#1 Teman Baru

1455602663100

by jojujinjin (@jojujinjin on Twitter)

.

starring Up10tion’s Wei & OC’s Jane, also Seventeen’s Joshua

Ficlet Series // T // School-Life, Fluff

.

“Lho kok, pacarnya buta warna ya? Putih disamakan dengan oranye dan biru?”

“Anak baru, mungkin?”

***

Are you sure—“

“Aku bisa, Kak.”

Just … telepon aku jika kau butuh sesuatu, oke?”

“Iya. Terima kasih.”

Jane tersenyum, menatap punggung kakaknya yang menghilang di tikungan terakhir; berat tiap pijakan langkahnya. Terasa benar oleh Jane berat untuk Joshua meninggalkan Jane di perempatan gedung sekolah mereka, tapi Jane selalu memaksa. Toh selama tangannya masih mampu memutar sepasang roda kursinya yang—cukup—berat, ia tak mau membebani Joshua.

Menghela napas, Jane mulai memutar roda kursinya. Membalas sapaan ramah beberapa murid yang melewatinya namun tidak cukup baik untuk menawarkannya sepasang tangan yang kuat. Tak seperti kepunyaannya yang kian hari kian cepat lelah.

Bel berbunyi nyaring dan ia masih berada di tengah lorong panjang, berhenti meminggir agar tidak mengganggu berpasang-pasang kaki yang seketika berlari. Meski Jane sudah membuat self-note tentang ‘Mencintai Diri Sendiri’ sejak bokongnya harus mencium kursi roda jika ia ingin berjalan, ia masih menemukan dirinya menatap rindu tungkai-tungkai lincah yang melesat di sisi kanannya. Jane menemukan dirinya lantas menatap dua kakinya sendiri; yang nampak sempurna namun tak sempurna. Sekadar nampak sempurna namun cacat.

“Butuh bantuan?”

Terkejut, ia menoleh untuk menemukan seorang pria dengan seragam yang kontras dengan murid seantero sekolah. Ketika semua orang mengenakan seragam putih-putih, lelaki jangkung itu menggunakan seragam hari Rabu sekolah mereka—kemeja warna oranye dan bawahan biru terang.

Well, mungkin dia salah melihat kalender.

“Mau kudorong, nggak? Nanti telat lho.”

Jane mengerjap. Kepalanya mendongak dan menemukan wajah yang asing di matanya. Sepasang mata itu melebar menatapnya, sudut bibir terjungkit barang beberapa milimeter.

“Aku anak baru di sini,” katanya. Ia menyangkul satu lutut di dekat kaki Jane, dan tanpa sadar fokus Jane mengikuti pergerakan Si Jangkung.

Surai cokelat pendek itu disisir dengan satu tangan ke belakang, pemiliknya menatap Jane ragu. Jane masih terdiam.

“Aku … uh, maaf, apa kau—apa kau bisa bicara?”

Jane mengerjap lagi.

“Bisa,” kata Jane akhirnya, meremas ransel di pangkuan ketika jawaban satu katanya dibalas dengan sebuah senyum lega sekaligus penuh antusias.

“Maaf,” ucapnya, kembali menyisir rambut dengan jemari. “Kamu kelas berapa?” lanjutnya bertanya.

“Kelas 1.”

Senyum lebar itu seketika hilang. “Yah, aku kelas 2.”

“Eh, mm, gedung kelas 2 dan kelas 3 dijadikan satu,” lalu Jane memutar tubuh sedikit, menunjuk ujung lorong di belakangnya. “Kalau dari pintu utama sana, harusnya kau belok kanan. Di sini tempat kelas 1, perpustakaan, dan gudang.”

Pria itu mengangguk-angguk. Jane kira setelah diberi penjelasan seperti itu, ia lantas pergi meninggalkan Jane dan mencari kelas barunya—namun tidak. Lelaki tersebut justru kembali mengulang pertanyaan awalnya.

“Kau mau kudorong, tidak? Sudah telat lho.”

“Kamu juga akan telat,” balas Jane sebelum menggigit bagian dalam pipi.

Si Jangkung tersenyum lagi, dan Jane bersumpah matahari sudah berpindah tepat ke depan mukanya.

“Guru di sekolah mana yang tidak memaklumi keterlambatan seorang murid baru yang tersesat?”

.

.

.

.

Namanya Wei.

Jane mengetahuinya ketika mereka nyaris sampai di depan kelas Jane setelah Jane akhirnya menerima tawaran Wei. Penyebabnya salah kostum adalah karena ia bangun kesiangan. Ulang tahunnya 8 Juni 1996. Topping pizza favoritnya adalah tuna dan ia benci keju.

