The Prank (Chapter 1)

The Prank

The Prank (Chapter 1)

By: junesonata/unyil

Main Cast:
Jeon Jungkook of BTS and OC

Other Cast:
BTS member and Jeon Wonwoo of Seventeen

Genre:
Romance, Comedy, Hurt/Comfort, School-Life

Rate:
PG-15

Duration:
Chaptered

Summary:

Semua yang ada pada gadis itu adalah sebuah lelucon. Mulai dari rambut hingga nama, semuanya lelucon. Bahkan hidupnya pun merupakan lelucon belaka. Dia tidak lebih dari sebuah badut konyol penuh lelucon yang garing.

Jadi, tidak mungkin kan seorang Jeon Jungkook menyukai gadis itu? Kalaupun ada, perasaan itu juga pastilah hanya sebuah lelucon.

**

 

Prolog

“Hei, sapu ijuk!” teriakan lelaki itu menggema di sepanjang koridor.

Mau tak mau, gadis yang dijuluki sapu ijuk itu menghentikan langkahnya dan menoleh, memperlihatkan wajahnya yang merah karena marah.

“Berhenti memanggilku sapu ijuk!” bentak gadis itu.

Namun bukannya takut, lelaki itu malah tersenyum mengejek, “Itu panggilan yang pas untukmu. Ngomong-ngomong, kau dipanggil guru BP. Selamat berjuang ya, sapu ijuk” ledek lelaki itu sambil memberi penekanan pada sapu ijuk.

Membuat gadis itu menggertakan giginya marah. Sebelum melayangkan pukulan, lelaki itu sudah kabur lebih dulu dan meninggalkan gadis itu beserta temannya.

“Apa lihat-lihat?!” bentak gadis itu lagi.

Namun bukan pada lelaki tadi yang sudah hilang dalam pandangan, melainkan pada orang-orang yang sedari tadi melihat adegan mereka di sepanjang koridor. Mendengar bentakan gadis tadi, semua orang langsung menghambur melarikan diri.

“Kau tidak apa-apa?” tanya temannya yang sedari tadi berada disisinya. Gadis itu menggeleng, “Aku tidak apa-apa. Yeri, kau duluan saja nanti aku menyusul oke?”

Yeri mengangguk, kemudian hanya bisa melihat punggung gadis itu yang semakin menjauh. Dalam hati, ia cemas. Apa lagi yang dilakukan lelaki itu? tanya Yeri dalam hatinya.

Gadis itu menghentakkan langkahnya dan pergi menuju ruang BP sambil menggerutu. Niatnya ingin pergi ke kantin, malah pergi ke ruang BP. Memangnya di ruang BP ada makanan?

Ketika ia membuka pintu BP, disana ada Ibu Kim—guru BP, dan si lelaki sial itu yang tersenyum miring. Uh-oh, dia benar-benar mengadu pada Ibu Kim, rutuk gadis itu dalam hati. Dia kira lelaki itu bercanda kemarin sore.

“June Waterson” panggil Ibu Kim dengan nada rendah, membuat gadis bernama June itu merinding hingga bulu-bulunya meremang. Apa lagi ditatap tajam oleh guru BP yang katanya paling fenomenal di sekolah ini. Dan sekarang June mengerti itu bukan hanya isu belaka.

“I-Iya, bu?” tanyanya takut-takut.

“YA BU YA BU! KAMU TAHU SALAH KAMU APA?” June berjengit kaget.

 

Glek. Mati aku.

“Lagi-lagi kamu telat dan malah loncat dari pagar! Untung ada yang melaporkan. Coba kalau tidak, siapa tahu kamu akan terus mengulangi hal ini. Baru sebulan ajaran baru dimulai, selama itu pula kamu telat. Sekali lagi kamu telat, surat peringatan 1 akan kamu terima! 20 Poin nilaimu kukurangi, dan sekarang, cepat sapu ruang olah-raga!”

