Danger [4/4]

dangerbybbon

DANGER [4/END]

Scriptwriter: Elisomnia

Title: Danger

Cast: Jeon Jungkook (BTS), Alexa Choi (OC), Min Yoon Gi (BTS), other…

Genre: Crime, psychology, thriller, angst

Duration: Chaptered

Cover by Bbon

Previous part: 1. 2. 3

Credit langsung pada creepypasta bersangkutan

––JUNGKOOK sudah mati! Perkenalkan… aku JASON––

|..|

“Kau mau teh atau kopi pagi ini?”

Bocah lelaki yang ditanya itu terlihat diam, berpikir atas jawaban apa yang sebaiknya ia berikan atas pertanyaan noona-nya barusan.

“Sepertinya teh enak,” ujarnya kemudian.

“Baiklah.” Gadis itu segera membuatkan teh dengan telaten. Bolak-balik dari kompor dan bar dapur hanya untuk mengecek apakah panekuk spesial yang dibuatnya sudah matang atau malah gosong.

Tak beberapa lama kemudian, dia berbalik dan berjalan menuju meja makan dengan membawa dua cangkir lucu bergambar Rilakkuma dan satu cangkir lainnya yang lebih kecil dan berwarna putih polos.

“Ambilah gula sesuai seleramu. Ingat, jangan terlalu banyak jika kau tidak ingin terkena diabetes.” Bocah itu––Jungkook, hanya terkekeh pelan pendengar ceramah Ale pagi ini. Gadis itu kembali ke kompor dan mematikannya. Beberapa menit kemudian ia berbalik lagi menuju meja makan.

“Ini. Panekuk spesial pesananmu.” Ale meletakan dua porsi panekuk untuk dirinya dan juga Jungkook. “Enak sekali, tapi agak pahit. Sepertinya gosong.” Ale memutar bola matanya sekaligus menatap Jungkook datar. “Suruh siapa memaksaku untuk memasaknya? Aku baru pertama kali memasak panekuk jadi maklum.” Jungkook menyuapkan potongan kecil panekuknya kedalam mulut dan menimangnya sejenak sambil mengunyah. “Tidak buruk untuk seorang pemula.” Gadis itu tersenyum manis dan ikut memakan bagiannya.

“Sepertinya kau suka sekali dengan panekuk?” Jungkook hendak melahap suapan kesekian panekuknya, namun ia mengurungkan niat; berpikir jika lebih baik ia menjawab pertanyaan Ale terlebih dahulu.

“Ya, dulu ibuku sering membuatkannya untukku. Kau tahu, noona? Masakannya itu yang paling spesial.” Jawabnya riang dan membuat Ale mengulum senyum lagi.

Sepertinya ia mulai bisa merelakan orang tuanya dan bersikap wajar––tidak sedih seperti dulu, pikir Ale.

“Kau mau tambah madunya?” Jungkook beralih dan menatap botol penuh madu itu dengan mata berbinar. “Boleh.” Dia menyodorkan piringnya yang hanya tinggal 2 lembar panekuk dan berseru kegirangan saat cairan kental nan harum itu melumuri setiap inci dari makanan kesukaannya itu.

Sarapan pagi itu mereka jalani dengan penuh canda tawa. Sesekali saling melempar lelucon yang akan membuat mereka tergelak lagi, lagi, dan lagi.

Noona, apa kau tidak bekerja?” pertanyaan Jungkook yang tiba-tiba itu membuat Ale mengangkat kepalanya dan  menatap bocah itu lekat. “Pekerjaanku kan hanya menjagamu.” Jungkook menggeleng pelan dan cukup lama. “Bukan itu maksudku. Tapi, kuperhatikan kau tidak pernah lagi pergi ke kantor polisi itu.” Ale terlihat ber’oh’ ria lewat mulutnya yang membulat tanpa mengeluarkan suara. “Tidak ada panggilan penting, untuk apa aku kesana?” mata Jungkook menyipit, “Ya siapa tahu saja kau kangen dengan pacarmu.” UHUK-UHUK-UHUK-UHUK. Batuk lebay?

