[Oneshot] Separation

Separation

Separation

presented by thelittlerin

.

SPEED Choi Sungmin, OC Choi Rin

other 95liners idol

.

Family, Sad, Hurt/Comfort/ Angst, Friendship

PG-15 | Oneshot

.

This is the end of his part in her story

Semilir angin menerpa wajah, namun tak sanggup menerbangkan rambut basah gadis itu. Duduk menekuk lutut di tepian, melihat teman-temannya bermain air sembari tertawa. Merasakan ombak kecil menerjang tubuhnya dan kembali membasahi seluruh pakaiannya. Sesekali melemparkan segenggam pasir pantai ketika salah seorang dari teman-temannya hendak menariknya kembali ke dalam air.

“Kalau kamu ingin menenggelamkan aku lagi, aku bersumpah akan melakukan hal yang sama pada sepatumu.”

Choi Sungmin hanya berdecak kesal sebelum menempatkan diri di sebelah adik kembarnya dengan posisi yang persis sama, duduk menekuk kedua lututnya. Kondisinya pun tak jauh berbeda dari gadis di sampingnya, basah dari ujung kepala hingga ujung kaki.

“Kamu pikir aku takut?”

“Lalu kenapa kamu malah duduk di sini?” tanya Rin balik.

“Istirahat,” jawab Sungmin pendek. Kedua lengannya ia lingkarkan pada kedua lututnya, kedua maniknya memandangi garis horizon di kejauhan. Mengingatkan Rin akan apa yang ia lihat beberapa hari yang lalu.

“Kamu tidak apa-apa ‘kan?”

Sungmin mengalihkan pandangannya. Matanya kini menatap Rin dengan tatapan bertanya. Tak paham akan pertanyaan Rin—untuk apa gadis itu menanyakan keadaannya? Bukankah dia bisa melihat bahwa kakak kembarnya sehat, tak kurang suatu apa pun?

Namun ketika ia melihat sinar khawatir di manik kelam milik Rin, Sungmin langsung tahu apa yang mendasari pertanyaan adiknya barusan. Sembari mengelus puncak kepala adiknya, ia menjawab,”aku baik-baik saja.”

Sebenarnya jawaban itu tidak menenangkan Rin sama sekali. Hatinya masih terasa terbebani bahkan saat Sungmin menyunggingkan senyumannya. Namun gadis itu memilih diam, memilih untuk percaya apa yang dikatakan dan diperlihatkan oleh Sungmin.

Lantas keduanya terdiam, membiarkan suara deburan ombak dan tawa orang-orang di sekitar masuk ke dalam indera pendengaran.

“Rin-ah,” panggil Sungmin.

Rin menoleh, demi mendapati Sungmin yang kembali memandangi garis horizon. Menunggu dengan sabar apa yang akan dikatakan oleh Sungmin—nada suaranya tadi merupakan pertanda bahwa lelaki itu punya sesuatu yang ingin dibicarakan.

“Bagaimana kalau aku pergi?”

“Ke mana?” Hanya itu yang bisa diberikan Rin sebagai balasan—dengan kening berkerut dan rasa bingung yang menjadi-jadi.”Sekarang juga?”

“Entahlah,” jawab Sungmin pelan, menjawab dua pertanyaan balasan Rin sekaligus.”Menyusul Jungwoo hyung, mungkin.”

Rin tidak suka dengan arah pembicaraan mereka sore ini. Terlebih ketika mereka seharusnya bersenang-senang sebelum semester baru perkuliahan dimulai. Ketika mereka seharusnya melupakan masalah-masalah yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir dan tertawa riang bersama teman-teman mereka.

Rin memutuskan untuk tidak mengindahkan kalimat Sungmin.

“Ayah dan Ibu tidak akan membiarkanmu berhenti kuliah, Tuan Choi.”

Ya! Choi Sungmin! Kenapa lama sekali?!” Teriakan itu serta merta mengambil alih ketika Sungmin baru saja hendak membuka mulutnya. Kim Taehyung dan Moon Jongup datang mengampiri mereka—dengan raut sebal tercetak jelas di wajah Taehyung.”Kamu bilang mau mengajak Rin lagi!”

Hah? Apa?”

Tak menjawab pertanyaan Rin, Taehyung dengan cepat memegangi kedua tangan Rin dan Jongup memegangi kedua kakinya. Entah apa yang mereka rencanakan, kedua lelaki itu membawa Rin, yang berusaha berontak, ke arah teman-temannya.

“Kim Taehyung! Apa-apaan ini?!” jerit gadis itu.”Moon Jongup! Lepaskan aku!”

Tentu saja mereka tidak akan pernah mendengarkan gadis berambut seleher itu—ia sudah memotongnya saat liburan kemarin. Dengan semangat melemparkan Rin ke dalam air ketika mereka sudah mencapai tujuan.

Ya! Kim Taehyung!”

Sungmin hendak tertawa melihatnya, namun tiba-tiba saja tawa itu tertahan di tenggorokannya. Sebuah suara terdengar di dalam benaknya, menahan tawa untuk keluar dari bibirnya.

