[Oneshot] Oppa

Oppa

Title: Oppa

Scriptwriter: J.ko

Main Cast:

  • Kim Junmyeon (EXO’s Suho)
  • Kim Yerim (Red Velvet’s Yeri)

Support Cast:

  • Jeon Jungkook (BTS’ Jungkook)
  • Song Jiwon (OC)

Genre: Family

Duration: Oneshot

Rating: Teenager

Kristal salju adalah benda yang paling rapuh. Bila aku sebuah kristal salju, maka kamu adalah kristal salju yang lain. Dua buah kristal salju akan saling menguatkan, setidaknya sampai kita jatuh dan menghilang bersama.

“Jungkook itu pacarmu, ‘kan?”

“Kau bercanda? Aku tidak akan punya pacar.”

“Lalu, dengan pria mana kau akan menikah?” godaku lagi.

“Aku punya Kim Junmyeon yang selalu menjagaku dan memasakkanku makanan yang lezat. Apakah aku perlu pria lain?” bola mata Yeri tertuju ke arahku, berbinar-binar penuh makna.

Bila nanti aku pergi, walau sebentar, tunggulah salju turun dari langit. Karena aku akan selalu di sana, terbang melayang bersama angin, mencari kristal salju lain untuk saling menguatkan hingga saatnya tiba di permukaan Bumi.

Rabu, 23 Desember 2015 2.18 PM

Aku terus melangkahkan kedua kakiku menyusuri trotoar yang cukup ramai. Ah, tentu saja semua orang mulai berbondong-bondong menyambut euforia Natal, tak peduli suhu di luar sudah meluncur tajam. Aku menjejalkan tanganku ke dalam kedua saku parkaku yang hangat. Aneh sekali, aku kira musim dingin telah tiba tapi aku belum menemukan salju turun di Korea.

              Dua belas tahun sudah aku tak menginjakkan kaki di atas tanah Yongsan. Semuanya terlihat berbeda dan epic. Jalan rayanya terasasangat halus. Sudah banyak bangunan-bangunan tinggi. Anak muda yang mondar-mandir di trotoar juga terlihat modis dan menarik.

Sebuah toko alat musik di sudut trotoar menarik perhatianku. Tentu saja aku tak pernah lupa tempat di mana aku mendapatkan biola pertamaku. Aku mendekatkan wajahku ke permukaan etalasenya yang jernih. Beberapa jenis alat musik berderet rapi dengan bermacam-macam hiasan Natal. Aku tak bisa menyembunyikan senyumku.

Sungguh aku rindu kenanganku.

Semuanya.

 

              “Annyeonghaseyo, ada yang bisa saya bantu?”  suara seseorang mengagetkan dari balik punggungku saat aku mulai berkeliling mengamati tiap alat musik di dalamnya.

              “Oh, annyeonghaseyo, aku–” aku berbalik dan mendapatkan seorang wanita hampir tua dengan sweater rajut warna biru langit dan rambut putih-hitam tergulung anggun, berdiri di tepi meja kasir. Seketika mulutku berhenti bergerak.

              “Yeri-ah, kau tumbuh besar dan sangat cantik,” senyumnya melebar ketika melihat raut wajahku yang berubah sumringah.

              “Jiwon Eonni!! Ada apa dengan rambutmu, kau mengecatnya menjadi putih??” candaku lalu memeluknya erat. Aku benar-benar tak menyangka Bibi pemilik toko musik ini masih sehat dan cantik.

              “Bagaimana kabarmu? Aku kau terlalu nyaman tinggal dan bekerjadi Amerika sampai tak pernah kembali ke Korea? Ah, ya, seorang komposer dan guru musik pasti sangatlah sibuk,” Jiwon Eonni mengelus kepalaku sambil menatapku dengan pandangan bangga.

              “Yah, begitulah. Aku baru saja mendapat proyek besar dalam orkestraku. Aaah, Eonni aku ingin cerita banyak denganmu,” dengusku lalu merengek seperti anaknya sendiri.

              …

              “Permisi, Ahjumma. Apa ada biola ini dengan ukuran 4/4?” seorang remaja pria menghampiri Jiwon Eonni dengan biola hitam di tangan kanannya. Di belakangnya berdiri seorang perempuan dengan wajah sangat mirip dengan pria itu.

              “Ah, biola ini… ya, tentu saja ada, tunggu dulu akan aku ambilkan,” Jiwon Eonni tersenyum hangat lalu kembali melempar pandangannya padaku sebelum berlalu. “Sebentar, ya, nak.”

              “Oppa, apa kau sungguh akan membelikanku biola mahal itu? kau tak perlu memaksakan diri,” aku bisa mendengar suara si perempuan muda itu.

              “Tak apa, aku kan sudah berjanji akan membelikan adikku ini biola sebagai kado Natal. Selain itu aku ingin menontonmu memainkan biolamu sendiri saat resitalmu minggu depan,” sahut si pria dengan mantap. Matanya bersinar-sinar memancarkan aura kebanggaan seorang kakak laki-laki.

              Kini kurasakan jantungku berdetak lebih cepat. Otakku kembali memutar rekaman kenangan itu secara otomatis. Entahlah.

Rindu.

Sedih.

Tiba-tiba deru napasku menjadi tak teratur dan emosiku membabi buta. Oh, Tuhan. Tolong kuatkan aku…

Rabu, 13 November 2002, 6.38 PM

“Tuhan yang baik, terimakasih atas makanan yang telah Kau berikan, berkatilah makanan ini supaya menjadi sumber kebaikan bagi kami, berkatilah mereka yang telah menyediakannya dan berkatilah pula kami yang berkumpul di sini, amin.”

              “Amin,” Yeri menutup doa yang kuucapkan sebelum menyantap makan malam kami.

              “Yeri-ah, maafkan aku, aku hanya bisa membeli sepotong daging ayam untuk membuat bubur dakjuk,” kedua mataku bertemu dengan mata Yeri setelah menatap dua mangkok dakjuk dengan cacahan ayam yang sangat sedikit.

