[Vignette] 여기에 (Here)

here

여기에
(  here  )

He sees what it is. As if i’m perfect.

주연:
민성아—김민규

플롯과 스토리:
Ⓒ bee

Title: 여기에( Here )
Cast ( s ): Min Seungah ( OC ) as You – Kim Mingyu of 17
Genre: Romance – School-life – Little bit angst
Rating: PG15
Duration: Vignette
Disclaimer: Plot and Story is mine—Casts made by their god and also their parents. if there are similarities in plot and storyline, it was accidental. Hope you always write a story by your own mind, thankyou.

Ⓒ bee

# Summary:

“Hanya… tetaplah seperti itu”

.

.

.

Di setiap pertemuan… Selalu ada perpisahan.

.

Di setiap tanganmu menggenggamku… selalu ada perubahan di sana. Entah itu baik, ataupun buruk—kita semua berubah. Perkembangan itulah yang membuat genggamanmu semakin erat memeluk tanganku.

 Kumohon, jangan lepaskan semuanya.

.

.

Seperti biasa, kota ini nampak begitu merah walau perayaan natal telah berakhir.
Maskot-maskot itu kerap saja menyelimuti setiap sudut jalanan—bukan hal buruk, sih. Justru membuatku tak sabar akan hadirnya tahun baru.

Sedang asyik duduk terlena akan merahnya kota, seseorang berseru dan lantas membuatku hampir melontarkan semua greentea dalam mulutku. Siapa, sih orang yang masih berani menyerukan nama “Kim Mingyu” di hadapanku?
Karena begitu penasaran akan rupa sang pelaku, ku alihkan wajahku padanya—Choi Hansol dengan pipi merona diiringi Kim Mingyu yang sama meronanya. Udara sedang dingin-dinginnya sampai berhasil membuat pipi mereka seperti itu.

Aigoo, di situ kau rupanya!”, Kim Mingyu alih-alih melirikku. Wajahnya kini semakin berbinar dengan gigi seri yang ia tontonkan. Sial, mata kami saling bertemu rupanya. Harusnya tak ku hiraukan saja pria bodoh itu. Nasi sudah menjadi bubur, dua pria dengan hoodie tebal itu menghampiri mejaku dan Yumi—yang kebetulan sedang menghangatkan diri kami di coffee shop ini.

Tak hanya aku, Yumi pun turut menatap nista kedua pria itu. Dan mau tak mau kami pun harus menggeser posisi kami agar Mingyu dan Hansol dapat duduk bersebelahan dengan kami. Sialnya, kenapa harus Mingyu yang duduk di sampingku?

“A-a—“, ucapku tak berkutik sambil terus berusaha memantapkan tatapanku pada Yumi.

“Untung ada kalian di sini! Kami hampir gak dapat bangku!”, Mingyu menyela. Lagi-lagi gigi serinya ia pamerkan—bahkan sampai taring tajam itu ikut tertonton. Kini mata kami kembali bertemu. Bodohnya aku karena membalas tatapannya.

Pria itu nampak tersiksa dengan dinginnya salju sampai wajahnya jadi merona  dan giginya bergemertak seperti itu.
“Kau bodoh? Kenapa keluar di saat cuaca sedang dingin-dinginnya?”, tanyaku setelah puas meneliti rinci demi rinci wajah Mingyu. Sedangkan pria itu hanya terkekeh menjawab pertanyaanku. “Memangnya kenapa? Bagaimana denganmu? Apa hanya aku di sini yang bodoh?”, balas Mingyu kemudian. Aku hanya bisa mengiyakan ucapannya lalu kembali pada greentea-ku.

