[Vignette] 지루한 (Bored)

bored.bee

지루한
( bored )

당신은 네 머리를 끄덕,하지만 당신은 더 말할 싶어 할 때
“ when you nod your head yes, but you wanna say no “

플롯과 스토리:
Ⓒ bee

Title: 지루한 ( Bored )
Cast ( s ): Park Chanyeol – You as Choi Suhee
Genre: Romance – Schoolife – Little bit angst
Rating: PG15
Duration: Vignette

Disclaimer: Plot and Story is mine—Casts made by their god and also their parents. if there are similarities in plot and storyline, it was accidental. Hope you always write a story by your own mind, thankyou.

Ⓒ bee

Prologue:

“Yang kuingat hanyalah, kau pergi meninggalkan senyum bodohmu”

-위선자-

I can’t feel my face when i’m with you—but i love it—but i love it.

Lantunan suara Weeknd itu terus mengiangi telingaku. Seakan-akan seluruh dunia ini menyanyikan lagu itu, telingaku hanya bisa mendengarnya karena earphone yang menggantung indah di lubang telingaku. “She told me you’d never be alone!”, seketika satu dari lantunan lagu itu kunyanyikan karena terlalu bersemangat.

STTT!”

STTT!”

Seakan ada sesuatu yang mengawasiku—peduli amat! Nikmati saja lagu ini. Toh, gara-gara lagu ini, stressku kabur entah kemana. Menyenangkan, bukan?
Kuketuk-ketuk meja di hadapanku senada dengan ketukan lagu ini. “But i love it! But i love it!”, seruku sekali lagi. Aku benar-benar dibuat hebat oleh lagu i—

“Hentikan, bodoh.”, seseorang melepas earphone di telinga kananku semaunya dan membuat peringatan yang ingin ia capslock di telingaku akhirnya terdengar. Pria itu pun lekas duduk bersebelahan denganku lalu membaca novelnya—tanpa menghiraukan tatapan tajamku. Apa-apaan si-tolol ini…
“Darimana saja? Kau tahu, gak?! Aku menung—“, belum sempat memuntahkan semua keluhku, pria itu menyegel bibirku dengan jari telunjuknya. Matanya tetap fokus pada novel dan seketika telunjuknya pun kembali ia turunkan. “Kau sudah mencemari perpustakaan suci ini dengan suara kotormu itu.”, Chanyeol mendesis. “Kau—“, aku hanya bisa memelototi pria itu sinis dan mengubur amarahku dalam-dalam. Kukembalikan tubuhku menghadap depan lalu mengelus-elus dada bersabar. “Aigoo…”, gumamku diiringi dengan hembusan nafas tenangku.

Park Chanyeol—kekasihku. Hubungan kami sudah menginjak tahun ketiga. Satu minggu lagi, tepat di hari natal, hubungan kami genap 3 tahun. Walau kelihatannya kami saling hina-menghina, aku yakin kami saling mencintai satu sama lain.

Aku yakin itu. pasti.

“Kau mau jalan-jalan kemana?”

 -지루한-

Kubilang, musim dingin itu amat sangat menjengkelkan. Namun, Chanyeol bisa mengatasi semuanya—hanya dengan genggaman tangannya itu bisa menjadi pengganti sarung tangan untukku—bahkan terasa lebih panas.
Hacuh!”, bersinku membuat langkah kakiku dan Chanyeol terhenti. Pria jenjang itu lekas membungkukan punggungnya untuk memperhatikan wajahku. “Gwaenchana? Masih kedinginan?”, bertanya-tanya. “Aniya—“
Tanpa berpikir panjang, pria itu melepas kemeja luarannya lalu membuatnya menyelimuti pundakku. Ia lalu merapikan posisi kemeja itu agar ampuh menghangatkan tubuhku—lalu menepuk pundakku mantap. “Bagaimana?”, tanyanya sembari tersenyum lebar layaknya pria bodoh. Aih, tapi bukan berarti ketampanannya berkurang karena senyum bodoh itu. “Sudahlah. Kau ini… bagaimana denganmu?!”
“Tenanglah!”, pria itu terkekeh—membuat wajahku memanas seiring melihat senyumannya. Jujur, aku begitu tergila-gila pada senyumnya itu. Bahkan sejak pertemuan pertama kami. Ah, jadi ingat…

Chanyeol kembali menggenggam tanganku erat-erat. Kami pun kembali melanjutkan perjalan kami—ke SMP kami dulu. Entah apa yang pria itu pikirkan. Mungkin dia merindukan masa-masa itu—masa-masa ketika kami mulai disebut sebagai “pasangan kekasih”.
“Haha, aku juga rindu masa itu…”, ucapku sembari tersenyum lebar. Namun, seakan ada yang mengganjal pikirannya, Chanyeol hanya merunduk di sana, mengacuhkanku. Ada apa dengannya?

