[Vignette] Ambulance

Ambulance

Ambulance

Sophie Kim (@astronoutkim)

Main Cast: Kim Wonshik (VIXX), Oh Sekyung (OC)

Genre: Sad | Rating: PG | Duration: Vignette

Summary:

            Ini bukan salahku, ini takdir dari Tuhan. Tapi aku akan bertanggung-jawab pada takdir ini. Maafkan aku.

Disclaimer: Fresh from my wild imagination. Still an amateur, so if you mind to give some review for me, I would be so thankful.

Gamsahabnida ^^

            Hari ini mentari sedang tak bersahabat dengan kami, para penduduk Seoul. Panasnya mampu didihkan darah. Ubun-ubunku mungkin sudah retak saking gersangnya diterpa panas. Jajaran pepohonan di sepanjang jalan tak banyak menolong mereka yang tengah berjuang dalam padat kemacetan kota ini. Aku yang tak ikut berkutat di dalamnya saja mampu mencicipi kepedihan mereka.

            “Macetnya sudah begini, tapi masih banyak orang yang memaksakan diri buat beli mobil,” ujar Sekyung diikuti decak lidah. Aku yang mendengarnya hanya bisa tersenyum saja dan mendengus pelan.

“Mereka punya kaki yang sehat tapi kenapa tak digunakan saja?”

Ya, keluhan yang sama seperti biasanya. Namun ada benarnya juga. Tuhan telah berbaik hati pinjami hambanya tubuh sehat dan bugar, namun mereka malah ikut bertingkah bak orang sakit. ‘Melemahkan’ diri sendiri.

“Apa perlu bertukar kaki denganku?”

Seperti menjatuhkan es batu pada wajan panas, hatiku mencelos mendengar kalimat itu keluar dari bibir tipisnya yang semerah stroberi. Tak sekali-dua kali kalimat singkat itu terucap. Namun selalu kurasa sakit saat dengarnya. Hal yang selalu buat sesalku menimbun adalah kenyataan bahwa aku hanya bisa mendorong kursi rodanya.

Tibalah kami di depan zebra cross pada persimpangan yang ramai dengung klakson mengudara. Indera pendengaranku menangkap sebuah gelombang dari kejauhan. Sebuah bunyi yang pernah berikanku secercah harapan untuk tetap hidup. Namun tidak dengan Sekyung. Ia terlalu asik mengoceh sehingga tak dengar bunyi itu.

Dengan segera kutarik kursinya menjauh dari jalanan. Gadis itu tersentak kaget, dipegang erat-erat kursi itu. Lantas kutangkupkan tanganku di bibir telinganya. Kuhalangi pandangannya dari keramaian jalan. Mobil dan motor yang penuhi ruas jalan, tersibak seiring dengan bertambah kerasnya suara itu.

Sebuah ambulans melintas dengan kecepatan tinggi. Dengung sirinenya merajai jalanan. Bebunyian klakson yang awalnya sesakkan telinga, mendadak senyap, raungan pertolongan taklukkan nurani tiap manusia.

Aku tak masalah dengan suara itu. Tiga tahun lalu, jika saja aku tak mendengar jeritan ambulans itu mungkin kini aku sudah terbalut tanah. Mati dalam reruntuhan setelah tertimbun selama dua hari. Menjadi korban terakhir yang ditemukan dalam sebuah tragedi runtuhnya mall yang na’as.

Hari itu adalah hari dimana aku sadar bahwa hidup dan mati hanya dipisahkan oleh sehelai benang.

Tapi tidak dengan Sekyung. Kenyataan bahwa akulah sebab ia tak lagi mampu melangkah, membuatku mengabdikan diri untuk misi terakhirku di dunia.

Hari itu, nyawaku tinggal setipis tisu. Sedetik saja terlambat tiba di rumah sakit, masa eksistansiku di dunia akan berakhir. Kiranya itulah alasan si supir ambulans  membawaku dengan tergesa.

Hari itu, di jalan itu, ambulans itu membawa seorang korban terakhir dari tragedi na’as runtuhnya mall.

Lalu, di hari itu dan di jalan itu, seorang wanita berlari dengan tergesa menyeberang jalanan lengang.

Ya, begitulah.

~*~

Hari itu, aku sedang berada dalam perpustakaan kota membaca berbagai macam buku yang bisa kubaca. Begitu hening, yang terdengar hanya suara lembaran yang berganti. Rupanya aku lupa mengubah mode handphone-ku menjadi silent karena ditengah kesunyian itu ia dendangkan lagu bertajuk ‘Just Right’ yang dibawakan oleh sekelompok pria asal Negeri Ginseng bernama Got7. Sontak seluruh mata menatapku dengan tajam.

Dengan gelagapan aku berlari keluar ruangan. Saat itulah aku mendapat kabar yang membuat duniaku berguncang.

