SON OF THE MORTEM – CHAPTER 2

Son of The Mortem

Son of the Mortem

Masa lalu membawa masalah. Sejarah membawa petaka. Ketika keduanya dipadukan, maka kehancuran dunia akan segera tiba. Karena itu, generasi baru lah yang akan mencegah hal buruk itu terjadi, meski rasanya sulit.

Scriptwriter
galaxysyf

Genre
Fantasy, AU, OOC

Cast
Luhan || Krystal || Lay
SOTM CAST LIST

Teaser
Krystal | Lay | Luhan

Trailer | Chapter 1 | Chapter 2

_______

Jam sudah menunjukkan waktu 5 menit sebelum bel masuk berdering. Banyak siswa yang sudah tiba di sekolah dan berada di dalam kelas mereka masing-masing. Sudah menjadi kebiasaan untuk para murid di High East berada di kelas selambat-lambatnya 5 menit sebelum bel seperti sekarang ini. Peraturan tertulis jelas di mading sekolah, murid tidak diperbolehkan masuk kelas jika guru sudah ada di dalam kelas, yaitu tepat 10 menit setelah bel masuk.

Berberapa murid biasanya akan menggunakan waktu mereka untuk mengobrol sambil menunggu guru masuk ke dalam kelas. Berberapa yang lainnya—terutama anak laki-laki—akan berbuat ulah hingga membuat kegaduhan, termasuk bermain lempar bola di dalam kelas. Meski bagi mereka menyenangkan, mereka pasti akan tetap mengganggu anak yang lain.

Hey! Catch this, Kai!” teriak seorang anak jangkung seraya melempar sebuah bola baseballpada anak lain.

Bola baseball itu melayang ke arah anak laki-laki berkulit gelap di sudut kelas. Bola itu berhasil tertangkap. Anak berkulit gelap itu terlihat puas dengan seringai khasnya. Kai bersiap untuk melempar lagi, tapi bukan ke arah Chanyeol, si Anak Jangkung. Matanya menyorot bagaikan alat pemindai ke seluruh bagian ruang kelas, mencari targetnya dengan sangat teliti. Berberapa anak sudah siap untuk menangkap jika sewaktu-waktu Kai akan melempar bola itu, bahkan beberapa di antaranya sudah melambai-lambai tanda kalau mereka ingin bola itu..

“KRYSTAL!” Kai bersorak menyebut nama seorang anak yang sebenarnya tak ikut dalam permainan. Tangannya spontan melempar bola itu ke arah anak perempuan yang sedang duduk mengobrol di seberangnya, dengan ekspektasi perempuan itu akan menangkapnya. Tak ada aba-aba ketika bola itu mulai meluncur lurus menuju sasaran.

Krystal spontan menengok ke arah Kai di detik-detik ketika bola baseball melayang berberapa meter dari wajahnya. Berberapa anak yang menyaksikan adegan itu mulai takut Krystal tidak akan sempat menyelamatkan wajahnya. Waktunya terlalu singkat sampai tak ada satupun orang yang bisa menghalangi bola itu yang tetap meluncur.

“AWAS!”

Bola itu tertangkap saat jaraknya hanya berberapa senti sebelum mengenai wajah Krystal. Dengan cekatan, Krystal berhasil menyelamatkan wajahnya sendiri dari hantaman bola yang bisa saja membuat wajahnya yang cantik terluka atau mungkin kotor. Dia punya insting yang kuat dan bisa jadi sangat peka terhadap sesuatu. Dia hanya menunjukan wajah yang datar-datar saja seolah tidak terjadi apa-apa, memberi kesan hebat pada aksi kecil yang ia lakukan. Geraknya yang refleks sudah diakui yang paling hebat di sekolah. Bukan hal yang istimewa lagi Krystal.

Nice catch, Krys!” puji Kai, yang lagi-lagi disertai seringai andalannya.

Yeah.. Whatever,” kata Krystak datar seolah tak manaruh perhatian.

Krystal melempar bola tadi ke arah Lay. Tak ada sinyal yang mengawali saat bola berwarna putih itu kembali meluncur menuju anak laki-laki berwajah kalem di sisi lain kelas. Lay menangkap dengan cepat dan tepat dengan hanya mengandalkan satu tangannya. Hal seperti itu sebenarnya cukup sukses membuat sejumlah anak perempuan terpesona dibuatnya.