“Ba-baik Bu!” ujar June, kemudian ia lari tunggang-langgang ke luar ruang BP sampai nyaris tersandung. Lelaki yang sedari tadi berdiri di sebelah Ibu Kim berusaha mati-matian menahan tawanya. Salah sendiri meremehkanku, pikir lelaki itu.

“JUNGKOOK!!!” teriak seorang gadis dari depan kelas, membuat semua murid menghentikan kegiatannya dan memandangnya horror dan takut. Sementara lelaki bernama Jungkook itu, nyaris saja memuntahkan air mineral yang sedang ia minum.

Dengan jengkel ia memutar kepalanya untuk melihat siapa gerangan yang berani-beraninya meneriakan namanya tanpa ijin. Matanya membulat kala ia melihat ternyata gadis itu yang memanggilnya. Tangan gadis itu terkepal di sisi badannya. Dada nya naik-turun. Napasnya memburu. Gadis itu marah.

Namun tak lama ekspresi terkejut lelaki itu terganti dengan seringaiannya. Ia makin menaikkan sudut bibirnya kala melihat gadis itu mendekati mejanya.

“Nenek sihir badut marah lagi tuh,” Jimin menyikut, namun Jungkook tak menjawab. “Kau apakan lagi sih dia?” kali ini Taehyung yang bertanya. Namun lagi-lagi Jungkook hanya diam, sampai gadis itu berdiri tepat di hadapannya.

“Merindukanku, eh?” Gadis itu mendengus.

“Rindu gundulmu hah! Kau ini perempuan atau lelaki sih? Anggota OSIS saja bukan, seenaknya saja mengadu pada Bu Kim, padahal kamu juga kan sering telat!” cecar gadis itu, tidak menutup-nutupi nada kesal didalamnya.

Jungkook tertawa, membuat gadis itu makin geram. “Salah sendiri, kau juga kemarin mengadu pada Pak Lee kalau aku membolos pada pelajarannya. Impas, kan June?” ujar Jungkook santai.  Sementara gadis bernama June itu membulatkan matanya.

Dari mana dia tahu kalau aku yang mengadu? Apa Pak Lee yang memberitahu kalau aku yang mengadu? tanya June dalam hatinya panik.

Duh ternyata lelaki bernama Jeon Jungkook itu bukan hanya menyebalkan, tapi dia juga pendendam rupanya. Saat kemarin pagi, dia bilang akan mengadukan perihal ketelatan June pada Bu Kim, June tidak menggubrisnya.

June kira itu gertak sambal. Akan tetapi, ternyata benar-benar diadukan.

“Kau itu naif, June. Kau bilang aku melanggar peraturan, lalu kamu apa? Telat tiap hari bukan melanggar aturan? Dasar sapu ijuk.” cibir Jungkook lagi dan sukses membuat seisi kelas menertawakan June.

Membuat wajahnya menjadi semakin merah, perpaduan antara kesal dan malu setengah mati. Padahal kan ia mengadu pada Pak Lee juga gara-gara Jungkook sendiri menjahilinya dengan memasukkan katak ke dalam tas nya.

Karena apa yang di ucapkan Jungkook benar, ia menyerah. Lebih baik ia pergi ke meja nya yang berada tepat di depan Jungkook. Namun sumpah serapah dan umpatan tidak pernah absen dari mulutnya. Dia memaki-maki kenapa sekolah ini begitu menyebalkan. Bukan sekolahnya sih, tapi JEON JUNGKOOK itu yang menyebalkan.

June masih ingat ketika setahun yang lalu ia baru masuk ke sini, semua masih berjalan baik-baik saja. Ia masih mempunyai banyak teman. Sekarang juga masih banyak, sih. Tapi, bedanya, dulu ia tidak di ejek dan dijahili terus!

Semuanya berubah ketika di bulan selanjutnya Jungkook menggejeknya karena suatu hal. Entah mengejek entah mengomentari, entah karena ia dendam pada June, entah apa, yang jelas kalimat itu membuat June dikenal di sekolahnya.

 

“Heh, sapu ijuk! Rambutmu mengganggu mataku. Ikat sana!” celetuk Jungkook. Waktu itu jam pelajaran sedang kosong, sehingga komentarnya yang keras itu mengundang perhatian seluruh anak kelas.

