[Ficlet-Mix] FLAME

flame

Title: FLAME | Scriptwriter: avyhehe | Duration: Ficlet-Mix | Cast: Kris (Wu Yi Fan), Zhang Yixing, Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kim Jongin, Oh Sehun | Genre: Family, Friendship, Tragedy | Rating: PG-14

FLAME

“ Kau hanya perlu duduk manis dan lihat apa yang akan terjadi, Yixing.”

 

#1 Burning Stake

Kuda jantan itu meringkik pelan saat tali kekang di lehernya ditarik tiba-tiba, membuat tungkainya yang semula berpacu kencang berhenti mendadak di tepi jalan utama kota yang tersusun dari bongkahan batu persegi. Si penunggang melompat turun dari punggung kuda itu, membetulkan letak pelana yang sedikit miring, dan mengikat si kuda di salah satu pilar bangunan yang berfungsi sebagai rumah minum di pusat kota.

Crimson Serpent; nama rumah minum itu, tercetak besar-besar di permukaan papan kayu tua yang menempel pada pintu masuk. Si penunggang berjalan memasukinya dengan langkah terburu-buru, menurunkan tudung hitam yang menutupi sebagian wajahnya, kemudian berbisik pelan pada pemilik rumah minum yang berdiri di balik konter tua di sebelah pintu.

“Oh, Tuan Kris,” sapa pemilik rumah minum itu dengan tubuh membungkuk, menyadari pengunjung barunya adalah salah satu putra mahkota kerajaan. “Apakah anda mencari tuan Yixing?” tanyanya setengah berbisik, sambil mengelap beberapa gelas antik di atas meja konter.

Kris mengangguk sekilas sebagai jawabannya. Si pemilik lantas  mengarahkan jempolnya pada sebuah meja yang berada di sudut ruangan. Di salah satu kursinya duduk seorang lelaki misterius dengan setelan berwarna gelap, sedang memain-mainkan gelas ditangannya dengan raut muka bosan.

‘Tidak salah lagi, itu pasti Yixing.’ batin Kris sambil berjalan menghampiri meja yang dimaksud. Setibanya di sana, ditepuknya pundak Yixing, membuat lelaki berlesung pipi itu menoleh cepat dan  memasang ekspresi lega saat mendapati kehadirannya.

“Akhirnya kau datang juga, Hyung.” sapa Yixing lesu, membuat Kris heran dengan tingkah adiknya yang tampak janggal itu.

“Ada apa?” tanya Kris dengan kedua alis bertaut. Ditariknya sebuah kursi di hadapan Yixing, kemudian menghenyakkan tubuhnya sendiri.

Tersenyum kecut, Yixing membenamkan punggungnya ke kepala kursi, berusaha menyamankan posisinya. “Aku punya kabar buruk untukmu, Hyung. Lebih tepatnya untuk kita.” jelasnya dengan suara muram.

“Kabar buruk macam apa?” mata Kris langsung memicing tajam, dimajukannya wajahnya ke arah Yixing setelah sebelumnya menoleh ke kiri dan ke kanan—memastikan tidak ada siapapun yang menguping pembicaraan mereka.

“Pembunuh yang berkeliaran di kota sudah ditangkap,” bisik Yixing rendah, kedua tangannya menggenggam gelasnya erat-erat.

“Bukankah itu kabar yang sangat bagus?” dahi Kris berkerut heran. “Beberapa hari terakhir seisi kota memang diresahkan dengan kehadiran pembunuh itu, tapi akhirnya kita berhasil menangkapnya. Menurutku, itu kabar yang sangat bagus.”

Menggeleng lemah, Yixing hanya melempari kakaknya itu dengan tatapan sayu. “Bukan… bukan kabar yang bagus…” ujarnya terbata sambil menelan ludahnya yang mengental. “Pembunuhnya adalah Tao, Hyung.” cicitnya lagi dengan suara yang kian lama kian mengecil.

Napas Kris tercekat seketika. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa penjahat yang selama ini meresahkan kota adalah adik kandung mereka sendiri, Tao.

