Rose Quartz Side – Beauty Pow(d)er

Beauty Powder 2

Joonisa present

Beauty Pow(d)er

Starring TWICE Im Nayeon, SEVENTEEN Choi Seungchol

Genre Action, College, Fluff | Duration Vignette (+1.4k words) |Rating PG – 13

.

Jangan pernah remehkan apapun, termasuk bedak.

.

Pojok sebelah kiri belakang, dekat etalase roti, dan tanpa jendela, menurut Nayeon adalah tempat yang paling tepat untuk menghabiskan waktu berkutat dengan setumpuk makalah. Ia pun mendudukkan diri di sana, meletakkan laptop di atas meja, lalu mengambil sesuatu dari dalam tote bag warna abu-abu gelap miliknya.

Benda itu merupakan sebuah benda kesayangan Nayeon yang selalu dibawanya ke mana-mana. Sebuah bedak berbentuk compact dengan kemasan berwarna peach, motif emboss berbentuk bunga lily, dan dilengkapi dengan cermin. Sebagai wanita dengan gaya feminin yang kental, memeriksa riasan wajah dan rambut setiap hampir – tolong garis bawahi – 30 menit sekali adalah sebuah keharusan layaknya rutinitas mandi minimal dua kali sehari.

Saat Nayeon tengah menyisir poni panjangnya, ujung matanya menangkap lelaki yang bejarak tiga meja di depannya sedang menirukan gayanya. Pura-pura memegang kemasan bedak sambil menyisir rambut pendek hitamnya dengan jemari. Kepalanya pun berlenggak-lenggok berlebihan layaknya perempuan jadi-jadian, membuat Nayeon yang melihatnya merasa kesal.

Merasa diperhatikan, laki-laki itu menoleh pada Nayeon, lalu secepat kilat menormalkan kembali ekspresi dan tingkah laku layaknya tidak terjadi apa-apa. Ia menatap ke sembarang arah, memutar-mutar bola matanya sembari menyeruput ice blended yang tinggal setengah untuk menghindari tatapan kesal Nayeon.

“Nona, ini pesanan Anda.”

Kedatangan pramusaji itu membawa keberuntungan tersendiri untuk si laki-laki karena tatapan tajam Nayeon padanya mendadak buyar. Nayeon mengucap terima kasih sekilas, lantas memasukkan bedaknya ke dalam tas. Daripada mengabulkan kekesalannya, Nayeon memilih untuk mengerjakan setumpuk tugas kuliah yang baru saja diberikan oleh dosennya dan tidak mengacuhkan Seungchol yang tak lepas menatap Nayeon.

.

.

“Katakanlah aku terlalu bodoh untuk hal ini, tapi aku benar-benar tidak mengerti, kenapa wanita itu selalu memeriksa penampilannya secara berkala? Padahal Nayeon hanya membaca buku yang notabene tidak akan membuat rambut mereka kusut. Apa dia memilliki semacam penyakit ‘takut bilamana hidung tiba-tiba pindah ke dahi?’”

Pikiran Seungchol bermonolog tanpa henti, terlalu penasaran terhadap tindak-tanduk Nayeon sampai-sampai ia lupa tujuan sesungguhnya ke kafe itu. Ia ingin bersembunyi dari kejaran tiga orang mantan seniornya sewaktu di SMA dulu. Kecepatan lari Seungchol yang sudah lumayan meningkat daripada waktu SMA membuatnya bisa selamat masuk ke kafe ini tanpa ketahuan, setidaknya untuk sementara waktu.

Alasan para senior itu mengejar Seungchol adalah karena dendam lama. Sewaktu SMA, Seungchol adalah sasaran empuk para senior tukang bully karena Seungchol terkenal pandai dan atletis, namun berpostur paling kecil di antara teman-temannya yang tinggi besar menjulang ke langit. Seungchol hanya mengangguk patuh saat disuruh melakukan apa saja yang diperintahkan oleh sang senior. Membeli makan, mengerjakan tugas, menyerahkan semua uang saku dan bekal makan siang, membeli rokok, dan lain sebagainya.

