[Vignette] Hidden Truth

Hidden Truth

Storyline by KIMNAMIE

Title Hidden Truth | Cast Xi Luhan and Oh Sehun | Genre(s) Brothership, Friendship, AU, Violence, Sad End | Rating T (Because there is murder and violence scene^^. So, this not fine to children, right?) | Duration Vignette |

Poster by HanHyema Design Poster (Thanks ^^)

.

.

.

Setelah ini, semuanya akan berakhir. Tentang pembunuhan, pembelaan, tuduhan, kebencian, dan kesalah pahaman ini, semuanya akan berakhir. Tentang dia… yang di benci adiknya. Semuanya akan berakhir…

.

.

.

This is my storyline. This plot fiction is mine, mine, and mine. So, don’t plagiat ok? ^^

.

.

And Happy Reading ^^

.

.

Suara tuts piano yang membentur jari-jari panjang itu, tampak mengalun indah di pendengaran. Gerakan tangannya lihai, antara menekan tuts piano berwarna putih, dan tuts piano berwarna hitam. Luar biasa, karena dia melakukannya dengan mata tertutup.

Di ruangan musik yang sedikit gelap itu, nada-nada lembut dan sedih tercipta dari lagu yang dimainkan Luhan -pemuda yang bermain piano-. Di balik matanya yang terpejam, saat ini dia tengah menahan sesuatu yang memaksa keluar. Menarik nafas panjang, Luhan lakukan untuk menenangkan detak jantungnya yang bertalu-talu.

Kilas balik dari hidupnya selama ini, terputar secara otomatis diingatan, seolah sudah terprogram. Beberapa lagu bernada lembut dan menenangkan, menemani Luhan yang mengenang masa-masa hidupnya.

Prok! Prok! Prok!

Suara tepukan tangan, terdengar menggema di ruangan musik setelah Luhan menyelesaikan permainnanya.

“Luhan hyung! Daebakk!” Seruan itu membuat Luhan menoleh. Dan dia menemukan siluet seseorang berpostur tinggi. Adiknya.

“Sehun? Kapan kau berada di ruangan ini?” Luhan bertanya dengan kening berkerut.

“Sejak kakakku mulai bermain piano, tentu saja,” jawabnya. Pemuda berambut pirang dengan pemampilan yang terlampau rapi itu berjalan mendekati kakaknya yang masih duduk di kursi depan piano.

“Dasar penguntit!” maki Luhan bermaksud bergurau.

“Hey! Persetan dengan penguntit, hyung! Permainan pianomu sungguh menakjubkan!” kata Sehun dengan lengan yang merangkul bahu Luhan.

Luhan menatap adiknya, tampak penasaran. “Memangnya kau tahu? Apakah kau seorang seniman?” tanyannya, -lagi-lagi- bermaksud bergurau.

“Astaga! Kupikir kau bisa menjadi pianis terkenal, hyung!” Sehun berucap dengan nada berlebihan. Luhan terkekeh -sedih- karena keantusisan adik semata wayangnya.

Tapi mungkin… semuanya akan berbeda…

.

.

.

Mereka berakhir dengan Luhan yang berjalan pulang, dan Sehun yang masih berada di sekolah. Ada tambahan jam pelajaran, kata Sehun di ruangan musik tadi. Sehun adalah tipe murid teladan, wajar saja jika dia selalu mengikuti kelas tambahan. Luhan sendiri, tidak terlalu perduli dengan pendidikan, karena ilmu yang dia dapatkan selama ini, toh semuanya akan sia-sia. Jadi dia tidak ingin membuang-buang waktu hanya untuk hal tidak berguna.

Sama seperti Sehun, Luhan sebenarnya adalah anak yang pintar. Terlampau pintar, sesungguhnya. Tapi kata pintar itu tidak lagi berguna setelah lima bulan yang lalu. Semua jalan hidupnya yang dia pikir indah, berubah setelah lima bulan yang lalu.

