Magnetic (Chapter 2)

Magnetic (Chapter 2)

Magnetic

(Chapter 2)

Scriptwriter: deerochan | Casts: Jackson (GOT7), Fe (OC) | Support Casts: Jaebum, Mark, Jinyoung, Bambam, Yugyeom, Youngjae (GOT7) | Genre: romance, fluff | Rating: General | Duration: 2000+ words

Summary:

Ketampananku membuat banyak orang jatuh cinta, apakah mungkin termasuk ‘dia’?

Disclaimer: ini semua fiksi dan hanya khayalan author saja (manajer, JYP Headquarter etc.) jadi bila ada kesalahan mohon dimaklumi. ^^

 Previous: MAGNETIC 1 (JB)

 

(Situations like this are not so good

I don’t know, I’m not in the right mind, my heart is a mess)

           

Ckrik! Bambam mengambil foto kami berdua melalui iPad selepas latihan malam ini. Aku menatap hasil foto yang diambil Bambam, di mana aku memakai snapback bertuliskan “WANG” di sana. Aku selalu suka memakai snapback bertuliskan ‘Wang’ atau ‘852’, yang merupakan kode Negara asalku, Hong Kong—karena itu menunjukkan identitasku.

“Aku terlihat tampan!” aku berkata pada Bambam yang hanya menjawab, “Hm,” sambil sibuk meng-upload foto yang tadi kami ambil ke sosial media. Ya, dia suka sekali update untuk menjaga komunikasi dengan para penggemarnya. Aku melihatnya memberi caption di bawah foto itu, “My Wife~!” dengan banyak emoticon hati di sana.

“Benarkah? Am I your wife?” tanyaku padanya. Dia hanya cengengesan menyebalkan. Aku lalu melirik pantulanku di cermin besar tempat latihan.

“Aku sangat tampan dan bergaya, kenapa aku harus jadi istrimu? Harusnya kau yang jadi istri,” sahutku. Bambam hanya menyahut sambil berkutat dengan iPadnya, “Begitukah, Jackson-hyung?”

Aish… Aku jadi sebal padanya. Kutinggalkan dia berkutat sendirian di tempat latihan, aku hendak beristirahat ke asrama. Kulihat Jae Bum sedang bersiap-siap kembali ke asrama bersama Youngjae.

“Hey, Jackson,” sahut Jae Bum, “kalau latihan jangan banyak bergaya. Seriuslah, waktunya semakin dekat.”

Aku menatapnya aneh dan bergegas menjajari langkahnya, lalu memijat bahunya sebentar. “JB, apakah kamu sedang merasa capek? Jangan uring-uringan begitu,” jawabku. Jae Bum hanya tersenyum dan mengajakku kembali ke asrama. Di belakang, Bambam mengikuti dengan perlahan karena ia takut ditinggal sendirian.

Malam sudah larut, sudah sekitar jam sebelas malam sesampainya aku di kamar asrama. Kulihat Mark di kasurku sedang sibuk membaca surat penggemar.

“Tidurlah, Mark,” sahutku padanya. Ia menyahut tak jelas.

“Hari ini apakah banyak?”

“Ng?” Mark mendengung.

“Hari ini, apakah surat penggemarmu banyak?” tanyaku lagi padanya. Mark cuma mengangguk, ia lalu memberikan beberapa padaku.

“Itu yang buatmu,” katanya, lalu bergegas berdiri untuk mengganti bajunya dan bersiap tidur. Aku menatap beberapa surat dengan amplop warna-warna yang cerah di tanganku. Tanpa sadar, tanganku mencari amplop krem cerah bergambar anak anjing. Aku berhenti saat tanganku menemukannya.

Benar saja. Hari ini ada lagi, batinku.

Sudah hampir tiga minggu ini, aku selalu saja menerima surat yang sama. Surat dengan amplop krem cerah kotak-kotak, bergambar anak anjing bertuliskan puppy di bawahnya. Surat dengan isi yang penuh dengan kata-kata manis dan cinta akan dukungan seorang fans pada idolanya. Surat dengan nama pengirim ‘Fe’.

