[Oneshot] I Like You the Best

I Like You the Best

Songwriter peperomint

Artist Seventeen Wonwoo & OC | Featuring Twice Jeongyeon | Genre AU, Romance, School Life| Duration Oneshot | Rating PG-13

.

“Sifatmu yang bisa dibilang cuek dan aneh itu malah membuatku tertarik. Kau berbeda dari gadis lain yang langsung bersikap berlebihan ketika berinteraksi denganku. Aku suka padamu, Choi Minhee…” – Jeon Wonwoo

 

“Sunbaenim aku… Tidak suka padamu. Maafkan aku!” – Choi Minhee

.

.

Aku sibuk menggoreskan pensil di sketch book milikku. Dahiku berkerut dan kedua alisku seakan hampir menyatu karena aku terlalu serius menggambar. Sedikit lagi gambar ini akan selesai. Tinggal kurapikan sedikit lagi dan-

“Hai!”

Sret… Aku terbelalak mendapati gambar yang kukerjakan seharian kini tercoret. Akh, padahal tinggal sedikit lagi…

“Aish… Yoo Jeongyeon! Tidak bisakah kau tidak merusak gambarku sekali saja?!” bentakku.

Sialnya yang dibentak malah menyunggingkan senyum seakan-akan ia tidak berdosa. “Minhee, kau kan tinggal menghapusnya saja. Lagipula hanya coretan kecil.”

“Kau pikir dengan menghapus coretan ini, maka masalahnya akan selesai? Setelah coretannya dihapus, tentu aku harus menggambar bagian yang ikut terhapus juga. Belum lagi-“

“Hey, siapa yang kau gambar? Coba kulihat!” Jeongyeon berusaha meraih sketch bookku. Gawat! Jangan sampai dia melihat apa yang kugambar. Dengan kecepatan kilat aku menutupi gambarku dengan jas sekolah. “Ya! Aku kan mau lihat. Aku selalu suka dengan gambarmu…”

“Alasan. Kau pikir aku akan jatuh ke dalam perangkapmu, Jeongyeon,” cibirku.

“Woah… Selamat siang, ssaem!” jerit Jeongyeon sambil menundukkan tubuhnya. Aku menoleh hendak melihat siapa ‘ssaem’ yang dimaksud olehnya. Namun rupanya itu hanya akal-akalannya saja. Saat aku berpaling, Jeongyeon memanfaatkannya untuk mengambil sketch bookku dan segera berlari ke luar.

“Ya, Yoo Jeongyeon! Kembalikan!” Aku segera berlari menyusulnya.

Kami saling kejar di lapangan sekolah. Beberapa murid tampak menatap kami dengan aneh. Namun kuhiraukan karena ‘acuh’ adalah nama tengahku. Umm… Tidak juga, sih. Yah setidaknya teman-temanku memang menjulukiku sebagai ‘Nona Acuh’.

Jeongyeon semakin melambatkan larinya. Dengan sisa tenaga yang kumiliki, kupercepat lariku hingga aku tepat berada di belakangnya. Kuulurkan tangan kananku untuk menarik jas sekolahnya. Jeongyeon pun berhenti tiba-tiba dan hampir terjungkal.

“Sudahlah, aku menyerah,” ujarnya sambil menyerahkan sketch book itu kepadaku. “Lagipula aku sudah tahu kalau kau menggambar Jeon Wonwoo sunbaenim, kan?”

“Eh apa?! Tidak, untuk apa aku menggambar dia.”

Aku membalikan badan, hendak kembali ke kelas. Sayangnya, bahkan niatan kecil seperti itu pun tidak berjalan mulus. Aku menabrak seseorang hingga jatuh terduduk di lapangan. Saat aku mendongak untuk melihat wajahnya, sosok itu malah mengarahkan pandangannya ke arah sketch book milikku yang tergeletak di sampingku.

“Kau… Menggambarku?”

Astaga! Aku baru sadar siapa sosok di hadapanku ini. Ia adalah Jeon Wonwoo. “Ti-tidak, sunbaenim. Untuk apa aku menggambarmu? Aku ini bukan penggemarmu… Aku suka Seo Eunkwang!” seruku. Aish random sekali. Ada apa dengan otakku. Aku bisa mendengar Jeongyeon terkikik di belakangku.

Aku berdiri lalu menunduk dengan gerakan cepat. Setelah beberapa kali meminta maaf, aku segera melesat ke kelas. Aku kembali menghiraukan tatapan orang-orang di sekitarku dan berjalan secepat yang aku bisa.

