[Oneshot] Separation and That Dusk

separation and that dusk

Separation and That Dusk

by Jung Sangneul

Sehun [EXO] and You | AU, Romance, Sad, Angst | Oneshot | PG-17

sequel for my old fic Love at The Dusk

.

Karena botol tadi bukan sembarang botol, isinya adalah racun yang mampu membunuh raga dalam tiga menit.

.

 

Aku termangu.

Senja hari ini pekat, aku tidak ingin menghabiskan waktu di balkon lantai atas. Tidak akan terlihat bias sinar mentari yang tunjukkan semburat indahnya di sana. Hanya ada awan kelabu yang menutupi langit, berarak membentuk gumpalan.

Dua tahun telah berlalu. Dua tahun yang lalu aku tidak berada di kota ini. Saat itu aku tinggal di Seoul yang luas, tidak terkurung sepi dan terperangkap kesunyian seperti ini. Dua tahun lalu aku menyukai senja, dan dua tahun lalu aku tidak perlu mengetuk-ngetukkan kuku di atas meja untuk mengusir bosan menunggu seseorang.

 

“Mengapa?”

Pertanyaan itu kembali menghiasi relung hatiku ketika pagar rumahku bergoyang dan sosok itu muncul. Sosok yang mampu membuat jantungku berhenti berpacu dalam sepersekian detik, yang mampu menghambat kerja pikiranku dan melupakan segalanya.

Yang kuingat hanya, mengapa aku terjebak dalam lingkaran ini. Mengapa Tuhan tidak membiarkanku pergi dua tahun yang lalu. Mengapa Ia mengatur ceritaku menjadi seperti ini.

 

“Kau tidak akan bunuh diri hanya karena menungguku lama, ‘kan?” Sosok itu tersenyum, mengacak rambutku pelan, “mengapa tidak di balkonmu seperti biasa?”

“Bosan,” jawabku singkat, mengalihkan perhatian ke sudut taman, berusaha mengabaikannya.

“Jarang sekali kau mengeluh bosan. Bagaimana kalau kita jalan-jalan?” tawarnya.

“Oh Sehun berhenti. Kali ini aku bukan hanya bosan.” Aku menghela napas dalam diam, membiarkan oksigen membawa sebagian kekalutanku pergi menjauh.

“Aku juga lelah dengan semua ini.” Kuembuskan keras napasku kemudian melangkah ke dalam rumah, membiarkan dia sendiri di luar.

***

Oh Sehun.

Dia bukan sosok yang baru dalam hidupku. Ini menyedihkan mengingat aku telah mengenalnya dalam separuh hidupku. Aku tahu bagaimana Sehun kecil yang lucu menggandeng tanganku di arena permainan anak-anak. Aku tahu bagaimana dia menghilang dalam beberapa tahun, lalu seenaknya memenjarakanku dalam kasih selembut kapasnya.

“Aku mencintaimu, Sehun.”

Membuatku mengucap kalimat itu tanpa rasa bersalah, mengajakku berputar dalam pusaran cinta tak berujung. Aku tidak tahu jika mungkin Tuhan jahat. Yang diajarkan oleh ibuku, Tuhan baik dan kaya, mampu mengabulkan semua permintaanku yang tersulit sekalipun.

Tapi Ia tidak membuatku mati dua tahun lalu.

 

 

“Memang kalau kau mati dua tahun yang lalu, kauyakin bisa bahagia di sana?” Sehun merangkul bahuku, kembali membiarkanku bersandar di sana, dan menghirup aroma parfumnya yang memabukkan.

“Kurasa itu lebih baik dibanding keadaanku sekarang. Kautidak pernah tahu sesulit apa dibuang keluarga, Sehun. Ibuku tidak sebaik itu untuk membiarkanku tenang setelah melewati masa kritisku saat itu. Ayahku, dia terlalu keras untuk dilawan,” ceritaku, “dan tidak ada yang bisa mencegah semua ini, ‘kan?” Mataku hampir meneteskan setitik bening yang berusaha kutahan dari hadapan Sehun.