Permainan kembali dilanjutkan. Lay melempar ke arah Chanyeol lagi, namun sebelum bola itu mencapai Chanyeol, seorang gadis mendapatkannya lebih dulu. Padahal tangan Chanyeol sudah hampir mendapatkan bola itu.

Rambutnya kecoklatan yang diikatnya tinggi dengan kulit seputih salju yang dimilikinya. Wajahnya terlihat kesal dengan perawakannya yang tegas, namun tetap terlihat cantik dengan mata yang indah. Dengan salah satu tangannya yang berada di pinggangnya dan lainnya memegang bola, gadis itu menatap tidak suka anak-anak berulah yang main lempar bola di dalam kelas. Seperti yang dikatakan sebelumnya, akan ada anak yang terganggu dengan permainan lempar bola ini. Semua orang juga tahu, gadis itu pasti akan sangat tegas mengingat bagaimana sifat yang dimilikinya.

“Jangan main lempar bola di dalam kelas! Kalian bisa memecahkan jendela,” ujar gadis itu kesal.

“Ah! Fine. Tapi kembalikan bola kami, Rachel,” kata Kai mengalah, mengulurkan tangannya meminta bolanya kembali.

Rachel berlaga enggan memberikan bola itu. Dia tahu kalau Kai dan anak-anak yang lain akan tetap memainkannya lagi meski dia sudah melarangnya. Sebagai ketua kelas, Rachel memang punya wewenang untuk mengatur anggota kelasnya. Tapi sekarang dia lebih memilih untuk meletakkan bola itu di sembarang meja yang ada di dekatnya dan berpaling begitu saja.

Melihatnya, Kai tersenyum lebar menunjukkan gigi-giginya yang tersusun rapih. Untuk beberapa alasan, dia merasa telah memenangkan kembali bola yang memang miliknya. Tangannya hendak meraih bola yang diletakkan Rachel, namun seseorang mendahuluinya. Dia bisa melihat Lay yang tertawa puas karena bisa mendapatkan bola sebelum Kai mendapatkannya.

I got it,” katanya dengan nada meledek. “You’re to slow, Kai.”

Lay bisa jadi sangat puas kalau sudah melihat wajah Kai yang mulai kesal. Anak laki-laki memang punya hobi untuk saling menjatuhkan meski bukan dalam perkara serius. Tak terkecuali 2 orang yang sudah berteman lama itu. Dengan perasaan penuh kemenangan, Lay melempar lagi bola di tangannya ke arah anak lain. Dia berniat melempar bola itu kembali ke Chanyeol. Dengan sekali lempar, dia membuat bola yang ada di tangannya meluncur lurus ke arah Chanyeol.

Chanyeol bersiap untuk menangkap bola yang meluncur ke arahnya. Matanya terfokus pada bola itu. Tapi perkiraannya meleset saat bola yang seharusnya ditangkap olehnya justru melayang tinggi di atas kepalanya—bahkan ketika dia sudah tinggi. Bola jadi hilang arah, namun seorang anak di belakang Chanyeol dengan sigap menangkap bola yang dilewatkan oleh Chanyeol itu.

Yes! Aku dapat bolanya!” seru anak itu. Dia Baekhyun, anak laki-laki yang tubuhnya lebih kecil dari Chanyeol sehingga dia sendiri tersembunyi di balik tubuh Chanyeol yang jangkung luar biasa itu.

“Berikan bola itu padaku, Baekhyun!” pinta Chanyeol dengan nada ingin memaksa. Chanyeol tidak ingin diam saja. Dia berusaha merebut bola itu kembali dari genggaman Baekhyun yang juga berusaha untuk tidak memberikan bola itu pada Chanyeol.

“Yak! Chanyeol! Stop it!” Baekhyun memekik saat Chanyeol merebut bola itu dengan paksa. Kedua tangan bocah kecil itu sudah dipegangi hingga sulit baginya untuk menjauhkan Chanyeol dari bola itu ketika mereka berdua mulai tari-tarikan bola.

