[IFK Movie Request] The Stranger I’ll Call Brother

the stranger ill call brother

based on nurulnijma90’s request on IFK Movie Making

Author namtaegenic Storyline nurulnijma90 Casts Lee Sungyeol [Infinite], Kris Wu [Actor], Choi Bona [OC] Genre Family, College-life Rating PG-17 (mentioning violence act but not explicit) Duration Vignette

© 2016 namtaegenic

:::::

“… karena yang salah adalah salah.”

:::::

Sungyeol tidak ingat kapan terakhir kali ia dan ayahnya terlibat dalam konversasi hangat di meja makan. Selepas merusak kebahagiaan Sungyeol dari hari ke hari dengan perseteruan tiada akhir dengan pasangan hidupnya yang berujung pada pelemparan map berisi berkas-berkas untuk mengurus proses perceraian—ayahnya jadi gemar melancong ke luar negeri. Urusan perusahaan, katanya. Sungyeol tidak pernah membayangkan ayah dan ibunya bisa begitu kekanakan. Lebih tidak bisa membayangkan lagi bahwa hubungan yang kekanakan tersebut berujung seperti ini. Kenapa mereka tidak bisa menyelesaikannya seperti yang mereka lakukan pada masa pacaran dulu—seperti yang sering dikisahkan ibunya Sungyeol saat mereka masih akur?

Lain pendapat Sungyeol, lain pula dengan apa yang dilontarkan oleh Bona, sahabatnya. Sungyeol sudah cukup sering mampir ke rumah Bona hanya untuk mengobrol dengan gadis itu di ruang tamunya, melepaskan semua kepenatan yang ia bawa dari rumah—Bona tak pernah berkeberatan, selama Sungyeol tidak pernah lupa membawakannya upeti seperti vanilla ice cream cake dari toko roti favorit mereka sejak sekolah menengah. Bona serius soal itu, atau Sungyeol tidak akan dibukakan pintu sama sekali. Menurut Bona, justru Sungyeol-lah yang kekanak-kanakan. Karena jika Sungyeol menghadapi masalah ini dengan dewasa, tentunya ia akan berpikir bahwa ayahnya juga berhak bahagia.

“Jadi bagaimana menurutmu, agar semuanya bahagia?” Sungyeol melontarkan pertanyaan ketika mereka sedang berada di ruang tamu gadis itu—seperti biasa, sembari makan dua ice cream cake berbeda rasa.

“Pernah dengar tidak, bahwa pengorbanan kadang membawa suatu kebahagiaan untukmu?”

“Omong kosong, Bona. Omong kosong.” Sungyeol lantas merebahkan kepalanya di bahu sofa, sementara kakinya diselonjorkan. Sofa ruang tamu Bona pasti mahal harganya. Empuknya minta ampun, sekali Sungyeol memasrahkan diri, ia akan terperangkap. “Mana ada pengorbanan itu membahagiakan yang berkorban. Kau terlalu banyak nonton film romansa basi.”

“Dan kau terlalu banyak mengeluh,” Bona membalas ringan sembari mencuri potong cake milik Sungyeol—Bona menyukai rasa stroberi, tapi tidak mau rugi. Lagi pula, Sungyeol tak pernah melarangnya memakan kue miliknya, bahkan kalau Bona mau ambil seluruhnya. Sungyeol hanya perlu teman mengobrol. Dan Bona sahabat terbaik yang ia miliki. Gadis itu punya sejuta kosakata bahkan ketika ia tidak berpihak pada Sungyeol.

“Aku tidak mengeluh, kok,” Sungyeol merengut. “Aku cuma merasa terkuras habis.”

“Ah, drama.”

“Terkuras habis sampai ke titik di mana aku tidak punya pelarian kecuali ke sini.” Lantas Sungyeol bangkit dan menatap Bona dalam-dalam.

“Adopsi aku, Choi Bona! Aku mau jadi saudaramu saja, kumohon dengan sangat, ini permintaan seumur hidup!”

Bona sekali lagi mencomot cake stroberi Sungyeol, kali ini dengan potongan besar, lalu dimasukkannya ke mulut, dan digunakannya sendok mungilnya untuk menunjuk wajah sahabatnya. “Kau,” ujarnya disela kunyahan, “harus bangkit dari kubur. Kecuali kalau kau mau membusuk hidup-hidup di dalam masalahmu sendiri.”