“Tapi jika kaumati aku tidak akan bisa hidup sejauh ini, sayang,” Sehun memotong.

“Kau akan tetap hidup. Lalu apa gunanya jika aku tetap ada? Kau bukan sepenuhnya milikku, kau—”

Sehun menghentikan semua ocehan berisikku, membawanya luruh dalam dekapan hangatnya, cinta tulusnya, kenyataan bahwa hubungan ini tidaklah terlarang lagi.

“Tapi itu fakta yang tak bisa kita tampik, Sehun-ah.” Suaraku samar terdengar ketika aku memeluknya, biarkan semua luka ini pergi bersamanya. Biarkan seolah tiada hari esok di antara kami.

 

 

Dua tahun lalu Ibu bilang kami bukan saudara. Sehun bukan anak kandung dari Paman Oh. Ia hanya anak angkat yang amat disayangi oleh Paman. Tapi setelah kebahagiaan singkat itu, Ibu bilang, tidak ada di antara saudara—angkat maupun kandung yang boleh berhubungan.

“Itu memalukan. Mulai sekarang kauakan Ibu kirim ke Busan dan melanjutkan kuliah di sana. Tidak ada tawar-menawar.”

 

 

Mengapa hari itu Tuhan menyadarkan aku dari masa kritis?

            Mengapa Tuhan tidak mematikan aku—paling tidak hatiku?

***

“Kapan kau ke sini lagi?”

Pagi menjelang. Sehun sudah rapi dengan jasnya—ia sudah diminta belajar bisnis kendati masih harus menyelesaikan skripsinya dengan dosen pembimbing.

“Kuusahakan lebih cepat. Aku akan menghubungimu nanti,” ujarnya sembari tersenyum dan menepuk kepalaku sayang.

“Tapi kautahu sesebentar apapun kau pergi itu menyakitkan untukku,” balasku dengan mata terluka sambil pura-pura membersihkan noda di kemejanya.

Sehun terdiam menatapku beberapa saat, kemudian melepaskan tanganku dari kemejanya. “Aku janji akan menghubungimu setiap malam, kalau begitu. Telepon aku ketika kautidak bisa melanjutkan tidurmu, tekan nomorku ketika kautakut sendirian di sini. Kau mengerti?” Mata Sehun mengerling, memberiku secuil rasa aman.

“Tapi kau… kaupasti akan bertemu wanita itu—”

“Sshh.” Sehun membisikkan cintanya di telingaku dan memelukku erat, katakan ‘aku mencintaimu’ hingga lidahnya kelu dan aku tertawa.

 

“Jangan pernah katakan tentang itu lagi. Jaga dirimu, hm.” Ia mengecup keningku dan tinggalkan aku dalam segores sepi.

 

Kuliahku di kota ini tidak berlangsung baik. Aku lebih sering melamun ketika dosen menjelaskan, terlalu sering dipanggil ke kantor Dekan. Di hari selanjutnya aku berpura-pura sakit seolah kuliah bukanlah hal yang penting bagiku. Aku tidak bergaul dengan banyak mahasiswa, mereka semua memandangku orang kaya yang tidak acuh, namun aku tidak peduli.

Hidup ini tidak lagi berjalan seperti yang kuinginkan.

***

“Halo.”

“Kau baik-baik saja, sayang?”

Aku menghela napas untuk ke sekian kalinya sebelum menjawab, “Kencanmu sukses?”

“Sudah kubilang jangan bahas itu.”

Aku diam beberapa saat sebelum membalas, “Aku sudah bilang kan, itu fakta Sehun. Kau memiliki hubungan terikat yang lebih sakral dengannya. Kalian tunangan.”

“Tapi kautahu aku tidak mencintainya!” ini Sehun, dan seumur hidup aku mengenalnya dia belum pernah membentak. Ataukah memang semua sudah tak pantas dilanjutkan?

 

“Sekalipun tidak, keluargamu akan tetap memaksa. Lalu apakah perasaanmu bisa dipertimbangkan dalam musyawarah? Kau seperti boneka, Sehun. Kau—”

“Aku tidak ingin bertengkar.”

