[Ficlet] Female Power

Female Power

Title: Female Power

Scriptwriter: Tob

Main Cast: Joshua’s Seventeen and Eunji’s APink

Genre: Family, Slice of Life

Duration: -+ 962 words (Ficlet)

Rating: G

 

“Sudah kukatakan, wanita itu memang hebat”

*^*^

Hari ini hari minggu, hari yang seharusnya menjadi hari yang paling menenangkan karena aku bisa melakukan hal-hal yang jarang sekali aku lakukan. Aku terus-terusan berguling di kasur tanpa ada niat sedikitpun untuk bangun. Namun sayangnya, segala kenikmatan itu harus tandas ketika suara nyaring menggema di bumi ini.

“JOSHUA CEPAT BANGUN!”

Itu suara Eunji Noona—sepupuku yang apartemennya sedang aku kunjungi sejak aku pindah ke Seoul untuk meneruskan SMA dua tahun yang lalu. Satu-satunya keluarga yang kupunya di Seoul. Oh tidak, aku masih punya Ayah dan Ibu kok, hanya saja mereka tinggal di Busan. Katanya, ingin beristirahat dan jauh dari hiruk-pikuk kota, padahal Busan tidak beda jauh dengan Seoul—sama ramainya.

Apa kau pikir aku akan bangun dan mengikuti intruksi Eunji Noona?. Oh tentu saja, dia hanya menyuruhku bangun dan ya, aku sudah bangun.

“JOSH, KALAU DALAM HITUNGAN TIGA KAU TIDAK KE SINI, KUJAMIN KAU TIDAK AKAN MENDAPATKAN JATAH MAKAN HARI INI”

Sial, dia menyerang dengan caranya. Aku tidak mungkin mau diam seharian di rumah tanpa makanan, itu mustahil. Oh tentu saja aku bisa membeli makanan di toko 24 jam yang ada di seberang apartemen, tapi aku harus menghemat untuk membeli sepatu baru. Eunji Noona emang menyebalkan.

“Satu”

“Dua”

Sebelum Eunji Noona menyebut angka tiga, aku sudah berada di sampingnya. Ini semua demi jatah makan hari ini.

“Ternyata caraku memang paling ampuh, makanan memang kelemahanamu” Eunji Noona mengatakannya sambil mencubit pergelangan tanganku. Aku mengaduh kesakitan, tapi dia tampak tidak peduli. “Baiklah, sekarang Kau bantu aku merapikan rumah.”

Aku menghela napas, ini adalah bagian yang tidak kusuka di hari minggu jika saja Eunji Noona tidak kuliah. “Aku lelah, Noona. Kemarin, baru saja latihan basket sampai larut malam. Aku perlu menyimpan energiku.”

Eunji Noona menghiraukanku, ia lebih fokus kepada wortel yang sedang ia potong dibandingkan ucapan yang baru saja keluar dari bibirku. “Aku tidak peduli” ucapan yang akhirnya ia keluarkan setelah satu buah wortel berhasil ia potong. “Kuharap kau masih ingat peringatanku.”

Aku melemaskan bahuku sehingga merosot dan berjalan dengan gaya malas-malasan. “Baiklah-baiklah, apa yang harus kukerjakan?”

Eunji Noona berhenti dari memotong-motong sayuran dan menatapku dengan senyuman—yang lebih mirip seringaian bagiku.

“Membersihkan lantai, menanak nasi, mencuci pakaian.”

Aku semakin melemaskan bahuku. “Sebanyak itu?” tanpa pikir panjang, aku langsung meraih gagang vacuum cleaner dan mulai membersihkan lantai.

“Josh, seharusnya kamu membersihkan beras dulu kemudian memasukan baju-baju kotor ke tempat cuci baju, selagi menunggu keduanya selesai, bersihkan lantai.”

Aku menggelengkan kepalaku. “Baiklah, baiklah” Kemudian melangkahkan kaki ke rice cooker untuk diisi dengan beras dan mencucinya. Setelah itu baru memasukannya ke dalam rice cookernya. Aku merasa semuanya sudah beres lalu berjalan menuju mesin cuci untuk memasukan pakaian-pakaian kotor ke dalamnya yang kemudian kuberi detergen lalu kutekan tombolnya. Sampai saat ini semuanya berjalan dengan baik, aku kembali mengambil vacuum cleaner.

