[Oneshot] Esok

esok

a story by Jung Sangneul

// ESOK //

Cast: EXO’s Baekhyun, Girl’s Day’s Hyeri, and OC(s)

Genre: Family, Romance, Fluff, Fantasy

Length: Oneshot [3000+w]

Rating: PG-15

Summary: Mengatur esokmu, bukan berarti aku tidak menyayangimu, tetapi hanya untuk masa depanmu, Sayang.

***

Setiap hari ini adalah setiap esokmu yang kuangankan.

            Hari ini, kamu keluar dari kamarmu dengan baju sekolah yang sama, mata berkantung yang serupa, serta senyum memaksa yang selalu kembali muncul dan muncul di bibir keringmu. Melihatmu seperti itu, aku menulis dalam anganku, aku ingin menjadi yang menghapus noda kotor kantung matamu, yang memelukmu dan biarkan bebanmu jatuh padaku.

            “Selamat pagi,” bisikmu ringan, seringan bulu-bulu dandelion yang beterbangan.

            Bisikan yang bukan untuk siapa pun, bukan pula tertuju padaku. Aku hanya tersenyum, tidak mampu untuk sekadar balaskan kata-kata yang sama untuk dirimu. Hanya memperkuat anganku yang tadi kubuat untukmu.

            Namun, sosok perempuan yang tiba-tiba muncul dari belakang dirimu itu, menabrakmu seakan menabrak tiang begitu kerasnya, lantas mengerang, membuatku sedikit menghapus angan untuk esokmu.

            Kuharap dia mampu menghapus noda hitam kantung matamu, serta memelukmu dengan benar tanpa harus menabrak punggungmu.

            “Hei, Hye, kau baik?” tanyamu, mengusap kepala gadis itu seperti menggosok kepala anjing.

            Hyeri—nama gadis itu—hanya mengangguk, kemudian mendekatkan dirinya padamu, sesenti … dua senti … lima senti … dan tangannya meraba rahangmu, bibirmu, pipimu, lantas kalian bertemu mata.

            “Ah, Baekhyun Oppa,” bisiknya pelan, tersenyum ceria. Bekas kantung matamu seakan hilang begitu saja begitu mendengarnya, berganti binar ceria dan kamu mengecup puncak kepalanya setidaknya lima kali.

            “Sarapannya sudah siap, Hye.” Kamu berkata begitu, dan memeluk pinggangnya untuk segera duduk di meja makan.

            Hyeri selalu berakhir mengacak-acak rotinya, mengusap permukaannya dan menempelkan jari-jari indahnya pada selai cokelat, membuatnya lengket sebelum tersenyum dan berujar, “Roti tawar dengan selai nutella, aku melihatnya, Oppa.”

            Dan kamu akan selalu mengusap rambutnya kembali, dengan begitu bangga. Ketika Hyeri akan melahapnya, kamu akan menahan lengannya, kemudian berkata, “Bersihkan tanganmu dan buatlah yang baru, Hye. Ini sudah kotor.” disertai kecupan untuk setiap jari Hyeri.

            Kamu menyiapkan semuanya, dan Hyeri akan menghabiskan separuh selai nutella hanya untuk satu tangkup roti. Kamu tidak keberatan, malah keasyikan melihatnya lahap makan. Hyeri tidak menyadari betapa kotornya sisi-sisi bibirnya, maka kamu mengambilkannya tisu dan mengusap pinggiran bibirnya perlahan-lahan.

            “Gadis pintar,” pujimu.

            Dia tersenyum senang, bergumam mengulang ucapanmu, “Gadis pintar ….”

            “Ya, saatnya gadis pintar berangkat sekolah!”

            Dan aku mematung melihatmu menggenggam tangannya menuju pelataran rumah. Ia berjingkat-jingkat senang ketika melihat hijaunya dedaunan dan bertanya banyak hal.

            “Apakah itu pohon cherry, stroberi, atau peach?”

            “Apakah kupu-kupunya bercorak hijau-putih?”

            “Bagaimana bisa sabuk pengamannya berbunyi ‘klik’?”

            Kamu tidak pernah marah lagi, selalu menjawabnya pelan-pelan dengan garis senyum di sepanjang belah bibirmu. Dan, aku … hanya termangu sambil mengukir angan-anganku bahwa tidak selamanya kamu harus seperti itu.

***

            Setiap hari ini adalah setiap angan kemarin yang gagal kudaki.