“Whoa, Choi Bona mendadak jadi ahli psikologi!”

Tanpa memedulikan cibiran Sungyeol, Bona melahap semua cake bagian Sungyeol hingga tidak bersisa, memutuskan untuk membiarkan sahabatnya itu menumpahkan keluh kesahnya hingga petang berganti malam dan ia akhirnya berpamitan dengan kedua orang tua Bona.

:::::

 

Begitu sedikitnya kuantitas dan kualitas pertemuan ayah dan anak, membuat Sungyeol menaruh curiga pada ayahnya kali ini. Tuan Lee sengaja memintanya untuk sarapan bersama di luar pukul tujuh. Di restoran 24 jam favorit Sungyeol pula. Ayahnya bahkan memesankan panekuk madu dan coklat hangat untuk mereka berdua—yang mana menurut Sungyeol adalah salah satu dari permainan psikologi ayahnya sebelum menyampaikan sesuatu yang tidak menyenangkan.

“Ada yang ingin Ayah bicarakan padamu, Sungyeol.” Tuan Lee menyiram panekuknya dengan madu, sementara Sungyeol bersandar di bangku dan menatap panekuknya tanpa minat. Apa pun yang dibicarakan ayahnya pada pertemuan ini, rasanya ia tidak ingin mendengar. Terlebih ketika Tuan Lee menghela napas dan tersenyum padanya. Bukan senyum yang bahagia. Bukan senyum yang berbahagia untuk anaknya.

“Bagaimana pendapatmu jika di rumah ada anggota keluarga baru?”

Bagaikan dialiri arus listrik, Sungyeol terlonjak dari bangkunya. Ia menatap ayahnya tak percaya. Bagaimana mungkin ayahnya sudah memikirkan soal menikah lagi, sementara ia bahkan belum resmi bercerai dengan ibu? Bagaimana mungkin ayahnya sehina itu?

“Duduklah, Nak.”

Sungyeol berusaha bernapas teratur, tapi pertanyaan yang lebih serupa pernyataan itu sudah melenyapkan napsu makannya sama sekali—tanpa sisa. Ia bahkan mau muntah.

Namun tak urung Sungyeol menurut. Ia kembali ke bangkunya, lantas mengepalkan jemarinya.

“Katakan padaku, apakah ayah sudah bertemu wanita ini bahkan sebelum semua gugatan perceraian kalian?”

“Kau tidak suka panekuknya?”

Sungyeol menggeser bangku, lantas ia bangkit, dan tanpa bisa dicegah, Sungyeol berlari, menjauhi restoran favorit keluarga mereka dulu. Tidak ada gunanya Sungyeol menjelaskan mengenai kebahagiaan pada ayahnya jika yang ayahnya pikirkan hanya dirinya sendiri.

Sungyeol menelepon Bona. Ia tidak ingin membawa hawa negatif ke dalam rumah Bona yang para penghuninya sangat harmonis. Maka ia meminta Bona untuk mengajaknya pergi. Ke mana saja. Asal jauh dari rumah.

Yang Bona miliki hanya sepeda kesayangannya. Ia tidak mau membawa mobil orang tuanya jika bukan pada keadaan darurat. Dan karena Sungyeol sedang kacau balau, gadis itu tidak mau menerima risiko dibonceng olehnya. Maka dengan senang hati Bona mengayuh sepeda dengan Sungyeol di boncengannya. Mereka pergi ke lapangan basket umum di dekat taman kota. Beberapa anak SMA tampak baru saja selesai menggunakan lapangannya, jadi Bona langsung men-dribble bola basket yang dibawanya di ransel, dan melakukan lay up dengan baik. Lalu benda oranye itu dilemparkannya pada Sungyeol, yang hanya punya dua pilihan—menangkap, atau dihantam.

“Aku mendengarkan,” Bona meregangkan otot-ototnya. Gadis itu punya tubuh yang ramping dan ringan, tapi chess pass-nya telak sekali. Bona jago main basket.

“Ayahku akan menikah lagi.”