“Aku juga tidak.”

Aku menelan ludah, menyadari apa yang tergeletak di depan pintu rumahku tadi pagi. Apa yang ada di dalam amplop tersebut. Itu bukan hasil aplikasi PhotoShop, itu nyata dan mau tidak mau aku harus menerimanya. Fakta bahwa setahun yang lalu Paman Oh memutuskan untuk menjadikan Sehun karyawan perusahaan dan menjodohkannya dengan orang lain. Seorang wanita yang lebih segala-galanya dariku. Dan amplop itu berisi foto Sehun dengannya.

 

“Tapi aku tidak bisa menahan sakit. Bahkan ketika kau mengucap kata sayang, aku tahu wanita itu membayang. Sehun aku juga punya perasaan…” Suaraku berubah menjadi gumaman, tersapu dinginnya angin malam.

 

“Aku hanya mencintaimu.”

 

Aku sempurna terisak. Tangis itu keluar seperti ketika Ibu memergoki hubungan kami dan memarahiku habis-habisan. Rasa sakit ini lebih besar, bertumpuk berlipat ganda setiap harinya. Meski Sehun masih ada untuk menjengukku secara rahasia, tapi itu tidak mampu menghapus apapun. Kenyataan bahwa hubungan kami tetaplah ditentang, dan ia sudah milik orang lain….

 

“Bagaimana jika aku memutuskan hubunganku dengannya? Berhentilah menangis, kumohon.”

Aku menyandarkan tubuhku ke punggung ranjang, menghentikan isakan kecil yang lolos dari bibirku.

“Kurasa tidak akan bisa. Akan sulit untuk kita, Sehun. Meski kau sudah putus dengannya, kita tidak akan direstui. Kita seperti air dan api yang sampai selamanya tak akan bisa bersama.”

 

Sehun di sana tertawa.

“Kau saja yang jadi apinya,” selorohnya asal.

Aku tertawa sengau, justru air mataku mengalir bersamaan dengan itu.

“Ya, aku akan membakar diriku sendiri dan menghilang dari pandanganmu. Bagaimana?”

 

Hening.

“Aku tidak ingin membicarakan ini. Bagaimana kuliahmu?”

“Setiap hari aku seperti mayat hidup, kautahu? Aku tidak bisa melanjutkannya, aku akan keluar dari sana setelah ini.”

“Kau bercanda, kan?”

“Tidak, Sehun. Aku sedang tidak ingin bercanda.”

Sebelum tangisku lebih menjadi, aku menekan tombol merah dan mengakhiri semuanya. Pilihan terbaikku hanya membasahi bantal dengan tangisanku. Biarkan ini terlihat lemah atau bagaimana, aku sudah tidak peduli lagi. Memang apa yang akan berubah jika aku tegar dan bertahan seperti karang? Pertunangan itu sudah terjadi dan Sehun… dia bukan milikku seutuhnya.

Dia bukanlah milikku.

***

            “Kausehat?”

Aku menghentikan irisan wortelku mendengar pertanyaan ini. Ibu menelepon, aku tinggal menghidupkan loudspeaker karena biasanya beliau hanya memberikan pesan-pesan dan kabar terkini keluarga di Seoul.

“Ya, Ibu. Aku sehat, kau tidak perlu khawatir.”

“Suaramu terdengar serak.”

Aku menyeringai, mengumpat dalam hati. Sejak kapan kau kembali memedulikan anakmu ini? Bukankah sudah sejak lama kau membuangku?

 

“Aku hanya batuk biasa,” jawabku sembari memasukkan wortel dan kubis ke dalam air yang mendidih.

 

“Kau sepertinya sibuk. Baiklah, ini kabar terakhir, kuharap kau senang,” ujarnya kemudian.

Aku diam saja, sebelum suaranya melanjutkan.

“Minggu depan Sehun akan meluluskan kuliahnya dan menikah.”

           

Deg!

 

 

 

 

Aku menelan ludah dan lidahku terasa pahit saat itu juga.

