#2 Bertemu Sang Kakak

1455971157629

by jojujinjin (@jojujinjin on Twitter)

.

starring Up10tion’s Wei & OC’s Jane, also Seventeen’s Joshua

Ficlet Series // T // School-Life, Fluff

.

previous; #1

.

Because he’s nice. Dan aku tahu ini pertama kalinya kau menerima tawaran orang untuk mendorong kursimu ke kelas—untuk hal itu, hanya kau yang tahu kenapa, Jane.”

***

Sepulang sekolah, Wei benar-benar menjemput Jane. Tatkala biasanya Joshua yang nangkring di kursi panjang lorong, kini sosok jangkung itu yang menyambutnya di depan pintu sembari terkekeh kecil menerima sorak sorai teman-temannya; sementara Joshua tidak ada. Jane kira, definisi ‘nanti’ yang Wei ucapkan adalah versi yang lebih sopan dari ‘kapan-kapan’ atau bahkan tidak sama sekali.

Jane mengulum senyum kikuk ketika Wei membukakan pintu untuknyaㅡdan bahkan memasuki kelas agar ia bisa mendorong Jane dari dalam.

“Kamu ga pulang?” Tanya Jane, begitu mereka suara anak kelasnya sudah samar-samar.

“Aku bukannya sudah bilang mau jemput kamu?”

Jane meringis kendati Wei tidak bisa melihatnya. “Kukira bercanda.”

“Memangnyaㅡ”

“Jane!”

“Eh?” Jane mengumbar pandang ke sekeliling, namun tidak ada seorang pun yang terlihat tengah mencari perhatiannya.

Wei berhenti mendorong dan menepuk-nepuk pundaknya. “Itu, Jane, di atasㅡlantai dua seberang.”

Lalu Jane menemukan Joshua melambai penuh semangat dari sisi lain gedung.

“Kok tidak jemput aku, Kak?” Teriak Jane, sebisa mungkin terdengar manja.

Meski tak begitu terlihat, Jane yakin Joshua baru saja memutar bola matanya.

“Aku masih ada tugas yang harus dikumpulkan,” balas Joshua memekik, lekas telunjuknya menunjuk tepat ke arah Wei. “Lagipula kamu tumben mau diantar orang lain, biasanya nungguin aku.”

Wei membuka mulut, meski pada akhirnya ia mengatupkan bibirnya kembali karena; hei, dia harus ngomong apa? Jadi Wei hanya melukis senyum ala kadarnya dan membungkuk sedikit ke arah Joshua.

“Tunggu di pintu depan, ya? Aku sebentar lagi selesai.”

Jempol Jane terangkat tinggi. “Oke!” Lantas ketika ia mau menjalankan kursi rodanya, jemari-jemari kuat mencekal pergelangan tangannya.

Jane menoleh, sejenak lupa ada Wei di sana. Menatap Wei, pria itu menggeleng, mengembalikan lengannya ke atas pangkuan. Tersenyum tipis saat Wei kembali mendorong kursi rodanya.

Koridor masih ramai meski jam pelajaran sudah selesai sejak sepuluh menit lalu. Beberapa murid menyapa Jane, meski sebagian besar terkikik ke arah Wei dan menatapnya aneh.

“Yang tadi itu kakakku,” kata Jane, setelah terasa seperti sekian abad terlewati. “Namanya Joshua.”

Tiba-tiba Wei tertawa.

“Eh … kenapa?” Jane mengernyit, kembali menoleh ke belakang untuk menemukan Wei mengusap mukanya kasar. Perjalanan kembali berhenti.

“Tadi aku menabraknya saat di kantin.”

“Kauㅡapa?”

“Aku ternyata menabrak kakakmu tadi, lalu kita makan bersama.”

Jane menatap Wei tak percaya.

“Kau bercanda.”

Bahu Wei terangkat sedetik, pun sudut bibir kanannya yang dikutuk Jane setengah mati karena tidak kunjung kembali ke tempat awalnya. “Bukankah itu kebetulan yang hebat?”

“Astaga,” memijit kening, Jane mengatupkan kedua matanya.

“Jangan pusing, oi,” kata Wei setengah terkikik sebelum kembali mendorong kursi roda Jane. “Santai, Jane.”

Selama Jane menyerocos tentang Joshua tiada henti, Wei hanya tertawa-tawa.

“Dan sebenarnya aku menceritakan tentang kisahku pagi ini padanya,” ucap Wei tiba-tiba.

Jane mendesah. “Oh astagaㅡ”

“Dia bertanya kenapa aku memakai seragam ini, dan aku bilang kalau aku anak baru. Eh, dia mengajakku makan bareng. Dan wajahnya mirip denganmu, juga … kau bilang kan tadi pagi kalau kau punya kakak di sini?”

Kepala Jane terangguk asal.

