[Oneshot] Stockholm

Stockholm

Stockholm

A story written by zhafira

Starring by VIXX’s Hongbin – OC’s Choi Ara – and another casts Genres Romance, Drama, Angst Duration Longshot (7,8k words) Rating PG Disclaimer I just own the story. All casts belong to God, and the Original Character were born from my imagination. Don’t be a plagiator, please respect. Nothing to say but happy reading!

*

Apa salahnya mencintai buronan sepertimu,

 

Lee Hongbin?

 

*

Pria bertato itu tengah duduk di kursi kayu itu. Punggungnya bersandar dengan santai pada kursi kayu yang sudah sedikit lapuk itu. Kaki kanannya ia pangku pada kakinya yang lain. Gayanya yang terlihat angkuh itu sudah tak janggal lagi bagi orang-orang yang mengenalnya.

“Lee Hongbin, kemari kau,” titah lelaki paruh baya yang sedang duduk di depannya.

“Ya, Bos.”

Pria yang sedari tadi hanya duduk santai, kini berjalan ke arah pria itu. Mereka tak memperdulikan seorang gadis yang sedang meronta. Kedua tangan dan kakinya diikat, bahkan mulutnya pun dibekap. Gadis itu tampak malang.

“Lihat, aku telah mengumpulkan data seorang gadis. Dia merupakan anak kesayangan dari pemilik perusahaan terbesar di Korea saat ini. Kau bisa melakukannya, ‘kan?” tanya lelaki paruh baya itu sembari tersenyum simpul, menatap anak buah kesayangannya yang sudah mengabdi padanya selama hampir 5 tahun itu.

Arraseo, aku akan melakukannya,” Hongbin patuh.

“Bagus, kau memang selalu bisa diandalkan,” pria paruh baya itu menepuk pundak Hongbin. Membuat salah satu sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman sarkastik.

Sedetik kemudian, lelaki paruh baya itu mendekati gadis yang sedari tadi disekap. Tangannya menyentuh dagu gadis itu, “Hei, nak. Tenang saja, akan kubuat kau selamat. Asalkan orang tuamu dapat membayarku dengan cukup uang.”

Terlihat gadis itu semakin meronta. Gadis itu terisak tanpa suara. Hongbin hanya dapat menatap kejadian dramatis itu dengan santai. Rokok yang sedari tadi diapit di kedua jarinya, masih terus ia hisap hingga menjadi puntung. Sekali lagi, sebuah senyuman sarkastik menghiasi bibir namja berkulit seputih susu itu.

*

Topi hitam sudah bertengger di atas kepala pria itu, menutupi helaian rambut hitamnya. Begitu pun dengan tubuhnya yang sudah terbalut jaket kulit. Kacamata berwarna senada sudah hinggap di hidung mancungnya. Ia hanya berdiri, seraya menyandar pada pohon besar itu. Menunggu jam sekolah selesai membuatnya bosan.

“Hei, Ara? Kau mau pulang denganku tidak?” teriak seseorang membuat Hongbin terkesiap.

Aniya, aku akan dijemput!” seru seorang gadis, gadis yang membuat Hongbin membekukan tatapannya sedari tadi. Dia orangnya, Choi Ara, anak pemilik Choi Corporation yang merupakan perusahaan terbesar di Korea saat ini, dan yang merupakan target Hongbin selanjutnya.

Mata Hongbin mendapati gadis cantik dengan name tagChoi Ara‘ itu sedang berdiri dengan gusar. Kepalanya memutar ke kanan dan ke kiri, jelas sekali nampak mencari seseorang. Hongbin tersenyum simpul menatap gadis itu. Timing yang pas, batinnya berkata.

Dengan sekejap mata, Hongbin melangkahkan kakinya mendekati Ara. Tangannya membekap mulut dan hidung gadis itu dengan sarung tangannya.

Ya!! Siap-“

Tubuh gadis itu langsung merosot, dan beruntungnya ditopang oleh Hongbin. Belum sempat gadis itu melontarkan sepatah kata, tetapi ia sudah pingsan. Hongbin tersenyum puas, dengan segera ia membopong tubuh gadis itu masuk ke dalam mobil van-nya.

*

Gadis itu mengerjapkan matanya berulang kali. Sinar matahari membius melalui celah dari atap yang bolong, dan itu menganggu indera penglihatannya. Kedua bola matanya berputar mengelilingi seluruh penjuru ruangan gelap itu. Aku dimana? pikirnya.

Seketika ia tersadar akan sesuatu. Matanya bergerak meneliti tubuhnya. Kedua kaki dan tangannya sudah terikat dengan tali tambang entah sejak kapan.

“Tolong aku!!” jerit gadis itu histeris.

“Tolong!! Siapapun tolong aku!!” teriaknya lagi.

Seorang pria muncul dihadapannya. Dengan gaya berjalannya yang angkuh seperti biasa. Jangan lupakan asap rokok yang mengepul dari mulutnya. Pria itu menatap tajam gadis di hadapannya.

“Siapa kau?! Apa yang kau lakukan? Bebaskan aku!!” nada bicara gadis itu terdengar seperti sebuah rengekkan di telinga Hongbin.

Hongbin itu mendecak sebal, “Diamlah. Aku tak akan melakukan hal-hal aneh padamu.”

“TIDAK! BEBASKAN AKU!!”

Sedetik kemudian, pria berkulit putih nan jangkung itu mengeluarkan ponselnya. Ia menempelkan ponselnya di telinga kanannya.

“Eoh, waeyo?”

“Bos, aku sudah mendapatkannya.”

 

“Oh? Kerja bagus, Hongbin-ah!”

Hongbin mendengus kesal, ia berdesis pelan, “Tetapi, aku tidak kuat, dia berisik sekali.”

 

“Ah, kau ini. Kau kan tampan, cerdas pula, gunakan akalmu untuk mengurusi yeoja itu. Lagipula, kau harus mulai belajar mengurusi anak culikanmu sendiri. Yah, anggap saja gadis itu adalah ajang training-mu untuk menjadi penculik sejati,” bosnya terkekeh pelan. Membuat Hongbin memutar bola matanya jengkel.

“Baiklah, aku mengerti, Bos.”

Piiip.

Hongbin menyimpan ponselnya kedalam celana jeans-nya. Menatap gadis yang sudah terisak itu. Dengan cepat Hongbin mengeluarkan sapu tangan hitamnya. Tangannya tergerak untuk mengikat sapu tangan itu di sekitar mulut yeoja dihadapannya. Ya, Hongbin membekapnya. Tanpa peduli isakkan gadis itu semakin menjadi. Aku harus segera meminta uang tebusan agar tidak terus-terusan mengurusi yeoja berisik ini, batin Hongbin sebelum berlalu.

*

Hongbin mengenggam sebuah plastik dengan erat. Kakinya diseret ke arah gadis yang terbekap itu. Terlihat kedua mata gadis itu sembab, dan keadaan yang cukup kacau. Hal yang sudah biasa dihadapi oleh Hongbin.

“Hei, Choi Ara. Kau mau makan atau tidak?” Hongbin bertanya, dengan nada angkuh yang sepertinya sudah mendarah daging di dalam tubuhnya. Ujung iris mata hazel-nya mendapati gadis yang sedang tersungkur di bawah itu mengangguk lemah.

“Makanlah, dan jangan berteriak,” Hongbin berjongkok. Tangannya bergerak melepaskan ikatan sapu tangannya. Hongbin menyodorkan plastik yang tadi ia pegang. Kemudian berlalu begitu saja.

Ahjussi..” panggil Ara dengan suara parau. Ahjussi? Memangnya aku terlihat tua? protes Hongbin dalam batinnya.

Wae?” tanggapnya acuh tak acuh.

“A-Ah, bisakah kau.. menyuapiku?”

Alis Hongbin terangkat sebelah. Pria itu bungkam sejenak. Otaknya berpikir. Kalau kulepas ikatannya pasti dia akan kabur. Tapi kalau tidak kulepas, yang benar saja, menyuapinya?

Aish, baiklah,” akhirnya Hongbin mengiyakan, walaupun terpaksa. Ia kembali berjongkok di hadapan gadis malang itu. Kedua tangannya membuka plastik putih itu, dan akhirnya bergerak menyuapkan sesendok kimchi bokkeumbap ke dalam mulut Ara. Gadis ini semakin merepotkan, gerutu batin Hongbin.

*

 

 

[Ara’s Side]

Aku termenung dalam diam. Sudah beberapa hari sejak aku disekap dan dibawa ke tempat gelap ini. Tidak sampai disitu saja penderitaanku, mengetahui fakta bahwa hanya ada aku berdua dengan Ahjussi itu di tempat sesuram ini tatkala membuatku semakin terisak.

Tes. Tes.

Air mataku enggan berhenti mengalir, malah mungkin sudah membentuk aliran sungai kecil yang tak bermuara.

Baiklah, itu sedikit hiperbolis.

Tetapi memang benar adanya. Kurasa  sudah sejak dua jam yang lalu aku menangis bagaikan seorang bayi yang tidak diberi permen. Setidaknya, bayi dapat menyeka air matanya sedangkan aku hanya dapat menikmati tangisanku. Pasalnya, kedua tanganku diikat.

