[Vignette] Can I?

can i

Can I?

Written by PinnochioTall

Poster by me

Main Casts: [Boyfriend] Jo Kwangmin | [aktris] Kim Saeron 

Support Casts: Temukan Dalam Cerita

Genre: Romance | Duration: Vignette | Rated: Teen

—-

Hidup satu atap dengan orang asing adalah suatu mimpi buruk bagi jo kwangmin, apalagi orang asing itu adalah seorang gadis cantik yang mendebarkan hatinya.

—-

Jo kwangmin, lelaki tampan yang dipuja-puja oleh setiap wanita yang melihatnya. Mengagumi wajah berparas cantik dan tampan itu. Sungguh beruntung bagi setiap ibu yang melahirkannya. Tua maupun muda jatuh hati padanya. Tapi, sikapnya yang dingin dan sombong dengan hitungan tiga detik menghancurkan pujian-pujian tersebut.

Jo kwangmin anak dari mr. dan mr.jo, anak tunggal yang hidup mewah jauh dari kekurangan. Keluarga yang harmonis dan serba berkecukupan. Tapi mrs.jo merasa kesepiaan karna anak tunggalnya yang cuek dan dingin tak mampu menghilangkan rasa kesepiannya. Hingga pada suatu hari mrs.jo menginginkan seorang anak perempuan dirumahnya. Dengan cara apa? Hanya ada satu cara, yaitu mengadopsi.

“welcome jo saeron! Ini adalah rumah kamu juga. Jadi bersantai dan relax lah disini..” mr.jo dengan sepenuh hati menyambut kim saeron yang baru saja diganti namanya menjadi jo saeron.

“iya” masih dengan canggung saeron menjawab.

“apanya bersantai dan relax? Bukankah sama saja!” kwangmin bergumam tidak jelas.

“eung?” saeron mendengarnya dan merasa menjadi seorang penganggu dihari ia menginjak rumah tersebut.

Hari telah larut, hari penyambutan jo saeron telah selesai dengan kwangmin tidak ikut dalam pesta kecil-kecilan itu.

Saeron masuk dalam kamarnya yang  berwarna serba pink dengan gambar animasi pinkpunther didinding kamarnya.

“kau lihat? Ada satu orang yang tidak menyukaiku..” saeron berbicara pada pink punther tersebut.

“yaah.. aku tahu, aku harus lebih bersabar, suatu saat pasti dia bisa menerima ku disini.. “ senyuman paksa terukir dibibir manis saeron.

Pagi hari yang tak begitu cerah namun cukup disukai banyak orang,membuat pagi kwangmin  dan saeron sedikit malas untuk bangun, namun saeron yang sadar diri ia tidak lagi berada dipanti asuhan, harus lebih rajin dan berguna bagi keluarga ini. Pertama, selimut ia enyahkan dari dirinya, kemudian berlahan kakinya turun dan otomatis badannya ikut bangun dan kini ia duduk dipinggiran kasur, hanya satu tahap lagi yang sulit ia lakukan, membuka mata nya dan berjalan ke kamar mandi.

“YAAA!! Bangunlaah!!! Ibu dan ayah sudah pergi kerja, jangan salah paham, aku disuruh oleh ibu dan ayah untuk membangunkanmu!” setelah itu kwangmin langsung menutup pintu.

“eung? Ahh,, ya” saeron berusaha berteriak walau suaranya serak efek dari baru bangun tidur.

Lebih kurang dari 30menit saeron bersiap-siap, ia keluar dari kamar dengan memakai seragam sekolahnya.

“pagi” saeron tersenyum ramah pada kwangmin yang sepertinya telah menunggu lama dirinya. Namun, kwangmin tidak membalas senyuman itu dan langsung saja melemparkan seragam sekolah yang sama dengannya.

“pakai ini!”

“i-iya..”