“Jeongyeon… Ini semua karena kau!” seruku sesampainya di kelas. Jeongyeon yang membuntutiku hanya bisa melengos.

“Aku? Kenapa aku lagi?”

“Karena memang salahmu. Kalau kau tidak membawa kabur sketch bookku hingga ke lapangan, aku tidak akan repot-repot mengejarmu!”

“Itu semua kan karena kau juga. Siapa suruh membuatku penasaran?”

“Akh, persetan dengan rasa penasaranmu! Aku sudah terlanjur malu…” Aku menutup wajahku dengan jas sekolah.

“Kau malu?” tanya Jeongyeon. Ia menatapku seakan aku ini seorang abnormal.

“Ya, memangnya kenapa?” balasku ketus.

“Seorang Choi Minhee merasa malu?! Oh wow… Sejak kapan kau berubah seperti ini?”

Aku tertegun. Dia ada benarnya juga. Selama ini aku selalu merasa masa’ bodoh dengan pandangan orang lain terhadapku. Namun kenapa sekarang hanya karena ketahuan oleh seorang Jeon Wonwoo, aku merasa malu? Woah, ini aneh. Jeongyeon masih menatapku. Kali ini disertai senyuman yang bagiku terlihat seperti senyuman mesum.

“Apa, sih? Kau membuatku muak.”

“Kau suka dengan Wonwoo sunbaenim?”

Lagi-lagi aku terbelalak. Ada apa dengan orang ini, sih? batinku.

“Hey, Minhee! Jangan seperti itu… Matamu hampir keluar, tahu.” Jeongyeon terkekeh, sedangkan aku hanya mendengus kesal.

***

Bel istirahat sudah berbunyi. Seakan terhipnotis, murid-murid segera berhamburan ke luar kelas dengan satu tujuan yang sama. Kantin. Aku sendiri tidak berminat untuk mengikuti mereka. Aku memang jarang makan di kantin, karena bagiku akan lebih efisien jika membawa bekal.

“Minhee, kau tidak ke kantin?” tanya Jeongyeon sambil berdiri meregangkan otot-ototnya yang kaku karena terlalu lama duduk.

“Tidak. Aku akan makan di tempat biasa saja.”

“Oh, oke oke!”

Ia pun beranjak dan meninggalkanku sendirian di kelas. Setelah mengambil bekal, aku berjalan ke lantai atas, lebih tepatnya ke atap sekolah. Aku memang biasa makan di sana. Karena tempat itu selalu kosong saat jam istirahat.

Setibanya di atap, aku pun duduk dan bersandar di tembok. Posisiku tertutup tumpukan boks kayu yang didudun dua tingkat. Sambil mendengarkan musik, aku memakan sedikit demi sedikit bekalku. Tiba-tiba ketenanganku terganggu saat aku mendengar suara pintu yang terbuka. Dengan sigap, kumatikan lagu yang tengah mengalun dari ponselku sembari berharap yang datang bukanlah pasangan murid yang ingin bermesraan.

Aku mengintip dari balik tumpukan boks kayu. Fiuhh… Untung saja perkiraanku salah. Yang datang hanyalah seorang murid laki-laki. Sepertinya ia adalah kakak kelasku. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas karena ia berdiri membelakangiku.

Saat aku hendak melanjutkan sesi makan siangku, tiba-tiba saja sumpit yang akan kugunakan terjatuh. Karena di atap sepi, suaranya seperti menggema. Murid laki-laki itu pun sadar bahwa ia tidak sendiri. Dengan mata yang dipicingkan, ia menatap ke sumber kebisingan tadi. Aku gelagapan seperti pencuri yang tertangkap basah. Kalau begini sudah kepalang tanggung untuk sembunyi. Lebih baik aku diam saja dan melanjutkan makanku dengan tenang.

“Kau gadis yang tadi pagi menabrakku, kan?”

Rupanya aku tidak mengantisipasi dirinya yang berjalan mendekat tadi. Aku sudah lelah membelalakan mataku, jadi aku hanya mendongakan kepalaku. “I-iya…”

“Sudah kuduga.”

“Maaf, sunba-“

“Apa kau adalah penggemarku?” tanya Wonwoo sunbaenim cepat. Aku bahkan belum menyelesaikan kalimatku.

“Sepertinya sudah kukatakan tadi, aku bukan penggemarmu,” sanggahku.

“Oh ya, kau bilang kau suka dengan Seo Eunkwang.” Ia terkekeh.