Suara adiknya.

“Ayah dan Ibu tidak akan membiarkanmu berhenti kuliah, Tuan Choi.”

.

.

Choi Rin menghela napas frustasi, kedua tangannya menggenggam erat ponselnya—hingga meremasnya malah. Entah sudah berapa kali ia menelepon kakaknya, tak ada jawaban bahkan setelah nada sambung terdengar hingga belasan kali. Entah sudah berapa pesan singkat yang gadis itu kirimkan, tak ada balasan—bahkan tanda-tanda kalau Sungmin membacanya pun tidak ada.

Rasanya Rin ingin sekali melemparkan dompet Sungmin ke kepala lelaki itu.

Ya, kalau saja Sungmin tidak meninggalkan dompetnya di meja makan pagi itu, Rin tidak perlu bersusah payah datang ke Fakultas Seni pada pukul sembilan pagi seperti ini. Kelas pagi jelas-jelas sudah dimulai sejak beberapa saat yang lalu dan tidak ada orang yang bisa Rin tanyai perihal keberadaan Sungmin.

Kakinya mulai pegal, hasil mengitari gedung Fakultas Seni, dan Rin masih belum bisa mendeteksi posisi Sungmin. Seakan-akan lelaki itu hilang ditelan bumi dalam perjalanannya menuju kampus.

Sekali lagi, batin Rin. Jemari tangannya dengan lihai bergerak di atas layar sentuh ponselnya, hendak menelepon sang kakak sekali lagi. Kalau dia tidak menjawab, aku akan—

“Rin-ah!”

Belum sempat gadis itu menyelesaikan pikirannya, belum sempat Rin menekan tanda panggil yang tertera di layar. Kemunculan Choi Jonghyun dari kejauhan sudah lebih dari cukup untuk membuatnya menghela napas lega dan bersyukur.

“Ada kelas pagi?” tanya Rin begitu Jonghyun berdiri di hadapannya.

“Tidak. Aku masuk kelas siang hari ini,” jawab Jonghyun. Dan buru-buru menambahkan ketika tatapan aneh muncul dari kedua manik Rin,”aku ada urusan klub. Kamu sendiri?”

Jonghyun tidak perlu memberikan penjelasan lebih lanjut lantaran Rin juga tidak membutuhkannya.

“Dompetnya Sungmin tertinggal.” Rin dengan ekspresi lelah menunjukkan dompet hitam milik Sungmin yang sedari tadi ia genggam erat.”Kamu melihatnya?”

“Tadi aku sempat melihatnya masuk sih,” gumam Jonghyun.”Kurasa ia sedang konsultasi dengan dosen,” tambahnya lagi.

Rin mengangguk-angguk paham. Terdiam sejenak hingga sebuah ide melintas di benaknya.

“Jonghyun-ah, bisa aku titipkan dompet ini padamu? Kelasku mulai pukul sepuluh,” pinta gadis itu dengan nada memelas. Berusaha mengingatkan Jonghyun akan gedung fakultasnya yang terletak lumayan jauh dari Fakultas Seni.

“Boleh, kurasa nanti aku bisa bertemu dengannya.”

Rin tersenyum senang. Hampir saja melompat untuk memeluk lelaki di hadapannya itu saking senangnya.

Dan kemudian, dompet hitam itu berpindah tangan. Rin tak lupa mengucapkan terima kasih ketika ia pamit, masih ada cukup waktu baginya untuk dapat berjalan santai menuju gedung fakultasnya.

Oh ya, Rin. Sungmin jadi mengambil tawaran itu?”

Dahi Rin berkerut. Tak mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan oleh teman kakaknya itu—juga teman sekelasnya sewaktu sekolah menengah pertama.

“Tawaran apa?”

Jonghyun terbelalak kaget. Dirinya tidak menyangka Rin tidak mengetahui tawaran yang diterima Sungmin setelah evaluasi akhir semester lalu.

“Kamu belum tahu?”

.

.

“Sungmin dapat tawaran untuk bergabung dengan klub tari di Jerman—atau Inggris, aku lupa. Jangan takut dia ditipu atau bagaimana, semuanya resmi kok. Klubnya memang tidak terlalu terkenal, tapi mereka sudah punya nama di dunia ini.”

Penjelasan Jonghyun masih terngiang di benak Rin hingga jam makan siang. Membuat dirinya tak bisa berkonsentrasi penuh saat mengikuti kelasnya sendiri—untung saja dosennya tidak terlalu memperhatikan dirinya yang lebih sering melamun.

“Tapi Sungmin harus berhenti kuliah kalau mau bergabung dengan mereka.”

Kalimat terakhir yang mengakhiri penjelasan Jonghyunlah yang paling mengusik Rin. Gadis itu lantas menyadari apa maksud pertanyaan kakaknya tempo hari.

“Bagaimana kalau aku pergi?”

Sungmin sedang meminta pendapatnya.

Tidak, Sungmin sedang meminta persetujuannya.

