[Ficlet] Song of Dawn

[FFPOST] Song of Dawn

elfxotic12152  present

a short film with Soloist Jung Joon-Young

supposed to be!Depressingly sad |  Ficlet (691 Ws) | PG-15

.

Dan untuk sejamang, semesta tidak lagi terasa sebagaimana semestinya…

.

Joonyoung menyumpah saat rasa dingin yang begitu tiba-tiba menggerigiti, membuatnya terjaga. Tubuhnya menegak karena tuntutan refleks. Sekali, dua kali kerjap, kemudian matanya dapat melihat. Begitu dunia tidak lagi berputar dalam penglihatannya, ia memungut sepotong kaos serta celana, dan dikenakannya tanpa niat. Wanita yang dibayarnya semalam untuk menemaninya masih ada di sana, menghadap sisi lain tempat tidur. Punggungnya terbuka, dan bergerak naik-turun dengan tempo stabil. Kali ini bukan gairah yang menerpa hatinya yang terluka saat melihat punggung telanjang seorang hawa.

Ia merasa jijik.

Pada dunia ini beserta isinya.

Pada wanita itu, karena kerelaannya atas harga dirinya yang tidak seberapa.

Pada dirinya sendiri, karena tidak tahu lagi apa-apa yang baik atau yang buruk.

Angin menerpa lebih kencang lagi kala pintu kayu lapuk kamar motel murahnya ia buka. Desir angin jauh lebih keras dari derit pintu di pendengarannya. Dunia masih terlelap, tapi dirinya dipaksa bangun oleh rasa duka yang mencokol kuat di dasar hati. Dan meski sol sepatunya terasa seratus kali lebih berat dari biasanya, dengan terpaksa ia melangkah, menjauhi tempat dosa yang ia tempati untuk satu malam yang bagaikan mimpi indah dalam neraka.

Joonyoung berjalan lama sekali. Hanya dengan ditemani seekor anjing gelandangan yang berjalan bersamanya selama seratus yard, kemudian menghilang. Nay, dia tidak merasa kesepian. Merapatkan jaket kulitnya toh terasa seperti berada dalam pelukan yang lama ia damba.

Meski langit pun belum lagi terjaga, di bawah fly-over besar tempatnya berdiri sekarang, kereta berlari kencang, tidak ingin tertinggal satu momentum pun. Suara roda dan rel bergesek kencang membuat gigi Joonyoung sakit. Tapi ia suka dengan suara detak beban melindas patahan rel—dudug, dudug.  Jeritan mesinnya yang panjang dan stabil, membuat fajar serasa mendukung dukanya atas kepergian satu petak cinta dari hatinya.

Joonyoung bersandar pada pagar pembatas jalan. Mudah baginya, jika ia ingin melompat, mengakhiri semua omong kosong dunia ini. Tapi tidak, ia lebih memilih untuk merogoh sakunya, berharap masih ada si bungsu dari satu kotak kretek yang dibelinya semalam. Dengan pemantik tuanya, si bungsu yang diketemukan di saku kiri, ia bakar. Dadanya terasa sedikit ringan saat nikotin dan segala zat busuk merasuk ke dalam paru-paru. Kalah semua rasa yang sudah membuatnya depresi. Rasa sedih, rasa kesepian, mereka semua sayangnya kalah oleh sebutir ekstasi harian. Rasa lelah karena tangisan yang tanpa ujung, kalah—kalah dengan satu, dua botol alkohol murahan untuk tiap malam.

Isapan ketiga dari pantat kreteknya membuat ingatannya yang buram, kembali ke masa lalu. ‘Jangan merokok, tidak baik untukmu,’ kata gadis itu. Asap ia keluarkan banyak-banyak, lewat mulut, lewat kedua lubang hidungnya. Pun sebuah tawa hambar.

Bullshit.

Memangnya berhenti merokok akan terasa sesakit ini? Joonyoung tidak yakin. Bahkan ia tidak yakin rasa sakitnya bakal satu persejuta sakit yang sekarang. Katakan saja dia melodramatis. Setahunya, bahkan wanita rumah tangga 40 tahun yang diduakan juga akan merasa hal yang sama.

Bunga itu pernah berkata, ‘Jangan percaya omong kosong orang-orang, cinta. Jangan. Kau toh sudah tahu bahwa aku tidak akan beranjak kemana pun.‘ Bunga itu memang diam, tapi lama, dan pelan, bunga itu tertiup angin, pergi jauh, jauh. Awal mula perpisahan itu terasa ringan untuk dirinya. Tapi setelah 168 jam, perih baru menerpa.

Begitu puntung bungsu di tangannya sudah tidak bisa lebih pendek lagi, ia tersadar seberapa kekanak-kanakan batinnya dulu.  Ia lempar puntung pendek itu ke balik pagar pembatas, membiarkannya jatuh melayang tanpa rasa iba. Begitu sudah dipastikannya puntung itu tergeletak di atas buku-buku rel, pandangnya ia tarik ke cakrawala.

Matahari baru saja mau terbangun. Angin fajar kini lebih ganas. Budak duka itu lantas memanjat pagar pembatas. Kendatipun keseimbangan sama sekali tidak ada dalam posisinya sekarang, ia berkeras untuk membatu seperti itu. Tangannya ia rentangkan, memprovokasi tiupan alam untuk bergulat dengannya. Tubuhnya terhuyung saat angin berhembus menampar, seakan berusaha memeras sesuatu keluar dari dirinya. Dan angin berhasil.

Sebutir, dua butir air duka keluar dari netranya.

Dan untuk sejamang, semesta tidak lagi terasa sebagaimana semestinya.

Bibirnya bergerak, membuka hendak mengucap sepatah kata. Tapi tidak ada yang keluar. Ia ingin mengucap kata tentang duka, amarah, sepi, dan lainnya, tapi tidak ada kalimat yang cukup untuk menjelaskan pada alam seberapa buruk yang telah ia lalui. Ia ingin mengucap perpisahan, tapi tidak ada kata-kata yang pantas.

Amy…

Dan dengan satu langkah, ia pergi jauh dari kenangan kelam masa lalu.

FIN.

Astaga, omo, aku mau UN tapi sifat bocah nakal-yang-gak-begitu-nakal-banget memaksa untuk nulis ini di tengah-tengah belajar fisika Epotensial=mgh. FIX INI LAGU BAGUS HARUS PADA DENGERIN

Harus belajar—ppyong!

Zyan

4 thoughts on “[Ficlet] Song of Dawn”

  1. Hai zyan! Kenalin, aku veli 98 liner🙂 same here lagi struggling fisika buat besok—kamu semangat ya!

    anw, aku jarang tau ada yang nulis tentang joonyoung; sekalinya ada kusenang banget huhu. Mana ini tulisannya rapih banget, diksinya bervariasi, juga feel desperate-nya kerasa. Biar pendek tapi mengena aja sih kalo menurutku. Insecure-nya si joonyoung nggh sumpah jangan sedih2, sini sama aku aja.

    album barunya joonyoung kayaknya nggak terlalu ngerock, harus dengerin nih kayaknya xD

    udah segitu aja deh komennya; keep writing ya!

    Suka

    1. Hai ka veli~ aku Zyan line ’00 ehehehe, aww makasih kak, lagi menjelan UN:”)
      Aku juga baru ngeh ternyata ff junyong emang jarang, tapi syukur deh kalo ff junyong yang satu ini ga bikin ka veli kecewa:”) makasih kak…
      HARUS BANGET DENGERIN KAK aduh bisa gila dengerin suara dia, gaada bosen-bosennya

      Makasih udah kasih komen ya ka veli~
      Zyan

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s