              “Oppa, gwenchana. Masih bisa makan bersamamu sudah membuat aku bersyukur,” ujar Yeri lalu melahap sesendok penuh bubur buatanku.

              “Enak?”

              “Masakan Oppa tidak pernah tidak enak,” Yeri tertawa renyah.

              Yeri adalah satu-satunya alasan aku bisa bertahan di dalam keadaan serba kekurangan ini. Kondisi ekonomi keluarga kami memang menyedihkan. Aku hanya tinggal dengan adikku Kim Yerim-atau yang sering kupanggil Yeri- setelah Appa bunuh diri tiga tahun lalu. Kami berdua tinggal di sebuah ‘rumah’ di tepi Kota Yongsan. Atau bisa kubilang,lebih cocok disebut gudang dan kamar mandi ketimbang rumah, di mana aku dan Yeri makan, tidur dan belajar di dalam satu ruang berukuran 3×3 m. Aku menyewa sebuah gudang dan kamar mandi ini dengan biaya yang cukup murah, walaupun aku tahu ini adalah tempat tinggal yang tidak layak.

              Dan aku, dengan jerih payahku, berhasil mendapat beasiswa dari sebuah yayasan Katolik hingga aku tak perlu mengeluarkan biaya untuk menebus pendidikanku di universitas. Bahkan yayasan juga memberiku uang saku dalam rekening, yang bisa kugunakan untuk menyekolahkan Yeri di bangku SMA.

              “Oppa, makanlah dakjukmu sebelum dingin,” Yeri membuyarkan lamunanku.

              Senin, 25 November 2002, 10.05 PM

“SuhoOppa, kau sudah tidur?” bisik Yeri yang terbaring di sampingku. Aku selalu suka saat Yeri memanggilku ‘Suho’, nama yang tidak pernah disebutkan orang lain. Entahlah, aku pikir panggilan ini menjadi terkesan istimewa karena hanya akan terucap dari mulut Yeri.

              “Belum,” aku menolehkan kepalaku, terlihat Yeri manatap langit-langit kamar kami yang sudah jebol di sana-sini.

              “Bagaimana, ya, rasanya jadi orang kaya?”

              “Kenapa kau menanyakan itu? Jelas aku tidak tahu.”

              “Tadi siang Jungkook membawa biola barunya ke sekolah dalam latihan resital Natal. Kadang aku merasa iri karena aku tak memiliki biola sendiri,” intonasi Yeri semakin pelan, menyeruak dalam kesunyian malam Yongsan.

              “Siapa Jungkook? Pacarmu?”

              “Ish, tentu saja bukan!” Yeri melirikku tajam. “Oppa, aku serius.”

              “Kenapa kau harus iri. Kau masih bisa berlatih dengan biola sekolah. Aku pikir tak ada bedanya. Biola sekolah, biola pinjaman, atau biolamu sendiri, sama-sama akan menghasilkan nada yang sama. Kalau kau tidak bermain bagus barulah kamu harus rendah diri,” aku memiringkan badanku agar bisa menatap wajah Yeri sepenuhnya.

              Yeri tidak menanggapi pernyataanku. Pandangannya masih tertuju pada langit-langit kamar. Suasana menjadi hening sejenak.

              “Maka dari itu, kau harus berusaha keras. Tunjukkan bahwa walau dengan biola sekolah kau bisa bermain bagus. Tenang saja, aku akan datang menonton dan menyemangatimu di resital Natal nanti,” lanjutku lalu memasang senyum yang lebar.

              “Oppa, gomawo-yo,” dengan setengah berbisik Yeri memejamkan matanya dengan sangat pelahan. “Terimakasih sudah menyemangatiku. Terimakasih sudah menguatkanku. Terimakasih sudah terus ada di sampingku. Terimakasih sudah menjadi Oppaku…”

              Aku bisa merasakan kini Yeri sudah berada di alam tidurnya. Hembusan napasnya terdengar di tengah keheningan. Aku menatapnya lekat-lekat. Dadaku terasa nyeri. Yeri-ah adikku, maafkan aku karena tidak bisa menjadi kakak yang bisa memberikanmu apa yang kamu mau…

              Minggu, 1Desember 2002 11.21 AM

Hari Minggu adalah hari favoritku. Aku sengaja mengosongkan jadwal kerjaku di Hari Minggu agar aku bisa menghabiskan 24 jam dalam satu hari bersama Yeri. Sekadar berjalan-jalan di sepanjang trotoar Yongsan atau mengobrol di ujung gang, selalu terasa menyenangkan.

              “Aku pikir salju akan segera turun,” Yeri menggandeng lengan kiriku dengan erat ketika angin musim dingin mulai bertiup dari ujung jalan. Jarum jam analog di pilar sebuah gerejasudah menunjukkan pukul 11 siang tapi udara masih terasa dingin.

              “Apa kau mau menghangatkan diri di sana?” aku menunjuk sebuah toko pakaian di antara deretan toko-toko di seberang jalan.

              “Ani-ya, Oppa.”

              “Kau lapar?”

              “Ani-ya, Oppa.”

              “Bisakah katakan selain ani?” gerutuku.

              “Oppa! Apa itu toko baru?” Yeri melepaskan genggamannya dari lenganku lalu berlari menuju sebuah bangunan yang menarik perhatiannya. Bangunan kecil dengan etalase kaca yang mengkilap itu berhiaskan lampu-lampu neon yang dibentuk garis-garis bar dan notasi balok di atas pintu masuknya.

              “Yeri-ah!”

              “Oppa, kemarilah. Ini toko alat musik!” senyum Yeri mengembang ketika mendekatkan wajahnya di permukaan etalase toko. Beberapa alat musik petik dan tiup ditata berderet dengan hiasan daun-daun maple jingga musim gugur di dalam etalase. “Yeppo-yo.”