“Kau tahu hal yang paling tragis dari semua ini, Hyung?” tambah Yixing lagi seraya mengusap wajahnya frustasi. “Aku-lah yang memergoki Tao menyeret mayat-mayat korbannya ke ruang bawah tanah kastil kita. Dia menumpuk mereka di tengah-tengah coretan berpola bintang yang tergambar di permukaan lantai ruangan.”

Erangan pelan meluncur keluar dari mulut Kris, menampakkan rasa kekagetannya atas segala fakta yang dibeberkan Yixing.

“Tao sudah tidak waras, Yixing. Tidak kusangka dia menganut ilmu hitam.”

Mendengar hal itu, kontan saja sepasang mata Yixing membelalak lebar. Dia menatap Kris tidak percaya. “Kau menganggap adik kita sendiri ‘tidak waras’?!” protesnya tidak terima. Entah kenapa sesuatu yang panas mendesak di rongga dadanya. Sebenarnya Yixing memang mengakui kalau beberapa minggu terakhir ini keadaan Tao sedikit tidak stabil—tapi menganggap bocah itu gila adalah hal yang keterlaluan.

“Tidak! pasti ada sesuatu yang salah,” racau Yixing dengan wajah kusut, kedua tangannya meremas kepalanya. “Tao bukan orang yang seperti itu, Hyung. Aku sudah mengenalnya sejak lahir.”

“Begitu pula denganku,” timpal Kris sambil menatap Yixing iba. “Aku tahu perasaanmu, tapi hukum tetap harus dijalankan, dan aku sendirilah yang akan mengadili Tao.”

“Hyung!” Yixing tersentak kaget dari kursinya. Tanpa sadar sebelah tangannya menggebrak permukaan meja hingga keduanya menjadi pusat perhatian seisi kedai.

“Hyung… kumohon,” pinta Yixing, wajahnya memelas dan tampak menyedihkan. “Kalaupun harus menghukum Tao, usahakan jangan sampai membunuhnya.”

“Tidak bisa,” tolak Kris terang-terangan, “Kau tahu sendiri, kan? hukuman bagi pembunuh adalah eksekusi mati. Apalagi korbannya tidak hanya satu. Tapi pihak kerajaan belum memutuskan cara yang tepat untuk mengeksekusi Tao, jadi aku harus segera membicarakannya dengan para menteri,” jelasnya panjang lebar sambil menandaskan sisa minuman di gelas Yixing. Dia pun bergegas bangkit dari kursinya, kemudian menarik tudungnya menutupi bagian kepala.

Dan sesaat sebelum beranjak meninggalkan rumah minum, Kris menyempatkan diri menatap manik mata Yixing dan berkata untuk terakhir kalinya dengan raut muka sedih.

“Saat eksekusi dilaksanakan nanti, kau hanya perlu duduk manis dan lihat apa yang akan terjadi, Yixing.”

Pagi itu mendung dan berawan, dan udara di dalam kota terasa panas lantaran terjebak awan yang menggantung di atas langit. Yixing tengah memandang nanar kobaran api raksasa yang menari-nari di hadapannya. Teriakan-teriakan memilukan terdengar dari balik kobaran api, berasal dari sesosok lelaki dengan tubuh diikat erat pada sebuah tiang kayu. Sebagian tubuhnya telah hangus dilalap api yang menyala-nyala liar. Lelaki itu terus berteriak, meraung, dan meronta-ronta sebagai upaya pembebasan diri, namun semua usahanya sia-sia belaka.

“ARGHHHH…Kalian akan menyesal!! Dewa kegelapan pasti akan membalas kalian!!” teriaknya dengan suara melengking, kedua matanya melotot lebar-lebar hingga nyaris keluar.

Yixing memalingkan mukanya, tidak tega menyaksikan adiknya dibakar hidup-hidup di tengah lapangan eksekusi, disaksikan seluruh penduduk kota beserta para anggota kerajaan yang kini berdiri melingkar di luar lapangan.

Di sebelahnya, Kris ikut menonton tanpa suara. Sebelah tangannya memegang batang obor yang sudah mati. Obor itulah yang tadi digunakan untuk menyulut onggokan kayu bakar di bawah tubuh Tao. Dari luar, dia tampak begitu tegar dan tanpa emosi, namun kesedihan yang mendalam memancar dari sepasang matanya.