Seperti itulah yang terjadi selama tiga tahun Seungchol bersekolah. Namun pada suatu hari, ulah salah seorang senior itu membuat Seungchol naik pitam. Ia mengatakan kalau ia menyukai Seungchol dan ingin berkencan dengannya, padahal seniornya itu seorang laki-laki. Kontan saja, Seungchol yang hatinya sudah panas karena disiksa selama bertahun-tahun, langsung meludahi wajah sang senior dan mengumpat habis-habisan.

Karena semua itulah, Seungchol ada di sini. Sebuah kafe yang tidak terlalu ramai namun tidak bisa dibilang sepi, interior bernuansa hijau-coklat yang memberi kesan teduh, ea r instrumental sebagai latar belakang, dan tempat duduk yang berada di belakang tiang bangunan kafe menjadi tempat yang dinilainya cukup aman untuk bersembunyi. Terlebih lagi karena di tempat yang sama ada Im Nayeon, teman satu angkatan Seungchol di universitas, yang gerak-geriknya mencuri perhatian Seungchol sekaligus membuatnya lega.

Lega karena dirinya masih menyukai perempuan.

“Ya ampun, pakai bedak lagi!” Seungchol menepuk dahinya seraya menahan kikik tawanya agar tidak terdengar, namun suaranya itu tertangkap jelas oleh telinga Nayeon hingga membuatnya mendelik sebal.

“Hei, Choi Seungchol! Anak Fakultas Teknik semester lima kelas B! Sedang menertawakanku ya? Hah?”

Tak tahan lagi, Seungchol akhirnya tertawa terbahak sambil memegangi perutnya. Ia lalu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Nayeon. Setelah mendudukkan diri di kursi yang ada di depan Nayeon, Seungchol tak langsung menjawab, namun malah balik mengajukan pertanyaan.

“Bawa bedak berapa kilo sih? Kok dari tadi pakai bedak terus?”

Nayeon mendengus. Ia menutup compact powder miliknya lalu mengayun-ayunkannya di depan Seungchol.

“Aku bawa dua. Mau satu?”

“Aku tidak pakai bedak, Nona Nayeon. Terima kasih.”

Nayeon mencebik sambil memasukkan bedaknya ke dalam tas. Ia mendaratkan jemarinya ke atas keyboard untuk melanjutkan tugas kuliahnya yang belum rampung. Namun sebuah pertanyaan kecil di kepalanya tampak menuntut kuriositas.

“Kau sedang apa di sini? Mengerjakan tugas juga?”

Seungchol menggeleng seraya mencomot satu kentang goreng milik Nayeon, “aku ke sini mau sembunyi.”

“Sembunyi?”

“Sudahlah, itu tidak penting. Lanjutkan saja mengerjakan tugasnya, aku tidak akan mengganggu. Kecuali kalau kau memoles bedak lagi, baru aku akan mengganggumu.”

“Sialan! Dasar – “

“DI SINI KAU RUPANYA, CHOI SEUNGCHOL!”

Tiga laki-laki berperawakan tinggi besar berjalan ke arah Seungchol dan Nayeon. Seungchol yang mengetahui persis siapa tiga orang itu tidak berani membalikkan badan, sementara Nayeon menatap bingung tiga orang laki-laki yang semakin dekat baunya semakin menyengat. Ia sudah mengangkat tangannya untuk menutup hidung, namun diinterupsi oleh Seungchol yang tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya.

“Aku pulang dulu.”

Wajah Seungchol yang tiba-tiba memucat disertai sebulir keringat dingin di pelipis kanan membuat rasa penasaran Nayeon seakan ingin meledak. Belum lagi cara berjalan Seungchol yang berubah menjadi kaku saat tiga orang itu menggiringnya keluar kafe. Siapapun yang melihatnya pasti akan berpikir kalau ada yang tidak beres dari hubungan mereka.

Nayeon merasa ia tidak boleh tinggal diam.

.

.

“Heh, yang tadi itu pacarmu ya?”