Rin menghela napas. Makanan di hadapannya seketika menjadi tidak menarik lagi. Gadis itu hanya mengaduk-aduk makanannya malas, membiarkan keributan khas jam makan siang masuk dan keluar melalui kedua telinganya.

“Jangan melamun terus, Choi Rin!” kata Namjoo, membuat Rin terkesiap dan memandang heran teman yang duduk di tepat sebelahnya itu.

“Kenap—“

Suara benturan antara nampan dan meja memotong kalimat Rin. Baik dia maupun Namjoo sama-sama mendongak, melihat siapa yang baru saja bergabung bersama mereka.

Choi Sungmin masih bersikap seperti biasa, membalas sapaan teman-temannya, tersenyum lebar, bahkan sempat membalas sindiran Sungjae dengan kata-kata yang tak kalah tajam. Sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa lelaki itu sedang memikirkan suatu hal yang sangat besar—hal yang dapat mengubah hidupnya ke depan.

“Choi Sungmin.”

Nada suaranya datar dan tegas, juga dingin dan tajam. Membuat semua orang yang ada di meja itu memandangnya sangsi. Selama berteman dengan Choi bersaudara, belum pernah mereka mendengar salah satu dari saudara kembar itu berbicara dengan nada suara seperti tadi. Ada masalah apa?

“Kalau kamu ingin menceramahiku, lebih baik kamu diam saja, Choi Rin,” kata Sungmin bahkan sebelum Rin sempat bertanya apa pun. Kedua matanya terfokus pada makan siangnya, seolah-olah tak ingin ambil pusing dengan apa yang ingin dikatakan oleh Rin.

Semua orang menahan napasnya, merasakan atmosfir aneh yang menyelimuti kedua teman mereka.

“Kenapa tidak memberitahuku?”

Sungmin lebih memilih mengunyah santapan siangnya dengan perlahan, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan, ketimbang menjawab pertanyaan Rin. Toh dia juga tidak yakin dengan alasannya sendiri untuk tidak memberitahu adiknya itu.

“Astaga, Choi Sungmin!” teriak Rin frustasi, membanting sendok makannya ke atas meja. Semuanya terlonjak, tak terkecuali Sungmin, namun ia memilih untuk tidak menunjukkannya.”Ini masalah masa depanmu dan aku ini adikmu! Apa kamu pikir pendapatku tidak penting? Apa aku tidak punya tempat di kehidupan masa depanmu?!”

Helaan napas terdengar, disusul oleh suara bantingan sendok makan. Sungmin memejamkan matanya, berusaha menahan marah—bukan hanya Rin yang merasa kesal.

“Lalu, sekarang aku tanya padamu. Haruskah aku menerima tawaran itu atau tidak?”

Ini masalah serius, pikir teman-teman mereka. Satu dua kepala mulai menoleh ke sana ke mari, berusaha meminta penjelasan akan apa yang sedang terjadi di hadapan mereka. Namun, wajah-wajah penuh dengan kebingungan tersebar merata, sampai ada seseorang yang memberi isyarat kalau ia akan menjelaskan situasi ini pada yang lain nantinya.

“Aku tahu apa yang ada di pikiranmu, Nona Choi. Tapi tawaran ini tidak akan datang dua kali dan belum tentu ada tawaran lain yang datang padaku dalam dua tahun ke depan,” lanjut Sungmin lagi.”Kamu mungkin berpikir aku akan melewatkan banyak hal kalau aku pergi, tapi kamu tidak tahu seberapa pentingnya tawaran ini bagiku.”

“Ayah dan Ibu tidak akan mengizinkanmu.”

Sungmin sekali lagi menghela napas. Ia sangat tahu watak adik kembarnya dan sudah sangat jelas gadis itu akan menentangnya—salah satu alasan mengapa dirinya tidak memberitahu Rin.

“Ibu sudah mengizinkan. Ayah sepertinya sudah mulai goyah.”

“Kalau begitu, aku yang tidak mengizinkanmu,” sambar Rin cepat. Gadis itu lantas berdiri dan meninggalkan saudara kembar dan teman-temannya, juga makan siangnya yang masih tersisa separuhnya.

“Tolong pikirkan lagi, Rin-ah,” kata Sungmin sebelum Rin benar-benar menjauh.

.

.

Langit mendung mengiringi perjalanan pulang mereka hari ini. Gemuruh guntur terdengar dari kejauhan, walaupun saat ini belum ada satu tetes air pun yang turun membasahi bumi. Angin kencang yang bertiup membuat orang-orang merapatkan jaket dan melangkah lebih cepat, tampaknya hujan badai akan turun malam nanti.

Moon Jongup melirik gadis di sebelahnya sekilas. Hendak mengatakan sesuatu namun tatapan kosong gadis itu mengurungkan niatnya. Jelas sekali Rin sedang memikirkan hal lain ketimbang kemungkinan turunnya hujan badai—ada badai tersendiri yang sedang menerpa pikirannya.

“Rin-ah—“

“Terima kasih,” potong Rin. Tangan kirinya mencengkeram pagar rumahnya erat, tanpa sedikit menatap Jongup tepat di mata. Dia hanya sedang tidak ingin diganggu.

