[Oneshot] Both of You

Both of You

Title: Both of You

Scriptwriter: Maisya Ahmad

Cast:

  • The Girl as You
  • Lee Seungri as himself
  • Choi Seunghyun as himself

Other cast find by youself~

Genre: Romance, Conflict, Family.

Duration: Oneshot

Rating: PG-15

Disclaimer: FF dan Cover milik author. Seungri dan Seunghyun milik Tuhan YME. Mohon untuk tidak copy paste FF hasil jerih payah author.

***

“Kau baru datang?”aku mendongak saat melihat seorang pria tengah memasak sesuatu didapur. Seungri? Pria itu mematikan kompor gas dan berjalan menghampiriku yang baru saja mengganti sepatu dengan sandal rumah. “Aku menyiapkan samgyetang kesukaanmu.” Seperti biasa, dia selalu menampilkan senyum manisnya yang membuatku semakin menyukainya. Dia benar-benar tampan.

“Seunghyun akan kesini..”tepat dikalimat itu senyumnya menghilang, dia pasti sangat kesal mendengar hal itu. Mau tidak mau aku harus memberitahunya terlebih dahulu daripada terjadi pertengkaran lagi diantara mereka berdua seperti dua minggu yang lalu.

Seungri menata meja makan dengan sangat rapi. Dia benar-benar calon suami yang ideal, andai saja tidak ada Seunghyun aku sudah pasti memilihnya. Masalahnya, diantara mereka berdua aku belum bisa memilih pria yang paling aku cintai. Keduanya mempunyai cara masing-masing dalam mengekspresikan diri.

Pintu apartementku terbuka, seorang pria yang tengah menghisap sebatang rokok itu.. “Aku pulang..”ujarnya sambil melepas sepatu miliknya dan menggantinya dengan sandal rumah. Kedua pria ini tentu saja tidak tinggal denganku, tapi mereka bertingkah seolah-olah rumah ini adalah rumah mereka.

“Si sialan itu.”cibir Seungri mengumpat pelan namun tentu saja terdengar oleh Seunghyun yang memberikan tatapan sinis pada Seungri. Lagi. Seperti ini.

“Seunghyun—ah kau bawa apa?”tanyaku mencairkan suasana. Seunghyun memberikan sekantung kresek besar berisi soju dan cemilan lainnya. Pria itu kembali menghisap rokok miliknya sebelum bicara.

“Aku melihat ini dijalan dan aku membelinya untukmu.” Seunghyun memberikan sebuah kalung berbentuk hati didalamnya ada ukiran namaku dan namanya. Meski aku tidak melihat kebelakang, aku tahu Seungri pasti menatap kami berdua dengan tajam. Maafkan aku Seungri.

“Ah ya terimakasih.”jawabku sambil mengantongi kalung berwarna silver itu. “Ayo makan.”ajaku seraya duduk di kursi meja makan. Seungri memberikanku semangkuk sup samgyetang dan juga semangkuk nasi tanpa memperdulikan Seunghyun disampingnya.

“Makanlah yang banyak, jika kita menikah nanti aku akan menyiapkan makanan untukmu setiap hari.”ucapan Seungri mendapat lirikan tajam dari Seunghyun yang terlihat makan samgyetang itu dengan kesal. Aigoo, apa yang harus kulakukan dengan mereka berdua?

Choi Seunghyun. Pria nakal yang sangat cinta dengan artistic. Seunghyun mempunyai gallery sendiri dirumahnya, dengan kata lain dia adalah putera chaebol dan juga suka sekali melukis. Meskipun hobby nya itu sangat bertolak belakang dengan penampilannya. Seunghyun suka merokok, bermain dibar, setelan bajunya pun seperti preman, dia mengecat rambutnya berwarna putih dan juga tidak pernah suka dengan romantic ataupun hal semacam itu. Yang membuatku tertarik adalah karena Seunghyun hanya bisa bersikap romantic padaku sementara dia bersikap acuh pada orang lain. Hal itu benar-benar membuatku seperti wanita paling istimewa dalam hidupnya.

Lee Seungri. Pria terbaik yang pernah aku temui. Seungri pandai sekali memasak karena memang dia adalah koki disebuah hotel terbesar di Korea. Seungri sangat sopan dan dia adalah murid terpintar saat satu sekolah denganku dulu. Penampilannya sangat rapi dan dia benar-benar berbanding terbalik dengan Seunghyun. Perkataan lembutnya selalu membuat aku terpesona, dia juga selalu membantuku karena Seungri benar-benar pria dewasa yang berpendidikan. Namun jika menyangkut denganku, dia bisa saja melanggar norma dan etika. Dia juga bisa berkelahi jika itu berhubungan denganku. Itulah yang membuatku tidak bisa tidak untuk memilihnya.

Dua pria ini datang saat bersamaan. Dan menyukaiku saat bersamaan pula. Awalnya aku tidak mau memilih salah satu diantara mereka karena itu hanya bisa menimbulkan keretakan antara kami bertiga namun semakin lama mereka tidak mau menyerah dan bertarung untuk memperebutkanku. Terdengar menyenangkan jika seorang wanita direbutkan oleh dua pria tampan tapi itu sama sekali berbeda jika kau mengalaminya sendiri.