            Hari ini—malam ini—kamu tertidur di sofa kamar Hyeri, buku-buku cerita berantakan di sebelahmu, sementara rambutmu acak-acakan. Tanganmu masih dicengkeram erat oleh Hyeri. Setiap tutup mata yang kamu lakukan, aku melihat rileks tubuhmu, degup jantung teraturmu, juga napas lamat-lamatmu.

            Kamu lelah, benar-benar lelah. Hyeri menyita sebagian besar perhatianmu yang seharusnya mayoritas kamu tunjukkan pada pelajaran, wanita cantik di sekolah, atau bahkan pada bakatmu yang perlu kamu asah.

            “Ngh … Hye ….”

            Aku terperanjat sedikit ketika kamu mengerang menyebut namanya. Kamu hanya bergerak sejengkal, mengetatkan genggaman tanganmu pada Hyeri seakan tak ingin dan tak pernah ingin tautan itu terlepas.

            “Byun Baekhyun,” bisikku. Aku ingin menumpahkan luka yang kuderita, harus membiarkanmu kelelahan sendirian dan tak mampu untuk sekadar ada dan merengkuhmu dalam lenganku.

            Maka, di setiap malam yang gulita, aku berusaha melepas tautan tanganmu dengan Hyeri, lantas menuliskan sebait kalimat untukmu, agar kegundahanmu sirna ketika matahari menjemput dan kamu bangun dengan kantung yang sama di balik matamu.

            Baekhyun Oppa, aku menyayangimu.

            Baekhyun Oppa menyukai warna abu-abu.

            Baekhyun Oppa benci serangga.

            Aku menuliskan poin-poin yang mendata tentang pribadimu, maka ketika kamu terbangun dan temukan bahwa itu tulisan milik Hyeri, kamu akan tersenyum.

            Bukan padaku, tapi pada gadis yang kamu jaga sepenuh jiwamu.

            Kamu akan mengusap rambutnya, kemudian mencium pipinya. “Aku juga menyayangimu, Hye. Tentu saja.”

            Tanpa sengaja, kamu melirik ke arahku, dengan mata berkaca-kaca yang mengundang seribu lara. Aku juga ingin menghapus duka tak kasat mata itu, anganku pagi ini.

            Tapi, seperti dandelion yang tertiup angin, aku tak pernah sekalipun mewujudkan angan-anganku terhadap esokmu. Tidak satu pun.

***

            Setiap hari ini adalah setiap tambahan pertanyaan dalam hatiku yang kering.

            Mengapa Tuhan tak jua merenggutku dari sini? Mengapa Dia membiarkanku berada di antara kamu dan Hyeri, tanpa pernah kalian acuhkan? Mengapa Dia membuat dadaku menyempit hanya dengan melihat bebanmu hari demi hari?

            Dan, tak pernah ada jawaban dari itu semua.

            Hari ini hari Minggu, dan kamu dengan Hyeri tidak memiliki agenda apa pun. Kamu memilih menonton televisi sambil mengunyah snack yang kamu beli beberapa hari lalu.

            Sementara Hyeri kembali dengan hobinya untuk menyentuh matamu, alismu, bibirmu, dan mengelus pipimu berulang kali. Sebelum dia tersenyum dan mengemukan kata, “Oppa tampan.”

            Kamu balas tersenyum, kemudian menidurkan dirimu di atas pangkuannya, membiarkan dia memainkan helaian rambutmu, menatap matamu di kedalaman yang jauh, dan menghitung berapa banyak bulu matamu yang lentik.

            “Sentuhlah aku sesukamu, Hye. Ingatlah aku dengan itu, ingatlah setiap huruf susunan namaku, kemudian simpan aku dalam relung hatimu,” ujarmu lembut.

            Dan, aku terpaku.

            Karena kamu tidak berhenti di situ. Kamu menarik kepalanya mendekat, menyentuh kelopak matanya, kemudian mengusap bibirnya. Sesekon, dua sekon, dan kamu benar-benar mencium bibirnya di depan mataku. Kamu menciumnya setulus hati, selembut jiwa, dan setenang air. Tidak membiarkannya lepas dari rengkuhanmu, namun juga tidak menitikkan secuil nafsu di antaranya. Kamu sehalus beledu melakukannya, dan aku tidak cukup tahu untuk mendengar bisikanmu setelahnya di telinganya.

            Yang kutahu, hatiku hancur, dan Hyeri menitikkan air matanya.

            “Oppa ….”