Aku berdiri di belakang Yeri yang untuk beberapa saat bak mematung di depan etalase. Wajah girangnya terus terpancar saat meneliti tiap detil item yang ada di balik etalase toko. Aku menghela napas lalu menatap punggung Kim Yerim dengan nanar, “Yeri-ah, bisakah kita pergi sekarang?”

“Kau tak ingin masuk ke dalam? Aku rasa toko ini menjual banyak jenis biola, mungkin saja kita menemukan biola dengan harga yang—“

Aku mendengus keras, bahkan mungkin Yeri mendengarnya dengan baik. Wajahnya yang tadi terlihat senang begitu saja berubah. Aku bisa melihat raut wajahnya yang kecewa.

“Oke, oke, baiklah, kita bisa masuk melihat-lihat sebentar, dan—“

Ani, Oppa. Mianhae,” Yeri memutus kalimatku dengan cepat lalu kembali berusaha menyunggingkan senyumnya.

“Maaf untuk? Tak apa, kita bisa melihat-lihat sebentar saja, kalau gajiku dari kedai kopi Jisun Hyung sudah turun—“

“Sudahlah, Oppa. Aku ingin berjalan-jalan lagi denganmu. Ayo,” Yeri terkekeh lalu kembali melangkahkan kakinya menyusuri trotoar.

Kedua kakiku masih saja tertahan di depan toko musik itu. Kelap-kelip lampu neon di atas pintu toko bersaut-sautan, memecah mendungnya langit siang itu. Aku hendak menyusul Yeri ketika satu titik kristal salju jatuh tepat di ujung hidungku, diikuti titik-titik lain yang melayang-layang di udara.

Hari ini, Hari Minggu. Hari pertamaku di Bulan Desember.

Musim dingin telah tiba.

Rabu, 4 Desember 2002 2.19 PM

Aku meletakkan pantatku tepat di atas bangku penonton di barisan keempat dari depan. Dari sini aku bisa melihat dengan jelas sosok Yeri yang memegang biola sekolah, duduk di barisan ketiga paling kanan. Beberapa anak baru saja meletakkan alat musiknya, kurasa mereka akan beristirahat.

“Yeri-ah!!!” pekikku, menggema di seluruh ruang gymnasium sekolah Yeri.

Tidak butuh waktu lama Yeri mencari asal suaraku, karena aku satu-satunya orang yang ada di bangku penonton gymnasium. “Oppaa!!!”

Siang ini aku menyempatkan diri untuk melihat Yeri latihan resital Natal sekolahnya. Aku merasa sangat bangga melihat adikku Yeri duduk di depan sana, memegang sebuah biola yang cantik dalam paduan orkestra.

“Kau tak kuliah?” Yeri duduk di sampingku setelah menghabiskan waktu beberapa saat untuk naik ke bangku penonton gymnasium.

“Sebentar lagi aku akan berangkat. Dan kau, sedang istirahat?”

Yeri mengangguk mantap. Setetes keringat mengalir di pelipis kirinya.

“Jadi, yang mana yang namanya Jungkook?”

Mwo? Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal yang aneh?”

“Kau selalu membicarakannya di rumah. Aku hanya penasaran,” aku menaikkan alis sambil melirik wajahnya dengan gemas.

“Ah, anak sombong itu. Kau lihat, pria yang sedang mengacung-acungkan busur biola itu,” tunjuk Yeri ke arah salah seorang di depan sana. “Itu, yang hidungnya sebesar buah pepaya.”

“Ah, ya ya! Kurasa dia cukup tampan, seperti idol.”

“Tampan? Seperti idol?? Kau gila,” umpat Yeri lalu melipat kedua tangannya.

“Jungkook itu pacarmu, ‘kan?”

“Kau bercanda? Aku tidak akan punya pacar.”

“Lalu, dengan pria mana kau akan menikah?” godaku lagi.

“Aku punya Kim Junmyeon yang selalu menjagaku dan memasakkanku makanan yang lezat. Apakah aku perlu pria lain?” bola mata Yeri tertuju ke arahku, berbinar-binar penuh makna.

Aku mengernyitkan dahi diikuti dengan senyuman cengir kuda khas dari Kim Yerim.

“Kau sana berlatihlah lagi, dasar bodoh.”

Senin, 7 Desember 2002 12.47 PM

Gamsahamnida, silakan berkunjung kembali,” ujarku kepada seorang customer yang baru saja berlalu.

              “Ya, Jumyeon-ah! Lebih baik bersiap-siaplah pergi sekarang. Kau harus kuliah pukul satu siang! Kembalilah ke sini saat kuliahmu selesai!” pekik seseorang dari dalam dapur. Oh, itu Jisun Hyung pemilik kedai kopi tempat aku bekerja.

              “Hyung, kau perhatian sekali, sampai ingat jadwal kuliahku. Gomawo-yo, Hyung.”

“Oh, ya. Maafkan aku, baru ingat sekarang. Ini gajimu bulan ini. Kau bisa membeli atau membuatkan masakan yang sedikit mahal untuk adikmu. Musim dingin telah tiba, ingat?” Jisun Hyung menghampiriku sambil tersenyum dengan sebuah amplop di tangan kanannya.

               “Gamsahamnida, Hyung”. Aku membungkukkan badanku 90 derajat. Hari gajian selalu terasa indah dan menyenangkan.

              Aku berjalan di sepanjang trotoar menuju kampusku. Butuh waktu sekitar sepuluh menit untukku bisa sampai di sana. Jarak kedai kopi Jisun Hyung memang tidak terlalu jauh dengan kampus tapi aku bisa saja terlambat bila aku tak berjalan dengan cepat.

Alih-alih mempercepat laju langkahku, kakiku terhenti di depan sebuah toko alat musik di sudut trotoar yang hampir kukunjungi Minggu lalu bersama Yeri. Di balik etalase kaca berjejer berbagai alat musik yang terlihat begitu mewah. Aku rasa pemilik toko sudah mengganti hiasan musim gugurnya dengan hiasan musim dingin dan Natal.