Aku membuka amplop surat tersebut, mengeluarkannya dan membacanya. Masih awalan dan tulisan tangan yang sama.

Dear Oppa,

Apakah kamu baik-baik saja? Aku harap begitu. Bagaimana latihanmu? Aku akan selalu mendukungmu, jadi kumohon bersemangatlah.

Apakah hari ini oppa bersenang-senang dengan para member? Belakangan ini Bambam sering menge-post foto kalian berdua. Aku harap kalian akan menjadi semakin dekat! Aku senang melihatmu selalu tersenyum, dan semoga bukan hanya di foto.

Oppa, jika kamu mengalami hari yang berat, ingatlah satu hal: kerja keras itu tidak akan pernah mengkhianati. Kurasa oppa yang paling mengerti hal ini, karena aku selalu mendukungmu semenjak di trainee, dan aku selalu melihat perkembanganmu dari hari ke hari. Kamu selalu berjuang dengan keras, kamu juga tertawa keras-keras dan itu membuat hariku makin berwarna.

Mungkin bagi dunia kamu adalah seorang Jackson Wang; namun bagiku, Jackson Wang adalah duniaku.

Fe

Aku tersenyum lebar membacanya. Entah sejak kapan, aku selalu mencari suratnya dibandingkan surat yang lain. Aku selalu merindukan dan mendahulukan surat dari Fe. Aku merasa dia spesial, dan dia juga selalu membuatku penasaran.

Kenapa ia spesial? Karena ia selalu menulis kata-kata yang menenangkan. Kata-kata seperti ‘Apakah kamu baik-baik saja?’, ‘Aku harap oppa selalu tersenyum.’, ‘Meskipun hari ini hari yang berat, aku percaya kamu bisa melaluinya.’, atau ‘Tertawalah, oppa. Tawamu bukan hanya membuat cerah duniaku, namun juga duniamu…’ adalah kata-kata yang paling menenangkan hati.

Aku merasa kata-kata itu bukan hanya dukungan semata. Tulisan-tulisan yang tertera di surat itu seperti meluncur tulus dari hatinya. Ia selalu mengkhawatirkanku—tidak berlebihan sama sekali seperti yang lain, ia hanya selalu menyuruhku untuk tersenyum seberat apapun hari yang kulalui. Ia selalu mengkhawatirkan jikalau aku akan putus semangat, dan ia mendukungku dengan caranya sendiri.

Aku hanya merasa bahwa aku sangat dipedulikan oleh Fe. Ia bukan peduli tampilanku di atas panggung atau kehebatanku saat menyanyi, tetapi ia lebih peduli pada kehidupanku sehari-hari. Fe mendukung seorang Jackson Wang yang adalah Jackson Wang, bukan Jackson Wang yang adalah member dari GOT7. Kata semangat yang tertulis di sana, entah mengapa lebih terang dari surat-surat yang lain. Tulisannya sederhana, singkat dan penuh makna.

Penggemar yang lain menuliskan ‘Kamu sangat enerjik hari ini’ atau ‘Mengapa oppa sangat tampan?’ atau ‘Aku senang sekali senyum oppa yang manis itu’ atau ‘Oppa keren sekali saat melakukan rap!’, seperti itulah. Tentu saja, aku sadar bahwa aku memang hampir sempurna. Aku tahu bahwa penggemar-penggemar itu tergila-gila akan kemampuan serta ketampananku.

Tapi Fe berbeda.

 Ia jatuh cinta pada diriku. Diriku, itu saja.

Hal itu membuatku selalu memikirkan dan penasaran dengannya. Namun sejauh apapun aku bertanya siapa yang mengirim surat ini, tidak ada yang tahu. Surat itu tiba-tiba saja selalu ada di kantor dengan nama pengirim Fe dan tanpa alamat asal. Itu artinya dia sendiri yang mengirim surat ini ke markas pusat JYP.

Malam itu aku tidak bisa tidur. Kukumpulkan semua surat-surat dari Fe, yang jumlahnya sudah lebih dari dua puluh. Aku membacanya satu persatu dan tersenyum. Ia selalu memakai awalan yang sama.

