[Ficlet] Wrecker

Wrecker

Wrecker

anxthersoul – words count: 957 words (ficlet)

SEVENTEEN’s Jeon Wonwoo || GFRIEND’s Jung Eunbi

Genre: romance, family, a bit of friendship.

Rating: general.

Cast adalah milik Tuhan, SEVENTEEN, dan GFRIEND. Alur cerita dan penyusunan milik saya pribadi. Salam hangat, anxthersoul.

© Dec, 2015

-=-=-

Terkadang aku merasa beruntung anjingmu waktu itu masuk kedalam ruang apartemenku tanpa aku dan teman se-apartemenku tau dan menghancurkan karyaku lalu aku tak sadarkan diri saat tau itu salah satu dari semua ketakutanku.

-=-=-

Hidupku cukup dengan menatap komputer dihadapanku atau duduk di bangku depan meja kaca. Cukup mudahkan? Yang kau butuhkan hanya satu-dua ide yang kau perlu pikirkan di otakmu lalu buat semuanya jadi nyata diatas drawing pad yang tersambung pada komputermu atau diatas lembaran kertas putih yang ada diatas meja. Tapi percaya padaku, kadang semua itu membuatku gila. “Hey, Jeon.” Kalau yang itu, teman satu apartemenku.

Oh, aku lupa. Tambahkan bahwa aku hanya seorang pelajar semester satu berumur sembilan belas yang memutuskan untuk kuliah online.

“Apa?”

“Kau yang beli pasokan bulan inikan?” tanpa menoleh kearahnya, aku mengangguk mengiyakan. “Kau yang pergi ya.” Baru setelah ucapannya, aku menoleh kearahnya.

“Kau sajalah. Nanti aku beri uangnya padamu.”

“Hari ini jadwal belinya, aku gak bisa.”

“Kenapa?”

Seungcheol mengajakku ikut kencan buta.”

“Yasudah, besok kau beli.”

“Sama saja.”

“Kenapa?”

“Aku ada ujian.”

“Gila.” Ia tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya tak terkecuali gigi taring yang panjang itu. “Ya-ya, terserah. Sana pergi.” Tak apalah. Sudah lama tidak keluar rumah selain pergi ke tempat bibi Kwon untuk membeli udon, tteokppoki, kimchi, dan semacamnya. Jarak toko milik bibi Kwon dengan apartemen ini juga tak seberapa.

Mingyu sudah pergi menuju tempat tujuan kencan butanya atau apalah itu sehabis aku mengatakan ya. Mingyu sialan. Melempar pensil ditanganku dengan asal keatas meja kaca dihadapanku lalu berdiri. Udara diluar sepertinya sudah masuk dalam udara dingin, salju juga semalam sempat turun. Menarik mantel biru dongker yang membungkus kursi kerjaku lalu pergi meninggalkan apartemen yang terkunci. Melangkah menuju pemberhentian bus terdekat, aku bahkan hampir lupa bus mana yang harus kunaiki.

Tapi beruntung tebakanku kali ini benar. Didepanku juga sudah berdiri supermarket kota. Jadi aku hanya masuk kedalamnya, mengambil semua keperluan, membayar semuanya dengan kartu bank yang kumiliki lalu pergi mencari taksi dan kembali ke apartemen dengan selamat sentosa.

Membiarkan plastik-plastik itu diatas lantai dekat dapur dan biarkan saja nanti Mingyu yang bereskan lalu kembali keluar rumah untuk mengisi ulang segala macamnya. “Halo bibi Kwon!” sapaku ramah pada wanita paruh baya yang tengah menyendok tteokppoki kedalam mangkuk milik anak semata wayangnya.

“Oy, Jeon!” anak semata wayang yang tak pernah bisa duduk diamnya itu Soonyoung namanya. Aku membalas lambaian tangannya dan kembali memalingkan mukaku.

“Bi, seperti biasa ya.” Ucapku memberikan kotak makan milikku untuk diisi. Bibi Kwon mengangguk, lalu masuk kedalam pintu dibelakangnya. Tapi ada satu saja individu yang mengalingkan perhatianku dari wajan berisi tteokppoki dihadapanku. Gadis itu—rasanya tidak pernah lihat di daerah sini.

“Kau terkagum oleh sepupuku ya?” ya. Dan bocah tengil bernama Soonyoung ini berhasil memecah harap dalam pemikiranku. “Dia sepupuku, Jung Eunbi. Mau kukenalkan?” kembali Soonyoung melontarkan kata-katanya sambil mengambil satu-dua tteokppoki dari wajan didepanku.

“Tak perlu. Terima kasih.”