***

           “Jangan lupa hubungi aku kalau sudah pulang, ya. Ini adalah ponselmu, dan di dalamnya hanya ada nomorku. Kaubisa melihatnya, ‘kan?”

            Lagi-lagi, aku terkunci di antara kamu dengan Hyeri. Gadis manis berponi yang rambutnya baru saja dipotong sebahu itu mengangguk berkali-kali. Kamu sudah tidak satu sekolah dengannya karena baru saja lulus dan memasuki dunia perkuliahan. Kamu hanya bisa menjaganya ketika berangkat sekolah.

            “Oppa,” panggil Hyeri, ketika kamu sibuk membereskan buku-buku tebalmu ke dalam tas hitam.

            “Ya, Sayang?”

            Aku memejamkan mata rapat-rapat, tidak mau meresapi panggilan yang kini kamu gunakan untuknya. Haruskah kalian berubah seperti ini? Tidakkah ada sebersit rasa bersalah, dan tidakkah kalian rasakan ketidaksukaanku di sini?

            Setelah membuka mata lagi, aku melihat kalian berpelukan. Diam dan tenang, terasa selembut kapas dan sehangat musim semi.

            “Bagaimana kalau mereka mengatakan aku ‘aneh’? Mereka tidak menyayangiku seperti Oppa,” keluhnya parau. Aku yakin air matanya sudah mengalir. Hyeri yang malang, dan kini aku membeku merasakan keinginan untuk memeluknya juga, bukan hanya terus-terusan memerhatikanmu, Baekhyun.

            Kamu tersenyum, kesenduan menghiasi mata, dan anganku hanyalah, berhentilah memasang sendu itu, berlagaklah normal seperti dulu saja, Byun Baekhyun. Dia hanyalah Kim Hyeri, dia hanyalah Kim Hyeri.

            “Tidak, Sayang,” jawabmu, “mereka akan menyayangimu sepertiku. Asalkan kamu juga jadi gadis yang pintar seperti saat bersamaku. Kamu dengar?”

            Kamu mencium kepalanya, menyelipkan helaian rambut yang jatuh kembali ke balik telinganya, lalu mencium keningnya. Kehangatan yang terasa nyata menyebar di seluruh pori-pori kulitnya, namun penderitaan menerjangku tanpa ampun.

            “Oppa,” tahan Hyeri sekali lagi, saat kalian hendak melangkah menuju pelataran rumah.

            Dan hatiku kembali hancur berkeping-keping, malu menyerang urat nadi, dan gusar menggenggam relung-relung kalbu. Jadi, inikah alasan Tuhan tak juga mengambilku hingga kini? Bukan hanya karena kamu, tapi juga karena Hyeri?

            Karena yang Hyeri lakukan adalah berjinjit dan mengalungkan tangannya di lehermu, lantas menyapu permukaan bibirmu, mengarahkanmu pada pagutan yang seakan tiada akhir. Dan, akhirnya aku bisa menebak apa yang kamu bisikkan saat itu di telinga Hyeri.

            “Aku mencintaimu.”

            Sama seperti Hyeri, reaksimu adalah menitikkan air mata dan menggumam, “Hyeri ….”

***

            Ketika Hyeri masih bayi berusia tiga bulan saat itu, kukira dia adalah bayi termungil. Dia lahir tidak sesuai jadwal, alias prematur. Jari-jarinya begitu kecil untuk usianya, namun kepalanya besar seperti terserang hidrosephalus ringan—padahal tidak. Hyeri kecil menangis begitu kerasnya, namun tidak menendang-nendang seaktif bayi lainnya.

            Ibunya menangis mendekapnya ketika ia sudah bisa keluar dari inkubator, menyusuinya begitu hati-hati seakan menyentuhnya bisa merusak segalanya. Dan, Hyeri nyaman dalam rengkuhannya, menyedot sebanyak mungkin ASI yang ibunya berikan.

            “Namanya … Kim Hyeri,” bisik ibunya sambil menitikkan air mata. Ia mengecup kening dan pipi Hyeri yang setipis kertas, memberikan kehangatan yang nyata.

            Aku menjadi saksi itu semua. Ketika enam bulan berlalu, Hyeri sudah lebih baik. Ia tidak lagi terlihat serapuh boneka kaca, ia bisa menggerak-gerakkan jemarinya lalu mengisapnya, dan kaki-kakinya menendang dengan aktif.