“Pacar? Siapa? Aku tidak punya pacar!” Sergah Ale segera setelah menegak habis tehnya. “Tidak usah bohong. Hyung yang waktu itu ada di pemakaman, yang menemanimu sampai akhir karena kau tidak mau pulang, yang matanya sipit keatas, dia pacarmu kan?” pemakaman? Pemakaman Hyo Shin maksudnya? Aku kembali mengorek ingatanku dengan sedikit tidak niat. Menemani sampai akhir? Matanya sipit keatas? Jangan-jangan,

“Yoon Gi maksudmu?”

“Ya mungkin. Aku tidak tahu namanya.”

Kontan saja aku terbahak dan sulit untuk menghentikan tawa ini. Yoon Gi? Pacarku? Buahahahahaa…

“Ya ampun Jeon Jungkook, dia bukan pacarku.” Jungkook menatap bingung kearah Ale yang masih tergelak sampai-sampai duduk dilantai. “Benarkah?” gadis itu mengganti tawanya dengan kikikan kecil sekaligus mengangguk. “Dia adalah sahabatku sejak SMP. Mungkin karena itu kita terlihat akrab sampai-sampai kau mengira kami berpacaran.” Namun sekuat apapun Ale menahan, tawanya kembali mengudara. Jungkook ikut tertawa kecil sambil menggaruk belakang kepalanya, “Oh, kukira dia pacarmu, haha.”

“Sudahlah, sudahlah, aku akan mencuci piring dan bersih-bersih rumah. Kau mau membantu?” Jungkook mengangguk mantap.

––skip

Alexa POV

Huaahh… lelah sekali.

>Gedebuk< bunyi keras yang timbul dikarenakan tubuhku yang sengaja kujatuhkan di kasur kamarku. Setelah membersihkan rumah rasanya benar-benar remuk tubuh ini. Padahal Jungkook sudah membantuku bersih-bersih, tapi masih juga terasa capeknya. Bisa terbayang saat tak ada dia, tubuhku yang kecil ini pasti sudah seperti ampas tahu.

Aku kembali tertawa kecil mengingat Jungkook yang mengatakan kalau Yoon Gi itu adalah kekasihku. Hah, masih kecil tau apa dia soal pacar?

Ngomong-ngomong, sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Beberapa kali aku berusaha menghubunginya tapi selalu tidak diangkat. Mungkin dia sibuk saat itu. mengingatnya membuatku rindu. Kucoba telepon dan menunggu nada sambung itu dengan sabar. Kupikir kesibukannya agak berkurang sekarang.

Aku mulai menggigit kuku gusar saat nada sambung itu berubah menjadi suara ramah wanita operator yang mengatakan jika nomor yang kutuju tidak dapat menerima panggilan. Kenapa selalu seperti ini? sudah sembilan kali aku mencoba dan suara wanita operator yang selalu menyambutku. Jariku kembali asyik dilayar datar ponselku, menggeser-geser mencari nomor yang lain.

Tuan Park.

Awas saja kau Min Yoon Gi, akan aku tanyakan langsung kepada bosmu sendiri.

“Halo? Alexa?”

“Halo, Tuan Park,”

“Tumben kau menelpon, ada apa?”

“Aku hanya ingin bicara dengan Yoon Gi, apa bisa? Sebab nomornya aku hubungi selalu gagal.”

Terjadi hening cukup lama. Diseberang sana aku tak mendengar suara Tuan Park, napasnya pun tak aku rasakan. Apa sambungannya terputus? Kulihat sejenak layar ponselku. Tidak. Ini masih tersambung.

“Tuan?”

“Oh, iya!”

Terdengar suara Tuan Park yang terkaget.

“Apa aku bisa bicara dengan Yoon Gi? Sebentar saja.”

“Apa Dr. Chae belum memberitahumu?”

