Deep Down in the Ocean

deep down in the ocean

Kim Mingyu [Seventeen], Amethyst Karam [OC] | Fantasy, romance | Vignette | PG-15 | inspired by Seventeen comeback teaser (message in the bottle teaser pic) but I own the plot

Inspired by Seventeen comeback teaser

© 2016 namtaegenic

:::::

Ini penghinaan besar terhadap jagat laut dan segala isinya!

:::::

Izinkan aku berkisah tentang surat paling indah di dunia—pesan di dalam botol yang terapung, barangkali mengingatkanmu dengan film Message in the Bottle dengan Kevin Costner sebagai peran utama. Namun tidak, cerita ini tak akan membahas betapa hanya keajaiban yang dapat membawa rentetan kalimat tersurat yang diombang-ambing dan dihempas ombak—kepada orang yang tepat, entah itu yang dituju, atau yang ditakdirkan menerimanya.

Tidak akan serupa itu.

Lagi pula, yang akan kuceritakan ini adalah kisah yang tak ada romantis-romantisnya sama sekali.

Jadi, namaku Karam, lebih dikenal dengan duyung berekor panjang keperakan. Dan sebagai info saja, semua duyung yang memiliki ekor berkilau seperti aku, selalu berada pada daftar duyung populer di seantero lautan Pantai Gyeongpo, kau bisa tanya teman-temanku di sana—bukannya aku sok atau apa.

Jadi sewaktu aku sedang menghadiri pesta dwimingguan dengan kelompokku, sesuatu tertangkap indera penglihatanku. Kaum duyung punya mata yang sepuluh kali lebih tajam dari manusia biasa, omong-omong. Jadi sekecil apa pun sesuatu itu, aku yakin sekali bahwa itu adalah apa yang sering penghuni daratan berhati pujangga sebut sebagai pesan di dalam botol. Kukira udang sudah dinobatkan sebagai kaum yang paling bodoh di dunia—oh, itu tak hanya istilah, karena di laut mereka dilindungi secara khusus oleh Neptunus karena kebodohannya yang tak tertandingi—ternyata beberapa manusia yang mengaku paling punya adab seantero jagat raya masih berpaling dari logika dan memilih mengangankan sesuatu yang maya. Tidak ada yang melarang, sih. Toh dengar-dengar kehidupan mereka sudah cukup rumit. Khayalan fana bisa jadi hiburan.

Maka, aku pamit sebentar pada si empunya hajat—Sinhye yang sore ini cantik sekali dengan lipstik persiknya—dan berenang sepuluh kaki ke permukaan, tepat di mana botol tersebut terapung. Kusambar benda itu, lantas aku menyingkir ke balik terumbu karang. Penemu dapat izin tidak tertulis untuk membacanya, kan? Lagi pula benda yang bersifat privasi tak akan berada di tempat publik. Untuk kasusku, laut Pantai Gyeongpo adalah tempat yang bersifat publik.

Botol itu hanya seukuran tiga jari rampingku, dengan badan berbahan kaca dan sumbat gabus sewarna krim kue. Kucopot sumbatnya, dan dengan kuriositas menggebu karena baru sadar bahwa benda asing di laut harus dibawa ke Dewan Makhluk Asing Neptunus dahulu untuk diidentifikasi. Oh masa bodohlah. Aku kepalang membukanya.

Secarik kertas itu tentu saja benar-benar surat. Aku memicingkan mata memandangi tulisan kecil-kecil dan rapi itu. Yang menulis surat ini pasti perempuan. Tulisan tangannya sedap dipandang, dan well, yang percaya hal-hal sentimental semacam ini kan biasanya perempuan. Uh, sebagai sesama kaum hawa, aku mendadak membayangkan ada perempuan yang kecantikannya menandingiku di darat sana.

Tapi tunggu, kau harus tahu bunyi suratnya.

Duyung itu sebenarnya cuma dongeng. Kalau pun ada, pasti aslinya buruk rupa. Dari manusia yang tidak percaya adanya duyung dan Neptunus—Kim Mingyu.