Appa, Eomma, Minho oppa, aku merindukanmu,” lirihku.

Hari ini terasa sangat dingin. Spontan kepalaku mendongak, melirik celah di atap yang usang itu. Benar saja, salju sudah berjatuhan. Jadi, hari ini adalah hari pertama salju? Biasanya aku selalu memakan ayam bersama keluarga atau teman-temanku. Hah, ini benar-benar menyakitkan.

Cuaca diluar yang sialnya dingin sekali mempengaruhi suhu tubuhku. Terlebih celah di atap itu membuat suhu masuk ke dalam ruangan ini. Tubuhku tiba-tiba saja menggigil dengan lancangnya.

Ahjussi,” panggilku pelan, niatnya menyahut tapi tenggorokkanku terlalu kaku untuk sekedar melakukan itu. Yah, kuharap Ahjussi itu dapat mendengarku.

“Kenapa lagi?” tanyanya yang muncul begitu saja, sedikit mengejutkanku. Punggungnya menyandar pada tembok, sementara kedua iris hazel-nya matanya menatapku tajam. Jika dipikir, dia terlihat tampan. Eh, tunggu, aku baru saja memujinya? Sadarlah, Choi Ara!

“B-Bolehkah aku meminta selimut?” kata-kata itu meluncur begitu saja sesaat aku sudah kembali pada alam sadarku.

“Untuk apa?”

“Kurasa a-aku kedinginan,” jawabku gelagapan.

“Aku hanya punya satu selimut.”

Ahjussi itu membalikkan badannya, berjalan memasuki kamarnya. Tetapi aku tak akan menyerah. Gila saja jika aku sampai mati kedinginan disini.

Ahjussi! Kumohon, berikan aku sesuatu untuk menghangatkan diri. Jebal, jebal, jebal!” desakku dengan nada aegyo serta puppy face-ku.

Kulihat Ahjussi itu berhenti dari langkah besarnya. Aha, kena kau! Aku tahu, aegyo-ku memang ampuh.

Sedetik kemudian, mataku menangkap Ahjussi itu berbalik arah, ia berjalan mendekatiku. Tangannya bergerak untuk menarik sweater yang ia pakai. Mataku terbelalak melihatnya membuka pakaiannya begitu saja dihadapanku. Gila dia? Bagaimanapun aku juga seorang wanita!

A-Ahjussi, apa yang kau lakukan?!” jelas aku kepanikan. Pipiku memanas melihat perut putihnya yang dihiasi abs berjumlah 6 kotak miliknya. Jika saja aku seorang juri, aku akan menilainya… err, perfect.

Ahjussi itu hanya terdiam, ia tak menggubrisku, sama sekali. Kakinya tetap berjalan mendekatiku, dan kini aku hanya bisa menutup mataku rapat. Sungguh, ini menakutkan!

Tiba-tiba kurasakan tubuhku menghangat dari sebelumnya. Segera kubuka kedua mataku. Manik mataku tertuju pada tubuhku. Ia memakaikan sweater miliknya di tubuhku. Aku terpaku karena perlakuannya. Belum sempat aku mengucapkan ‘terima kasih’, punggungnya yang tidak dilindungi satu helai benang pun sudah menghilang dari pandanganku.

Dan sialnya, dia meninggalkanku dengan keadaan jantungku yang berdegup kencang!

*

[Author’s Side]

Ara terdiam. Matanya menatap kosong ke depan. Pikirannya sudah melayang entah kemana. Kali ini bukan tentang kesedihannya karena diculik yang mengusik pikirannya. Tetapi tentang perasannya kepada pria yang ia kerap panggil ‘Ahjussi‘ itu.

flashback

 

Ara mengunyah hamburger-nya dengan lahap. Ia hanya dapat mendengar sahabatnya mengoceh tentang hal yang menurutnya tidak mungkin terjadi.

 

“Ya! Ara-ya, mengapa kau diam saja?” tegur gadis di hadapan Ara sebal.

 

“Aku harus merespon apa? Ah, hamburger ini enak sekali!”

 

“Aish, bukan itu! Pikirkan, Stockholm Syndrome itu ada dan itu menyeramkan!”

 

Ara memutar bola matanya malas. Ia sudah mendengar sahabatnya berceloteh tentang Stockholm Syndrome dengan raut dramatisnya. Ucapan dramatisnya bahkan terasa seperti ia sedang menceritakan isi sebuah novel fiksi.

 

“Apanya? Hyemi-ya, sindrom aneh semacam itu tidak ada!” sangkal Ara, berusaha mencegah agar sahabatnya tidak mengoceh tentang hal tidak penting itu.

 

“Ya! Sindrom itu nyata, Ara-ya! Nyata!” gadis berambut sebahu yang dengan name tage ‘Kang Hyemi‘ itu kembali berujar dramatis. Membuat Ara mendengus jengkel.

 

“Itu tidak terdengar nyata. Mana bisa seseorang yang diculik memiliki rasa suka atau simpatik pada sang penculik?”

 

Hyemi mendengus kesal, “Tidak ada yang tidak mungkin, Ara-ya.”

 

“Bisa saja kau menjadi korbannya,” lanjutnya.

 

Uhuk!

 

Tangan Ara segera meraih segelas air yang berada di dekatnya. Sedetik kemudian, dilemparkanlah tatapan kesal kepada sahabatnya itu.

 

“Jangan mendoakanku!”

 

“Maka dari itu kau harus percaya padaku!”

 

“Arra arra, aku percaya!”

 

“Tapi untungnya, aku selalu dijemput. Jadi mustahil aku akan terkena sindrom aneh itu,” Ara tersenyum lebar, mengentengkan ucapan Hyemi. Membuat sahabatnya itu berdecak pelan.

 

flashback end

Ara menundukkan kepalanya. Bibir bawahnya ia gigit. Bak senjata makan tuan, dirinya juga sudah termakan oleh omongannya sendiri. Aish, ini membingungkan!

Seketika orang yang sedari tadi Ara pikirkan muncul. Pria itu berjalan kearahnya, dengan ekspresi dingin di wajah tampannya yang seperti sudah mengental.

“Mana ponselmu?” tanyanya begitu sudah sampai di hadapan Ara. Masih dengan suara bass khasnya.

“P-Ponsel? Untuk apa, Ahjussi?”

Hongbin bukannya menjawab malah mencoba mencari ponsel Ara di dalam tas cokelat milik gadis itu.

Ahjussi, kau mau apakan ponselku?” tanyanya lagi, meminta jawaban yang jelas dari pria itu.

Hongbin menghela napasnya, “Menelepon orang tuamu. Aku akan meminta tebusan, maka kau akan bebas.”

Pupil Ara melebar seketika mendengar jawaban yang Hongbin dilontarkan dengan ringan itu. Kepalanya menggeleng cepat, “Tidak!”

Hal itu membuat Hongbin menghentikan aktifitasnya. Kini ia menatap Ara dengan kedua alisnya yang bertaut.

“Aku tidak ingin dibebaskan. Aku ingin bersamamu disini. Aku janji aku tidak akan kabur ataupun berisik lagi, tapi kumohon biarkan aku bersamamu!” seru Ara begitu saja, dengan suara paraunya. Matanya terlihat sedikit berkaca-kaca.

Gadis itu jelas membuat Hongbin terkesiap. Tanpa pikir panjang, tangannya merogoh saku celananya dan menarik keluar ponselnya.

“Halo, Bos?”

“Oh, Hongbin-ah, ada apa?”

 

“Bos, kurasa ada yang tidak beres.”

 

“Tidak beres? Maksudmu?”

 

Hongbin menggigit bibir bawahnya. Sejujurnya ia ragu. Tetapi entahlah, mungkin bosnya bisa membantu.

“B-Begini, aku sedang berusaha untuk menelepon orang tua anak ini. Tetapi dia melarangku, dia bilang dia ingin… bersamaku,” jelas Hongbin akhirnya. Terdengar gelak tawa dari seberang telepon.

“Hahaha! Bukankah itu kabar yang bagus, Hongbin-ah?”

Kening Hongbin berkerut, “Apanya, Bos?”

“Coba pikirkan, jika kau dekat dengan gadis itu, maka kau bisa mendapatkan uang yang lebih banyak. Kau bisa kaya secepatnya. Lakukan saja, dekati anak itu.”

Hongbin termangu. Kali ini sudah terpasang tampang bodoh di wajahnya. Ia mengerjapkan matanya berulang kali, memastikan bahwa ini bukan mimpi.

“Bos, kau yakin kau tidak apa-apa?”

“Apa maksudmu, Hongbin-ah?”

“T-Tidak. Hanya saja—” Hongbin melirik Ara melalui ekor matanya.

“—kau sadar ‘kan, kau baru saja menyuruhku untuk mendekati gadis itu?” bisik Hongbin amat pelan. Sampai-sampai Ara penasaran dibuatnya.

“Tentu saja, nak. Lakukan saja perintahku, arra?”

“…baiklah.”