Waktu itu, Luhan tengah mengerjakan tugas dengan Kris –salah satu temannya-, di perpustakaan. Dia dan Kris mengerjakan tugas dengan gurauan yang terkadang menjadi selingan. Luhan merasa aneh, ketika merasakan hidungnya basah, sedangkan dia tidak sedang flu. Dan bertambah merasa janggal, saat Kris yang duduk di depannya bilang, bahwa darah mengalir dari lubang hidungnya.

Spekulasi Luhan kala itu, ‘Apakah aku terlalu kelelahan, hingga hidungku mengeluarkan darah?’

Namun kemudian, itu terus berlanjut hingga seminggu lebih. Luhan kadang-kadang, juga merasakan pening di kepala yang menyerang dengan tiba-tiba. Kris mengusulkan, jika dia harus memeriksakan riwayat kesehatannya di rumah sakit. Dia masih mengira jika itu hanyalah kelelalan biasa. Jadi dia pergi ke rumah sakit, ditemani oleh Kris.

Luhan dan Kris menunggu hasil check-up hampir satu setengah jam. Itu membuat Luhan sedikit takut dengan hasilnya, kerena jika hanya kelelahan saja mungkin tidak akan selama itu. Luhan menunggu dengan gelisah hasil check-up-nya, dengan Kris yang terus menenangkan Luhan.

“Tuan Luhan, maafkan kami. Tapi anda mingidap Leukimia stadium akhir.” Itu perkataan dokter yang memeriksa setelah hasil check-up keluar, yang membuat Luhan terkejut. Kris yang berada di sana, juga tampak terperangah.

“Dok, anda tidak salah memeriksa teman saya, bukan?” tanya Kris. Memastikan.

Dokter itu menggeleng.

Luhan hanya tersenyum sakit menanggapi gelengan si dokter. “Dok, tolong jelaskan padaku dengan detail apa itu Leukimia. Dan bagaimana cara untuk mengobatinya?”

Dokter itu benar-benar menjelaskan dengan detail arti dari penyakit Leukimia. Penyebab seseorang mengidap Leukimia, jenis-jenis Leukimia, hingga berbagai cara pengobatannya. Dan Leukimia stadium akhir adalah yang paling sulit disembuhkan. Sebenarnya ada cara untuk menyembuhkan. Tapi terlalu menyakitkan, jika seseorang yang mengidap itu tidak mempunyai imun tubuh yang kuat. Dan Luhan menjadi salah satunya.

Setelah itu, Luhan merasa bahwa hidupnya hancur. Tubuhnya semakin lemah, dari hari-ke-hari.

Kris, satu-satunya orang yang mengetahui keadaannya terus memaksa Luhan agar mau dirawat di rumah sakit. Tapi siapa yang peduli? Orang tuanya bahkan tidak sekalipun menganggapnya ada. Jika Luhan memeberitahukan ini pada Sehun, dia tidak mau membuat adiknya itu sedih. Jadi dia hanya terus diam, menyuruh Kris merahasiakan semua ini, menutup mulut.

Terlalu lama berjalan dengan pikiran yang berputar ke masa lalu, membuat Luhan tidak sadar jika dia sudah sepenuhnya sampai di depan pintu utama rumahnya. Tidak menunggu lebih lama lagi, Luhan mendorong pintu bercatkan warna coklat terang itu dengan gerakan pelan tapi cepat.

Kamarnya terletak di lantai dua. Otomatis membuat Luhan harus melewati tangga yang melingakar di rumah megahnya untuk sampai di lantai atas. Di tangga teratas, Luhan menemukan dua pintu dengan warna cat coklat dan putih. Dia lebih memilih memasuki pintu warna putih. Itu kamarnya.

Cklek!

Ketika pintu kamar terbuka, reflek mata Luhan langsung tertuju pada jam dinding yang tertempel di atas ranjangnya. Jam tiga sore. Waktu seperti berlalu dengan sangat cepat, tanpa disadarinya.

