Thanks, God!

tumblr_nsjblzo8CT1rsl0h0o1_500

Thanks, God!

San Kitsune (SanSun)

Song Sooyeon (OC), Kim Hanbin (iKON’s B.I.) | Fluff, little bit romance | Teen | Ficlet | I just own the story, don’t copy without permission

..

Terima kasih, Tuhan, yang sebesar-besarnya.

..

..

Namanya Sooyeon. Song Sooyeon. Gadis seusiaku yang baru saja pindah tepat di seberang rumahku. Setiap berangkat sekolah, aku selalu melihatnya keluar dari gerbang rumah bercat pastel itu. Setelah melihatnya, aku yakin hariku akan berjalan lancar. Parasnya cantik. Oh, tidak, lebih tepatnya manis, karena aku sangat suka memerhatikannya berjam-jam. Rambutnya lurus sebahu dengan warna cokelat gelap. Irisnya senada dengan warna rambutnya, hidungnya sedikit mancung, dan bibirnya mungil. Ah, benar-benar imut sekali, terlalu imut untuk ukuran kelas tiga SMA.

Di sekolah, aku satu kelas dengannya. Oh, terima kasih, Tuhan, sudah memberikan pencerahan padaku, yang terlalu lama berkutat dengan teman lelaki –hampir separuh murid di kelasku adalah lelaki. Meskipun anak baru, ia sangat cepat beradaptasi. Ia juga pintar dan ramah. Bagiku, ia sempurna.

Kalian pasti menganggapku aneh, karena sejak tadi aku hanya bermonolog. Ayolah, aku, Kim Hanbin, si ketua kelas 3-B, sedang jatuh cinta pada Sooyeon dan aku sedang melamunkannya. Jadi, jangan menggangguku. Kalian pasti pernah, kan, melakukan hal yang sama sepertiku saat menyukai seseorang? Baiklah, aku akan me‒

“Hei, Hanbin! Pak tua Lee memintamu untuk menghadapnya.”

Aku tersentak saat Jiwon berteriak dari arah pintu. Ah, dia benar-benar menghancurkan imajinasiku. Lagipula, ada hal apa guru tua itu memanggilku? Eh, meskipun ia memang sudah tua, ia masih sanggup membanting dua murid lelaki secara bersamaan. Tak mau berlama-lama, aku pun segera menemuinya.

Tuk!

Sebuah buku tulis terjatuh di hadapanku. Aku pun berjongkok untuk mengambilnya. Namun, tak lama beberapa buku lainnya ikut jatuh mengenai kepalaku. Aku meringis pelan, sambil mengusap bagian atas kepalaku. Aku mengadah untuk melihat siapa orang yang telah menjatuhkan buku-buku itu.

“Maaf, Hanbin!”

Mataku seketika membesar ketika tahu siapa orang itu.

“Kau tidak apa-apa?” ia ikut berjongkok di sampingku sambil memeluk beberapa buku. Wajahnya panik dan juga khawatir. Eh? Apa ia mengkhawatirkanku? Ya, orang itu adalah Sooyeon, gadis yang baru saja aku lamunkan.

“Tidak.” Aku mencoba untuk tersenyum kecil. Meskipun sebenarnya aku ingin tersenyum selebar mungkin. “Aku tidak apa-apa.”

Aku melirik buku yang tengah dipeluknya, lalu beralih pada buku-buku yang berserakan.

“Butuh bantuan?” tanyaku sambil merapikan buku-buku yang berserakan.

Ia tersenyum sebelum berkata, “Ya, aku harus mengumpulkannya ke meja Guru Shin.”

“Aku juga mau ke ruang guru. Ayo!” Aku segera berdiri setelah selesai merapikan buku-buku itu dan membawanya. Sooyeon ikut berdiri dan tersenyum. Benar-benar senyum yang sangat manis.

“Terima kasih, Hanbin!” Oh, terima kasih, Tuhan! Aku merasa, hidupku indah sekali.

xxx

Sudah beberapa hari setelah peristiwa aku-kejatuhan-buku-dan-bertemu-pujaan-hati. Malamnya, aku tidak bisa tidur karena terus terbayang wajah indahnya. Apa jatuh cinta itu rasanya seperti ini? Aku merasa seperti orang bodoh, tapi aku menikmatinya.

“Hanbin!!”

Sebuah seruan menyadarkanku. Begitu menoleh, sebuah benda bundar berwarna jingga sudah lebih dulu mengenai wajahku dengan sangat keras. Aku memekik dan jatuh tersungkur dan itu benar-benar memalukan.

“Hei, kau tidak apa-apa?” Jiwon mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. “Kau tidak lupa cara bermain basket, kan?” ledeknya.

“Berisik!”

