[Oneshot] STAND ALONE – My Fiancee

my fiancee (STAND ALONE 2)

MY FIANCEE

Title: My Fiancee // scriptwriter: ER // cast: Choi Youngjae (GOT7), Taeyong (SMRookies), Lily Han (OC) // support cast: Lee Yura (OC) // Genre: Romance, school life, hurt/comfort // Category: oneshot  // Duration: ± 3597 word // rating: PG-15

Disclaimer : Youngjae and Taeyong not belongs to me. OC and the story are mine. happy reading!

“awalnya kupikir pacaran dan tunangan adalah dua hal yang berbeda. Tapi saat cinta itu datang, seharusnya dua jenis hubungan itu dapat dipersatukan”

*

*

Lily berjalan keluar dari ruang kelas. Sebelum ia dapat mencapai pintu, sebuah suara berhasil membuatnya membalikkan badan.

“hei Lily-a, kau mau kemana?” tanya seorang gadis bernama Lee Yura tersebut. Lee Yura adalah teman semeja Lily Han.

“seperti biasanya!” Gadis yang ditanya itu menjawabnya sambil tersenyum yang dimanis-maniskan

“aish kau ini, ternyata kau belum menyerah ya!!”

“aku ini Lily Han, gadis paling kuat di dunia, jadi aku tak pernah menyerah!” kata gadis itu sambil mengerlingkan matanya pada teman semejanya itu. Yang digoda malah hanya menggeleng-gelengkan kepala saja melihat kelakuan temannya yang merangkap sebagai sahabatnya tersebut. Ia tak habis pikir mengapa ada seseorang yang tak pernah putus asa seperti temannya itu. Ia mengagumi temannya, tapi terkadang ia juga sebal padanya, karena terkadang gadis itu tak tahu malu

“yasudah jangan lupa kalau bel masuk kau harus segera masuk kelas! Dan jangan cemberut saat masuk kelas. Aku mau ke kantin bersama Mark saja kalau begitu!”

“aish aku cemberut itu lebih baik daripada kau, nona pemberi harapan palsu” Lily mengatakan itu sambil melarikan diri. Sedangkan Yura hanya berteriak-teriak untuk memberi penjelasan yang tak jelas karena gadis yang diomeli sudah terlanjur menghilang dari jangkauan matanya.

Di taman belakang sekolah

Seorang lelaki memakai headphone di telinganya. Ia duduk bersandar pada kursi. Kedua tangannya juga ia sandarkan di kursi seolah hanya tangannya yang menopang tubuhnya saat itu. Ia mendongakkan kepalanya sambil memejamkan mata. Ia terlihat sangat keren dalam posisi seperti itu. Siapapun yang melihatnya seperti itu mungkin akan langsung jatuh cinta pada lelaki itu. Atau mungkin akan tergila-gila pada lelaki itu. Tapi laki-laki itu layaknya tipikal lelaki penyuka headphone yang kebanyakan merupakan lelaki pendiam dan cuek. Atau mungkin sok keren-di mata orang yang skeptis

“apa yang kau lakukan disini?” tanya lelaki itu tanpa membuka matanya ataupun mengubah pergerakannya.  Yang ditanya hanya diam saja tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari wajah lelaki tampan yang sedari tadi dilihatnya dengan sorot mata kagum.

“kau tak menjawab pertanyaanku” tambah lelaki itu datar.

“ini aku bawakan kau minuman.. barangkali kau haus” akhirnya orang yang ditanya itu mengangkat suara juga. Ia menjawabnya dengan lancar, tanpa canggung seperti yang dilakukan gadis-gadis lain saat ia ketahuan memperhatikan orang lain. Tentu saja, orang ini Lily Han, gadis paling tak tahu malu sedunia.

Lily dan lelaki yang ia temui di taman yang bernama  Choi Youngjae itu, adalah dua orang manusia yang dirancang untuk dipersatukan oleh kedua orang tuanya dalam ikatan pernikahan suatu saat nanti, mereka berdua sudah sama-sama tahu, dan mereka sudah bertunangan. Tapi tak ada satupun dari mereka yang bersedia memakai cincin pertunangan. Namun kedua orang tua mereka sama sekali tak mempermasalahkannya, toh pada akhirnya mereka pasti akan menikah. Tentu saja pasti. Kedua orang tua mereka meyukai kepastian.