Setengah jam, Luhan gunakan untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karena keringat. Tidak ada yang dia kerjakan setelah ini, Luhan memutuskan untuk membaringakan tubuhnya di ranjang. Itu hanya berlangsung lima belas menit saat Luhan merasakan hidungnya basah.

Lagi…

Dia mendesah dalam hati. Tampak lelah dengan kondisi yang terus menghampiri.

Luhan menyambar tisseu yang terletak di nakas dengan cepat. Menarik lembaran tisseu itu keluar dari tempatnya, dan menggunakannya untuk menyumpal hidung yang terus mengeluarkan darah. Tidak terhitung sudah berapa lembar dia menarik lembaran tisseu, darah yang keluar tidak kunjung berhenti. Jadi Luhan mengambil salah satu obat –dari sekian banyak obatnya-, sekedar untuk menghentikan perdarahan itu.

Lima menit berlalu, dan perdarahan itu baru terhenti. Luhan menatap miris tumpukan lembar tisseu yang sudah berubah warna menjadi merah darah. Mengambil salah satu obat lagi, karena kepalanya tiba-tiba pening. Dia kembali berbaring untuk mengurangi rasa pening itu.

Entah terlalu sakit atau apapun, satu tetes cairan bening mengalir dari masing-masing sudut matanya yang tertutup. Seminggu yang lalu, dia kembali melakukan check-up. Dokter bilang, umurnya tidak akan bertahan lama karena penyakit ini terus menggerogoti imunitas tubuhnya. Dia semakin lemah, dari detik ke menit, menit ke jam, dan jam ke hari.

Mungkin, yang kalian lihat adalah seorang Luhan yang biasa-biasa saja, tanpa sebuah penyakit yang bersarang ditubuhnya. Semua itu, hanyalah sebuah topeng palsu, untuk menutupi kenyataan.

Pertengkaran dari lantai bawah, terdengar di indra pendengaran Luhan yang sudah terlalu hafal dengan suara-suara itu. Makanannya setiap hari, memang hanya pertengkaran, pertengkaran, dan pertengkaran. Entah apa yang sedang dipermasalahkan oleh orang tuanya, Luhan tidak tahu. Tapi yang jelas, Luhan pernah mendengar ibunya berteriak tentang hak waris. Harta? Mungkin, iya.

Tidak tahan dengan segala teriakan itu, Luhan turun dari ranjang untuk sekedar melihat apa yang terjadi. Keheningan menyapa dengan tiba-tiba, setelahnya. Tidak lagi terdengar teriakan, ataupun jeritan. Luhan semakin penasaran dengan apa yang terjadi.

Merasa bahwa tiba-tiba hatinya merasa takut, Luhan mulai berlari untuk mempercepat langkahnya. Menuruni tangga demi anak tangga dengan tergesa, dan menemukan pemandangan mengerikan yang membuat nafasnya terhenti selama beberapa detik.

Pemandangan yang tersaji adalah, ibunya yang memegang pisau di ‘genggaman tangan kiri’, cairan berwarna merah pekat berbau anyir yang menggenang di lantai, dan ayahnya yang tergeletak tak berdaya dengan luka tusukan di dada dan perut. Luhan melihat ayahnya tidak bernafas. Dia sadar dirinya mulai panik.

Mom!” jerit Luhan histeris. Luhan melihat ibunya menyeringai. Mengerikan.

“Apa yang mommy lakukan pada daddy?!” teriak Luhan. Dia berjongkok di samping tubuh ayahnya.

Tidak menjawab, Nyonya Oh justru ikut berjongkok dan menyerahkan pisau yang berada di genggaman tangan kirinya dengan paksa kepada Luhan. Seringainnya semakin lebar.

Luhan yang tidak mengerti apapun, terdiam membeku dengan tangannya yang sekarang menggengam pisau. Dia masih terlalu terkejut. Otaknya tidak bisa mencerna dengan baik apa yang dilakukan oleh ibunya.

Cklek!

