[Vignette] December

December

DECEMBER

Abee’s storyline

||Starring||

OC as You, INFINITE Kim Sunggyu

-AU, Romance-

Vignette

PG-13

“All the caracters belong to them selves and God. The story is mine”

Summary:

Ketika Desember datang, aku tak akan membiarkanmu sendiri…lagi.

^_^

Malam berganti pagi, siang, dan kembali malam menyelimuti di akhir hari. Semua berjalan, berganti dan terus berubah. Namun baginya tak ada yang berubah dalam kehidupannya.

Ia dengan sepasang iris kelabunya kembali menatap sepasang manusia di balik jendela kaca yang tengah saling tersenyum, sesekali bercanda dan bertukar cerita penuh ceria.

Desahan meluncur diantara bibir tipisnya. Bahkan kehangatan dari keluarga pun tak pernah ia dapatkan. Rasa iri itu selalu hadir dalam ruang hatinya. Satu-satunya perasaan yang bersedia mengisi kekosongan dalam hatinya. Hati yang begitu kosong diantara hiruk piruk kota malam tempatnya berpijak.

“Dingin”

Gumamnya sembari menggosokkan kedua telapak tangannya, kemudian pergi menjauh. Tak ingin berlama-lama meratapi diri dalam kesendirian.

Tak ada yang tau kesepianya. Semua yang melihatnya hanya menganggapnya sebagai gadis yang sempurna. Wajah cantik, bertubuh mungil dengan rambut hitam legam yang terurai panjang dan jangan lupakan latar belakang ekonomi keluarganya. Dia lah pewaris tunggal keluarga jutawan paling terkenal di kotanya. Song haneul.

Namun baginya semua tak berarti apapun saat ia tak bisa mendapatkan kebahagian, bahkan ia sendiri lupa bagaimana caranya tersenyum. Ia tak ingat kapan kedua sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah lengkungan indah. Yang melekat dalam angannya hanyalah kehampaan tak berujung.

~

1 December

“Persiapan sudah hampir selesai nyonya”

Tutur seorang yeoja paruh baya dengan sopan dan lembut pada sang majikan yang tengah melahap sarapan.

“Bagus, dan jangan lupa siapkan gaun untuk haneul. Aku sudah pesankan kau tinggal ambil sehari sebelum acara. Pokoknya semua harus rapi dan terlihat mewah”

“Baik nyonya”

Tak lama, gadis yang sejak tadi dibicarakan memijakan kakinya ke ruang makan megah itu dan segera duduk untuk selanjutnya melahap hidangan di hadapannya tanpa menatap atau memberi sapaan pada kedua orangtuanya. Baginya itu bukan lagi hal penting saat kau tau mereka tak akan menghiraukan sapaanmu dan berkutat dengan dunia materialistis.

Uang memang penting, siapa yang tak ingin hidup dengan banyak uang. Namun itu bukan segalanya, dan uang bukan pengukur sebuah kebahagian.

“Kau tidak memberikan morning kiss untuk eomma? Setidaknya sapaan. Jarang-jarang kan kami di rumah”

Haneul diam, menyuapkan sesendok cereal coklat ke dalam mulutnya. Seolah tak ada yang bicara kepadanya.

Sang ibh menarik nafas panjang lalu tersenyum kecil.

“Aku sudah siapkan gaun untukmu. Rancangan designer ternama, pasti cocok untukmu”

“Terserah”

Jawab haneul acuh. Ayah haneul yang sejak tadi tak peduli pun melirik putri semata wayangnya.

“Dengar haneul~ah, semua yang kau pakai itu harus bagus dan memperlihatkan bahwa kau orang nomor satu di korea! Kau tidak bisa asal! Dan jangan pakai kemeja murahan macam itu lagi! Kau bisa beli yang lebih bagus! “

Desahan berat meluncur diantara bibir haneul. Gadis itu segera bangkit dan berjalan pergi.