“Hyung,” panggil Yixing dengan tubuh gemetaran, cairan bening mulai menggenangi pelupuknya. ”Semuanya sudah selesai,” ujarnya tersendat-sendat. “Kuharap Tao pergi ke tempat yang lebih baik.”

Kris menganggukkan kepalanya  lemah. Diraihnya sebelah tangan Yixing dan digenggamnya erat-erat, mencoba menyalurkan kekuatan. Sambil bergandengan tangan, keduanya lalu berpaling kembali pada kobaran api, menatap tubuh adik bungsu mereka yang mulai lenyap ditelan si jago merah, ditemani aroma daging terbakar dan asap abu-abu pekat yang membumbung di udara.

#2 Better Together

Di tengah dinginnya udara malam, Chanyeol memacu larinya dengan putus asa. Sesekali bocah itu menengok ke belakang dengan wajah ketakutan; seperti sedang dikejar seseorang—atau mungkin sesuatu. Beberapa kali juga kakinya yang tanpa alas itu terantuk bebatuan besar dan menginjak tanaman berduri, namun  cobaan-cobaan tak berarti itu tidak menyurutkan usahanya untuk terus memacu langkah, meskipun rasa perih menjalari telapak kakinya yang terluka disana-sini.

Terengah-engah, Chanyeol menembus gerumbulan semak-semak di hadapannya. Lalu tangisnya mulai pecah. Sambil berlinang air mata, dia mengutuki dirinya sendiri. Dia mengutuki dirinya karena berbeda dengan anak-anak yang lain, dan mengutuki dirinya karena telah melakukan sebuah dosa besar beberapa saat yang lalu.

Tadi siang, tepat ketika usianya menginjak empat belas tahun, Chanyeol membunuh ibu kandungnya dengan tangannya sendiri. Ingatan itu masih segar di kepalanya, saat dia berpapasan dengan ibunya di dapur, hingga tiba-tiba saja semuanya berubah  gelap. Dan ketika kesadarannya telah kembali, dia memekik keras saat mendapati ibunya telah terbujur kaku di hadapannya, dengan sekujur tubuh dihiasi luka bakar stadium tiga.

Chanyeol menyadari bahwa dialah yang telah membunuh ibunya sendiri; karena telapak tangannya mengeluarkan bunyi mendesis dan diselimuti oleh kepulan asap tipis—yang langsung menghilang hanya dalam hitungan detik. Mata Chanyeol memerah menahan tangis. Di hari yang sial ini, dia telah kehilangan orang yang paling dicintainya, dan merasa sangat berdosa meskipun kejadian ini murni di luar kendalinya.

‘Aku adalah monster,’ Kata-kata itu terus bergaung di benak Chanyeol—kala menatap kulit ibunya yang mengelupas dan menghitam disana-sini. Belakangan ini, kekuatannya memang sering lepas kendali. Sejak kecil dia memang diberkati dengan kekuatan aneh, yaitu bisa mengeluarkan semburan api dari telapak tangannya dan membakar benda di sekelilingnya. Tidak ada yang tahu-menahu tentang kekuatan ini selain ibunya dan dirinya sendiri; dan mereka berdua berusaha menutupinya dari semua orang—termasuk tetangga sekitar dan teman-teman sekelas Chanyeol.

Sekarang, orang yang melindungi rahasianya sudah tiada, dan Chanyeol yang tidak tahu harus berbuat apa hanya bisa berdiri mematung dengan pandangan kosong; terus begitu hingga bermenit-menit lamanya. Hingga dia memutuskan untuk angkat kaki dari rumahnya, pergi kemana saja asalkan bisa menjauh dari hiruk-pikuk keramaian dan mayat ibunya yang terus menghantui setiap langkahnya.

Di sinilah dia sekarang; berlarian tak tentu arah di pinggiran kota, menerobos deretan pepohonan yang menjulang dengan angkuh, berharap jatuh pingsan karena kecapaian kemudian terbangun dari semua mimpi buruknya.