            Ketika itulah, ibunya mengetuk pintu rumahku dan suamiku yang nyaman. Bayi kami yang berjarak satu tahun dengan Hyeri sudah tertidur setelah kuberi ASI dan makanan pendamping. Bayi itu kamu, matamu semirip ayahmu dan tawamu sama persis dengan milikku.

            “Wah, ada apa bertamu malam-malam?” tanya suamiku, khas cengirannya muncul dan aku segera mencubit pinggangnya untuk tidak seakrab itu dengan wanita lain.

            Ia merangkul bahuku selagi aku bertanya dengan senyum, “Hyeri sudah tidur?”

            Aku diam-diam mengintip bayi dalam gendongannya, dan Hyeri memang sudah jatuh dalam lelap. Lantas, pandanganku kembali pada ibunya yang terlihat begitu lelah, dan usianya memang tidak lagi muda.

            “Bisakah aku … menitipkan Hyeri … padamu?”

            “Oh, kaumau ke luar kota?” tanya suamiku polos.

            Wanita yang di hadapan kami, sahabatku yang kukenal bernama Sojin ini berdeham, kemudian mengangguk pelan, “Hanya satu minggu. Tidak apa-apa, ‘kan?”

            Aku termenung beberapa lama, namun suamiku cepat-cepat menjawab, “Tentu saja boleh. Dia akan jadi teman main Baekhyun, nanti.”

            “Yeobo, Hyeri masih terlampau kecil,” sanggahku.

            Sojin tersenyum hangat menyadari kami menerima bayinya dengan senang hati. Ia berbalik pergi, namun aku memiliki firasat buruk ketika punggungnya hilang dari pandanganku. Aku membawa Hyeri masuk, memerhatikan lelapnya, dan tatapanku jatuh pada kalung yang melingkar di lehernya. Sebuah liontin.

            Ketika aku membukanya, saat itulah firasat itu semakin berdentam dalam dada. Itu … foto Sojin dengan suaminya yang menghilang entah ke mana.

***

            “Jangan mengikutiku terus!”

            Kamu tumbuh dengan pesat, pipi yang tembam dan badan yang gemuk. Hyeri sebaliknya, dia ringkih meski cekatan, namun badannya seperti hanya terlapisi tulang dan secuil daging lalu dibalut kulit tipis.

            Semua firasatku benar, karena Sojin tak pernah kembali untuk mengambil Hyeri. Bayi kecil itu tumbuh bersamaku, bersama suamiku, juga denganmu. Dia tidak bisa berjalan cepat, entah mengapa. Dia juga suka mengaduk-aduk makanannya hingga kamu jijik, dan aku memutuskan menyuapinya saja untuk beberapa waktu sampai dia bisa makan dengan baik.

            “Baekhyun Oppa!”

            “Apa, sih? Pergi sana, jangan dekati aku!”

            “Baekhyun, bersikaplah yang manis dengan Hyeri, ya,” tegurku suatu kali, dan kamu hanya mengembungkan pipi tidak suka.

            “Hyeri ‘kan bukan adik kandungku, Eomma!”

            Aku membungkam mulutmu, tidak membiarkan Hyeri tahu kalau dia bukanlah anak kandungku. Aku tidak mengganti marganya dan tidak mengurus pengadopsian untuknya, tapi secuil naluri sebagai wanita selalu membuatku merasa kasihan jika harus menelantarkannya—atau sekadar menitipkannya di panti asuhan.

            “Dia sudah lama dengan kita. Anggaplah dia adikmu, Baek,” bisikku di telingamu.

            Kamu tetap saja keras kepala, menggelengkan kepalamu keras-keras. “Tapi, dia aneh dan jorok, Eomma! Aku selalu dikatai temanku di sekolah kalau dekat-dekat dengannya. Kenapa Eomma dan Appa tidak memindahnya saja di sekolah lain?”

            “Eomma tidak bisa, Sayang. Nanti akan susah untuk mengantar-jemputnya. Lagi pula, Hyeri tidak selalu aneh, ‘kan?”

            Kamu diam saja, lantas meninggalkanku dengan gerutuan kesal. Aku menghela napas panjang, terkadang bermimpi kalau Sojin akan kembali dan mengambil putrinya ini. Aku menyayangi kamu, dan sesungguhnya tidak ingin Hyeri menjadi orang yang mengganggu hari-harimu.

            Keanehan Hyeri tidak berhenti sampai di situ.

            Aku heran ketika melihat Hyeri harus mendekatkan matanya pada buku-buku cerita yang dia punya. Begitu pun ketika aku mengajarinya untuk membaca.