Menjaga perasaan dua orang bukanlah hal yang mudah, apalagi jika mereka berdua bertemu seperti ini dan aku ada diantaranya. Melihat pria yang saling beradu argument bahkan berkelahi juga tidak bisa aku hindari, hal itu terkadang membuatku takut namun aku tetap saja tidak mau menghindari mereka berdua. Aku memang egois, tapi suatu saat nanti pasti akan datang dimana saat aku akan memilih antara Seunghyun atau Seungri. Atau.. tidak memilih keduanya?

Tapi untuk saat ini. Aku masih nyaman dengan mereka berdua.

“Sesudah makan, kau ada acara apa?”Seunghyun bertanya sambil menyalakan pemantik api dan menyulut sebatang rokok miliknya. Dia hanya makan tiga sendok. Aku masih tetap makan meskipun asap rokok itu semakin membuat suasana makan malam ini tidak mengenakan. Dia tidak suka diperintah, jadi aku tidak menegurnya saat sedang merokok seperti ini.

“Aku harus bertemu orangtua Seungri.”jawabku sambil menyendok nasi dan memasukannya kedalam mulutku dengan perlahan. Seungri tersenyum. Dia benar-benar penuh karismatik dan aku semakin menyukainya.

“Ah.. orang tua itu masih di rawat—”

PRANG!

Reflex aku menutup mata saat tangan Seungri meraih jaket kulit hitam milik Seunghyun sampai piring terjatuh karena kerasnya Seungri menghentak Seunghyun. Mereka bertengkar. Lagi.

“Aku sudah bersabar dari tadi jadi jangan mengucapkan orang tuaku dengan mulut busukmu itu.”suara Seungri terdengar sangat marah. Aku takut untuk membuka mata namun aku harus melihatnya. Seunghyun hanya terkekeh kecil, dia benar-benar menyebalkan jika berhadapan dengan Seungri.

“Whoaa, santai bro aku hanya bercanda.”celetuk Seunghyun sambil melepaskan kedua tangan Seungri dari jaket miliknya lalu menatapku yang masih tidak biasa dengan pertengkaran mereka berdua. “Lihat, kau membuat istriku ketakutan lagi. Menurutmu kenapa aku tidak balas perbuatanmu tadi—”

“Jika kalian masih bertengkar, aku akan pergi.”ujarku sambil beranjak dari tempat duduk dan melangkah kearah pintu.

Seseorang menahan tanganku. Aku menoleh. “Maafkan aku.”suara lembut itu. Seungri. “Aku akan mencuci piring, setelah itu kita akan berangkat.”jelasnya sambil menatap kedua mataku lekat.

Seunghyun tertawa kecil. “Jadi kau akan menjadi bapak rumah tangga Lee Seungri? Pecundang menyebalkan.”ucapan Seunghyun memang sangat kasar, tapi aku akan membiarkannya kali ini karena.. dia pasti sakit hati saat aku mengatakan bahwa aku akan pergi dengan Seungri malam ini.

Aku membantu Seungri membersihkan meja makan sementara dia mencuci piring. Seunghyun tidak bisa melakukan pekerjaan rumah jadi dia hanya diam saja disofa sambil melihat-lihat beberapa pajangan lukisan yang ia kirimkan untuku diruang TV. Dia juga melukis sketsa wajahku dan itu benar-benar sangat membuatku tambah menyukainya.

“Seunghyun—ah..”ujarku setelah selesai melap meja makan. Seunghyun mengerti arah pembicaraanku. Ia berdiri dari sofa dan kamipun saling bertatapan satu sama lain. Aku bisa melihat wajahnya yang terluka saat ini. Benar-benar menyebalkan, aku tidak bisa berbuat adil untuk mereka berdua tapi juga tidak mau melepas mereka berdua.

“Aku akan pergi.” Seunghyun berjalan kearah pintu apartement dan memakai boots hitam selutut miliknya. Ia tersenyum sebentar meski bisa aku lihat dia tidak ingin tersenyum saat ini. Blam! Dan akhirnya pintupun tertutup. Aku menghela nafas sebentar, ini juga menyakitkan untuku.. Choi Seunghyun.

Sebuah tangan melingkar dipinggangku. Seungri menempelkan dagu miliknya tepat dibahuku. “Aku ingin melakukan ini sejak tadi.”gumamnya menggelitik leher miliku. Aku meremas telapak tangannya yang masih berada diperutku. Ini sangat nyaman. “Aku mencintaimu. Sangat.” Seungri semakin erat memeluku. Meski hatiku sakit saat teringat wajah Seunghyun, aku memang jahat karena menikmati pelukan Seungri saat ini. Maafkan aku, Choi Seunghyun.