Napasku tercekat di tenggorokan lantaran disergap rasa tersinggung yang luar biasa. Berani-beraninya manusia ini mengirim surat ke laut yang berbunyi demikian kurang ajarnya! Berani-beraninya makhluk darat yang bernama Kim Mingyu ini membuat pernyataan bahwa para duyung itu aslinya buruk rupa! Berani-beraninya ia menghina Neptunus! Ini penghinaan besar terhadap jagat laut dan segala isinya!

Jantungku memukul-mukul, detaknya tak beraturan. Aku menggeram murka hingga warna sisikku menjadi perak dan merah. Akan kuhampiri orang yang bernama Kim Mingyu ini, lalu kucelupkan kepalanya ke air hingga ia minta maaf. Atau kutenggelamkan sekalian biar ia tahu betapa indahnya para duyung dan betapa tololnya ia dan betapa cantiknya aku—itu juga kalau ia belum kehabisan napas.

Tidak sungguhan, kok. Duyung punya peraturan keras soal menghilangkan nyawa makhluk darat, laut, dan udara. Selalu ada hukuman berat yang ditimpakan pada pelaku kejahatan, karena terhitung mencemari nama baik Neptunus.

Namun, dikuasai amarah dan rasa penasaran sekaligus, aku berenang ke arah Utara, di mana dapat kuendus aroma kapal dari kejauhan. Hanya sekitar sepuluh kilometer, mataku sudah bisa menangkap bunyi dan penampakan sebuah kapal pesiar. Aku berenang mendekat, namun tetap menjaga jarak untuk memperhatikan arah kapal bergerak. Usai memastikan bahwa posisiku aman, diam-diam kutempelkan jemariku hingga melekat pada badan kapal. Kim Mingyu, Kim Mingyu, kujahit mulutmu ketika kutemukan presensimu di atas sana.

Aku membawa ekor indahku merayapi badan kapal, hingga kudengar suara-suara yang membuat napasku tertahan.

“Aduh, Mingyu! Aku tidak tidur semalaman, tahu! Carilah kegiatan di geladak sana, jangan ganggu aku!”

Lantas suara itu berganti dengan tawa yang menjerit. Sepertinya ia sedang digelitiki. Tapi yang jelas, menemukan Kim Mingyu tak sesulit yang kubayangkan.

Aku menghimpun energiku. Perlahan namun pasti, badan kapal yang berada di balik tanganku mengeras, membeku, dan bergeming. Aku berhasil menghentikan laju kapal ini di tengah-tengah laut tanpa membuatnya tenggelam.

Samar-samar dan berangsur jelas, mulai kudengar kepanikan di dalam kapal. Sekitar tiga belas jenis suara pria (aku pandai membedakan jenis-jenis suara apa pun, omong-omong) bersahut-sahutan mengomentari keadaan kapal yang tiba-tiba berada dalam stagnasi. Beku total. Tidak bergerak. Lama-kelamaan kepanikan tersebut terus membuncah.

“KITA AKAN MATI DI LAUT!”

“Dan jenazah kita akan ditemukan tiga puluh hari kemudian!”

“Aku tidak mau mati, Ibuuu!”

Yah, kepanikan sejenis itu. Dasar tolol, mereka tenggelam saja tidak, sudah mengatakan hal yang tidak-tidak soal takdir.

Memanfaatkan kesempatan itu, aku melesat masuk ke dalam kapal tanpa menyungkurkan diri di geladaknya. Kehadiranku menuai seruan-seruan yang lebih nyaring lagi. Serius, deh, kapal ini tidak ada perempuannya? Jadi yang menulis surat di botol tadi memang oknum yang bernama Kim Mingyu? Tidak dituliskan siapa pun?

“Siapa di antara kalian yang bernama Kim Mingyu?!” hardikku. Tubuhku kubuat mengapung di udara, dengan ekor perak indah yang berkilauan diterpa sinar mentari tenggelam. Tidak ada yang mengangkat tangan dan mengaku. Tapi kedua belas pasang mata sontak melirik ke arah yang sama, dan aku yakin pemuda yang sedang menganga di hadapanku ini adalah oknum yang menghina penghuni laut beserta rajanya—Kim Mingyu.