Latar berubah didalam mobil taksi, saeron dan kwangmin duduk bersebelahan, saeron yang benar-benar bingung apa yang terjadi namun takut untuk bertanya pada kwangmin, akhirnya hanya diam dan menunggu apa yang terjadi, maka dari itu ia menyiapkan mentalnya untuk segala hal.

Lagi, latar berubah disebuah ruangan kepala sekolah, ternyata kwangmin mendaftarkan saeron disekolah yang sama dengannya. Dengan sikap dinginnya, kwangmin menyuruh saeron untuk mengisi formulir. Apa daya saeron untuk menghadapi manusia berhati es itu. Dengan berat hati ia mengisi formulir itu, padahal ia sangat menyayangi teman-temannya disekolah, ia juga harus meninggalkan kenangan-kenangannya selama disekolah lamanya, menyedihkan-fikirnya.

“tolong letakan dia dikelas yang sama denganku” kata-kata itu sukses membuat mata saeron hendak keluar dari tempatnya.

“baiklah..” tanpa pertimbangan, kepala sekolah menyetujuinya.

Kawangmin dan saeron berjalan dikoridor sekolah yang sepi, karena siswa siswinya tengah belajar dikelas. Saeron terus menatap wajah kwangmin dengan ekspresi bingung, ia hendak bertanya pada kwangmin, namun terus diurungkannya. Kwangmin bukanlah siswa bodoh, ia tahu dari awal saeron sangat bingung apa yang terjadi, ia juga tahu saeron tidak ingin pindah dari sekolah lamanya. Namun itulah rencananya agar saeron pindah sekolah.

“maaf tanpa bertanya padamu, orang tuaku menyuruhmu untuk pindah sekolah, ini rencanaku agar kamu tidak mengecewakan orang tuaku.” Setelah berkata seperti itu kwangmin berjalan lebih dulu dan masuk ke kelasnya.

“orang tuaku? Mereka juga orang tuaku sekarang!” saeron mendengus dan berjalan menuju kelasnya juga.

“selamat pagi bu guru” saeron tersenyum ramah.

“kamu sudah datang? Silahkan masuk dan perkenalkan diri kamu kepada teman-teman kelas baru kamu ini.”

“iya”

———-

Pelajaran pertama berakhir, dengan mudah saeron sudah mendapatkan teman baru dikelasnya. Sesekali ia melihat kwangmin yang sedang berkumpul bersama teman-temannya.

“aku pikir dia seorang anak yang suka menyendiri, ternyata cukup ceria juga, walau tampang dingin dan sok keren itu masih ada.” Saeron bergumam dengan muka kesalnya.

“siapa yang kau lihat?” gadis dengan rambut dikucir kuda dengan cepat duduk dikursi didepan saeron.

“ahh, tidak ada.” Saeron mengibas-kibaskan tangannya.

“eung? Kwangmin? Kau menyukainya? Dia memang sangat popular disekolah ini, tapi dia itu sangat anti dengan perempuan.”

“anti? Apa dia itu gay?” ucap saeron polos.

“bwahahahaha!!” gadis itu tertawa keras hingga satu kelas melihatnya.

Masih dengan wajah polos, saeron menunggu jawaban dari gadis itu.

“tentu saja tidak! Ya!! Kwangmin! Kau dikatakan gay oleh gadis ini!” sontak saeron kaget dan berusaha menutup mulut gadis yang benar-benar blak-blakan itu.

Kwangmin melihat mereka berdua, tapi seperti yang telah diperkirakan, kwangmin tidak akan peduli. Kwangmin berlalu begitu saja bersama teman-temannya keluar kelas.

“ya! Kenapa kau lakukan itu? Aku bisa mati setiba dirumah nanti.”

“apa maksudmu? Apa kalian tinggal satu rumah? Hahaha” terka gadis itu bercanda.

“iyaa..”

“APAA?!”