Alih-alih membiarkan Rin masuk ke dalam seperti biasanya, Jongup malah menarik gadis itu mendekat. Melingkarkan lengan di pinggang Rin dan menyandarkan dagu ke pundaknya. Berusaha menenangkan hati gadis itu dengan mengelus rambutnya pelan.

“Jongup-ah,” gumam Rin pelan. Nyaris tak terdengar, teredam jaket tebal berwarna hitam yang membalut tubuh tegap Jongup.”Kalau kamu jadi aku, apa yang akan kamu lakukan?”

Jongup melepaskan pelukannya, memegang pundak Rin erat dan menatapnya lekat-lekat.

“Coba kamu pikirkan semua ini dari sisi Sungmin.”

Rin balas menatap Jongup. Terdiam selama beberapa saat, memikirkan ucapan Jongup barusan.

“Kamu sudah tahu semuanya, iya ‘kan?”

Lelaki di hadapannya hanya bisa mengangguk dalam diam.

“Dan kamu tidak memberitahuku?”

“Rin-ah, ini—“

“Jadi, kali ini kamu berpihak pada Sungmin? Untuk hal seperti ini akhirnya kamu berpihak pada Sungmin?!”

Gadis itu marah. Marah karena tak ada seorang pun yang memihak dirinya. Marah lantaran tak ada yang memberitahunya mengenai perkara ini. Apakah ia tidak memiliki peran penting dalam kehidupan Sungmin? Dalam masa depan lelaki itu? Walaupun ia adalah saudari kembarnya sendiri?

“Selamat malam, Moon Jongup,” kata Rin ketus. Berbalik arah dan masuk ke dalam rumah tanpa sedikit pun menoleh.

Jongup menghela napas pelan. Tak bisa melakukan hal lain selain memandangi punggung kecil Rin yang menghilang di balik pintu rumah. Tak ada lagi yang bisa dia lakukan untuk menenangkan gadis seumurannya itu.

“Aku sudah berusaha,” kata lelaki itu pelan. Ditujukan untuk seseorang yang sedang bersandar pada pagar rumah keluarga Choi—dia sudah ada di sana sejak awal, hanya saja Rin tidak menyadarinya.”Choi Sungmin.”

Sungmin diam. Dia tahu semuanya. Dia menyaksikan sendiri bagaimana reaksi Rin. Kedua kakinya lantas melangkah, mendekati Jongup dan menepuk pundak lelaki itu pelan.

“Terima kasih, Jongup-ah.”

.

.

“Rin-ah.”

Suara panggilan Sungmin hanya dibalas oleh suara sentuhan jemari pada keyboard laptop. Rin tidak peduli, memilih melanjutkan tugasnya ketimbang sekadar menolehkan kepala dan menatap Sungmin tepat di matanya. Gadis itu malah dengan sengaja mengeraskan volume musik yang sedang ia putar, tak mau mendengar apa pun yang akan dikatakan oleh Sungmin nantinya.

Sungmin memilih berdiri di belakang Rin, memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. Memperhatikan sang adik yang dengan telaten membuka halaman buku satu demi satu, demi mencari referensi yang tepat untuk dimasukkan ke dalam tugasnya.

Tugas yang, menurut post-it di sekeliling meja Rin, tidak harus dikumpulkan sampai enam hari ke depan.

Tugas yang seharusnya bisa mulai dikerjakan oleh Rin dua hari lagi.

“Choi Rin.” Kali ini Sungmin tidak tahan diabaikan, tak mendengar sepatah kata pun keluar dari mulut Rin. Tangan kanannya menyentuh pundak Rin, meremas pundak yang dilapisi oleh kain lengan berwarna hitam.

Gerakan Rin terhenti. Jemarinya kini tak lagi lincah bergerak di atas keyboard. Helaan napasnya tak lagi teratur, seperti sedang menahan amarahnya supaya tidak keluar begitu saja. Dan sedetik kemudian, helaan napas terdengar.

“Pergi saja,” kata gadis itu kemudian. Sama sekali tidak menggerakkan tubuhnya. Masih betah memandangi layar laptop yang sudah dipenuhi oleh tulisannya.

“Apa?”

Pada akhirnya Rin memutar tubuhnya, menatap Sungmin tepat di manik matanya. Menatap kedua iris yang sangat persis dengan miliknya sendiri. Choi Sungmin hampir yakin ia bisa melihat bahwa adik kembarnya itu sedang menahan diri untuk tidak menangis.

“Pergi saja. Kamu sudah membicarakan ini pada semua orang—ayah, ibu, dosenmu. Itu artinya kamu sudah pasti akan pergi ‘kan? Untuk apa berpura-pura meminta pendapatku?”

“Tolong dengarkan a—“

“Untuk apa? Kamu bahkan tidak menganggapku!”

Nada suaranya sudah mulai naik. Dan pada titik ini Sungmin tahu kalau dia tak akan bisa mengelak dari pertengkaran.

“Pergilah. Pergi dan jalani saja hidupmu.”

“Aku tidak mau meninggalkanmu sendiri!!”