Aku menelengkan kepala bingung. Dr. Chae adalah teman Yoon Gi di laboratorium. Mereka bekerja di bidang yang sama.

“Memberitahu apa?”

Terdengar helaan napas berat milik Tuan Park,

“Datanglah ke kantor polisi sekarang!”

>Pip<

Sambungan diputus sepihak. Ada apa sebenarnya? Entahlah, yang aku tahu, aku harus segera siap-siap dan pergi kesana.

.

.

.

“Api menyembur dengan hebat tepat setelah tubuhnya mencapai dasar jurang. Begitulah menurut saksi mata.”

Tuan Park menutup ceritanya dengan berdehem keras. Tubuh tambunnya bergerak dengan susah untuk dapat menembus celah sempit antara meja dan kursinya. Bunyi berdecit kursi yang cukup keras mengudara saat bokongnya berhasil mencium permukaan kursi. Sementara itu, pandanganku sudah kabur. Air mata yang menggenang di pelupuk mataku mulai turun membentuk aliran sungai bercabang. Tanganku yang tengah memegang sebuah dokumen semakin bergetar hebat. Dokumen… kematian karyawan.

Dalam dokumen itu tertulis bahwa Min Yoon Gi––sahabat yang sangat kukasihi, meninggal dunia dua minggu yang lalu. Aku semakin tak dapat menahan duka saat menyadari sesuatu. Dua minggu yang lalu adalah hari yang sama dengan pemakaman Hyo Shin. Hari itu, hari dimana dia menyerahkan map coklat dari Hyo Shin. Tak kusangka hari itu adalah hari terakhirku melihatnya.

“Dr. Chae, apa kau lupa memberitahu Ale?” aku memejamkan mataku erat dan terisak. Kudengar suara Dr. Chae yang ketakutan namun sama sekali tak terdengar bergetar, “Maaf, Tuan, saya lupa.” Dasar orang dingin satu ini. Terlihat seperti sahabat Yoon Gi karena selalu dekat dan bekerja di satu ruangan, tapi sikapnya tak menunjukkan seperti sahabat pada umumnya.

“Terimakasih atas informasi penting ini, Tuan. Aku mewakili Min Yoon Gi, meminta maaf atas semua kesalahan yang dilakukannya baik disengaja maupun tidak. Percayalah, dia orang baik.” Cukup! Aku tidak bisa lagi menahan air mata ini. Aku segera keluar dari ruangan Tuan Park dengan sesenggukan.

Didepan kantor, aku menyetop taxi dan segera pulang ke rumah.

.

.

Sampai dirumah, aku melihat Jungkook sedang menonton tv bersama Brad. Tertawa keras dan sesekali mengajak Brad bicara ini itu dengan jarinya yang menunjuk-nunjuk tv. Aku melongok sedikit. Oh, ternyata mereka sedang menonton kartun. Bocah itu, polos sekali.

“Oh, noona... kau menangis lagi?” aku hanya menatapnya sejenak sebelum tungkaiku dengan ringan menaiki anak tangga. “Noona kenapa?” aku tetap tak mengindahkan pertanyaannya. “Jawab aku!” aku tersentak dan langsung jatuh terduduk ditangga. Terisak, lagi.

“Kau kenapa?” dia duduk disampingku dan mengelus pundakku pelan. “Orang itu mati.” Elusan dipundakku berhenti. Kupikir dia kaget, tapi sejurus kemudian dia menepuk-nepuk pundakku. “Yoon Gi Hyung, maksudmu?” aku menyembunyikan wajahku diantara lutut dan tanganku. Aku diam dan berharap dia akan mengerti jika diamku adalah ‘iya’.

“Kenapa lagi sekarang? Aku bingung dengan keadaan ini.” aku tak menanggapi omongan Jungkook dan lebih memilih diam lagi. Asal kau tahu Kook, aku pun bingung dengan keadaan ini.