“Ya! Eommamu sedang bicara! “

“Aku dengar dan sekarang aku harus pergi”

Sayup-sayup angin menyelinap diantara jendela bus di samping tempat haneul duduk. Tatapannya kosong hingga kemudian ia terkantuk.

“Nona, hey bangun…nona ayo bangun”

Haneul terkejut saat sesorang mengguncang bahunya cukup keras. Tatapannya langsung mengarah pada seorang namja yang duduk tepat disampingnya dengan wajah kesal.

“Akhirnya kau bangun, kalau kau mengantuk tidurlah dirumah jangan di bus umum. Apalagi pundak orang”

Gadis itu hanya melongo menatap namja sipit yang kini telah turun dari bus yang mereka tumpangi. Kesadaran haneul masih belum sepenuhnya terkumpul hingga ia tak sadar ia baru saja melewatkan halte kampusnya.

“Ahjusi… Stoooooooop! “

Haneul mendudukkan diri dibawah pohon yang sudah tertutup salju sepenuhnya. Ia mendesah dan memejamkan matanya sesaat.

“Hey kau! “

Sebuah panggilan, haneul menoleh dan mendapati sosok yang sama yang ia temui pagi tadi di bus. Namja berhodie hijau itu berjalan mendekati haneul yang terus diam.

Namja itu menyodorkan sebuah anting perak kecil berbentuk bintang. Haneul mengrenyit.

“Aku menemukannya tersankut di bajuku. Kupikir ini milikmu”

Haneul memeriksa telinganya, dan benar anting sebelah kirinya tak ada.

“Eo, kamsahamnida”

“Boleh aku duduk disini?”

“Ne?”

“Kenapa? Tak boleh? Tak apa”

“Anni, maksudku silahkan saja”

Namja itu meringis memamerkan deretan giginya dan duduk disamping haneul. Gadis itu melirik namja dismapingnya yang kini sibuk membaca sebuah buku.

“Song haneul, itu namamu kan?”

Haneul diam, sedikit bingung. Bagaimana namja ini tau namanya, padahal mereka tak saling kenal.

“Kau tidak perlu kaget begitu. Semua orang pasti tau putri orang  nomor satu di korea”

“Oh geurae”

“Aku selalu melihatmu sendirian, kau tak punya teman dekat? Atau tak suka bergaul dengan golongan ekonomi rendah?”

Haneul mengerjapkan matanya beberapa kali. Mencoba menepis perasaan aneh yang muncul saat tatapanya bertemu dengan mata namja sipit itu.

“Kenapa diam?”

“Ne? A aniyo, aku tidak begitu”

Sunggyu memincingkan matanya, dan detik selanjutnya ia terkekeh. Haneul terdiam, terheran dengan sikap namja yang tak ia tau namanya itu.

“Aku hanya bercanda, aku kim sunggyu. Senang berkenalan denganmu”

Haneul masih diam dan entah sejak kapan ia tersenyum kecil dihadapan namja yang ia kenal sebagai kim sunggyu itu.

~

5 December

Salju turun semakin lebat. Haneul membungkus dirinya hanya dengan sebuah baju rajutan dan berjalan diantara hamparan salju. Gadis itu duduk di kafe untuk menikmati secangkir kopi panas.

“Permisi, ini pesanan anda nona”

Haneul menoleh dan mengangguk ramah pada pelayan yang mengantarkan kopinya. Ia terkejut saat tau sang pelayan adalah sunggyu, namja itu pun terkejut namun akhirnya tersenyum. Senyum yang sama seperti yang haneul liat saat pertama mengenalnya, beberapa hari yang lalu.

“Kita bertemu lagi”

“Ne”

“Kalau begitu selamat menikmati kopimu. Aku harus bekerja lagi, sampai jumpa”

Haneul kembali mengangguk dan sunggyu berlalu.