“Aku pulang!” Seruan keras itu membuat Luhan tersadar. Dia menoleh untuk melihat adiknya yang baru saja membuka pintu utama. Nafasnya terhenti, lagi.

Nyonya Oh melempar seringaian pada Luhan. Detik berikutnya, dia mulai memasang wajah ketakutan. Berakting.

“Luhan! Apa yang kau lakukan pada ayahmu?!” jerit Nyonya Oh sambil beringsut mundur. Seolah menunjukan bahwa dia ketakutan.

Di tempatnya, Sehun yang melihat Luhan yang memegang pisau, ibunya yang ketakutan, dan ayahnya yang tergeletak dengan darah yang menggenang, termangu untuk mencerna kejadian yang dilihatnya. Dia menatap Luhan tidak percaya.

Hyung! Apa yang kau lakukan dengan pisau itu?!” teriak Sehun. Dirinya berlari untuk mendekati ayahnya, ibunya, dan Luhan.

Luhan menatap ibunya, dengan ekspresi bingung dan meminta penjelasan. Secara tidak langsung, ibunya menuduhnya sebagai pembunuh. “Sehun… aku… aku…” Luhan tidak bisa berkata-kata. Dia terlalu takut.

“Luhan! Kau?!” Nyonya Oh kembali menjerit. Menunjukan bakat aktingnya.

Hyung! Apa maksudnya dengan pisau itu?! Jelaskan padaku!” Teriakan Sehun kembali terdengar.

Luhan menggelang-gelengkan kepalanya, “Tidak… aku tidak…” racaunya ketakutan. Matanya memerah, menahan tangis.

“LUHAN! APA YANG KAU LAKUKAN?! JELASKAN PADAKU!” Sehun meradang. Dia berteriak sambil mengguncang bahu Luhan kasar.

“Sehun! Aku tidak melakukan apapun!” jerit Luhan frustasi. Di pipinya mengalir aliran sungai kecil.

“Sehun! Luhan berbohong! Dia berbohong!” Nyonya Oh menjerit nyaring. Menutupi sebuah kebenaran.

Luhan hanya menatap ibunya tidak percaya. Dia tampak sangat kecewa pada ibunya. Setega itukah ibunya menuduhnya sebagai pembunuh? Dihadapan adiknya?

“APA MAKSUDMU MELAKUKAN SEMUA INI?!” teriak Sehun lagi.

Luhan menangis, mengelak semua gagasan Sehun tentang dirinya yang membunuh ayah.

“TIDAK! AKU TIDAK MELAKUKAN APAPUN PADA DADDY! BUKAN AKU, SEHUN!” teriak Luhan sambil terisak. Dia menjambaki rambut cokelatnya, frustasi.

“LALU SIAPA?! KAU YANG MEMEGANG PISAUNYA!” balas Sehun.

Luhan bungkam setelah itu. Dan ingin mengelak bahwa  bukan dia yang melakukan pemubunuhan ini. Tapi dia juga tidak mungkin menyalahkan ibunya sendiri, meskipun itu memang kenyataan.

Sehun mengerang marah. Dia menyambar ponsel, tampak mengotak-atiknya, dan menempelkan benda datar itu ke telinga. Bunyi nada sambungan telepon terdengar, lima detik kemudian.

“Tolong kirimkan ambulance di alamat yang saya kirim. Cepat!”

Sehun terlihat mengotak-atiknya ponselnya, lagi.

“Pak, tolong ke alamat yang saya kirimkan. Ada pembunuhan di sini,” ucap Sehun dingin pada seseorang yang dia telepon.

Manik Luhan menatap mata Sehun nanar. Luhan tidak mungkin salah mendengar, jika Sehun baru saja menelepon polisi.

“Kau  harus bertanggung jawab, hyung. Polisi akan datang setengah jam lagi, dan jangan mencoba untuk kabur. Aku membencimu,” desis Sehun dingin. Lelaki berambut pirang itu berlalu, dengan kedua tangan yang mengepal di samping tubuh. Isakan pilu yang keluar dari bibir Luhan, membuat Sehun merasa sedikit bingung. Akting, pikirannya mengatakan itu.