Lonceng di atas pintu berdenting ketika aku membuka pintu kacanya. Suasana Natal membahana dengan irama lagu O Holy Night yang mendayu-dayu di seantero toko. Seorang Ahjumma beralis tebal di dekat meja kasir tersenyum menyambutku, “ada yang bisa saya bantu?”

              “Maaf, Ahjumma. Saya ingin melihat-lihat dulu.”

              “Ya, ya!! Kau pikir aku setua itu? panggil aku Noona. Dasar anak muda jaman sekarang, selalu saja—“

              “Mianhae, Ajhum.. Ah, Noona. Mianhae,” aku memutus celotehnya dan segera beralih ke rak di mana banyak biola dipajang dengan rapi. Aku masih bisa mendengar gerutu Ahjumma itu walau samar-samar. Aku tak pernah mengerti kenapa ibu-ibu paruh baya yang terlihat sudah punya 3 anak seperti dia selalu naik darah bila disebut Ahjumma.

              Dari sekian puluh biola yang ada, sebuah biola yang tergantung di ujung kanan menarik perhatianku. Ukurannya tidak terlalu kecil dan tampilannya cukup berkilau. Di sebelahnya berdiri papan kertas bertuliskan ‘diskon musim dingin, 120.000 KRW’. Harga yang cukup murah untuk sebuah biola, kupikir.

              Sabtu, 14 Desember 2002 7.52 PM

Kuangkat panci berisi penuh sup sundubu jjigae dari atas kompor kecil yang kubeli bulan lalu itu. Bau kaldu pedas menggeliat di dalam kamar. Yeri yang sedang membaca buku geografi tiba-tiba saja duduk bersimpuh di sebelahku yang masih sibuk mengaduk-aduk masakan buatanku.

              “Menu malam ini sundubu jjigae dari koki Suho Oppa!” seruku senang.

              “Oppa, kau paling tahu apa yang sangat disukai adikmu ini saat musim dingin,” sahutnya tak kalah girang. Yeri membantuku menyiapkan mangkok untuk makan malam kami. Kami duduk bersila lalu berdoa dan menyantap masakanku dengan lahap.

“Enak?”

“Haruskah kau menanyakanku hal yang sama setiap aku melahap satu sendok masakanmu?” Yeri mengerutkan dahinya dilanjutkan tawa yang meledak-ledak. “Kau harus mengajariku membuat sundubu jjigae yang lezat besok pagi!”

“Boleh, asal kau yang belanja,” candaku.

“Janji?”

 “Janji.”

Momen seperti inilah yang selalu aku sukai. Duduk berdua dengan adikku Kim Yerim, menyantap makanan walau sederhana lalu berbincang-bincang mulai dari A sampai Z hingga larut malam.

Minggu, 15Desember 2002 6.04 AM

              Jam menunjukkan pukul 6 pagi ketika aku terbangun dari tidurku dan mendapati Yeri masih tidur dengan pulas di sampingku. Aku meraih sweaterku yang sudah bolong di beberapa bagian, lalu menekan kenop pintu kamar dengan sangat hati-hati.

Angin pagi buta musim dingin menerjang tubuhku, rasanya aku ingin membeku. Aku tahu ini Hari Minggu, tapi bila aku tak memulai mencari uang lagi, aku tak akan bisa melihat adikku Yeri memainkan biolanya sendiri.

              Senin, 16 Desember 20028.05 AM

Yeri melahap bubur jagung yang telah kubuat pagi buta tadi. Yeri sama sekali tidak mengatakan apapun kecuali bila kutanya. Aku yakin dia marah padaku karena tempo hari aku menghilang dan baru kembali dini hari tadi.

              “Yeri-ah, apakah kau marah?”

              “Ani.”

              “Lalu kenapa diam saja?”

              “Kau seharian kemarin tidak di rumah dan baru kembali tadi pagi,” Yeri meletakkan sendok di atas mangkoknya. “Oppa, kemana saja kau?”

              “Aku..hmm.. aku—“

              …

              “Aku terlambat. Aku berangkat sekolah sekarang,” Yeri menghentakkan sendok dalam mangkok buburnya sampai terdengar bunyi lentingan yang cukup keras. Dengan wajah datar Yeri menyambar ransel bututnya yang ada di atas rak kayu rapuh di sudut ruangan. Secepat kilat ia memakai sepatu dan berlalu begitu saja.

              Dan aku masih terduduk di tengah kamar, di hadapan semangkok bubur jagung Yeri yang baru ditelan 3 sendok. Kemudian secara random pandanganku tertuju pada plastik hitam di dekat tumpukan buku milik Yeri. Aku merangkak pelan lalu merogoh isinya. Kutemukan beberapa potong daun bawang, cabai, jamur, tofu serta beberapa bahan lain untuk membuat sundubu jjigae.

Maafkan aku, Yeri-ah.

              Rabu, 18 Desember 2002 9.39 PM

Sudah beberapa hari lalu sejak kejadian itu, tapi Yeri belum bicara banyak padaku. Ia hanya menjawab ya, tidak, atau bertanya seperlunya. Rasanya canggung, ketika dia tak acuh padaku padahal kami berada di bawah satu atap setiap waktu.

              “Yeri-ah, aku minta maaf, jangan marah padaku, dong,” ujarku memecah keheningan malam itu. Yeri duduk bersila membelakangiku, sibuk dengan partitur resitalnya yang akan diadakan minggu depan.

              “Ani, Oppa. Aku tidak marah.”

“Lalu kenapa tidak menoleh dan memandang wajah Oppamu?”

“Kau tak lihat aku sedang merapikan partiturku?” pekik Yeri.

“Menolehlah sedikit.”

“…”

Ya! Kaisar Kim Junmyoon memerintahkan Prajurit Kim Yerim untuk menoleh, sekarang.”