Tidak ada pilihan lain ketika badanya kalah besar dengan Chanyeol, Baekhyun melempar bola itu ke sembarang arah. Bola itu melambung tanpa tujuan yang jelas dan jatuh menggelinding di atas lantai. Seorang anak perempuan tidak mau membuang kesempatan untuk ikut bermain dengan teman-teman terdekatnya, langsung mengambil bola itu dan mulai memainkan benda bulat itu di tangannya.

Anak perempuan itu menjadi salah satu gadis yang punya paras cantik selain Krystal yang kecantikannya sudah tak diragukan. Dia baru mengacat rambutnya menjadi golden brown minggu kemarin. Berbeda dari 2 gadis yang lain—Rachel dan Krystal—, Sarah terlihat lebih cheerful dan murah senyum.

Melihat bola itu sudah ada di tangan Sarah, tak ada yang berniat merebutnya untuk saat ini. Mungkin akan lebih tepat, tidak berani. Mereka harus ingat bahwa Sarah punya pacar yang sensitif. Tapi jelas hal seperti itu tidak akan berlaku untuk satu orang.

“Berikan bolanya!” kata Chanyeol yang mengulurkan tangannya, menagih bola.

No,” balas Sarah cepat dengan nada suaranya yang terdengar manis di telinga. Tangannya spontan menyembunyikan bola di balik punggungnya. “Coba rebut kalau bisa,” tambahnya menantang.

Chanyeol suka tantangan. Dia sudah pasti berusaha meraih lengan Sarah yang menyembunyikan bola darinya, namun Sarah mengelak cepat. Gadis itu mengambil beberapa langkah mundur sebelum Chanyeol berhasil mewujudkan niatnya. Chanyeol tidak mungkin menyerah begitu saja. Dia berlari ke belakang Sarah, namun gadis itu memindahkan tangannya cepat hingga bola itu sekarang ada di depan badannya. Chanyeol tidak kehabisan akal, dia paham betul apa yang diinginkan gadis itu. Dia memeluk gadis itu dari belakang untuk mengunci pergerakkannya. Sarah benar-benar tak bisa lari darinya. Badan Chanyeol yang besar sudah benar-benar menghalangi setiap usaha Sarah yang mencoba untuk lepas.

“Chanyeol!” pekik Sarah.

“Sekarang kau mau apa selain memberikan bola itu padaku?” kata Chanyeol mengancam.

Woy yang di depan!” teriak Kai pada Sarah dan Chanyeol—yang sedang mesra-mesranya—dari ujung kelas sampai pasangan itu menoleh (dan bahkan semua anak yang ada di kelas ikut menoleh). “Kalau mau pacaran, jangan di depan kelas juga kali.”

Hampir semua anak laki-laki berteriak menyoraki. Yang perempuannya hanya bisa tertawa ketika melihat pasangan itu saling memisahkan diri. Bukan pemandangan yang langka, melihat Chanyeol dan Sarah selalu bermesraan di dalam kelas, tapi mereka terlihat begitu manis jika suah berduaan.

“Kau ini! Menggangu saja,” hardik Chanyeol kesal dengan nada suaranya yang dinaikan.

KRIIINGGG….

Bel berbunyi cukup nyaring dan bisa dipastikan tidak akan ada yang melewatkan suaranya. Tak ada yang memerlukan waktu jeda untuk memahami maksud bel barusan. Semua anak yang tersebar di seluruh ruangan bergegas duduk di tempat mereka masing-masing sebelum guru datang, termasuk anak-anak yang bermain lempar bola tadi. Chanyeol, sebagai orang terkahir yang memegang bola, segera mengembalikan bola itu pada Kai yang merupakan pemilik sah bola itu.

“Lay,” kata Chanyeol begitu bokongnya menempel di permukaan kursi. “Duduk di sebelah Kai sini! Sekarang dia sendirian,” ucapnya menunjuk-nunjuk kursi kosong yang ada di depannya.

“Kau duduk di sini saja. Biar saja Krystal duduk sendiri. Nanti pelajaran Bahasa Inggris, kita bisa main game,” hasut Kai agar Lay sesat.

Alright.” Tentu saja Lay dengan senang hati pindah ke sebelah Kai.

“Mantaaaab!” Anak laki-laki penghasut tadi bersorak girang bersama dengan beberapa anak lainya. Sebuah kemenangan bagi mereka karena Lay kini bergabung dalam kegilaan mereka yang pasti akan membuat kelas semakin ramai disaat anak laki-laki sudah berkumpul semua.