“Nikmatilah…” ucap Nyonya Oh dengan nada berbisik, tepat di samping telinga Luhan. Nyonya Oh menunjukan seringaian iblisnya.

Luhan menjatuhkan pisau tajam itu ke lantai. Isakannya terdengar, pilu dan kecewa.

Dia dituduh… membunuh ayahnya… oleh ibunya sendiri…

Miris.

Sebuah benda kecil, merekam semuanya…

.

.

.

“Luhan, kau harus melakukan pembelaan. Kau tidak bersalah di sini!” decak Kris. Dia menatap Luhan yang tengah duduk dengan santai di sofa balkon, seolah tidak terjadi apapun.

Luhan tersenyum tipis, matanya memandang jalanan di bawah dengan pandangan menerawang. “Tidak ada pembelaan yang berarti, Kris. Pisau itu, sudah membuktikan semuanya. Sidik jari mommy, sudah terganti dengan sidik jariku karena aku adalah orang terakhir yang memegang pisau itu.”

Mungkin satu-satunya cara yang bisa dilakukan Luhan adalah, memasrahkan semua ini pada Tuhan. Dia memang lemah, Luhan mengakuinya. Tapi bahkan jika dia membela dirinya, apakah semuanya akan berarti? Hidupnya tidak akan lama lagi, dokter memvonisnya kemarin, lima hari setelah kejadian pembunuhan.

Benar, setelah ini dia akan masuk penjara, karena Sehun yang langsung melaporkan kejadian pembunuhan itu pada polisi. Luhan kecewa, pada dasarnya. Dia adalah saksi, tapi semuanya terbalik, hingga dia yang menjadi tersangka. Semuanya terasa jungkir balik bagi Luhan.

“Lalu kau akan menyerah? Begitu, maksudmu?” tanya Kris lagi.

Luhan menoleh, menatap Kris yang terus bertanya, “Bisa dibilang begitu. Lagipula, tidak ada artinya lagi hidupku ini.”

“Luhan! Setidaknya kau harus melakukan pembelaan! Apa kau terima jika dituduh seperti ini?”

Luhan menghela nafas, lelah beradu argumen dengan Kris. “Sudahlah, Kris. Sebentar lagi persidangan akan dimulai. Lebih baik kau mengambilkanku tisseu,” ucap Luhan, melenceng dari topik.

Kris mengerang frustasi dengan kekeras kepalaan sahabatnya. Dia belum sadar jika Luhan meminta tisseu. Kris terus berpikir, bagaimana cara membebaskan Luhan dari tuduhan ini. Hingga matanya melebar, setelah beberapa sekon kemudian.

“Apa?! Kau mimisan?!” pekik Kris. Suaranya yang berat, tampak menakutkan ketika memekik seperti itu.

Memandang Kris dengan datar, Luhan berdecak. “Kris, ambilkan aku tisseu.”

“Oke! Tunggu sebentar!”

Dan hari itu, Luhan tidak bisa datang ke persidangan…

.

.

.

Sehun berdecak kesal sambil mengerling pada arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Dia berpikir, Luhan ingai kabur dari persidangan ini dan menjadi seorang pengecut. Tapi Sehun tidak sadar, perasaan gelisahnya lebih mendominasi.

Akhir-akhir ini, ibunya sering pulang malam, dengan seorang pria dewasa yang tidak Sehun kenal. Sehun pikir, ibunya terlalu frustasi karena ditinggal oleh ayahnya. Tapi nyatanya, ibunya seperti terlalu bahagia setelah ayahnya meninggalkan mereka.

Semua ini… teralu rumit bagi Sehun…

.

.

.

Lantai berdebu yang dingin itu, menjadi alas tubuh Luhan saat ini. Garis-garis panjang yang keras, menjadi pagar di ruangan yang berbentuk persegi. Sebuah gembok, menjadi pelindung garis-garis yang berjajar rapi itu, agar tidak ada seorangpun yang bisa membuka. Penjara.