“Bagus! Semoga sukses.”

Piiip.

Hongbin lagi-lagi menghembuskan napasnya. Tatkala membuat Ara keheranan melihatnya.

Ahjussi? Apa sesuatu terjadi?” tanyanya penasaran. Siapa tahu, ia akan mendapatkan jawaban yang dapat menghilangkan rasa penasarannya.

Hongbin terdiam menatap gadis yang masih enggan berhenti memandangnya itu. Baiklah, niatku hanya untuk mendapatkan kekayaan darinya.

Kaki Hongbin melangkah, mendekati Ara yang masih kebingungan. Kedua kaki Hongbin ditekuk olehnya, membuat tingginya sejajar dengan gadis itu.

“Hei, jangan panggil aku ahjussi,” bisik Hongbin tepat di telinga Ara. Membuat gadis itu terkesiap dan memandang lekat pada iris hazel milik Hongbin. Sementara pria itu hanya membagi sebuah senyuman simpul.

“Namaku Lee Hongbin.”

*

Hongbin merenung dalam diam. Manik matanya memandang ke arah luar jendela yang terpampang di kamarnya yang minim cahaya itu. Salju sudah turun sejak tiga hari yang lalu. Tak pernah merasa bosan, Hongbin menghisap rokok yang sebentar lagi menjadi puntung itu.

flashback

 

Seoul, 4 Desember 2010

 

“Oppa! Oppa!” seru seorang gadis kecil. Membuat seorang lelaki yang sedari tadi sibuk bermain PSP menoleh ke arahnya.

 

“Waeyo?” tanya lelaki itu lembut, sembari mengangkat gadis kecil itu ke pangkuannya.

 

“Oppa, aku ingin gulali! Belikan aku gulali!” seru gadis kecil itu seraya tersenyum lebar.

 

“Gulali? Tetapi sekarang salju sedang turun deras, kau yakin kita mau ke taman sekarang?”

 

Gadis kecil itu mengerucutkan bibirnya, “Aku mau gulali, oppa!!”

 

“Baiklah, Minah-ah. Kajja kita beli gulali.”

 

Tangan Hongbin mengenggam tangan adiknya erat. Menuntun langkah gadis yang sedang bersenandung riang itu. Hongbin tidak dapat menahan senyumannya jika melihat adiknya bahagia seperti saat ini.

 

“Minah-ah, duduk dulu disini. Aku akan membeli coklat panas. Jangan kemana-mana dulu, arraseo?” titah Hongbin seraya mendudukkan adiknya di atas bangku taman.

 

Sesaat kemudian, Hongbin melangkahkan kakinya menuju mesin pembuat minuman. Ia memesan dua coklat panas. Tidak butuh waktu lama, pesanannnya pun sudah jadi. Tangannya segera meraih dua gelas itu dan berjalan menyusul adiknya.

 

“Minah-ah, ini-“

 

Ucapannya terputus saat melihat adiknya sudah tidak ada di tempatnya. Kepalanya berputar, matanya mengililingi sekitarnya. Pikirannya kalut, hanya dapat memikirkan tentang adiknya.

 

Tuk.

 

Gelas yang sedari tadi Hongbin genggam kini sudah jatuh ke tanah. Membiarkan minuman yang belum tersentuh itu memencar kemana-mana. Tubuh Hongbin bergetar. Bahkan air mata di pelupuknya telah jatuh entah sejak kapan.

 

“Lee Minah!!” ia berteriak. Kakinya dipaksa untuk berlari ke arah adiknya yang sudah terkapar di atas aspal yang dingin.

 

Tes. Tes.

 

“Lee Minah, bangun!!” serunya bak kesetanan. Tangannya itu menggoyangkan tubuh gadis kecil yang terasa dingin itu. Hasilnya nihil. Tanpa pikir panjang lagi, ia menggendong adiknya dan pergi menuju rumah sakit.

 

*

 

“Mohon maaf, pasien Lee Minah tidak bisa diselamatkan. Jantungnya melemah, dan pendarahannya juga banyak. Kami mohon maaf sekali lagi. Waktu kematian pasien pukul 2:02 PM.”

 

Deg.

 

Bagaikan disambar petir, jantung Hongbin seketika terasa berhenti sejenak. Lidahnya kelu untuk berucap. Tangannya sudah terkepal. Dan air matanya kerap berderaian.

 

“Dokter, kau jangan bercanda!! Kembalikan anakku!” lelaki paruh baya itu mencengkeram kerah baju dokter itu.

 

“Yeobo, sudah! Dokter tidak salah!” ujar wanita di sampingnya menenangkan. Hongbin hanya dapat terdiam melihat kedua orang tuanya histeris.

 

Satu sekon kemudian, ayahnya menatapnya tajam. Seakan ingin menusuk Hongbin.

 

Bugh!

 

Ayahnya meninju rahang Hongbin dengan keras. Hingga membuat namja itu sedikit terpental.

 

“SEMUA INI KARENAMU, ANAK SIALAN!! PERGI KAU DARI HADAPANKU!” jerit ayahnya berapi-api. Membuat semua pasang mata yang berada di rumah sakit menatap Hongbin kasian.

 

“Appa, Eomma..” panggil Hongbin seraya tangannya mengusap darah yang mengalir dari mulutnya.

 

“Hongbin-ah, pergilah,” pinta ibunya seraya menangis. Hati Hongbin bagaikan tertusuk. Pedih, hanya itu kata yang dapat mengekspresikan keadaan hatinya.

 

Hongbin berlalu, tanpa satu patah kata pun. Dan ia sudah bertekad, tidak akan kembali ke kedua orang tuanya. Tidak lagi. Sudah cukup dia dijadikan seperti anak tiri selama ini. Ayah dan ibunya lebih menyayangi adiknya, Lee Minah, daripada dia karena menurut mereka berdua Hongbin adalah anak yang nakal. Sekalipun begitu, ia tetap menyayangi adiknya sepenuh hati. Tetapi inilah balasan yang ia dapat. Ya, dia sudah bertekad untuk tidak akan kembali pada kedua orang tuanya.

 

flashback end

Bibirnya kembali membentuk sebuah senyuman pahit. Tak jarang ia mendapati dirinya masih meratapi kejadian yang sudah berlalu sekitar 5 tahun lalu itu. Tetapi Hongbin tidak menyesal. Toh, kehidupannya saat ini sebagai penculik lebih menyenangkan dan menenangkan. Daripada harus hidup dibalik bayang-bayang orang tuanya yang selalu bersikap tak acuh padanya.

Tiba-tiba saja pikirannya tertuju pada Choi Ara. Entahlah, otaknya memaksanya untuk memikirkan gadis itu. Setelah tersadar ia belum memberinya makanan, Hongbin langsung bergegas keluar menuju keberadaan gadis itu.

Kedua bola matanya melebar seketika, atau hampir saja loncat. Wajah gadis itu lebih pucat dari biasanya, tubuhnya menggigil, bahkan keringat terlihat mengalir melewati pelipisnya. Tetapi gadis itu tetap diam dengan kedua mata yang terpejam.

Secercah perasaan khawatir muncul di hati Hongbin tanpa bisa ia kontrol.Kakinya sudah menekuk, membuatnya berjongkok di hadapan gadis yang tidak terlihat baik itu. Tangannya bergerak menyentuh pipi mulus Ara.

“Oh, Ahjussi? Apa yang kau lakukan?” gadis itu bertanya dengan suara seraknya. Sepertinya ia tersentak dengan perlakuan Hongbin yang menurutnya janggal itu. Kedua mata sayunya menatap Hongbin penuh tanya.

“Kau sakit?” hanya dua kata yang keluar dari mulut Hongbin. Tetapi cukup sukses membuat pipi Ara semakin memanas.

“T-Tidak, aku baik-baik saja.”

“Bohong. Tubuhmu panas.”

Ara semakin heran dengan pria di hadapannya itu. Sejak kapan ia perhatian padaku?

Satu sekon kemudian, Hongbin melepaskan ikatan kencang di tangan dan kaki gadis itu. Bekas kemerahan akibat ikatan di pergelangan kaki dan tangannya terpantul cukup jelas di retina mata Hongbin.

Kemudian dengan secepat kilat, Hongbin mengangkat tubuh hampang Ara. Membuat mata gadis itu terbelalak.

Ya, Ahjussi! Kau ingin membawaku kemana?”

Hongbin tak menggubris pertanyaan gadis itu. Kakinya sibuk melakukan tugasnya, yaitu berjalan menuju kamarnya yang terlihat sama gelapnya dengan ruangan lainnya. Yah, meskipun sedikit terang karena jendela yang cukup besar itu.

Hongbin menghempaskan tubuh Ara dengan perlahan. Dengan santainya, ia membuka sweater-nya. Lagi-lagi memperlihatkan tubuh sempurnanya yang dihiasi oleh beberapa tato di lengan dan perutnya.

“Buka bajumu,” titah Hongbin. Ara tercengang mendengar perintah Hongbin itu.