“aku hanya tunanganmu..bukan pacarmu!”  sergah Youngjae tetap dengan suara tenang –yang datar

“sejak kapan memberikan sebotol minuman menjadi tanda bahwa seseorang sedang berpacaran? Aku sering memberikan minuman pada siapapun. Bahkan aku sering berbagi minuman dengan Tae—“

Tiba-tiba hening. Lily merasa tak harus melajutkan kata-katanya. Sedangkan Youngjae merasa sangat malas mendengarkan celotehan gadis cerewet di sampingnya itu.

“aku mau ke kelas dulu ya, Youngjae-a!” gadis itu berjalan mundur sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah pria tunangannya itu.

“ah selalu saja begini” gadis itu tersenyum kecut saat ia berbalik membelakangi Youngjae.

Bel tanda pulang sekolah berbunyi-

Lily keluar kelas sendirian. Tentu saja, Yura teman tersayangnya pasti akan pulang dengan Mark, jadi ia memutuskan untuk keluar kelas tanpa menunggu Yura. Mereka bersahabat, tapi mereka sudah berjanji untuk tak harus selalu bersama-sama di manapun dan kapanpun. Agar tak terjadi cinta segitiga apabila suatu saat mereka bertemu dengan lelaki keren yang sama saat mereka sedang pergi bersama. Sungguh alasan yang sangat konyol –dan lagi-lagi memalukan

“sayang!” teriakan itu membuat Lily membalikkan badan sambil tersenyum lebar. Tentu saja bukan Youngjae yang memanggilnya. Karena tak ada satu orang pun yang tahu kalau Lily dan Youngjae memiliki “hubungan”, mungkin hanya Yura yang tahu hal itu. Lagipula mereka bersikap seolah-olah mereka tidak saling kenal satu sama lain. Youngjae selalu membuang muka saat kebetulan berpapasan dengan Lily, atau terkadang menatapnya dengan tatapan tajam seolah ingin membunuh gadis itu dengan matanya.  Lily berpikir mungkin Youngjae menganggap bahwa pertunangan mereka benar-benar menghancurkan hidupnya hingga lelaki itu sering menyendiri dan bertingkah menyebalkan. Ah tapi lelaki itu kan memang suka sekali menyendiri bahkan sebelum mereka dipertemukan secara formal dalam pertemuan keluarga yang bernama lamaran disertai perencanaan acara pertunangan dua tahun yang lalu. Tepat saat mereka selesai melampaui Masa Orientasi masuk SMA, mereka berdua menyandang status sebagai sepasang calon suami-istri. Sungguh cerita yang sangat manis bukan?

“Taeyong-a” sapa gadis itu hangat saat lelaki yang memanggilnya itu merangkul pundaknya sambil berjalan menyusuri lorong berdua.

“sayang.. nanti malam kita jadi berkencan kan?”

“hmm di kafe Milky ya”

“bagaimana kalau nanti malam kau ku jemput?”

“tidak usah, kita langsung bertemu di kafe saja”

“aish kau ini.. selalu saja tak mau aku jemput” lelaki bermana Taeyong itu menggelengkan kepalanya menandakan bahwa ia sedikit kecewa karena gadisnya itu selalu menolak untuk dia jemput.

malam harinya di kafe Milky-

Taeyong duduk berhadapan dengan Lily. Mereka sedang menikmati snack dan minuman yang mereka makan.

tiba-tiba…

“kalau kau tertarik dengan salah satu gadis itu.. kau bisa mendatanginya dan meminta nomer ponselnya” kata Lily ringan, tak mengandung intimidasi sama sekali.

“aku tak tertarik sayang” jawab Taeyong tak kalah ringan

“aku tahu mereka semua dari tadi selalu mengamatimu. Sepertinya mereka terpesona dengan ketampananmu” lanjut Lily ringan lagi-lagi tanpa intimidasi seolah ia dan Taeyong adalah sahabat dekat yang sangat akrab.