“Yasudah. Padahal aku sedang baik. Dia populer di sekolahnya karna kecantikannya. Jago bernyanyi lagi.” Ya baiklah Soonyoung, aku tak terlalu butuh informasi itu, lagipula bibi Kwon sudah selesai dengan pesananku jadi sampai nanti. Lalu aku berjalan keluar dari toko tersebut. Sepertinya, udara seperti ini cocok untuk minum satu kaleng bir.

Membuka sekaleng bir itu dan meneguknya tanpa melepasnya dari mulutku sampai habis. Kembali berjalan menuju apartemenku tercinta dan masuk kedalam pintu yang terbuka lebar.

Tunggu.

Pintu yang terbuka lebar—“KENAPA ADA ANJING?!” lalu semuanya gelap untukku.

Dan tak lama ketika aku terbangun, aku baru menyadari satu hal—“Kau, tak apa?” gadis yang duduk disamping kasurku tiba-tiba menempelkan telapak tangannya diatas dahiku. “Tidak panas kok, maafkan anjingku yang tiba-tiba masuk ke apartemenku ya…”

Ada yang aneh.

Gadis?

Yang tau kunci apartemenku hanya keluargaku, keluarga Mingyu, dan Mingyu. Ada yang salah—Gadis?!

“Ha. Kau siapa?” kembali mengulang memori sialan ini dan menemukan bahwa ia—“Kau sepupunya Soonyoung-kan? Kenapa ada disini?” mengumpulkan semua nyawaku lalu duduk diatas kasur. Baru menyadari satu hal, lagi. Dengan bergegas menarik badanku untuk berdiri, berlari kearah meja kaca yang terletak didepan jendela.

Robek. Karyaku, robek. “Apa yang anjing sialan itu lakukan dengan proyekku?!” suaraku melengking naik. Menatap gadis yang masih duduk ditempatnya dengan kesal. “Keluar kau!” menarik kasar gadis tersebut dan mendorongnya keluar apartemen.

“M-maaf. Aku tidak tau.” Sebelum pintu benar-benar kututup, gadis itu berkata penuh penyesalan. Lupakan tentang kertas robeknya, bagaimana caranya aku mengulang halaman webtoon yang dirobek oleh anjing milik gadis tadi. Serpihannya tidak jelas. Berantakan diatas  meja kerjaku. Pensil kayu berwarna kuning yang tadi kupakai juga patah.

Anjing gila.

Tapi kalau dipikir, ini sebenarnya bukan semuanya kesalahan gadis itu sih. Itu salah anjing itu dan aku yang terlalu ceroboh tidak mengunci pintu. Ah, kenapa aku jadi merasa tidak enak.

Lupakan.

Kerjakan proyek ini dulu sampai selesai, lalu urus hal lain Wonwoo bodoh. Menarik kedua kakiku dan kembali mengulang proyek setengah gagal ini tanpa mempedulikan Mingyu hari ini pulang jam berapa, mau di telfon genggamku bersuara dari tadi siang atau tidak, mau adikku datang hari ini atau tidak—“Wonwoo hyung! Eunbi mau minta maaf dia merengek padaku untuk bertemu padamu lagi tau!” suara itu seperti suara milik Jungkook.

Ya benar saja, bocah itu berdiri di depan pintu dengan gadis tadi. “Ya-ya, kumaafkan. Sorry tadi aku kelewat emosi melihat hasil karya anjingmu.” Dan melanjutkan melakukan apa yang kulakukan sebelumnya.

Tapi, hal seperti itu sepele terjadikan?

Umur sembilan belas itu masih masa peralihan, kan?

Ah memang, kondisi penghancuran ditengah proyek yang menghancurkannya.

Dad, Suha boleh tidak beli anjing? Anjing milik Jihu lucu sekali!” kali ini gadis lain yang merengek.

“Tak boleh. Dad takut anjing.” Kalau yang itu, gadis yang sempat merusak proyekku. Yang mendapat pandangan, jangan katakan itu adalah hal yang memalukan dariku. “Nanti kalau anjingnya merusak lembaran proyeknya, Dad marah. Atau nanti pingsan ada anjing.”

“Memangnya, Mom. Dad takut anjing?” gadis bermarga Jung ini mengangguk lagi. “Kalau begitu, bagaimana kalau kucing? Bolehkan??”

“Kalau itu, Mom yang takut.” ucapku membalas peryataan memalukan dari mulut Eunbi. “Kita beli hedgehog atau hamster saja gimana?” dan menaikkan gadis cilik dihadapanku keatas bahuku. Berjalan keluar rumah dengan nona Jeon mengikutiku sembari berusaha menahan tawanya.

fin—

2 thoughts on “[Ficlet] Wrecker”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s