[IFK Movie Request] Sincerely, NYC

SINCERELY, NYC

Requested by Della

Casts Jung Hoseok – J-Hope [BTS], Hellen Park [Della’s OC] Genre Romance Duration Vignette Rating PG-17 Disclaimer requested by Della, I only own the plot and poster

© 2016 namtaegenic

:::::

This longing beats in a New York minute.

.

Tampaknya Selasa minggu ini bukan harinya Hellen Park. Ia dapat telepon pukul dua pagi dari Kim Hyunsuk, bosnya yang berusia pertengahan empat puluhan dan cerewetnya minta ampun—menyuruhnya untuk bangkit dari kasur sekarang, menyalakan laptop, dan pesan tiket pulang-pergi ke Seoul-New York di salah satu biro maskapai penerbangan. Berbekal separuh mimpi yang mengawang-awang, Hellen sempoyongan menghampiri laptop dan mengaktifkan wi-fi. Menjadi karyawan junior tak pernah mudah baginya, meskipun untuk lulusan bisnis dari Seoul National University seperti dirinya. Dunia kerja ibarat hutan belantara dan ia hanyalah Alice yang serba kebingungan. Bosnya tidak peduli karyawan-karyawannya lulusan mana, jika mereka tidak bisa berkontribusi untuk perusahaan, maka mereka tersingkir.

Dan Hellen Park tidak biasa disingkirkan. Makanya ia bekerja keras.

Usai dapat tiket dan berkemas ala kadarnya, gadis itu tidak bisa tidur lagi. Jadi ia mengaduk secangkir coklat panas dan menonton ulang sebuah film lama di HBO demi membunuh waktu—yang mana adalah perbuatan yang sangat disesalinya karena kebiasaannya tertidur kala menonton televisi belum juga bisa diubah. Jika bukan telepon dari Hoseok yang mengalun memutarkan musik rock berisik—Hoseok mengubah sendiri nada dering khusus untuknya di ponsel Hellen—gadis itu mungkin masih berlayar ke alam mimpi. Suara riang Hoseok yang sekadar mengucapkan selamat pagi mengingatkannya dengan kantor dan segala tetek-bengeknya yang melelahkan. Padahal mereka bekerja di perusahaan yang berbeda dengan bidang yang berbeda pula.

Saat itu, yang dapat Hellen lakukan hanyalah mengabari Hoseok bahwa ia akan terbang lintas benua dalam hitungan menit.

Maka, di sinilah Hellen, tergopoh-gopoh check in pada menit-menit terakhir, dan menyeret langkahnya ke ruang tunggu, sementara suara-suara di mikrofon mengenai penumpang yang terlambat terus-menerus berkumandang.

Berada di pesawat selama berbelas-belas (atau berpuluh-puluh, Hellen tak tahu dan tak mau tahu) jam membuatnya mengantuk, tapi tak ingin memejamkan mata. Benaknya sibuk memastikan apakah berkas yang dibutuhkan untuk rapat dengan mitra mereka di New York sudah dibawanya, atau apakah ia sudah memasukkan dokumen presentasi di flashdisk, atau apakah ia tidak lupa membawa setelan merah marun yang baru dibelinya di butik favoritnya, atau apakah—oh yeah, Hellen belum mengunyah apa pun sejak bangun tidur. Coklat panas tadi sudah larut dalam pencernaan, sepertinya. Karena ketika pesawat mendarat, Hellen perlu bersandar dahulu sebelum terhuyung-huyung melanjutkan langkah.

Seakan diteror jam dua pagi dan nyaris ketinggalan pesawat belum cukup baginya, Hellen harus berbalik ke resepsionis, Lost and Found, atau apa pun yang terlintas di benaknya, karena tampaknya gadis itu menjatuhkan paspor entah di mana. Perlu waktu sekitar dua jam hingga seseorang melambai-lambaikan benda itu ke arahnya. Setelahnya, Hellen buru-buru memindai para penjemput yang beredar, dan tak satu pun memegang papan atau bahkan sehelai kertas yang bertuliskan Hellen Park – Korea Selatan. Matanya bahkan sudah menjelajahi satu per satu manusia-manusia di sana. Tidak ada. Tidak ada yang menjemputnya.

Oh sial sekali.

Lantas Hellen mengetik kode sambungan internasional, kemudian menghubungi Na Yongmi, sekretaris bosnya. Si angkuh itu menyambut telepon dengan malas, seakan nomor Hellen hanyalah panggilan salah sambung yang menyebalkan.

“Kak Yongmi, di sini tidak terlihat ada yang menjemputku. Jadi bagaimana?”

