[Ficlet] My Reason

My Reason

Scriptwriter: NaA | Title: My Reason | Cast: Your Bias and You | Genre: Romance, fluff, | Duration: Ficlet | Rating: PG-16

MY REASON

“Apa yang membuatmu menyukaiku?”

Aku terdiam. Selagi otak mencoba merangkai berbagai semantik yang bertebaran dalam kepalaku, aku masih saja memandangnya. Sebuah pertanyaan, dan seharusnya aku bisa dengan mudah menjawabnya.

“Banyak alasan mengapa aku menyukaimu.”

“Sebesar itukah kau menyukaiku?”

Aku melemparkan sebuah senyuman, seolah membenarkan segalanya.  “Lebih dari yang kau tau.”

“Kau yakin?”

Memilih untuk menyesap teh lemonku selagi asam yang menyenangkan itu merambati tenggorokanku. Aku masih bergeming beberapa saat bersama butter cookiesku sementara ia kembali membuka suara. Suara favoriteku yang terdengar menyenangkan dibalik kata-katanya yang membuatku tersentak setelahnya. “Kau lebih menyukaiku atau lebih menyukai pria yang kini berdiri di belakangmu?”

Tak perlu dipertanyakan lagi; sebuah tangan besar hangat itu kepunyaan siapa. Dia; tangan itu milik lelakiku.

“Lagi-lagi kau ketauan berselingkuh.”

Aku hanya bisa terkekeh sembari memberikan gedikan dagu, memberikan isyarat padanya untuk duduk di sebelahku; bergabung bersama kami.

“Kau tidak merindukanku?”

“Konyol.. Bukankah semalaman suntuk kita telah bergelung dalam selimut yang sama.”

Tak ada sapaan lagi setelahnya. Pria yang duduk di sebelahku itu memilih bungkam selagi jelaga beningnya nanar menghadap ke depan.

“Aku benci kau menduakanku.”

“Ayolah… Kau tau aku..”

“Seharusnya jika ingin berselingkuh carilah pria yang lebih baik daripadaku.”

“Kau mengijinkannya?”

Pertanyaan retorisku sontak membuat fokusnya beralih memandangku. Eww, tatapan tajam menghunusnya membuatku sedikit bergidik ngeri.

“Maaf aku hanya bercanda.”

“Perasaanku bukan untuk dijadikan bahan candaan.”

Kali ini aku yang memilih bungkam. Respon seperti apa yang harus ku berikan aku tak tau. Hari ini dia begitu sensitif, padahal jarang sekali aku menemukan moodnya memburuk di pagi hari. Apa karena aku lupa memberikannya ciuman selamat pagi?

“Jujur hatiku perih saat mengetahui fakta kau menduakanku.”

Aku memutar bola mataku jengah. Kadar dramatisirnya sungguh sudah sangat berlebihan. Sebelum kalimat-kalimat konyolnya kembali mengudara aku mengecup bibirnya singkat. Sedikit memberikan pelukan pada tubuhnya yang masih terekspos jelas di mataku.

“Berikan aku pelukan sekali lagi.”

Oh benarkan? Lelakiku ini sungguh mebuatku pening. Beberapa saat yang lalu dia mendramatisir perasaannya, seolah aku mengkhianati cinta kami. Dan di detik selanjutnya dia bertingkah manja, menggosok-gosok lengannya yang tak terbalut selimut; memberikan kode kerlingan matanya yang menggoda selagi aku perlahan mendekat ke arahnya.

“Lihat. Dia hanya membuatmu kedinginan. Seharusnya kau tidak membiarkannya masuk sepagi ini.”

Lelakiku ini hobi sekali mengomel perihal kesehatan. Seolah aku adalah seorang balita yang sering tak mendengarkan nasehat dari ibunya.

Cinta pertamamu itu menyebalkan.”

“Dia datang membawa keberkahan dari Tuhan, Sayang.”

“Aku tau, tapi ia sering sekali membuatmu berpaling dariku. Dia..”

Hatchii.. kalimat panjangnya terasa berdengung dalam telingaku. Oh seharusnya aku mendengarkan lelakiku. Seharusnya aku tak membiarkannya memasuki rumah kami sepagi ini.

“Lihatlah, sekarang dia membuatmu flu.”

Hidungku terasa gatal hingga aku membiarkannya menuruni kasur kami dan mendekat ke arah jendela. Ada rasa tak rela pelukan hangat itu terlepas, dan rasa tak rela setelahnya saat aku dipaksa berpisah dari cinta pertamaku.

“Jika kau telah memiliki aku, kenapa kau masih menyukainya sih?”

Pegas di kasurku berderit saat tubuhnya kembali merangkak ke arahku. Aku tersenyum jahil, membiarkan bersin sesekali lolos dari katupan bibirku sebelum aku menyentuhkan bibir ini di pipinya.

“Karena setidaknya; aku memiliki alasan untuk mendapatkan kehangatan berlebih darimu.”

“Oh berhenti menggodaku, Sayang.”

“Kau bertanya, dan aku sudah memberikan jawabannya. Itu alasanku, dan apa kau masih mencemburui hujan, Sayang? Oh ayolah, aku tak menyukainya sebanyak aku menyukaimu.”

“Apa kata-kata yang baru saja keluar dari sini,” dia menyentuhkan bibirnya dengan bibirku sebelum kembali melanjutkan, “bisa ku percaya?”

“Kau boleh menelannya jika aku berbohong.”

“Dan apa aku tak boleh menelannya jika kau tak berbohong?”

Aku menggedikkan bahuku acuh. “Kau bisa melakukan apapun semaumu selagi aku….”

Tak perlu banyak kata-kata. Tak perlu banyak rayuan. Terlebih tak perlu ada perasaan yang benar-benar tersakiti dalam kisah kami; selagi bibir kami mencoba mencari celah kehangatan.

Ini bukan pertama kalinya lelakiku mencemburui cinta pertamaku. Jika kalian ingin tau: aku memang menyukai hujan, dan ia pun harus mengetahui kenyataan bahwa aku menyukainya lebih banyak daripada hujan.

Selagi pagi biasanya selalu membawa lelakiku sibuk dengan pekerjaannya, biarkanlah pagi ini bersama sang hujan yang membawa lelakiku ke pelukanku lebih lama. Mengisi celah dingin dari aroma hujan berbaur dengan setiap lenguhan kami.

Aku menyukai hujan. Tak perlu banyak kata untuk merangkai alasan. Karena setidaknya aku memiliki alasan untuk mendapatkan kehangatan berlebih darimu..

Ya,, hanya itu alasanku…

END

 

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s