“Oke, lalu?” Bola kembali pada Bona. Ia men-dribble-nya kemudian memasukkannya lagi ke ring. “Semua orang yang bercerai bisa menikah lagi, kurasa?”

“Silakan kalau mereka mau!” Sungyeol merebut bola dari tangan Bona, men­-dribble, kemudian menggiringnya ke ring, sebelum akhirnya kembali direbut gadis itu. “Tapi tidak dengan ayahku!”

“Kenapa?”

“Pokoknya tidak boleh!”

“Kau tahu, Sungyeol? Kadang aku merasa akulah laki-laki di sini.”

Sungyeol terperangah. Baiklah, ia belakangan memang suka mengadu, dan barangkali Bona menganggapnya cengeng. Tapi tidak ada yang bisa membuat lelucon soal ‘laki-laki’ atau bukan. Pertanyaan ‘cengeng sekali, kamu laki-laki?’ adalah pertanyaan paling tabu dalam kamus kehidupan Sungyeol, dan bahkan Bona pun tidak diizinkan mengatakannya.

“Apa aku seharusnya membelikanmu es krim?”

“Kau seharusnya tutup mulut,” tukas Sungyeol. Ia kembali merebut bola dari tangan Bona, dan kali ini berhasil memasukkannya ke dalam ring, hanya karena Bona tidak menghalangi. Usai mengatur napas, Bona mengekor kuda rambut panjangnya tinggi-tinggi, dan bersedekap.

“Oke, begini. Aku sudah bilang ini pada ayah dan ibuku. Kau boleh menginap, oke? Tidak ada batas waktu. Kau bisa pakai kamar kakakku, dia masih lama harus menetap di Finlandia—kuliah dan riset dan semacamnya.”

Sungyeol menangkap bola yang meleset dari jangkauannya, lantas memandang Bona tidak percaya. Menyesal sekali ia sudah membentak gadis itu tadi. Bagaimana ia bisa lupa bahwa Bona adalah satu-satunya manusia normal yang ia miliki?

“Itu tawaran yang menyenangkan,” Sungyeol mengoper bola pada Bona untuk disimpan. “Tapi aku tidak bisa merepotkanmu lebih dari ini. Biar kubonceng kau pulang ke rumah.” Sungyeol meraih sepeda Bona dan duduk di bangku pilot. Ia menoleh dan tersenyum, membuat Bona turut menarik kedua ujung bibirnya ke atas dan naik ke bangku penumpang.

:::::

 

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

Pemuda berperawakan bak seorang profesional di atas panggung itu tampak tak terganggu dengan pertanyaan Sungyeol. Bagaimanapun, ia mendongak juga, mengalihkan fokus dari majalah otomotif yang sedang dibacanya di ruang tamu keluarga Lee.

“Entahlah, apa kau merasa pernah melihat wajahku? Selain di televisi?”

Sungyeol menahan geraman demi agar tak lagi teringat soal Bona yang tampak mengecapnya memiliki personaliti yang lemah dan cengeng. Lagi pula, menghentak-hentak di hadapan orang lain adalah tugas perempuan, bukan laki-laki.

Si pemuda televisi itu akhirnya bangkit dan memberikan bungkukan kecil sebagai sapaan. “Aku Kris. Kris Wu. Jangan khawatir, aku tidak akan lama. Hanya mau menyapa calon ayah tiriku. Dan kau … pasti Lee Sungyeol.”

Sungyeol harap ia tidak meledak saat ini juga karena demi Tuhan, wanita itu pakai bawa anak segala? Berikan satu saja alasan kenapa Sungyeol tidak harus berprasangka bahwa pasangan ibu dan anak ini mendatangi ayahnya bukan untuk membentuk sebuah keluarga bahagia. Ya Tuhan, kehidupan Sungyeol kini layaknya sinetron saja. Satu-satunya hal yang bisa Sungyeol lakukan agar tidak menjadi bagian dari drama ini hanyalah membungkam mulutnya sendiri.

Yang mana merupakan hal yang sangat sulit karena semesta sungguh sedang melontarkan lelucon untuknya.