Dia  sudah berada di penjara sekitar satu minggu, dengan Kris yang terus mengunjunginya setiap saat. Kris pernah memohon pada salah seorang polisi yang berjaga, agar Luhan dirawat di rumah sakit karena kondisi Luhan yang semakin parah. Dia bahkan terus mimisan setiap tiga jam. Tapi Luhan menolaknya.

Luhan pikir… dia hanya tinggal menunggu ajal menjemput…

Menyangkut dia yang di penjara karena adiknya, Sehun tidak pernah sekalipun mengunjunginya di kantor polisi. Luhan juga tidak mengharapkan kedatangan Sehun. Dia hanya berharap, Sehun bisa menemukan kebenaran dari kesalah pahaman ini. Kebenaran yang tersembunyi ini.

Ditengah kegelapan yang meneyelimuti ruangan mengerikan itu, hidung Luhan terus basah, karena darah yang terus mengucur dari sana. Tubuhnya tergeletak lemah di lantai. Matanya tertutup, dan nafasnya memberat.

Setelah ini, semuanya akan berakhir. Tentang pembunuhan, pembelaan, tuduhan, kebencian, dan kesalah pahaman ini, semuanya akan berakhir. Tentang dia… yang di benci adiknya. Semuanya akan berakhir…

.

.

.

Sehun tampak terkejut setelah melihat reakaman cctv di rumahnya. Pelayan di rumahnya bilang, jika tadi pagi Kris datang ke rumahnya entah untuk apa. Karena penasaran, dia pergi ke ruang cctv untuk membuktikan. Dan benar, Kris baru saja dari rumahnya.

Entah kenapa, Sehun tidak kunjung pergi dari ruangan itu. Dia justru melihat-lihat rekaman cctv –lain- yang dipasang di halaman depan, dan di dekat pintu utama rumahnya. Tapi Sehun tidak pernah tahu, jika di ruang tamu juga dipasang cctv.

Hingga dia melihat semuanya, dan dia sangat terkejut. Dia terkejut, sangat.

Luhan, tidak melakukan tuduhan itu. Tidak sama sekali. Sehun melihat dengan jelas bagaimana Luhan yang menjerit ketakutan saat melihat ibunya memegang pisau di tangan kiri. Saat Luhan yang berjongkok di dekat tubuh ayah mereka dan terus menatap ibunya yang menampakan seringaian. Saat diamana ibunya memberikan secara paksa pisau itu ke tangan Luhan. Sehun melihatnya.

“Oh, tidak… Luhan hyung… tidak melakukan itu semua…” ucapnya dengan pandangan mata yang kosong. Tubuhnya termundur kebelakang, dan menubruk tembok. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, mengelak kenyataan yang baru saja dia terima.

Dia sepenuhnya menyesal, karena saat itu dia langsung menuduh Luhan tanpa mencari penyebabnya. Setelah ini, dia harus mencabut tuntutan itu. Tidak, dia tidak akan membiarkan kakaknya menderita lebih lama lagi.

Dia menyesal…

…telah menunduh kakak kandungnya sendiri…

.

.

.

Ponsel yang berada di saku celana jeans Sehun bergetar, saat dia akan memasuki mobilnya yang sudah terparkir di halaman rumah. Dia akan menembus kesalahannya pada Luhan, sebentar lagi. Tapi Sehun harus sedikit menunda karena ada via telepon masuk.

Sehun mengernyit saat melihat nomor aparat hukum tercetak di layar ponselnya. Perasaannya tiba-tiba merasa takut.

Yeobeoseyo?”

Dengan Tuan Oh Sehun?” seseorang di seberang sana membalas.

Ye. Saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Sehun.

Tuan Sehun, apakah anda adik dari Oh Luhan?”

Nafas Sehun tercekat saat mendengar nama Luhan disebut.

Ye. Saya adiknya, pak. Ada apa dengan kakak saya?” Sehun mulai was-was.