Sudah satu jam sejak ia datang kemari. Kini matanya berpaling menatap sosok namja yang tengah melayani pengunjung lain yang tak jauh dari tempat ia duduk, sunggyu. Namja itu sempat mengerling dan tersenyum padanya.

Haneul bangkit dan hendak melangkah menuju pintu keluar saat ia berpapasan dengan sunggyu.

“Sudah mau pulang?”

“Ne”

“Apa ada yang menjemputmu? Sudah malam dan diluar sangat dingin”

“Tak apa, aku biasa pergi sendiri”

“Sungguh? Eum kalau begitu sebentar”

Sesaat sunggyu berlalu dan kembali dengan sebuah syal merah ditangannya. Ia tersenyum dan melingkarkan syal itu di leher haneul.

“Bajumu terlalu tipis, ini akan menjagamu tetap hangat. Pulanglah jangan sampai terlalu larut”

Haneul diam tak berkutik. Ia tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Ia merasa aneh, tak pernah ada yang memberinya perhatian seperti ini padanya. Tapi sunggyu melakukannya. Dan ia bersyukur.

~

6 December

Hari masih terlalu pagi namun haneul telah bergegas menaiki bus ke kampusnya setelah menyempatkan diri membeli dua kotak susu. Ia sendiri heran, mangapa ia mengambil dua. Tak ada niat untuk meminum keduanya sekaligus, haneul bukanlah orang rakus. Yang ia pikirkan tadi hanya, sunggyu.

Dan tepat setelah memasuki gerbang universitas, kedua pasang matanya mendapati sunggyu tengah berjalan beberapa langkah di depannya. Haneul tau itu dia meski hanya melihat punggungnya.

Haneul mempercepat langkahnya mengejar sunggyu. Namja itu menoleh, menyadari kehadiran seseorang disampingnya. Sunggyu tersenyum melihat haneul berjalan disampingnya dengan wajah kaku berhias rona merah di kedua pipinya.

“Selamat pagi”

Seperti biasa, sunggyu selalu menyapa gadis itu duluan. Ia tau, menunggu haneul menyapanya hanyalah sia-sia. Gadis itu terlalu pendiam dan sepertinya tak percaya pada orang lain. Kurang lebih seperti itu argumen sunggyu tetangnya.

“Oh, selamat pagi”

Keduanya kembali terdiam. Sunggyu hanya berkonsentrasi pada langkah kakinya. Sedangkan haneul, ia sibuk merangkai kata atau lebih tepatnya mencari alasan untuk memberikan susu coklat pada sunggyu. Tanpa sadar gadis itu menggerutu dan beberapa kali menghentakkan kakinya sebal. Sunggyu yang sadar dengan kelakuannya hanya tersenyum diam-diam.

“Apa?”

Tawa sunggyu pecah saat melihat wajah bingung haneul. Sungguh demi apapun haneul sangat manis saat ini.

“Kenapa kau tertawa?”

Susah payah sunggyu meredam tawanya yang mulai menarik perhatian banyak orang. Haneul hanya menautkan sepasang alisnya. Masih manatap sunggyu bingung.

“Maaf ya. Tapi kau benar-benar sangat manis”

Haneul mengerjap beberapa kali. Hawa panas menjalar ke seluruh tubuhnya, menimbulkan warna merah muda merekah di kedua pipinya. Ia tersanjung sekaligus malu. Sunggyu terlalu berterus terang kali ini, atau hanya bualan belaka. Ragu haneul, namun tak dipungkiri ia senang sunggyu mengatakan itu.

“Ini”

Entah keberanian dari mana, kini haneul mengulurkan sekotak susu yang sejak tadi ia genggam. Gadis itu terus berusaha menutupi kegugupannya saat ini.

“Untukku?”

“Tentu saja, kau yang ada dihadapanku saat ini. Pabo”

Sunggyu mengerutkan dahinya. Tadi haneul bilang apa? Pabo? Padanya? Sunggyu heran, bagaimana mungkin haneul bisa mengucapkan kata macam itu. Seingatnya gadis itu sangat pendiam dan menutup diri. Namun ia senang bisa mendengar kata yang mungkin haneul tak katakan pada orang lain. Yah meski sebuah kata olokan.