“Nah, jadi aku tanya dia deh. Terus aku juga cerita kalau aku dorongin kamu ke kelas tadi pagi.”

“Apa katanya?” Tanya Jane cepat.

“Apa katanya?” Wei mengulang heran.

“Kakakku bilang apa?”

Uh, dia nampak bingung sebentar, lalu bilang….”

“Lalu bilang?”

“Katanya aku hebat.”

“Apaㅡ”

“Katanya, kalau bisa aku mendorongmu setiap hari karena tanganmu pernah mati rasa tapi kamu terus memaksa agar Joshua tidak mendorongmu ke kelas.”

Terdiam, Jane tidak menyadari mereka sudah berada di depan pintu utama sekolah. Jane tidak menyadari Wei sudah menyejajarkan wajahnya di hadapannya.

“Kau tidak boleh seperti itu, Jane,” mulai Wei, kembali mengulas senyum secerah batara surya. “It’s okay to be weak sometimes.”

Ekspresi Jane mengeras drastis.

You don’t know me.”

Wei menggeleng pelan, lengkungan bibirnya masih bertahan. “Aku tahu; kamu Jane.”

Jane terdiam, menatap dalam iris Wei yang kelam. Sepasang iris itu menatapnya, dan Jane merasa telanjang. Sepasang iris itu mencecarnya, dan Jane merasa Wei sudah membuka lembaran-lembaran rahasianya dalam hitungan detik. Hanya menatapnya, dan Jane merasa hilang.

“Janeㅡoh, Wei! Kau masih di sini!”

Wei berdiri ketika Joshua tiba-tiba menepuk pundaknya, datang entah dari mana.

Jane masih terdiam.

“Eh, Kak,” sapa Wei hangat. Joshua tersenyum lebar.

“Butuh tumpangan pulang?” Tawar Joshua, mengambil kunci mobil dari saku celana.

“Tidak perlu, Kak. Aku bawa motor.”

“Baiklah. Aku dan Jane harus pulang, guru lesnya sebentar lagi pasti sampai di rumah.”

Wei mengangguk, bahunya ditepuk sekali lagi oleh Joshua. Lantas ia berpindah ke Jane, menjungkit kedua sudut bibirnya seolah itu adalah sebuah kebiasaan baru dirinya ketika titik fokusnya jatuh ke Jane.

Belum sempat Wei mengucap salam, Joshua berjalan menjauh, menempelkan telepon genggam ke telinga. Sementara Jane tak sengaja menangkap helaan napas lega Wei.

“Jane,” panggilnya berbisik, meletakkan kedua tangannya di tempat tumpuan lengan kursi roda Jane. “Besok aku boleh mengantarmu ke kelas?”

“Aku tidak lemah,” jawab Jane, sama-sama berbisik. “Aku bisaㅡ”

“Aku tahu, aku hanya ingin melakukannya,” potong Wei, mengangkat alis. Diam-diam mengekspektasikan jawaban yang menyenangkan. “Dan aku ingin mengenalmu.”

“Kau bilang kau sudah mengenalku.”

“Jadi aku sudah mengenalmu?”

Jane susah payah menahan tawa. “Terserahlah,” ujar Jane akhirnya. Menyerah.

“Oke,” jawab Wei. Setengah senang, setengah terlalu bersemangat. “Aku pulang duluan, ya. Senang bisa bertemu denganmu dan kak Joshua di hari pertama sekolah.”

“Senang bertemu denganmu juga, kalau begitu.”

Bibir Wei mengerucut sebal. “Kau terpaksa mengatakannya.” Yang satu itu terdengar seperti pernyataan.

Jane menggigit bibir. “Memangnya aku harus senang juga?”

“Memangnya kau tidak senang?”

Okay, kids, that’s enough. Let’s go home,” Joshua datang entah dari mana lagi, menarik Wei agar berdiri tegak.

Melebur dalam tawa, Wei akhirnya pergi. Melambai sebelum siluetnya hilang ditelan belokan. Sementara Jane dan Joshua masih terdiam di tempat.

“Dia lucu,” ucap Joshua, sesaat setelah Jane mengajak mereka untuk segera pulang.

Jane tak merespon.

Let him be nice to you, yeah?”

Why should I?”

Because he’s nice. Dan aku tahu ini pertama kalinya kau menerima tawaran orang untuk mendorong kursimu ke kelas—untuk hal itu, hanya kau yang tahu kenapa, Jane.”

.

.

.

.

Anyway, Jane.”

“Iya?”

“Tadi sebenarnya aku hanya pura-pura.”

“Pura-pura?”

“Sebenarnya tidak ada yang menelponku.”

“….”

“Hehe.”

.

.

.

.

Fin? Ofc not.

4 thoughts on “#2 Bertemu Sang Kakak”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s