A Calendar Without October

 moonbin

Casts Moonbin [ASTRO], Riley Kwon Genre Fluff, school life Rating PG-15 Length Ficlet Disclaimer I own the plot and Riley Kwon

.

© 2016 namtaegenic

.

“Satu bulan penuh aku harus melihat wajahmu, memang enak?”

.

Moonbin tahu seharusnya ia bisa berpaling. Gerai barang-barang hasil kreasi murid-murid dari jurusan multimedia di sana tampak begitu menarik, memang. Namun tak lantas membubungkan niatnya untuk menghampiri.

Biasanya Moonbin tak pikir dua kali apabila maniknya bersirobok dengan sesuatu yang dibuat oleh murid-murid di sekolah kejuruan tempat di mana ia mengecap pendidikan. Kerajinan tangan, baik yang manual atau menggunakan teknologi sama-sama menarik minatnya—pun tata boga, rangkaian listrik, penemuan-penemuan kecil, dan lain-lain. Hal itu membuktikan bahwa murid-murid sekolah kejuruan tak kalah kualitasnya dengan sekolah negeri.

Namun tidak kali ini. Alasannya apa lagi kalau bukan kalender tahun baru.

Tak seperti biasanya, gerai bazaar dari kelas multimedia kali ini memproduksi tanggalan. Mereka memotret dua belas murid perempuan dengan mengenakan kostum era lima puluhan yang nuansanya kebarat-baratan, lengkap dengan gelungan rambut ikal atau apalah mereka menyebutnya. Tema Miss Calendar-nya adalah vintage. Sekolah mereka belum pernah sekalipun mencetak dan menjual kalender dengan foto murid wanita. Anak-anak itu pasti bekerjasama dengan klub fotografi dengan sistem bagi hasil. Kreatif.

Moonbin bisa saja menghampiri, melihat-lihat, dan membelinya—terlepas dari kalender itu impresif buatnya atau tidak. Tapi masalah utamanya adalah bahwa Riley Kwon turut memeriahkan salah satu halamannya. Ia jadi Miss October tahun ini.

Riley Kwon memang punya segalanya. Ia salah satu dari sekian jumlah akademisi sekolah kejuruan ini yang ikonis dan berprestasi. Nilai akademiknya cemerlang, bintang lapangan pula. Belum lagi fakta bahwa ia punya wajah yang sulit dilupakan. Alasan apa lagi yang dibutuhkannya untuk tidak terpilih sebagai salah satu dari pemanis kalender?

Sayang sekali, Nona Oktober kita yang spektakuler ini baru saja menorehkan luka pada Moonbin, tepat pada perayaan tahun baru seminggu yang lalu.

Tujuh hari yang lalu, Moonbin pikir mereka akan menikmati pesta kembang api dan barbekyu di pelataran sekolah bersama semua anak kelas tiga. Ia bahkan menyiapkan sepotong vanilla cheesecake dengan stroberi di puncaknya—penganan favorit Riley. Namun sebelum ia sempat menyuguhkannya tepat tengah malam, Riley mengajaknya bicara dan mereka berakhir dengan kata putus. Tidak ada alasan khusus yang terlontar dari bibir si gadis. Ia hanya ingin mengakhiri hubungannya dan Moonbin. Bagaimana Moonbin tak berhenti mengumpat?

Maka, demi meloloskan dirinya dari semua temali nostalgia, Moobin menghindari Riley dan apa pun yang ada hubungannya dengan gadis itu. Termasuk kalender tahun baru.

Baru saja si pemuda beranjak pergi, menghilang kembali ke koridor kantin, si masa lalu datang menghampiri. Riley Kwon memanggil namanya, jelas dan tegas.

Merotasi pandangannya hingga beberapa derajat, Moonbin mendengus. Niatnya ingin terlihat galak dan tidak butuh. Alih-alih, dia malah tak bisa menyembunyikan ekspresi yang merepresentasi detak jantungnya saat ini. Moonbin berdecak. Ah, Riley. Seharusnya hampiri saja aku setelah wajahmu tidak lagi dalam agenda.