Rin terdiam. Sungmin terdiam. Belum pernah dua bersaudara itu bertengkar hebat seperti ini. Keduanya pun tahu, akan sulit menemukan jalan untuk kembali berbaikan sesudah ini.

“Tidak mau meninggalkanku?” gumam Rin. Sinar matanya meredup, kembali tak menatap Sungmin bahkan ketika ia kini berdiri di hadapan sang kakak.”Pada akhirnya kamu juga akan pergi, omong kosong macam apa ini?”

“Aku—“

“Kalau kamu tidak mau meninggalkanku, harusnya kamu tidak menerima tawaran itu sejak awal, Choi Sungmin!!”

“Lalu aku harus bagaimana?! Hanya diam dan membuang kesempatanku begitu saja, huh?! Apakah itu mudah menurutmu?!”

Keduanya menahan napas, saling menatap manik masing-masing.

“Apakah aku tidak boleh memikirkannya sedikit saja?” gumam Sungmin pelan.

Rin bisa merasakan kedua matanya sudah mulai basah.

“Kalau begitu, kenapa kamu tidak memberitahuku dari awal? Bukannya membiarkanku tahu dari orang ketiga setelah sekian lama?”

“Aku…..khawatir.”

“Khawatir aku melarangmu? Khawatir aku akan memengaruhi ayah dan ibu supaya tidak membolehkanmu pergi?”

Tak ada jawaban. Rin harus mati-matian menahan air matanya.

“Kamu…..egois, Choi Sungmin.”

Dengan begitu, Rin berjalan melewati Sungmin. Kemudian melangkah semakin cepat saat ia merasakan kalau lelaki itu juga mengikuti langkahnya. Sebelum sempat Sungmin menarik tangan mungilnya, Rin dengan cepat menutup pintu kamar mandi dan menguncinya rapat-rapat.

Berulang kali Sungmin memanggil namanya.

“Maafkan aku.” Lirih suara Sungmin terdengar dari balik pintu.

Dan akhirnya Rin tak tahan lagi. Jatuh terduduk di lantai kamar mandi dengan air mata mengalir dari kedua matanya. Tak peduli lagi jika Sungmin bisa mendengar suara tangisannya, toh suara gedoran pintu di balik punggungnya bisa meredam semua suara.

Ketika suara Sungmin tak terdengar lagi—walaupun Rin masih bisa merasakan presensinya—gadis itu menarik napas dalam-dalam.

“Pergilah.”

Helaan napas terengar.

“Jangan pedulikan aku. Aku bisa mengurus diriku sendiri.”

“Rin-ah.”

.

.

“Parah.”

“Sangat parah.”

Sembilan orang dengan umur yang sama berkumpul di kafe di dekat kampus mereka. Tak ada dua orang lain yang biasanya terlihat bersama dengan mereka—sengaja mereka tinggalkan memang, lantaran seluruh situasi ini berakar dari dua orang itu.

“Aku kira aku sedang menonton drama semalam.”

Taehyung kembali teringat kejadian semalam. Saat ia ingin meminta kembali bukunya yang Sungmin pinjam beberapa minggu yang lalu. Saat langkahnya terhenti di anak tangga, mendengar suara nada-nada tinggi memenuhi lantai dua kediaman keluarga Choi. Saat ia menemukan sosok Sungmin bersandar lemas di depan pintu kamar mandi—dan Taehyung bersumpah ia bisa mendengar suara tangis dari balik pintu itu.

Butuh waktu lama bagi Taehyung untuk bisa memanggil nama Sungmin setelah itu. Sungmin sendiri hanya bisa menatapnya datar dan mengembalikan bukunya tanpa berkata apa-apa. Membuat Kim Taehyung, yang bermulut lebar, tak nyaman untuk sekedar menanyakan kabar.

Oh, jangan lupakan sosok Rin yang keluar dari kamar mandi dengan mata sembab, tentu saja.

“Aku lebih suka melihat mereka berebut makanan dibandingkan ini,” kata Namjoo.

Sekawanan manusia itu mengangguk.

“Awalnya kupikir aku akan baik-baik saja, mengingat betapa seringnya mereka bertengkar, tapi—“

“Tapi ini terasa berbeda, iya ‘kan?” potong Sanghyuk, menyisakan Namjoo yang mengangguk terdiam.”Karena masalahnya tidak pernah seserius ini.”

Hening sejenak mengambil alih, sebelum seseorang bernama Moon Jongup memutuskan untuk membuka suara dan bertanya,”kalau begitu, kalian ada di pihak siapa?”

Entah mengapa, enam pasang mata lainnya serempak menoleh ke arah Jimin dan Taehyung. Seolah-olah mereka sudah pernah menyatakan posisi mereka sebelumnya.

“Sudah tahu ‘kan?” kata Jimin sebelum ada yang bertanya untuk yang kedua kalinya.”Anak-anak Fakultas Seni ada di pihak Sungmin.”

“Termasuk Jongup?” tanya Yook Nana sangsi, telunjuknya mengarah ke arah orang yang ia maksud.

