[Ficlet] One Step Ahead

one step ahead

Mark Lee [NCT], Vernon Chwe [Seventeen], slightly mention Yeri [Red Velvet], slightly mention Koeun [SM Rookies] | School life, friendship, slightly romance | PG-15 | Ficlet

Related to: Mark in Between

© 2016 namtaegenic

:::::

“… aku naksir salah satunya.”

:::::

Phee-weet!

Fweet!

Ssst! Ssst! Fooo… fooo…!

Aku akhirnya menoleh kesal ke arah sumber suara dan mendapati Vernon yang duduk di belakangku menghela napas lega.

“Susah sekali memanggilmu!” desisnya.

“Maaf ya, kalau aku tidak paham dengan sandi Morse!” tukasku sebal. Bukannya tidak pernah aku mengultimatum Vernon untuk memanggilku seperti mereka memanggil Yeri dan Koeun. Memang sesulit apa menyebut, “Mark! Mark, menoleh ke sini!” alih-alih bersiul? Dia toh bisa-bisa saja memanggil Yeri dan Koeun dengan nama mereka. Pakai senandung pula—bukannya aku bersedia namaku disenandungkan secara genit oleh Vernon, yuck.

Mataku mengamati Guru Song. Wanita berusia pertengahan tiga puluhan itu tetap bergeming pada laptop-nya. Merencanakan gunungan tugas baru untuk kami, kurasa. Ketika tampak aman, aku kembali menoleh pada Vernon dan mengangkat daguku sebagai pengganti pertanyaan.

“Pulang sekolah nanti kita jalan-jalan, yuk!”

“Kencan?”

“Semacam.”

“Kau dan aku?”

“Sialan, Mark, bukan!”

Baguslah, kupikir dia sudah berpindah selera lantaran dilarang senior untuk mendekati Koeun dan Yeri secara personal.

Vernon menunjuk dirinya, kemudian aku, lantas telunjuknya dilayangkan diam-diam ke arah Koeun dan Yeri yang sibuk mengerjakan tugas mereka. Aku mengikuti arah telunjuknya, lalu kugulirkan lagi tatapanku pada Vernon hanya untuk menggeleng. Jalan-jalan terus, aku kapan belajarnya.

Vernon mengatupkan telapak tangannya dan membuat wajahnya sememelas mungkin. Aku tetap menggeleng dan mendesiskan penolakan yang lumayan keras. Cukup keras untuk memancing seluruh perhatian penghuni kelas dan membebaskan Guru Song dari mantera laptop­-nya.

“Mark Lee dan Vernon Chwe, silakan lanjutkan percakapan di luar kelas agar tidak merasa terganggu privasinya oleh kami yang sedang mengerjakan tugas.”

Oh sial, Guru Song bukan hanya menakut-nakuti, tapi juga memberikan gestur dengan merentangkan tangannya lurus ke arah pintu kelas. Dengan lunglai aku berdiri dan berjalan menunduk, siapa tahu di lantai masih tersisa ceceran citraku sebagai murid teladan di sekolah ini. Masa, murid teladan dihukum di luar kelas? Dengan Vernon pula!

Alih-alih merasa malu, Vernon malah tersenyum lebar. Ia menutup pintu dari luar dan kembali mengajakku bicara. Oh masa bodohlah, sudah dihukum juga.

“Jadi?”

“Ya bolehlah. Mumpung hari ini pulang lebih cepat. Kenapa tidak kau saja sih yang pergi dengan Koeun dan Yeri?” tukasku. Lalu sebentuk bohlam menyala terang di benakku. Ah, kenapa aku tidak pernah menyimpulkan seperti ini sebelumnya, padahal Vernon sudah terang-terangan mengatakannya padaku.

“Kau menjadikanku tameng, ya kan, Vernon? Biar kelihatannya kau tidak sedang mendekati Yeri dan Koeun secara personal, kan? Biar para senior melihatmu sedang ‘jalan beramai-ramai’ ya, kan?” tudingku langsung. Kali ini Vernon terdiam. Ia memandang susunan plafon di koridor, lalu mengembuskan napas ke atas, membuat helai rambutnya melayang dan jatuh—percayalah, aku selalu mencoba cara itu agar tampak lebih keren, alih-alih, aku malah membuat kacamataku berembun. Lain kali Vernon harus mengunggah video di Youtube dengan judul Tutorial Menjadi Keren Seperti Vernon dengan sejumlah episode. Aku akan jadi subscriber-nya, pasti, meskipun tentu saja aku harus memalsukan identitas.