“Apa-apaan kau—“

Yeri menolehkan kepalanya ketika aku selesai mencoret-coret mukaku sendiri dengan spidol hingga seperti badut berkumis. Yeri membelalakkan matanya lalu menutup mulutnya rapat-rapat. Matanya menyipit, menahan tawa yang meledak-ledak dalam tenggorokannya.

“Tersenyumlah hai Kim Yerim-ku,” aku mengembang-kempiskan lubang hidung lalu menjulurkan lidahku.

Oppa, hentikan, hahahahahahahaha,” Yeri tertawa puas lalu melempariku dengan penghapus karet.

“Weeeek,” ejekku.

Oppa!!!” pukulan kertas partiturnya mendarat di bahuku.

Mendengar suaranya yang manja. Melihat tawanya yang membahana. Merasakan bola matanya yang bergelora. Aku tak tahu apakah ada hal lain di dunia yang lebih menyejukkan daripada ini.

Minggu, 22 Desember 2002 6.20 AM

Pagi ini temperatur udara tidak serendah hari-hari sebelumnya. Angin yang berhembus dari lubang-lubang di atap kamar juga tidak begitu terasa dingin. Aku meringkuk di balik selimutku ketika aku merasakan getaran langkah kaki yang berdentum, melangkah mengelilingi tiap sudut kamar.

Kakakku Suho baru saja meraih dan mengenakan sweater usangnya. Ia menekan kenop pintu dengan sangat hati-hati, meminimalisir bunyi yang akan menggeliat di dalam hening. Baru saja aku akan membuka mataku sepenuhnya, Suho Oppa sudah menghilang begitu saja.

Oppa. Kemana dia.

Senin, 23 Desember 2002 4.07 PM

Oppa, besok Rabu adalah hari Natal dan aku akan tampil dalam resital. Kau ingat?” Yeri mengagetkanku saat aku mencari-cari syal rajutku.

“Oh, tentu saja aku tidak akan lupa!” aku melempar pandanganku padanya. “Tapi..apakah kau tahu syalku di mana?”

Oppa! kau akan datang, ‘kan?”

“Tentu saja. Dan beritahu aku bila kau menemukan syalku di dekat buku-bukumu.”

Oppa!”

Aku menghentikan pergerakanku dalam pencarian syal. Aku merasa Yeri benar-benar kesal karena aku tak sungguh-sungguh menjawab pertanyaannya.

“Mau kemana kau?” Yeri sedikit mendongakkan kepalanya.

“Aku? Tentu saja aku akan ke kedai kopi Jisun Hyung.”

“Tidak, maksudku, kemarin. Dan Minggu lalu. Kemana kau Oppa,” Yeri memelankan suaranya. Aku tertegun, membuat suasana menjadi sedikit dingin. “Apa hari ini kau juga akan menghilang sampai hari berikutnya?!”

“Ah, itu—“

“Kenapa kau seolah menyembunyikan sesuatu?”

“Aku mengerjakan tugas kampusku. Ya, kau tahu, tugas universitas tidaklah sedikit.”

Gojimal!” bentak Yeri.

Bunyi-bunyi kendaraan besar menggaung dari kejauhan. Udara menjadi terasa semakin dingin saat mataku dan mata Yeri bertemu. Yeri semakin cantik saat wajahnya berubah serius dengan tatapan tajam dan dahi yang berkerut.

“Yeri-ah, tunggulah sebentar. Aku akan pulang membawakanmu sesuatu.  Kau percayalah padaku. Sekali lagi,” aku menatap wajahnya dengan sangat dalam. Bibirnya yang tipis bergetar-getar, ingin mengatakan sesuatu tapi tertahan di pangkal tenggorokannya.

Senin, 23 Desember 2002 10.21 PM

Ahjumma!!! Jangan tutup dulu tokonya!!” jeritku dari kejauhan. Tampak jelas Ahjumma pemilik toko musik di sudut jalan itu sedang menutup tirai etalase. Aku mempercepat laju langkah kakiku namun tetap stabil. Aku tak ingin jatuh di atas trotoar yang licin.

Malam ini salju menghujani wilayah Yongsan dengan cukup deras, bahkan disertai hembusan angin yang terasa menusuk tulang rusukku. Butiran-butiran kristal salju bahkan masuk ke dalam mata dan mulutku. Bila tak dibantu penerangan jalan mungkin aku tak bisa melihat etalase toko musik itu dari ujung trotoar.

“Dasar payah. Aku sudah mengantuk, kembalilah setelah Natal. Kau tak lihat badai salju sepertinya akan datang?” Ahjumma itu melemparkan pandangan sinisnya padaku ketika aku telah sampai di depan pintu tokonya.

Ahjum—oh, Noona, tolonglah aku akan membelikan biola untuk adikku Kim Yerim.”

“Sudah kubilang kembalilah setelah Natal!”

“Aku mohon…” aku membungkukkkan badanku serendah mungkin dengan tangan yang mengepal.

“Ah, jinjja. Baiklah baiklah. Masuklah dan pilih dengan cepat,” gerutunya kesal.

Aku bersyukur satu-satunya biola dengan harga miring itu masih tergantung dengan anggun di ujung rak. Dengan kecepatan kilat aku mengambilnya dan membawanya ke meja kasir.

Stainer 4/4. Seleramu bagus juga,” Ahjumma itu mengangguk-angguk, meremehkan.

“Ah, ani. Aku hanya mencari biola murah. Untuk resital adikku di Hari Natal nanti.”

Aku mengeluarkan beberapa lembar dan koin uang yang terbungkus oleh satu sapu tangan kusut yang kuikat di setiap sudutnya.

“Ah, omo omo. Apakah kau tak punya dompet?”

“Sapu tangan ini akan lebih mudah membawa koin-koin seperti ini. Nah, ini. Tolong dihitung lagi,” timpalku lalu meletakkan uang-uang yang telah kukumpulkan setiap hari itu di hadapannya. Bunyi gemerincing terdengar saat bungkusan uangku menyentuh permukan meja kasir. Wajah Ahjumma pemilik toko tampak semakin sebal karena ia harus meluangkan waktunya sedikit lagi untuk menghitung koin-koin dan uang lusuh yang kuberikan.