Laki-laki bertubuh paling tambun mendorong tubuh Seungchol lalu menoyor kepalanya beberapa kali. Laki-laki berjenggot dan yang berambut kuning menyeret tubuh Seungchol sampai membentur dinding di sebuah gang buntu.

“Kau tahu kalau aku cemburu?”

Seungchol mendongak, menatap lurus-lurus laki-laki itu dengan segenap keberaniannya meskipun kakinya bergetar hebat sampai kandung kemihnya berasa akan miris sebentar lagi.

“Pacar atau bukan, yang jelas aku menyukai perempuan!”

Tiga laki-laki itu tertawa begitu keras. Cukup lama mereka tertawa, sampai akhirnya si rambut kuning menjambak rambut Seungchol.

“Kau menyukai makhluk yang kemana-mana selalu mengoleskan tepung ke wajah itu? Yang selalu mengoreksi penampilan padahal wajah mereka itu-itu saja, lembek tak berdaya?”

“Iya.”

“Kenapa?” laki-laki tambun itu menggeram.

“Karena aku normal.”

Satu tinju melayang ke perut Seungchol, disusul oleh tinju-tinju dari dua orang yang lain. Seungchol tak melawan karena ia merasa percuma. Dulu ia pernah melawan namun ujung-ujungnya dua tulang rusuknya harus patah. Ia memilih untuk menerima pukulan itu dengan pasrah dan menunggu saat mereka bertiga lengah meskipun ia tahu kalau itu tidak mungkin terjadi.

“Ahjussi?”

Adegan pengeroyokan itu seketika berhenti saat ada suara perempuan yang cukup nyaring menyela kegiatan mereka. Ketiganya berbalik ke arah sumber suara dan –

“RASAKAN INI! HUFF! HUFFFFFFFF!!!”

Nayeon meniupkan bedak milliknya yang sudah berubah bentuk menjadi bedak tabur karena dihancurkannya dengan pulpen ke wajah tiga laki-laki itu. Tidak hanya sampai di situ, Nayeon juga mengambil salah dua pecahan cermin bedaknya dan menusukkan benda itu berulang-ulang ke tubuh tiga orang itu. Gerakan Nayeon cukup cepat dan tak terduga hingga tiga orang itu menggelepar kesakitan di atas tanah. Merasa ada kesempatan bagus, Nayeon menarik tangan Seungchol dan mengajaknya berlari meninggalkan gang buntu itu.

“Kita harus cepat, Seungchol! Luka-luka mereka hanya bersifat sementara!”

.

.

“Kau menusuk tubuh mereka dengan pecahan cermin dari bedak?”

Seungchol dan Nayeon saat ini tengah dimintai keterangan di kantor polisi. Nayeon yang sempat merekam perbuatan tiga laki-laki itu mengangguk, lantas ia menyerahkan ponselnya untuk diteliti oleh petugas kepolisian.

“Tidak ada cara lain, Pak Polisi. Saya harus melukai mereka terlebih dahulu agar bisa membawa kabur teman saya.”

Polisi itu mengamati sejenak wajah Seungchol yang babak belur, kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kalian berdua naiklah ke lantai dua, di sana ada petugas medis. Obati dulu luka temanmu, baru kalian boleh pulang. Kami akan langsung memroses laporan kalian.”

“Baik. Terima kasih, Pak.”

Nayeon dan Seungchol meninggalkan ruangan pemeriksaan dan berjalan menuju ruang pengobatan. Selama perjalanan, baik Seungchol maupun Nayeon tidak ada yang buka suara. Mereka hanya berjalan bersisian tanpa ada interaksi.

“Choi Seungchol.”

“Hm?”

“Kenapa kau tidak pernah melaporkan mereka ke polisi?”

Seungchol menghentikan langkahnya, berbalik menghadap Nayeon.

“Tidak ada bukti dan saksi.”

“Hanya itu?”

“Iya. Hanya itu. Kalau tidak ada dua hal itu, tidak ada yang percaya padaku, termasuk polisi. ”

Nayeon mendengus seraya memutar bola matanya, “yang benar saja. Kau bisa bilang kalau – “

“Terima kasih, Im Nayeon.”