“Kau baik-baik saja?”, tanyaku membuat lamunannya buyar. Ia pun memfokuskan pandangannya padaku. “Ah, aniya—kita naik bus, yuk!”, Chanyeol tersenyum kaku lalu kembali merundukan kepalanya. “Ah—“

Firasatku jadi gak enak.

-지루한-

“E-euhm…”, gumamku memecahkan keheningan di ruangan ini. Gila saja dia meninggalkan aku sendirian di ruang kelas ini.
Sudah sejak 30 menit setelah Chanyeol pergi ke toilet. Sebenarnya apa yang dia rencanaka? “Sejak tadi pagi sikapnya mencurigakan!”, seruku jengkel entah pada siapa.

Sebuah pesawat kertas pun seketika terbang dari luar jendela. Entah kenapa bisa masuk kemari. Kuraih pesawat kertas itu lalu kutatap mantap-mantap. “Siapa yang membawanya kemari?”
Beberapa pesawat kertas pun menyusul dari tempat yang sama. 1—2—3—4—dan masih banyak pesawat kertas menghampiriku. Aku tak tahu siapa yang melakukan hal konyol ini. Tapi, pesawat kertas ini mengingatkanku akan sesuatu.
Satu pesawat kertas berwarna merah terbang terakhir membuat lamunanku buyar. Pesawat ini berbeda dari pesawat putih lainnya. Lagipula, setelah pesawat ini terbang, tak ada lagi yang mendarat kemari. “Siapa, sih?!”, tanyaku jengkel.
Menjawab pertanyaanku, seseorang dari luar jendela tertawa begitu lantang dan bersemangat. Siapa lagi selain Chanyeol yang punya tawa idiot seperti itu? Dasar cowok idiot…
Yak! Apa yang kau lakukan di sana!?”, bentakku sembari berlari menghampiri jendela itu. kujorokkan punggungku keluar agar bisa menampakkan wujudku pada Chanyeol. Sedangkan pria yang asyik terduduk di bawah jendela itu terus saja tertawa melihat ekspresi jengkelku. “Wajahmu itu…”, ucapnya di tengah tawa.
“Sudahlah, ayo naik!”, kujulurkan tanganku agar Chanyeol menariknya. Namun, tanpa mendengar ucapanku, Park Chanyeol mendorong tubuhku kedalam diiringi senyuman idiotnya. “Tenang, aku bisa sendiri.”, tegas pria itu lalu berlompat ancang-ancang dan… HUP! Chanyeol berhasil menyebrangi jendela itu—maklum, jendelanya cukup besar untuk pria setinggi Chanyeol. Aku pun harusnya tak perlu khawatir dia tak muat masuk kemari—haha.

Pria yang sudah membuatku nampak bodoh itu kali ini berdiri berhadapan denganku. Ia tersenyum dan menatapku hangat seperti biasa—tatapan yang paling kucintai. “Bagaimana? Apa kau bisa ingat sesuatu?”, tanyanya sembari meraih kedua tanganku dan mengenggamnya erat-erat. “Bagaimana aku lupa dengan cowok ingusan yang ‘nembak’ lewat surat pesawat?”
“Aku bodoh, ya, waktu itu?!”
“Sampai sekarang…”, timpaku dan hanya dibalas oleh kekehan Chanyeol.
Sambil tersenyum, kupandang dinding-dinding atap kelas ini. Masih cerah seperti dulu. Dinding-dinding itu juga masih lekat diselimuti cat kuning. Tak lupa, dua bangku yang letaknya masih di sana—bersebelahan di paling belakang. “Ah… tempat ini masih sama seperti 3 tahun yang lalu.”, terangku lalu melepas genggaman Chanyeol dan beralih pada bangku itu. Kusentuh lembut dasar meja itu dan membuatku perlahan mengingat rinci demi rinci hari yang kami lalui di kelas 8 silam—hari di mana Chanyeol melempar pesawat kertas kemeja ini. Yaampun, bahkan dia masih sama idiotnya seperti dulu.

