Magnetic (Chapter 1)

Magnetic (Chapter 1)

Magnetic

(Chapter 1)

Scriptwriter: deerochan | Casts: JB (GOT7), Ai (OC) | Support Casts: Jackson, Mark, Jinyoung, Bambam, Yugyeom, Youngjae (GOT7) | Genre: romance, friendship | Rating: General | Duration: 1000+ words

Summary:

Aku selalu menghargai ketulusan dan dukungan yang penggemar berikan padaku—namun hanya ada satu penggemar yang ada di hatiku.

Disclaimer: ini semua fiksi dan hanya khayalan author saja. Jaebum tetap milik kita semua, kok… (?)

 

 

 

(I’m not joking around, ever since I first got to know you

I’m not the same person I used to be)

 

              Aku duduk di pojok tempat latihan untuk sekedar istirahat setelah latihan yang kurasa cukup berat. Hari untuk comeback stage di salah satu acara TV terkenal di Korea Selatan itu sudah semakin dekat. Kurasa hanya sekitar dua minggu lagi. Malam ini kami telah berlatih dengan keras.

Aku menenggak sebotol air dingin untuk membasahi tenggorokanku, lalu mengusap peluh yang membanjiri dahi serta daguku. Pikiranku sedikit kacau saat ini.

              Kira-kira sudah lebih dari satu tahun aku bersama teman-temanku di GOT7, dan kurasa itu waktu yang sangat lama untuk banyak belajar, dan waktu yang sangat lama pula untuk kami terbiasa dengan kehidupan sebagai seorang idol. Tapi entah mengapa, aku tetap saja merasa tegang saat akan berdiri di panggung. Aku bisa saja dengan mudah tampil baik, namun bagaimana dengan yang lain?

              Hari ini Jackson terlihat tidak serius latihan. Ia berkali-kali membenarkan penampilannya—bukan kali ini saja memang, tapi itu sedikit menggangguku. Begitu pun dengan Bambam dan Mark, mereka terlihat sedikit lemas karena lelah. Youngjae hari ini tumben sekali, ia latihan dengan baik tanpa melakukan banyak kesalahan, begitu pun dengan Yugyeom. Meskipun banyak hal yang mengangguku, terkadang banyak juga hal yang melegakan bersama mereka.

              Saat aku sedang banyak pikiran, aku selalu menulis lagu. Manajerku pernah bilang, “Jangan terlalu serius, percayalah pada rekan-rekanmu. Kalian adalah grup, dan kamu adalah pemimpinnya. Mereka akan mendengarkan apa katamu. Jika kamu merasa lelah, sekali-kali berdiam dirilah untuk menulis lagu atau merehatkan pikiranmu dengan membaca surat-surat penggemar. Dukungan mereka akan membangkitkanmu, percayalah…”

              Aku tersenyum memikirkan kembali apa katanya. Aku merogoh sesuatu dari tas latihanku dan mengeluarkan beberapa amplop surat warna-warni dari para penggemar. Memang, sejak aku berada di GOT7, aku merasa lebih banyak penggemar dibanding dulu saat aku masih melakoni JJ Project dengan Junior. Sekarang setiap hari serasa valentine. Sebisa mungkin aku membaca surat-surat mereka hari itu juga, dan aku selalu menyuruh member lain untuk melakukan hal yang sama.

              Benar, membaca dukungan dari fans yang berasal dari banyak belahan Negara membuat lelahku hilang. Mereka mendukungku sebisa mungkin dengan kata-kata dan hadiah manis, membuat hatiku terasa hangat.             

              “Aku adalah fans pertamamu! Ingat itu, ya?”

              Jantungku berdegup. Sesaat tadi, entah mengapa terlintas kata-kata seseorang yang selalu kuingat sejak dulu. Aku menarik napas dalam-dalam dan menatap acak ke arah lantai.

              Itu adalah ingatan tentangnya.

              Fikiranku melayang ke suatu waktu di masa lalu…

              April, 201x.

              Aku menatap setumpukan kertas-kertas berisi kalimat-kalimat serta pernyataan-pernyataan yang panjang tersebut, lalu beralih pada coretan tanda tanganku di kanan bawah. Sekarang hatiku sedang diliputi rasa bahagia yang teramat, karena aku telah berhasil audisi untuk menjadi idol di salah satu label entertainment yang sangat terkenal. Aku baru saja melakukan pembicaraan panjang dan perjanjian kontrakku di sebuah kafe.

              Sore itu, aku langsung saja pulang ke rumah untuk memberi tahu orang tuaku dan dia. Ya, dia… Ini semua berkatnya.

              Aku pergi ke rumahnya, berlari sekuat tenaga dan tanpa permisi lari juga masuk rumahnya. Mamanya memanggilku dan aku hanya menyapa beliau sebentar. Dengan kecepatan penuh aku masuk ke kamarnya dan melihatnya sedang mengerjakan sesuatu di meja belajarnya.

              Ia menoleh cepat begitu melihatku masuk. Sedikit terkejut, ia bertanya padaku, “Jae Bum? Kenapa tidak bilang kalau—”

              “Aku akan debut!!!” aku berteriak senang. Dia tertegun mendengarnya, tiga detik kemudian ia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Aku melihatnya berdiri, berlari ke arahku dan berhenti tepat di depanku. Kedua matanya basah dan ia terisak-isak keras.

              Aku memeluknya erat dan ia menangis di dadaku hingga kemejaku basah. Aku terlalu bahagia untuk mengatakan apapun sekarang, bahkan melihatnya adalah orang pertama yang menangis karena debutku seolah menambah kebahagiaanku beribu kali lipat.

              “Ai, aku akan debut.”