“A-Apa? Apa yang akan kau lakukan? Jangan macam-macam!” sahut Ara seraya menatapnya curiga. Membuat Hongbin menghembuskan napasnya jengkel. Ia bahkan tidak menyangka bibir mungil gadis itu dapat mengeluarkan suara seberisik itu sekalipun sedang sakit.

“Baiklah, tidak perlu buka bajumu. Buka saja sweater itu, kau masih memakai seragam, bukan?”

Ara terdiam sejenak. Otaknya mungkin sedang bekerja. Pada akhirnya, tangannya menuruti perintah Hongbin untuk membuka sweater yang ia kenakan.

Ara masih melemparkan tatapan bingungnya pada Hongbin yang saat ini sudah terbaring di sampingnya.

Deg.

Jantung Ara hampir saja melompat keluar dari sarangnya. Iris hitam keabuan milik gadis itu memandang Hongbin dengan ekspresi terkejutnya.

Bagaimana tidak? Pasalnya, Hongbin sudah mendekap gadis itu ke dalam pelukannya. Kulit Hongbin yang dingin bersentuhan dengan kulit Ara yang memanas. Bahkan wangi musk yang kentara terus menggelitik indera penciuman gadis itu. Bagaikan sebuah mantra, Ara dapat merasakan sebuah energi yang membuatnya nyaman tanpa ia sadari.

“Orang lama berkata, jika kau sedang demam, maka kau harus dipeluk tanpa menggunakan pakaian. Maka demammu akan pindah padaku,” jelas Hongbin dengan enteng. Tanpa mengkhawatirkan Ara yang sudah meleleh karena perlakuannya. Untungnya Ara sedang terbaring, jika ia berdiri maka tubuhnya akan merosot karena kakinya sudah menjadi agar-agar.

A-Ahjussi, tap-“

“Kau lupa? Jangan panggil aku Ahjussi. Lagipula kita seumuran,” retina Ara dapat menangkap sebuah tatapan lekat dari pria di hadapannya. Tidak, kali ini berbeda. Ara dapat merasakan keteduhan dan kehangatan dari tatapan yang ia dapat barusan.

“B-Baiklah,” gadis itu hanya dapat menjawab seadanya. Lidahnya terasa susah digerakkan bahkan hanya untuk berbicara.

“Sekarang tidurlah, kau harus istirahat agar cepat sembuh.”

Ara mengangguk pelan. Otaknya masih mencerna perlakuan-perlakuan pria itu yang seperti berubah 360 derajat. Ya, nampaknya otaknya butuh waktu. Berlawanan dengan jantungnya yang merespon dengan cepat, bahkan enggan berhenti berdegup kencang.

Bagaimana tidak, ia sedang berpelukan dengan seseorang yang sebenarnya hatinya pilih, dengan keadaan pria itu tidak mengenakan satu lapis kain, dan selimut membentang melindungi mereka berdua di bawahnya.

Deg. Deg.

 

Ara kini hanya bisa berharap semoga saja Hongbin tidak merasakan degupan jantungnya itu.

Akhirnya kedua mata Ara pun menutup. Lengannya terulur untuk membalas pelukan Hongbin. Gadis itu tertidur dengan lelap hanya dalam hitungan sekon.

Hongbin membuka kedua matanya. Retinanya meminta untuk memandang gadis di hadapannya tanpa mengenal kata bosan. Kedua manik mata pria itu kini memperhatikan garis wajah Ara.

 

Wajahnya yang mulus, kulit yang seputih susu bahkan mendekati pucat, bibir mungilnya yang berwarna kemerahan, hidungnya yang mancung. Bahkan gadis ini terlihat cantik saat sedang tertidur.

Batin Hongbin tidak dapat berhenti memuji kecantikan seorang Choi Ara. Sarafnya tidak dapat menghentikan hasrat kedua ujung bibirnya untuk terangkat dan membentuk sebuah senyuman.

*

Ara yang sedari terlelap kini mengerjapkan matanya, menyesuaikan dengan pencahayaan yang ada. Tubuhnya bangkit membuat kepalanya sedikit terasa pening.

“Kau sudah bangun?”

Hongbin muncul dari balik tirai berwarna putih. Rambut hitamnya basah, untungnya sudah diserap dengan baik oleh handuk yang berada di kedua tangannya.

“Hmm,” Ara hanya berdehem. Tenggorokkannya masih terasa kaku untuk berbicara lebih.

Tangan Hongbin teralih dari handuknya, kini ia sibuk berkutat dengan plastik putih yang terletak di nakas di samping kasurnya.

“Kau harus makan. Aku sudah membelikan bubur dan juga obat,” Ara hanya termangu. Kedua matanya sibuk menelusuk kedalam iris hazel Hongbin, seakan mencoba menyelami pikiran pria yang akhir-akhir ini terlihat aneh itu.

Ahjus-“

“Hongbin,” potong Hongbin singkat begitu mendengar gadis itu hendak memanggilnya ‘Ahjussi‘.

“A-Ah ya, Hongbin…” ulang Ara dengan kikuk. Kukunya menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak terasa gatal.

“Kenapa kau jadi perhatian begini padaku?” pertanyaan itu sukses membuat Hongbin tercenung sejenak. Kedua bola matanya ia putar, guna menatap gadis yang sudah kembali terbaring.

“Karena kau sakit.”

Deg.

Ara menelan ludahnya kasar. Tentu saja, kata-kata itu sukses membuat gadis itu bungkam. Salah tingkah, ia memalingkan wajahnya yang sudah terasa panas itu. Apa aku salah dengar? batinnya bertanya.

“Makanlah, aku akan menyuapimu,” Hongbin berujar ditemani dengan senyuman lembutnya.

“T-Tapi, tanganku ‘kan tidak—”

“Sudahlah, jangan banyak protes. Kau ini sedang sakit. Diam saja dan turuti aku. Arraseo?” sela Hongbin dengan nada menuntut. Ara hanya dapat mengiyakan, ia terlalu lemah untuk melancarkan aksi protes.

Hongbin dengan telaten menyuapi gadis yang berwajah pucat itu. Gadis itu hanya melahapnya. Sekalipun lidahnya terasa pahit setiap menerima suapan bubur itu, tetapi setidaknya dengan Hongbin di hadapannya sudah cukup membuatnya lahap memakannya.

“Sekarang kau harus minum obat,” Ara seketika membulatkan bola matanya. Kepalanya menggeleng dengan cepat.

Ani! Aku tidak suka obat.”

“Siapa yang suka obat, sih?” cecar Hongbin kesal karena gadis itu susah sekali mengikuti perintahnya.

“Tapi aku benar-benar benci obat.”

“Kalau begitu jangan sakit.”

“Kau yang membuatku sakit dengan mengikatku dan membiarkanku begitu saja di ruangan yang dingin itu.”

Perkataan gadis itu cukup membuat Hongbin bungkam. Ada benarnya juga. Gadis itu kini memamerkan senyuman puasnya.

Aish! Baiklah, tidak usah minum obat. Tapi jangan salahkan aku jika kau semakin sakit.”

“Tidak akan. Hanya denganmu disini, aku tidak akan sakit lagi.”

Deg.

 

Darah yang mengalir di darah Hongbin berdesir begitu saja. Terlebih kala kata-kata lembut itu terucap dari bibir mungil gadis itu. Hongbin termangu, tubuhnya bingung hendak merespon apa.

Ara sudah menautkan kedua alisnya, manik mata keabuannya menatap Hongbin dengan pandangan bertanya, “Waeyo?”

“T-Tidak. Ayo sekarang tidur,” perintah Hongbin, menyadarkan dirinya dari pikirannya yang bertaut kebingungan. Senyuman manisnya masih bertengger di bibirnya.

“Tapi kau jangan pergi,” pinta Ara dengan suara paraunya. Hongbin menatap lekat gadis di sampingnya, sebelum kepalanya naik turun mengangguk patuh.

“Aku akan tetap di sampingmu.”

*

“Hongbin-ah, kau pernah ke Namsan Tower?” Ara bertanya seraya menatap Hongbin yang tengah terpejam. Jari-jarinya bergerak, mengelus helaian rambut hitam pria yang kini sedang terbaring di pangkuannya itu.

“Aku belum pernah ke sana.”

Jinjja? Kalau begitu ayo kita kesana bersama! Aku juga belum pernah ke sana,” Ara mengerucutkan bibirnya samar.

Hongbin tersenyum, sekalipun matanya tertutup ia sudah dapat menebak gadis itu sedang memasang duck face-nya, “Arraseo. Kita akan ke sana bersama.”

Brak!

Pintu usang itu didobrak dengan kasar. Membuat Hongbin terperanjat dan bangkit. Terlihat tiga orang lelaki berjalan ke arahnya dan Ara.

“Kami dari pihak kepolisian. Apakah kau Lee Hongbin?” tanya salah satu dari lelaki itu. Jantung Ara berdegup kencang. Ia menggenggam tangan Hongbin erat, merasa ada hal buruk yang akan terjadi.

Hongbin akhirnya mengangguk samar, “Ya.”

“Ikut kami. Kau terlibat kasus penculikan,” ketiga lelaki itu kini menarik kedua lengan Hongbin paksa. Ara terhenyak. Tangannya mulai bergetar tak karuan.