“Penghinaanmu di surat ini—“ kuacungkan botol kecil bersekat gabus itu ke depan hidung mereka. Surat itu sudah kukembalikan ke dalamnya, “—tidak termaafkan. Aku akan bikin perhitungan denganmu, Manusia!”

Teman-teman Mingyu kini tak lagi berteriak. Semuanya terperangah menatapku lekat-lekat, seakan aku sudah mengambil lidah dan jiwa mereka. Omong-omong, yang bertubuh mungil itu sepertinya mengompol.

Butuh empat setengah detik bagi Kim Mingyu untuk lantas mengangkat kedua tangannya, menahanku agar tidak melakukan sihir apa pun. Lalu suaranya keluar, terdengar gemetar, tapi …, um … aduh sial, aku sudah sering mendengar suara pemuda duyung di laut, tapi suara Kim Mingyu ketika ia berbicara itu sungguh, memanjakan telinga. Ia punya suara yang dalam, yang bahkan di tengah-tengah kepanikannya pun masih terdengar nyaman dan menenangkan tanpa sedikit pun nada defensif.

Ia tidak takut padaku, dan aku terkesan.

“Nona Duyung yang terhormat, mohon tenang dulu,” ujarnya. Ia panik, berkeringat dingin, tapi tampan sekali. Aku punya banyak teman duyung yang tampan, tapi barangkali manusia punya auranya sendiri.

“Satu menit untuk menjelaskan dan aku akan memutuskan apa yang harus kulakukan pada kalian penjahat bumi, sampah laut, kriminal pukat harimau!” aku berusaha membebaskan diriku dari keterpesonaan terhadap Kim Mingyu agar bisa bersikap lebih rasional—well, tanpa mengurangi amarahku, tentu saja, karena aku sangat marah!

“Baiklah, baiklah, aku tidak akan membuang waktu untuk menyanggah, karena aku memang melakukannya. Karena itu, aku akan menerima kemarahanmu. Tapi kumohon, tepikan teman-temanku dan nahkoda kapan ini dengan selamat. Setelahnya, aku milikmu.” Ya Tuhan, ia keren sekali sampai-sampai aku lupa caranya memasang tampang segalak mungkin. Kim Mingyu mengakui kesalahannya tanpa mengulur waktu dan memintaku untuk melepaskan teman-temannya. Bukankah itu sangat kesatria?

Ugh, aku benci ketika orang lain berhasil membuat amarahku sirna begitu saja. Ekorku tidak lagi berwarna perak kemerahan dan berkilau gagah berani. Kini ia hanya menampakkan warna perak dengan kilau yang berbeda.

“Baiklah, baik,” putusku akhirnya. Aku menggenggam kembali botol tersebut, lantas bersedekap, masih menagih alasan kenapa Kim Mingyu melontarkan penghinaan terang-terangan seperti ini.

“Hanya ingin tahu, apakah pada akhirnya aku akan dibebaskan apabila kubilang bahwa kini aku percaya pada duyung? Atau Neptunus? Atau Sebastian?”

Aku menautkan alis. “Siapa Sebastian?”

“Udang yang berbicara di film Little Mermaid.”

“Udang tidak berbicara. Mereka bisa mengeluarkan suara menyerupai instrumen apa pun, tapi mereka tidak bisa berbicara,” aku menggulirkan bola mata, menggeleng-geleng membayangkan bagaimana manusia berkhayal mengenai kami.

“Jadi, udang tidak bisa berbicara, ya. Jadi apa yang mereka lakukan di laut sana?”

“Mereka memang bodoh, tapi mahir melakukan harmonisasi instrumental tiap kali penghuni laut diundang pada acara-acara Neptunus.”

“Jadi …, Neptunus itu nyata?”