June yang duduk tepat didepannya, menoleh ke belakang dengan heran. “Apa maksudmu dengan sapu ijuk?” sungutnya kesal.

“Rambutmu keriting tidak jelas. Warnanya juga tidak hitam. Cokelat, tapi sedikit pirang. Pasti karena sinar matahari. Rambutmu juga mengembang. Seperti sapu ijuk! Haha.”

“Wah, kau benar, jungkook. Rambutnya seperti sapu ijuk,” Taehyung-teman sebangku Jungkook menimpali. Membuat teman-teman sekelas ikut menertawakannya.

Sementara June, ia menahan amarahnya karena kesal. Di sebelahnya, Yeri, mengusap-usap punggung June berusaha menenangkan. “Jangan dilawan, June. Nanti yang ada malah makin runyam. Kau tahu sendiri kan, dia memang begitu,” bisik Yeri di telinganya. Mau tak mau June menurut, berusaha untuk bersabar.

Namun itu tak berlangsung lama. Keesokan harinya, Jungkook memberi julukan baru lagi padanya, “Aku baru sadar. Kenapa matamu besar sekali, sih?” tanya Jungkook asal. Saat itu, mereka sedang ada di Laboratorium, praktik membuat sabun. Bu Park-guru kimia, sedang keluar, sehingga Jungkook berani membuat onar.

June menimpali dengan kesal, “Kenapa memangnya? Matamu juga besar!”.

Kemudian Jungkook membalas, “Uuuu, galak sekali. Aku kan cuma bertanya” ujarnya pura-pura takut. Ia melanjutkan, “Sudah matanya bulat, rambut seperti sapu ijuk, galak pula. Ih, seperti nenek sihir!”

Dan hari ini ia dengan sukses kembali membuat June menjadi bahan tertawaan seisi kelas. Mulai sejak itulah, orang-orang memanggilnya ‘sapu ijuk’, atau ‘nenek sihir’. Meski pada akhirnya mereka mulai tidak berani mengatai June di hadapannya langsung.

Karena seperti yang Jungkook bilang tadi, dia seperti nenek sihir. Kejam. Dan mereka pun ketakutan hingga tak ada lagi yang berani mengejeknya. Hanya Jungkook yang bertahan. Karena hanya dia yang berani. Oh, dan tentu saja beserta dua setan sahabatnya. Taehyung dan Jimin.

Hanya orang-orang tertentu yang tidak pernah memanggil June seperti itu. Salah satunya Eunhwa, Yeonso, dan Yeri. Dan June pun bersyukur setelah semua itu, mereka berempat masih setia menemaninya bahkan menghiburnya.

“June! June! Halo, Bumi kepada June?” gadis itu melambai-lambaikan tangannya di depan wajah June. June terkesiap, ia tersadar dari lamunannya.

“E-eh, ada apa, Yeon?” tanya June pada Yeonso, sedangkan Yeonso malah berkacak pinggang.

“Kami menunggumu di kantin, karena kamu tidak kunjung datang, kami mencarimu kemana-mana tapi tetap tidak ketemu” ujar Youngji kesal. Eunhwa mengangguk membenari,  “Sebenarnya ada apa? Yeri bilang tadi kamu disuruh Jungkook ke ruang BP ya?” tanyanya. Sementara Yeri yang duduk disampingnya ikut manatap khawatir.

June meringis. Ia lupa kalau tadi dia menyuruh Yeri untuk menunggunya di kantin. Tapi apa daya, setelah dari ruang BP dia harus menyapu ruang olah-raga yang untungnya saja tidak terlalu kotor. Sehingga tidak perlu terlalu lama menyapunya. Setelah itu, ia malah ke kelas dan memarahi Jungkook-yang malah berakhir dengan dia yang menjadi bahan tertawa.

Ia pun menyuruh mereka duduk dan menceritakan kejadian tadi pagi dan saat di ruang BP tadi. Tentu saja dengan berbisik-bisik, karena orang yang sedang dibicarakan tepat di belakang June.