***

Jam tujuh pagi aku sudah siap untuk pergi ke kantor dan seperti biasa Seunghyun yang mengantarku. Dia pasti mengantarku dengan mobil yang baru saja dibelinya dua hari yang lalu. Seunghyun sangat suka mobil klasik seperti Rolls Royce, sudah kubilang dia sangat bertolak belakang dengan penampilannya. Bahkan meski penampilannya seperti preman aku masih tidak percaya bahwa warna kesukaannya adalah merah muda.

Seunghyun membukakan pintu mobil untuku. “Silahkan masuk Nyonya besar.”candanya sambil memeragakan seorang sopir keluarga chaebol ,aku terkekeh sebentar sebelum akhirnya masuk kedalam mobil miliknya. Seunghyun tersenyum sambil memutar kearah kursi pengemudi dan melajukan mobil miliknya. “Kenapa kau tertawa?”Seunghyun bertanya saat aku masih saja terkekeh dengan tingkah lakunya.

“Bodoh! Bagaimana bisa seorang chaebol bertingkah begitu.”ujarku sambil meninju lengannya. Dia ikut tertawa sambil tetap memfokuskan perhatiannya kearah jalan.

“Kenapa? Seorang pria akan melakukan apa saja demi membuat wanitanya bahagia.”jelasnya seraya menatapku sebentar. Dia mulai membual lagi, tapi aku sangat menyukainya. “Aku akan pergi ke New York untuk membeli beberapa lukisan disana, kau mau ikut?” Seunghyun kali ini bertanya dengan serius.

“Aku ingin sekali ikut, kenapa kau tidak bisa menundanya saat aku libur kerja?”tanyaku sedikit memelas. Seunghyun tersenyum sebentar sebelum akhirnya menatapku.

“Ambil cuti saja sehari.”

“Aish, aku sudah sering cuti karena kau selalu mengajaku keluar negeri untuk membeli lukisan. Sekarang aku tidak bisa, beberapa karyawan disana mulai membicarakanku.”aku menjelaskan sambil mengingat percakapan karyawan yang tidak sengaja aku dengar saat akan pergi ke kantin. Ternyata itu sangat menyakitkan mengetahui bahwa mereka menggosipkan dibelakang sementara dihadapan kita mereka memasang wajah ramah hanya karena aku dekat dengan Seunghyun. Mereka juga mulai membawa-bawa nama Seungri.

Seunghyun mengangguk paham. “Baiklah, kau ingin oleh-oleh apa?”ujarnya sambil memarkirkan mobil didepan kantor tempat kerjaku—yang juga milik ayah Seunghyun—.

“Ciri khas New York, patung liberty.”jawabku sambil tertawa. Seunghyun membukakan pintu mobil miliknya.

“Kau ingin aku membawa patung sebesar itu?” Dia benar-benar polos sekali.

“Miniaturnya. Miniatur.”aku memperjelasnya dan Seunghyun hanya tertawa. Dia benar-benar bodoh. Aku sangat mencintaimu Seunghyun Bodoh!

“Aku tahu, aku tahu.”aku turun dari mobil dan Seunghyun mengecup keningku cukup lama, lalu hidungku lalu berhenti di dagu. Dia tidak berani untuk mencium bibirku, hal ini hanya berlaku jika salah satu diantara Seunghyun dan Seungri sudah resmi menjadi suamiku. Perjanjian yang tidak bisa mereka langgar. Jika salah satu dari mereka melanggarnya maka orang yang melanggar tersebut dianggap menyerah dengan paksa. Itu perjanjian yang mereka berdua buat.

“Jaga dirimu baik-baik. Aku akan datang satu minggu lagi. Selama itu aku akan memastikan dimana Seungri saat aku pergi.”tegasnya sambil berjalan masuk kearah mobil. Jika dia sudah berbicara tentang Seungri pasti berubah menjadi menakutkan. Mereka berdua ini, padahal dulunya sahabat dekat.

“Woaah daebak, kau bisa mendapatkan dua pria tampan sekaligus tanpa harus dianggap selingkuh.”aku tersenyum saat sahabatku, Jung Eun Bi datang sambil mengapit lenganku. “Ajarkan aku juga. Aku ingin mendapatkan pria seperti Seunghyun Oppa.”pintanya sambil beraegyo.

“Dasar kau ini, aku benar-benar tidak menginginkannya tahu.”

“Yaahh—kau ini semua orang iri dan menggosipkan kamu tahu!”

Mereka benar-benar iri tanpa tahu bagaimana rasanya berada diantara kedua orang yang sama sama tidak bisa kupilih. Saat aku ingin sekali bertanya kepada hatiku, siapa sebenarnya yang lebih aku cintai? Tapi hatiku terlalu sakit untuk meninggalkan salah satunya. Jika diizinkan, aku mau keduanya. Meski mustahil dilakukan tapi memang serumit itu.

Perusahaan tempat aku bekerja adalah sebuah stasiun televisi milik ayah Seunghyun. Dan aku bekerja sebagai produser drama terbaru yang akan tampil untuk jam delapan sampai jam sembilan. Pekerjaannya tidak terlalu sulit jika kita mempunyai bawahan, tugasku hanya memeriksa hasil dari pemikiran bawahanku dan menyetujuinya ya atau tidak.