“Aku senang, tentu saja.”

 

“Baiklah, jaga dirimu. Ibu menyayangimu.”

 

Sayang?

Aku terdiam sebelum hatiku kembali tergores luka.

 

 

“Kau menyayangiku lalu kau memisahkanku dengan Sehun?! Kau menyayangiku maka dari itu kau seakan membuangku ke pulau terpencil?! Seolah aku lumpur menjijikkan yang hanya mengotori rumah megahmu?!”

BRAK!

Aku mebanting sisa bahan yang berada di meja dapur, membiarkan mereka berhamburan, seperti isi hatiku.

“Kaubilang sayang lalu kau mengatakan itu dengan mudahnya?! Kau bahkan tidak peduli dengan perasaanku, Nyonya!!!!” teriakku kencang-kencang, membiarkan emosi membakar diri dan kakiku tak kuat menyangga tubuh. Jatuh berlutut dengan setetes air mata.

.

.

.

.

.

.

.

 

“Bangunlah.”

Aku terpenjara dalam air mata menyedihkan ketika suara itu datang. Menarik tanganku, membiarkanku berdiri terhuyung, kemudian memelukku seerat mungkin. Membuatku semakin sesak dalam lara.

“Aku tidak akan menikah,” ucapnya berbisik di telingaku, membenamkan kepalanya ke dalam helaian rambutku, memberikan kehangatan lebih.

“Tapi kau tetap akan menikah, bagaimanapun itu.” Aku menghirup oksigen sebanyak mungkin, namun tangisanku pecah saat itu juga. Dia membiarkanku. Sehun membiarkan aku memukulnya, mencengkeram kerah kemejanya, mengumpat habis-habisan dalam pelukannya.

 

“Semuanya akan tetap berjalan, Sehun. Tidak akan ada yang mendengarkan pendapat kita, bagaimanapun kita berusaha.” Aku mengakhiri, memeluk erat lehernya dan membiarkan ini jadi yang terakhir kalinya.

Terakhir kalinya.

***

Entah mengapa malam itu, usai mengakhiri santapan malam, Sehun menulis. Aku membiarkannya larut dalam setiap baris kata yang ia tulis di atas kertas, karena ia terlihat serius. Kupikir itu berkas kerja barunya, atau sebagian isi skripsinya yang sudah hampir menemui titik terang.

Sementara langkahku berderap menuju dapur. Mataku menemukan hal yang rancu di sana. Botol berisi larutan yang aneh. Mungkinkah……

 

“Sehun kau mau minum apa?” tanyaku.

Sehun hanya tersenyum, “Apa saja, terserah kau.”

 

 

Kumohon ampuni aku Sehun.

            Kumohon lupakan aku. Anggaplah aku orang terjahat yang pernah kaukenal.

 

 

Botol tadi bukanlah botol sembarangan. Isinya bukan hanya air biasa, dan itu akan segera mengaliri tubuh Sehun. Sehun yang aku cintai, Sehun yang memberiku zona aman, Sehun yang akan meluluskan kuliahnya dan menikahi seorang gadis minggu depan. Oh Sehun-ku yang mencintaiku dengan jiwa dan raganya.

 

“Kau tidak lelah menjadi manekin di sana?” tanyaku, sesaat setelah minumannya habis.

“Tidak, asalkan aku masih bisa ke sini.”

“Kau menyukai gadis itu?”

Matanya tertutup sedikit lama, lalu menjawab, “Dia cantik, tapi aku hanya mencintaimu.”

Dua menit aku diam menghitung waktu, dan Sehun terkulai di meja makan yang lengang. Dia tampan, dan aku masih memujanya dalam sepersekian detik.

 

“Percayalah ini karena aku mencintaimu, Sehun.” Aku mengelus bahunya yang masih hangat, kemudian menggenggam tangannya dengan setetes air mata.

Dia sudah sempurna pergi.

Karena botol tadi bukan sembarang botol, isinya adalah racun yang mampu membunuh raga dalam tiga menit.

***

Sehari setelah kepergian Sehun.