“Kau bicara mengenai raja lautan, jaga intonasimu atau bokongmu perlu ditusuk trisula!” kecamku. Tapi aku tidak berniat menghukumnya lagi. Apalagi teman-teman Kim Mingyu kini terduduk lemas di geladak. Masih tercengang-cengang menatapku, dan ketakutan.

“Lalu, siapa namamu?”

Kim Mingyu menanyakan namaku! Pasti saat ini mukaku berubah warna menjadi merah jambu karena kurasakan kedua pipiku memanas hingga aku harus mendongak ke langit untuk mengalihkan perhatian para hadirin. Sialan, bisakah teman-teman Kim Mingyu ini minggat sebentar ke luar angkasa alih-alih menatapku tanpa kedip?

“Karam. Amethyst Karam. Aku … tidak sengaja menemukan suratmu ketika sedang berpesta di tempat temanku, Ruby Sinhye.”

“Apakah semua duyung menyandang nama batu berharga di depan nama mereka?” tanya Kim Mingyu, lebih ke arah bahwa ia terpesona, alih-alih ketakutan. Aku mengangguk. Semua perempuan di keluargaku menyandang nama Amethyst, sementara lelakinya berada di balik nama Opal. Dan aku senang ia tampak berminat mendengarkannya.

“Amethyst Karam, nama yang bagus. Asing dan aneh, tapi cantik.” Kim Mingyu menyunggingkan senyuman tulusnya, memamerkan deretan giginya yang tak begitu rapi namun kusuka. Ah, lama-lama aku bisa jatuh cinta betulan. Tidak ada sejarahnya seekor duyung hidup bersama manusia. Laut punya sistem hukum berbeda agar penghuninya tidak membina hubungan dengan manusia. Dewan Tertinggi setelah Neptunus akan menjatuhkan undang-undang hukuman seumur hidup bagi manusia dan duyung yang berani mengobrak-abrik tata keseimbangan laut—mendekam di Penjara Pasir, dan dipisahkan tentu saja. Siapa yang mau repot-repot berkenalan dengan manusia, kalau begitu? Jawabannya adalah, aku.

“Aku tidak ingin mendengar penghinaan seperti ini untuk kali kedua dan seterusnya, atau kau dan teman-temanmu benar-benar akan kulenyapkan tanpa bekas!”

Kim Mingyu hanya mengangguk. Aku tidak bermaksud kasar, aku bersumpah. Tapi aku harus melakukan ini.

Aku merentangkan kedua tanganku, menghimpun kekuatan sehingga cahaya keperakan menyelimuti keseluruhan kapal. Dan perlahan, kapal tersebut bergerak lagi. Secepat kilat aku terjun ke laut, meninggalkan debur air yang memercik dan meluap.

Tidak ada selamat tinggal, tidak ada ucapan manis. Apalagi pelukan damai. Tidak ada. Yang harus kulakukan setelah bertatap muka dan berbicara pada Kim Mingyu hanya satu—pergi menghadap Dewan Sihir Laut dan minta dihapuskan ingatanku mengenai kejadian ini.

Hanya kejadian ini.

FIN.

16 thoughts on “Deep Down in the Ocean”

  1. SAD ENDING INI KAK ECIII T___T kenapa harus dihapus ingatannya,kirain Karam bakalan ikutan MIngyu naik kapal :3
    Ngomongin soal teaser Seventeen, iya itu botol yang ngapung2 di laut udah marak dijadiin meme [mana member seventeen ikutan ngapung juga -_-]
    Aku suka penggambaran ekor berubah warna tergantung mood itu kak, mengingatkanku sama film Aquamarine [tapi di film ini cat kukunya yang berubah warna]. Ngakak di bagian Sebastian duh xD nggak sekalian aja Ursula gitu kak :3
    Eniwei, kak eci gk ada rencana bikin fic pake teaser seventeen yang satunya? yang duduk di di padang rumput itu lho kak😀
    Maaf ngerusuh pagi-pagi, efek liburan xD
    ditunggu fic berikutnya kak ^^