Well, dia pengecualian.”

“Kamu memihak Rin?” tanya Nana lagi.

Jongup menggeleng, membiarkan kedua alis Nana bertemu, tak paham dengan jawaban yang ia dapatkan. Tidak hanya Nana sepertinya, mengingat hampir setiap orang yang lain ikut mengerutkan keningnya.

“Jongup, sebagai anak Seni, tahu betapa langkanya kesempatan seperti ini. Tapi, ‘kan tidak mungkin dia tahu-tahu memihak Sungmin, padahal Rin adalah pacarnya sendiri?” Alih-alih Jongup, Taehyung sudah lebih dahulu membuka mulutnya, menjelaskan posisi Jongup dalam perkara ini.“Lalu, kalian para gadis bagaimana?”

“Masih perlu bertanya?”

“Tentu saja, Rin, bodoh.”

Duet Namjoo dan Seolhyun dengan kompak mencerca pertanyaan Taehyung. Seolah-olah semua orang di dunia sudah mengetahui pihak mana yang mereka berempat ambil kali ini.

Selanjutnya, tak ada yang berbicara. Entah karena tidak tahu lagi harus membahas apa, atau karena tak mau dicerca lantaran melemparkan pernyataan-pernyataan bodoh—mereka semua bisa jadi menyeramkan terkadang.

“Bagaimana kalau seandainya Sungmin benar-benar pergi?”

Tak ada jawaban.

Karena tidak ada seorang pun yang berani membayangkan kemungkinan tersebut.

.

.

Lima hari sudah berlalu sejak pertengkaran besar itu. Dan selama itu pulalah dua kembar keluarga Choi tidak berbicara satu sama lain. Malah sebisa mungkin menghindari berada di ruangan yang sama selama lebih dari lima menit. Juga tidak ada yang berani—atau tidak mau—menatap satu sama lain ketika tak sengaja berpapasan.

Rin sengaja berdiam diri di kampus lebih lama, tenggelam dalam tugas dan dinginnya pendingin ruangan di perpustakaan. Mengatakan bahwa dirinya akan lebih fokus jika mengerjakan semua tugasnya di sana ketimbang di rumah. Gadis itu juga tak pernah pulang sebelum pukul tujuh malam, ketika ia yakin tidak akan bertemu Sungmin di bus yang biasa mereka tumpangi.

Menghindar?

Ya, gadis itu menghindar.

Takut jika ia menatap Sungmin, ia akan melupakan segala alasannya menentang sang kakak. Takut jika ia bisa melihat refleksi dirinya pada iris kelam milik Sungmin, ia akan melepaskan lelaki itu.

Rin tidak mau hal itu terjadi.

Ya, dia memang egois. Persis seperti yang gadis itu ucapkan untuk Sungmin lima hari yang lalu.

Namun, ketika ibunya meminta Rin untuk mengambilkan gunting di kamar Sungmin—dia memang sering tak mengembalikan barang yang ia ambil dari dapur—gadis itu tak bisa menolak. Dirinya tak mau diceramahi oleh beliau, mengingat ibunya sudah mendukung apapun keputusan yang diambil oleh Sungmin. Maka dari itu, sembari terus menghela napas, Rin melangkahkan kedua kakinya ke kamar Sungmin, berharap lelaki itu belum selesai membersihkan diri di kamar mandi.

Pintu kamar terbuka dan menunjukkan ruangan dengan nuansa abu-abu yang sangat familiar untuk kedua mata Rin. Gadis itu lantas dengan cepat berjalan menuju meja belajar, tempat di mana Sungmin biasa meletakkan semua barang-barangnya.

Namun, belum sempat Rin menemukan benda yang ia cari, kedua maniknya terpaku pada satu hal yang membuatnya tercekat.

Sebuah buku kecil berwarna hijau dengan lembaran kertas berwarna putih terselip di antara halamannya.

Tubuhnya terpaku dan napasnya tercekat. Gemetar, tangannya bergerak meraih buku itu. Sembari berharap bahwa yang ia pikirkan tidak akan menjadi nyata. Bahwa lembaran kertas itu tidak akan menjadi bagian dari mimpi buruknya.

Tetapi, tentu saja, harapan hanya harapan.

Mimpi buruknya dimulai bersamaan dengan kemunculan Sungmin di ambang pintu. Suaranya lirih terdengar, bersamaan dengan selesainya Rin membaca kata demi kata yang tertera di kertas putih itu.

“Rin-ah…”

“Kamu akhirnya pergi, huh?” gumam Rin, pandangan matanya kembali kosong. Pemandangan ini mengingatkan Sungmin akan pertengkaran mereka.”Kamu benar-benar tidak menganggapku ya.”

Sungmin dengan cepat merengkuh tubuh sang adik, sebelum gadis itu sempat kabur seperti sebelumnya.”Maafkan aku.”

“Kamu bilang kamu mengkhawatirkanku!” teriak Rin, disusul dengan isak tangis darinya. Berusaha melepaskan diri dari pelukan Sungmin, walaupun sebenanya ia sudah tak punya cukup tenaga lagi untuk melakukannya.