“Apa ini uang-uang di dalam celenganmu? Terlihat lebih banyak koin daripada kertasnya.”

“Sebagian besar. Sisanya adalah gajiku dari kerja part time di kedai kopi Jisun Hyung. Dan akhir-akhir ini aku menghabiskan Hari Mingguku untuk bekerja sebagai tukang sapu di Jeonja Sangga. Setelah itu sampai malam aku mengambil jadwalku di kedai Jisun Hyung agar aku dapat bonus hari libur. Malam hari aku kembali ke Jeonja Sangga untuk bersih-bersih shift malam.”

“Kau gila,” timpalnya singkat.

“Ya, aku sudah mengorbankan Hari Mingguku yang biasanya kuhabiskan bersama Yeri. Dia pasti sangat marah bila tahu aku bekerja dengan keras.”

“Adikmu sangat beruntung memiliki Kakak gila sepertimu. Ini biolamu dan pulanglah temui adikmu,” Ahjumma pemilik toko meletakkan biola ke dalam hardcase hitam dan menutupnya dengan cantik setelah selesai menghitung semua uangku.

“Kau punya kartu Natal?”

“Tentu,” tak seberapa lama kemudian ia memberikan sebuah kartu seukuran paspor dengan gambar kristal-kristal salju yang indah dengan dengan warna dominan biru muda. Aku segera menuliskan beberapa pesan yang ingin kusampaikan, bahkan aku menggambar beberapa hal yang aku pikir cukup menggelikan.

Gamsahamnida, Ahjumma. Maaf merepotkan malam-malam,” dengan cepat kuangkat biola yang baru saja kubeli itu. Di dalam otakku hanya ada wajah gembira Kim Yerim saat mengetahui aku pulang dengan membawa biola yang ia idam-idamkan.

Aku membuka pintu kaca toko musik yang sedikit berderit, memuakkan telingaku. Bunyi lonceng di atas pintu terdengar nyaring, mengantarkanku pada jalanan Yongsan yang beku. Salju yang turun dari langit semakin lebat saja. Beberapa mobil yang diparkir di tepi jalan bahkan sudah sepenuhnya tertutup selimut salju yang putih.

“Hati-hati!” Ahjumma itu masih saja berdiri di belakang meja kasir.

Ne!” aku menjejakkan kakiku di atas trotoar berlapis salju ketika sebuah sepeda meluncur dari arah barat menembus hujan salju yang lebat, menyenggol lenganku hingga aku terhuyung dan kehilangan keseimbangan. Aku berusaha agar tak terjerembab tapi jalanan begitu licin dan salju yang turun mengaburkan pandanganku.

Kejadiannya begitu cepat sampai aku tak mengingat bagaimana bisa aku terpeleset dan terguling ke badan jalan protokol. Yang aku ingat hanya dahiku yang menyentuh aspal beku, jeritan Ahjumma pemilik toko dan lampu sorot kendaraan besar yang sangat menyilaukan mata dari ujung jalan protokol.

Salju-salju itu terus turun ke Bumi. Bahkan di tiap kristalnya, aku bisa merasakan dingin yang luar biasa menusuk sampai ke sumsum tulangku sampai pada akhirnya aku merasa terbang, seringan salju.

Selasa, 24 Desember 2002 12.14 AM

Hari sudah beganti tapi Oppa belum juga kembali. Seingatku Suho Oppa tidak pernah bekerja lembur di kedai milik Jisun Oppa. Aku membuka selimutku dan duduk bersila di depan meja partikel bekas yang biasa kami gunakan untuk makan bersama. Di atasnya sudah tersaji dua mangkuk sundubu jjigae yang kumasak sendiri sebisaku malam tadi. Aku pikir saat ini supnya tidak panas lagi.

Oppa, pulanglah. Aku sudah bisa memasak sundubu jjigae. Apakah kau tak mau mencobanya?” ujarku lirih di tengah hujan salju yang lebat. “Malam Natal akan tiba hari ini. Jadi pulanglah.”

“Pulanglah.”

Selasa, 24 Desember 2002 9.03 AM

Ya, Yeri-ah! Kau tampak tak bersemangat,” Jungkook memecah lamunanku di sela-sela run through resital. “Tersenyumlah sedikit. Besok kita sudah akan tampil di acara besar. Kau tak senang?”

Aku tak menjawab.

“Junmyoon Hyung besok akan datang ‘kan? Aku penasaran dengan kakakmu yang selalu kau elu-elukan itu,” timpal Jungkook sambil melirik tajam.

“Kau bisa diam tidak? Aku pusing,” gertakku.

Rasanya hari ini waktu begitu lama berlalu. Aku menyelesaikan run through resitalku dengan setengah hati. Rasanya begitu berat melangkahkan kakiku berjalan di sepanjang trotoar menuju rumah. Satu-satunya hal yang aku inginkan adalah melihat Suho Oppa sudah ada di dalam rumah ketika aku membuka pintu nanti.

Aku melihat seorang wanita paruh baya dengan jaket tebal warna kelabu di depan pintu rumahku yang hampir bobrok. Ia memeluk erat sebuah kotak biola warna hitam dengan beberapa bagian yang peyok.

“Maaf, kau siapa?” tanyaku pelan. Matanya tampak sembab ketika menatap wajahku lekat-lekat.

“Kau… Kim Yerim?”

Selasa, 24 Desember 2002 1.53 PM

“Silahkan,” aku meletakkan secangkir coklat panas di hadapan wanita yang mengaku bernama Song Jiwon ini. “Ahjum—ah, maksudku, Eonni, maafkan aku, aku tak punya kursi.”