            “Hei, jangan dekat-dekat! Dasar anak aneh!” cibirmu, menarik rambutnya untuk menjauhkan kepalanya dari buku.

            “Sakit, Oppa. Tidak kelihatan kalau kejauhan,” jawabmu, membuatku mengerutkan kening.

            “Hyeri-ya, apa kamu tidak bisa melihat Eomma sekarang?” tanyaku, kemudian berdiri sejauh mungkin dari kamu dan Hyeri.

            Hyeri mengerutkan kening, memfokuskan pandangan, kemudian menjawab, “Bu-buram.”

            Aku mendesah, kemudian mendekat lagi. “Besok kita ke rumah sakit, ya.”

            Dan, kamu kembali mencibir, “Dasar anak aneh!”

***

            “Kami rekomendasikan kacamata ini untuk anak Ibu gunakan. Dari hasil diagnosa, kami memperkirakan anak Ibu menderita hipermetropi (+) dini,” ujar dokter esok harinya, ketika aku datang dengan Hyeri untuk memeriksakan matanya.

            Penggunaan kacamata itu tidak berlangsung lama, karena Hyeri mengaku pusing dan tidak berefek ketika mengenakannya. Akibatnya, Hyeri seperti orang yang hampir buta. Blank dan harus melihat dari jarak yang sangat dekat.

            “Hyeri-ya, bagaimana kalau Eomma menyekolahkanmu di rumah saja? Itu akan membantumu lebih baik dalam belajar,” tawarku suatu hari.

            Hyeri berpikir sejenak sebelum menggeleng, “Tidak ramai. Tidak ada teman. Tidak ada … Baekhyun Oppa.”

            “Bagaimana kalau ada Baekhyun?” tawarku lagi.

            “Tidak ada pelajaran musik.” Hyeri menggeleng lagi.

            Aku tersenyum menyadari ketertarikannya pada bidang seni musik. Kemudian mengusap kepalanya dan berujar, “Eomma akan belikan piano, gitar, dan biola. Kamu mau?”

            Hyeri tersenyum kemudian mengangguk.

            Kamu memang sempat berteriak-teriak kesal dengan keputusanku. Kamu menangis merengek minta dikembalikan ke sekolah lama, ingin bertemu dengan teman-teman yang baru kamu dapatkan. Tapi, aku menggenggam tanganmu dan berucap panjang.

            “Baekhyun, Hyeri adalah anak Eomma juga. Tolong terimalah dia sebagai adikmu. Kalau Eomma dan Appa sudah tidak ada, bukankah hanya tersisa kamu untuk menemaninya? Apa kamu tidak kasihan, hm?”

            “Tapi, dia aneh,” bisikmu, berhenti menggunakan nada tinggi.

            “Hei, dengarkan Eomma,” ujarku, merangkul lehernya, “Hyeri suka main musik, dan kamu suka menyanyi, ‘kan? Jadi, kamu tidak perlu repot-repot minta temanmu memainkan musik, karena Hyeri bisa. Bukankah itu bagus?”

            Kamu memelukku setelahnya, namun tidak memberi respons apa-apa.

***

            Setiap hari ini yang sekarang, adalah ulasan kenangan hari-hari lampau kita.

            Hari ini hari Sabtu. Kamu pulang dengan keadaan letih, namun Hyeri masih berjingkat-jingkat menceritakan ada satu teman yang mau berbicara dengannya dan membimbingnya menyalin tulisan di papan.

            “Oppa, namanya Minah. Dia pintar dan baik hati,” sambung Hyeri lagi.

            Kamu menoleh padanya, mengusap kepalanya, “Ceritanya nanti malam saja, ya. Oppa lelah.”

            Kamu meninggalkannya. Hyeri tidak masalah, dia pergi ke ruangan atas, dan secara otomatis tubuhku mengikutinya ke sana. Dia pergi ke gudang dengan tertatih-tatih—Hyeri kesusahan menaiki anak tangganya—kemudian membuka pintunya, dan debu masuk ke pernapasannya.

            Namun, ia tetap masuk ke dalam, membongkar beberapa susunan barang, kemudian dengan tenaganya yang tak seberapa, menarik keluar sebuah gitar. Gitar yang aku tidak ingat lagi kapan terakhir kali melihatnya. Ia tergopoh-gopoh membawanya dalam pelukan, membersihkannya dengan tisu basah yang tersedia di meja makan—setelah menuruni tangga dengan tertatih-tatih lagi.