“Gomawo. Lain waktu aku ingin mendengarmu bicara lebih banyak lagi”

~

10 December

Haneul menatap jenuh dosen pengajarnya. Lagi-lagi tugas kelompok, ia sangat benci hal ini. Haneul tak pernah suka berurusan dalam kelompok, baginya itu sangat merepotkan. Lagi pula tidak akan ada yang mau berkelompok dengannya.

Bising para mahasiswa masih menggema di ruang kuliah. Tak sengaja, tatapan sunggyu mengarah pada sosok gadis di pojok ruangan. Namja itu mengamatinya sesaat kemudian berjalan menghampiri gadis itu.

“Haneul~ah”

Merasa namanya dipanggil, haneul menoleh cepat. Matanya berbinar mendapati sosok sunggyu menghampirinya dengan senyum cerah.

“Ne?”

“Umm, kau mau berkelompok denganku? Aku belum ada teman”

Haneul menatap sunggyu. Sekali lagi terheran dengan kelakuan namja sipit ini. Sementara namja itu masih menanti jawaban haneul.

“Jadi?”

“Baiklah”

Dan untuk pertama kalinya haneul memamerkan senyum cerahnya.

Siang hari, haneul dan sunggyu sudah duduk di cafe untuk makan siang sekaligus membicarakan proyek yang akan mereka kumpulkan untuk tugas minggu depan.

Sunggyu bicara banyak hal dan haneul hanya menyimak. Sesekali gadis itu tersenyum menanggapi ucapan sunggyu. Meski canggung, namun haneul tetap senang berada dekat dengan sunggyu.

~

17 December

Beberapa kali haneul menghela nafas selama menunggu giliran presentasi. Ia tak pernah segugup ini.

“Gugup?”

Haneul mengangguk pelan sembari menatap sunggyu yang terlihat khawatir. Namja itu tersenyum hangat sembari menepuk pelan bahu haneul.

‘Semua akan baik-baik saja. Oke”

Haneul tersenyum meng-iyakan kalimat sunggyu. Hingga tiba giliran mereka untuk presentasi. Semula haneul khawatir ia akan melakukan kesalahan, namun dengan sunggyu disampingnya, ia merasa lebih baik. Sunggyu selalu menyambung kalimat haneul setiap kali gadis itu tak dapat menjelaskan materi. Keduanya tersenyum lega saat presentasi mereka usai dengan tepuk tangan dari rekan-rekan mereka.

“Terimakasih untuk presentasinya”

Haneul membuka percakapan setelah sekian lama mereka saling diam.

“Aku juga berterimakasih padamu”

Hening kembali mengambil alih suasana. Hawa dingin menemani langkah pelan mereka berdua. Entah karna merkeka sedang bahagia atau apa, salju yang biasanya tampak membosankan dengan warna putih pucatnya, kali ini tampak indah. Warna putihnya begitu bersih, memberi kesan tersendiri bagi pengagumnya.

Biar begitu, ada sesuatu yang mengusik pikiran haneul. Sejak bertemu sunggyu, pikiran itu terus berputar dalam otaknya. Ia tak mengerti kenapa dan ia sangat penasaran dengan hal ini. Setelah menghela nafas panjang, haneul memutuskan untuk bertanya.

“Sunggyu, boleh aku bertanya?”

“Bukankah yang kau ucapkan tadi juga pertanyaan”

“Ah iya…”

Haneul menertawai dirinya sendiri. Kepalanya tertunduk seolah mencari sesuatu di jalanan bersalju.

“Kenapa kau sangat baik padaku?”

“Kenapa? Memang berbuat baik pada seseorang harus dengan alasan?”