Apa perkataanku tadi pagi terlalu konyol baginya? Aku mendelik kesal. Jam tanganku sudah menunjukan pukul 12.27. Istirahat sebentar lagi berakhir. Aku harus segera kembali ke kelas. Kalau sampai terlambat pada pelajaran Kim ssaem sekali saja, bisa-bisa minggu depan aku akan pulang lebih awal karena tidak perlu mengikuti pelajarannya lagi. Namun, lagi-lagi niatanku terkendala. Senior sialan ini memegangi tanganku.

“Wonwoo sunbaenim, bisakah kau melepaskan tanganku? Bel istirahat akan berbunyi sebentar lagi.”

“Aku masih ingin bertanya banyak padamu…”

“Tapi, sunbaenim…” Aku melepaskan tangannya dengan paksa, “Aku harus kembali ke kelas!” Aku segera berjalan dengan cepat ke lantai bawah. Meninggalkannya yang masih berdiri tertegun.

***

Aku sudah tiba di kelas sejak 30 menit lalu, namun Kim ssaem belum juga menunjukan batang hidungnya. Suasana kelas sangat ribut. Aku yakin hal ini tidak hanya terjadi di kelasku jika tidak ada guru, bukan? Kelasku memang terkenal sebagai biang ribut. Namun para guru tidak terlalu mempermasalahkannya, karena murid-muridnya yang pandai dan berprestasi.

“Myungho! Apa kau sudah memanggil Kim ssaem di ruang guru?” tanyaku dari arah belakang kelas. Tempat dudukku dan Jeongyeon memang berada di deretan paling belakang. Lebih tepatnya di dekat jendela.

“Sudah. Tapi beliau tidak masuk hari ini,” jawab Yoo Myungho, si ketua kelas tanpa menoleh.

Aku menghempaskan bokongku ke kursi. Kalau seperti ini, lebih baik aku di atap saja. Di kelas pun tidak banyak yang bisa kukerjakan.

“Hey, Choi Minhee!”

Aku menoleh ke arah pintu untuk melihat siapa yang memanggilku. “Su-sunbaenim?”

Teman-temanku menjadi hening seketika. Bagaimana tidak, yang memanggilku adalah Jeon Wonwoo. Seorang kakak kelas yang notabenenya sangat populer karena ia merupakan anggota boygrup yang tengah naik daun. Jeongyeon menyikutku, menyuruhku untuk menghampirinya. Aku berjalan menghampirinya dengan perasaan ragu. Jangan-jangan ia ingin mempermalukanku lagi.

Saat tiba di hadapannya, aku membuka mulut hendak bertanya. Namun belum sempat satu kata terucap, Wonwoo sunbaenim sudah menyela. “Ikut aku!” perintahnya.

“Kemana? Sekarang sedang jam pelajaran.”

“Kulihat di kelasmu tidak ada guru. Jadi kalian tidak sedang belajar, kan? Ayo!”

Ia menarik tanganku. Aku melawan dengan mencondongkan tubuhku ke belakang, sehingga beban tubuhku menjadi lebih berat. Namun Wonwoo sunbaenim lebih kuat. Jadi tetap saja tubuhku tertarik olehnya. “Sunbaenim!” seruku.

“Apa?!”

“Kau mau bawa aku kemana?”

“Ke atap. Aku ingin bicara sebentar.”

Aku mendelik. Pasrah saja ketika ia menarikku selama menyusuri tangga sekolah. “Sunbaenim apa kau pikir aku ini seekor anjing? Jangan menyeretku seperti ini.”

Wonwoo sunbaenim hanya diam. Ia baru membuka mulutnya ketika tiba di atap. Kami berdiri berhadapan dengan jarak yang bisa dikatakan minim. Aku pun menjauh sedikit karena merasa tidak nyaman. Namun dengan sebuah gerakan cepat, Wonwoo sunbaenim segera menempatkan lengannya di pinggangku dan menariknya. Mencegahku untuk kembali menjauh. Aku menunduk mencoba menyembunyikan wajahku yang sepertinya memerah.

“Su-sunbae apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanyaku lirih.

Lagi-lagi ia tidak menjawab. Ia malah semakin mengeratkan tangannya di pinggangku. Membuat jarak di antara kami semakin sedikit. Bahkan aku bisa merasakan napasanya dari jarak yang sedekat ini. “Ssst… Bisakah kau diam? Apa kau tidak lelah berbicara terus seharian?”

Aku hendak menjawab ketika sayup-sayup terdengar bunyi bel pulang sekolah. Aku terlonjak dan dengan refleks mendorongnya. Ia melepaskanku sambil menatap bingung.

