[Ficlet] The Undeniable Denial

the undeniable denial

Casts Moonbin [ASTRO], Riley Kwon [OC] Genre Fluff, school life Length Ficlet Rating PG-15 Disclaimer I own the plot

Related to: A Calendar Without October

.

© 2016 namtaegenic

:::::

Kenapa pula Moonbin tak habisnya terlelap dalam melankoli tiap kali bertemu Riley.

:::::

“Ingatkan aku sekali lagi bahwa kamu belum menjelaskan kenapa kamu mengakhiri hubungan ini.”

Barangkali, kalimat Moonbin barusan tidak sesuai dengan adat memulai percakapan yang baik dengan mantan gadisnya. Sore ini, angin membawa Riley Kwon padanya, di teras depan ruang staf pengajar sekolah kejuruan tempat mereka menimba ilmu. Seharusnya Moonbin bisa sedikit melontarkan basa-basi. Atau menawarkan membelikan si gadis minuman ringan sembari menunggu kegiatan akademis setengah jam mendatang.

Namun Moonbin tidak berdaya. Basa-basi bukan perihal gampang jika kalimat bersangkutan sudah berada di ujung lidahnya. Pemuda itu tidak berani mengambil risiko menyesal apabila tidak memanfaatkan kesempatan ini.

“Aku menolak menjawab pertanyaan itu, terima kasih. Mau permen kunyah?” Riley menyodorkan sebungkus yang berwarna merah, yang mana semakin membuat Moonbin kesal karena Riley mengalihkan pembicaraan, dan ia tampaknya masih ingat rasa permen kunyah favorit pemuda itu. Moonbin suka apa pun dengan rasa ceri. Dan permen kunyah warna merah itu seakan menggoresnya dengan momentum.

Menyebalkan.

Kenapa pula Moonbin tak habisnya terlelap dalam melankoli tiap kali bertemu Riley.

“Tapi kalau kamu ganti pertanyaannya, mungkin aku mau jawab.” Riley menyobek bungkus permen kunyah yang ditolak oleh Moonbin tadi dan memasukkannya ke dalam mulut. Moonbin menghela napas—memutar otak.

“Oke, pertanyaannya kuganti. Apa kamu masih menyimpan perasaan padaku?”

Kunyahan Riley terhenti.

“Aku menolak menjawab yang itu juga.”

“Apa kamu bisa kembali jadi milikku?”

“Moonbin…”

“Apa aku bisa kembali jadi milikmu?”

“Moon—“

“Apa kamu mengencani pemuda lain di belakangku?”

Riley tercengang lantas meringis. Ia tidak pernah bermain api di belakang Moonbin sewaktu mereka masih bersama.

“Cuma tanya, kok.” Moonbin akhirnya melunak dan menurunkan intonasi suaranya. Ia tidak tahu kenapa ia sudah begitu lancangnya menanyakan hal yang tidak-tidak pada Riley. Gadisnya itu masih yang nomor satu. Pencuri hati nomor satu.

Dan penyebab patah hati nomor satu.

“Jadi omong-omong, kamu sudah dapat penggantiku?” Moonbin bertanya, namun maniknya menatap ke arah mana saja kecuali wajah Riley.

“Aku masih menikmati kebebasan.”

Jeda satu detik.

Dua detik.

Lantas Moonbin meledak dalam tawa. Tangannya mendorong pelan bahu Riley lantas mengacak-acak helai legam sisiran gadis itu, membuatnya sedikit berantakan. Pemuda itu melenyapkan spasi di antara mereka hingga hanya tersisa jalur untuk nyamuk melewatinya.

“Ketahuan! Kamu masih cinta padaku!”

“Oh, yang benar saja!” Riley mendorong Moonbin menjauh, namun warna merah muda di kedua pipinya mengindikasikan sesuatu. Sesuatu itu bisa saja adalah jarak mereka yang begitu dekat dan membuat Riley tak punya pilihan.

Atau bisa saja sesuatu itu adalah bahwa perkataan Moonbin ada benarnya.

“Kamu punya dua kesempatan untuk menyangkal,” Moonbin mengacungkan kedua jemarinya di depan hidung Riley. Gadis itu tertawa canggung.

“Moonbin, kamu seratus persen terlalu percaya diri.”

“Riley, kamu seratus persen dalam penyangkalan.”

“Aku tidak dalam situasi masih menyukaimu.”

“Tapi wajahmu memerah. Dan omong-omong, itu penyangkalan kedua.” Moonbin bangkit dari bangkunya dan tersenyum selebar jalan tol. Ia meregangkan otot-ototnya, lalu memutar pinggangnya sedikit.

“Ah, aku senang pada konklusiku sendiri. Silakan lanjutkan penyangkalanmu, Nona Riley ‘Aku Tidak Sedang Dalam Situasi Masih Menyukaimu’ Kwon. Aku duluan!” Moonbin mengatupkan dua jemarinya dan melambaikannya di dekat pelipis. Senyumnya belum hilang.

“Aku benci merusak khayalanmu, Moonbin. Tapi aku tidak menyangkal, oke? Aku akan pergi jalan dengan teman-temanku untuk merayakan kebebasan dan—“

“Dan kembali ke rumah, mandi, lalu memikirkan ucapanku hari ini. Riley Kwon, kamu manis sekali. Sampai jumpa besok!” Moonbin tak lagi menghadap Riley. Ia menghadiahkan gadis itu punggung dan sikap tak acuhnya, disertai dengan lambaian tangan.

Riley membuang napasnya, tak percaya bahwa ia harus terlibat dalam pembicaraan seperti ini dengan Moonbin.

Konversasi ini tidak bermutu sama sekali.

Konversasi ini membuang waktunya.

Namun konversasi ini pun membawa Moonbin beserta momentum mereka dulu, kembali pada Riley—yang mana terasa sangat menjengkelkan.

Karena ketika Moonbin bicara soal Riley yang masih menyukainya, ia mungkin saja benar.

.

FIN.

2 thoughts on “[Ficlet] The Undeniable Denial”

  1. Suka-sukaaaa! Moonbin emang terlalu percaya diri dan bikin sebel ya kalau percaya dirinya itu emang bener.
    Btw, aku suka cara penyampaian dan juga alur ceritanya! Kutunggu (series) selanjutnya!<3

    Suka

  2. Kak Ecii, tau ga Kak? Aku ga tau siapa Moonbin, wajahnya kyk apa jg entah. Tapi aku nikmatin bgt baca ceritanya, jadi berasa baca orific.
    Dan kenapa aku harus senyum2 kek gini bacanya, nyangkal tapi muka ketauan merah itu emang ga enak bgt, hehe.
    Couple favorit ini maah, yang cowoknya lucu(wlw pun PD’OD’) trus ceweknya cuek gituu. Tapi jatuhnya malah manis bgt ceritanyaa…
    Di tunggu series selanjutnya Kaak..
    ^^

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s