 

Dia pergi, tidak terselamatkan seperti nyawaku. Dia menghilang untuk selamanya dari hidupku. Dan sore yang pekat itu, ketika senja yang indah tak lagi menyapa hariku, hanya ada petir yang sahut-menyahut dan hujan mulai menurunkan diri, aku tahu kalau Sehun tidaklah menulis skripsi maupun pekerjaan di kertasnya.

Ia menulis sesuatu yang damai. Surat untukku.

 

            Aku hanya iseng menulis ini, mungkin terlihat cheesy ketika kau membacanya. Terkadang cinta tak lagi memandang rupa, kekayaan, atau ketenaran seseorang. Itu yang bisa kusimpulkan selama hampir empat tahun menjalani hubungan rahasia denganmu. Kautahu selama ini aku hanya bisa merasakan ketenangan dan kebahagiaan, dan hanya kau yang bisa membuatku merasakannya(percayalah aku tidak sedang bercanda).

            Aku juga tidak akan bisa menyebutkan lima alasan mutlak mengapa aku bisa mencintaimu. Aku bertemu denganmu lagi di bangku SMA, aku melihatmu kembali, lalu aku mencintaimu. Percayalah prosesnya secepat itu, hanya saja aku terlalu lama berpikir untuk menyatakannya padamu. Jadi, apakah kautahu? Aku mencintaimu lebih lama dibanding apa yang kaupikirkan selama ini. Aku tidak ingin melihatmu sedih, sungguh. Percayalah kalau saat kau menangis aku mengutuk diriku sendiri. Aku sudah berusaha sayang, aku memohon pada Ayahku malam itu.

            Aku berlutut di kakinya supaya semua keputusan ini dibatalkan. Percayalah aku sudah rela ditumpahi air dari mulutnya hanya karena aku membangkang. Aku sudah berusaha sekuat yang aku bisa. Itu semua karena aku mencintaimu, karena aku tidak ingin mendengar tangisanmu lagi.

 

Aku menggigit bibirku kuat-kuat, bersamaan dengan gemuruh petir yang semakin menabur duri di atas lukaku yang belum kering. Sehun tidak pernah bohong, aku selalu percaya semua kata-katanya dari dulu. Dulu ia berjanji akan membelikan es krim jika kalah main game, dia menepatinya. Ia pernah bilang akan menanggung semuanya jika hubungan ini terungkap, ia tepati. Karena memang Sehun akhirnya berkorban menjadi putra mahkota di Seoul sana. Aku tahu itu tidaklah gampang untuknya.

Namun aku tidak menghargainya, sedikit pun.

 

            Gadis itu, aku tidak menyukainya sama sekali. Ia cantik seperti ulzzang. Namun jangan kaupikir aku pernah berjalan-jalan dengannya, menggandeng tangannya, atau memeluknya dan mencium pipinya seperti yang kulakukan padamu. Ia penderita kelainan mental. Terkadang ia amat sangat baik hingga mau membelikanku apa saja. Namun terkadang ia bisa menampar atau melukaiku.

            Kaupikir aku bisa bahagia dengannya? Mungkin jika aku belum memilikimu, aku bisa saja bersabar dan belajar mencintainya. Tapi aku sudah memilikimu, ada alasan apa aku hingga bersabar sejauh itu? Hanya karena gadis itu juga pewaris tahta satu-satunya dan ia kaya?

            Sudah kubilang aku tidak mencintai seseorang dari kekayaannya. Maka percayalah kalau aku akan berusaha besok. Aku akan menggagalkan semua rencana pernikahan busuk ini. Aku akan menjemputmu dan membawamu bersamaku. Aku tahu semua penderitaanmu, sayang, aku bisa merasakannya. Hatiku terpaut tidak jauh dari hatimu(kali ini aku tidak sedang merayu, sungguh).

