[Vignette] À demain

À demain cover

À demain

: See you tomorrow

..

Choi Sung Min (SPEED), Yook Na Na (OC), and Others || Fluff, Friendship || Vignette || PG-15

Previously: Solace by Thelitterin

..

“À demain, Choi Sung Min”

..

December 2015

[07:32]

“Na, kau bawa apa sih?”

Pertanyaan Sung Jae tak dijawab, yang berhak menjawab lebih memilih diam sambil memandang jalan raya di balik kaca bus. Tak mendapat jawaban dan didorong rasa ingin tahu yang menggunung, ujung jemari jahil milik Sung Jae mulai menggerayangi tas karton hijau muda yang kini ada di antara ia dan Na Na.

“Jauhkan tanganmu atau tidak ada makan malam.”

Peringatannya sangat jelas—sungguh sangat jelas. Jika saja Sung Jae bisa memasak, mungkin ia tak perlu berkeringat dingin dan mengibarkan bendera putih, sayangnya Tuhan itu Maha Adil. Na Na mencuri pandang lewat pantulan wajah Sung Jae di kaca bus, lalu ia tersenyum samar.

“Tenanglah, isinya bukan hal penting.”

Hari itu, Yook Sung Jae dikejutkan dengan kalimat lembut milik Na Na.

..

[10:29]

Sung Min menguap entah yang keberapa kali. Semalam tidurnya tak nyenyak entah juga karena apa, dan pagi ini rasanya kedua kelopak matanya digelayuti seribu bidadari—yang tentu saja nyaris memaksanya menutup mata dan melewatkan penjelasan apapun yang sedang berlangsung.

Getar halus di kantong jaket membuatnya gelagapan dan segera merogoh-rogoh mencari benda dengan fungsi umum sebagai alat komunikasi. Getarnya tak lama—tanda sebuah pesan masuk atau sekedar ada pembicaraan di grup chat. Tunggu, siapa tersangka tolol yang memulai pembicaraan di grup chat saat jam kuliah? Apa ia lupa amarah Han Sang Hyuk si otak emas?

Dengan hati-hati Sung Min meletakkan ponselnya di antara lembaran buku tulis, lalu menemukan sebuah nama dari orang yang tak pernah ia duga. Orang itu yang juga mengejutkannya semalam dan membuat perasaannya tak nyaman.

“Na Na?”

Sebuah pesan dengan nada tanya yang sangat gamblang dijabarkan.

From: Yook Na Na

Choi Sung Min, istirahat siang ini temui aku di kantin fakultasmu. PENTING

Ps: siapapun yang tahu, kau yang akan menanggungnya.

Entah perasaan macam apa yang harus dirasakannya sekarang, semua kalimat yang ia baca menujukkan Yook Na Na yang ia kenal. Tidak ada penawaran baik-baik dan selalu dibumbui ancaman yang serius—Yook Na Na tak pernah bercanda dengan ancamannya, dengan jaminan hidup Sung Jae. Tanpa menunggu, sebuah jawaban telah terkirim dan ponselnya telah menghilang ke dalam jaket, menyisahkan matanya yang tak lagi mengantuk.

To: Yook Na Na

Aku tidak bisa menolak kan? Janji kelingking.

..

[12:54]

“Hoi!”

Na Na menoleh, menemukan Choi Sung Min berjalan mendekat sambil membawa dua gelas kopi hangat di tangan. Syukurlah pemuda kembaran Rin itu tahu jika ia sedang butuh sesuatu yang hangat, jika tidak, mungkin ia akan menyeret Sung Min menuju mesin penjual kopi hangat terdekat.

“Kau lama,” itu kalimat yang pertama kali Na Na ucapkan di balik maskernya sambil menerima segelas kopi hangat dari Sung Min. Sebenarnya ia bisa saja tak menggunakan masker, namun itu adalah perlindungan pertama yang bisa ia gunakan untuk menghalau masalah dari biang-biang gosip nomor wahid dalam grupnya.

Yang sialnya berada dalam fakultas yang sama dengan Sung Min.

Begitu juga adik laki-lakinya.

“Kenapa kau pakai masker?” mungkin itu hal yang normal untuk ditanyakan, tapi Na Na sendiri tak peduli, ia menyodorkan tas karton yang semenjak pagi telah dibawanya kemanapun.