Tangan Riley terulur, menyerahkan sebuah kotak pipih.

Sebuah kalender meja.

Dan Moonbin terpaku dalam geming sewaktu kurva hangat melengkung di wajah Riley. Belum, satu minggu sudah terlewati dan Moonbin masih belum bisa melupakannya.

“Anggaplah ini demi menyenangkan teman-teman dari jurusan multimedia.” Riley mengacungkan kotak kalendernya. Ia menggoreskan senyum tulus. Sinar dan kerling matanya menghangatkan hati Moonbin. Tanpa meremehkan, tanpa menjatuhkan, tanpa menertawakan keterpurukannya.

“Satu bulan penuh aku harus melihat wajahmu, memang enak?” Moonbin memalingkan muka, membuat Riley mendengus tertawa.

“Bulan Oktober sudah kulepaskan dari spiralnya. Kamu tidak perlu khawatir. Nah, aku kembali ke sana dulu.” Riley menganggukkan kepalanya. “Baik-baik ya, Moonbin.”

Gesekan sepatu dengan lantai kafetaria, dan Moonbin nyaris terjungkal kala tangannya meraih Riley. Napasnya terengah, bukan karena lelah, tapi karena tak bisa mengendalikan kegugupannya. Pemuda itu mengedip beberapa kali, mengatur tiap hela yang lolos dari mulutnya.

“Satu tahun tanpa Oktober, memang enak?” protesnya melayang satu nada lebih tinggi. Demi menutupi rasa malunya, Moonbin melanjutkan. “Jadi kalau tiba bulan Oktober, aku sedikit-sedikit harus lihat ponsel?”

Untuk pertama kalinya setelah minggu lalu, Riley menautkan alis. Dipandangnya Moonbin dengan seribu tanya. “Jadi?”

“Kamu masih menyimpan kalender asli?”

Riley lantas merogoh tas bahunya, mengeluarkan kotak kalender miliknya, yang langsung disambut Moonbin dengan sukacita.

“Punya spidol?”

“Oh baiklah, aku tahu maksudmu. Kuterima dengan lapang dada.” Riley memutar maniknya dan menyerahkan sebuah spidol papan tulis besar pada Moonbin. Pemuda itu membuka lembaran hingga jemarinya tiba di bulan Oktober, lalu ia mulai berkreasi.

Kini Riley memandang wajahnya sendiri di kalender. Kedua mata jernihnya sudah dipasangkan kacamata bundar berbingkai tebal. Senyum ikonisnya kini berganti dengan seringaian karena Moonbin menggambar kurva-kurva aneh di sudut bibirnya, serta mewarnai beberapa dari deretan gigi Riley di kalender. Tak lupa kumis dan dua tanduk di atas helai coklat madunya.

“Balas dendam, diterima.” Riley mengangkat kedua tangannya.

“Sebentar, sebentar. Aku mau coret apa lagi di sini, ya?”

“Belum habis juga mukaku di situ?” Riley membelalak.

“Masih cantik. Aku tidak suka. Oh, kutambahkan ini saja!” Moonbin menggambar beberapa tanda silang pada kedua pipi gadis di kalender. Kini Nona Oktober menjelma menjadi persilangan antara iblis, penculik, perampok, entah apa lagi. Lantas dilingkarinya tanggal tiga puluh. Menggunakan pulpen, ditulisinya ‘Ulangtahun nenek sihir’.

“Selesai! Nih, Nona Oktober!” Moonbin mengacungkan kalender tepat di depan hidung Riley. Keduanya timbul dan tenggelam dalam gelak tawa, hingga jeda menjamah suasana. Moonbin memandang Riley yang berusaha untuk kembali pada citranya. Lantas Riley balas menemukan maniknya.