Anak laki-laki memang begitu, kan?

“Hati-hati sendirian, Krystal..” ledek Chanyeol.

Shut up!” ketus Krystal, menatap tajam tanda kesal pada segerombolan anak laki-laki yang menertawainya.

“Mr. Hans! Mr. Hans!” seorang anak berteriak, berperan sebagai alarm peringatan bagi yang lain kalau Mr. Hans, wali kelas 3-A sudah terlihat berjalan di lorong. Semua anak harus sudah rapih di tempatnya, tak ada yang berani berdiri jika Mr. Hans sudah berda di jarak kurang dari 100 meter.

Hari ini Mr. Hans terlihat mengenakan jas coklat dan dasi maroon. Seperti biasa, dia mengenakan kacamata dengan rambut kemerahannya yang sedikit beruban sambil menenteng tas hitam miliknya. Langkahnya pasti ketika berjalan melewati pintu biru kelas bersama seorang anak laki-laki.

Anak laki-laki?

Good morning, class!” sapanya.

Morning, Mr. Hans!” sapa para murid itu serentak.

Melihat Mr. Hans datang tak sendiri membuat seisi kelas gempar, apalagi anak yang datang bersama Mr. Hans bukan anak yang pernah mereka kenal. Keadaan kelas jadi tidak setenang seharusnya. ditebak bagaimana respon seisi kelas melihat ada anak baru. Berberapa anak mulai berbisik satu sama lain, bertanya siapa anak itu. Sudah bisa

Rambutnya pirang dengan mata coklat yang indah. Dia hampir sama tinggi dengan Mr. Hans yang memiliki tinggi 180 cm. Dia mengenakan seragam High East yang telihat masih baru dan bersih. Perawakannya tenang dan wajahnya terlihat seperti anak yang berumur 5 tahun ketimbang 17 tahun. Tak ada yang terlihat aneh sejauh ini dengan anak asing itu. Dia terlihat pendiam (atau mungkin begitu), tapi dia punya kepercayaan diri yang cukup untuk menatap 27 anak lain di kelas ini.

“Mulai hari ini, kelas kita kedatangan murid baru. Dia berasal dari London. Beruntungnya, dia bisa berbicara bahasa Korea dengan lancar,” kata Mr. Hans menjawab kebingungan murid-muridnya, seperti sudah tahu kalau seisi kelas akan bertanya tentang siapa anak itu. “Silahkan memperkenalkan dirimu!”

Anak itu mengambil selangkah ke depan menghadap anak-anak lain yang sudah penasaran dengan dirinya. Ini akan jadi yang pertama baginya berkenalan di depan orang-orang baru, di lingkungan yang baru. Dia beberapa kali menarik menarik nafas dan mencoba untuk relaks dan tidak tegang di hari pertamanya ini.

Hello, everyone!” sapanya. “My name is Luhan Hougwich.”

Untuk sesaat, Lay menaikkan kepalanya cepat. Perhatiannya teralih setelah telinganya menangkap nama Houghwich yang seolah tak asing lagi baginya. Nama itu mengingatkannya pada salah satu artikel koran yang dikutipnya dalam buku catatan merah miliknya. Bukan hanya sekedar mengingatkan, tapi nama itu memang ada di dalam artikel, tapi dia tidak bisa memastikan apakah Luhan ada hubungannya dengan orang yang ada di dalam artikel.

I’m from London. Nice to meet you.” Luhan menarik bibirnya hingga menjadi sebuah senyuman sederhana sebagai senyuman perkenalan pertama. Untuk sepersekian detik, dia mengingat kebudayaan orang Korea yang akan membungkuk 90 derajat sebagai tanda hormat. Dan sebelum dia semakin lupa dengan budaya itu, dia membungkuk cepat meski sedikit canggung.

“Baiklah, Luhan. Ceritakan sedikit tentang dirimu!” suruh Mr. Hans.

“Aku tinggal di London bersama nenekku, Sarah Houghwich, dan bibiku, Helena. Di London, aku sekolah di Treadstone High School dan kemudian pindah ke Seoul,” ujar Luhan.