Sebenarnya bukan itu yang dikerjakan seorang produser. Tapi karena mereka tahu aku dekat dengan Seunghyun sehingga tidak memberi aku pekerjaan berat dan hanya mempertimbangkan sebuah drama itu layak ditayangkan atau tidak.

Jam sudah menunjukan pukul tiga sore saat aku keluar untuk membeli beberapa camilan. Ponselku bordering.. itu telfon dari Seungri, dia pasti tahu kalau Seunghyun berangkat ke New York tanpa aku.

“Halo?”

‘Jam berapa kau pulang kerja? Aku akan menjemputmu.’ Sudah kuduga. Lee Seungri, kau memang benar-benar sangat sigap.

“Sekitar jam 7? Aku tidak tahu, aku akan menghubungimu jika sudah pulang.”

‘Baiklah. Aku mencintaimu.’ Piip—telefon diputus. Belum sempat aku membalas ucapannya. Perjalanan dari Seoul ke New York pasti memakan waktu empat belas jam. Dia lepas landas jam delapan pagi dan tiba disana sekitar pukul sepuluh malam nanti? Aah—aku sangat merindukannya. Biasanya jika dia pergi untuk membeli beberapa lukisan pasti aku akan ikut. Hanya kali ini aku tidak ikut.

Dia sedang berada di pesawat jadi tidak mungkin menelfon.

***

Jam sebelas malam. Masih tidak ada pesan dari Seunghyun. Biasanya dia akan menghubungiku setibanya di New York. Mungkin dia kelelahan? Aah—aku benar-benar merindukannya. Hari ini Seungri dan kedua orang tuanya menginap dirumahku. Jadi aku dan Seungri tidur diruang tamu, aku disofa dan dia tidur dilantai sambil menonton televisi.

“Seunghyun belum menghubungimu?”Seungri bertanya saat aku kembali mengecek ponsel. Ups, aku lupa ada pria ini disampingku.

“Ya begitulah.”jawabku sambil menyimpan ponsel dibawah sofa. Ini adalah tanda bahwa dia terganggu melihatku terus menerus mengecek ponsel. Seungri meraih tanganku dan kedua matanya terpejam. Sangat tampan. Apa dalam hal seperti ini bisa dikatakan bahwa kami tidur bersama? Ah itu tidak mungkin. Dia dibawah dan aku diatas sofa. Ini lebih tepatnya kekurangan kamar daripada tidur bersama.

“Aku tidak tahu bagaimana nanti apakah kau akan memilih Seunghyun atau memilihku.” Seungri membuka kedua matanya dan menatapku. “Yang jelas saat ini aku akan berusaha membuatmu untuk memilihku.” Lagi, suara lembut itu benar-benar membuatku menggila. Jantungku berdebar keras saat ini. Aku ingin sekali segera memilih diantara kedua pria itu siapa yang akan lebih aku cintai. Aku ingin hal itu terjadi secepatnya agar tidak ada lagi yang harus aku risaukan.

“Seungri—ya..”

Pria itu tersenyum sambil meremas tanganku. “Ini pasti sangat berat untukmu. Maafkan aku.” Dia mengecup punggung tanganku lalu meletakannya didadanya. Jantungnya juga berdebar sangat keras. Perlahan aku bisa tidur dengan tenang saat tangan kami saling terpaut. Dia menenangkan aku. Lee Seungri.

***

Aku terbangun saat mencium aroma pancake dari arah dapur. Siapa yang memasak dipagi buta begini? Lee Seungri? Apa eomma Seungri? Aku bangun dari sofa dan melihat punggung lebar itu. Ya. Itu pasti Lee Seungri. Perlahan aku melangkah kearahnya dan memeluknya dari belakang. Dia bahkan sudah mandi.

“Kau sudah bangun?”tanya Seungri sambil mematikan kompor gas dan berbalik menghadapku. Aku mengangguk dan menenggelamkan wajahku didadanya yang hangat. Tangannya membelai rambutku perlahan dan mengecup puncak kepalaku.

“Aahh—aku benar-benar ingin hidup seperti ini.”ujarnya sambil membalas pelukanku dan mengeratkannya. “Aku akan membangunkan eomma dan appa. Kau bisa membantuku menyiapkan meja makan?”sekali lagi aku mengangguk dan Seungri pun tersenyum seraya melepaskan pelukannya ditubuhku. Aku segera menyiapkan pancake yang baru saja dimasak Seungri dan menyimpannya dimeja makan. Menyiapkan piring,pisau dan garpu. Ah ya, susu juga.

Drrt..drrt.. ponsel miliku. Ah dibawah sofa. Saat aku mengambil ponsel terlihat dilayar ‘Choi Seunghyun memanggil..’ dia sudah menghubungiku sepuluh kali. Aish, semalam aku ketiduran. Segera aku mengangkat telfon darinya.