            Hyeri masih sama; gadis yang kuat di dalam kelemahannya, periang di dalam sendunya, dan tegar di dalam kekurangannya.

            Sekian menit berlalu, dan akhirnya dia duduk di salah satu kursi meja makan. Menyetel gitarnya terlebih dahulu—bahkan aku tidak paham bagaimana caranya melakukan itu, baru kemudian memetiknya. Satu nada, dua nada, dan dia tersenyum setelah dirasa bunyinya pas.

            “C ke G ke E ke A minor …,” gumamnya, sambil mencoba satu per satu kunci—menghasilkan nada abstrak yang indah.

            Kemudian, dia benar-benar membawakan satu lagu utuh, tentunya tanpa dia nyanyikan. Hyeri tak pernah percaya diri dengan nyanyiannya, merasa bahwa kamulah yang memiliki suara terindah selama ini.

            “Hye?”

            Dan tepat, kamu terbangun sambil mengucek mata. Tidak melepas pandang dari Hyeri ketika melangkah mendekatinya, kemudian menarik kursi untuk duduk di hadapannya.

            “Kamu mengambilnya sendiri?” tanyamu pada Hyeri.

            Gadis manis itu mengangguk perlahan. Kata-katanya selanjutnya membangkitkan dentum aneh dalam diriku, seakan memaksaku untuk menangis dan berhambur memeluknya.

            “Aku … rindu Eomma.”

            Kamu terpaku. Diam untuk beberapa sekon, membiarkan Hyeri kembali sibuk dengan lagunya.

            “Aku juga rindu,” balasmu kemudian.

            Sementara Hyeri menggenggam liontin yang masih menggantung di lehernya, meremasnya sebelum bergumam, “Meski aku tahu … dia bukan ibu kandungku.”

            Kamu terlihat terkejut, namun menetralisirnya dengan berdeham. “Darimana?”

            Hyeri tersenyum, “Dari hati. Tapi, aku percaya, Eomma menyayangiku bahkan mungkin lebih tulus dibanding ibu kandungku. Karena Eomma berhasil membuat Oppa jadi menyayangiku.”

            “Tidak, aku mencintaimu,” bantahmu, mampu mengiris hatiku sekali lagi.

            Hyeri menghela napas, kemudian berkata, “Nyanyikanlah satu lagu yang kuhafal kuncinya.”

           “Dear Mom?

            Dan, aku terharu melihat kalian membawakan lagu itu bersama-sama, dalam harmonisasi yang indah dan menyentuh hatiku.

            I’ll become a person with a beautiful heart,

            I’m become a person who thinks of other s first.

            The mother who used to share my dreams,

            and brush my hair, I think of her

            Though I’ve made hurtful, wrong choices, you silently watched over me from behind

            Though I’m a child who doesn’t understand much, I think I know the meaning behind mother silent prayers

            Tapi, ada satu hal yang pastinya menahan keberadaanku di sini. Cintamu untuknya, Byun Baekhyun. Dan cintanya untukmu, Kim Hyeri.

***

            Kala itu, suamiku baru saja pulang dari dinasnya di luar kota. Dia tidak terlihat lelah, malah mengajak kami bertamasya bersama esok harinya. Dia masih sempat membantumu dan Hyeri mengerjakan PR yang tidak kalian mengerti.

            “Bagaimana kalau kita adopsi saja Hyeri?” tanyanya ketika malam menjemput.

            Aku bersandar pada bahunya, mengutarakan jawaban klise, “Terserahmu saja, kalau itu tidak membuatmu keberatan.”

            “Tentu saja tidak. Kamu sendiri tentu sudah memiliki naluri untuk Hyeri, ‘kan? Bagaimana pun, kamu sempat menggantikan Sojin menyusuinya, Yeobo.”

            Aku mengangguk. “Sekalian besok saja, setelah kita tamasya.”

            Kami terlelap hingga sinar mentari kembali menjemput hari.

            Hari itu begitu menyenangkan. Tidak biasanya, kamu begitu ceria dalam melakukan piknik di taman hiburan. Kamu mau menaiki berbagai wahana dengan Hyeri bersamamu, membuat dadaku hangat dengan binar ceria mata kalian.

            “Senang hari ini, Baek?” tanyaku ketika kami dalam perjalanan pulang.

            “Of course, Eomma!”

            “Wow, bahasa Inggrismu sudah bagus, Baek,” sahut suamiku senang.

            “Hyeri, bagaimana?” tanyaku lagi.

            Hyeri tertawa ceria. “Selama ada Oppa, aku senang!”