“Ya sudah, naik taksi saja. Kantor kan, sudah mengurus akomodasimu. Kau sudah sering bolak-balik, kan?”

Bolak-balik Korea- Jepang sih, iya. Ini New York, sialan!

Baru saja Hellen hendak memohon, Yongmi sudah memutus teleponnya. Untuk sejenak, gadis itu terdiam, menikmati hening di keramaian. Kemudian ia menarik napas dalam-dalam, hingga oksigen memenuhi paru-parunya, lalu ia mengembuskannya seraya mengangguk mantap.

Si gadis melambaikan tangan ke arah taksi. Baru saja ia hendak meraih kenop, seseorang menabraknya hingga tersungkur. Hellen mendongak dengan kesal.

“Watch your move and thanks a lot!” lelaki berambut pirang pasir itu tertawa penuh kemenangan, berhasil merebut taksi yang susah payah dikejar Hellen—tanpa merasa bersalah. Dan Hellen terlalu letih dan marah untuk membalas ucapannya.

“He got that right, Young Lady. This is New York, watch your move.” Seorang ibu-ibu bertubuh gempal membantunya berdiri. Hellen bangkit dan mengucapkan terima kasih dalam bahasa Inggris. Ia membukakan pintu taksi untuk Hellen. “Take care, Honey.”

“I don’t know how to express my gratitude but thanks a lot!” Hellen melambaikan tangan padanya sebelum menutup jendela taksi.

:::::

“Halo, gadis New York!”

Hellen memutar bola matanya begitu mengaktifkan Skype. Jung Hoseok menyunggingkan senyuman lebar secerah mentari yang datang tepat waktu. Hellen baru selesai berendam air hangat di hotel tempatnya menginap, berganti baju, mengeringkan rambut, dan menghempaskan seluruh kepenatan usai presentasinya malam ini. Hoseok sudah memintanya membuka Skype, tanpa peduli perbedaan waktu antara New York dan Seoul.

“Jadi, bagaimana New York hari ini?”

“Kenapa tanya New York? Seharusnya kau tanya kenapa aku masih bisa bernapas detik ini,” Hellen melontarkan sebaris gerutuan.

“Galak sekali. Kau pasti tersandung kaki orang sana kemarin-kemarin. Itu kan bakat alamimu, tersandung apa saja.”

“Kuakhiri obrolan ini—“

“Eh, jangan, jangan! Mematahkan rindu orang lain itu dosa, tahu!”

“Yang penuh dosa itu mulut manismu, Jung Hoseok.”

Dari seberang benua, Hoseok tertawa lagi, begitu renyah hingga Hellen mesti mengerahkan seluruh usahanya untuk bersikap pura-pura tidak balas merindukannya.

“Bilang pada bosmu. Sering-sering saja mengirimmu ke luar negeri, biar kau belajar sedikit!”

“Belajar apa?”

“Belajar sumpah serapah khas Amerika. Kau tahulah, damn, shit, what the hell, fu—

“Aku akan benar-benar menonaktifkan Skype-nya dalam hitungan ketiga,” Hellen memelototi pemuda di layar.

“Jangan! Aduh, dasar perajuk! Ya sudah, kita bicarakan yang lain. Mari bicara tentang kau dan aku.”

Hellen mendengus, kenapa Hoseok harus berputar-putar kalau ujung-ujungnya menagih kata-kata penuh romansa. Kadang Hellen berpikir, mungkin itulah yang terjadi jika kau mengencani pengamat film yang mengisi dua halaman penuh rubrik resensi film terbaru di majalah metropolitan Korea. Jung Hoseok pasti terlalu banyak menelan adegan dan percakapan yang bisa melumerkan hati para gadis bak margarin dapur.

“Jadi, biar kuberitahu apa yang kulakukan jika aku mulai merindukanmu tanpa alasan,” Hoseok tampak mengambil sesuatu dari ranselnya—sekeping DVD film Pitch Perfect. Hellen ingat. Kencan pertama mereka waktu itu tak lebih dari menemani Hoseok menonton film musikal yang harus diulasnya untuk edisi Senin depan. Saat itu, Hellen sebenarnya menelan kekesalan dan menunjukkannya dengan memasang tampang cemberut sepanjang perjalanan hingga ketika film dimulai. Sebelum masuk ke teater, Hoseok menggenggam tangan Hellen sembari berujar lembut. “Aku tidak sedang memanfaatkan acara kita demi pekerjaan. Tapi aku yakin kau akan menyukai filmnya.” Dan Hoseok benar, Hellen bahkan membeli DVD orisinilnya ketika rilis. Gadis itu menyukai plotnya, musiknya, akapelanya, bahkan ia jadi penggemar Anna Kendrick setelah menontonnya ulang.