Entah kenapa, Mingyu bodoh itu terus mendaratkan tatapannya pada gelas greentea milikku—seperti ingin memangsa saja. “Mau, dong!”, Mingyu berseru sembari berusaha mencengkram gelas greentea-ku. Refleks, tanganku pun merebut kembali greentea yang sudah menjadi hakku itu. “Hey, bodoh! Kau gila?!”, seruku kemudian.
“Bagi sedikit!”
Gak akan!”
“Kau ini! Nenek pelit!”
“Kau bilang apa?!”
Ini menjadi perang dunia ke III di antara kami. Untunglah pria itu lekas mengalah dengan melepas jemarinya dari gelasku. Mungkin pria itu cukup lamban untuk menghentikan pertikaian di antara kami. Bodohnya lagi, Yumi dan Hansol yang hanya menatap tak acuh seperti itu.

“Kalian ini—“, Yumi berbicara.  Aku dan Mingyu hanya membalas dengan memfokuskan mata kami pada Yumi. “—Putus atau kencan teta—ap saja bertengkar”, timpal Yumi kemudian. Gadis itu pun kembali pada ponsel di tangannya—setelah memberi secercah jarak di antara aku dan Mingyu. Keadaan jadi canggung karena itu. Hanya ada Hansol dan Mingyu yang terus bercakap memusingkan menu yang ingin mereka pilih.

.

Aku tak tahu harus berbicara apa. Bibirku beku tak berkutik. Yang kulakukan hanya terus menjauhkan pandanganku keluar jendela. Menatap kosong pada salju-salju yang turun nafsu menyelimuti jalanan kota.

Itu membuatku kembali teringat—sudah dua minggu ini hubungan kami berakhir. Namun, hal yang kita lakukan selama 3 tahun terakhir inilah yang masih senantiasa kulakukan tanpa sepengetahuan otakku. Semua bergerak dengan sendirinya—bahkan pertengkaran kecil kami masih saja terulang.

Kalau dengan Mingyu… Aku jadi bodoh begini.

–여기에–

“Mingyu~ssi—“, seru Hansol yang hanya dibalas dengan bolamata kami. Pria yang merasa namanya terpanggil itu pun menyahut dengan dagu yang dia angkat sedikit. “—kau dan Seungah satu arah, kan? Kau bisa pulang dengannya? Sepertinya sekarang waktunya membeli makan untuk Whiskey.”, lanjut Hansol lalu menepuk bahu Mingyu mantap.
Ah… baiklah”

Hey, kau!”, dari Hansol, kini Mingyu membalikkan tubuhnya sekedar untuk memandang wajahku. Pria itu cukup membuat jantungku terasa berhenti berdegub 2 detik. “Ikuti aku”, Mingyu tersenyum asem sembari mengayunkan telapak tangannya—tanda memintaku menghampirinya.
“Aku tak perlu—“
Belum sempat memuntahkan capslock yang ingin kutegaskan, pria itu lekas meraih telapak tanganku untuk ia genggam. Hey, itu pelanggaran!
“Kau ini!”
“Diam, bocah! Kau lupa bawa sarung tangan, kan?”, timpa Mingyu setelah melambaikan tangannya pada Yumi dan Hansol. Kini pria itu melangkahkan kakinya dan membuatku harus jadi buntut seorang Kim Mingyu. Pria ini… menyebalkan. Entah karena tingkahnya yang sembarangan… atau… karena ia menggenggam tanganku.

Semuanya mengingatkanku pada masa di mana aku masih menjadi miliknya—dan dia masih menjadi milikku. Ketika Mingyu memberiku satu dari sepasang sarung tangan yang ia balut di tanganku, lalu membiarkan satu tangan tanpa busana untuk saling bergandengan.

Entah kenapa, kenangan itu tak bisa membenahi dirinya dari benakku. Begitu juga denganku. Tak ingin mengusir kenangan itu jauh dari dalam diriku. Kenangan membentuk diriku yang tak bisa hidup tanpa Mingyu. Tak bisa melepaskan genggaman ini dari Mingyu. Tapi, mau tak mau kita harus berpisah seperti ini. Akupun harus melepas semuanya jauh dari benakku.