“ah kau bisa saja sayang.. bagaimanapun sekarang aku sedang bersamamu, aku tak akan memiliki lebih dari satu di saat yang sama” kalimat itu diucapkan Taeyong dengan santainya, seolah olah hal seperti itu bukanlah masalah yang berat, justru ini lelucon bagi mereka.

Hubungan Lily dan Taeyong baru-atau mungkin sudah– berjalan enam bulan. Dan selama itu mereka tidak pernah mengalami masalah yang serius. Pertunangan Lily dengan Youngjae tak menghalangi gadis itu untuk berpetualang dalam cinta lelaki lain. Tentu saja, karena Youngjae tidak pernah mempedulikan hal itu dan yang pasti tak pernah tertarik padanya.  Sedangkan Taeyong, ia dikenal sebagai salah satu pria keren di sekolah. Dulunya Ia satu klub dengan Jaebum, mantan pacar Yura, klub basket, sebelum Jaebum lulus dan kuliah di Inggris. Ia dikenal sebagai playboy, bukan karena ia senang berselingkuh, tapi lebih karena ia berpacaran tak lebih dari satu bulan kemudian beberapa hari kemudian ia memiliki pacar baru. Taeyong memang tipikal pria yang tak suka memiliki lebih dari satu pacar dalam sekali waktu, karena baginya itu benar-benar akan merusak reputasinya sebagai pria keren. “punya beberapa pacar bukan hal yang keren, Man! Kau justru terlihat murahan!” itu yang Taeyong katakan ke teman-temannya apabila ada yang usil bertanya mengapa Taeyong tak memanfaatkan sumber daya ketampanannya dengan maksimal.

Tapi ini sudah enam bulan, waktu yang sangat lama bagi gadis-gadis yang menunggu giliran untuk dipacari oleh Taeyong. Memang tak sedikit gadis yang menunggu giliran untuk dipacari olehnya. Terlepas mereka benar-benar menyukai lelaki itu atau tidak. Mungkin hanya dengan alasan bahwa “Taeyong itu sangat keren!” “gadis yang dipacari Taeyong pastilah akan dinobatkan sebagai gadis cantik!”. Itu beberapa alasan mengapa mereka rela menunggu Taeyong. Meskipun Playboy, selera Taeyong memang sangat tinggi, gadis yang dipacarinya harus cantik dan juga keren sepertinya. Itu semata-mata untuk menjaga reputasinya. Ya hanya sesimpel itu. Jadi bisa kau bayangkan secantik dan sekeren apa gadis tak tahu malu bernama Lily Han itu, kan?

*

*

*

Seorang gadis memegang sekotak coklat sambil berdiri di lorong kelas 3. Ia tampaknya sedang menunggu seseorang dengan perasaan canggung. Ia berdiri disana dengan mempertaruhkan nyawa –lebih tepat harga dirinya-. Ia siap diterima dan mau tak mau harus siap apabila ditolak.

“Youngjae Sunbae” sapa gadis itu saat lelaki itu sampai di hadapannya.

“Terimalah ini!” minta gadis itu sambil menyodorkan kotak yang daritadi ia pegang dengan kepala menunduk karena grogi.

“untuk apa?”Youngjae bertanya dengan nada datar –ciri khasnya

“aku menyukaimu Sunbae! Sudah dari dulu!” gadis itu mengangkat kepalanya dengan malu-malu sambil berharap ia diterima, karena banyak orang yang mengamati kegiatan ‘menyatakan cinta ke kakak kelas’ yang dilakukan gadis itu.

“maaf. Tapi aku sudah dimiliki orang lain”

“hah?!” gadis itu syok, wajahnya merah padam dan hampir menangis karena malu. Ia mulai menyadari kebodohan yang dilakukannya. Bahkan ia tak pernah sekalipun menyapa lelaki itu, jadi kenapa ia berani-beraninya mengutarakan perasaan pada sunbae-nya di depan semua orang –anak kelas tiga– tanpa pendekatan terlebih dahulu. Apa ia memiliki percaya diri yang sangat tinggi seperti Lily?