              Ia mengangguk-angguk keras. “Ya… Aku tahu…” katanya di sela isakannya. Ia lalu membalas pelukanku erat sekali. Itulah pertama kali aku memeluk gadis berlesung pipi yang mungil tersebut.

              Aku melepasnya dan memandangnya yang sudah tenang. Matanya masih berkaca-kaca dan senyumnya itu terlihat seperti pancaran kebahagiaannya. “Aku tahu ini akan terjadi. Aku tahu suatu saat kamu pasti bisa,” ujar Ai lembut. Aku menatap mata bening gadis berponi pagar itu.

              “Ini semua berkatmu, Ai,” kataku padanya.

              “Tidak,” ia menggeleng tegas, “Ini karena Jae Bum sudah bekerja keras selama ini. Aku hanya melihat saja.”

              “Jangan berkata begitu, kalau tidak ada kamu, mana mungkin aku bisa sejauh ini?” jawabku. “Tapi…”

              Ai menatapku penasaran. “Bagaimana dengan janji antara kita berdua bahwa kita akan menjadi penyanyi bersama-sama?” tanyaku ragu.

              Ai terkekeh geli. Aku senang melihatnya tertawa karena pipinya selalu tampak kemerahan. “Jangan dipikirkan! Aku tidak akan menahanmu untuk debut karena janji itu. Apalagi membuatmu menahan diri karena janji itu! Aku akan sangat, sangat sangat, membencimu.”

              Aku tertawa lepas. Aku mengacak rambut hitam lurusnya dan membungkuk sehingga wajahku lurus dengan wajahnya. “Aku tahu kamu tidak akan membenciku,” ujarku menggoda. Aku lalu memilin-milin rambutnya dan kami terdiam cukup lama.

              Ai terlihat sedikit canggung diperlakukan begitu. Ia lalu menurunkan tanganku dan berkata, “Jika nanti kamu terkenal, apa kamu akan lupa padaku?”

              Aku terkejut. “Mana mungkin aku lupa padamu? Jangan bilang begitu, itu membuatku sangat tersinggung.”

              “Maaf,” ia tersenyum menampakkan deretan giginya. “Kalau begitu, aku akan sangat mendukungmu mulai sekarang. Aku akan berteriak dan bertepuk tangan paling keras dari yang lain saat kamu berada di atas panggung! Aku adalah fans pertamamu! Ingat itu, ya?”

              Aku menatapnya dengan rasa gembira yang terasa sesak di dada.

              Sesuatu di masa lalu itu terngiang silih berganti di fikiranku. Mengingat Ai adalah sesuatu yang paling membuatku lemah dan ingin menangis.

              Ai adalah seorang temanku yang sangat berharga. Kami saling kenal dan dekat sewaktu aku masih SMA karena minat yang sama. Ia adalah gadis yang tenang, perhatian, serta menawan. Kami seringkali menghabiskan waktu untuk bermain gitar, bernyanyi atau menulis lagu bersama. Dulu kami pernah berjanji kami akan bersama-sama melangkah maju untuk menjadi penyanyi, akan tetapi Ai seringkali gagal audisi. Hatiku tersayat saat melihatnya. Meskipun begitu, ia selalu tersenyum, mendukungku, bahkan bukannya menganggapku pengkhianat. Ia malahan turut bahagia untukku dan menangis untukku saat aku mengalami masa-masa yang susah sebagai rookie dua tahun yang lalu. Ia menguatkanku dan mengantarku ke manapun aku mau. Ia selalu datang padaku saat aku membutuhkan dengan membawa sekotak kimchi jjigae kesukaanku.

              Aku mengutuk diriku sendiri, kesal. Terakhir aku menghubunginya adalah dua bulan yang lalu. Waktu yang sangat lama bagiku… Dia pasti merasa sedih. Aku tahu dia adalah orang yang baik, ia takut menggangguku jika dia menghubungiku lebih dulu.

              Aku terlalu sibuk bergelut dengan kehidupanku sebagai idol akhir-akhir ini, kurasa aku sudah sangat merindukannya ketika sesak di dadaku mulai terasa. Aku merogoh saku celana dan mengeluarkan ponselku yang selama ini kutitipkan ke manajer. Aku mengambilnya karena hendak menghubungi orang tuaku untuk meminta dukungan serta doa. Kuketik namanya di layar ponselku dan menekan tombol call.

              Aku hanya mendengar nada tunggu dua kali lalu kudengar suara teriakannya di seberang, “Jae Bum!”

              Aku tersenyum senang mendengar suaranya yang ceria menyapaku. “Apa kamu sudah tidak sibuk? Apa kamu butuh sesuatu?”

              Aku menghela napas mendengarnya. “Aku cuma butuh suaramu saja, kok.”

              Ai terdiam sebentar, lalu menyahut, “Kamu sedang lelah dan banyak pikiran, ya?”

              “Kamu yang paling tahu.”

              “Apapun, adakah yang bisa kubantu?” tanyanya khawatir. Aku terdiam dalam lamunanku.

              “Apa… Kamu bisa datang ke comeback stage-ku dua minggu lagi? Aku ingin melihatmu di barisan penonton. Sangat ingin,” tekanku. Kudengar di seberang sana suara tawa halus yang membuatku berdebar.

              “Tentu saja! Mengapa tidak?” katanya padaku, “Aku, ‘kan, fans nomor satumu!”

              Kurasakan pipiku menghangat dan kepalaku seketika dipenuhi oleh kata-kata itu. Suara dan tawa hangat yang mengangkat segala beban dan kelelahanku.

              Suara dan tawanya.

(You appear in my head every day

Whatever I’m thinking about, you star in it)

4 thoughts on “Magnetic (Chapter 1)”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s