“Sungyeol-ie!” seorang wanita berpakaian necis dengan rambut yang dibentuk sedemikian rupa menghampirinya dan memeluk Sungyeol tanpa aba-aba. Enggan berurusan dengan emosi, Sungyeol pasrah saja hingga wanita itu melepaskannya. “Akhirnya aku bertemu langsung denganmu, Nak! Kau mau ke atas? Aku dan ayahmu sedang membicarakan soal pernikahan kami. Kau dan Kris akan jadi pengiring prianya, bukankah itu menakjubkan? Kalian sudah berkenalan?”

“Sudah, Bu. Kami tidak terlalu tertarik untuk bergabung membicarakan gaun pengantin dan tetek-bengeknya, jadi … ikut suara mayoritas saja,” Kris mengambil alih. Ibunya—yang juga merupakan calon ibu Sungyeol, melambaikan tangannya yang dihiasi cat kuku ungu lavendel dan kembali ke lantai atas.

Kris dan Sungyeol bersitatap. Lantas Kris tersenyum. Bukan senyum yang menyebalkan, meskipun Sungyeol lebih memilih menelan garam ketimbang bicara dengannya.

“Oke, dengar. Aku tahu ini bukan ide yang bagus buatmu. Untuk informasi saja, bahwa aku juga tidak suka ibuku menikah lagi. Tapi bagaimana kalau kita pura-pura bahagia?”

“Kepura-puraan apalagi yang bisa kau dan ibumu lakukan selain pura-pura bahagia?” Sungyeol memicingkan matanya. Kris tertawa, paham benar apa yang Sungyeol maksud.

“Karierku sedang berada di puncak—kalau kau sering nonton TV. Aku bisa memberikan apa yang ibuku inginkan, kecuali seorang suami. Jadi percayalah, ibuku hanya menginginkan keluarga, bukan materi seperti apa yang kau lihat di koleksi sinetron melodramamu.”

Inginnya Sungyeol menonjok wajah Kris, tapi apa pun yang dikatakan oleh pemuda itu tidak mampu dilawannya. Jadi Sungyeol mengambil langkah-langkah raksasa menuju kamarnya, dan sebelum ia membuka pintu, Kris mengatakan sesuatu.

“Kata ayahmu kita satu kampus! Ketemu besok, kalau begitu?”

Sial.

:::::

 

Bona terpingkal-pingkal hingga nyaris melontarkan makanan yang berada di dalam mulutnya. Sungyeol sudah mengira bahwa menceritakan kejadian kemarin pada Bona sama saja memberinya hiburan selepas kelas Dosen Kim.

“Biar kuulangi. Kau dan anak dari ibu tirimu satu kampus?!”

Sungyeol tidak mengerti bagian mana dari ceritanya yang Bona pikir lucu. Tunggu sampai Bona mendengar namanya.

“Omong-omong, dia semacam selebriti. Kalau kau pernah melihat Kris Wu di televisi,” sambar Sungyeol sebelum Bona tersedak.

Benar saja, gadis itu kini berhenti tertawa. Ia membelalak, hingga Sungyeol bisa melihat pantulan wajahnya di bola mata sehitam arang milik gadis itu. Lantas Bona membuka mulut, mengeluarkan suara bergetar.

“Kris Wu? Kris Wu adalah saudara tirimu? Kris Wu?”

Seiring anggukan Sungyeol, Bona tiba-tiba menyerocos tiada henti dengan menyebutkan nama Kris Wu sekitar sejuta kali, dan bagaimana Bona dan gadis-gadis jagat raya mengaguminya, dan mereka rela saling injak demi mendapatkan seringaiannya yang terkenal itu. Sungyeol baru menyadari bahwa mungkin saja ia memang jarang nonton televisi.

“Lee Sungyeol, kalau kau bersedia mengenalkanku padanya, aku akan mengangkatmu menjadi saudaraku!” Bona mencengkeram kerah baju Sungyeol, membuatnya tak berkutik. “Kumohon. Permintaan seumur hidup, oke?”

“Lepaskan tanganmu, Bona, kau seperti vampir haus darah!”

“Bilang ‘oke’ dulu!”

“Oke, oke!”

Cengkeraman Bona mengendur dan gadis itu tersenyum manis sekali. “Nah, saudaraku, bagaimana kalau pulang kuliah nanti kita jalan-jalan dengan saudara tirimu yang keren itu?”