“Apakah kamu baik-baik saja? Aku harap begitu. Bagaimana latihanmu? Aku akan selalu mendukungmu, jadi kumohon bersemangatlah.”

Aku membaca kalimat itu berkali-kali. Apa, sih, yang spesial dari kalimat ini? Mengapa ia tidak pernah bisa bertanya dengan memakai kalimat lain? Mungkin dia tidak kreatif! Tidak seperti yang lain. Penggemar yang lain banyak mengirimiku hadiah-hadiah manis, kata-kata yang puitis, makanan serta minuman yang enak-enak, sedangkan dia? Setiap hari cuma mengirim surat dengan tidak lebih dari satu halaman. Aku pernah menerima ratusan surat yang lebih baik dari pada ini, hah, tentu saja!

Akan tetapi kenapa dia selalu membuatku penasaran? Aku jadi agak tersinggung. Kurasa dia itu indigo. Dia bisa membaca pikiranku, menafsirkannya dan menuliskan dukungannya atas ketakutan-ketakutanku.

Aku tersinggung karena dia selalu benar.

Pernah sekali aku mendapatkan banyak sekali surat penggemar saat fan meeting. Aku membaca semuanya, mereka para penggemarku memujiku setinggi langit. Mulai dari gaya berpakaianku, wajahku, rambutku, alis dan mataku, bau tubuhku, senyumanku, nyanyianku, tarianku atau tubuhku yang bagus karena telah ditempa latihan atlet. Aku merasa melayang saat membaca surat-surat dari mereka. Aku merasa menjadi orang yang paling terkenal dan paling berbakat di dunia.

Lalu suatu saat aku mendapatkan surat darinya untuk pertama kali. Sederhana dan tegas; ia hanya menyuruhku untuk istirahat setelah showcase, tidak malas latihan, tidak banyak bergaya dan belajar lebih banyak, sarapan, dan semangat. Ia lebih seperti ibu dipadu kekasih ketimbang penggemar. Aku tidak terlalu menyukainya karena sama sekali tidak ada bagus-bagusnya. Tetapi, aku masih saja heran kenapa ia membuatku penasaran. Ah… Fikiranku rasanya kacau sekali.

Kubaca salamnya di paragraf pertama yang selalu sama itu.

“Apakah kamu baik-baik saja?”

Ya.

“Aku harap begitu.”

Tentu saja. Kamu, ‘kan fansku.

“Bagaimana latihanmu?”

Lancar.

“Aku akan selalu mendukungmu, jadi kumohon bersemangatlah.”

Oke.

Tuh, ‘kan! Biasa sekali. Aku membereskan surat-suratku dan bergegas untuk tidur. Aku tidak tahu aku sedang apa. Aku bahkan menertawai diriku sendiri karena penasaran padanya.

Esoknya, pagi-pagi sekali setelah sarapan, kami berangkat latihan lagi. Aku membawa surat Fe ke tempat latihan. Tidak tahu kenapa… Hanya ingin saja.

Latihan hari ini aku tidak terlalu serius lagi. Aku hanya lelah, jadi aku ingin bermain-main, lagipula semua member suka leluconku. Aku melakukan doogie dance dan freestyle saat kami menari di beberapa lagu. Jae Bum berkali-kali memperingatkanku, akan tetapi aku hanya tertawa.

Pelatihku hari ini mungkin hari ini sedang sangat tidak mood. Begitu melihatku—yang memang sudah agak keterlaluan, beliau memarahiku.

“Jackson!” Ung Hyung  membentakku. “Kalau kamu tidak serius, lebih baik kamu berhenti saja. Aku hanya ingin orang-orang yang serius di ruang latihan ini!”

Aku berhenti tertawa-tawa. Bambam memperingatkanku dengan isyarat mata untuk meminta maaf. Hari ini aku memang sedang sangat malas untuk terlalu serius. Aku ingin bersenang-senang.

“Maaf, Hyung.”