Nayeon berhenti berujar saat Seungchol memotong ucapannya. Jelas terlihat kalau Seungchol tidak ingin membahas lebih lanjut masalah itu. Suasana tiba-tiba berubah menjadi canggung saat keheningan berada di antara tatap mereka berdua.

“Lain kali jangan pernah meremehkan apapun, termasuk bedak,” Nayeon akhirnya buka suara sambil menggaruk tengkuknya, “aku pulang dulu.”

Seungchol menatap punggung Nayeon yang bergerak menjauhinya sambil tersenyum, ditemani bunga-bunga imajiner yang memenuhi sudut hatinya. Begitu pula dengan Nayeon yang berjalan keluar dari kantor polisi dengan wajah bersemu merah. Ia meraba-raba wajahnya yang terasa memanas,namun detik berikutnya Nayeon teringat sesuatu yang membuatnya refleks menepuk dahi keras-keras.

.

.

.

“Ah! Aku harus beli bedak lagi!”

 

FIN

author’s note:

Hanya merasa harus memposting sesuatu saja. Maaf kalau ini gaje sekali karena yah idenya cuma ada ini.

Rencananya bakal ada Serenity Side juga, so, pantengin aja ya.

MUNGKIN AKAN SEMAKIN GAJE

Mind to review?

nyampah ga papa juga :p

 

13 thoughts on “Rose Quartz Side – Beauty Pow(d)er”

  1. kyaaaa~~~~ ini kocak sweet dan easy story banget,,

    paling suka kata kata ini.” Lega karena dirinya masih menyukai perempuan.”

    wkwk seungcheol oh seungcheol, seru kak seru ^^

    Suka

  2. omaigat gak nyangka banget bedak bisa jadi senjata….ckckck Nayeon jenius😄

    awalnya aku gak kepikiran loh apa hubungannya bedak sama Seungcheol yang jadi buronan(?)

    good job! aku suka banget jalan ceritanya😄 mengajarkan kita untuk gak meremehkan hal sekecil apapun, termasuk bedak hehehe
    ditunggu terus karya selanjutnya, keep writing!!

    Suka

  3. Kak nisaa, ini oja :3

    Oja ga menduga sama sekali kalau bedak banyak manfaatnya ya,wkwk.
    Ini unexpected kak, dan endingnya juga open, kusuka❤

    Selamat ya kaak jadi movie of the week ceritanya😀

    Suka

    1. HALO OJAAAAA *tebar konfeti*
      boleh dicoba kok ja.. sekalian tambahin bubuk cabe di atas bedaknya hahaha😄
      wah kamu suka open ending ya… ada juga yg suka open ending yak (aku juga suka sbnrnya)😄
      heuuu iya makasih ojaaa😀 baru pertama kali jadi MOTW rasanya hepi❤

      Disukai oleh 1 orang

  4. ah~ sweet banget
    itulah akibatnya kalo ngremehin cewe hahaha. bedak pun bisa jadi senjata mematikan.
    nice fanfic.
    oh ya aku reader baru (udah lama nongkrong disini sih, tapi baru ada niatan buat ngomen) salam kenal~

    Suka

    1. hahaa benar sekali.. boleh dicoba kalau lagi kepepet /plak/
      apakah dirimu sider tobat? he he
      salam kenal juga ya… semoga niat ngomennya berlanjut terus😀 ngomen itu menyenangkan kok hihi

      Suka

  5. Kak nisaaa halo ini dita kak ya ampun baru tahu lah ini nayeon susah juga ya suka sama cewek super feminin ya sampe preman pun dihajar pke bedak x””)) oiya kak sblmnya maaf tp ada typo di sini… ea r instrumental sebagai…
    But overall bahasanya asyik kak eksyennya jenaka x””D
    Sukses kak nisaaa~~

    Suka

    1. Halo ditaaaa ^^
      Bedaknya harus yang bagus dong ehe he he.. nah itu dia aku ga tau kenapa bisa kena typo ala ala ms word gitu hedeh…. nnti diperbaiki…
      Makasih ditaaa^^

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s