“Sarah? Kau punya cucu?” teriak Kai tiba-tiba, bertanya pada Sarah dengan ekspresi pura-pura terkejut. Kesunyian mulai pecah, semua orang mulai tertawa, kecuali Mr. Hans, Luhan dan Sarah, tentunya. Kemiripan nama memang sering menjadi bahan candaan untuk Kai dan teman-temannya. Hal itu akan sering sekali terjadi.

“Baiklah, semua kembali tenang!” kata Mr. Hans yang diiringi suasana diam dan kembali kondusif. “How about your parents?” tanya Mr. Hans melanjutkan.

Luhan sempat diam sesaat saat Mr. Hans menyinggung soal orang tuanganya. Tapi kemudian dia mulai berbicara. “Orang tuaku sudah meninggal. Ayahku meninggal saat aku masih kecil dan ibuku meninggal 3 tahun lalu…”

I’m sorry about your parents,” kata Mr. Hans ikut prihatin. “Oke, kau boleh duduk dan bergabung dengan yang lain.”

Mr. Hans melihat sekeliling kelas. Mengecek apa masih ada bangku kosong atau tidak atau dimana ada tempat yang kosong. Dia tak pernah hafal siapa duduk dimana, setiap anak pasti akan berganti posisi duduk setiap harinya. Matanya berhenti saat melihat kursi di sebelah Krystal kosong dimana gadis itu duduk sendirian. Tak ada tas di atas meja itu selain tas Krystal. Kemungkinan besar kursi itu memang kosong.

“Krystal, apa di sebelahmu ada orang?” tanya Mr. Hans memastikan.

“Seharusnya ada Lay, Sir. Tapi dia pindah ke sebelah Kai,” kata Krystal, melirik sinis ke arah gerombolan laki-laki menyebalkan di seberang kanannya.

“Baiklah, Luhan. Kau bisa duduk di sebelah Krystal,” ujar Mr. Hans mempersilahkan Luhan.

Luhan menurut saja dan mulai berjalan ke arah meja yang hanya di tempati oleh satu orang itu, yang letaknya ada di baris ke-3. Dia tak mau macam-macam dulu selain mencoba mengingat bagaimana wajah teman sebangkunya yang baru. Well akhirnya dia sadar, Krystal adalah gadis yang dilihatnya tadi pagi. Di kelas ini. Entah ini takdir atau apa, sampai saat ini semua begitu lancar untuk Luhan, tapi hal itu bagus.

Luhan meraih kursinya dengan kesan pertama yang memang sedikit canggung. Dia tidak cukup berani untuk melihat apalagi untuk berbicara kepada gadis itu, yang sekarang dia tahu namanya adalah Krystal. Pandangannya tetap memandang lurus ke arah depan dimana guru berada, dia terlalu gugup untuk memulai. Mungkin semua ini terlalu cepat.

“Namaku Krystal.”

Mendengar Krystal berbicara padanya, Luhan memberanikan dirinya untuk menoleh. Luhan bisa melihat bagaimana Krystal sudah mengulurkan tangannya sebagai tanda dia ingin berkenalan. Tak perlu basa-basi untuk Luhan menyambut tangan itu dengan senang hati hingga mereka akhirnya berjabat tangan. Sentuhan pertama memang moment terbaik, saat tangan lembut Krystal menjabat tangan Luhan hangat.

Krystal Wu. Nice to meet you.

“Luhan Hougwich. Nice to meet you too, Krystal.” Luhan tersenyum yang dibalas Krystal dengan senyuman tipis ala kadarnya.

Tangan mereka mulai melepas satu sama lain dan kembali ke posisi sebelumnya. Kembali ke momen canggung selayaknya orang yang baru berkenalan. Tanpa ada kata-kata lagi yang keluar, keduanya mulai mengeluarkan buku catatan masing-masing saat Mr. Hans mulai menulis sesuatu di papan tulis.

Tiba-tiba sebuah gumpalan kertas berbentuk bola mendarat di atas bukunya. Entah dari mana asalnya, Luhan menengok ke arah kertas itu berasal. Sudah bisa ditebak ketika ada sekelompok anak laki-laki yang berkumpul di suatu deret meja yang sama, menujuk-nunjuk gumpalan kertas tadi pada Luhan sebagai isyarat “Bacalah!”