Dan seakan tak ada lagi yang berpihak pada Sungyeol.

:::::

 

Choi Bona benar-benar agresif dan tidak punya malu.

Tadinya Sungyeol pikir Bona dan Kris akan saling menyapa—atau yang sering selebriti dan penggemar lakukan, berjabat tangan, high five, dan fanservice lainnya. Tapi dasar Bona serigala kecil, ia serta-merta memeluk Kris, menggamit lengannya, dan melancarkan jurus selfie dari segala sudut dan dengan sejuta ekspresi bak katak usai menelan lalat. Bona benar-benar mempermalukan Sungyeol.

Di sisi lain, Kris justru tidak berkeberatan. Ia meladeni Bona dan meluluskan apa pun yang gadis itu mau. Setelah puas memonopoli pertemuan, Bona memandang galeri ponselnya dengan senyum puas.

Cewek-cewek Teknik Sipil pasti akan iri padaku!” ujarnya membuat Kris terbahak-bahak. Ia menyempatkan diri untuk mengacak rambut Bona—yang mana membuat Sungyeol tidak suka dan ingin menghajar Kris untuk yang kesejuta kalinya—lalu melambaikan tangan. “Aku ada kelas. Vanilla cake hari Sabtu, Bona?”

“Hari Sabtu berarti kencan?”

Sungyeol menahan napas dan memandang Bona tidak percaya.

“Kencan. Bertiga. Dengan Sungyeol!”

:::::

 

Nongkrong dengan Kris Wu tidak sama seperti nongkrong dengan temanmu yang lain. Semua sudut melihatnya dengan tatapan terkejut sekaligus kagum. Seakan mata mereka menyatakan hal yang sama—‘aku melihat Kris Wu!’. Yang mengherankan dari acara ini adalah, alih-alih bergenit-genit ria dengan Kris, Bona malah menempel pada Sungyeol. Ia kerap menarik Sungyeol untuk menjaga jarak dari Kris. Kris tidak heran, namun Sungyeol tak tahan untuk bertanya kenapa.

“Biar aku tidak disangka pacar Kris. Kecuali kalau aku benar-benar pacarnya. Aku sih, tidak mau ambil risiko diserang oleh penggemar tolol penuh delusi itu.”

“Jadi kau sedang berusaha membuat skenario agar media memberitakan bahwa Kris Wu terlihat sedang jalan-jalan dengan teman-temannya alih-alih pacarnya?”

“Kau cepat tanggap. Choi Bona selalu memperhitungkan segalanya.”

“Jangan lupakan soal tidak mau rugi,” imbuh Sungyeol di tengah kekehan tawanya. Sejak waktu itu, ia pikir ia kehilangan sahabatnya gara-gara Kris.

Mereka pergi ke kafe yang menyediakan kopi dan cake, demi membahagiakan Bona. Dan gadis itu seakan lupa dunia ketika sepotong vanilla ice cream cake dengan siraman saus stroberi terhidang manis di depan matanya. Gadis itu nyaris menitikkan air mata.

“Mengobrollah kalian di tempat lain. Tolong beri aku waktu untuk menikmati cake ini. Kami akan mengobrol banyak berdua saja,” Bona menatap cake-nya dengan khidmat.

“Kau mau temani kami cari kado pernikahan, Bona?” tanya Sungyeol, berharap sekali Bona menyanggupi karena cari kado itu benar-benar merepotkan. Sungyeol tidak ingin sendirian, tapi lebih baik mengubur diri ketimbang cari kado bersama Kris.   

“Aku belum pernah cari kado untuk pernikahan. Sudahlah, belikan saja bed cover mahal. Semua ibu-ibu suka bed cover mahal.”

“Apakah bapak-bapak juga suka?” tanya Kris.

“Bapak-bapak tidak akan memikirkan kado pernikahan. Sudah sanalah cari sendiri. Lagi pula apa yang kalian lakukan di sini? Aku perlu waktu dengan cake-ku, apakah permintaanku terlalu berlebihan?”