“Tak apa. Lagipula kedatanganku ke sini hanya ingin mengantar ini,” ia meletakkan kotak biola peyoknya di atas meja. Di salah satu retsletingnya tergantung sebuah kartu ucapan warna biru muda. “Aku tahu kotaknya peyok di sana-sini, tapi isinya masih mengkilap dan cantik.”

“Biola?”

Oppamu bilang kau akan tampil dalam resital Natal besok. Pakailah biola ini. Oppamu yang membelikan ini.”

“Tunggu… Ini—Oppa— Tunggu dulu—aku….” aku tak tahu harus mengatakan apa. Semua ini membuatku tak mengerti. Melihat raut wajahku yang semakin bingung, Jiwon Eonni menarik napasnya dalam-dalam.  Kini aku mendapati kedua matanya yang lebar menjadi lembab.

Oppamu yang membelikan biola ini semalam. Kau tahu, dia bekerja setiap hari, bahkan menjadi tukang sapu di Hari Minggu. Bermainlah dengan bagus dan buat Oppamu bangga.”

“Di mana Oppa sekarang? DI MANA SUHO OPPA?!” pekikku kesal. Aku tak tahu harus dengan bagaimana lagi mengekspresikan emosiku yang bergejolak di hadapan Jiwon Eonni.

Jiwon Eonni beranjak lalu mendekati pintu kamar tanpa terlihatakan menjawab pertanyaanku.

EONNI!!!”

Ia menoleh dan aku bisa merasakan rasa iba yang luar biasa dari pancaran kedua bola matanya yang mulai sayu. “Oppamu akan dikebumikan sore ini menjelang Malam Natal. Datanglah ke Pemakaman Gyeongju.”

Bahkan ketika Jiwon Eonni mengucapkan permintaan maaf, salam perpisahan dan menutup pintu kamar, semuanya seolah tak terdengar. Rasanya baru saja ada petir jutaan volt yang menyambar tiap jengkal pembuluh darahku hingga seluruh panca indraku berhenti bekerja. Dan kini aku merasakan lututku bergetar dan lemas. Sangat lemas, bahkan tak mampu menopang berat tubuhku sendiri.

Aku terduduk di tengah kamar. Rasanya ingin menjerit tapi semuanya tertahan di dalam leherku. Entahlah, kurasa untuk beberapa saat Bumi berhenti berrotasi dan waktu tak lagi bergerak maju. Suara Suho Oppa tempo hari masih terngiang-ngiang di dalam otakku, membuat batinku berkecamuk hingga sejenak aku merasa mual dan ingin meledak.

“Yeri-ah, tunggulah sebentar. Aku akan pulang membawakanmu sesuatu.  Kau percayalah padaku. Sekali lagi.”

Salju yang turun sudah tak sederas semalam. Aku membuka jendela lebar-lebar dan mendapati beberapa kristal salju masih melayang-layang di udara. Kuhirup udara dalam-dalam, memenuhi seluruh ruang paru-paruku. Bau musim dingin tidak pernah berubah.

Menenangkan.

Menyenangkan.

Oppa, apakah kau tidak pulang untuk merayakan Malam Natal? Oh, sebaiknya aku membersihkan rumah agar Oppa senang bila besok tiba di rumah. Oh, oh. Aku pikir aku bisa membuatkan sundubu jjigae dan coklat panas untuknya. Dia pasti kedinginan.

Rabu, 23 Desember 2015 4.49 PM

“Aku tak pernah lupa bagaimana Oppamu datang dengan pakaian lusuh dan membeli biola dengan uang recehan,” ujar Jiwon Eonni setelah menyesap kopi panasnya. “Apakah kau benar-benar kesal karena dia bekerja di Hari Minggu?”

“Suho Oppa selalu menyediakan Hari Minggunya untukku. Tentu saja aku kesal saat dia tiba-tiba menghilang dari rumah. Tapi rasa kesalku berubah menjadi penyesalan ketika aku tahu dia bekerja sampai tengah malam demi membeli biola untukku. Aku rasa aku sangat egois.”

“Junmyeon anak yang baik. Bahkan saat di saat kejadian itupun dia masih memeluk biolamu dengan erat agar tidak rusak.”

“Aku tahu. Aku sangat sedih aku tidak punya foto Oppa yang bisa kukenang.”

“Kau sudah mengunjungi makam Oppamu?”

Aku menggeleng. “Mungkin nanti.”

“Pergilah ke Gyeongju sebelum hari gelap. Kau bisa kembali ke sini bila membutuhkan tempat untuk tidur.”

Gomawo-yo, Eonni.”

Rabu, 10 November 1999 2.42 PM

“Yeri-ah, berhentilah menangis,” sahutku singkat ketika hanya tersisa kami berdua di samping makam Appa. Yeri yang duduk bersimpuh di dekat nisan Appa tampak melihatku dengan tatapan tragis.

“Suho Oppa, kau tak merasa kehilangan Appa?” isaknya.

“Kau bercanda? Tentu kehilangan,” aku berjongkok di sebelah Yeri, hingga aku bisa melihat dengan jelas wajah Yeri yang kusut karena air matanya sendiri. “Tapi Appa sedang tidur nyenyak. Tidur yang sangat lama. Kalau kau menangis terus, Appa pasti terganggu. Doakan saja Appa dan ayo kita segera pulang.”

“Suho Oppa—“

“Selagi Appa tidur, biarkan aku yang menjagamu sampai kau tumbuh besar dan menjadi wanita yang cantik. Biarkan aku yang memasakkan kimbab untukmu. Biarkan aku yang mengajarimu matematika. Arasseo?”

Oppa, berjanjilah untuk selalu di sampingku.”

“Tentu saja,” timpalku seraya beranjak dari makam Appa.

“Jani?”

“Janji.”

Rabu, 25 Desember 2002 8.53 AM

Hari yang kutunggu-tunggu sejak beberapa bulan lalu akhirnya tiba. Resital Natalku akan dimulai beberapa jam lagi. Aku berjalan gontai di sepanjang trotoar dengan membawa biola baruku dan ransel yang penuh dengan barang-barang.