Haneul menatap sunggyu. Namja itu menatap lurus kedepan. Tatapan mata teduhnya selalu menjadi hal yang menarik bagi haneul. Ia tak pernah menemukan mata sperti itu. Ia menyukainya.

“Ku pikir seseorang akan berlaku baik padaku jika aku juga berlaku baik padanya. Jadi aku ingin berlaku baik pada semua orang agar mereka juga baik padaku”

Haneul masih dengan ekspresi dinginnya. Mengagumi sunggyu dalam diam. Entah sejak kapan ia sendiri tak ingat, yang jelas ia senang dipertemukan dengan namja sebaik sunggyu. Dengan kesederhanaan dan ketulusannya, namja itu menghampiri haneul dan memeluk hatinya yang hampa.

“Terimakasih, sunggyu”

~

19 December

Hari ini terasa begitu dingin dan suram. Entah apa yang salah, beberapa hari terakhir sunggyu menjauh. Padahal biasanya namja itu menyapa haneul dan bicara padanya. Meski jarang merespon, namun haneul menaruh apresiasi besar bagi sunggyu di hatinya. Dan kini ia merindukan setiap pertanyaan darinya, perhatian dan tatapan teduhnya.

Tatapan haneul terarah pada sunggyu saat sayup-sayup indra pendengarannya menangkap percakapan di belakangnya.

“Kau yakin?”

“Ah, pasti sunggyu hanya memperalat haneul. Dia itu kan kaya”

“Benar juga. Dasar namja tidak tau diri”

Tangan haneul mengepal keras. Bagaimana bisa mereka berkata begitu. Tau apa mereka tentang sunggyu. Tanpa pikir panjang, haneul beranjak mendekati para penggosip yang baru saja menjelek-jelekan sunggyu.

“Apa kalian berkata begitu pada sunggyu?”

“Bukan begitu maksudku”

“Lalu apa? Jangan sampai aku mendengar hal seperti ini lagi. Kalian tak tau apapun, jadi diamlah”

Haneul berlalu. Gadis itu telah berdiri di depan cafe tempat sunggyu bekerja, entah sudah berapa lama. Ia bahkan tak peduli dengan hawa dingin yang makin menusuk tulang.

“Haneul~ah?”

Sunggyu terkejut melihat haneul tengah memeluk lututnya didepan cafe. Wajahnya pucat dan tubuhnya menggigil. Dapat dipastikan ia disana cukup lama. Sunggyu segera melepas mantelnya dan mengenakannya pada haneul, lalu membantunya berdiri.

“Apa yang kau lakukan eoh? Lihat dirimu!”

“Gwaencantha”

Sunggyu hanya menghela nafas berat menatap haneul tersenyum. Tanpa banyak bicara namja itu menuntun haneul. Gadis itu terhenyak saat tangan sunggyu mengenai kulitnya. Darahnya berdesir, dan lagi-lagi perasaan aneh itu muncul. Sebenarnya, seluruh dayanya serasa hilang, kesadarannya pun ia ragukan. Perasaannya melayang-layang, namun tak ada niatan melepas tautan tangan sunggyu darinya.

“Bisakah tetap seperti ini?”

Sunggyu menoleh, matanya menatap langsung ke mata haneul. Tatapannya sedih, seolah memohon sesuatu dari sunggyu.

“Maksudmu?”

“Kau menjauh dariku gyu, kau berubah. Kau tidak lagi menyapaku dan bicara padaku”

Suara haneul bergetar, susah payah ia menahan lelehan airmata yang sudah siap turun.

“Apa mereka mengatakan sesuatu padamu?”

Sunggyu diam, ia mengerti maksud haneul. Dan memang itulah alasannya. Ia tak ingin dianggap buruk, ia tak suka saat orang-orang beranggapan ia memperalat haneul karna ia gadis kaya. Dan dari semua itu, ia tak mau haneul membencinya karna ucapan orang lain.