“Hal—”

‘Sudah kuduga akan jadi seperti ini. Kau bersama Seungri semalaman?’dia langsung mencecarku. Aduh pagi-pagi begini aku harus menjelaskan padanya apa yang terjadi. Seperti punya suami dua saja.

“Orang tuanya berkunjung kemarin dan karena Appa Seungri masih sakit jadi menginap dulu disini sebelum pergi ke Daegu.”jelasku dan melihat Seungri baru keluar dari kamar Eomma dan Appa nya. Ia menatapku dan sadar bahwa aku sedang menelfon Seunghyun.

‘Lalu kau tidur?’

“Disofa..”

“Seungri?”

“Dilantai.”

“Kau tidak tidur dengannya kan?”

“Aish kau ini bodoh sekali, aku tidak mungkin melakukannya.”

“Augh—aku jadi tidak tenang. Secepatnya aku akan pulang! Aku tutup!”Piip—telfon diputus sepihak. Dia benar-benar sangat kekanakan sekali.

“Seunghyun?”tebak Seungri sambil menuangkan segelas susu. Dengan ragu aku mengangguk. Raut wajahnya berubah menjadi kesal saat ini. Benar-benar membuatku tidak enak hati.

“Maaf..”

“Ayo kita sarapan. Eomma dan Appa masih lelah jadi aku akan menghangatkan ini untuknya nanti.” Seungri berbicara tanpa menatapku. Ya. Dia marah. Hal ini memang sudah biasa tapi entah menagapa sekarang berbeda. Seungri, apa ini artinya aku jadi lebih mencintaimu?

***

Seunghyun lebih sering menghubungiku. Dia bahkan menggunakan videocall saat aku berada dikantor. Sifat kekanakannya benar-benar membuatku kesal sekaligus gemas. Aigoo, apa kau sangat takut kehilanganku sampai bersikap seperti itu.

Kembali lagi aku teringat ucapan Seungri semalam. Hal seperti ini sudah berjalan selama satu tahun tapi aku belum memutuskan apa-apa. Aku fikir mereka selalu seimbang dalam segala hal dan itu tidak bisa aku putuskan dengan cepat. Tapi kali ini, hanya kali ini aku merasa Seungri lebih unggul dari Seunghyun.

“Hari ini akan turun hujan lebat, kau tidak lupa bawa payung kan?”tanya Eun Bi yang tentu saja aku sangat lupa dengan hal itu. Payung. Kenapa aku melupakannya? “Seunghyun kan tidak ada jadi dia tidak akan menjemputmu. Ah ya, Seungri juga meninggalkan pesan dia tidak bisa menjemputmu hari ini.”

Aku mengernyit. Seungri meninggalkan pesan? Pada Eun Bi? Kenapa dia tidak langsung memberitahu padaku? Apa ini masalah tentang pagi tadi? Tapi biasanya dia tidak pernah marah seperti ini hanya karena telfon dari Seunghyun. Ada apa sebenarnya?

Segera aku meraih ponsel diatas meja dan menghubungi Seunghyun. Dua kali..tiga kali… dia tidak mengangkatnya. Ada apa ini? Ada apa Lee Seungri? Kenapa kau seperti ini?

Lagi. Aku menelfon Seungri. Kali ini ia mematikan ponselnya. Hatiku perih saat mengetahui dia mematikan ponselnya hanya karena aku berusaha menghubungi dirinya.

Tiba-tiba ponselku bordering.

“Halo? Seungri—kenapa kau seperti ini?”

‘Seungri? Ini aku. Kau.. kenapa kau menangis?’ aku kembali menatap layar ponsel. Itu ternyata telfon dari Seunghyun. Aku menyeka air mata yang entah sejak kapan mengalir begitu saja melewati kedua pipiku.

“Ah tidak, nanti akan kuhubungi lagi.” Aku menutup telfon Seunghyun dan segera mengenakan jaket miliku. Aku harus bertemu dengan Seungri. Ya. Aku harus melakukannya sekarang.

“Hei, hujan sedang besar-besarnya. Ambil payung sebelum pergi!”teriakan Eun Bi tidak aku hiraukan. Lee Seungri, apa kau terluka selama ini setiap aku pergi dengan Seunghyun.. kenapa aku begitu bodoh membiarkan kalian berdua bertarung hanya untuk mendapatkanku yang sangat jahat ini? Kenapa kalian berdua tidak mencari wanita lain dan dengan ide gila malah mengejarku.

Hujan deras mengguyur kota Seoul sore itu. Aku menghentikan taksi dan segera masuk. Ya. Aku akan menjelaskan semuanya hari ini. Aku tidak bisa terus menerus melakukan hal kejam seperti ini. Seharunya aku melakukan ini sejak dulu.

“Agashi, apa anda kurang sehat?”Sopir taksi itu bertanya padaku dengan cemas. Aku melihat sebentar kearah spion penumpang. Memang tampak lebih pucat ditambah kedua mataku memerah karena menangis.

“Tidak apa-apa, tolong antarkan saya saja.”

“Ah—y—ye.”