“Sunbaenim! Apa kau tidak mau pulang? Bel pulang sudah berbunyi. Aduh aku belum membereskan barang-barangku. Aku… Aku akan turun duluan! Sampai jumpa.” Aku melesat setelah menyelesaikan kalimatku dengan sebuah tawa canggung. Fiuhh… Untung saja bel berbunyi. Aku jadi bisa melarikan diri.

***

Keesokannya aku merasa seperti seorang pencuri. Aku berjalan kemanapun dengan hati-hati sekali, seakan takut ketahuan. Aku juga meminimalisir segala tindakan yang dapat memicu perhatian dari orang-orang di sekitarku. Intinya hari ini aku bersikap normal. Hanya selama di sekolah saja, sih…

“Jeongyeon…” Aku merengek seperti anak bayi ketika melihat Jeongyeon di kelas. Ia spontan merentangkan tangannya. Aku segera memeluknya.

“Ada apa? Kau tidak biasanya bersikap seperti ini di pagi hari.”

“Orang menyebalkan itu! Apa dosaku hingga ia menggangguku terus kemarin?”

“Siapa?” tanya Jeongyeon polos. Aku tidak menjawab. “Ah, Wonwoo sunbaenim, kan? Kau tahu, kelas kita ribut setelah kalian pergi kemarin. Terutama ketika Wonwoo sunbaenim menarik tanganmu.”

“Aaa… Aku tidak peduli dengan hal itu. Orang-orang pasti akan berpikir kalau aku adalah penguntitnya. Aish kenapa menjadi serba salah begini?” ujarku kepada diri sendiri. Aku mengacak-acak rambutku dengan frustasi.

“Tapi Minhee, kau memang menggambarnya, kan? Kau memang menggambar Wonwoo sunbaenim!”

Aku menatap tajam ke arah Jeongyeon. “Ya! Kau ini temanku atau bukan?”

“Aku kan hanya bertanya… Lagipula kalau kau bukan penggemarnya, untuk apa kau menggambarnya di sketch bookmu?”

“Itu untuk teman SMPku! Dia adalah penggemarnya Wonwoo sunbaenim. Bukan aku…” Aku menenggelamkan kepalaku ke dalam jas sekolah.

“Bodoh!” seru Jeongyeon.

“Aku memang bodoh. Tanpa harus kau beritahu, aku sudah sadar diri. Tidak usah diingatkan lagi, oke?”

“Astaga rupanya kau memang bodoh sungguhan, ya. Bukan itu maksudku… Dengar! Kata ibuku, kalau kita tidak bersalah, jangan mau disalahkan. Kau mengerti maksudku?” Aku menatapnya polos lalu menggeleng. Jeongyeon mendengus. “Begini ya, Choi Minhee. Dalam kasusmu, kau kan bukan penggemar Wonwoo sunbaenim, tapi karena sikapmu ia seperti merasa kau adalah penggemar fanatiknya. Nah, mulai sekarang kau harus menunjukan bahwa kau memang bukanlah penggemar maupun penguntitnya. Intinya, bersikaplah seperti biasa. Jangan melarikan diri bila bertemu dengannya. Bagaimana?”

“Aww… Yoo Jeongyeon kau memang yang terbaik!” Kemudian kami kembali berpelukan.

“Ayo ayo semuanya cepat kembali ke tempat kalian masing-masing! Hari ini kalian akan kuberikan soal latihan logaritma,” ujar Lee ssaem, guru Matematika kami dengan semangat. Teman-temanku mengeluh sejadi-jadinya, sedangkan aku sendiri baru ingat tidak membawa tempat pensil.

***

“Sunbaenim, aku menemuimu untuk mengklarifikasi sesuatu,” ujarku. Saat istirahat tadi aku memintanya untuk bertemu sepulang sekolah di atap. “Tentu kau ingat kalau aku bukanlah penggemarmu. Dan gambar itu adalah untuk temanku yang akan berulang tahun minggu depan. Aku menggambarmu sebagai hadiah untuknya…”

Wonwoo sunbaenim melipat lengannya di dada dengan angkuh. “Oh jadi seperti itu… Baik, aku minta maaf karena sudah membuatmu tidak nyaman beberapa hari belakangan ini.”

“Oke! Kalau begitu… Aku akan pergi. Terima kasih atas waktunya, sunbaenim.” Aku menundukan tubuhku. Ketika aku hendak membalikan badan, ia menahanku. Dan tiba-tiba saja aku sudah berada di dalam dekapannya. “Su-sunbae…”

“Kau ini tidak pernah bisa diam, ya. Tapi aku suka.” Mataku membulat seketika. “Sifatmu yang bisa dibilang cuek dan aneh itu malah membuatku tertarik. Kau berbeda dari gadis lain yang langsung bersikap berlebihan ketika berinteraksi denganku. Aku suka padamu, Choi Minhee!”