“sayangnya aku sudah bertunangan” lanjut Youngjae, kalimatnya itu tidak mengandung sindiran sama sekali. Ia hanya tak ingin menyakiti gadis yang sama sekali tak dikenalnya dengan menolaknya tanpa menggunakan alasan yang dibuat-buat.

Dan seketika itu pula terjadi kasak-kusuk antar siswa membicarakan kejadian itu, dan ada pula yang membicarakan apa benar Youngjae benar-benar sudah bertunangan. Mungkinkah Yougjae menjadi pendiam  dan menjaga jarak dengan para gadis karena untuk menjaga perasaan tunangannya? Atau Youngjae frustasi sehingga menjadi pendiam karena harus bertunangan di usianya yang sangat muda? Pertanyaan semacam itulah yang samar-samar didengar oleh Youngjae yang kemudian pergi dari situ tanpa menghiraukan gadis yang baru saja ditolaknya mentah-mentah tersebut.

Setelah Youngjae pergi dari situ, Lily menghampiri gadis tertolak yang dari tadi belum bergerak dari posisi semula. Lily melihat raut wajah syok dan malu dari gadis itu. Kemudian ia mengelus bahu gadis itu.

“kau jangan pernah terbawa oleh perasaan yang menggebu-gebu seperti itu, karena kau akan menanggung malu pada akhirnya”

“….”

“kau baru saja mempermalukan dirimu sendiri adik kelas cantik!” seru Lily menambahkan dengan bibir menyeringai. Lily memang populer karena ia baik tapi ia juga evil apalagi terhadap sesuatu yang dianggap sangat mengganggunya. Tunggu, Apa gadis itu mengganggunya?.  Sedangkan gadis yang terlanjur malu itu langsung berbalik dan berlari meninggalkannya seorang diri. Oh dan tentu saja ia menjatuhkan kotak coklatnya terlebih dahulu ke lantai  di dekat sepatu Lily.

*

*

*

To: Youngjae

From: Lily

“youngjae-a.. nanti malam kita berkencan ya.. jemput aku di rumah jam 7 p.m. awas kalau kau tak datang!”

Dan tak ada balasan dari lelaki itu. Tapi toh Lily tenang-tenang saja karena ia tahu…

Ting tong..

“hai.. aku tahu kau pasti datang”

“aku hanya menjaga nama baik keluargaku di depan ayah ibumu”

“apapun itu aku tahu kau pasti datang”

“masuklah ke mobil!” perintah Youngjae dengan nada ketus tanpa menghiraukan gadis yang mengerucutkan bibirnya tanda protes akan perlakuan menyebalkan tunangannya itu.

-di dalam mobil-

“kau mau aku turunkan dimana?

“di Sungai Han”

“kau ternyata tak punya nyali untuk membawa pacarmu ke orang tuamu” Youngjae nyeletuk dengan nada menghina

“saatnya belum tepat. Aku pasti akan segera membawanya.” Jawab Lily ringan seolah ia tak peduli pada ucapan Youngjae yang bernada menghina itu. Perbincangan mereka di mobil hanya sebatas itu. Selebihnya mereka hanya diam sepanjang perjalanan.

“kenapa kau tak turun?”

“aku tak harus mengantarmu menemui pacarmu sampai sana kan?” nada bicara Youngjae terdengar sedikit tertekan, ia sungguh frustasi pada gadis tak tahu malu itu.

“aku tak bertemu Taeyong disini, kan sudah kubilang kalau aku mau berkencan denganmu. Apa kau tak membaca pesanku dengan sungguh-sungguh?

“youngjae-a.. nanti malam kita berkencan ya.. jemput aku di rumah jam 7 p.m. awas kalau kau tak datang!”

Entah bagaimana awal mulanya, Youngjae menjadi sedikit canggung dan agak salah tingkah.