Kembali aku menelfon Seungri. Dia masih mematikan ponselnya. Lee Seungri, bagaimana bisa kau berbuat seperti ini padaku?

Dalam waktu lima belas menit aku sudah tiba di depan hotel tempat kerjanya. Seungri. Sedang apa dia disana? Pria itu duduk dikusi yang berada di hall sambil melirik jam miliknya. Kau sedang menunggu apa, Lee Seungri?

Hujan mengguyur tubuhku begitu saja dan aku masih terpaku memperhatikan dirinya. Tiba-tiba dia beranjak dan melangkah keluar hotel. Mata kami pun bertemu. Bedanya, dia sedikit kaget degan kehadiranku dan segera berlari sambil membuka jaket miliknya.

“Apa kau bodoh?! Kenapa kau diam ditengah hujan begini?!”ini kali pertama Seungri membentaku. Seungri melilitkan jaketnya ditubuhku lalu menyeretku ke lobby hotel. Matanya membelalak seakan dia sangat marah padaku. “Aku berencana mengakhiri semua ini, tapi aku tidak bisa jika kau terus menerus membuatku khawatir!”kali ini sentakannya tidak setinggi pertama. Aku mencintaimu, Lee Seungri. Aku mencintaimu.

Tanganku menariknya sehingga bibirku bisa bertemu dengan bibir miliknya. Aku mengecupnya meski aku tahu dia pasti sangat terkejut dengan tindakanku. Seharusnya aku sadar bahwa aku lebih mencintaimu. Tapi karena tidak enak dengan Seunghyun aku tidak bisa mengatakannya padamu. Maafkan aku, Lee Seungri.

Aku membuka kedua mataku, Seungri masih menatapku terkejut tapi ia membalas kecupanku di menit berikutnya lalu memeluku erat. Kali ini, untuk pertama kalinya aku hanya memikirkan tentang kami berdua, tanpa Seunghyun.

Jika bukan karena aku ingin bersin, kami pasti berciuman hampir lima belas menit. Seungri tertawa pelan lalu kemudian memeluku. “Ini yang aku tunggu.”ujarnya sambil membenamkan wajahnya dileherku yang basah karena hujan. “Kita akan menikah,kita akan menikah..”gumamnya masih dalam posisi memeluku. Aku mengangguk dalam hati. Entah untuk apa aku menangis dalam keadaan bahagia seperti ini.

Seungri melepaskan pelukannya perlahan, ia menatapku cukup lama. Dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan rona bahagia dari wajahnya. Apa kau tidak lelah menungguku cukup lama, Lee Seungri?

“Kita pulang, pakaianmu basah seperti ini. Kau bisa sakit saat hari pernikahan kita.”candanya sambil merangkul pundaku. Aku hanya tertawa pelan lalu memukul dadanya cukup keras.

“Tidak akan, aku terlalu bahagia untuk sakit.”ujarku sambil berjalan beriringan dengannya. Seungri mencubit hidungku dan dia pun melepaskan rangkulannya.

“Aku akan mengambil mobil dulu. Kau tunggu disini.”jelasnya sambil berjalan cepat kemudian berlari kearah basement sambil berteriak kegirangan. Aigoo, dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ponselku bordering. Itu telfon dari.. Choi Seunghyun. Bagaimana aku menjelaskan hal ini padanya?

“Seunghyun—ah..”

‘Kau dimana? Aku akan pulang ke Seoul hari ini. Ceritakan padaku kenapa kau menangis tadi, dan juga aku sudah membeli—’

“Aku memilih Seungri.”ujarku dengan seluruh keberanian yang aku miliki. Ya, kali ini aku harus berhenti menyakiti mereka berdua. Aku harus memilih.

Hening. Kembali aku melanjutkan perkataanku. “Kau pasti terkejut. Aku tidak tahu kenapa tapi aku sudah—”

‘Hentikan.’

“Seunghyun—ah..”

‘Aku tidak akan mendengar hal itu. Ah ya, aku sudah membeli patung liberty..’

“Choi Seunghyun..”

‘Hentikan!’ reflex aku menjauhkan ponselku saat sentakan itu terdengar. Meski samar, aku bisa mendengar isakan Seunghyun disebrang sana. Hatiku sakit mendengarnya, tapi aku tidak bisa terus menerus menggantung mereka berdua. Maafkan aku Choi Seunghyun.

‘Sudah kubilang hentikan kenapa kau masih terus membahasnya?!!’ dia tidak menurunkan nada sentakannya dan berhasil membuat air mataku mengalir detik itu juga. Kali ini juga pertama kali Seunghyun membentaku. ‘Apa yang kurang dariku sehingga kau memilihnya?!!’

“Ini hanya masalah perasaanku Choi Seunghyun..”