“Maaf. Aku tidak bermaksud begitu”

“Aku tau, jadi jangan menjauh dariku. Kumohon”

Sunggyu terdiam sesaat, tangannya meraih bahu haneul. Tatapanya mengarah lurus ke manik haneul.

“Haneul~ah, kita berbeda. Aku tidak sebanding denganmu, ki…”

“Aku tidak peduli. Kumohon, jangan seperti ini. Aku benci. Kita sama, kau saja yang membuat itu nampak berbeda. Aku hanya ingin punya teman, apa itu salah? Kau tau? Betapa senangnya aku saat ada orang yang mau menyapaku. Aku senang saat kau berlaku baik padaku. Dan aku juga ingin berlaku baik padamu, jadi tetaplah disini”

Akhirnya haneul menumpahkan airmatanya, semua yang menyesakkan dadanya ia teriakkan. Ia hanya ingin sunggyu tetap disini, bersamanya.

Sunggyu terhenyak melihat haneul seperti ini. Ia tau, haneul benar-benar terluka sekarang. Ia tak sanggup melihatnya begini, namun ia juga benci mendengar olokan orang tentangnya. Mungkin untuk saat ini ia harus mengabaikan perasaannya, ia tak ingin haneul terluka lagi. Ini sudah cukup.

“Maaf”

Sunggyu menyeka airmata haneul. Terlihat jelas semburat merah di kedua pipi basahnya. Sentuhan sunggyu membuat haneul kembali berdesir.

“Kau harus melakukan satu hal untukku”

Sunggyu terkekeh mendengar haneul bicara dengan nada manjanya. Manis sekali.

“Katakan”

“Aku ingin merayakan ulangtahunku bersamamu”

“Baiklah”

Sebuah senyum terbentuk diwajah haneul. Ini lebih baik bagi sunggyu. Ia senang melihat senyum yang mencerahkan hari-harinya kembali.

~

22 December

“Jawab eomma! Apa hubunganmu dengannya?”

Heneul menggigit bibirnya, tak menemukan alasan untuk menjawab pertanyaan sang ibu. Ia frustasi terus disudutkan dengan berbagai pertanyaan tentang sunggyu. Haneul tau bagaimana ibunya, dan ia khawatir ibunya akan melarangnya menemui sunggyu karna status sosial namja itu.

“Banyak namja yang lebih baik darinya, kenapa kau harus dekat dengannya eoh? Seorang pelayan cafe”

“Dia namja yang baik. Dia tidak seperti yang eomma pikirkan!”

Tanpa sadar haneul berteriak. Ia tak tahan dengan ocehan sang ibu tentang sunggyu.

“Lihat ini, kau berteriak pada eomma karna namja sepertinya?”

“Jangan pernah mengganggunya, atau aku akan pergi”

Haneul berlalu, mengabaikan panggilan ibunya. Ia tak peduli lagi sekarang, ia hanya ingin pergi.

Tepat saat ia hendak masuk ke dalam cafe, sunggyu keluar dari dalam sana. Keduanya saling menatap, dan haneul tau apa yang terjadi. Airmatanya tak lagi terbendung saat mendengar permintaan maaf sunggyu. Ia ingin mengelak dan berlari menjauh, tapi ia tak sanggup.

“Ini bukan karna dirimu, aku ingin menemui orangtuaku disana. Dan aku akan kembali lagi”

“Kalau begitu bawa aku…aku ingin pergi”

Kedua tangan sunggyu menangkup wajah haneul. Membuat tatapan mereka bertemu.

“Kau tidak percaya padaku?”

Haneul menggeleng keras, ia menjauhkan tangan sunggyu darinya. Bukan, bukan ia tak percaya pada sunggyu. Ia sangat percaya, hanya saja ia tak sanggup tanpanya.

“Aku…aku menyukaimu. Aku ingin kau tetap disini”

“Aku juga menyukaimu”

Heneul tertegun, matanya menatap sunggyu dalam-dalam. Memastikan tak ada kebohongan darinya.