Alis milik Sung Min serta merta terangkat, bingung dan heran sembari menerima tas karton yang diberikan padanya, ia baru mengerti setelah tahu isi dari tas itu, “Kau datang ke fakultasku hanya untuk mengembalikan ini?”

Mungkin angin semilir musim dingin yang berhembus membekukan otak Na Na hingga ia tak langsung menjawab, memilih untuk diam berfikir dan mencari padanan kata yang pas. Ia baru tersadar saat Sung Min mengibaskan tangannya di muka wajahnya.

“Kau tahu, seseorang nyaris menginterogasiku jika saja mulutku tak penuh ancaman,” Sung Min terkekeh, tahu maksud pembicaraan Na Na dan siapa yang mereka bicarakan.

Yook Sung Jae si lelaki nomor satu yang paling cerewet jika itu berhubungan dengan sesuatu yang asing pada saudarinya—dan tentu saja Sung Min tahu benar hal itu.

“Tidak baik mengancam orang lain,” Na Na memutar kedua bola matanya secara imaginatif, tak setuju mungkin, ia menandaskan kopi dalam gelasnya lalu memasang kembali masker dan tudung coat milik seniornya yang sengaja ia pinjam.

“Aku kembali, kau bisa buang tasnya supaya Sung Jae tak berspekulasi,” menegakkan tubuh lalu bertukar pandang dengan Sung Min, dalam katupan bibirnya ia berfikir untuk menyudahi pertemuan rahasia mereka.

“Kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan? Terima kasih atas jaket dan kopinya.”

Yang diberi ucapan terima kasih tersenyum lalu mengangguk paham, “Iya iya, aku tahu, sama-sama Yook Na Na.”

À demain, Choi Sung Min.”

Lalu mereka berpisah.

Untuk sementara.

..

[20:06]

From: Choi Sung Min

Minggu ini kau kosong? Mau jalan-jalan?

Ps: anggap saja acara menyambut status yang baru.

Kedua ujung bibir Na Na berkedut. Bingung, tapi juga tak bingung, baru juga tadi siang mereka bertemu dan Sung Min tidak sedikitpun membahas apapun soal status yang mereka sandang baru-baru ini.

Tanpa berfikir dua kali ia mengetik sebuah jawaban.

To: Choi Sung Min

Apa itu sebuah rayuan akan sesuatu? Otakku terlalu pintar berspekulasi

Tak sampai dua menit sebuah jawaban atas pesan dari Na Na masuk bersama dengan bunyi notifikasi nyaring.

From: Choi Sung Min

Berhenti berspekulasi, aku hanya mengajakmu.

Jika kau tidak mau juga tidak apa-apa

Senyum Na Na melebar, lalu dengan cepat ia memberikan balasan.

To: Choi Sung Min

Aku tidak menolak

Apa itu artinya kau menyerah?

Choi Sung Min, Pe-Nge-Cut?

Na Na memang penyuka propaganda. Mulutnya begitu produktif untuk menghasilkan rangkaian kalimat sarkasme dan ia bangga akan kelebihannya, setidaknya hal itu berguna untuk beberapa kasus. Mungkin berguna juga pada kasus ini.

Musik jazz familiar terdengar mengalun, sebuah nada panggilan yang asalnya jelas sekali dari ponsel miliknya. Na Na langsung tahu ia telah mendapat rekor baru setelah membaca caller ID yang mucul di layar ponselnya—rekor untuk sambungan telepon tercepat dari Sung Min setelah mendapatkan api propaganda.

“Halo? Dengan Yook Na Na disini, ada yang bisa saya bantu?”

Kau benar-benar menyukai hal macam ini ya?

Mendengarnya, kedua ujung bibir Na Na naik cepat, membentuk busur sempurna. Tak ingin membuat lawan bicaranya menunggu ia kembali menjawab, “Oh? Aku tak paham?”

Awas kau Yook Na Na

Kali ini Na Na tak bisa lagi menahan tawanya, ia tertawa hingga lawan bicaranya sibuk menanyakan mengapa ia mulai berlagak aneh.

Yook Na Na, kau mabuk atau pakai narkoba?? Berhenti tertawa, itu menakutkan!

“Pfft… Kenapa kau yang repot? Aku hanya tertawa.”

Tapi tetap saja tertawamu itu lebih mengerikan dari tawa gila Sung Jae

“Ya, ya terserah lah.”

Jadi? Bagaimana?

“Apanya?”