Ya, aku dan beberapa temanku sedang bermain basket di taman dekat rumahku. Dan lagi-lagi aku memikirkan Sooyeon. Terkadang, gadis itu tiba-tiba muncul di pikiranku. Mungkin, aku bisa gila karenanya.

“Sana, cepat ambil bolanya!”

Aku pun berjalan mencari bola itu sambil merengut. Kemana bola itu menggelinding? Sepertinya tadi tak terlalu jauh. Mataku terus menelusuri setiap sisi taman.

Ah! Ketemu! Bola itu berada di dekat bangku taman yang tak jauh dari tempatku berdiri. Aku lihat ada seorang gadis di sana, dengan cardigan krem yang lengannya di gulung sampai siku, rok selutut berwarna cokelat tua, dan flat shoes senada dengan rok. Kepalanya tertunduk. Ia terlihat serius dengan buku di tangannya, seperti buku gambar. Aku pun perlahan mendekatinya.

“Maaf!” ucapku pelan dan ia mengangkat kepalanya.

“Ah?! Hanbin?”

Sooyeon? Aku bertemu dengannya lagi. Yah, memang tak aneh, sih, jika aku bertemu dengannya di sini, mengingat rumahnya berada tepat di seberang rumahku. Ia tersenyum. Aku balas tersenyum, meskipun agak canggung.

Aku melirik ke arah kakinya –lebih tepatnya ke arah bola basket yang berada di dekat kakinya. Ia mengikuti arah pandanganku dan tersenyum mengerti. Sooyeon meletakkan bukunya di sebelahnya dan mengambil bola basket itu.

“Jadi, kau suka bermain basket di sini?” tanyanya sambil menjulurkan benda bundar itu kepadaku.

“Ya, begitulah.” Tanganku menerimanya. “Kau sendiri?”

“Aku suka menggambar di sini. Tempat ini memberiku banyak inspirasi.” ucapnya, lagi-lagi dengan senyuman yang mungkin bisa membuatku terkena diabetes mendadak.

“Besok,” ia berucap setelah kami terdiam untuk beberapa sekon. “apa kau akan bermain basket lagi di sini?”

Aku tak langsung menjawab, menimbangnya sebentar. Untuk apa Sooyeon bertanya seperti itu?

“Aku ingin melihatmu bermain basket.”

Perkataan yang baru saja ia ucapkan itu sontak membuatku membulatkan mata, seakan-akan ia bisa membaca pikiranku. Namun, aku tak bisa menahan senyumanku yang sudah keburu kukeluarkan.

“Ya! Aku akan mengajak temanku untuk bermain lagi, besok!”

Ia tersenyum.

Aku tersenyum. Makin lebar.

Ya, Tuhan, ingatkan aku untuk pergi ke dokter dan memeriksa kadar gula darahku –yang sepertinya sudah melebihi batas normal.

Terima kasih sudah mempertemukanku dengannya.

..

Fin.

..

Hai semuanya! Kenalin, aku anak baru di sini. Iya, anak baru balik, maksudnya ㄱ_ㄱ yang selama ini ngilang gak tau rimbanya /setel lagu alamat palsu/ tiba-tiba dateng bawain FF ngebut saat H-2 UN. Disaat orang-orang belajar, saya justru di sini. Iya, di sini, nyampah di IFK /maafin. Dan saya sadar, kalo tempat saya udah berdebu, karena terlalu lama dibiarin kosong tanpa FF /heuu

Sebelumnya, saya mau minta maaf sama Bu Direktur, karena udah hilang tanpa kabar dan kembali seenaknya /itu pun kalo budirek ngeh sih, karena saking banyaknya penghuni IFK.

Senpai-tachi dan yang bergabung di IFK bareng saya, yang syukur-syukur masih inget sama saya. Jujur, saya kangen kalian, kangen cerita kalian yang selalu bikin saya mikir “Kapan gue bisa bikin cerita seWOW ini?”

Kohai-tachi, yang sudah jadi bagian dari IFK. Saya ucapkan selamat datang di IFK, semoga nyaman dan bisa memberikan karyanya untuk movie freak IFK /jangan kayak saya, ilang-ilangan

Ini FF terakhir saya, sebelum UN /iye bentar lagi, bukannye belajar!/ Insya Allah saya akan kembali lagi setelah UN dan daftar kuliah, mungkin sekitar pertengahan atau akhir April. Mohon doanya🙂 /sebenernya stres mikirin kuliah /curhat

Dari tadi ngomong kayak orang bener, kayak ada yang mau baca aja ㄱ..ㄱ lagaknya kayak yang udah senior tingkat atas /tabok

Sudahlah, saya akan menghentikan kegilaan ini sebelum negara api menyerang. Terima kasih sudah berkenan membaca🙂

Ketjup manjah,

San Kitsune

3 thoughts on “Thanks, God!”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s