    Suka

    1. wah kalo yang di rerumputan aku belum kepikiran mau nulis sih tin yang ini karena aku suka aja oceanic-merpeople gitu gitu hehehe dan yah sad ending sih ribet kalo mau jadian.
      makasih astina sudah mampir ^^

      Disukai oleh 1 orang

  2. KAECI!!!!❤ SO BEAUTIFULLY WRITTEN :'))))

    Aku suka banget dari judul, poster, pemilihan karakter, karakterisasi, sampe semuanya!!!!! Gambaran mengenai bawah lautnya dapet banget huhu sugoii. Dan Amethyst memang selalu mencuri hati!! waktu aku bongkar-bongkar nameberries, aku suka banget sama nama Amethyst and wondering if there are even one. dan sekarang ketemu!!! yeheaayyy!

    Aku suka banget sama kim mingyu! (eh salah fokus hahahaha) Maksudnya dialog mingyu sama amethyst di sini pas banget yang baca jadi ikutan deg-degan! Emang dasarnya orang tampan lahir batin jadi semua jenis makhluk hidup juga sukaaa

    aku juga suka endingnya! aku suka semuanya! gimanaadonggg hahahaha. sukses buat kaecii! sukses buat comeback seventeen yeay my boys!!!!!!!!!❤ thank you for the really-beautiful-i-don't-lie fic!!❤ :)))) seeu

    Suka

  3. Omong-omong, yang bertubuh mungil itu sepertinya mengompol. >> Ini wuji bukan? GYAHAHA AKU MAU NGAKAK DULU.

    DUHEI KAECI I’M IN LOVE WITH YOUU (dan tulisanmu, of course) karena ini apikkkk bangetttttt<333 Demi apa aku sampe baca berulang ulang!

    Meskipun akhirnya Karam minta obliviate (harrypotter!AU) bikin baper tapi menurutku itu realistis….kalo mereka jatuh cinta dan bahagia malah terkesan klise HAHA ngomong apa aku ini.

    Ah pokoknya aku suka kak! Keep writing ya ^^)9

    Suka

  4. Suka banget ff ini kak…
    Dan ya endingnya jauh dari perkiraanku. Kalo ff biasanya kan si duyung endingnya jadian sama Mingyu. Tapi ini ngga, dan itulah yang bikin aku suka…
    Dan anak yang ngompol itu Woozi ya? Aku sih mbayanginnya Woozi yang ngompol.
    Btw, itu kertasnya ga basah dibawa masuk ke air terus dibaca disana? Ya pokoknya, aku suka ff ini, keep writing kak!!

    Suka

    1. hahahaha sementang kutulis yang bertubuh mungil semua reader langsung ngarah ke woozi (etapi emang iya sih) hehe makasih galuh sudah mampir ^^

      Suka

  5. Mingyu mah modus pen ketemu duyung khaaannn /toel2 idung bang aming/
    eh kok, ini sad ending ya kak jatohnya? Kenapa pula harus dihapus ingatannya? Kan jarang si duyug ketemu manusia ganteng bak malaikat jahanam/?

    Suka

    1. iya nis soalnya kalo duyung jadian sama manusia mah ribet pacaran beda dunia. trus aku ga ada niatan bikin cerita ini jadi long story atau chaptered sih jadi ya mending dipisahin aja sebelom jadian hahahaha makasih nisjoo ❤

      Disukai oleh 1 orang

    2. Astaghfirullah salah nama maaf! aku tadi bales-balesin komentar dari joonisa dan kepleset di sini.
      halo, heavadissia! so, mingyu is aming, huh? thats new and hilarious yet i know you like him that much? makasih banyak sudah mampir ke sini ya ^^

      Disukai oleh 1 orang

    3. Astaghfirullah salah nama maaf! aku tadi bales-balesin komentar dari joonisa dan kepleset di sini.
      halo, heavadissia! so, mingyu is aming, huh? thats new and hilarious yet i know you like him that much? makasih banyak sudah mampir ke sini ya ^^

      Disukai oleh 1 orang

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s