“APA YANG KAU LAKUKAN?!!” jerit Baekhyun memecah udara malam—saat mendapati sesosok bocah yang kira-kira seumuran dengannya—tengah berdiri mematung di ujung jurang di pinggiran kota. Baekhyun berlari dan menerjang tubuh bocah itu dengan sekuat tenaga, membuat keduanya jatuh berguling-guling di atas tanah yang basah.

“Menyingkirlah dariku!!!” sentak bocah itu kesal, berusaha mendorong tubuh Baekhyun yang berada di atasnya. Tapi Baekhyun tidak menggubrisnya, malahan semakin kuat menindih tubuhnya dan mengunci kedua tangannya.

“Kumohon,” pinta bocah itu sambil menatap Baekhyun memelas, “Aku hanya ingin mengakhiri hidupku, jadi tolong biarkan aku.”

 “Kenapa?” Baekhyun mengernyit heran, “kenapa kau ingin mengakhiri hidupmu?”

Sebagai balasannya, bocah itu hanya merengut kesal. “Walau kukatakan sekalipun kau tidak akan mengerti!”

“Katakan saja!” paksa Baekhyun sedikit membentak, membuat bocah itu mengerjapkan-ngerjapkan matanya kaget karena sikap keras kepalanya, dan sejurus kemudian si bocah menjawabnya dengan suara yang serak dan menyedihkan.

“A—Aku adalah monster. Aku telah membunuh ibuku sendiri dengan api ditanganku.” kata si bocah dengan wajah ingin menangis. Mendengarnya, Baekhyun tersentak kaget, kedua matanya membelalak dan segera menarik tangannya dari tubuh bocah itu.

“Lihat, kan?” kata si bocah dengan ekspresi muram, “kau pasti tidak percaya atau mungkin menganggapku gila. Sudah kubilang, kau tidak akan mengerti.” dia melengoskan kepalanya kemudian berniat untuk melakukan percobaan bunuh diri lagi. Tapi di luar dugaan, tiba-tiba Baekhyun mengulurkan sebelah tangannya untuk membantu bocah itu berdiri.

“Aku mengerti, kok.” kata Baekhyun diikuti sebuah senyum bersahabat. “Namaku Byun Baekhyun, senang berkenalan denganmu!”

Si bocah hanya terdiam, sekali lagi dibuat kaget dengan sikap Baekhyun. Namun pada akhirnya dia mengangguk pelan, kemudian balik memperkenalkan dirinya.

“Park Chanyeol.”

Malam semakin larut.

Kali ini, Chanyeol tidak berlari sendirian. Di sebelahnya ada Byun Baekhyun, berlari menjajarinya dengan langkah-langkah ringan. Chanyeol tersenyum tipis, menengadahkan kepalanya untuk menatap langit malam yang berbintang, dan menggumamkan sesuatu dengan pandangan menerawang.

Ibu, aku telah mendapatkan seorang teman yang sama sepertiku,” bisiknya lirih, lalu memalingkan wajahnya kepada Baekhyun. “Sampai kapan kita akan terus berlari, Baek?” tanyanya dengan napas patah-patah.

“Sebentar lagi,” respon Baekhyun tanpa menoleh. “Di pinggiran hutan ini ada gubuk tak berpenghuni yang bisa ditinggali untuk sementara waktu.”

“Kuharap para polisi itu tidak menemukan kita,” timpal Chanyeol penuh harap, namun Baekhyun tidak merespon apa-apa. Hal itu membuat harapannya kian meredup.

Tadi, setelah pertemuan mereka di pinggir jurang, Baekhyun berkata kalau mereka adalah buronan nomor satu di Korea, diburu oleh satuan keamanan untuk segera dilenyapkan dari muka bumi. Keberadaan mereka dianggap membahayakan, dan meskipun dada Chanyeol terasa ngilu saat memikirkannya, hal itu memang benar adanya.

Tiba-tiba, sebuah suara berdesing mengagetkan keduanya. Mereka mendongak ke arah langit secara serentak, mendapati sorotan sinar lampu yang begitu menyilaukan. Ternyata, jauh di atas mereka ada helikopter militer yang sedang terbang rendah, terus menyoroti mereka dengan lampu depan yang menyilaukan.