“Mau minum, noona? Untuk sekedar menenangkan diri.” Tawarannya aku balas dengan gelengan. “Tidur lebih baik.” Aku berdiri dan berjalan menuju kamarku. Tidur memang selalu menjadi pilihan utamaku jika sedang sedih.

.

.

.

Author POV

Alexa membuka matanya perlahan. Dia meregangkan otot-ototnya dan menguap lebar. Jam berapa sekarang?

21.38

APA?!!

“Aku tidur lama sekali! Yang benar saja?!” pekiknya dan langsung duduk dikasur. “Oh ya, aku ingat. Tadi jam empat sore aku sempat bangun untuk sekedar memasak makan malam dan duduk-duduk di dapur. Setelah itu aku tidur lagi :v “ gadis itu menyengir lebar dan tertawa mengingat kebodohannya.

Tiba-tiba dia kembali teringat dengan sidik jari yang kemarin. ‘Apa yang sebaiknya aku lakukan dengan sidik jari itu?’ batinnya sambil menimang.

“Aha!”

“Aku tahu. Aku harus menghapus sidik jari itu dari daftar berkas kepolisian atau apalah itu. Pokoknya laporan tentang sidik jari itu harus hilang. Harus!”

Sidik jari itu harus menjadi rahasia yang hanya Hyo Shin, Yoon Gi, dan Ale yang mengetahuinya. Tidak ada lagi. Akan sangat berbahaya jika semua orang tahu yang sebenarnya. Ale bersumpah, tidak akan menyesal jika perbuatannya ini salah atau dosa karena mendukung pihak yang salah. Tapi dia merasa ini sudah tugasnya.

Seorang Alexa Choi sempat dibuat bingung dengan tampilan dari kumpulan berkas kepolisian yang ditata sedemikian rapih. Rumit sekali jika tidak terbiasa. Jarinya dengan lihai menggulung halaman kebawah, matanya bergerak cepat dan baru kali ini dia merasa telah membaca dengan sangat teliti dan serius.

‘Ah, dapat. Ini dia berkasnya.’ Agak sulit membukanya karena file itu diberi kata sandi. Untung saja saat itu mendiang Yoon Gi memberikan kata sandinya yang tertulis dibalik kertas-kertas yang masih satu map dengan map coklat itu. “Yeah, akhirnya terbuka juga.” Tinggal mengklik tombol ‘hapus’ dan semua akan selesai. ‘Ayo, sedikit lagi Ale.’ Dalam hati gadis itu sudah berteriak girang.

Tunggu, kenapa lagi ini? Kenapa tidak bisa dihapus? Sial!

>Cklek<

Ale melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 22.54. ‘Siapa yang berani memasuki kamarku dimalam selarut ini?’ kata hatinya berucap was-was.

Ah, silau. Apa itu? Sebuah benda mengkilap yang dapat memantulkan cahaya bahkan oleh lampu remang-remang di kamar itu. Dan juga terasa tidak asing bagi Ale. Pi-pisau?

“Siapa kau?!”

Teriakan gusar keluar dari mulut mungilnya saat sosok itu semakin mendekat. Pria tinggi dengan hoodie hitam hampir menutupi seluruh wajahnya. Berjalan tertatih-tatih dan penuh dengan aura kelam. Dan pisau ditangannya,

‘DIA INGIN MEMBUNUHKU!!!’

“Jangan mendekat!!!!!!!!!!!!!!!”

Gadis itu mencengkeram guling dan mengarahkannya kehadapan orang itu. Membayangkan jika guling itu seperti tongkat baseball yang bisa digunakan untuk memukul orang itu jika dia macam-macam. Ale tahu, tekstur empuk guling tidak sama dengan pemukul yang keras itu. Tapi mau bagaimana lagi? dia hanya punya ini!

Ale semakin waspada saat tangan orang itu perlahan terangkat dan menangkup wajahnya sendiri, membuka topi jaketnya. Wajahnya yang daritadi tersembunyi kini mulai tersingkap,

“JUNGKOOK!!!!!”