Welcome! tertulis di atas kertas itu.

“Hahah, Boys.. Mereka sepertinya bisa menerimamu disini,” kata Krystal.  “Mereka memang akan selalu antusias kalau ada anak baru. Kau seharusnya merasa beruntung.”

Luhan menoleh lagi ke arah segerombolan anak laki-laki itu yang mengacungkan jempol mereka, ada juga yang melambaikan tangan dengan senyum sambutan yang menyenangkan untuk sebuah awal. Ya, Luhan seharusnya bisa bersyukur karena dia akan punya teman. Semoga saja.

“Kau akan mengenal mereka. Kai, Lay, Chanyeol, dan Baekhyun,” ujar Krystal dengan menyebut berberapa nama tanpa menunjuk yang mana. “Tapi jangan terlalu sering bermain bersama mereka. Mereka aneh dan cukup gila.”

I’m very glad to hear it,” gumam Luhan.

So, welcome to High East!

____

KRIIIING….KRIIIING….

Bel tanda istirahat akhirnya berbunyi, menjawab semua keluhan setiap perut yang sudah meronta-ronta kelaparan. Banyak dari anak-anak yang langsung berdiri di saat beberapa orang masih duduk untuk sekedar mengistirahatkan otak mereka. Mereka punya waktu 25 menit untuk mengisi perut mereka. Memang sedikit, tapi setidaknya hal itu bisa dimanfaatkan oleh setiap murid termasuk Luhan.

Luhan hendak membereskan barang-barangnya sebelum pergi ke kantin. Dia adalah tipe orang yang suka kerapihan, jadi dia tidak bisa meninggalkan mejanya dalam kondisi berantakan. Dia juga cukup bersih untuk kategori anak laki-laki, dimana biasanya yang lain akan terlihat kotor atau berantakan.

“Hey, anak baru!”

Luhan mendengar seorang menegurnya. Nadanya terdengar cukup friendly, itu bagus. Ketika menoleh, seorang anak laki-laki berkulit gelap sudah berdiri tepat di sebelahnya. Luhan mengenali anak laki-laki itu dari gerombolan anak tadi. Tidak terlihat buruk untuk seseorang yang bisa diajak berteman. Anak itu juga terlihat cukup ramah di mata Luhan.

“Bagaimana kalau kau ikut ke kantin bersama kami? Sekalian kita kenalan,” kata anak itu bawa asik. “Namaku Weeslet. Kai Weeslet. Senang bisa mengenalmu.”

Kai tersenyum bertanda ramah, menunjukkan deretan giginya yang putih dan rapih. Setelah Luhan berdiri, dia sadar Kai memiliki tinggi yang hampir sama dengannya (meski tidak ada yang perduli). Dan juga bukan hal yang aneh untuk mereka memulai semuanya dengan berjabat tangan.

“Oh ya… This is Lay Boltzmen,” kata Kai menunjuk Lay yang tak jauh darinya.

Lay adalah anak yang juga terlihat ramah, namun Luhan merasa sedikit aneh Lay melihat ke arahnya dengan cara aneh yang tidak bisa diartikan. Luhan tahu, di satu sisi mungkin Lay berusaha untuk ramah, tapi di sisi lain, anak itu juga punya sesuatu yang ada di otaknya, entah apa itu. Tapi Luhan berusaha untuk tetap berpikir positif. Mungkin karena Luhan adalah anak baru, jadi wajar jika dia dilihat dengan cara begitu.

Nice to meet you, Luhan,” kata Lay mencoba ramah.

“Baiklah. Ayo kita ke kantin! Aku lapar.” Kai merangkul Lay dan teman barunya itu, menuntun mereka untuk berjalan ke kantin. Benar jika Krystal bilang ada yang begitu antusias untuk masalah anak baru.

“Krystal, kau tak ikut?” tanya Kai yang berhenti sesaat, memanggil Krystal.

Gadis dingin itu mengalihkan pandangannya. Denga wajah datar dia menjawab, “Kau duluan saja. Nanti aku ke sana dengan Rachel.”