“Kau benar, aku naksir salah satunya. Tapi aku tidak pernah menjadikanmu tameng di hadapan senior-senior kurang kerjaan itu. Aku hanya… tidak punya nyali untuk berada di dekat mereka—sendirian.”

Tunggu, apa? Vernon Chwe tidak berani bicara pada cewek? Meh. Sok sentimental.

“Yang benar saja, Bung,” cibirku. Vernon bisa bersikap seakan ia adalah laki-laki sensitif pecinta puisi dan pemandangan bima sakti, di hadapan banyak orang. Tapi aku berteman dengannya sudah lama. Dan—pfft, yang benar saja.

“Makanya aku butuh kau sebagai… katalis?”

Seumur pertemananku dengan Vernon, baru kali ini kudengar mulutnya melontarkan kosakata seperti katalis. Dan ketika Vernon mengucapkan kata-kata yang tidak terlalu familier, berarti ia memang sedang serius.

Mataku ikut mengamati plafon, lantas aku mengedikkan bahu.

“Menurutku kau cuma harus mengambil satu langkah lebih maju. Sedikit, yang penting tidak jalan di tempat.”

Dahi Vernon berkerut, dan saat itulah aku sadar bahwa ia masih Vernon, bukan Shakespeare. Aku mencoba menjelaskan kalimatku barusan dengan lebih ringkas.

“Kau harus mengambil langkah, Vernon. Kalau kau naksir salah satunya, ya sudah, dekati saja. Minta nomor teleponnya. Berjalanlah dengannya sampai ke rumah.”

“Ke rumahku?”

“Ke rumahnyalah, Bodoh.”

“Oke, lanjutkan.”

Cewek itu ada tiga, Vernon. Peka, tidak peka, dan besar kepala. Cewek peka itu seperti Yeri dan Koeun. Cewek besar kepala itu yang ketika kita menawarkan bantuan, mereka malah berfantasi bahwa kita naksir.”

“Kalau yang tidak peka?”

Aku lantas berbisik menjawabnya. “Seperti Guru Song. Soalnya ia malah menghukum di saat kita sedang berada dalam pembicaraan penting soal kehidupan sosialmu.”

Vernon terbahak-bahak mendengar ucapanku dan aku berusaha meredamnya dengan menarik konklusi dari nasihatku. “Jadi, bergeraklah sekarang.”

Temanku yang diidolai para gadis itu lantas tersenyum dan mengangguk-angguk. Ia menepuk bahuku dan mendengus, tampaknya bahagia sekali.

“Trims, Mark. Aku akan melakukan seperti yang kaubilang.”

Kupikir, jika aku menuntaskan pembicaraan ini, bel akan langsung berdering, dan aku bisa melupakan sesuatu yang mengganjal di benakku. Tapi menunggu bel berdering ketika kau sedang tidak melakukan apa-apa rasanya seperti satu abad.

Lantas aku tak sabar lagi.

“Memangnya… siapa yang kau sukai di antara Yeri dan Koeun?”

Pertanyaanku barusan membuat Vernon mengangkat wajahnya, lalu memandangku. Alih-alih jawaban, ia hanya memberikan senyuman.

“Kau… “ aku melanjutkan. “Tidak naksir Koeun, kan?”

Kini kami bersitatap.

Vernon baru akan membuka mulut, ketika bel berdering tanpa dinanti-nanti lagi. Aku berdecak, lebih karena menyesali pertanyaan yang keluar dari mulutku barusan. Buat apa aku menanyakan itu. Bagaimana kalau Vernon mengiraku mencampuri urusannya? Bagaimana kalau Vernon lantas marah padaku karena, well, ternyata rahasianya kuketahui. Maksudku, kandidatnya kan, cuma dua. Mudah sekali menebak Koeun atau Yeri-lah yang disukai Vernon.

Lebih-lebih karena aku tahu bahwa Vernon lebih suka gadis berperangai lemah lembut ketimbang yang ceria dan aktif. Lebih-lebih karena aku tahu Vernon lebih suka gadis berambut gelap ketimbang yang berwarna.

Lebih-lebih karena aku takut Vernon tahu bahwa kami mungkin saja naksir gadis yang sama.

:::::

FIN.