‘Itu pasti salah. Aku sudah menyiapkan semuanya untukmu, aku bahkan ingin menikahi seseorang karena itu dirimu. Tapi apa? Aku memilih Seungri? Kau fikir perasaanku selama ini hanya lelucon? Pria itu sudah pernah berkencan sebelumnya dan aku? Aku baru pertama kali menyukai seseorang dan itu kau. Kau fikir ini candaan?! Sadarlah! Fikirkan kembali sebelum kau mengatakan itu, aku tidak ingin mendengarnya!’ Piip—telefon diputus sepihak. Lututku lemas seketika. Dilain sisi aku bahagia namun aku tidak bisa sepenuhnya bahagia. Bagaimana dengan Seunghyun.. bagaimana dengan dia..

Hujan masih tetap deras, aku melihat sekeliling, tidak ada siapa-siapa. Mungkin karena hujan deras sehingga tidak ada yang keluar saat seperti ini. Kemudian sebuah audi berwarna putih terparkir tepat didepanku. Mobil Seungri. Ia turun dari mobil dan berlari kearahku yang terduduk dilantai lobby hotel.

“Apa yang terjadi?” Seungri dengan sigap mengangkatku menuju mobil dan segera melajukan mobilnya menembus hujan deras ini. Ah, kepalaku pusing. Dingin sekali hari ini. Rasanya aku seperti akan mati. “Kau sangat pucat, kita akan pergi ke rumah sakit.”jelasnya sambil sedikit menengok kearahku lalu kemudian kembali memfokuskan pandangannya kearah jalan.

Lee Seungri. Bantu aku. Bantu aku menjelaskan semua ini pada Seunghyun..

Mataku berat sekali. Ah, aku tidak sanggup lagi.

***

Kedua mataku mengerjap perlahan. Tepat disaat itu aku melihat ada Seunghyun. Dia disini? Eomma Seungri juga ada disini, lalu dimana Seungri?

“Kau sudah sadar.” Eomma Seungri mengusap rambutku pelan. Aku ingin sekali bertanya Seungri dimana tapi Seunghyun pasti tidak akan menyukai pertanyaan itu.

“Eommonim..”gumamku lalu menatap Seunghyun yang sedikit besarnya mencoba menyembunyikan kekesalannya padaku. “Seunghyun—ah..”

“K-kau tidak apa-apa?”dia bertanya tanpa menatapku. Ya, aku pantas menerimanya Choi Seunghyun. Kau pasti sangat membenciku saat ini. “Kau pingsan selama dua hari. Seungri tidur disana, dia sudah dua hari tidak tdur.”Seunghyun menunjuk seorang pria yang tidur disofa sambil melipat kedua tangannya didada. Syukurlah. Lee Seungri, kau ada disini. Kembali aku menatap Seunghyun yang berusaha keras mengalihkan pandangannya dariku.

“Eomma akan keluar sebentar, kalian bicaralah.”Eomma Seungri seakan paham suasana, beliau pun berjalan keluar dari ruanganku.

Saat pintu tertutup saat itu pula aku meraih telapak tangan Seunghyun. “Maafkan aku, Choi Seunghyun.”gumamku pelan. Seunghyun mengalihkan pandangannya, wajahnya memerah. Lalu tanpa disadari air mata mengalir dikedua pipinya.

Seunghyun, kau pasti sangat terluka olehku.

“Diam. Aku akan menanggungnya sendiri.”cercahnya sambil berusaha menahan air matanya mengalir lagi.

“Kau pasti akan mendapatkan yang lebih cantik dariku.”aku berusaha menghiburnya meskipun itu tidak berhasil. Seunghyun menoleh padaku. Tapi tidak mengucapkan apa-apa dan hanya menangis. Tangisannya mengeras saat aku berusaha memeluknya. Seunghyun memeluku dan terisak.

“Aku hanya ingin dirimu.”suara parau Seunghyun membuatku terluka. Tapi jika aku tidak melakukan ini, kalian berdua akan terus terluka karenaku.

“Maaf.. maafkan aku..”selain kalimat itu aku bingung harus mengatakan apa lagi. Aku hanya bisa meminta maaf meski ini sulit untuk Seunghyun.

Maafkan aku, Choi Seungyun.

***

Lima tahun kemudian…

“Aigoo, kau sedang mencuci lagi? Tanganmu sudah keriput karena terlalu lama menyentuh air.”Seunghyun mengejeku sebisanya, aku hanya bisa mendecak kesal sambil terus memasukan beberapa pakaian kedalam mesin cuci. Dia malah asyik menonton tv dengan Mansae, anak pertamaku yang masih berusia tiga tahun.

Sudah lima tahun aku menikah dengan Seungri dan juga melahirkan anak yang anehnya mirip sekali dengan Seunghyun. Seunghyun bahkan mengajukan tes DNA dan tentu saja, Mansae bukan anaknya.

“Aku selalu menganggap dia adalah anaku. Kenapa hasil tesnya selalu mengatakan bahwa dia anak Seungri?” Seunghyun mengacak rambutnya kesal, aku hanya bisa terkekeh melihat sifat kekanakannya muncul lagi. “Kita pernah tidur bersama kan?”

“Yak! Bagaimana bisa kau menanyakan hal itu dihadapan anak berusia tiga tahun?!”umpatku kesal. “Aku tidak pernah tidur denganmu.”ujarku seraya memutar timer mesin cuci dan melanjutkan merapikan pakaian mansae.