____

Matahari bersinar tinggi, cahayanya menembus jendela kaca besar ruangan Kevin hingga rasanya tak perlu lagi lampu. Pendingin ruangan pekerja cukup baik di saat udara di musim panas membuat beberapa orang merasa kulitnya seperti terbakar. Pria jangkung itu tengah sibuk melakukan sesuatu dengan pekerjaannya. Matanya tak bisa berhenti memandang layar komputer di hadapnnya dengan tumpukan kertas yang menemaninya. Di sisi lain ruangan, Fleur sedang duduk nonton TV di sofa sebagai seorag wanita. Kegiatan seperti itu menjadi kegiatan rutin terjadi di dalam ruangan itu. Disaat Kevin sedang bekerja, Fleur biasanya akan duduk di sofa sambil nonton TV tanpa mengganggu satu sama lain.

Tak masalah untuk Fleur yang selalu ikut kemanapun Kevin pergi. Setidaknya dalam wujud seekor anjing. Semua rekan kerja dan bawahan Kevin juga sudah terbiasa melihat Kevin yang selalu pergi bersama seekor anjing. Tapi jika tidak ada orang bersamanya dan Kevin, Fleur lebih memilih untuk menjadi seorang wanita. Hal itu juga tak pernah menjadi perkara besar baginya ataupun keluarga Wu. Bahkan, untuk berberapa kondisi, Fleur akan berbaur bersama keluarga Wu dimana Kevin akan memperkenalkan Fleur sebagai kakak angkatnya.

Untuk orang yang hidup selama lebih dari 100 tahun, Fleur tidak terlalu terbiasa dengan nonton TV dan acara-acara yang tersedia. Terkadang dia hanya bisa menonton siaran berita ketimbang variety show dan acara yang lain. Masih banyak hal yang harus dipelajarinya tentang dunia manusia modern. Salah satunya adalah nonton TV. Meski begitu, Kevin sering mengajak Fleur untuk nonton bioskop bersama keluarganya. Jadi, film box office kelas Hollywood bukan sesuatu yang asing untuk Fleur.

Jari Fleur dari tadi sibuk mengganti channel TV untuk mencari acara yang bagus untuk ditonton. Karena menurutnya, tidak ada yang bisa ditonton dan semua acara yang ada di TV membosankan. Berita tengah hari juga sudah selesai disiarkan sehingga tak ada yang bisa ditonton oleh wanita magi situ.

“Bisa kecilkan volumenya sedikit,” kata Kevin disela dirinya yang masih sibuk.

Fleur menurut dengan menekan sebuah tombol pada remote TV yang dipegangnya. Tak akan jadi masalah mau seberapa besar volumenya, pada kenyataannya tetap saja tidak ada acara TV yang menarik untuk Fleur. Ibu jarinya siap menekan tombol power off, namun terhenti begitu saja saat matanya menangkap sebuah berita terkini yang disiarkan dari London.

“Kejadian tak masuk akal terjadi di Wistleton National Museum, London. Sesorang wanita tak dikenal terlihat melakukan sesuatu pada sebuah lukisan di museum itu. Berdasarkan rekaman CCTV dan keterangan berberapa saksi, lukisan—yang diberi nama The Dark Arts sejak ditemukan tahun 1855—mengeluarkan asap hitam pekat saat wanita tak dikenal itu mendekati lukisan itu. Tiga orang penjaga tewas mengering tanpa sebab yang jelas. Wanita itu terlihat keluar museum dan menghilang menjadi asap. Dan lukisan The Dark Arts itu sendiri sekarang hanya berupa lukisan gurun kering tanpa adanya asap yang semula menjadi objek utama…”

Fleur dibuat tercengan dengan apa yang baru didengarnya. Dia tahu sesuatu tentang lukisan yang dimaksudkan di berita barusan, terlebih tentang asap itu. Tubuhnya gemetar namun tak bisa bergerak. Air liurnya sudah kering karena terus ia telan. Dia tahu persis asap macam apa yang bisa keluar dari dalam lukisan dan yang pasti, hal itu bukanlah pertanda baik untuknya dan dunia ini.

Kevin yang melihat Fleur berdiri diam seperti patung—dengan wajah berkeringat dingin dan tampak shock—merasa kalau ada yang aneh. Sesuatu mungkin telah terjadi dan apa yang di dengar wanita itu mungkin bukan hal yang baik. Dia segera menghentikan pekerjaannya dan menghampiri wanita itu.