Pada kenyataannya, Hoseok selalu tahu apa yang bisa membuat Hellen bahagia.

“—kalau aku rindu padamu ketika kau sedang berada di luar negeri, aku mencari hal-hal yang kausukai. Seperti menonton ulang Pitch Perfect, menikmati vanilla latte, membaca komik strip di surat kabar—“

“Mengejar lipstik diskonan?” Hellen menimpali, memancing tawa keduanya. Yah, tampaknya Hoseok butuh tawa sebagai jeda. Lantas ia terlihat menghela napas dan memandang gadisnya.

“Aku dulu terbiasa pergi ke bioskop sendirian demi mengejar film yang harus kubuat resensinya. Tidak peduli pada orang-orang yang membawa pasangan. Tapi sekarang, nonton sendiri rasanya aneh.” Hoseok menggaruk tengkuknya. “Tidak ada yang otomatis memelukku seperti waktu kita nonton Insidious 2—“

Hellen menyemburkan tawa lantara Hoseok kembali mengungkit kejadian memalukan tersebut. Waktu itu ia sampai menumpahkan seluruh popcorn.

“Jangan diingat lagi, dasar tidak sopan!” hardik Hellen di tengah tawa. “Kau pasti sengaja mengajakku nonton film horor!”

“Pekerjaan, Nona. Pekerjaan,” Hoseok berkilah sembari terkekeh. “Ya sudah, tidurlah sana. Kalau aku mampir di mimpimu, usir saja.”

“Kenapa diusir?”

“Biar ketika kita bertemu lagi, kau merasa bersalah dan bersedia kuajak nonton lagi.”

Sekali lagi mereka tertawa, dan usai mengucapkan selamat tidur, Hellen menonaktifkan Skype lalu mematikan laptop-nya. Benda itu diletakkannya di meja seberang ruangan, dan ia mengatur cahaya lampu.

Barangkali, kebahagiaan Hellen bukan karena ia mengencani seorang pengamat film yang cerdas mengkritisi suatu sinema demi resensi yang bisa dinikmati pembaca.

Tapi praktis karena Jung Hoseok-lah orangnya.

.

FIN.

21 thoughts on “[IFK Movie Request] Sincerely, NYC”

  1. OMAYGAT ECIIIIIIIIK….
    INI MANISNYA SUPEERRRRRR…
    GUE DIABETES!!! TANGGUNG JAWAB LU 😭😭😭😭
    HOSEOK MINTA GUE KAWININ APA YAK

    ECI BIKININ KELANJUTANNYA GA MAU TAU GUE 😭😭😭😭

    *injek caps
    Oke sekarang normal!
    Pertama baca si hellen yg lagi “riweuh” itu berasa gue ikutan ribet sebel marah nya 😑😑 duh ga enk dikerjain gitu..
    pas baca si jhope ngajak skype-an aduduuuuhhh.. dunia berasa indah 😍😍😍

    eci gue harus komen apa lagi ini😔😔😔
    gue pan mau nyepam tadinya karena saking senengnya 😭😭😭😭

    ada rencana bikin kelanjutan ga ci *uhuk

    eh betewe.. thanks ya sayong udh dibikinin. ini mah bkin gue meleleh cem margarin 😚😚😚😚lope lope diudara untukmuh say

    Suka

    1. hahahahahahaha puas lo del puas! kelanjutan apa del kelanjutan apa ini aja gw nulis hoseok bermanis-manis udah maboque plz.
      makasih della sudah rikues, selalu dukung IFK ya ^^

      Disukai oleh 1 orang

      1. Haruskan gue rayu lu dulu Ci supaya kisah ini ada kelanjutannya?? *kicepkicep
        Nanti gue ajakin Wei buat ngerayu jg deh 😂😂😂

        IFK jjang!!!
        Jaya terus diudara /*plak/

        Suka

  2. Aaaaa kak eciii :3 sukaaak❤ Hoseok-Hellen semanis ini berasa overdosis gula kali ya /ga
    Hoseok disini kok pacarable banget sih. Candaannya juga lucu, kalo punya pacar gini bahagia terus hidupnya nih :3
    Udah nokaav speechless karena terlalu menikmati alurnya tapi bisa nangkep satu hal dimana jarak sebenernya ga bisa benar-benar memisahkan ya kan /kesimpulanmacamapaini/😀
    Semangat kak ecii :3