“Kau ingat, gak waktu kau mengejarku karena aku bolos jam pelajaran?”, Chanyeol bicara dari balik punggungku. Ia pun menghampiriku dan seketika sudah duduk di kursi sebelah—kursinya waktu itu. “Habis, aku ‘kan ketua kelas! Apalagi kau duduk di sampingku karena Bu Kim memaksamu duduk di sini ‘kan!”
“Dan karena itu kita jadi dekat.”, Chanyeol tersenyum sembari memainkan salah satu pesawat kertas yang ia buat. “Daebak~”, balasku lalu terkekeh ceria. Ah, semua memori itu kembali terulang. Ya, Chanyeol memang siswa nakal yang sering bolos jam pelajaran. Dan karena itulah dia duduk di sebelahku yang waktu itu sebagai ketua kelas. Rasanya ingin mengulang masa itu.

Keadaan di antara kami kembali hening. Hanya saling terduduk di bangku kami. menatap kosong kebawah—menunggu salah satu di antara kami bicara.

“Suhee-ya.”, Chanyeol memecahkan keheningan di antara kami. Membuatku menoleh padanya. “Karena kita berawal dari kelas ini… aku ingin mengakhirinya di kelas ini juga.”, tambah Chanyeol tak lama kemudian.

“Kita… kita putus, ya.”

-지루한-

“Kita… kita putus, ya.”

Kalimat itu terus saja berputar di benakku.

Sejak kejadian itu, Chanyeol absen dan tak bisa dihubungi. Semua bertanya-tanya di mana batang hidung pria itu. Begitu juga denganku.
Besok sekolah libur—natal tinggal satu hari lagi. Harusnya besok menjadi hari jadi kami yang ke 36 bulan. Dan aku pun harus merayakan natal tanpa hadirnya Chanyeol setelah sekian lama.

Ha… apa aku harus kencan group, ya?”, gumamku entah pada siapa. Sembari terduduk, mataku terus memandang lurus keluar jendela. Salju sudah turun. Udara pasti jadi semakin dingin. Padahal aku benci dingin—

Hey, hey! Aku dapat kabar dari keluarga Chanyeol—“

Mendengar suara Chanyeol, kutolehkan kepalaku pada sumber suara. Ternyata Mino. “Kudengar, orangtuanya bisnisnya bangkrut, jadi nanti mereka akan pergi ke Seoul!”
“Bangkrut? Kasihan sekali…”
“Kuharap mereka baik-baik saja…”

Seoul?

.

.

“Kenapa mendadak begitu? Apa ada yang salah denganku?
“Ya. aku sudah bosan denganmu. Tolonglah lupakan aku…”

.

.

Jangan-jangan, pesawat kertas itu…

Buru-buru kuacak tasku—mencari keberadaan pesawat kertas berwarna merah yang pernah ia berikan padaku. Tak lama, kutemukan pesawat kertas itu di dalam sana. Kuraih dan kubuka lipatannya. Aku yakin, dia pasti meninggalkan pesan di sana.

.

.

“Gak mungkin!”

BRAK!
Kubangkitkan tubuhku dari kursi yang sebelumnya kududuki—bunyinya membuat seisi kelas beralih menatapku. “Chanyeol… apa dia sudah pergi?”, tanyaku pada Mino.
“H-hah? Kau gak tahu? Dia sudak ke stasiun daritadi. Rumahnya sudah kosong.”

Tanpa pikir panjang, kakiku berlari pergi meninggalkan kelas. Bahkan meninggalkan sekolah. Aku tak tahu bagaimana akan pergi ke stasiun sekarang. Tapi, apapun caranya, aku harus bisa mengejarnya. Salju, apapun itu tak dapatt menghalangiku untuk mengejarnya.
Kali ini, yang terbayang dalam benakku hanya senyumnya. Yang kuingat hanyalah, kau pergi meninggalkan senyum bodohmu. Senyum yang bisa kupandang selama 3 tahun ini. Dan sekarang, itu semua lenyap seiring dengan kepergianmu.

Kaki layuku pun berhenti bergerak—membuat seluruh tubuhku ambruk di tengah-tengah salju ini. Dan yang ada hanya surat pesawat serta rasa cintaku yang terus tumbuh padamu. “Chanyeol bodoh…”, rengekku. Tangisan dan isakkan pun mengalir tanpa henti karena mengingat senyummu.