Ck, berhenti bermain-main Yook Na Na, aku serius

Jika kau menolak aku juga tidak rugi

“Baiklah-baiklah, tapi mundurkan menjadi minggu depan.”

Hmm? Okay Call

“Kau tidak akan mengajak Rin kan?”

Untuk apa? Toh ini acara kita berdua untuk apa ia ikut?

“Aku hanya tidak mau menjadi obat nyamuk di antara kalian berdua.”

Yang ada, dia yang akan jadi obat nyamuk

Toh Rin pasti sudah punya rencana sendiri

Na Na mengulum senyumnya, suara Sung Min entah kenapa membuatnya senang, namun hal itu bertahan hanya sebentar sebelum ia kembali membuat kalimat, “Tapi Sung Min-ah, apa kau yakin kita bisa merahasiakan ini dari… Kau tahu kan mereka semua punya mulut yang lebih lebar dari sungai Han.”

Mendengar kekhawatiran milik Na Na, alis Sung Min naik perlahan—bingung. Ia mulai berfikir, ada benarnya kekhawatiran milik Na Na, hanya dengan satu pasang mata yang melihat mereka bertemu diluar jam yang semestinya tanpa ada presensi orang lain, bisa jadi masalah besar abad ini.

Kalo begitu aku tak akan bilang pada Rin

Kalo kau mau kita bisa pergi saat malam

Itu ide yang tak buruk, walaupun Na Na tak yakin Sung Jae akan melepaskannya untuk pergi malam-malam, ia bisa saja mengancam Sung Jae agar tak memberi tahu yang lain, tapi itu hanya akan membuat kecurigaan Sung Jae makin menggelembung—lalu suatu saat balon riskan bernama Sung Jae itu akan pecah dan membuat semuanya makin buruk.

“Baiklah, aku juga tak akan bilang pada Sung Jae,” kata Na Na setelah berfikir, “Aku juga lelah mengancamnya, akhir-akhir ini rasa penasarannya lebih berbahaya dari ancamanku.”

Tawa terdengar dari ujung telepon yang lain, Sung Min tertawa kecil mendengar pengakuan mengejutkan itu, tak disangka karakter Yook Na Na bisa dikalahkan oleh adiknya sendiri—yang notabene selalu terlihat konyol tak mengancam.

Kau harus pikirkan hal lain untuk membuat Sung Jae kembali tunduk padamu

Na, Rin memanggil, aku tutup dulu ya?

Jangan merindukanku

Ingin sekali Na Na memukul tulang kering Sung Min saat itu, namun ia hanya bisa mendengus tak setuju, “Diamlah kau, Choi Sung Min.”

Sambungan lalu terputus, Na Na baru sadar ia menghabiskan waktu yang tak sedikit hanya untuk mengobrol dengan Sung Min, namun diluar dugaan ia menyukainya—Sung Min punya cara berfikir yang membuat Na Na tertarik. Belum lama, Na Na sudah termakan kalimatnya sendiri.

Ia merindukan suara dan celoteh kalimat milik Choi Sung Min.

..

END.

..

A/N: Hai semua, sehubungan dengan keputusan si little chicken–Rin untuk menghentikan siblings series antara Choi Rin dan Choi Sung Min, sekarang giliran saya yang mengeluarkan serangkaian Good Bye series untuk Sung Min, lebih fokus pada hubungan misterius Na Na-Sung Min sih #dibunuh dan dengan timeline yang berurutan dengan punya Rin, jadi kalau bingung, silahkan ke previous fic #promosi. Happy reading guys!

All.Want.Candy © 2016

2 thoughts on “[Vignette] À demain”

  1. ngek -,-

    HUHUHUHU MAAFKAN AKU NANAKU SAYANG UDAH BUAT KALIAN BERDUA GINI ;-; betewe kemaren sungmin abis ngepost selca silahkan bisa diliat di twitternya dia /lah

    padahal ya padahal aku udah baca yg ini (waktu masih jadi draft) TAPI KENAPA MASIH MENGGELINDING ;-; HUHUHUHUHUHUHUHUHUHUHUHU dan kirain ini bakal disambung sama yang kemaren, ternyata enggak tho ‘-‘ /kecewa

    oh ya, betewe, aku masih team NANA-HAKYEON LHO YA YEOROBUN JANGAN TERKECOH SAMA PASANGAN YANG INI OKE

    udah lah, toh semua reaksiku udah terekam jelas di chat line kan ya ‘-‘

    bye bye

    ps: kapan balikan?

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s