“kau mau ada di spot mana?” tanya Youngjae berlagak cool untuk menutupi rasa groginya

“kali ini aku ingin berkencan dengan tunanganku, bukan dengan pacarku”

“aku tak akan mau menanggung resiko apabila pacarmu melihat kita malam ini”
“ kalau dia tahu, aku hanya perlu menunggu beberapa hari sampai dia bersama gadis lain” jawab Lily santai.

“dasar gila! tadi kutanya kau mau di spot mana?”
duduk di kursi di tepi sungai saja, sepertinya bagus”

*

*

“ini untukmu” Lily menyodorkan sekotak coklat kepada Youngjae. Saat itu juga muka Youngjae berubah tegang tapi beberapa saat kemudian ia berhasil menguasai keadaan.

“ini untukku?”

“ini memang untukmu, dari gadis yang menembakmu tadi siang”
“kalau begitu buang saja!” perintah Youngjae dengan nada frustasi.

“bagus kalau kau menolaknya. Kau memang tak boleh menerima siapapun selain aku”

“apa katamu? Kau sendiri punya pacar. Kenapa aku tak boleh?”

“lalu kenapa kau tak melakukannya kalau kau iri padaku?”

“aku hanya… aku hanya….”

Hening.

Gadis itu melihat dan menikmati  pemandangan di depannya tanpa menghiraukan pria salah tingkah di sampingnya.

Setelah merutuki kebodohannya, Youngjae mengarahkan pandangannya ke wajah gadis itu.

Dia cantik. Dia menarik. Tapi dia menyebalkan. Bahkan dia tak menganggapku sebagai tunangannya. Aku benar-benar membencinya. Youngjae mengatakan itu dalam hatinya sambil kepalanya sedikit demi sedikit mendekat ke wajah gadis di sampingnya. Dan kemudian..

CUP~

Bibirnya mendarat begitu saja di bibir mulus Lily. ciuman pertama Youngjae. Dan ciuman yang pertama kali membuat jantung Lily seakan mau meloncat keluar saking kaget dan gugupnya. Bukan ciuman pertamanya tetapi sensasi ciuman itu begitu menakjubkan melebihi ciuman pertamanya dulu yang ia rasa biasa saja. Mungkin karena ia dicium oleh pria tunangannya, atau karena saking terkejutnya jantungnya berdetak sangat kencang seperti ia baru berlari puluhan kilometer, atau mungkin ia mulai jatuh cinta kepada tunangannya?

Sedangkan bagi Youngjae, ia merasa bahwa dunia seakan dunia berputar mengitarinya. Jantungnya berdetak begitu cepat hingga ia rasanya mau copot yang pada akhirnya ia mencapai kesadaran atas apa yang baru saja diperbuatnya, tiba-tiba ia menarik bibirnya dari bibir gadis itu, ia membuang muka dan berusaha menetralisir perasaan dan wajahnya yang semerah tomat. Sedangkan gadis itu hanya tersenyum canggung seolah-olah ia juga baru pertama kali melakukan hal itu. Mereka sama-sama membuang muka tapi mereka akhirnya mereka tersenyum manis pada diri mereka sendiri, mungkin di dalam perut mereka sedang beterbangan ribuan kupu-kupu!

Dan tak jauh dari tempat mereka duduk, seseorang menatap mereka dengan tatapan tajam dan tangannya mengepal seolah-olah emosi sudah ada di ubun-ubunnya.

*

*

*

“kau ini selain tak tahu malu, ternyata kau juga pembual!”

“aku serius, tau!”

“aku tak percaya!”

“rasanya seperti dunia berputar-putar mengelilingiku, di perutku rasanya beterbangan ribuan kupu-kupu sehingga aku merasa mual dan pusing tapi entah mengapa hatiku rasanya juga berdebar-debar. Aku baru pertama kali merasakan perasaan seperti ini!”
“apa benar ini pertama kalinya?” dan Lily pun mengamininya.

“kasihan sekali Taeyong!” ujar Yura dengan nada meledek.

“kau ini menye—“ belum sempat Lily melanjutkan umpatannya pada sahabatnya itu seseorang datang menghampiri mereka. Kedatangan orang tersebut mendadak membuat suasana ceria itu menjadi canggung.