    Suka

  3. KAKECIIIIII duh aku suka banget gaya nulis kakeciii ngefans deh TT duh aku langsung ngaduh ngaduh begitu tau kakeci nulis jung hoseok bisa apalah aku kak ya langsung baca lah. Ini manis banget kak aku suka banget konversasi mereka, yang kerasa banget si hellen udah suntuk kerja terus kaya beruntung banget bisa punya hoseok. Aku belom pernah kerja sih kak jadi nggak tau suntuknya kerja itu gimana, seru kali ya tapi kalo bisa punya cowo kaya hoseok habis kaya pil penenang banget gitu dia hahahaha

    ini muanis banget kakeciii ditambah gaya nulisnya kakeci tuh ya duh (tuh kan ngaduh-ngaduh lagi) kaya aku bisa ngomong berulang kali kalo aku suka banget gaya nulis kakeci yang srlsy kakeci tuh salah satu writer yang tulisannya nyaman dan seru banget buat di baca im not even kidding.

    keep writing kakeciii❤

    Suka

    1. wahahaha asaaa nice to see you here! kayaknya kemarin asa nulis hoseok ya kulihat kolase cakepnya biru biru summer yosh senang sekali asa sudah balik nulis!
      btw jangan ngaduh-ngaduh ah aduuuuh hahaha makasih asa sudah mampir ^^

      Suka

  4. KAKECIIII!!!

    Sejujurnya aku udh baca td pagi, tp blm sempet komen (dan akhirnya diingetin kadel)

    Seperti biasa kak, aku cuma bisa senyam senyum gemes sama hoseok, pen culik tp ntar dibacok kadel akhirnya ga jadi.

    SEQUEL DONG THOR!! (ngacir)

    Suka

    1. hahahaha gapapa fey. lah si della sampe ngingetin duh jadi ga enak sama fey nih. yaudah deh gapapa culik aja hoseoknya haha makasih fey sudah mampir ^^

      Disukai oleh 1 orang

  5. Kak……

    Kak…..

    Kok bisa sih bikin beginian? HUHUUUUUU
    Hosoq pengamat film… duh dream job sekali /plak/ dulu bahkan aku pengen ngelamar jadi CS di XXI cuma biar bisa nonton film tiap hari tapi apa daya abah langsung mencak-mencak😄
    Besok aku harus ke apotik kakeci.
    Kayanya aku diabetes………

    Suka

  6. WHOA KAKECI AKU BAHAGIA????? SEKALI FINALLY ADA YANG MEMBUAT HOSEOK BEGINI WHOA. Aku ga kebayang hoseok jadi pengamat film; gapernah kepikiran sih maksudnya. Tapi kalo dipikir-pikir kok keren juga.

    Kak, aku suka banget sama gaya penceritaan kakak HUHU. Enjoy banget ngebacanya. Aku kebayang sibuknya NY, terus skype sama hoseok, wow luar biasa banget. Terus aku suka, nih jadi si cewek ini sibuk terus ada hoseok buat relieve stress dia aduh seeking solace banget inimah ceritanya.

    Udah no words to explain aku cinta kaeci karena udah nulis ini pokoknya❤❤❤❤❤

    Suka

    1. wahaha halo veli! pekerjaan pengamat film itu aku baca di novelnya Rainbow Rowell yang judulnya Attachment, itu si Beth kan pengamat film buat majalah dan dia keren banget makanya pekerjaan pengamat film aku jadiin ke hoseok. hehehe. yoih kalo lagi cape trus skype sama semacem2 hoseok di sini itu seger banget ya palagi kalo abis hectic day huvt. makasih veli sudah mampir ^^

      Suka

  7. Jujur ya ka, ak hanya baru beberapa baca tulisan punyamu tapi dari semuanya aku suka. karena apa ya…aku gak akan bilang diksi kaka sederhana tapi gimana yah mungkin lebih cocoknya kalau dibilang ‘tepat pada tempatnya’ ringan, mudah dipahami dan plisss itu keren banget ^^. Kalau untuk ff satu ini fix aku suka sekali soalnya genrenya selera aku banget semacam chicklit/romance gitu yah dan profesi yang dipilih buat karakter hoseok juga–pengamat film, kok gak pernah kepikiran ya.
    yoweis, thanks for sharing ka dan semangat! buat project lainnya

    Suka

    1. wahaha ketahuilah sovia, bahwa pekerjaan pengamat film ini pun aku ambil dari tokoh Beth di novel Attachment-nya Rainbow Rowell. Tadinya mau kubikin fotografer, atau penulis artikel majalah, tapi kayaknya pengamat film kece dan tidak biasa? hehehe. makasih sovia sudah mampir ^^

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s