Dear Suhee bodoh.
Kau tahu? Aku memang tak bisa dipercaya.
Pasti kali ini kau benar-benar terpukul. Maafkan aku sudah membuatmu kecewa. Jujur aku gak bermaksud berkata begitu. Aku gak pernah bosan denganmu, sedikitpun gak pernah terlintas kata bosan. Keadaan yang harus membuatku berkata begitu.
Memang ada saatnya ketika kau tak mencintaiku lagi. Kau juga akan bosan denganku. Tapi, aku akan terus di sini. Terus mencintaimu dan gak ada kata bosan.
Walau aku harus pergi ke Seoul, rasa sayangku tetap ada untukmu. Bahkan jika kau sudah menemukan penggantiku di sana. Kau bisa percaya padaku, ‘kan?
Sudahlah. Kuharap, kau membaca surat ini dan tahu apa maksudku.

Carilah penggantiku yang lebih ganteng, cool, dan pintar dibandingkan aku. (walau sebenarnya gak ada, sih) dan ingat, jika kau tak menemukannya, kembalilah padaku. Aku terus ada di sini. Gak akan pindah kemana-mana, terus di hatimu.

Aku paham, kita pasti akan mengalami hal sesulit ini. Ketika waktu memisahkan kita, dan rasa rindu terus bergema di hati kita. Tapi itulah yang membuat cinta semakin lama semakin tumbuh.

Membesar sampai kata “bosan” tak pernah datang dalam cinta kita.

-5 years later-

“Ya, ya, Eomma! Kau bisa andalkan aku…”

“Apa? Jinhwan dapat nilai merah? Anak itu pasti main PS lagi.”

“Iya, iya… maaf, ya… lagi-lagi gak bisa pulang. Okai, kututup, ya.”

PIK.
Kusentuh tombol reject yang ada di layar ponselku. “Haah… Eomma…”, kuhembuskan nafasku berat sembari terus berjalan.

Hari ini malam natal. Udara membekukan kota Seoul dan tanganku yang lupa bawa sarung tangan—bodoh memang. Harusnya hari ini libur saja. Tapi, sebagai pegawai magang, tugasku numpuk juga ternyata—hari liburku jadi terpotong, kan…

Sedang asyik-asyiknya menikmati keramaian kota Seoul, tubuhku ambruk—seseorang menghantam tubuhku hingga kami sama-sama terjatuh.

“Ugh—“

“Nona, kau baik-baik saja?”, tanya pria itu lalu menghampiriku.

Suara ini…

“Chanyeol?”

Pria yang merasa namanya terpanggil itu pun membuat mata kami saling beradu tatap. Tak lama, bibirnya pun tersenyum lebar—seperti dulu—senyum idiotnya. “Akhirnya kau datang juga.”, Chanyeol merunduk saking bahagianya. Ia tak bisa menahan tawanya karena terlalu senang.

Oh Everybody call me You call me 사랑이라는 이름으로
Call me You call me 너의 사랑을 말해줄래
눈물이 나도 가슴 아파도 사랑을 향해서 가는 for my heart

“Lupa bawa sarung tangan lagi?”, Chanyeol terkekeh lalu membuat tubuh kami serempak berdiri. “Tahu saja…”
Tanpa pikir lagi, tangan hangat itu segera menyambar tanganku dan menggenggamnya erat-erat.
“Kudengar di sekitar sini ada restauran beken, lho!”, Chanyeol mengawali pembicaraan di antara kami. “Ayo kita kesana! Aku lapar, nih!”

Sudah kubilang, musim dingin itu amat sangat menjengkelkan. Namun, Chanyeol bisa mengatasi semuanya—hanya dengan genggaman tangannya itu bisa menjadi pengganti sarung tangan untukku—bahkan terasa lebih panas.

Bosan?
5 tahun berlalu. Bosan tak pernah hadir dalam benakku. Begitupun benaknya. Tak ada kalimat bosan yang berani menghantui kami.

Hanya ada kekuatan cinta di sana. Terus berbunga dan tak berhenti selamanya.

.

Oh Everybody call me You call me 사랑이라는 이름으로

Call me You call me 너의 사랑을 말해줄래

눈물이 나도 가슴 아파도 사랑을 향해서 가는 for my heart

-말-

Makasih udah nyimak sampai selesai, ya! sampe ke greetingnye pula. Hehe. Jangan lupa kasih nice feedback ok! Kasih saran juga gak apalah supaya karya bee makin ok! Sorry for typoness and bad plot/story. Maaf juga karena terlalu singkat.

-with love,
bee.

–greeting, end.

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s