            Mereka masih remaja saat itu. Baekhyun menjejaki SMP kelas dua, sementara Hyeri masih kelas satu. Aku sudah benar-benar lega dan rela jika kami mengadopsi Hyeri, karena ikatan batinku juga terpaut dengan gadis itu.

            Namun, takdir berkata lain.

            “Appa menyayangi kalian, Baek, Hyer—”

            “AAAA!!!”

            Dan, klise.

Kami ditabrak oleh truk yang oleng ke ruas jalan kami. Terpental beberapa meter, dan aku tidak menyadari apa-apa lagi, sampai mataku terbuka di bangsal rumah sakit.

            Kamu ada di sebelahku, menangis meraung-raung sambil menggenggam tanganku.

            “Eomma! Eomma sudah siuman? Kupanggil dokter, ya!”

            Namun, entah mengapa, tanganku menahanmu. Membiarkanmu di sisiku dan mendengar tuturku.

            “Baekhyun-ah, jaga Hyeri. Sayangi dia seperti kamu menyayangi Eomma dan Appa. Bersabarlah untuknya, ya. Eomma sangat menyayangi kalian.”

            Yang kudengar selanjutnya adalah irisan kejam kematian, disertai ringisan ngilu dari bibirmu.

            “Eomma jangan pergi! Appa sudah pergi, jangan tinggalkan aku!”

***

            Setiap hari ini adalah setiap butir maafku untuk kalian.

            Ketika melihat kalian tidur berpelukan, lagi-lagi hatiku teriris pilu. Ada bekas luka yang tak hilang di kening Hyeri dan di lehermu, menjadi penanda akan kecelakaan itu. Kecelakaan yang masih tertahan di pelupuk ingatanku, mengingatkanku bahwa aku telah meninggalkanmu begitu saja. Membiarkan kalian hidup menderita tanpa orang tua, dan melepaskanmu untuk menyayangi Hyeri.

            Dan, pada akhirnya mencintainya.

            “Hye, apakah Eomma akan marah kalau aku mencintaimu?”

            Hyeri yang sudah hampir tidur, membalas ringan, “Mungkin Appa yang akan marah. Tapi, Oppa, kita bukan saudara kandung. Jadi, lupakan itu dan tidurlah.” Ia mengusap pipimu, kemudian mengecupnya sekali.

            Kamu merapatkan pelukanmu, seakan memang malam inilah terakhir kalinya kalian bisa berpelukan. Seakan kamu tahu apa yang kuinginkan untuk esokmu. Bukan esok yang bahagia, tapi esok yang terbaik.

            “Hye,” panggilmu lagi.

            Gadis itu menggerung dalam pelukanmu.

            Aku diam, mengizinkanmu menciumnya sekali lagi. Ciuman yang lama, indah, tenang, dan sehalus sebelumnya, sembari jemarimu menyisir tiap helai rambutnya. Hingga air matamu tumpah entah mengapa, dan Hyeri tertidur dengan senyum bahagia.

            “I love you.”

***

            Inilah esokmu.

            Aku tidak lagi di sisimu, dan kamu akan kebingungan mengapa Hyeri bisa berada di kamar mandi dengan nadi yang terputus. Aku melihatmu menangis sekali lagi, mengguncang-guncang bahu Hyeri, mengharapnya kembali.

            Kamu menelepon ambulans dan berharap nyawa Hyeri kembali. Namun yang sejati, di senja hari, kamu hanya tertelungkup di depan nisan mati.

            “Hye, aku sendirian,” gumammu.

            Aku tahu, kamu tetap tidak mengerti mengapa aku harus melakukan ini. Memisahkan kalian dengan cara yang keji. Seakan hanya ini cara untuk menghapus cinta yang bersemayam dalam dadamu, dan merusak dinding kesalahan yang telah kamu bangun begitu tinggi.

            “Kamu ‘kan tahu, aku mencintaimu. Entah sejak Eomma memintaku menjagamu, atau sejak aku menyadari kamu begitu rupawan, atau sejak kamu menumpahkan soda di bajuku dan aku hanya tersenyum ….” ucapannya menggantung begitu saja, tersela isakannya yang santer.

            Senja itu tidak tergurat lagi sinar kemerah-merahan yang menceriakan harimu. Malah, awan kelabu berarak menandakan hujan akan segera turun.

            “Selamat tinggal, Baek. Lanjutkan hidupmu dengan baik, Sayang. Maaf menggunakan tubuhmu hanya untuk melukainya. Tapi, percayalah, semuanya hanya untuk kesehatan dirimu dan dirinya.”