“Target telah ditemukan, segera lenyapkan mereka.” suara berkemeresak terdengar dari dalam helikopter. Setelah itu, munculah satu kompi aparat keamanan dari berbagai penjuru, bergerak mengepung keduanya dengan senapan mesin otomatis yang teracung ke arah mereka.

“Sudah berakhir, ya?” gumam Chanyeol sambil menghela napas dalam-dalam.

Baekhyun meraih sebelah tangan Chanyeol kemudian menggenggamnya erat-erat. “Jangan takut, kita hadapi ini bersama.” ujarnya dengan anggukan mantap. Dia lalu mengacungkannya sebelah tangannya yang bebas ke arah depan, mengeluarkan semburan api dari telapaknya, dan membuat sebuah lingkaran api di sekeliling mereka.

Mendapati kobaran api itu, para satuan bersenjata beringsut mundur, lalu memberikan kode pada sekelompok tim pemadam yang berbaris di belakang mereka.

Baekhyun menerawang kobaran api di hadapannya dengan pandangan kosong. “Saat lingkaran api ini telah dipadamkan, mereka akan menembaki kita sampai mati. Kau siap, Chanyeol?” ujarnya seraya mengeratkan genggaman tangannya dan tersenyum getir.

“Aku siap kapan saja,” sahut Chanyeol yakin dengan seulas senyum di wajahnya. Diam-diam dia bersyukur dalam hati karena Baekhyun menghalanginya untuk bunuh diri di tepi jurang. Yah, meskipun ujung-ujungnya maut juga akan menjemputnya, tapi setidaknya kini ada seseorang yang berada di sisinya; dan mati berdua lebih baik daripada mati sendirian.

#3 No Return

Lorong-lorong yang gelap dan berliku-liku itu seolah tak memiliki ujung. Jongin menyusurinya dengan langkah tertatih-tatih sambil memapah Sehun menggunakan sisa-sisa tenaganya. Wajah keduanya tampak kelelahan; pucat karena dehidrasi; dengan pakaian yang terkoyak di sana-sini. Yang paling parah adalah Sehun, betis kirinya terluka dan robek lantaran terkoyak oleh kuku para Crawler. Mau tidak mau, Jongin pun harus memapah temannya itu, dan melanjutkan perjalanan mereka meski bebannya kini bertambah berat.

Jongin dan Sehun; dua pemuda berusia belia itu tengah menjalankan sebuah misi khusus dari Satuan Keamanan yang beroperasi di Korea Selatan. Beberapa saat yang lalu, mereka ditugaskan untuk menelusuri sebuah gedung fasilitas terlantar yang berada jauh di pinggiran kota, bersamaan dengan kedelapan rekan mereka yang lain. Fasilitas itu adalah sebuah laboratorium ilegal; dibangun oleh perusahaan pengembang senjata biologis yang cukup terkenal di daerah itu.

Tugas Tim mereka adalah mendapatkan serum bernama Z-70 dari dalam gedung, sebuah serum yang menjadi kunci penyembuhan dari sebuah wabah yang tengah merebak di kota Seoul. Wabah itu sangat berbahaya, disebabkan oleh virus yang mengalami mutasi genetik, dan tanpa bantuan serum itu—persentase kesembuhannya adalah nol.

Dibebani tanggung jawab yang begitu besar, Tim itu rela meninggalkan keluarga mereka demi menjalankan misi yang berbahaya. Awalnya, semuanya berjalan dengan lancar, dan dengan mudahnya mereka mendapatkan serum Z-70 di sebuah ruang riset yang terletak di lantai bawah tanah. Namun, malapetaka mulai terjadi saat salah seorang dari mereka membuka pintu baja di sisi ruangan. Dari balik pintu itu, keluarlah berekor-ekor monster mengerikan dengan tubuh seukuran manusia, berbentuk seperti kadal berwarna hitam yang merayap di lantai dengan kecepatan lambat. Melihat gaya merayap yang menjijikkan itu, secara spontan Jongin memanggil mereka dengan sebutan Crawler.