14 thoughts on “[Ficlet] One Step Ahead”

  1. Kak Eci! Selalu suka lah sama tulisan school-life Kak Eci. Suasananya hidup banget jebal chorom, aku jadi ngerasa bener-bener kayak ada di sana ;; DAN GURU SONG OMGGG how ngeselin s/he is. Kalau guru di sekolahku masih sedikit baik hati dengan bilang “Kalau mau ngobrol di luar aja, kalau mau tetap di dalam ya jangan cerewet.” tapi kalau jenis yang ini … no comment😄 anyway, aku masih bingung penggunaan tanda elipsis yang benar itu dikasih spasi dulu baru tanda elipsis atau menyatu dengan kata sebelumnya ya?._.huhuhu. Intinya aku suka FF ini, keep writing Kak Eci!

    Suka

    1. Hai, Gaby! Nah, itu dia, Gab, aku juga bingung sama penggunaan elipsis. yang kulihat di internet sih sebelum dan setelah kata, itu dipisah ya. tapi kubaca harry potter itu dia ada yang menyatu pada katanya. yah entahlah. btw makasih sudah mampir ya, Gaby ^^

      Suka

  2. “Ke rumahku?” OMG Vernon!!
    “Ya ke rumahnyalah, Bodoh!” Dan tangan Mark, secara ajaib, terangkat dan mendarat begitu saja di kepala Vernon.
    Pletaak!! Beneran pengen jitak Vernon deh… Hoho.. 😁
    Bisakah ini jadi serial? Karena duo Mark-Vernon ini sepertinya cukup menjanjikan (untuk katagori ‘bickering couple’ 😸)

    Suka

  3. nahloh nahloh gimana nasib persahabatannya kalo naksir cewek yang sama? ((eh tapi kalo cowok kayaknya biasa2 aja sih soalnya di sekitarku banyak (banget) yang begitu)) yaudah mark sama yeri aja biar vernon sama koeun #teammarkyeri x))

    ka ecii, aku suka banget sama karakter vernon yang keren2 tapi pas ngurusin cewek malah minta ditabok gini, dan sama mark yang sarcastic dan gengsian tapi sebenarnya masih care sama temen. pas bagian dia bilang pengen suscribe youtube vernon pakai id palsu itu juara banget xD

    terus pas pembukaannya aku udah ngakak ya allah vernonnya “phee weet! ssst! foo!” mana dibales “sori ya gue gapaham morse!” sama mark

    heu intinya aku suka bangetlah ini fic school-life friendship fluffy emang my cup of tea :33 keep writing ka eci❤

    Suka

    1. Halo, Aisya! Wah, baguslah kalau ini memenuhi selera bacaanmu, dan yah, Vernon memang harus ngaplod video tutorial ke youtube ya demi menyelamatkan citra anak laki-laki seantero planet hahaha. makasih Aisya sudah mampir ^^

      Suka

  4. Kak eci! Aku seneng banget pas tahu ini seris-lanjutan dari yang sebelumnya. Selalu suka tulisan kakak yang seperti ini. Dan aku setuju sama komentar diatas yang bilang kalau mark-vernon ini pas banget buat school-life gitu. Oh Dan jangan lupakan mark yang sarkas. Suka pake banget. Dan (lagi) pas bagian terakhir dimana mark sebenernya suka sama koeun. Huft:’)
    Semangat terus, kak! Ditunggu ceritanya selanjutnya, ya ^^

    Suka

    1. Mark kayaknya ngehits lantaran sarkas ya hahaha. Padahal dia sebenernya sih baik dan menyayangi teman-temannya, cuma yah namanya temenan sama vernon mah kalo ga sarkas-sarkas gemes rasanya kurang seru hehehe. makasih ya sudah mampir ^^

      Disukai oleh 1 orang

  5. LAIS AKHIENYA DATANG ASTAGA KAECI MAU MINTA MAAF BARU SEMPET NONFOL:(((((((((((((((

    Kaeci tuh, nulis siapa pun genre apa pun selalu muasin selalu nyenengin, apalagi kalo lagi nulis bIAS AKU AKU HARUS APA KAECI INI GEMES BANGET HAHA KENAPA POSTERNYA KAYAK GITU JUGA ALLAHUAKBAR untung rambutnya pas lagi nggak dinaikin. Yha.

    Aku gamau komentarin apa apa lagi pokoknya ini fic kaeci style banget dan daebak thor banget as always kak. Aku sayang mark dan KENAPA SIH MAINNYA HARUS SAMA HANSOL IH KAMU GAYAAN BGT MINHYUNG LINE 99 JUGA.

    Fighting kaeci~~

    xx, lais!

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s