Tuan Sehun, maafkan kami. Tapi hukuman atas nama Oh Luhan, telah kami cabut.

Sehun semakin tidak mengerti arah pembicaraan ini.

Mata Sehun bergerak gusar kesana-kemari. “Apa yang menyebabkannya, pak?”

Maaf, Oh Luhan meninggal di dalam tahanan. Dia meninggal karena penyakit, seorang dokter yang memeriksa yang mengatakannya. Sekali lagi, maafkan kami. Tapi seseorang yang mati tidak mungkin ditahan. Jadi tuntutan itu-

Sehun tidak lagi mendengar lanjutan kata-kata dari seseorang yang meneleponnya. Ponselnya jatuh tanpa bisa dicegah. Otaknya mendadak kosong.

Luhan pergi… meninggalkannya yang sama sekali belum meminta maaf…

Meninggalkan Sehun… yang menyesal…

Kejam.

.

.

.

Esoknya, Sehun berakhir di atap sekolah, sendirian. Angin lembut menerpa wajahnya yang tampak seperti mayat hidup. Kantung matanya sangat jelas di bawah kelopak mata yang bengkak. Ingatan tentang Luhan, memutar di sistem memorinya.

Bersama dengan desauan angian yang terus bertiup, Sehun kembali menangis menyesali semuanya. Luhan sudah pergi, tanpa membiarkannya meminta maaf. Ibunya juga pergi, dengan seorang pria yang tidak Sehun kenal dan dengan membawa seluruh kekayaan ayahnya. Di sini, Sehun hancur.

Isakan Sehun menguar di udara bebas. Dia berdiri, tepat di pagar pembatas. Menatap ke bawah sana, Sehun tidak merasakan takut sama sekali. Dia hidup dengan sangat menyedihkan. Sehun menyadarinya ketika Luhan mulai memasuki hari pertama dipenjara. Jadi intinya, Sehun bukan apa-apa tanpa kakaknya yang selalu menemani.

Tapi sekarang… kakaknya pergi karena kebodohannya sendiri…

Menyesal… tidak mengembalikan apapun…

Satu langkah lagi, semuanya akan berakhir. Dia akan menyusul Luhan. Dia ingin menemui kakaknya, dan meminta maaf.

Angin yang terus berhembus, seolah mendorong Sehun untuk melakukannya. Maka Sehun menutup mata, dengan kaki yang mulai melangkah. Detik berikutnya, tubuhnya terjun ke bawah.

Menembus angin… yang terasa menggeseknya…

.

.

.

.

.

Luhan hyung… tunggu aku…

.

.

.

-FIN-

9th August 2015

—–

Notes :

Ehem (lirik ff Hidden Truth)… bagaimana dengan oneshoot kali ini? ^^

Owh… maafkan Na Mie yang membuat Luhan menderita di oneshoot kali ini. Dan maafkan Na Mie karena membuat Sehun terlihat jahat di oneshoot ini… hehehe…

Dan, jangan benci kakakku (gandeng Sehun) karena dia sendiri sudah membuat Luhan menderita. Well, kedua kakakku tidak seperti itu kok #digampar_fans_HunHan. ^^

Well, ide dari oneshoot ini sudah tersusun rapi/?/ dari satu minggu yang lalu. Tapi karena Na Mie yang terlalu sibuk dengan tugas-tugas SMP (Na Mie baru masuk SMP, btw), jadinya baru bisa buat seminggu kemudian. Yeah, waktuku tidak seluang dengan waktu SD, tentu saja. Dan itu membuatku sedih… L

Okeh… ayo silahkan comment tentang ff ini… ^^

Aku tunggu semuanya… ^^

.

P.S : Maaf jika ada kesalahan tentang sistem hukum di ff ini. Duh… aku bukan polisi(?), jd nggak tahu dgn hukum-menghukum kayak gitu. Anggap aja gitu… ^^ *plakk

.

One thought on “[Vignette] Hidden Truth”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s