang muncul entah darimana lalu bertanya apakah ia sudah punya pacar atau belum.

Tiba-tiba Ara tertegun.

“Emm, Jisoo-ya”

“Ya?”

“Apakah gadis kecil yang kau maksud itu…”

“Ya, gadis kecil itu yang menangis merengek-rengek karena boneka kucing kesayangannya diketakkan oleh anak-anak jahil di lemari mainan yang tinggi.” Jisoo tersenyum, melemparkan pandangannya pada Ara yang membeku.

Jisoo menggenggam kedua tanggan Ara sambil menatapnya, “maaf aku meninggalkanmu begitu saja saat kita masih kecil, sekarang aku sudah disini bersamamu dan akan tetap melindungimu apapun yang terjadi…”

“…boleh kan, Hong Ara?”

-FIN-

Maafkan FFnya abal-abal, maklum writernya newbie😀

Readers tolong kritik dan sarannya yahh. Gomawoyoong~~

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s