Dan genggamannya pun lepas.

Tak mau ambil langkah lambat, segera setelah sudah tersadar, ia menyusul para lelaki itu dan menarik kemeja yang mereka kenakan.

“Kumohon, jangan bawa Hongbin!! Jangan bawa dia pergi!” Ara berlutut, kedua mata indahnya mulai memproduksi cairan bening. Hongbin hanya bisa membeku. Hatinya serasa tersayat menatap gadis itu menangis.

“Mohon maaf, Nona. Kami harus membawanya, karena ia sudah bersalah.”

“Tidak!! Lee Hongbin tidak bersalah!”

Deg.

Hongbin semakin membeku. Baru kali ini ia melihat seorang gadis membelanya yang jelas-jelas bersalah. Lidahnya kelu, membuatnya tak mampu berucap satu patah kata pun.

“Kami mohon maaf, Nona. Anda bisa menemuinya nanti di sel tahanan.”

Ara terpaku. Matanya dapat menangkap ketiga lelaki itu membawa Hongbin pergi. Dan Ara hanya dapat menangisi kepergiannya.

Lee Hongbin, jangan tinggalkan aku!

 

*

Ara sedang terduduk dalam diam. Kepalanya ia tundukkan, memerhatikan jari-jarinya yang saling bertaut satu sama lain. Susah payah ia menahan tangisannya agar tidak pecah.

“Choi Ara.”

Seseorang memanggil Ara, dengan suara bass yang sudah menjadi favorit gadis itu. Spontan Ara mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang memanggilnya. Dan dugaan Ara benar.

Lee Hongbin.

Pria berkulit putih itu kini sedang terduduk di hadapan Ara. Tubuhnya dibalut baju berwarna hijau keabuan dan borgol yang mengunci kedua pergelangan tangannya.

“Hongbin-ah,” suara Ara terdengar bergetar. Hongbin hanya memandang gadis itu, menelusuk keadaannya saat ini. Dia tampak lebih kurus, apa ia makan dengan benar? pikirnya.

“Aku akan membantumu. Aku akan meminta uang kepada orang tuaku untuk membebaskanmu.”

Hongbin terbelalak mendengar ucapan gadis itu. Dirasakannya sesak di dalam dadanya, rasanya dia butuh tabung oksigen hanya untuk sekedar bernapas.

Tes. Tes.

Hongbin menangis. Ya, ini pertama kalinya pria itu menangis setelah terakhir kali ia menangisi kepergian adiknya. Entah untuk alasan apa, dirinya pun bingung. Yang pasti adalah hati Hongbin terasa sakit, bagaikan tertancap paku-paku tajam.

“Ara-ya, kau tidak seharusnya melakukan itu,” suara bass Hongbin kali ini terdengar parau. Ucapannya sukses membuat gadis di hadapannya terkesiap.

“Apa maksudmu? Aku mencintaimu, aku akan melakukan apapun agar kau bebas.”

Hongbin tertunduk. Tangisannya semakin menjadi saat mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh gadis itu terdengar amat tulus.

“Tidak. Aku bukanlah namja yang pantas untukmu.”

Kedua alis Ara bertaut, matanya sudah berkaca-kaca kali ini. Otaknya tidak dapat menerima perkataan Hongbin.

“Aku seorang buronan. Kau tidak seharusnya mencintai buronan sepertiku.”

Deg.

Kata-kata itu terdengar begitu menyakitkan bagi Ara. Menurutnya itu lebih menyakitkan dari adegan sedih dalam drama, dimana pemeran utamanya dibunuh. Air matanya tanpa dapat dikendalikan berjatuhan begitu saja.

“A-Apa maksudmu..?”

Hongbin tersenyum tipis, dengan deraian air mata yang masih mengalir, “Ini takdirku. Sudah seharusnya aku mendekam di sel tahanan seperti saat ini. Sementara gadis baik sepertimu tidak seharusnya mencintai seorang penjahat.”

Tubuh Ara membeku. Dadanya semakin sesak mendengar penjelasan Hongbin. Cairan menggumpal di pelupuk matanya, dan kembali berjatuhan dengan lancar melewati kedua pipinya.

“Hongbin-ssi, waktumu sudah habis,” tegur seorang polisi penjaga. Ia membawa Hongbin menuju sel kembali. Ara hanya dapat diam dan memandang punggung Hongbin yang semakin menjauh.

*

[Ara’s Side]

Aku masih terisak sejak setengah jam yang lalu. Tanganku terus mengusap setiap tetes air mata yang jatuh. Kakiku berjalan tanpa arah, tak peduli banyak orang memperhatikanku layaknya orang gila. Ya, mungkin aku memang gila. Gila hanya karena seorang pria. Aku tak tahu jika Stockholm Syndrome bisa dialami hingga sedalam ini.

Tidak, lupakan saja soal sindrom itu. Hatiku memang sudah terlanjur mencintai Lee Hongbin, seseorang yang baru saja mengaku bahwa dia adalah penjahat.

Tes. Tes.

“Persetan dengan penjahat. Lee Hongbin, apa kau tidak mengerti dengan perasaanku, hah?” teriakku di pinggir jalan. Membuat sejumlah pasang mata kembali menatapku aneh. Masa bodoh.

Tiba-tiba saja langkahku terhenti. Mataku yang sudah sembab ini melirik ke arah minimarket di sebelahku.

Ide gila seketika muncul di benakku. Memang mungkin ini terdengar sangat gila. Tapi sekali lagi, masa bodoh, aku sudah tidak peduli.

Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam minimarket itu. Kulihat pegawainya menyapaku dengan ramah, dan aku hanya tersenyum kecil.

Tanganku tergerak mengambil sebungkus snack, dan sebuah pisau. Aku menyumputkan snack dan pisau itu di balik rok sekolahku.

“Permisi, agasshi, Anda harus membayar sebelum keluar,” seorang pegawai mencegatku saat aku hendak berjalan keluar. Kupasang tampang kesalku, formalitas saja.

“Kalau aku tidak mau membayar, bagaimana? Hah?”

Terlihat pegawai itu sedikit ketakutan, “T-Tetapi Anda tetap harus membayarnya, agasshi.”

Sedetik kemudian aku melangkahkan kakiku mendekati pegawai itu. Segera kukeluarkan pisau yang sedari tadi aku sumputkan. Tanganku mendekatkan pisau itu pada rahang si pegawai.

“Jadi, aku masih tidak boleh pergi sekalipun aku membunuhmu?” tanyaku sinis. Lantas, pegawai itu bergetar ketakutan.

“M-Maaf, Anda harus membayarnya!” pegawai itu kukuh terhadap pendiriannya. Aku pun menggoreskan pisau tajam ini pada rahangnya. Terlihat darah menetes dari rahangnya. Aku segera menaruh pisau itu di dekatnya dan berlalu dari hadapannya.

Ideku memang gila. Lebih gilanya lagi aku berhasil melakukan ide gilaku itu. Aku tahu betul minimarket itu memiliki CCTV yang terpasang di setiap sudutnya. Dan aku juga mampu membayar untuk sekedar sebungkus snack. Jangan lupakan tentang pakaianku, aku masih mengenakan seragam, bisa saja reputasi sekolahku ikutan hancur karena ulahku.

Tetapi bukan berarti aku tidak beralasan untuk melakukannya. Aku nekat melakukannya hanya untuk satu hal. Atau mungkin seseorang. Seseorang yang namanya selalu terpaku di hatiku.

*

[Author’s Side]

Ara sedang terdiam di ruang tengah berdominasikan warna putih di rumahnya yang megah. Tatapan kosongnya masih terpaku pada televisi yang menyala di depannya.

Bagaimana kabar Hongbin?

 

Apa dia sudah makan?

 

Apa dia tidak kedinginan?

Ara menutup kedua matanya gusar. Semua bayang-bayang tentangnya dan Hongbin berputar bagaikan sebuah kaset yang diputar ulang. Bagaimana dulu ia mengamuk saat Hongbin menculiknya, dan bagaimana sindrom anehnya itu mulai mempengaruhi hatinya, bagaimana Hongbin memeluknya saat ia sedang demam, bagaimana sikap Hongbin yang perlahan berubah menjadi manis.

“Aku seorang buronan. Kau tidak seharusnya mencintai buronan sepertiku.”

Tes. Tes.

Tanpa dikomando, air mata Ara mengalir begitu saja. Sudah sekian kali gadis itu menangisi pria yang kini sedang bertahan di sel tahanan. Bibirnya membentuk seulas senyuman miris. Aku merindukanmu, buronan Lee Hongbin.

Ting. Tong.

Bel rumah Ara berbunyi. Dengan cepat gadis itu menghapus air matanya dan bergegas membuka pintu rumahnya.

“Permisi, Choi Ara-ssi?”

Ara terkesiap melihat dua orang memakai jaket kulit berwarna hitam bertanya kepadanya. Ara tahu betul siapa yang berada di hadapannya.

“Ya, saya Choi Ara.”

“Anda ditangkap karena terlibat kasus pencurian dan percobaan pembunuhan.”