“Aku menyukaimu haneul~ah. Tapi ini sangat berat, jadi tunggulah hingga aku bisa berada di posisi yang sama denganmu”

Airmata haneul kembali menetes. Ia senang sekaligus haru. Gadis itu menenggelamkan wajahnya di dada bidang sunggyu. Namja itu merengkuhnya, mengusap pelan pucuk kepala haneul dan menciumnya sesekali.

“Tunggulah, aku akan kembali untukmu”

“Kau harus memenuhi janjimu”

Itulah kali terakhir haneul menatap wajah sunggyu. Ia masih tak percaya semua begitu cepat berlalu. Baru saja ia mengenal cinta, kini ia harus melepasnya pergi.

~

30 December

Suasana meriah memenuhi rumah megah milik keluarga haneul. Seluruh kerabat dan temannya berkumpul untuk menyaksikan haneul meniup lilin ke duapuluh satu miliknya.

Namun meski berbalut gaun mewah dan dipoles makeup, haneul tetap menampakkan raut sedih. Ini tak ada artinya dibandingkan sunggyu. Kedua manik matanya menatap lilin yang mulai terbakar. Mungkin hatinya seperti lilin itu sekarang, meleleh tak berbentuk. Hingga airmatanya tumpah, ia tak kuasa menahan lara. Ia hanya ingin sunggyu disini.

~

Lima tahun kemudian

30 December

Pukul delapan malam saat bel apartment berdering. Haneul menghampiri pintu dengan langkah malas. Ia sudah sangat lelah seharian bekerja dan sekarang ada orang yang mengganggu waktu istirahatnya. Ia sudah berniat memaki sosok di balik pintu itu, namun niatnya urung saat pintu sudah benar-benar terbuka.

“Saengilcukha hamnida, saengilcukha hamnida, saranghanen Song haneul, saengilcukha hamnida”

Haneul tertegun menatap sosok yang tengah memegang kue dengan lilin menyala sambil menyanyikan lagu ulangtahun dihadapannya. Matanya memanas, detik selanjutnya airmata sudah benar-benar jatuh membasahi pipinya.

“Maaf, aku terlambat”

Haneul segera menghambur memeluk sosok dihadapannya. Mencurahkan rasa rindu yang selama ini menyiksanya.

“Kenapa lama sekali gyu? Aku merindukanmu”

“Aku juga merindukanmu”

Sosok itu, sunggyu, balas memeluk haneul. Ia sama tersiksanya setiap kali merindukan haneul dan membayangkan ia menjalani hidup seorang diri. Namun kini ia lega melihat haneul baik-baik saja.

“Hey, kau melupakan lilinnya”

Keduanya terkekeh pelan, dan berakhir dengan haneul meniup lilinnya. Tanpa ada kata, keduanya saling menyiratkan kasih sayang lewat tatapan. Mereka menghapus jarak dan berbagi manisnya ciuman pertama.

Tak sebentar memang waktu memisahkan mereka. Namun mereka bersyukur, pada akhirnya dapat bersatu setelah rasa sakit yang mereka rasa. Dan setelah ini sunggyu berjanji, tak akan lagi membiarkan gadisnya sendiri menemui desember yang dingin.

—-end

Demen banget kalo liat sunggyu jadi sosok manis nan lembut. Dan saya harap dia akan selalu begitu 😁

Kali pertama nitip ff disini, terimakasih sudah mau postingin min…saya terharu…

Dan para reader terimakasih sudah mau membaca dan rcl…keep loving infinite!!!!yey

One thought on “[Vignette] December”

  1. hahaha.
    ngerasain feel nya author. emang gyu bs ya begitu?
    wkwkwkwk.
    tapi kayanya bs deh ngeliat wkt itu dy tlponan sm salah satu artis di get it beauty. gak nyangka gyu begitu. gw kan jg pengen.
    wkwkwkwk.

    yeayyy. lagi main cast nya member infinite.

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s