“sayang, nanti siang aku ada pertandingan persahabatan dengan kelas sebelah, kau bisa datang kan?” ajak Taeyong setengah berharap bahwa pacarnya bersedia melihat pertandingannya. Seolah olah pertandingan saat ini sangat penting baginya.

“itu kan pertandingan kelasmu dan kelas lain, aku tak ingin membuat masalah dengan mereka”

“seluruh sekolah boleh menonton sayang.. ini pertandingan persahabatan dan terbuka untuk umum. Bukan hanya untuk ditonton oleh dua kelas saja.” Lelaki itu rupanya tak menyerah untuk mengajak pacarnya.

Entah mengapa akhir-akhir ini Lily merasa bahwa Taeyong semakin posesif. Sebelumnya ia tak pernah seperti itu. Awalnya Lily pikir bahwa hubungannya dengan lelaki itu tak akan berjalan lebih dari satu bulan, sama dengan gadis-gadis sebelum dirinya. Tapi entah mengapa sampai sekarang  –yang sudah berjalan selama enam bulan– Taeyong tak kunjung memutuskannya. Tapi ia terlalu malas untuk mencari tahu tentang hal itu. Ia tak punya waktu untuk mengira-ira lelaki itu, karena baginya Taeyong sulit dipahami jadi ia sama sekali tak berusaha memahami Taeyong, ia justru tertarik untuk mulai memahami tunangannya. Apa?!

Semenjak menjalin hubungan dengan Lily, Taeyong merasa bahwa hidupnya lebih santai, ia merasa tak perlu lagi berpikir mengenai mana lagi gadis yang akan ia pacari setelah putus dari  Lily. Karena sampai sekarang ia belum punya niat untuk memutuskan gadis itu, ia mulai merasa nyaman dengan Lily meskipun gadis itu tak pernah sekalipun benar-benar memperhatikannya. Mungkin karena sikap cuek Lily dan kebebasan untuk bertemu dengan siapapun yang diberikan oleh gadis itu kepadanya, ia merasa tidak punya beban terhadap berbagai tuntutan seperti yang dilakukan pacar-pacarnya sebelumnya.

“kalau kau malu, kau bisa duduk di bangku cadangan kelasku.. mereka tak akan keberatan, kok!” Taeyong menambahkan dengan nada membujuk.

“Hmm baiklah”

“sepulang sekolah ya sayang..” Taeyong mengatakan itu sambil beranjak pergi, setelah keluar dari ruang kelas Lily, ia tersenyum –lebih tepatnya menyeringai

*

*

*

Pertandingan basket persahabatan antara kelas Taeyong dan kelas sebelah –yang ternyata kelas Youngjae– berlangsung cukup seru. Lily cukup hafal, setiap tim Taeyong sedang bertanding, entah itu tim kelas maupun tim basket, pasti akan banyak sekali yang menonton terutama para gadis. Tentu saja, mereka pasti tak ingin melewatkan tampang keren Taeyong saat mendribble dan memasukkan bola di ring lawan. Penonton histeris –lagi-lagi para gadis– saat tim Taeyong berhasil memenangkan pertandingan dengan perolehan skor yang lumayan jauh jaraknya. Tapi bukan itu poin utamanya.

Setelah mereka saling bersalaman dan menepi ke sisi lapangan masing-masing, Taeyong justru menarik tangan Lily menuju tengah lapangan. Dan tanpa basa-basi Taeyong memegang kedua pipi  gadis itu dengan kedua tangannya kemudian mencium gadisnya itu di depan semua orang, tentu saja semua penonton bersorak sorai melihat tontonan gratis itu. Setelah beberapa detik berlangsung Lily baru menyadari sesuatu. Seseorang di seberang sana sedang memperhatikannya. Ia terkejut sekaligus tak dapat berbuat apa-apa karena genggaman Taeyong begitu erat di wajahnya seolah-olah lelaki itu tak ingin segera melepaskannya. Ini benar-benar memalukan. Begitulah yang ia rasakan saat itu.