“Maafkan aku,” gumam Sungmin tepat di telinga Rin. Lelaki itu mengeratkan pelukannya, mengelus rambut hitam Rin lembut. Walaupun iya sendiri tidak yakin, Sungmin ingin sekali bisa menenangkan Rin kali ini.

Gadis itu menangis.

Gumaman maaf terdengar berkali-kali.

Gadis itu berteriak—teredam kaus biru milik Sungmin yang kini sudah basah terkena air mata.

Sungmin makin mengeratkan pelukannya.

Passport dan tiket di tangan Rin terjatuh. Bertemu dengan karpet abu-abu tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Bahkan tidak ada kerusakan apa pun yang bisa dilihat dari keduanya.

Tak seperti hati kedua saudara kembar yang kini telah remuk redam.

KE905

Seoul/Incheon (INC) – Frankfurt (FRA)

Departure time : 2016-03-04 13.35 KST

.

.

Hari itu, tidak ada yang berbeda dengan keadaan di Bandara Internasional Incheon. Tetap ramai seperti biasa, dipenuhi oleh penumpang yang datang maupun pergi, juga para pengantar dan penjemput yang berdiri di setiap gerbang keberangkatan dan kedatangan. Tak lupa juga akan kesibukan pegawai bandara yang berlalu lalang, memastikan kegiatan operasional hari itu berjalan sebagaimana mestinya.

“Sering-sering hubungi kami, bahkan jika kamu akan mati.”

Kalimat itu menjadi salah satu dari sekian banyak kalimat perpisahan yang diucapkan di depan gerbang keberangkatan siang itu. Pelakunya langsung dihadiahi sebuah umpatan dari pihak yang akan pergi, walaupun kemudian suara tawa terdengar dari mereka.

“Aku akan menyesal jika suatu saat akan merindukanmu, Kim Taehyung.”

Suara tawa kembali terdengar.”Hey, kamu memang akan merindukanku. Tidak banyak orang sepertiku di dunia ini,” balas Taehyung, kedua alisnya bergerak-gerak naik secara menyebalkan.

“Kalau dunia ini dipenuhi oleh orang-orang sepertimu, aku bisa mati muda,” gumam Yook Nana.

Tatapan kesal dilayangkan oleh Taehyung, merasa kalau Yook Nana telah merusak mood yang sedang dibangunnya.

“Kalian benar-benar akan bertengkar di sini?” Suara Jongup menengahi, memberi isyarat dengan matanya ke arah Taehyung dan juga Nana. Berusaha mengingatkan akan dua tokoh utama pada kesempatan ini dan waktu yang terus berjalan.

“Ayo, lebih baik kita pulang sekarang. Aku lapar!” kata Sungjae. Paham betul akan apa yang dimaksud oleh Jongup.

Lelaki itu berbalik setelah mengucapkan “sampai jumpa” dan “jaga dirimu” untuk Sungmin. Kemudian berusaha menarik teman-temannya untuk pergi meninggalkan tempat perpisahan itu.

“Nana-ya,” panggil Sungmin. Membuat langkah semua orang terhenti dan kembali berbalik, menatap Sungmin dengan kening mengernyit heran. Semakin heran ketika lelaki itu melangkah mendekati Nana dan menariknya ke dalam pelukan—dan kenyataan bahwa Nana diam saja juga membuat mereka semua semakin terheran-heran.

Dan ketika Sungmin mengecup bibir Nana sekilas, semua orang tak bisa lagi menyembunyikannya.

“Maaf.”

Perkataan Sungmin itu disambut oleh sebuah pukulan di lengannya. Nana melakukannya dengan wajah datar, tak peduli jika tasnya rusak atau Sungmin kesakitan. Lantas berbalik dan meninggalkan lelaki itu—dan adiknya dan teman-temannya yang kebingungan setengah mati.

“Kamu berhutang penjelasan,” kata Sungjae sebelum berlari kecil menyusul Nana.

“Kamu berulah lagi ya?” Itu kalimat terakhir yang diucapkan Taehyung sebelum kembali melangkah. Tak lupa memberi isyarat pada Jongup untuk ikut serta, meninggalkan dua bersaudara yang sedari tadi belum mengucapkan sepatah kata pun untuk satu sama lain.

Namun, genggaman Rin pada ujung kemeja Jongup mengatakan sebaliknya. Membuat Jongup terpaksa tinggal dan membiarkan Taehyung berjalan terlebih dahulu.

“Masih marah?” tanya Sungmin.

“Kalau aku marah pun kamu masih akan tetap pergi, ‘kan?”

Sungmin tersenyum pahit.

“Aku—“

“Masuklah, waktu check-in sudah hampir habis,” balas Rin, memotong apa pun perkataan yang akan disampaikan oleh kakaknya itu. Ia tidak mau mendengar apa pun lagi.

Choi Sungmin menghela napas. Untuk terakhir kalinya, lelaki itu memeluk Rin erat—entah kapan ia bisa kembali melakukan hal ini.