CrawlerCrawler itu mendesis, merayapi lantai dan tembok-tembok ruangan, menyudutkan para anggota Tim dengan liur yang menetes-netes dari mulut mereka. Anggota Tim pun menembaki kadal-kadal itu dengan segala jenis senapan yang mereka miliki; namun kulit para Crawler terlampau keras, dan peluru-peluru yang ditembakkan hanya terpental kembali tanpa memberikan efek apa-apa.

Di tengah keputusasaan itu, Sehun berlari ke sudut ruangan, memecahkan sebuah lemari kaca yang menempel di dinding, dan menarik keluar senjata penyembur api bernama Flamethrower. Bentuk Flamethrower sama seperti senapan pada umumnya; hanya saja senjata itu tidak mengeluarkan peluru, melainkan mengeluarkan semburan api pekat dari moncongnya. Di bagian belakang senjata itu, terdapat selang pendek yang menghubungkannya dengan  ransel silinder yang berisikan bahan bakar.

Di dalam lemari ada tiga buah Flamethrower. Sehun mengambilnya satu, lalu memberikan sisanya kepada Jongin dan rekannya yang lain. Saat kadal-kadal itu mulai mendekat, mereka menyembur monster-monster itu dengan api yang keluar dari mulut Flamethrower; berhasil mengenai setidaknya empat Crawler dari belasan ekor yang ada. Ternyata senjata itu benar-benar ampuh, karena semburan api Flamethrower menghanguskan  Crawler-Crawler hanya dalam sekejap mata.

Sayangnya bahan bakar Flamethrower tidak bertahan lama. Dalam hitungan menit, tangki-tangki dalam ransel telah kosong, dan anggota Tim Keamanan yang tersisa segera berhamburan mencari jalan keluar dengan putus asa. Mereka mulai panik saat beberapa pintu baja yang menjadi penghubung antarlorong tidak bisa dibuka lantaran kekurangan daya listrik; dan sementara itu—sisa-sisa Crawler terus merangkak mengikuti mereka dan mengoyak satu-persatu anggota Tim.

Kini, dari sepuluh orang yang ditugaskan, hanya Jongin dan Sehun yang tersisa. Keduanya berusaha keluar dari tempat itu sambil membawa serum Z-70 di tangan mereka. Sayangnya, setelah dua jam menelusuri tempat itu, keduanya masih belum bisa menemukan jalan keluar karena begitu banyak pintu yang tidak bisa dibuka; sehingga mereka harus berputar-putar mencari rute lain dan menyusuri lorong-lorong gelap yang pencahayaannya berkelip nyala-mati.

Capek?” tanya Sehun dengan napas terengah-engah, diliriknya Jongin dengan sudut matanya. “Kau bisa meninggalkanku disini, Jongin. Tidak apa-apa.

Jongin menatap Sehun aneh seolah-olah dia baru saja mengatakan hal yang sangat menggelikan. “Kau sudah gila, ya?” Jongin memutar bola matanya. “Aku tidak mungkin meninggalkanmu begitu saja untuk disantap makhluk-makhluk menjijikkan itu. Kita sudah berjanji untuk pulang dengan selamat!”

Sehun hanya terkekeh mendengar omelan Jongin. Temannya yang satu itu memang suka mengomel, dan baginya, hal tersebut adalah sebuah hiburan yang tidak ternilai di saat-saat seperti ini. Dia benar-benar tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa kehadiran sosok Jongin—yang pastinya akan terasa sangat membosankan.

Setelah beberapa menit berjalan, mereka akhirnya sampai di ujung lorong dan mendapati pintu baja kokoh yang menempel di dindingnya. Jongin menurunkan Sehun pelan-pelan dari bahunya, kemudian berjalan mendekati pintu itu dan menekan tombol merah yang berada di sampingnya. Setelah beberapa saat menunggu, pintu itu tetap menutup; tidak bergeser membuka sebagaimana mestinya.

“Sialllll!!!” umpat Jongin keras hingga suaranya serak, dan meninju permukaan pintu itu dengan sekuat tenaga. “Ini pintu terakhir yang bisa kita temukan, tapi tetap tidak mau terbuka juga!!” dia meremas kepalanya frustasi, kemudian merosot ke lantai.