Sementara Youngjae yang melihat kejadian itu juga tak dapat berbuat apa-apa. Tak ingin orang lain melihat perubahan raut wajahnya, ia pun memasang headphone kesayangannya kemudian meninggalkan lapangan ‘panas’ itu menuju tempat favoritnya, taman di belakang sekolah. Ia mengutuk dirinya sendiri yang entah mengapa bersedia menonton pertandingan yang katanya ‘pertandingan persahabatan itu’. Ia harusnya tak mengabaikan perasaan tak enak di dalam hatinya saat teman-temannya memaksanya untuk melihat pertandingan. Demi solidaritas katanya. Ia tak ingin di cap penghianat atau lebih tepatnya malas untuk adu mulut dengan mereka, hingga akhirnya ia menyerah dan datang sebagai penonton –hanya penonton bukan tim hore seperti temannya yang lain- di pertandingan siang itu. Tapi kedatangannya justru menjadi bencana bagi hati dan jantungnya. Ia merasa sangat marah dan frustasi meski emosi itu tak terlihat dari wajahnya yang memang senantiasa terkesan tenang dan santai. Ia benar-benar ingin berteriak atau memukul sesuatu. Memukul sesuatu? Ah tunggu dulu.

*

*

*

“kau sudah puas?”

“sekarang kembalikan ia padaku!”

“kenapa kau diam saja?”

Sementara yang diajak bicara menunjukkan raut wajah bingung tak mengerti dengan yang Youngjae ucapkan. Dan tentu saja bukan hanya lelaki itu saja yang kebingungan, tetapi penonton yang masih berada di lokasi ‘Taeyong-Lily-Berciuman’ itu pun lebih bingung dengan keadaan yang terjadi tiba-tiba ini. Kebingungan pertama mereka adalah Youngjae yang tiba-tiba datang ke tengah lapangan menghampiri Taeyong dan pacarnya yang masih ada disana.

“memangnya apa yang kupinjam darimu? Kita bahkan tak pernah saling mengenal, jadi mengapa aku meminjam sesuatu darimu?”

“bukankah sesuatu yang dipinjam harus dikembalikan kepada pemilik yang sebenarnya?”

“aku benar-benar tak mengerti. Katakan dengan jelas!”

“ dia milikku!” kata Youngjae santai sambil menoleh ke arah gadis di sebelah Taeyong. Sementara gadis itu berdiri terpaku di tempatnya. Ia benar-benar merasa bingung dan kacau.

“dia milikku! apa kau tak lihat bahwa dia jelas-jelas milikku!” bentak Taeyong sambil memegang kerah baju Youngjae.

“dia tunanganku!” ujar Youngjae masih dengan suara yang santai dan bibir menyeringai  –meskipun amarahnya mungkin sudah di ubun-ubun-

“lihat ini!” youngjae menunjukkan kalung yang terselip di dalam baju seragamnya yang ternyata berliontin sebuah cincin yang bertuliskan ‘Choi Youngjae-Lily Han’.

“dia juga memiliki ini” tambah Youngjae membuat Taeyong melepaskan cengkeraman tangannya di kerah Youngjae. Ia kemudian menghampiri gadisnya dan bertanya setengah mengiba

“apa itu benar?” dan gadis itu hanya mengangguk tanpa berani melihat mata Taeyong. Ia sangat takut melihat Taeyong untuk saat ini. Mungkin ia baru saja merasa sangat bersalah kepada lelaki yang dipacarinya selama enam bulan tersebut. Dan mungkin dia juga syok karena tak menyangka bahwa Youngjae ternyata memakai cincin itu, meskipun tak dipakai di jari manisnya. Sedangkan Taeyong semakin memegang erat kedua pundak gadisnya itu dan berusaha mencari kebohongan di mata gadis itu. Siapa tahu itu hanya permainan mereka. Tunggu dulu, bukankah awalnya ia yang berniat untuk memberikan pelajaran kepada Youngjae dan juga Lily karena mereka sudah berani menghianatinya? Tentu saja ia melihat Youngjae dan Lily berciuman malam itu di tepi sungai Han dengan mata kepalanya sendiri secara tak sengaja.