Aku menyempatkan diri ke Pemakaman Gyeongju sebelum tiba di sekolah. Dengan sangat jelas aku bisa membaca nama Oppaku Kim Junmyoon diukir di atas salah satu nisan. Aku berjongkok untuk bisa memandangnya lebih jelas lagi.

“Selamat pagi, Oppa. Kau kedinginan?” bisikku lirih.

Kuambil sweater lusuh milik Suho Oppa dari dalam tasku lalu kukenakan di atas nisannya yang masih basah dan penuh dengan kristal-kristal salju. Aku masih bisa mencium bau wangi tubuh Suho Oppa yang menempel di sweater kesayangannya itu.

“Hari ini adalah hari resital Natalku. Aku akan berjuang keras untuk bermain dengan bagus. Kau tak perlu datang bila masih mengantuk. Tidurlah,” ucapku seraya meletakkan seikat bunga warna ungu di samping nisannya.

“Oh, ya. Oppa, terimakasih untuk biolanya. Aku sangat menyukainya. Meskipun aku sangat kesal karena kau meninggalkanku untuk bekerja demi biola ini. Maafkan aku.”

Oppa, aku masih ingat ketika kau menyuruhku tidak menangis di makam Appa. Tenang saja. Aku tidak akan menangis di makammu. Aku tidak akan mengganggu tidur nyenyakmu.”

Aku mengangkat tubuhku meninggalkan makam Oppa. Rasanya sangat berat untuk melangkahkan kaki walau hanya sejengkal, seperti ada yang tertinggal di sana. Dadaku semakin nyeri ketika aku semakin jauh meninggalkan makam Suho Oppa.

Oppa yang menjagaku.

Oppa yang rela bekerja menghidupiku.

Oppa yang pintar memasak.

Oppa yang…..

Aku berlari secepat yang aku bisa kembali ke makam Oppa. Aku tersungkur di atasnya dan memeluk nisan seerat yang aku bisa, tak peduli bajuku kotor terkena tanah dan salju. Aku tak menyadari sejak kapan air mataku menetes, tapi aku sudah mendapati wajahku penuh dengan air mata. Aku tak bisa lagi meredam emosi yang tertahan di dalam dadaku. Aku menjerit sejadinya. Aku menangis sepuasnya.

OPPAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

Rasanya baru kemarin kami makan berdua dalam satu meja, dalam kehangatan dan dalam berkat Tuhan. Aku tak tahu bagaimana caranya membiasakan diri untuk memulai hidup sendiri.

Rabu, 23 Desember 2015 5.38 PM

              Aku mendekatkan wajahku ke arah nisan makam Suho Oppa. Beberapa bunga dari peziarah sebelumnya masih ada di sekitar nisan. Aku tersenyum bangga. Di sanalah Oppa yang mengantarku menjadi seorang yang sukses tertidur lelap.

Oppaku, kau bisa berhenti untuk menjagaku sekarang, karena aku sudah tumbuh besar dan cantik. Kau bisa berhenti untuk memasak makanan untukku, karena aku sudah bisa memasak sundubu jjigae untukku sendiri.”

Aku membuka kartu Natal yang diberikan Suho Oppa bersama biolaku tiga belas tahun yang lalu. Masih terlihat jelas gambar Oppa yang konyol-gambar dua buah kristal salju yang saling berdekatan- dan juga tulisan “Selamat Natal adikku Kim Yerim. Aku mencintaimu.”

Tiga belas tahun sudah Oppa meninggalkanku, tapi rasanya Oppa masih ada di sini, di sampingku. Banyak hal yang kulewati selama hidupku, tapi memiliki kakak laki-laki seperti Kim Junmyeon adalah fase hidup terindah yang pernah aku lewati di dunia.

Aku menatap langit yang sama sekali tak berawan. Dari kejauhan aku melihat satu titik es turun dari langit, melayang dengan sangat lambat hingga tiba tepat di ujung dahiku.Kristal salju mulai berjatuhan, mencari kristal salju lainnya agar saling menguatkan. Ya, musim dingin telah tiba.

“Aku juga mencintaimu. Sangat mencintaimu. Oppa—“

.

.

.

Fin.

Hai, ini pertamakalinya saya bikin ff, lho. Jadi maaf kalo ada typo di sana-sini atau bahasanya masih kaya cerpen majalah anak-anak. Pertamanya bingung mau bikin ff seperti apa, karena saya bahkan nggak pernah baca satu ff sampai habis, loh…

Mungkin agak nggak umum ff ditulis sama cowok, makanya agak bingung juga bagaimana menuliskan cerita dari sudut pandang Yeri, takutnya Yeri malah terkesan macho (?). Silahkan kalo ada kritik dan saran bisa tinggalkan komen di bawah. Syukur-syukur kalo banyak yang suka, kalo nggak ya udah saya mau masak indomie aja.

Selamat Natal semuanya. Jangan lupa bahagia🙂

8 thoughts on “[Oneshot] Oppa”

  1. Ini ffnya sukses bikin aku mewek. Diksinya bagus kok. Ini ff pertama ? keren banget. FF pertama kata-katanya udah sebagus ini. Terusin nulisnya thor. Aku selalu suka yang genrenya family kayak gini,🙂

    Suka

  2. Ini pake sudut pandang Suho kan?
    Kalo Namja manggil Yeoja yang lebih tua manggilnya “Noona”. Kalo “Eonni” buat Yeoja manggil Yeoja yang lebih tua.
    Bingung disitunya sumpah.
    Gue kasih ******** bintang buat FF-nya.

    Suka

  3. gilaaaaa sumpah keren gue ga bisa comment apa apa lagi cuma apresiasi sebesar besarnya karna author sudah buat gue jadi berlinang airmata karna nangis gilaaaaaaaa kereeeeennn pesan buat author saya mohon tetap berkarya dan buat ff dengam genre bahagia/? kasian readernya pada nangis kejer pasti

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s