Sungyeol menggeleng-gelengkan kepalanya, sebal dengan tingkah Bona. Sejak awal ia tahu bahwa gadis itu menganggap positif semua hal tentang ini. Bona memiliki keluarga yang bahagia, jelas ia tidak akan memahami keadaan Sungyeol. Dan sepiring cake saja sudah membuatnya lupa bahwa harusnya ia menjadi katalis acara nongkrong ini.

Kris dan Sungyeol sama-sama menatap Bona.

“Apakah dia benar-benar tidak peduli pada kita setelah dapat kue?” tanya Kris, disambut anggukan tidak peduli dari Sungyeol. Lantas si pemuda selebriti mengubah posisi duduknya dengan lebih santai. “Karena ada yang mau kubicarakan denganmu di sini, dan kita tidak butuh dia sebagai moderator,” Kris menunjuk Bona dengan dagunya.

“Kau tidak perlu berusaha terlalu keras untuk akur denganku,” Sungyeol menyesap latte-nya. “Aku tak pernah setuju dengan gagasan ini, tapi aku bisa pura-pura di depan orang lain. Aku selalu pandai melakukannya. Katakan saja, kau mau aku tampak seakrab apa denganmu.”

“Ayahku meninggalkan kami setahun yang lalu,” tanpa dipersilakan, Kris membuka kisah. “Yang mana adalah kabar baik, karena ia suka main tangan—padaku dan ibu.”

Sungyeol bertekad untuk mengusir rasa bersalah yang menyerangnya tiba-tiba, tapi ia berakhir dengan mengamati Kris, membuat pemuda itu terkekeh. “Kalau kau lihat sekarang, bekasnya tidak ada lagi. Yang tersisa hanya yang ada di bahuku. Hanya karena goresannya cukup dalam dan perlu dijahit.”

“Dia menggunakan benda tajam?” Sungyeol menganga tak percaya. Kris mengangkat bahu. “Bukan dia yang melakukannya, tapi kadar alkoholnya.”

Sungyeol meringis tanpa sengaja.

“Jika ia sedang ingin memukul ibu, aku menyingkirkan semua benda tajam dan tumpul yang ada di dalam rumah. Jadi ia hanya memilih secara acak benda-benda yang tertangkap oleh penglihatannya—entah itu payung, gantungan baju, apa saja yang bisa digunakan ayahku untuk melampiaskan kemarahannya.

“Aku tidak pernah mau hidupku jadi konsumsi masyarakat seperti sekarang. Tapi jika aku tidak berdiri sendiri, aku tidak bisa memayungi ibuku.”

Sungyeol tidak lagi memedulikan latte-nya. Tenggorokannya tercekat ketika menelan kisah Kris bulat-bulat. Tunggu. Kris tidak seharusnya menceritakan ini. Ia pasti tidak mau mengingat-ingat masa-masa ketika mereka masih berada di bawah tirani.

“Ibuku pasti sudah merusak hubungan kedua orang tuamu. Aku tidak akan memaksamu menerima soal itu. Aku tidak akan membela ibuku, atau melakukan pembenaran atas masalah itu, karena yang salah adalah salah.” Kris menghabiskan kopinya, mengelap sudut-sudut mulutnya dengan tisu, dan melanjutkan. “Percayalah, jika ada di antara kita yang paling tidak setuju dengan gagasan orang tua kita, akulah orangnya. Tapi apa pun yang membuat ibuku bahagia, tak akan pernah kuhalangi.”

Sungyeol menyibak rambutnya, lelah, dan ia menghela napas. Jadi ternyata Bona benar. Ia memang kekanak-kanakan, cengeng, dan tukang mengeluh. Padahal tak jauh darinya, ada yang bersedia melakukan apa saja agar orang tuanya bahagia. Sungyeol dihantam rasa bersalah. Ia masih bisa bertemu ayah dan ibunya. Tapi Kris mungkin akan melupakan bahwa ia pernah punya ayah.

Ironisnya, Sungyeol-lah yang bertingkah seakan nasib tidak berpihak padanya.

“Omong-omong, ide soal pura-pura akur itu tidak buruk. Kuharap kau mau bekerjasama. Paling tidak di depan ibuku. Ia akan sangat menyayangimu, aku bisa menjamin itu. Dan Bona akan sangat menyukainya, karena ibuku pandai membuat makanan manis.” Kris dan Sungyeol serentak melirik Bona yang menikmati kuenya dengan perlahan, kecap demi kecap krimnya dibiarkan meleleh di mulutnya.