“Bahagia?” tanya si gadis. Moonbin menatap foto Riley yang sudah ia corat-coret. Lantas ia mendengus tertawa dan mengangguk. Ia mungkin belum bisa melupakan gadis itu. Tapi bukan berarti ia lantas tidak menikmati hidupnya.

Moonbin kembali mengalihkan tatap pada Riley. Di wajahnya terlukis senyuman hangat dan menenangkan.

“Bahagia.”

| FIN.

17 thoughts on “A Calendar Without October”

  1. Jadi, Moonbin udah mulai move on niiih?
    Tapi, hubungan mereka baik2 aja yaa. Nyenengin gituu…
    Walaupun awalnya agak canggung, tapi pas bagian coret2 muka, ga tau kenapa tapi kok yaa berasa manis gitu bayanginnya ^^

    Suka

    1. iya, pasca-putus sih seharusnya santai aja. ga perlu maksain diri buat ngelupain nostalgia. soalnya semakin kuat kita ingin lepas, semakin erat simpul itu mengikat kan EBUSYEH BAHASA AKOOOHHH HAHA anyway makasih Neng sudah mampir ^^

      Suka

      1. Huwaaa, bahasanya kak Eci bikin nggak kuaat /lambaikan tangan/
        tpi emang bener sih, Kak.
        Kalau kita pengen bgt, maksain bgt buat ngelupain sesuatu (apapun itu) yang ada ingatan mengenai hal2 bersangkutan malah makin kuat. Kan bapernya jadi ga kelar2…

        Suka

  2. sasuga kak eci… fluff sih, tapi fluff sama mantan ya hahahaha, gak lazim tapi ttp manis sih. jangan kaget ya kak sama kehadiranku, habis nih fic judulnya bikin penasaran *plus fic bias lagi jarang jadi daripada gak baca apa2…*
    terus aku pingin mereka balikan. padahal bukan shipper alias aku ini complete stranger. memang hebat sekali kaeci ini membuat pembaca jatuh cinta sama pairingnya :p
    keep writing!

    Suka

    1. wahaha percayalah liana, komentarmu sangat sangat sangat dinantikan di karya-karyaku. huhuhu seneng deh dikomenin. betewe iya nih fluffnya agak2 ga lazim atula masa fluff sama mantan naga2 balikan (ey ey eyeye).
      makasih liana sudah mampir ^^

      Suka

  3. akhirnya ada fic astro disini😄
    bahasanya bagus loh, aku suka xD
    moonbin kalo masih blm bisa move on ayo sini sama aku aja*dihujat
    ditunggu giliran member astro yg lain😄
    keep writing!!

    Suka

    1. halo, chan ^^ aku sempet nulis 2 fic Astro selain ini, Somewhere Outside the Labyrinth sama Accomplished, seandainya Chan kepingin baca fic Astro aku yang lain.
      Makasih udah mampir ya, Chan ^^ senang sekali dikunjungi ^^

      Suka

  4. Fanfic dengan cast member Astro pertama yang aku baca *-*
    Suka banget sama hubungan pasca-putus yang kayak gini. Ga ada gegananya sama sekali xD
    Pengen rasanya mereka balikan gitu tapi kalau temenan kayak begini juga enak dibacanya kok. Biarpun statusnya cuma mantan tapi tetap aja masih bikin gemes ya mereka berdua ><

    Suka

    1. Halo, Charlyn ^^ iya mantan gemesin gitu kali ya istilahnya yang suka brings up situation berasa pengen balikan haha. Makasih Charlyn sudah mampir ^^

      Disukai oleh 1 orang

      1. Sama-sama kak ^^
        Tapi jujur aja masih penasaran sama alasan kenapa si Riley minta putus sama Moonbin –”
        Dan aku seneng banget sumpah kak Eci ingat namaku😄 hahahaha aduhh, aku terbang dulu ya kak😄😄😄 lol

        Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s