Akhirnya.

Ara tersenyum tipis, kemudian ia mengangguk, “Aku tahu. Tangkap saja aku.”

“Tidak! Ara-ya!” teriak seseorang. Ara menolehkan kepalanya kepada sumber suara. Netranya mendapati kakaknya, Choi Minho, tengah menatapnya dengan kilat api di kedua matanya.

“Apa yang ia lakukan?! Mengapa ia ditangkap?” Minho bertanya dengan nada tingginya.

“Choi Ara ditangkap karena kasus pencurian dan percobaan pembunuhan.”

Mata Minho membulat. Ia melemparkan tatapan tak percaya pada adik kesayangannya. Kedua tangannya yang sudah bergetar hebat ia tempatkan di pundak Ara.

“Katakan padaku, Choi Ara. Itu tidak benar, bukan?”

Ara kembali memamerkan senyumannya, manik matanya menatap kakaknya itu, “Aniya. Itu semua benar, oppa.”

Minho menegak ludahnya kasar, “T-Tapi kenapa?! Memangnya kau mencuri apa?”

“Sebungkus snack.”

“Tidak mungkin! Kau bahkan bisa membeli sekardus snack, untuk apa mencurinya, Ara-ya?!”

Ara kembali tersenyum tanpa beban, sangat berlawanan dengan keadaan kakaknya,  “Untuk menemui kekasihku.”

Minho mengerutkan keningnya. Ucapan gadis itu benar-benar sulit dipercaya, “..apa maksudmu?”

Ara melirik para polisi yang tengah menatapnya juga kakaknya dengan gusar, “Sudahlah, oppa. Kita bisa mengobrol lebih lanjut nanti. Temui aku di kantor polisi saja.”

“Ah, kumohon jangan biarkan aku ditebus oleh uang. Sekalipun Appa atau Eomma memaksa. Aku tidak ingin bebas karena uang. Aku pantas mendekam di sel tahanan karena ulahku. Jadi, kumohon tunggu aku bebas. Aku pergi,” pesan Ara kemudian. Benar saja, gadis itu mengulang perkataan Hongbin yang waktu itu pernah menyakitinya.

Akhirnya kedua kaki Ara bergerak, menjauhi Minho yang masih tercengang.

*

one year later

 

[Hongbin’s Side]

Aku menatap kalender yang tertempel di dinding berdebu itu. Hari ini sudah waktunya aku bebas. Senyumku tak dapat dikontrol lagi. Bukan karena aku bebas, tetapi aku dapat bertemu lagi dengan gadis berisik bernama Choi Ara.

Jujur saja, aku menyesali ucapanku yang kulontarkan waktu beberapa bulan lalu. Aku menyadari, aku telah menyakitinya. Ya, aku memang selalu menyakitinya. Tapi kuharap aku tidak terlambat untuk meminta maaf.

“Lee Hongbin-ssi, silahkan keluar,” ujar seorang polisi penjaga menegurku. Aku hanya mengangguk patuh. Kakiku segera kulangkahkan keluar dari sel yang dingin itu.

“Lee Hongbin.”

Aku menghentikan langkahku. Suara itu, suara yang sangat kukenal. Suara yang membuatku tergila-gila. Juga, suara yang kurindukan.

“Ara?”

*

“Choi Ara, jelaskan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi padamu?” aku membuka suara memecah keheningan ini. Mataku masih menatap intens padanya. Segudang pertanyaan terlintas di otakku.

Tubuhnya dilapisi pakaian tahanan, juga borgol yang bertengger di kedua pergelangan tangannya. Kedua hal itu sudah cukup membuatku bingung.

Ara hanya tersenyum tipis. Membuatku mengerutkan kening. Dia ini kenapa?

“Hongbin-ah, maafkan aku.”

Jantungku semakin berdegup kencang. Bukannya menjelaskan, gadis itu malah meminta maaf. Membuatku semakin gugup.

“Apa aku sudah terlihat seperti penjahat?”

Pertanyaannya menusuk ke dalam hatiku. Aku menggeleng cepat tak mengerti, “Apa maksudmu?”

“Bukankah kau bilang bahwa gadis sepertiku tidak pantas mencintai seorang penjahat sepertimu? Aku sudah menjadi penjahat, bukankah kita pantas bersama sekarang?”

Deg.

Aku memegang dadaku yang terasa sesak. Napasku pun tercekat. Kata demi kata yang keluar dari mulutnya terdengar begitu menyakitkan.

“Ara-ya.. kau tidak harus melakukan ini!”

“Tentu aku harus, Hongbin-ah!” serunya. Suaranya sudah bergetar, bahkan matanya pun mulai berair.

“Apa kau tidak pernah berpikir bagaimana perasaanku? Apa kau tidak pernah berpikir seberapa dalam aku mencintaimu? Bahkan, aku telah melupakan sindrom itu karena aku sudah terlanjur mencintaimu!”

Alisku bertaut. Sindrom? Apa maksudnya?

“Kau tahu, Stockholm Syndrome? Sindrom dimana seseorang yang diculik mencintai penculiknya. Dan aku terkena sindrom itu. Awalnya kupikir aku memang memiliki rasa cinta padamu karena sindrom itu. Tapi aku salah, aku benar-benar mencintaimu,” Ara terisak. Sekalipun begitu, bibirnya masih sanggup mengulas senyum. Aku hanya dapat diam membeku. Otakku masih mencerna kata per kata yang ia lontarkan.

“Memangnya apa salahnya mencintai seorang penjahat atau buronan sekalipun? Setelah apa yang kita lalui bersama, aku dapat menyimpulkan kau bukanlah seorang penjahat. Kau tidak pernah kasar padaku, kau selalu merawatku dengan baik. Apa itu yang dinamakan seorang penjahat?”

Deg.

Lagi-lagi aku membeku dibuatnya. Kedua manik mataku menatapnya, air matanya masih berjatuhan melewati pipinya.

“Choi Ara, maafkan aku,” ibu jariku bergerak menghapus air matanya yang berderaian. Rasa sesal yang mengunung sudah tidak dapat kubendung lagi. Rasanya menyesakkan melihat gadis itu bahkan nekat melakukan hal gila semacamnya, hanya demiku. Ia hanya mengangguk pelan, bibirnya masih menunjukkan senyumannya yang indah itu.

“Tinggal sebulan lagi, Hongbin-ah. Kau bisa menungguku, kan?”

*

 

 

[Author’s Side]

 

Seorang pria jangkung berjalan seraya mengeratkan mantel hitam yang melindungi tubuhnya. Suhu yang dingin membuatnya mengenakan mantel sekalipun seragam sekolah sudah terpasang di tubuh kekarnya itu. Kota Seoul hari ini mencapai suhu minus lima derajat Celcius, menurut prakiraan cuaca.

Pria dengan name tagLee Hongbin‘ itu masih sibuk berjalan. Baru saja ia pulang sekolah, dan untungnya ia memiliki waktu senggang sebelum bekerja paruh waktu di sebuah kafe.

Banyak pasang mata menatapnya kagum, mungkin karena ketampanan luar biasa yang dimilikkinya. Tetapi dia enggan menggubrisnya. Mulutnya malah sibuk mengemut permen lollipop.

Kakinya berhenti melangkah. Kepalanya didongakkan, guna menatap bangunan di hadapannya. Pria itu tersenyum kala membaca tulisan ‘Kantor Polisi Kota Seoul‘ terpampang jelas pada bangunan itu.

Hongbin melirik jam tangan yang baru saja ia beli kemarin. Sekitar satu menit lagi. Hongbin menghitung mundur, satu, dua… tiga!

“Lee Hongbin.”

Persis dengan hitungannya.

Hongbin menolehkan kepalanya. Kini perhatiannya teralihkan pada gadis berambut panjang dengan kulit pucatnya serta bibir mungil yang masih kemerahan. Tak lupa iris hitam keabuan yang selalu menatapnya teduh.

 

Dia masih sama seperti dulu.

 

Bibir Hongbin terangkat, membentuk sebuah senyuman. Senyuman yang sejujurnya gadis itu sangat rindukan.

“Choi Ara.”

Kakinya melangkah mendekati Ara. Lengannya menarik gadis itu ke dalam dekapan hangatnya.

Deg. Deg.

Hongbin terkekeh pelan. Bahkan gadis ini masih berdebar setiap aku memeluknya, cicit batinnya.

*

Ara menyepakkan salju yang menutupi sepanjang trotoar. Tangan kanannya yang dingin kini sudah tersampir rapih di balik saku mantel hitam yang dikenakan pria disampingnya itu, bersama dengan tangan pria itu yang tengah sibuk mengenggamnya.

Ara mengalihkan perhatiannya, kali ini menatap sebuah pemandangan indah di sampingnya.

“Lee Hongbin,” panggilnya akhirnya. Membuat Hongbin menatap gadis itu.

“Kenapa kau makan permen?” gadis itu memasang tampang polosnya.

“Karena aku ingin berhenti merokok.”

Ara tercengang mendengar jawaban pria itu. Rahangnya sudah terbuka lebar, membuat Hongbin tertawa kecil melihat wajah konyolnya.