Tiba-tiba Youngjae menarik tangan Lily dan menjauhkannya dari jangkauan Taeyong.

“mulai sekarang kalian resmi putus. Aku tak akan membiarkannya melihat lelaki lain lagi selain aku” kalimat  Youngjae itu membuat semua orang terperangah. Bagaimana bisa seorang Youngjae yang pendiam bisa mengatakan kalimat se-gentle itu. Lily pun sama kagetnya dengan semua orang. Sebelum kekagetannya berakhir, Youngjae buru-buru menariknya keluar dari tempat itu. Meninggalkan Taeyong sendirian di tengah lapangan dengan wajah yang menyedihkan.

Taeyong sangat malu. Atau mungkin dia patah hati?

*

*

*

Lily melepaskan pegangan tangan Youngjae dengan kasar. Ia tak menyangka kalau laki-laki itu sangat membencinya sampai sampai mempermalukannya di depan semua orang.

“kau berhasil menghancurkan reputasiku!”

“apa reputasi sepenting itu bagimu?”

“tentu saja!”

“kalau begitu jadilah pacarku!”

“pasti reputasiku akan semakin melejit  jika kita berpacaran” kata Lily dengan nada meremehkan dan tatapan tajam yang ia tujukan pada Youngjae.

“aku tak menerima jawaban tidak”

“kita akan menikah, tapi kita tak akan berpacaran hanya karena kita sudah bertunangan. Bagiku pacaran dan tunangan itu dua hal yang berbeda”

“apa kau sama sekali tak ingin mencoba untuk mencintai tunanganmu?”

“apa kau sendiri pernah mencobanya?! Kau memakai cincin itu kurasa karena tekanan orang tuamu. Kau pikir aku akan percaya dengan trik murahan seperti itu?”

“sejak kita ditunangkan aku selalu mencoba untuk mencintaimu, dan aku sudah bertekad saat aku mulai mencintaimu aku akan mengatakan padamu. Dan aku memang selalu memakai ini, sebagai pengingat bahwa aku sudah dimiliki jadi aku tak akan macam-macam. Apa kau juga pernah mencobanya sepertiku?”

“kau bahkan selalu mengacuhkanku saat aku mendatangimu!” nada dan pandangan Lily yang tajam masih belum berubah.

“itu karena aku selalu canggung saat berada di dekatmu”

“jadi sekarang jadilah pacarku” tambahnya.

Lily memandang laki-laki di depannya dengan tatapan marah seolah ingin meninju lelaki itu saat itu juga.

“kurasa aku mulai jatuh cinta padamu”  pukulan telak dari Youngjae berhasil membuat Lily terhenyak. Ini adalah pukulan telak kedua yang dilakukan Youngjae hari ini, setelah ia berhasil ‘memukul’ Taeyong pastinya. Kini ia merasa bukan saja gadis tak tahu malu, tapi juga gadis bodoh. Ia mulai menyesali sikap angkuhnya selama ini yang bergonta-ganti pacar dan mengacuhkan Youngjae -dan perasaannya-. Ia melakukan itu karena ia pikir Youngjae tak akan peduli karena lelaki itu juga sama sekali tak memiliki minat padanya. Kemudian ia menyadari bahwa selama ini Youngjae tak pernah sekalipun dekat dengan gadis manapun. ‘apa selama ini laki-laki itu selalu menjaga perasaannya tanpa ia ketahui?’

Tiba-tiba saja Youngjae memeluknya. Memeluknya begitu erat. Rasanya hangat. Dan nyaman. Selama ini ia tak pernah merasa senyaman ini saat dipeluk. Apakah ini artinya ia benar-benar jatuh cinta pada Youngjae?

“awalnya kupikir pacaran dan tunangan adalah dua hal yang berbeda. Tapi saat cinta itu datang, seharusnya dua jenis hubungan itu dapat dipersatukan”

FIN.

6 thoughts on “[Oneshot] STAND ALONE – My Fiancee”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s