            Jika Tuhan berkenan, percayalah kita pasti bisa bersama. Hanya saja kauperlu lebih sabar. Menangislah di bahuku jika kau butuh. Sampaikan segala ketakutanmu padaku, apapun itu aku akan menerimanya. Aku akan mencoba meredam semua emosimu, membiarkanmu menyandarkan lelahmu padaku, menyalurkan semua kesakitanmu padaku. Karena aku mencintaimu tanpa alasan. Karena aku damai ketika mencintaimu, percayalah itu.

            Ini untukmu, cinta dari Oh Sehun yang tidak berharga. Tapi kuharap kau menjaganya selamanya dalam lubuk hatimu. Hey Nona Oh.

 

 

Tapi maafkan aku yang bodoh, Sehun. Maafkan tanganku yang telah membunuhmu dengan sengaja. Semoga senja ini kau bahagia di sana, tanpa harus terluka karena mencintaiku. Tanpa harus terhimpit beban karenaku.

Salam terakhir dariku yang bahkan tak pantas kuucapkan sama sekali. Namun semoga kau mendengarnya di surga yang damai itu.

 

Aku juga amat-sangat mencintaimu, dan hati tulusmu.

 

 

[THE END]

Halohaaa! Finally, aku pengen nyapa penggemar pembacaku lagi, hehe. Ini fic lawas banget serius, aku tulis sekitar tahun 2014 awal setelah Love at The Dusk rilis pada 2013. Aku cuma kangen sama IFK dan maaf, belum bisa posting lanjutan dari BTS (Behind the Scene) ((gada yang tanya gada yang nunggu padahal)) karena kendala ide huhu. Dan untuk playlist-fic juga masih pada dalam proses, dan aku males banget bikin poster duh /.\ maafkan penulis malas ini, yhaaa.

Sekian aja deh, mudah-mudahan nggak mual baca gaya tulisanku jaman baheula. Wanna leave some reviews?

 

Sincerely,

jungsangneul

Iklan

2 thoughts on “[Oneshot] Separation and That Dusk”

  1. oh? tulisan lama? sudah dieditkah? rada banyak typo soalnya… hm, wait aku rasa itu bukan typo deh, tapi kesalahan tata bahasa… atau mungkin lupa mencet spasi ^^
    anyways, aku boleh curhat ga nis? kita ini kan penulis fiksi ya, yg mana cerita kita itu ga mesti kudu masuk akal, tapi menurutmu mungkin ga sih di jaman spt ini ada org yg galau cinta? (niswa: banyak kak li liat aja di berita) oh damn, oke maaf.
    krn memang sih, topik ini sangat bagus dijadikan drama, kamu pun meramu plotnya lumayan baik, tapi… tidakkah ide ini susah dijadikan drama yg pas? maksudku yg ga terlalu mengharu-biru tapi ttp kena feelnya gitu. di sini aku masih merasa terlalu drama… ya mungkin krn topik seperti ini memang harusnya didramakan, tapi hal yg kutakutkan adalah jika aku bikin yg semacam ini juga, pembacaku akan kabur. kamu taulah, vocabku makin miris blkgan ini.
    malah curhat.
    plotnya aku suka–racun itu ga ketahuan fungsinya sampe tengah2–flow dialognya juga enak tapi ya itu, masih terlalu… hm, kurang riil. ya gimana ya aku juga suka pake kata2 rada puitis gitu sih -.-
    ha aku bingung mau komen apa, keep writing aja ya!

    Suka

    1. Iya kak, tulisan lama. Sampe bulukan di laptop, tapi kok ya eman (bahasa apaan nih) sayang gitu maksudnya ngga dipost. Soalnya dulu banyak yg minta dikasih sequel huhu T.T

      Dan buat curhatan kakak…, aku sendiri ngerasa ini fail lo kak waktu selesai ngarang, makanya ini modal pede doang aku pajang haha. Soalnya ya aku ngerasa ini tuh konfliknya terlalu mendayu-dayu aja gitu. Dann aku belakangan belom baca karya kakak, jadi ngga ngerti vocab kakak kaya apa. Terakhir baca yg chen-liyin bagus2 aja kok hehe xD

      Anyway makasih komen panjangnya ya kak, keep writing too. Tetep produktif ^^

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s