“JUNGKOOK sudah mati! Perkenalkan… aku JASON.”

Apa-apaan ini? Mana Jungkook yang aku kenal? Siapa Jason? Apa maunya? Tuhan, tolong aku!!!!!

Gelap.

.

.

.

.

Epilog

Aku terbangun tengah malam dan merasakan suatu perasaan tak enak. Kunyalakan lampu mejaku dan melihat genangan darah yang sangat banyak diselimutku.

Aku menjerit dan berlari keluar kamarku. Aku buru-buru turun ke lantai bawah dan melihat Brad, kucing Anggora itu kini terbaring bersimbah darah di dasar tangga. Apa ini?! Pembantaian lagi?

Aku mendengar suara di dapur. Pembunuh itu masih ada disini!

Aku segera berlari ke atas lagi untuk menemukan anak itu, berharap dia masih hidup. Aku membuka pintu kamarnya dan melihat kolam darah dilantai. Tidak! aku terlambat!

Aku mendengar sang pembunuh naik ke atas. Pelan namun pasti, ia membuat suara decitan ketika kakinya menginjak anak tangga yang terbuat dari kayu. Aku meringkuk di pojok ruangan. Sial, tak ada lagi jalan keluar.

>cklek<

Aku bernapas lega. Itu bukan pembunuh, ternyata itu adalah pria berseragam polisi. Tuan Park.

Aku hendak berlari ke arahnya, meminta tolong. Namun ia justru bergerak mundur ketika melihatku.

“Ke-kenapa?” tanyaku ketakutan, “A-apa dia ada dibelakangku?” lanjutku dengan gemetar. Kemudian ia berkata dengan suara tegas sambil berusaha meraih pistol yang ada di sabuknya,

“Ale, tenanglah dan berikan kepadaku pisau itu!”

Mataku seketika membulat dan melihat benda apa yang ada ditangan kananku.

>klontang<

Spontan, aku melempar pisau yang entah sejak kapan berada digenggamanku kesembarang arah. Tanganku merah. Bau anyir menguar dari cairan kental yang memenuhi kedua tanganku. Apa yang telah aku lakukan?

Brakk…

Aku mendongak. Kulihat Jungkook terduduk dibelakang Tuan Park sambil memegangi perutnya dan telah diperban, bercak-bercak merah kulihat menghiasi perbannya.

“Kau kenapa kesini? Sudah kubilang tetap di ambulance jika lukamu sudah diobati.” Jungkook mengangkat tangannya dihadapan Tuan Park, menandakan dia baik-baik saja.

“Jungkook,”

Panggilku dan dia menoleh untuk menatapku. “Jungkook sudah mati, noona. Kembaranku sudah lama mati. Namaku Jason.” Aku tertegun. Kembali dibuat bingung dengan keadaan ini. Aku tidak tahu jika Jungkook punya kembaran.

“Sebelumnya, aku tinggal di Amerika, jadi aku biasa dipanggil Jason. Nama lahirku, Jeon Jungsuk. Aku kembali dan memutuskan menetap disini setelah kau membunuh Jungkook. Ya, kau yang membunuhnya, ingat?”

Aku semakin tercekat mendengar penjelasannya. Aku… pembunuh?

“Aku mengetahui semuanya. Kau membunuh mantan adik kelasmu itu karena kau ingin balas dendam kan? Orang tuamu, mereka mati bukan karena kecelakan pesawat, tapi karena depresi lalu bunuh diri. Kau bohong saat itu. Apa kau tidak ingat semua itu?!”

Apa yang dia katakan? Apa maksudnya?

“Semua orang bilang orang tuaku licik, orang-orang juga mengatakan ayahku lah penyebab mereka bunuh diri, padahal itu karena pegawai perusahaan ayahmu yang banyak korupsi dan akhirnya perusahaan itu menjadi bangkrut. ITULAH PENYEBAB MEREKA DEPRESI, ALEXA!!!”