“Ibu sedang koma…”

Ya, tanpa berpikir panjang aku langsung berlari menuju rumah sakit tempat ibuku di rawat. Kebetulan letaknya cukup dekat. Hanya perlu belok kanan pada sebuah pertigaan lalu menyebrang dan berlari sedikit maka sampailah aku.

Aku berlari… lari… lari… hingga aku tak peduli entah waktu kini tengah berhenti atau tidak. Entah berapa bahu kutabrak. Entah berapa orang meneriakiku dengan bahasa binatang.

Hanya lari… lari… lari… dan lari…

Aku tahu suara sirine itu mendekat, tapi telingaku seakan dibutakan. Aku bahkan tak sadar ketika sesuatu menghantamku dan tubuh ini terlempar. Lalu gelap. Dan saat kuterbangun, separuh tubuhku telah berpulang terlebih dahulu.

~*~

“Wonshik-ah…” suara Sekyung bergetar saat menyebut namaku. Tangannya yang awalnya menggenggam erat kursi roda kini rengkuh erat tanganku yang tutupi telinganya. Dapat kurasakan titik-titik keringat dingin keluar dari telapaknya.

Gwaenchana-yo… Gwaenchana… Naneun midojwo,” ujarku berusaha menenangkannya. Terus kuulang kata-kata itu hingga tak terdengar lagi dengungan sirine.

Kulepaskan tanganku. Kuputar kursi rodanya sehingga Sekyung bisa melihatku yang tengah berjongkok di depannya. Air mata mengalir deras dari kedua mata gadis itu. Matanya memerah, begitu pula hidungnya. Giginya bergemeletuk tak keruan, tubuhnya bergetar.

Berbeda denganku, bagi Sekyung suara ambulans adalah panggilan kematian. Kejadian hari itu meninggalkan ceruk ketakukan yang sangat besar. Trauma. Tangisnya makin menjadi selepas suara itu menghilang ditelan hiruk pikuk jalanan. Badannya berguncang hebat. Dengan keras, digigitnya bibir bawahnya untuk meredam jeritan yang ingin dilepaskan. Setetes darah mengalir, tapi tak dihiraukan. Masih kugenggam erat tangannya yang sedingin es.

Hatiku seakan dirajam melihat Sekyung terpuruk seperti ini. Apalagi kenyataan bahwa alasannya menjadi begini adalah aku.

Seandainya saat itu aku tak pergi ke mall, menunggui mantan kekasih yang tak kunjung datang.

Seandainya saat itu aku tak menyimpan harapan untuk dapat memebanhi hubungan yang kuhancurkan.

Seandainya saat itu aku masih bisa bertahan lebih lama.

Seandainya saat itu aku memutuskan untuk pergi

Atau seandainya saat itu aku mati di tempat.

Pasti, Sekyung tak akan menjadi seperti ini.

Kurengkuh tubuh mungilnya erat-erat. Kutahan goncangan tubuhnya. Kuelus rambut hitamnya yang telah kusut. Kulingkarkan tanganku pada tubuhnya dan kepalanya. Menahan getaran rasa takut dan duka yang bercampur aduk.

Mianhae…”

Akulah yang salah.

~*~

Kata orang namanya Sekyung, seorang gadis yang duduk di bangku taman menatap kehampaan. Ia duduk diatas kursi roda. Ialah gadis na’as yang menjadi lumpuh karenaku. Ketika ia tiba di rumah sakit hari itu, ibunya telah meregang nyawa. Betapa segalanya pasti terasa sulit baginya.

Karena tak tahan oleh rasa bersalah yang membuncah, akhirnya kudatangi ia untuk mengutarakan kata maaf yang selama ini kutahan. Dengan kaki yang masih di-gips, aku berjalan menghampirinya.

“Permisi… Saya Kim Wonshik,” kataku membuka pembicaraan. Tapi tak sedikitpun ia merespon, tatapannya hampa. Aku tak peduli. Dengan cepat dan ringkas segera aku utarakan maksudku. Dan tanpa ba-be-bo aku langsung pergi karena sadar ia tak peduli.

Baru sekali kumelangkah, sebuah tangan penuh keringat dingin menahanku dan menggenggam dengan sangat erat. Terdengar raungan sirine dari arah gerbang rumah sakit.

“Jangan tinggalkan aku sendiri.”

Sekyung akhirnya membuka mulut setelah seminggu mogok bicara. Aku berbalik dan menatapnya dengan heran. Dengan halus kuberusaha untuk lepaskan tanganku darinya.

“AAAAAAAAAHHHHHHHHH!!!”

Ia menjerit. Matanya terpejam. Kuku jemarinya merasuki daging tanganku sekuat teriakannnya.

Dari sanalah aku tahu misi terakhirku di dunia ini. Bertanggung jawab untuk semua ketidaksengajaan takdir.

Should I give my life to stop your tears from falling down?

-fin-

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s