Kini kami berjalan menempuk derasnya hujan salju. Mingyu terus memberiku kehangatan dari jemari demi jemarinya. Aku pun akan menyimpan kenangan ini dalam benakku.

Biarlah tetap seperti ini. Biar saja aku yang menyimpan semua kenangan kita sendiri. Dan kusimpan dalam sebuah kotak bernama “masa lalu”.

–여기에–

“Tujuan  X—“, speaker dalam bus berdering.

Sudah 2 halte kami lalui. Dan hanya ada kesunyian dan duduk tanpa bicara sepatah katapun. Mingyu memandang lurus pada pemandangan di luar sana—sedangkan diriku hanya bisa merunduk tanpa tahu apa yang harus kulakukan.

.

“Seungah”, Mingyu memecahkan keheningan di antara kami—membuat bolamata kami bertemu.

“Bagaimana? Kau masih yakin menjalankan bisnis keluarga?”, tanya Mingyu kemudian. Aku yang mendengarnya pun berusaha melebarkan bibirku untuk tersenyum sembari membelai kepalaku garing. “Mau bagaimana lagi? Kalau sudah Ayah yang meminta, harus kulakukan.”
“Padahal nilai kelulusanmu pasti bisa dapat beasiswa di seluruh Korea”, Mingyu bergumam.
“Bodoh! Bagaimana denganmu? Sudah menemukan mansion termurah di Seoul?”
Mendengar pertanyaanku, pria itu membenahi posisinya sejenak sebelum menghembuskan nafas kemudian. “Begitulah. Semoga saja qualitasnya tak seperti harganya”
“Kuharap begitu.”, cletukku garing.

Keadaan di antara kami kembali sunyi. Hanya terduduk dengan kepala merunduk—menunggu halte berikutnya.

Benar. Semoga dia baik-baik saja selama berada di Seoul nanti.

.

.

“Tujuan Y—“, speaker dalam bus kembali berdering—tanda pemberhentianku.

Dengan sigap, ku bangkitkan tubuhku untuk berjalan mengeluari bus ini. “Aku dulu—“
Tingkah Mingyu kali ini membuatku tercengang. Kenapa pria itu juga ikut berdiri?
“Mingyu—bukankah haltemu masih 1 kali lagi?”, tanyaku hingga membuat Mingyu ikut tercengang.

.

“A-ah—kalau mengantarmu masih boleh, kan?”

.

Lagi-lagi hal yang sering kami lakukan. Kenapa harus terulang lagi? Bahkan Mingyu juga masih sama ingatnya denganku.

“Ti-tidak usah!”, ucapku sebelum akhirnya melarikan diri. “Aku duluan.”

Kenapa semuanya masih tergambar begitu jelas? Apa karena baru 2 minggu kami berpisah? Semua jadi belum terbiasa. Baik aku maupun Mingyu. Apa perpisahan ini masih tak sanggup untuk kami jalani? Walau rasa itu masih ada… tapi bukan berarti kau harus terus begini…

.

Bus itu pun kembali pergi meninggalkanku. Walau begitu, masih nampak jelas wajah tampan Mingyu dengan matanya yang terus mengarah padaku. Kami sempat saling beradu tatap hingga akhirnya bus itu benar-benar pergi dari hadapanku.

“Kenapa sesulit ini berpisah denganmu?”

.

–여기에–

Hari kelulusan pun datang. Semuanya akan berakhir begitu kami mengucapkan perpisahan. Ya… walau sebenarnya juga sudah berakhir, sih. Tak ada lagi yang kuperlukan dari Mingyu.

Seharusnya begitu.

Tapi… kenapa masih saja muncul wajah Pria bodoh itu di benakku?

.