Aku terdiam. Mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Jungkook, bukan, maksudku Jason. Dia berteriak dan membentak. Baru kali ini kulihat dia semarah itu. Napasku memburu. Ini terlalu sulit.

“Selain orang tuaku, kau juga membunuh kedua sahabatmu.”

“APA? TIDAK MUNGKIN!!!!” bentakku.

“Aku bahkan memergokimu menyayat perut Ema kala itu.”

Semua ini tidak benar kan?

“Hyo Shin Hyung, dia sangat percaya padamu. Aku tahu, dia selalu mencurigaiku yang bukan-bukan. Tapi setelah kenyataan terungkap, kau membunuhnya menggunakan bantal itu.”

Tangannya menunjuk kearah kasur dan dapat kulihat bantal putih penuh bercak merah dengan gambar Superman ditengahnya. Bantal yang ia maksud.

“Sedangkan Yoon Gi Hyung…”

Dia mengehela napas sejenak. Raut wajahnya terlihat kesakitan.

“Kau yang membakarnya.”

Aku ambruk dan kembali meringkuk disudut ruangan. Aku tidak percaya ini. Bocah itu sakit! Semua omongannya tidak benar.

“Yoon Gi Hyung juga sangat percaya padamu, dia menyayangimu. Dia tahu kau pelakunya, tapi dia tetap diam.”

Aku menangis. Ada apa denganku?

“Disaat seseorang mengetahui jati dirimu, kau menghabisi mereka tanpa ampun. Kau takut kan kalau mereka akan membongkar semuanya?”

“Bohong! Bocah sinting! Kau terlalu mengada-ada.” Aku tak tahu bagimana rupaku sekarang. Seperti monster kah? Aku tahu aku tengah menyeringai sekarang, terkekeh pelan sebelum melanjutkan, “Kau pasti menjebakku. Jelas-jelas tadi kau ingin membunuhku. Memasuki kamarku dengan membawa pisau. KAULAH PELAKUNYA!!!!!!!!!!”

Dia tertawa kecil, “Semua ini jebakan, noona. Kau bahkan tak begitu pintar untuk menyadari jika kami semua menjebakmu.”

Apa? Tubuhku menegang seketika. Aku ketakutan.

“Tahukah kau, noona? Tadi, kau berubah menjadi sosok yang menakutkan saat aku mengarahkan pisau padamu. kau merebut pisau itu dan kontan saja aku lari ke kamarku. Kau bahkan sempat menyerangku.”

Jelasnya sambil merintih memegangi perutnya. Jadi luka di perutnya itu karena… aku?

“Pada awalnya kami tidak percaya semua penjelasan Jason saat merencanakan jebakan ini. Tapi setelah melihat semuanya, kau benar-benar berbahaya, Ale.”

Tuan Park menatapku tajam dan penuh kebencian. Tidak, sebenarnya aku kenapa?!!

“Jadi… aku ketahuan ya?”

Tunggu, siapa ini? ini bukan diriku!

“Kalian tak tahu seberapa menderitanya aku. Semua perlakuan kasar orang tuaku dan ketidak pedulian mereka terhadapku. Kupikir setelah mereka mati, penderitaanku akan berakhir. Tapi ternyata aku salah.”

Aku tidak dapat mengendalikan diriku. Siapa ini? siapa saja tolong aku……

“Memangnya kenapa kalau aku membunuh mereka semua? Semua orang akan melakukan sesuatu agar rahasianya tidak terbongkar kan? Mereka juga bukan orang penting.”

Sosok itu berujar tenang dengan suara dingin. Astaga! Siapa dia?!

“Tidak penting? Kalau begitu kau sampah!”

Aku mendengar suara Jason berteriak dengan geram. Apa yang sebenarnya terjadi disini?

“Oh,” kakiku bergerak. Berdiri dan mulai melangkah satu meter kedepan. Aku tak mengerti dengan diriku. Aku hanya bisa diam dan membiarkan sosok itu menguasai tubuhku.