Berlawanan dengan Jongin yang dikuasai emosi, Sehun tetap terlihat tenang. Dia  mengedarkan pandangannya ke sekeliling lorong, lalu menemukan sebuah ventilasi kecil di dekat pintu. Mendapatkan sebuah ide, Sehun  merogoh saku celananya,  mengeluarkan sebuah robot seukuran tangan yang berbentuk seperti laba-laba.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Jongin seraya beringsut mendekati Sehun.

“Apapun yang terjadi, serum ini harus sampai ke markas kita,” kata Sehun sambil menyusupkan tabung kecil ke dalam tubuh robot itu. “dan… kalau kita tidak mampu melakukannya, maka widow-bot ini yang akan mengirimkannya,” diletakkannya robot itu ke dalam mulut ventilasi. Dan hanya dalam hitungan detik saja, widow-bot tersebut telah menghilang dari pandangan mereka, merayap semakin jauh ke dalam saluran ventilasi.

“Lalu, bagaimana dengan nasib kita?” Jongin bertanya dengan wajah muram, sementara Sehun hanya bisa menghela napas panjang.

“Aku takut kita tidak bisa pulang, Jongin.”

Mendengar hal itu, Jongin mengerang keras, dan menghempaskan punggungnya ke dinding lorong.

“Kalau begitu, jangan sampai kematian kita sia-sia. Setidaknya kita harus meledakkan para Crawler itu.”

Sehun tersenyum tipis, “tenang saja,” ujarnya seraya memamerkan tabung lain di telapak tangannya. “Kita bisa meledakkan bom Antimatter ini kapan saja.”

“Bom bunuh diri, ya?” sebuah seringai lebar menghiasi wajah Jongin. Tepat setelah itu, terdengarlah suara desisan rendah dari ujung lain lorong, disusul munculnya beberapa ekor Crawler yang merangkak pelan mendekati mereka.

“Sejujurnya, aku belum pernah melihat ledakan Bom Antimatter,” komentar Jongin dengan raut muka penasaran.

“Lihat saja,” kata Sehun mengedikkan bahunya, kemudian melemparkan tabung Antimatter itu pada segerombolan Crawler di ujung lorong. Saat lapisan kaca yang melapisi tabung itu pecah berkeping-keping, tiba-tiba sebuah ledakan yang sangat besar menghempaskan tubuh Jongin dan juga Sehun ke udara, bersamaan dengan runtuhnya gedung fasilitas itu, membuat semuanya rata dengan tanah.

_______

FIN

_______

Hai, ini Ficlet-Mix yang kukirim buat challenge kontes di IFK dan nggak kepilih. Jujur, tulisanku masih kroco dan benar-benar nggak mumpuni. Sebenernya malu juga ngirim ini buat freelance, tapi aku bener-bener butuh feedback dari kalian. Jadi, dimohon kritik dan sarannya ya J

kalian paling suka yang mana dari ketiga ficlet ini?

6 thoughts on “[Ficlet-Mix] FLAME”

  1. aku paling suka yg punya china-line sih ehe. rasa sakitnya berasa banget gitu soalnya
    sarannya sih dirapiin aja penggunaan huruf kapitalnya, tadi masih banyak yg lupa dikapitalin soalnya ehe. keep writing!

    Suka

    1. Halo mbak, makasih udah komen, aku terharu :”)
      Huruf kapital yg di depan tanda titik dan untuk nama org/tempat gitu kah maksudnya? Sama apa lagi ya mbak yg kira2 butuh dikapitalin?
      Makasih buat reviewnya \○▼○/

      Suka

  2. aku suka yang pertama kak,, soalnya lebih greget gimana gitu. ya you know lah gimana rasanya sodara kandung kamu jadi kek gitu…
    aku mau saran ya…. endingnya agak lebih di… (duh gimana jelasinnya ya) akhiri gitu deh. maksudnya aku ngerasa endingnya agak nanggung gitu loh. hehehe gapapa kan yaaa aku komen ^^
    terus berkarya ya avyhehe ^^9

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s