“Kau yakin?”

“Tentu.”

“Apa motivasimu untuk berhenti merokok?”

“Kau.”

Deg.

Ara mengerjapkan matanya berulang kali. Darahnya berdesir lebih kencang. Bercak kemerahan seperti tomat muncul di kedua pipi gadis itu.

“E-Eh? Kenapa aku?”

“Aku bertekad menjadi lebih baik karenamu.”

Salah tingkah, gadis itu kini hanya dapat mengatupkan rahangnya. Ia tidak ingin berucap atau bertanya apapun lagi. Karena ia tahu, semakin sering ia bertanya semakin sering Hongbin menjawab dengan godaannya.

“Lee Hongbin.”

Panggilan yang keluar dari bibir gadis itu akhirnya membuat Hongbin berhenti berjalan. Matanya menelusuk ke dalam kedua bola mata milik Ara.

“Aku merindukanmu, Hongbin-ah.”

*

Ara mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan bernuansa coklat ini. Semuanya terasa sama seperti biasa. Kehangatan demi kehangatan menyapanya saat melangkah masuk.

Appa, apa kab-“

Ucapan gadis itu terpotong begitu melihat sosok yang dicarinya tidak ada, melainkan sosok lainnya yang sedang terduduk di kursi kerja itu, “Minho oppa?”

Minho mengangkatkan kepalanya. Kedua manik matanya menatap ke arah gadis di hadapannya. Seulas senyum dibubuhkan di ujung bibirnya.

“Choi Ara? Bagaimana kabarmu?”

Minho melangkahkan kakinya untuk mendekati adik semata wayangnya itu. Sejenak ia melupakan tentang pekerjaan menumpuknya yang harus diselesaikannya.

“Aku baik-baik saja, oppa. Bagaimana denganmu?”

“Seperti yang kau lihat. Aku sedikit sibuk,” keluh Minho seraya memijat pelipisnya yang berkedut. Ara melirik setumpuk berkas yang menghiasi meja kerja Minho, dipasangkanlah wajah ngerinya.

“Kurasa pemilihan diksi ‘sedikit’ itu salah, oppa.”

Minho tertawa renyah mendengar candaan gadis itu, sebelum ia menyesap kopi Americano di cangkir hitamnya.

“Jadi, bagaimana keadaanmu selama di penjara? Apa polisi memperlakukanmu dengan baik?”

“Tentu saja. Polisi bukan orang yang jahat.”

“Aku masih belum mendapat kejelasan. Apa yang menyebabkanmu nekat berbuat kejahatan seperti itu, Ara-ya?”

Ara terhenyak dengan pertanyaan yang terlontar dari kakaknya. Manik matanya menatap cangkir yang sedari tadi ia genggam.

“Aku sudah bilang, aku ingin bertemu kekasihku.”

Kening Minho berkerut, menandakan sang empunya sedang kebingungan, “Bagaimana bisa?”

“Kau ingat kejadian saat aku diculik? Aku terkena Stockholm Syndrome. Aku mencintai orang yang sudah menculikku.”

Uhuk!

Minho terbatuk-batuk mendengar jawaban Ara yang mengejutkan itu. Tangannya kini memukul dadanya yang terasa sesak.

“K-Kau serius? Tidak mungkin!”

Aish, kalau aku tidak serius mana mungkin aku melakukan hal senekat itu,” desis Ara seraya memutarkan bola matanya kala mendengar ketidakpercayaan kakaknya itu.

Hening. Minho masih sibuk merenung. Otaknya masih mencerna penjelasan aneh dari mulut adiknya itu.

“Yah, meskipun begitu, dia adalah orang yang baik. Dia tidak pernah menyiksaku, hanya mengikat kaki dan tanganku. Itu kan sesuatu yang biasa penculik lakukan,” Ara melanjutkan sembari mengangkat kedua bahunya enteng.

“Sebenarnya aku sudah menawarinya uang supaya dia bisa bebas, tapi dia menolak. Dia bilang gadis sepertiku tidak boleh mencintai penjahat sepertinya. Kau lihat seberapa baiknya dia?” suara parau Ara kembali. Tetapi matanya enggan menangis. Rasanya jenuh jika ia menangis terus.

“Akhirnya aku memutuskan untuk melakukan kejahatan, supaya kita pantas bersama karena kita sama-sama penjahat. Ah, sudahlah, lupakan. Toh, sekarang kita berdua sudah bebas, dan dia sudah berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dia bahkan melanjutkan sekolahnya, sambil kerja paruh waktu di beberapa kafe.”

Minho meneguk ludahnya kasar. Lidahnya saat ini kelu, ia hanya dapat memasang kedua telinga untuk mendengarkan adiknya.

“Kau benar-benar nekat, Ara-ya,” akhirnya Minho berkomentar.

“Cinta butuh perjuangan, oppa!” kilat semangat terlihat dari manik mata gadis itu. Membuat Minho bergidik, memikirkan bahwa jangan-jangan adiknya sudah gila.

“Lagian sih, kau tidak punya kekasih. Mana tahu tentang cinta!” cibir Ara kemudian. Pipi Minho memerah seperti tomat busuk dibuatnya.

Aish, diam kau, anak kecil!”

Ara hanya menyengir kuda. Mulutnya sibuk menyesap teh hangat yang sedari tadi belum dihabiskannya karena terlalu banyak berceloteh.

“Omong-omong, dimana Appa? Mengapa kau yang ke kantor hari ini? Appa baik-baik saja, kan?”

 

Jantung Minho serasa berhenti seketika mendengar pertanyaan bertubi-tubi yang ia dengar. Otaknya sibuk menimbang kata apa yang pantas ia ucapkan. Hatinya merutuki dirinya sendiri, mengingat seharusnya ia mempersiapkan untuk kejadian ini sejak lama.

Oppa? Kau masih disana?” Ara mengibaskan tangannya di depan wajah Minho begitu melihat pria itu sibuk merenung.

“A-Ah, ya.”

“Jawab pertanyaanku tadi, oppa!”

Minho menggaruk tengkuknya canggung saat mendengar adiknya mendesak, “Sebenarnya…”

“…Appa sudah meninggal.”

 

Deg.

Napas Ara tercekat. Bak disambar petir, ia merasakan guncangan menyertai dirinya. Tidak lagi mengerti apa yang dirasakannya, mungkin saat ini ia hanya tahu satu rasa, yaitu sakit.

Minho menghela napasnya berat, ia sudah menebak reaksi adiknya akan seperti ini.

“Maafkan aku, Ara-ya. Aku tidak sem-“

Oppa, jelaskan padaku. Apa yang terjadi, bagaimana bisa- jelaskan saja semuanya padaku!!” Ara menghentakkan kedua tangannya di atas meja tamu di ruangan itu. Matanya yang sudah berair menusuk retina Minho.

Appa dan Eomma kecelakan saat ingin menemuimu di kantor polisi.”

Apa katanya?

 

Ara memejamkan matanya sesaat ia merasakan gumpalan cairan hangat di pelupuk matanya. Dan benar saja, sedetik kemudian cairan itu berjatuhan saling menyusul satu sama lain.

“Jadi… Eomma juga?” lirih gadis itu dengan suara bergetar. Kedua retinanya dapat menangkap kakaknya mengangguk lemas.

*

 

 

[Ara’s Side]

Deru langkah yang beradu dengan lantai berkayu itu menggema di telingaku. Sama dengan orang-orang itu, aku melangkahkan kakiku, menginjak lantai berkayu yang sesungguhnya tidak bersalah ini.

Ya, setelah kusadari ternyata lantai memiliki nasib yang lebih buruk dariku. Mereka tidak bersalah, tetapi selalu diinjak. Hebatnya lagi, mereka tidak menangis atau bahkan mengeluh. Bukankah aku harus belajar banyak dari lantai?

Lupakan tentang omongan tak masuk akalku. Kini mataku tengah menatap nanar ke arah makan dua orang yang ditempatkan berjejer.

Dengan nama Choi Wonho dan Kim Hyeseul.

Ayahku dan ibuku.

Tanganku kukepalkan, meremas jaketku yang sedari tadi melindungi tubuhku. Kurasakan mataku sudah berair, sepertinya cairan itu sudah diproduksi kembali tanpa perintahku.

Appa, Eomma,” aku memanggil lirih.

“Apa kalian berdua bahagia disana? Baik-baik saja, kan?” oh, tentu saja. Katanya surga itu indah. Ayah dan ibu pasti bahagia di tempat yang indah itu.

Appa, Eomma, maafkan aku..”

“Aku mengaku salah, jinjja. Aku memang anak yang tidak tahu diuntung,” lirihku menyalahkan diri sendiri.

“Tetapi mengertilah, aku sudah terlanjur mencintai pria bernama Lee Hongbin itu. Pria yang ber-notabene sebagai penculikku.”

Mianhaeyo. Dia adalah pria yang sangat baik. Jadi, jangan khawatir.”

Tes. Tes.

Mengesalkan memang, tangisan itu pecah juga setelah aku mati-matian menahannya.