“Kalian ingin membunuhku? Bunuh saja aku! Aku ingin semua kesakitan ini berakhir sekarang juga. Kau! Tuan gendut! Cepat tembak aku!!”

Aku sudah tak sadarkan diri seiring dengan sosok lain yang menjejali tubuhku. Namun telingaku masih bisa menangkap teriakan-teriakan yang sosok itu lontarkan.

“Kami tidak akan melakukan itu. Cepat kalian tangkap dan tahan dia di sel X37Bc!”

Sel X37Bc. Aku pernah mendengar tentang sel itu. Sel terpencil, terkumuh, dan terkejam diantara semua sel yang ada di kepolisian itu. Sel yang diperuntukan untuk mereka yang berbahaya. Dan aku? Berbahaya? Tidak, tidak, bukan aku, tapi orang ini, sosok yang melekat dalam tubuhku ini, dialah penyebab aku menjadi berbahaya.

“Kenapa harus ditahan? Kenapa tidak bunuh sekalian? Kalian sengaja ingin menambah penderitaanku, hah?!!”

Dia berontak saat dua orang petugas menyeretnya keluar. Dia berteriak tak karuan seperti orang kesetanan. Eh,

dia bukan orang,

dia memang……….

Iblis.

.

.

.

.

.

“Hati-hati, Ale…………….. Hati hati pada dirimu sendiri.”––Min Yoon Gi

“Sekarang kau tahu kebenarannya!…………….. mengejutkan bukan?”––Kim Hyo Shin

“Bukan aku, tapi kaulah yang SAKIT, Noona.”––Jason

 

“Siapa saja tolong aku…………….. tolong jelaskan padaku! Siapa yang ada dalam diriku?”––Alexa Choi

 

 

 

fin.

Pernah dipost diblog pribadi : https://elisomundo.wordpress.com/
Mampir ya😀

15 thoughts on “Danger [4/4]”

  1. Heol ,,ending nya gak ketebak ,,
    joha joha joha ><
    annyeong new reader,maaf ga komen di chapter seblumnya😀 krang greget// klo blum ending😀

    Suka

  2. Wow itu keren..
    Maaf ga sempet komen di chapter sebelumnya…
    Soalnya uda bener” penasaran sm kelanjutannya…

    Yah… kukira itu tadi jungkook…
    ternyata bukan…
    ah pkok nya daebak lah buat ff ini
    Saranghae….. ({})

    Suka

  3. Endingnya gak ketebak😮 wah daebbak (Y) author jago bikin ceritanya😉 sesuatu yg tdak terbayangkan….
    Astaga aku sampe ketipu loh bacanya saking seriusnya😀
    cerita yg bgus thor🙂 di tunggu karya2mu selanjtnya… Fighting😉

    Suka

  4. aku masih bingung maksudnya gimana ya?
    kok bisa gitu endingnya?

    maaf thor new reader soalnya
    mianhaee
    tapi bagus kok ceritanya muter otak sampe sekarang
    hehe hwaiting!

    Suka

    1. awalnya emang aku bikin pelakunya jungkook. tapi waktu aku post di sebuah grup di facebook, keknya udah pada bisa nebak endingnya, jadi deh aku puter otak dan bikin Ale aja pelakunya xD
      btw, makasih udah sempetin baca + comment ^^
      maaf slow respon :’)

      Suka

  5. Whoaaaa…daebak
    Eonni mikirnya kookie pembunuhnya…gak taunya malah si ale yg bipolar
    Serem,keren,neamu joha lah..
    Keep writing saeng
    Salam
    Ahra eonni

    Suka

  6. Gila! Benar-benar gila.
    Kukira, Jungkook-lah pelakunya.
    Tapi… Alexa benar-benar sinting
    Oh Hell. Orang seperti itu sangat menakutkan.
    Good Story. Tak tertebak

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s