“Balas pesanku dan jangan menghilang dariku,” kata Sungmin. Terdiam sejenak, sembari menghirup wangi mint yang menyeruak dari rambut Rin, sebelum melanjutkan,”maafkan aku.”

Rin menghela napas. Membalas pelukan Sungmin lebih erat, seakan tak mau melepaskan kepergiannya.

Tetapi tentu saja semua itu harus berakhir. Sungmin akhirnya melepaskan pelukannya dan mengelus puncak kepala Rin. Senyum lembut terukir di wajahnya, sesuatu yang sangat jarang dilihat Rin selama lebih dari dua puluh tahun hidup bersama Sungmin.

Kemudian tatapannya berubah arah, menatap seorang lelaki di belakang Rin tajam.

“Aku benci mengatakan ini, tapi tolong jaga dia untukku,” kata Sungmin setelah beberapa saat terdiam.

Jongup tersenyum.

I always do.”

fin.

A/N:

/tarik napas/

Okay, I’m here to tell you guys that this may be the last fic of Choi Siblings from me.

Dikarenakan nggak ada kejelasan atas status SPEED (and Sungmin, specifically) yang kemungkinan besar udah disbandI’m deciding that I’ll put an end to any story of Choi SiblingsAlso any story with SPEED members as the cast.

Why?

Karena, misalkan, SPEED beneran disband dan Sungmin memutuskan nggak bakal balik ke entertainment world, rasanya nggak pantes buatku buat terus nulis dengan menyertakan nama “SPEED Sungmin” di atas sana. He’s just an ordinary person like me, after all, if this really happening

BUT

Tapi, misalkan, somehow Sungmin masih ada di entertainment world, entah itu sebagai aktor, penyanyi solo, atau apa pun, I promise that I’ll writing about him again. I promise.

Dan nggak menutup kemungkinan juga ada scriptwriter lain yang bakal nulis tentang Sungmin :) Ah, dan Moon-Rin akan terus jalan kok, tenang aja ((siapa yang nanya))

so, let me bid a goodbye with Sungmin. Hope there’ll be a chance that he’ll meet you guys again :))

Bye,

Love, Choi Siblings

4 thoughts on “[Oneshot] Separation”

  1. LAH KAN SEDIH KAN APA SIH KAK TIWI AH:((((( KENAPA SIH INI SEDIHHHHHHHHHHHHHHHHHHH?????!!!

    “Aku benci mengatakan ini, tapi tolong jaga dia untukku,” ——> HuhUHUHUUHUHU KAKAK. Aku gak bisa ngebayangin kalo suatu hari nanti aku bakal ngetik fic perpisahan kayak gini. Ya ampun!!!! NGEBAYANGINNYA AJA UDAH SEDIH. Soalnya ketika kita jadiin seseorang sebagai kembaran kita tuh aduh udah melted gitu loh yagasih kak kayak udah otomatis pikiran langsung satu set :(((((

    Meskipun aku agak bertolak belakang sama pemikiran katiwi tentang ganulis lagi kalo mereka disband, tapi sama sekali gak ngurangin rasa sukaku sama setiap tulisan choi twins huhuhu. Aku gak yakin aku pernah komen apa enggak atau serajin apa aku baca choi twins tapi sepanjang yang aku inget aku suka banget sama kalian berdua! :’) Kaktiwi sukses banget ngegambarin detail kembar kalian, dan karakterisasinya, dan keikutsertaan anak-anak 95line HUHUHU you make me know more of them!

    Terus semoga sungmin kariernya lancar dan bisa achieves his other dreams! Huhu so sedih :””’ TERIMA KASIH TELAH MEWARNAI HARIKU DENGAN KEKHASAN CHOI TWINS! CHOI SUNGMIN FIGHTING! CHOI RIN FIGHTING!

    Suka

  2. AAAAHHHHH TIDAK!! RIN-KU SAYANG!!!
    #plak

    Oke, setelah make up my mind, dan tahu jelas gimana rasanya, aku hanya bisa menghela nafas dan berharap yang terbaik buat sungmin kita. /KITA
    kalo komen soal fic sih, ini lebih dari sempurna buat ngucapin salam perpisahan, tiap part buat aku deg-degan, dan sedihnya Rin dapet pake banget wi

    bentar… aku boleh gelindingan ya….? ITU NGAPAIN KAMU NYIUM NANA DIDEPAN ORANG!!! WOI!!!
    yah baper deh ya udah ya…

    Makasih ya wi, this is more than perfection
    semoga aja kita bisa liat sungmin lagi dengan mimpinya ya wi

    Thank you,
    All.Want.Candy

    Suka

  3. Kak tiwi, Fict ini harusnya yang sad gimana gitu malah berhasil membuatku berjingkrak jingkrak ria waktu baca “Dan ketika Sungmin mengecup bibir Nana sekilas” jadi intinya Sungmin gak ngelepasin Nana walaupun pergi jauh dari dia awawawwwwww
    “Aku benci mengatakan ini, tapi tolong jaga dia untukku”
    Dan yang ini awaww ini bener2 kata perpisahan yang ..(????)

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s