Aku masih membeku, tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Kalau boleh jujur, ini adalah pertama kalinya seseorang mengutarakan perasaannya kepadaku. Mungkin karena aku selalu bersikap cuek kepada murid laki-laki yang ingin dekat denganku. Aku masih tidak percaya. Terlebih lagi orang itu adalah Jeon Wonwoo!

“Sunbae aku…” Wonwoo sunbaenim melepaskan pelukannya. “Aku… Aku tidak suka padamu. Maafkan aku!”

Aku berlari meninggalkannya sendirian di atap sambil menangis. Daripada pulang dalam keadaan seperti ini, aku lebih memilih untuk kembali ke kelas. Aku terduduk di pojok kelas sembari memeluk lutut. Air mataku mengalir semakin deras. Aku sendiri bingung mengapa aku bisa menangis seperti ini. Benar-benar menyedihkan.

“Minhee?! Kau kah itu?”

Aku menoleh. Ada Jeongyeon yang tengah berdiri di ambang pintu. “Jeongyeon… Kau belun pulang?” Suaraku serak karena menangis.

“Astaga! Ada apa? Kenapa kau menangis?” Ia menghampiriku kemudian duduk di hadapanku. “Minhee, ceritakan padaku apa yang terjadi?”

“Wonwoo sunbaenim…” Aku terbatuk sedikit. “Dia mengutarakan perasaannya padaku tadi.”

Jeongyeon menaikan alisnya. “Lalu? Bukankah seharusnya kau senang? Tapi kenapa kau malah menangis seperti ini? Dasar gadis aneh.”

“Ah tidak tahu! Aku bingung dan saat aku kebingungan, aku merasa sangat ingin menangis. Jadi air mata ini mengalir begitu saja, tahu!”

“Choi Minhee, dia bukan sekedar kakak kelas biasa. Dia Jeon Wonwoo. Seharusnya sih kau merasa senang bila ia suka padamu… Tapi entah apa yang ada di otakmu.” Ia menghela napas. “Kau mau mendengar saran dariku?”

Aku mengangguk lemah. “Tolong aku…”

“Begini, kalau dalam masalah seperti ini, aku tidak bisa membantu banyak. Yang terpenting dengarkan hatimu. Jika hatimu berkata ‘iya’, maka lakukanlah. Jangan sampai ada penyesalan di akhir.”

“Saran darimu memang yang terbaik kedua setelah saran ibuku. Tapi tentu saja beliau tidak mau ambil pusing hanya karena masalah percintaan remaja seperti ini.” Aku memeluk Jeongyeon erat. Memang, inilah keuntungannya memiliki seorang sahabat yang selalu ada di sisimu.

***

“Ayo cepat! Katakan yang penting saja. Waktuku tidak banyak,” ujar Wonwoo sunbaenim dingin.

“Sunbaenim, aku minta maaf untuk yang kema-“

“Hanya minta maaf, kan? Sudah, ya, aku masih banyak urusan lain.” Ia membalikan badannya dan berjalan menjauh.

“Aku… Aku juga suka pada sunbae!” seruku. Wonwoo sunbaenim terus saja berjalan. Aku menunduk. Sudah selesai, dia tidak akan pernah sudi melihatku lagi.

Tiba-tiba kurasakan seseorang menabrak kemudian mendekapku dengan erat. “Kau serius dengan perkataanmu tadi, bukan?”

“Sun-” Kalimatku menggantung di udara. Aku tidak dapat berkata-kata lagi karena Wonwoo sunbaenim telah mengunci bibirku. Dengan bibirnya! Wajahku memerah. Ini adalah ciuman pertamaku.

“Kenapa kau tidak mengatakannya kemarin? Aku takut kau benar-benar tidak menyukaiku…”

“Aku hanya bingung. Kau mengatakannya secara tiba-tiba. Bagaimana aku bisa berpikir?”

“Ya ampun, bodohnya…” Wonwoo sunbaenim mengacak-acak rambutku. Aku hanya bisa merengut. “Kalau seperti ini bagaimana? Choi Minhee, aku menyukaimu. Maukah kau jadi pacarku?” Kemudian ia berlutut dan menggenggam tanganku.

“Aigoo sunbae, kau membuatku merinding!”

“Jawab sajalah. Apa kau pikir kakiku tidak sakit?” Kami tertawa kecil. “Apa jawabanmu?”

“Iya, aku mau.”

End

7 thoughts on “[Oneshot] I Like You the Best”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s