Dan begitulah seterusnya, kabar bahwa saeron dan kwangmin tinggal satu rumah menyebar luas keseluruh kelas. Bisa dibayangkan apa yang terjadi disekolah dan pada saeron. Pembully-an? Pertanyaan demi pertanyaan terus menghapiri saeron? Dan pengasingan? Salah besar! Seluruh siswa memberi selamat karena mereka berfikir hanya saeron yang mampu meluluhkan hati kwangmin.  Dengan sendirinya saeron menjadi terkenal disekolah yang belum genap satu bulan ia datangi.

Dirumah pun seperti tidak terjadi apa-apa, kwangmin masih dengan sikap dinginnya dan saeron masih dengan sikap canggungnya. Orang tua mereka mulai memikirkan kedekatan mereka berdua dan menyuruh mereka untuk akrab, kwangmin tidak menyahut, hanya saeron yang berkata ya.

Saeron duduk dipinggiran kasurnya, merasa beban yang ia pikul sangat berat, berupaya menjadi orang yang berguna bagi keluarga dan teman sangatlah sulit. Apalagi setiap yang diharapkan dari mereka sangat bertolak belakang dari kenyataan didirinya.

“tok tok tok” kwangmin masuk ke dalam kamar saeron.

“ada apa?” saeron kaget namun ia berusaha bersikap sewajarnya.

Kwangmin berjalan menuju saeron, berdiri tepat didepannya. Lalu mengusap rambut saeron dengan lembut.

“kamu tidak perlu memikirkan orang lain. Cukup menjadi dirimu sendiri itu sudah menyenangkan hati semua orang.”

“kenapa tiba-tiba..”

DEG!

Kwangmin mengecup bibir  saeron dan tersenyum ramah padanya, percis seperti senyuman yang sering diberikan saeron padanya.

“jalja” kwangmin berjalan keluar kamar saeron.

“apa-apaan itu?! Apa dia sudah gila?” namun seketika ia tersenyum dan memegang bibirnya.

Pagi ini saeron tidak sulit bangun atau mungkin karena ia memang tidak tidur semalaman. Ia juga sarapan dan berangkat lebih awal. Padahal seperti biasanya ia akan pergi dan pulang bersama kwangmin. Dikelas ia juga tidak pernah melirik kwangmin sedikit pun. Saat jam istirahat ia akan ke kantin hingga jam istirahat habis.

Sekolah telah usai, saeron bergegas keluar kelas, menghindari pulang bersama kwangmin, juga agar tidak bertemu dirumah. Saeron telah memikirkan segalanya dengan baik agar tidak bertemu kwangmin.

“ikut aku” kwangmin menarik saeron yang hendak membuka ganggang pintu rumah.

“kita mau kemana?”

“jangan menghindariku.” Mendengar ucapan dingin kwangmin membuat saeron naik pitam. Dengan sekuat tenaganya ia lepaskan genggaman kwangmin dipergelangan tangannya.

“apa yang kau fikirkan? Kau melakukan hal bodoh pada saudaramu sendiri! Aku tidak bisa berakting seolah-olah tidak terjadi apa-apa! Maka dari itu aku menghindarimu!”

“kau bukan saudaraku.”

“apa?”  saeron tidak dapat menahan air matanya, ia juga tidak ingin kwangmin melihatnya menangis, tapi apa daya saeron? Air matanya jatuh begitu saja.

“pabo!” kwangmin memeluk saeron dalam.

“kau bukan saudaraku, karena aku menganggap dirimu seorang wanita. Aku yang pertama kali menghindarimu.  Tapi semakin lama aku menghindarimu, rasa ini semakin dalam. Aku tidak dapat menahanya, jadi aku menyerah dan membiarkan perasaan ini terus berkembang.”

Saeron diam, terus mendengarkan pengakuan yang sangat mengejutkan bagi dirinya, ia juga mulai berfikir kenapa dirinya selalu deg-degan saat bersama kwangmin, selalu terkejut saat kwangmin tiba-tiba didekatnya dan selalu ingin melihatnya.

“aku juga menyukaimu”

The end

2 thoughts on “[Vignette] Can I?”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s