“Kau bilang, kau putuskan Mingyu karena akan ditinggal ke Seoul? Tapi—“, Yumi mencoba menggantung kalimatnya. Ia terus menatapku kacau saat ia tahu ada yang sedang kupikirkan. “—Kenapa kau masih mencarinya?”, sambung Yumi to the point. Itu cukup membuat pipiku merona karena ia bisa menebak pikiranku. Apa dia paranormal atau sejenisnya?
“Ya-yang benar saja? Aku… aku sedang mencari spot yang bagus untuk selfie—itu saja.”, seruku dengan nada tinggi yang malah ditertawakan oleh Yumi. “Ah… kau ini… masih belum puas selfie? Lebih baik kau cari saja Mingyu untuk menemani selfie-mu. Ini akan jadi perpisahan kalian, lho~”, Yumi menyondongkan bibirnya pada telingaku.
Bawel!”, seruku ketus.

“Terserahlah! Kau di sini dulu, ya! Aku ada urusan.”, selesai dengan tingkah jahilnya, Yumi yang sibuk dengan kekasihnya pun pamit meninggalkanku—sendirian—di tempat seramai ini. Bahkan aku tak tahu harus mencari siapa untuk menemaniku. Ya… walau ada beberapa pria di sini yang berniat selfie denganku—ah ge-er sekali aku ini. Tapi, hanya ada 1 pria yang ingin kuabadikan dan kukenang…

“Kim Mingyu!”

.

“Mingyu!”

.

“Ayolah foto denganku!”

Suara itu? terdengar seperti beberapa gadis menyerukan nama Mingyu. Tapi… kenapa suaranya nampak jelas sekali terdengar, ya? Padahal sebelumnya tak terdengar sebising ini.
Karena begitu penasaran, kumainkan bolamataku sekedar untuk mencari sumber suara itu. Tak perlu banyak bergerak, bisa kutemukan postur tinggi Mingyu di seberang sana—diiringi 2 atau 3 gadis bersamanya.
“A-ah di sana.”, gumamku.

Rasanya ingin sekali aku melangkah dan pergi menghampirinya. Namun, seperti ada rantai yang melekat pada kakiku, tubuh ini jadi enggan untuk beranjak. Hanya bimbang dan memikirkan apa yang harus kulakukan. Bukan urusanku lagi untuk khawatir padanya. Bukan masalahku lagi untuk bicara padanya. Aku tak ingin membebani Mingyu dengan keberadaanku.

Mingyu, pergilah sejauh mungkin.

Aku

Aku tak ingin kau pedulikan aku.

.

.

“Mingyu!”

.

Karena merasa terpanggil, pria bernama Kim Mingyu itu membalas tatapanku. Waktu berjalan lamban karenanya. Hanya ada detik demi detik penuh dengan wajah Mingyu yang kini alih-alih jadi begitu parau sampai membuatnya berlari mengejar keberadaanku. Apa… apa mungkin karena tubuhku yang tanpa sadar kehilangan keseimbangan ini?

.

“Seungah! Kau baik-baik saja?”, tangan besar Mingyu kini mencengkram kedua pundakku—begitu kuat agar tubuhku tak terjatuh lebih dari ini. Tangan itu tak pernah berubah. Terus menopang tubuhku—membawanya agar tetap menjadi miliknya.
Anemia-mu kambuh lagi? kau—“
“Aku—“

.

.

“—Aku gak ingin putus denganmu”, ucapku dengan suara bergetar. Entah kenapa tetes demi tetes air terasa membasahi pipiku. Karena itu, kutarik kemeja pria itu lalu merunduk pada dada bidangnya.

.

Dari bahuku, kini jemarinya beranjak pada kepalaku. Ia lalu membelai kepalaku begitu lembut. Membuatku tak ingin beranjak darinya. Kehangatan tubuh Mingyu—aromanya—semua itu membuatku terjerumus masuk lebih dalam.

“Awalnya kupikir kau tak akan serapuh ini… kupikir aku bisa menjaga hubungan kita walau terhalang jarak jauh…”, bisik Mingyu dengan suara lembutnya. Walau aku tak bisa melihat wajahnya, tapi, bisa kubayangkan betapa parau wajah tampan itu kali ini.