“Fleur? Ada apa?” tanya Kevin.

Fleur mengencangkan volume TV supaya Kevin tahu apa yang ia takutkan sekarang tanpa perlu dia repot-repot bercerita dari awal.

“…Banyak spekulasi tentang kejadian ini. Berberapa orang menghubungkannya dengan hal berbau mistis yang sulit diterima secara ilmiah dan logis. Beberapa orang juga berpendapat bahwa wanita itu mungkin adalah seorang penyihir, namun kepolisian tak bisa membenarkan hal yang tak bisa diterima akal sehat manusia modern. Namun bagaimana gumpalan asap pekat itu bisa keluar dari lukisan dan lukisan asap bisa menghilang begitu saja. Identitas wanita misterius itu masih diselidiki. Dengan ciri-ciri yang ada di CCTV museum, pihak kepolisian setempat berusaha mengidentifikasi wanita tersebut.”

Acara berita menampilkan gambar dari hasil CCTV mengenai wanita tak dikenal itu. Wanita yang tidak asing lagi. Wajahnya terpampang di layar TV meskipun tidak terlalu jelas. Wajah itu bukanlah wajah yang ingin Kevin ataupun Fleur lihat saat ini. Mereka sama terkejut seakan tidak menyangkan kalau wanita itu bisa menarik perhatian seperti itu.

Kevin mulai panik. Mengingat setan itu benar-benar masih berkeliaran dan bahkan, sekarang berbuat ulah di kota besar seperti London. Entah apa yang dilakukan setan itu lagi kali, tapi hal itu pastilah buruk.. Terlebih lagi, ketakutannya semakin bertambah sekarang. Terutama ketakutan terhadap keselamatan keluarganya.

“Iblis itu…” geram Kevin.

“Yang menjadi masalah bukan dia,” ucap Fleur tegas dengan nada yang sedikit gemetar. “Lukisan itu bukan hanya lukisan biasa. Itu adalah lukisan dimana makhluk berkekuatan paling gelap dan jahat terkurung selama berjuta-juta tahun. Sekarang kekuatan itu sudah keluar dan menyatu bersama setan itu.”

Wh..what?” Kevin terkejut sampai berbicara terbata-bata. “Kalau begitu dia sedang menuju kemari? Ke Seoul?”

“Mungkin saja. Tapi, jika dia sudah bersama makhluk jahat itu, dia tidak bisa melakukan tujuan utamanya begitu saja. Makhluk itu pasti akan mendorongnya untuk melakukan sesuatu. Dia pasti ingin mencari jenderalnya yang juga terkurung disuatu tempat selama berjuta-juta tahun,” ujar Fleur yakin.

“Jenderal? Bagaimana kau tahu dia punya jenderal?” tanya Kevin.

“Karena jenderalnya yang telah menyerang planet leluhurku berasal.”

To be continue



 

HALOOOOO😄 HAHAHA AKU NGGAK SABAR PENGEN POST CHAPTER INI. TADINYA MAU AKU POST MINGGU DEPAN, TAPI AKUNYA NGGAK SABARAN LOL

Akhirnya yaa aku bisa selesai UN dan segala macam ujian buat lulus. Semoga bisa lulus dengan nilai yang memuaskan. Amin! Doain yaa^^ Semoga buat temen2 yang kelas 12 dan 9 bisa lulus juga dengan nilai yang sangat memuaskan^^ dan buat temen-temen yang lain, semoga bisa naik kelas dengan nilai yang memuaskan biar dikasih hadiah sama ortunya masing2😄

Semoga kalian suka ya^^ Aku juga lagi mencoba supaya walaupun ff ini adalah sequel, tapi untuk readers yang belum baca cerita sebelumnya masih bisa membaca ff ini tanpa perlu harus membaca cerita sebelumnya🙂

Thanks for everything ya^^ Terima kasih udah mau setia baca ff  ini, selalu comment buat ngasih kritik dan saran, dan kalau ada yang mau bantu promote #ehem. Keep supporting me ya^^ Jangan lupa buat like juga❤❤

Eh, tapi serius lho kalau ada yang mau bantu promote ff ini😄

2 thoughts on “SON OF THE MORTEM – CHAPTER 2”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s