Namun kali ini telinga Bona sigap menerima sinyal. Begitu Kris menyebut kue, ia langsung menatap Kris dan Sungyeol dengan mata berbinar.

“Adopsi aku, Kakak-Kakak sekalian! Jika tiap hari aku bisa makan cake, aku sendiri yang akan mengurus surat adopsinya!”

Sore itu barangkali sama dengan sore-sore sebelumnya. Tapi Sungyeol dan Kris punya sore baru yang patut dikenang, komplit bersama latte, cake, dan kopi yang mereka nikmati sebelum mencari kado untuk pernikahan kedua orang yang paling mereka sayangi di dunia.

FIN.

namtaenote:

Jadi seperti yang sudah aku jelaskan di atas, bahwa aku hanya menulis cerita ini, berdasarkan storyline yang diberikan oleh perikues—yang mana sebenarnya tidak sesuai dengan rules, karena seharusnya akulah yang menentukan storyline. Tapi karena perikues sendiri sudah telanjur memberikan plot, dan kupikir itulah yang sesuai dengan ekspektasinya, jadilah fic ini. Next time mohon diperhatikan lagi rules-nya. Terima kasih sudah merikues, sering-sering berkunjung ke IFK ya ^^d

 

15 thoughts on “[IFK Movie Request] The Stranger I’ll Call Brother”

  1. Kak eci ini waaaw entah mengapa kok nusuk gitu huhu. berhubung aku seiya sekata juha soal wajah sungyeol sama kris yg mirip mirip gimana gitu lol jd waw waw waw. Well kak eci maaf sblmnya, tp cuma mau mengingatkan ada bbrp typo di cerita kak. Selebihnya tetep waw waw waw~

    Dita

    Suka

    1. halo dita! wah makasih lho kamu sudah meluangkan waktu mampir ke sini. btw typo-nya di mana aja ya, soalnya sejauh ini aku cuma nemu sebiji hehehe biar sekalian kuperbaiki gitu.

      Suka

  2. KRISNYA CANON SEKALEEEE
    aku suka bgt cast bermuka mirip ini ufufu, suka juga karakterisasi bonanya huahaaa dasar tuh anak ada kue lgsg aja sikat. tapi sesungguhnya segala event dlm ff ini bagus sih ^^ rangkaiannya juga ga awkward.
    keep writing ya kakak!

    Suka

  3. Makasih kak eci udh dibuatin^^.sori klo ini ngelenceng dr aturan request, hbsnya aku trlalu excited pas tau ada page request di ifk. Lain kali aku perhatiin pas mw request lg disini..🙏
    Kikikikki…bona keganjenan bgt, tuh.
    Ya emg dia peluluh suasana, coba klo pas jln2 itu ga ada dia, bkln ga tau tuh sungyeol soal keluarganya kris yg berantakan. Heoksi uri bona!! Jjang!

    Suka

  4. Kaka ecii maapkeun daku bru smpat ngecek lg.. Ehem ini dia kak:
    1. Sungyeol menahan geraman demi agar tak lagi teringat soal Bona yang tampak…
    Kak eci ‘demi’ dan ‘agar’nya itu kak. Mm mungkin ini bkn dsbut typo tp haha yasudahlah kak (lalu dilempar)^^’
    2. Agaknya udh dibenarkan kak eci jd mnurutku itu aja kak….
    Uhuk sukses kak ecii~~😀

    Suka

  5. kak eci. waduh aku nangis kak. entah kenapa mendadak saya rasa, saya sedrama sungyeol. habis ini saya akan tobat ((masih nangis))

    seperti biasa(?) fic kakak selalu nyaman dibaca karena dekat dengan kehidupan sehari-hari🙂 walaupun pada dasarnya saya lebih suka gendre crime yang cethar. tapi slice-of-life ke gini, benar-benar asyik dan kadang /adalah dikit/ pelajaran hidup disana, itu bikin nyaman banget dibaca. Dan bikin hari-hari pembacanya mendadak kalem, sekalem Bona.

    Keep writing kak! mendadak suka sama gaya nulismu muehehe😀

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s