“Eomma, apa aku boleh tidur bersama Appa Seunghyun?”Mansae bertanya dengan polosnya. Aigoo, beginilah jika berbicara dihadapan anak kecil. Pasti ditiru. Dan.. apa itu Appa Seunghyun?

“Mansae anaku, panggil Appa hanya pada Seungri Appa saja ya. Ini—aku menunjuk Seunghyun—adalah ahjussi, Seunghyun ahjussi.”

“Tapi ahjussi ingin aku memanggilnya Appa.”tepat dikata itu aku menatap tajam kearah Seunghyun yang pura-pura mengalihkan pandangannya  kearah jam dinding.

“Oh sudah jam tiga sore. Ayahmu pasti sedang dijalan.” Dia sangat ahli dalam hal pengalihan.

“Choi Seunghyun!”

“Appa pulang..”suara lembut itu membuat Mansae beranjak dari sofa dan segera berlari kearah pintu rumah sambil berteriak kegirangan.

“Appa!!Appa pulang!”

Senyum menghiasi wajah Seungri yang terlihat sangat letih hari ini. Aku masih merasa hal ini adalah sebuah mimpi, Seungri menjadi ayah dari anaku. Dia benar-benar bertanggung jawab penuh sebagai seorang kepala keluarga dan menyuruhku untuk berhenti bekerja untuk focus merawat pekerjaan rumah dan juga Mansae.

“Aigoo, anaku yang tampan. Appa membawa ayam dan cola untukmu.” Seungri memberikan sekotak penuh ayam goreng dan juga beberapa kaleng cola. Meskipun tidak bisa seharian bersama Mansae, tapi Mansae lebih dekat dengan Seungri daripada denganku. Sifatnya sama seperti Seungri, hanya wajahnya saja yang mirip dengan Seunghyun.

“Terimakasih banyak Appa.”Mansae membungkuk hormat, Seungri yang mengajarkan itu. Mansae hanya menurut pada Seungri.

Aku dan Seunghyun saling berpandangan. “Yahh—aku benar-benar iri.”candanya sambil merapikan jas miliknya yang sedikit kusut karena bermain dengan Mansae.

“Kau harus segera menikah. Usiamu sudah tiga puluh tiga.”ujarku menoleh kearah Seunghyun seraya membuka dasi Seungri, dia mencium keningku cukup lama. “Apa ada masalah di hotel?”tanyaku yang dijawab helaan nafas berat darinya.

“Hari ini banyak sekali kesalahan yang dilakukan karyawan baru.”keluh Seungri kemudian ber high-five dengan Seunghyun.

“Hal seperti itu selalu ada di pekerjaan.”hibur Seunghyun sambil menepuk pundak Seungri untuk sekedar menyemangati pria itu. Seungri benar-benar terlihat sangat lelah.

Mansae yang sepertinya paham situasi segera mendekati Seungri lalu memijiti pundak bidang miliknya yang terlihat kaku. “Appa, aku akan memijiti bahumu sampai aku lelah.”ujar Mansae dengan wajah polosnya. Satu-satunya hal yang bisa menghibur Seungri saat ini adalah Mansae.

Aku menatap Seunghyun yang lagi-lagi iri melihat situasi dihadapannya itu. “Dia mendapatkanmu, dia mendapatkan anak darimu, benar-benar bajingan beruntung.”gumamnya sambil mengalihkan pandangannya kepadaku. “Aku akan pulang dan juga sepertinya aku harus segera menikah.”ucapannya sedikit membuatku kaget.

“Aku fikir kau hanya mau berkencan.”ujarku mengekorinya yang berjalan kearah pintu utama untuk memakai sepatu berwarna coklat terang. Style nya tidak pernah berubah.

“Seharusnya begitu.”Seunghyun berdiri untuk kembali menatap Mansae yang memijiti bahu Seungri. “Tapi aku juga ingin ada yang memijiti bahuku.”lanjutnya lalu kini menatapku. “Aku senang kau memilih Seungri, dia berusaha keras disbanding pengangguran sepertiku.” Seunghyun menepuk pundaku pelan. “Aku mungkin tidak akan mendapatkan wanita sepertimu, tapi setidaknya aku akan mendapatkan wanita untuk diajak hidup bahagia sepertimu.”

Aku memeluknya erat. Menepuk bahunya yang besar. “Kau pasti akan mendapatkannya.”ujarku sambil melepaskan pelukan dari tubuhnya perlahan.

“Tentu saja. Aku pergi! Mansae, Seungri, aku pergi!”

“Ya!”

“Ya ahjussi.”

*END*

Akhirnya selesai juga FF gaje author, mohon maaf kalo Endingnya gaje banget karena jujur admin juga bingung bagaimana baiknya akhir cerita itu~ dan kalo banyak peminat admin akan kasih sequelnyaa:D hahaha, kamsahamnida untuk para readers dan juga admin disini~ *bow*

One thought on “[Oneshot] Both of You”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s