 

 

end.

Ya, akhirnya nongol lagi. Ini karya baru, kok, bukan lawas-lawas /eak/ waktu itu pernah dikirim ke bacafanfic dan alhamdulillah, dapet juara dua ehe🙂

mind to leave a review?

12 thoughts on “[Oneshot] Esok”

  1. wah, twist di dalam twist. ibunya baek ni rancu kan jadinya
    tapi niswa dari dulu berarti suka ngangkat topik2 family yg sensitif kyk gini ya, aku mah ga berani. dan kamu nulisnya nyesek banget ih.
    bagus tapi, keep writing!

    Suka

  2. authornim… aku sempet ketipu beberapa kali lho. awalnya kukira tokoh aku ini mantan pacarnya baekhyun, terus kukira baekhyun ini ayahnya hyeri, terus aku kira baekhyun ini kakak kandungnya hyeri (tanpa embel2 cinta) eh, ternyata dia itu kakak tiri dan mereka saling jatuh cinta.
    penataan alurnya, emang agak bingung di awal /dasar akunya aja yg ngga bingungan/ tapi tetep menikmati dan itu bantu aku juga meraba2 siapa sih baekhyun sama hyeri ini sebenernya?! daannn di bagian2 akhir aku sempat nyeletuk “WAH!!!” hari esoknya baekhyun ternyata setragis itu.

    pokoknya ini keren! dan diksinya… ummm kusuka kusuka. btw, selamat atas juara duanya ^^

    keep writing authornim !!🙂

    Suka

    1. Waduh bisa nyangka ayahnya ya? ._. Hehe umur mereka kan beda dikit aja, jadi pas gitu kalo buat kakak-adek :3

      Maafkan yaa kalau bingung bacanya. Emang njelimet bener alurnya wkwk xD anyway makasih komentar dan ucapan selamatnya ^^

      Suka

      1. iya authornim… soalnya perlakuan dia manis banget kayak bapak ke anaknya gitu. kukira baekhyun ditinggal mati istrinya. hehe /kejam/

        tapi dengan alur begitu justru bikin reader ngga gampang nebak. keren! ^^

        sama2 authornim🙂

        Disukai oleh 1 orang

  3. sebenernya agak bingung sama akhirnya. Itu ibunya gak suka mereka bersatu? Kenapa? Karena saudara? Tapi tapi tapi tapi… aaah gak ngerti:(

    Tapi keren kok!

    Suka

    1. Iyaa, bukan masalah nggak suka. Tapi mereka memang tidak boleh dipersatukan karena mereka saudara sepersusuan. Akan berbahaya bagi kesehatan mereka nanti jika dipersatukan, dan hal ini diharamkan jg dalam islam (perspektif kesehatan memengaruhi). Hehe jadi bukan masalah ibunya ga suka, tapi demi kebaikan anak-anaknya..

      Anyway makasih uda komen yaa^^

      Suka

  4. Waaah keren ka#angkatjempol/Bener2 ketipu dh sama tkoh ‘aku’ disini,ga ktebak siapa. Tp pas tngah2 udah ada clue2 gmana gitu,mkin ksini ternyata itu sang Ibu. Hyeri punya kelainan? Dan knapa pas pelukan sma Baekhyun trus ungkpin cinta itu pada nangis? Apa karena udah tau ga bisa brsatu? Ia si,kalo menurut agama kita saudara sesusu itu jd haram nikah,tp ini juga? Dan mksdnya Ibu minta maaf karna udh pake raga kamu buat nyakitin Hyeri itu?? Ahh sad ending dh,,ngeness si Baekny
    big aplus(?) ka,,fighting family ekstrem lainnya!!^^

    Suka

    1. Haloo leera, makasih udah baca yaa sebelumnya. Hehe iyaa ini emang menjebak banget clue-nya wkwk. Hyeri punya kelainan dalam penglihatannya, sudah dijelaskan yaa dalam cerita. Dan memang pernikahan sedarah seperti ini sudah mulai diteliti secara medis dan tidak baik untuk kelahiran anaknya nanti. makanya di sini aku bermaksud menyebarkan infonya. Nah kenapa mereka nangis, karena sebetulnya mereka tau kalau itu nggak boleh tapi ngga mampu berpisah karena telanjur cinta (ah elah kaya lagu wkwk). Terima kasih semangatnya yaah🙂

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s