“… Maafkan aku… maafkan aku karena sudah berpikir begitu.”, Mingyu sedikit mendorong tubuhnya—memberi jarak agar kami bisa saling beradu tatap. Ia lalu membelai pipiku dengan ibu jarinya—menyeka airmata di pipiku. Jemari yang lain kokoh menahan rahangku agar ia bisa melihat wajahku. “Kau mau maafkan aku, kan?”, Mingyu berbisik.

“Tidak, Mingyu—harusnya aku yang berkata begitu… aku pasti akan merepotkan—“

“Seungah. Kau tak akan bisa merepotkanku. Gak akan pernah.”, Mingyu menyela.
“Tapi… tapi kau akan terganggu denganku jika terlalu posesif, kan?”
“Posesif boleh saja… supaya aman”, Mingyu tersenyum sembari membelai kepalaku. “Tapi jadi terdengar manja.”, gumamku setelah berpikir kalau posesif itu pasti membuatku tampak manja.
“Kau jadi lucu kalau manja, tahu!”, pria itu terkekeh lalu jemari yang ia pakai untuk menopang rahangku pun malah ia gunakan untuk menarik lemak di pipiku—membuatku terpekik kesakitan.

“Kalau kau perlukan aku… kapanpun, aku akan selalu ada di sini!”, seru Mingyu sembari menyentuh bibirku dengan jari telunjuknya. Semua yang ia lakukan ini membuat jantungku berdebar lagi. Seakan memompa lebih dan lebih darah keseluruh tubuhku—membuat bibirku kembali tersenyum.
“Kau bodoh!”, seruku karena terlalu bahagia. Kulingkarkan kedua lenganku pada pinggang Mingyu lalu mendekatkan kepalaku pada dadanya—hingga bisa kudengar detakkan jantung yang sama berdebarnya denganku. Pria itu hanya bisa tersenyum dan membalas pelukanku. “Kau juga!”, jawabnya angkuh seperti biasa.

“—Hanya… tetaplah seperti itu!”, timpaku tak mau kalau. Mingyu hanya tertawa mendengar seruanku.

“Aku menyukaimu!”, Mingyu berbisik.

“Aku juga!”

“Aku lebih!”

“Gak juga… aku yang lebih!”

“Aku, tahu!”

Salju terus saja menghantam tubuh kami.
Memberi warna putih indah di setiap detik yang berharga ini. Aku tak ingin lupa bagaimana kau memelukku dan membiarkan waktu berhenti. Soal kotak bernama “masa lalu”? Maaf, itu bukan untukmu. Kau punya kotak kenangan khusus di hatiku. Apapun itu namanya, aku tak akan membiarkan kenangan itu pergi dari diriku.

Kau, tetaplah seperti itu!

 

fin

Makasih ya buat kalian yang mau baca sampe abis. ( sampe greetingnya pula )
Sumpah, aku ga tau cerita ini bakal jadi gimana di mata kalian. Soalnya ff ini termaksud ff yang jadi dalam beberapa jam. Jadinya pas ada golden time sampe harus bikin saya tidur jam 3an huf. Dan menurutku ceritanya agak lebay—ga. Soalnya, kalo boleh jujur, cerita ini inspired by saalah satu komik yang pernah aku baca. Agak dimodif dikit sampe jadilah ff ini.
Ya… pesannya: hope u like it aja yaa.

Jangan lupa kasih nice feedback ok! Kasih saran juga gak apalah supaya karya bee makin ok! Sorry for typoness and bad plot/story. Maaf juga karena terlalu singkat. ( Sebagai gantinya, ada cast’s side-nya Yumi. Beda judul, beda cerita, tapi Seungah juga bakal ada di situ hehe. )

Salam cantik!

-with love,
bee.

— greeting, end.

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s