Mereka mengangguk mengerti. “Aish, untung ganteng. Kalau tidak, sudah ku jadikan perkedel!” desis Yeonso. June memicingkan matanya, “Alah, mana tega kamu membuatnya jadi perkedel. Kamu kan lemah sama orang ganteng” cibir June. Eunhwa dan Yeri tertawa. Sementara Yeonso hanya meringis.

Tak lama, mereka pun berhamburan menuju meja masing-masing lantaran Pak Howon, guru bahasa korea sekaligus wali kelas masuk.

“Pagi anak-anak sapanya dengan riang, seperti biasa. Guru yang satu itu memang penyabar dan murah senyum. Serempak, mereka menjawab, “Pagi, Pak.

Kemudian Pak Howon pun mengajar seperti biasa dalam waktu dua jam penuh. Membuat sebagian murid terantuk-antuk. Sebagian mengobrol –dengan bisik-bisik pada teman sebangkunya, mencoret-coret belakang buku, dan ada juga salah seorang yang menjahili temannya.

Contohnya, lelaki bernama Jeon Jungkook itu.

Iseng, ia melemparkan kertas yang sudah di remas-remas tepat mengenai tulang tengkorak seorang gadis di depannya.

PUK

Kertas itu terpental dan menggelinding di meja gadis itu. Gadis itu menoleh ke belakang dan menatapnya tajam. Namun Jungkook hanya tersenyum miring, ia berkata, “Buka kertasnya” dengan nada pelan. Gadis itu menggeram, namun tetap dibuka juga.

 

Sapu Ijuk.

Hanya dua kata, dan itu sudah cukup membuat June naik pitam. Ia meremas kembali kertas itu.  Ia berbalik ke belakang dan lengannya sudah teracung ke atas bersiap-siap melempar kertas tepat ke muka lelaki itu

“June, apa yang kau lakukan?” sebuah suara menghentikan gerakan lengannya, sehingga kertas itu tak jadi terlempar.

June menengok ke arah suara dengan gerakan slow motion, ketika mendapati Pak Howon yang berkacak pinggang, ia hanya bisa menunjukan cengirannya.

“Hehe, tidak kok Pak.” ujarnya cengengesan. Pak Howon menaikkan sebelah alisnya, “Apakah yang ada di tanganmu itu sebuah surat? Untuk apa kau mau melemparkannya pada Jungkook?”

June gelagapan, “Apa? Bukan. Aku.. dia.. itu, apa-“

“Aaa bapak mengerti. Kalau kau mau memberi surat cinta untuk Jungkook, nanti saja. Sekarang, bapak sedang mengajar” potong Pak Howon dengan senyum jenakanya. Sukses, seisi kelas menertawakannya kembali. Semua murid menyoraki June.

“Tembak sekarang saja, June,”  celetuk Taehyung, membuat keadaan semakin ricuh. Karena yang lain pun jadi ikut-ikutan berkomentar.

“Aku tidak menyangka nenek sihir bisa menyukai orang.”

“Kukira dia tidak punya hati.”

“Siapa juga sih yang tidak suka sama Jungkook.”

“Dia munafik ya.”

Mendengar komentar-komentar yang kebanyakan dari perempuan itu, June semakin geram. Mukanya benar-benar merah seperti kepiting rebus. Ia benar-benar malu. Juga kesal. Terlebih lagi, Jungkook tertawa paling keras di belakangnya.

“Jadi, mana surat cintaku?” tanya Jungkook masih dengan tawanya. June semakin geram mendengarnya. Dengan kesal, ia menyumpal kertas itu ke mulutnya hingga Jungkook tersedak.

“Makan tuh surat cinta!” hardiknya. Dan seisi kelas pun kembali tertawa.

A/n: Fanfic ini sudah pernah di publish di wp pribadiku dengan nama pena yang sama yaitu, junesonata atau biasa dipanggil Nyil.

Tolong hargai usahaku ini dengan komentar kalian, ya^^

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s