”Kamu tidak ada yang mengantar, Jane?” tanya Wei, sesaat setelah ia selesai memperkenalkan dirinya panjang lebar dan begitu pula dengan Jane yang susah payah menahan tawa. Dorongannya pada kursi berhenti sebentar untuk membenahkan letak ransel di pundaknya.

Jane menggeleng pelan. “Kakakku mengantarku sampai perempatan pintu utama. Dia selalu memaksa untuk mengantarku sampai kelas, tapi aku tidak mau.”

“Kenapa?”

“Karena aku bisa mendorong diriku sendiri?” jawab Jane. Lebih seperti bertanya kembali.

Wei tidak bertanya lagi, fokus mendorong kursi roda Jane dan mengetuk pintu kelas yang Jane tunjuk tanpa sempat Jane interupsi.

Jane menganga tatkala Wei membungkuk pada guru kelasnya yang membukakan pintu, tersenyum kikuk ketika sang guru menoleh ke arahnya. Makin bingung saat Wei bebicara beberapa kalimat—Jane tidak menangkap apa pun itu, ia terlanjur keheranan—dengan santainya, lantas dengan sebuah anggukan dari guru kelasnya, Wei mendorong kursi roda Jane ke dalam kelas. Mengabaikan suasana kelasnya yang mendadak ribut dengan kata-kata seperti:

“Tumben diantar seseorang, Jane.”

Wih, Jane diantar cowoknya!”

“Lho kok, pacarnya buta warna ya? Putih disamakan dengan oranye dan biru?”

“Anak baru, mungkin?”

“Kukira tadi dia kakaknya, si Joshua itu.”

Jane menunduk dalam-dalam. Menahan rona kemerahan di pipi ketika kelas makin ramai kala Wei beranjak mendekat, berbicara tepat di telinganya.

“Kelasmu ngelantur, tapi aku suka. Nanti aku boleh menjemputmu, tidak?”

.

.

.

.

Fin?

22 thoughts on “#1 Teman Baru”

  1. Heyya author-nim!

    Huhu aku reader baru disini dan pas liat recent update nya ifk ada si Wei yosh lanjut tancap gas! Hihi
    Duh kan feels nya tuh aduh unyu sekali total banget Wei duh makin cinta wkwk. About the fic, duh kusuka sekali pokoknya. Terutama bahasanya duh santai pokoknya suka deh! Length nya juga pas, cocok sama seleraku yg gabisa baca fic lebih dari ficlet wkwk
    Keep writing yaaaa!
    Xoxo

    Suka

  2. waks :v buta warna si wei :v dia nyadar gak sih bajunya warna oren ama biru :v dan cute juga critanya,, kasian juga si jane:/ btw aku new reader dan hwaiting buat nulisnya authornim😛 hwaiting!

    Suka

  3. Ini sweet bgt…
    Kasian juga sama Jane-nya, cuman bahasanya ringan bgt, santai..
    Baru baca tiba2 selesai aja.
    Pengen baca cerita mereke lagii, dijadiin series bakalan seru deh kayaknya,
    sukaa❤

    Suka

  4. EMANG YA LO TUH

    ADE GUE HALAL 100%

    Dari keterbatasan jadi moment banget huhuhuhu Kapan sih w ketemu kakel kayak gt? yang gaperlu notis dianya sudah bergerak duluan?????

    Nice as usual, laiiiiis. Sorry gabisa komen panjang-panjang yaawww. ILIKEIT

    P. S : JOSHUA JADI KAKAK TUH EMANG SKXIKSHXIANXIAGASIWMHSA BANGET HUHUHU AKU JUGA NULIS DIA JADI KAKAKNYA SI KEMAR A’BELLE TUH UDAH LELAH BANGET SO MANIS SO BIKIN BAPER.

    Suka

    1. WETS ANYONG HASEYO

      UNNIKU 100% MURNI TANPA BORAKS

      Oiya dong wei kan ikut dalam komunitas 3P (Pria Pria Peka) ((oke terserah lais)). ITSOKEI ITSLAF KAK DHILA! Kusaja terqejut lihat kaka di sini omoh tengs sudah menyempatkan diri mampir. KUCINTA KAU (dan wei juga, ya) TO THE MOON AND BACK KAK<33345678

      p.s: aku juga mau punya kakak kek dia, bolehleh lah 1 atau 20 gitu

      Suka

  5. ugh senpai,
    ini simple tapi manis… sukaaa.
    pas ngebayangin wei, jadi keingat naruto. ituloh, naruto pas episode awal kan pake training biru-oranye kan? kkk~~

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s