“Oh ya, aku juga akan menjaga Minho oppa dengan baik. Aku akan menyuruhnya cepat-cepat menikah!” aku tersenyum samar. Tak mengerti juga apakah aku menghibur ayah dan ibuku atau menghibur diriku sendiri.

Appa, Eomma, sudah dulu, ya? Aku akan kembali lagi suatu hari nanti,” akhirnya aku berpamitan. Bukannya tak betah, aku merasa tak pantas berada di depan makam kedua orang tuaku.

“Aku merindukan kalian, dan menyayangi kalian, selalu.”

Kuseret kakiku menjauh dari makam itu. Punggung tanganku tengah mengusap kasar air mataku yang masih berderaian. Ugh, kenapa sulit berhenti, sih?

“Argh!” jeritku akhirnya. Aku berjongkok di pinggir jalan, dengan wajah kacau yang kusumputkan di celah kedua kakiku. Terserah jika banyak orang menatapku aneh, atau bahkan menggunjingku. Aku sudah merasa muak dengan semuanya. Hidupku ini melelahkan.

“Hiks..” aku kembali terisak saat memori tentang ayah dan ibuku terputar begitu saja. Mataku terasa semakin perih. Bahkan kutebak pasti sudah bengkak.

Kuhentakkan kedua tanganku, memukul salju lembut yang sudah menumpuk di trotoar. Tanganku terasa seperti es. Dan lagi-lagi aku tidak peduli. Aku hanya butuh sesuatu untuk melampiaskan amarahku yang tertahan.

Grep.

 

“Jangan buang tenagamu untuk melakukan hal bodoh ini.”

Reseptor di sarafku dapat merasakan sesuatu yang hangat menahan kedua pergelangan tanganku. Refleks aku mendongak guna mengetahui siapa yang berani menahanku.

“Lee Hongbin?”

Ia menghembuskan napasnya. Kedua kakinya sudah ditekuk, ia berjongkok di hadapanku. Tangannya mengenggam sapu tangan hitam kesayangannya. Dengan telaten, dia membersihkan butir-butir salju yang menempel di kedua tanganku.

“Apa yang kau lakukan? Kau ingin mati kedinginan?” tanyanya dengan sarat dinginnya. Asap putih dingin mengepul dari balik mulutnya sesaat ia berucap.

Mulutku membungkam, enggan mengatakan apapun.

“Choi Ara, kau ini kenapa? Susah sekali kuhubungi, ponselmu kenapa mati? Lalu kau sedang apa disini? Pakai berjongkok dan memukul salju-salju tak bersalah itu. Pikiranku sudah kalut, mengap-“

“Hongbin-ah.”

Hongbin terkesiap. Dihentikannya aktifitasnya untuk sesaat. Kini pandangannya sudah beralih pada gadis yang tengah menatapnya, dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Y-Ya?”

“Ajak aku ke Namsan Tower.”

*

Gadis itu tidak dapat berhenti senyum sejak sepuluh menit yang lalu. Deraian air mata kini tak lagi membasahi pipinya, hanya meninggalkan bekas yang akan segera menguap. Iris dark grey-nya menatap pemandangan kota Seoul di malam hari yang disuguhkan melalui kaca jendela yang lebar itu.

“Kau senang?” tanya Hongbin sesaat menolehkan kepalanya hanya untuk sekedar mengecek keadaan gadis itu.

“Sangat!” jawabnya dengan lantang.

“Terima kasih, Hongbin-ah.”

“Untuk apa? Bukankah ini sudah keinginanmu ke Namsan Tower bersamaku? Mian, aku baru bisa mewujudkannya sekarang.”

Ara hanya terdiam. Pikirannya tiba-tiba saja melayang, terpaut pada satu hal. Kedua tangan gadis itu kemudian menggamit lengan kekar Hongbin yang tertutup seragam putih.

“Hongbin-ah, kumohon jangan tinggalkan aku,” bibir mungil itu meminta dengan lirih. Perlakuan Ara jelas membuat Hongbin heran.

“Mengapa aku harus melakukannya? Dan juga, mengapa kau berkata demikian?”

Kedua ujung bibir Ara terangkat, membentuk sebuah senyuman untuk menutupi kepedihannya, “Karena orang yang kucintai kerap meninggalkanku.”

“Apa maksudmu?”

Pertanyaan Hongbin seakan mendesak Ara untuk menceritakan apa yang baru dialaminya. Membuatnya terpaksa mengulang cerita sedihnya itu.

Appa dan Eomma meninggal, mereka meninggalkanku.”

Saraf Hongbin bekerja, membuat pupilnya melebar begitu saja. Tangan gadis itu terasa bergetar, terasa jelas melalui reseptor yang ada di kulitnya.

“A-Aku.. tidak punya siapa-siapa lagi,” detik ini Ara sudah terisak. Hongbin menatap lirih pada gadis itu. Segera ditariknya gadis itu ke dalam dekapannya.

“Sudahlah, jangan menangis begini. Ingat, kau masih memiliki aku dan juga kakakmu. Kau terlihat jelek kalau menangis,” Hongbin berniat menenangkan, tetapi berujung dengan sebuah cibiran, dilengkapi dengan cengirannya. Lantas membuat Ara mendorongnya dan terbebas dari dekapannya.

“Kau tidak membantu!” cicit gadis itu sebal. Dengan hidung kemerahannya, dan pipi semerah tomat. Tak lupa, matanya yang sembab, ditambah dengan bibir mungilnya yang membentuk kerucut kecil. Hongbin sudah gemas dibuatnya.

Ya, chankkaman! Kita baru saja sampai, masa kau sudah mau pergi lagi?” protes Hongbin saat Ara berjalan pergi mendahuluinya dengan kaki yang dihentakkan.

“Sesukaku!”

Aish, mana bisa begitu!”

“Tentu saja bisa, mengapa tidak?”

Hongbin mendengus pelan, memaksa segerombolan karbon dioksida keluar dari mulutnya.

“Kalau kau pergi sekarang, kau akan mengagalkan rencanaku.”

Ara termangu dengan perkataan Hongbin barusan. Rencana? Rencana apa? batinnya bertanya penasaran. Tetapi mulutnya enggan bersuara.

Hongbin berjalan mendekatinya, mumpung gadis itu sedang terdiam. Ia menatap lekat-lekat gadis yang lebih rendah darinya itu. Kini kedua kakinya sudah tertekuk. Ya, pria itu berlutut di hadapan gadis yang sudah menganga dibuatnya.

“L-Lee Hongbin, apa yang kau lakukan?” akhirnya ia bertanya. Dengan ekspresi kaget sekaligus risihnya, terlebih banyak pasang mata menatap mereka aneh. Pasalnya, mereka masih mengenakan baju seragamnya masing-masing.

“Choi Ara, menikahlah denganku,” Hongbin berujar mantap. Kedua manik matanya menusuk retina Ara yang enggan bergeming melainkan hanya memandangnya tak percaya.

“Hongbin-ah, k-kau serius?”

“Tentu. Menikahlah denganku, Ara-ya,

“Aku tahu aku tidak punya apapun, tetapi aku akan berusaha. Setidaknya aku memiliki cinta untukmu,” lanjut Hongbin disertai senyuman lembutnya.

Saraf yang mengontrol seluruh tubuh Ara kini sulit bekerja dengan normal. Gadis itu membeku. Mendengar ucapan pria itu terdengar begitu tulus, bahkan hingga ketulusannya membuat hati Ara luluh.

“Tidak perlu, Hongbin-ah. Kau tidak perlu bekerja keras. Aku tidak membutuhkan apapun darimu, selain hatimu.”

Mata Hongbin mengerjap begitu mendengar respon Ara. Untaian kalimat itu membuat otak Hongbin lebih bekerja keras untuk mencernanya. Ia bangkit setelah mengerti apa yang dimaksud gadis itu.

Detik berikutnya, Hongbin bangkit. Seulas senyum sumringah telah tercetak di bibirnya, bersamaan dengan manik hazel yang berkilat memantulkan cahaya kebahagiaan, “Jadi, kau mau?”

“Aku tidak punya alasan untuk menolak, Lee Hongbin.”

 

– fin –

 

 

HAAAAI OMG AKHIRNYA TAMAT JUGA. Jujur aja, aku juga pening membuat ff sepanjang ini lol. Maafin kalo feel-nya ga dapet, HUHUHU. Aku masih belajar, jadi PLEASE GIVE COMMENT okeeey? Thanks muah muah!

 

Love, zhafira

3 thoughts on “[Oneshot] Stockholm”

  1. Aih thor, gakuku bgt dah *baca : ga kuat*
    So sweet bgt, feel nya dapet bgt ><
    Tp emang ada toh stockholm sindrom itu?
    Wuih kalau seganteng hongbin mungkin kali yak?
    Wkwkwk ~
    Nice story thor! Lanjutkan ~

    Suka

  2. Pas baca ini, suka ngebayangin setiap adegan sama hongbin ㅋㅋㅋㅋ
    suka senyum² sendiri. Maulah kalau yg nyulik mas mas cogan.

    Ditunggu karya yg lain 😊

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s