Tiga puluh menit berlalu, aku sudah membersihkan lantai dengan vacum cleaner. Semua tempat sudah kubersihkan, tak ada debu yang tersisa. Aku langsung menghampiri Eunji Noona.

“Aku sudah selesai” kemudian duduk di atas sofa untuk menikmati acara di televisi.

“Kau menghabiskan waktu tiga puluh menit hanya untuk membersihkan lantai?”

Aku mengangguk “Ya, cepat bukan?”

Terdengar Eunji Noona mematikan kompor kemudian langkah kakinya seperti mendekatiku.

“Cepat apanya, hah? Cucian dan nasinya apa kabar?”

Aku yang sedang bersandar di sofa langsung duduk tegak. “Aku lupa” kekehan kecil langsung terdengar dari mulutku. Tentu saja aku mengucapkannya dengan  pandangan menghadap ke televisi, aku tidak berani menatap perempuan yang berdiri di sampingku. Auranya sedang tidak bersahabat.

“JOSH!”

Takut-takut aku menatap wajah Eunji Noona. Tampak sekali bahwa ia sedang kesal. Dalam situasi seperti ini, rasanya, untuk menelan ludah pun benar-benar sulit.

“Lihat aku.”

Eunji Noona langsung pergi meninggalkanku dan kembali ke dapur. Dari tempatku duduk, dengan hanya memutar kepala ke arah kiri aku dapat melihat dapur—dan Eunji Noona tentunya. Dia kembali menyalakan kompor lalu memasukan sayuran-sayuran yang sejak tadi sudah ia potong-potong. Setelah selesai, ia pergi ke arah rice cooker dan menekan tombolnya yang membuat keningku berkerut namun kembali ke tempat semula setelah aku sadar bahwa tadi aku belum menekan tombolnya yang artinya beras yang sudah aku cuci tadi tidak akan berubah menjadi nasi sampai abad 99 datang. Dengan gerakan cepat, Eunji Noona langsung berpaling ke arah mesin cuci dan menekan beberapa tombol lalu pergi dekat kompor gas lagi untuk mengaduk-ngadung isinya sebentar. Hanya lima detik dia mengaduk-ngaduknya lalu pergi ke arah tempat cuci piring dan mulai mencuci beberapa alat yang tadi sudah dipakainya. Semuanya telah tercuci bersih lalu pergi ke dekat kompor dan mengecek masakannya. Hanya sebentar, lalu pergi ke arah mesin cuci dan mengeluarkan pakaian-pakaian yang sudah di cuci sebuah basket. Ia kembali ke arah kompok setelah menyimpan pakaian terakhir ke dalam basket. Eunji Noona kembali mengecek masakannya lalu pergi arah meja makan dan merapikan mejanya, menata alat makan dan mengisi air mineral ke gelas. Setelah rapi, Eunji Noona kembali ke arah kompor lalu mematikannya yang kemudian hasil masakannya ituia sajikan.

Kini aku sudah duduk berhadapan dengan Eunji Noona yang sedang mengunyah makanannya.

Noona hebat sekali bisa mengerjakan semuanya sekaligus! Eunji Noona, jjang!” kuacungkan dua jempolku sebagai tanda bahwa aku benar-benar takjub.

Eunji Noona terkekeh mendengar ucapanku. “Tidak.”

“Noona jangan merendah seperti itu”

Eunji Noona menggeleng kemudian menjelaskan, “Sudah kukatakan wanita itu memang hebat, bukan aku saja. Wanita bisa mengerjakan pekerjaan secara sekaligus karena jika tidak, akan merasa menyesal telah membuang waktu yang padahal sangat berharga. Tadi kau membersihkan lantai tiga puluh menit ‘kan?”

Aku mengangguk.

“Dalam tiga puluh menit itu, kau bisa mengerjakan tiga pekerjaan yang kusuruh tadi sekaligus, tetapi kau terlalu lemot untuk mengerjakannya.”

Aku menatap Eunji noona sebal tapi tetap saja masih merasa kagum akan pekerjaan yang tadi ia lakukan sekaligus. “Wanita memang hebat.”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s