“Sudahlah! Kamu keluar saja pagi ini. Dinginkan pikiranmu untuk belajar!” Ung Hyung dengan tegas menyuruhku keluar. Karena aku tidak ingin berdebat dengan beliau, aku bergegas keluar tempat latihan dalam diam. Member yang lain menatapku simpati.

Di depan pintu ruang tempat latihan, aku bertemu manajerku.

“Jackson? Apakah sudah selesai?” tanyanya heran melihatku keluar.

“Tidak,” jawabku menggeleng agak lemas, “aku disuruh keluar oleh Ung Hyung  karena bermain-main. Aaah… Aku jadi agak menyesal.” Jawabku sambil mengacak-acak rambutku sendiri.

Manajerku terkekeh pelan. “Aneh? Biasanya kamu yang paling serius.”

“Hahaha. Kenapa Noona kemari?”

“Aku ingin memberikan ponsel Jae Bum. Pagi tadi ada temannya yang menghubungi. Ah! Omong-omong soal Jae Bum, aku pernah berkata padanya. Apabila dia sedang kacau, aku akan menyuruhnya menulis lagu atau membaca surat penggemar. Dia bilang itu bekerja,” kata manajerku.

“JB?” tanyaku heran, “rupanya dia melankolis juga,” lanjutku sambil tertawa.

“Nah… Ini, Jack, ada surat penggemar yang datang pagi tadi. Siapa tahu akan mengembalikan mood-mu.”

“Ooh, iya,” aku hendak menerima surat yang diberikan manajerku, akan tetapi jantungku mencelos setelah melihat apa yang dipegangnya. Surat krem cerah kotak-kotak bergambar anak anjing.

“I-ini datang pagi-pagi?” tanyaku.

Manajerku mengangguk.

Aku merebutnya dari tangannya. “Apa Noona melihat siapa yang memberikannya?”

Manajerku mengangguk, membuat dadaku seketika berdegup kencang. “Iya. Ada seorang gadis yang bertanya apakah aku akan pergi ke tempat latihan kali ini. Begitu kujawab bahwa aku akan pergi, ia menitipkan surat ini untukmu…”

“Bagaimana ciri-cirinya?” tanyaku antusias. Manajerku dengan bingung menjawab sambil setengah mengingat-ingat.

“Gadis yang agak tinggi, berambut hitam kecoklatan sebahu. Memakai syal krem dan parka hijau…”

“Terima kasih!” aku bergegas, berlari untuk menuju JYP Headquarter. Aku menaiki sepeda dan mengayuhnya sekuat tenaga. Kenapa sepagi ini datangnya? Tumben sekali!

Sesampainya di sana, aku mencari-cari orang yang identitasnya sama seperti yang dikatakan manajerku. Tetapi percuma, staf-staf di sana tidak tahu menahu akan hal itu. Di depan gedung juga sama sekali kosong. Otakku tidak berhenti-berhentinya bertanya penasaran. Ada apa? Kenapa dia mengirim surat pagi-pagi?

Ah, aku belum membuka suratnya, bukan? Kira-kira apa isinya, ya…

Dear Oppa,

Apakah kamu baik-baik saja? Aku harap begitu. Bagaimana latihanmu? Aku akan selalu mendukungmu, jadi kumohon bersemangatlah.

Aku mengulum senyum. Masih saja… Awalan yang sama lagi.

Apakah kamu baik-baik saja?

Apakah fisik dan hatimu cukup baik? Apakah kamu mampu menjalani harimu dengan baik? Apakah ketika bangun tidur sampai sekarang, kamu tidak kurang suatu apapun?

Aku harap begitu.

Aku harap kamu sehat-sehat saja. Kamu tidak sedang sedih atau terluka. Dengan begitu, seharian ini aku bisa melihatmu tersenyum dengan ceria. Aku bisa melihatmu melempar lelucon layaknya biasanya.

Bagaimana latihanmu?

Apakah kamu sedang dalam kondisi fit untuk latihan? Oppa tidak merasa malas, ‘kan? Kasihan yang lain jika kamu sedang malas. Kalian harus berjuang, terutama kamu, Oppa. Dengan begitu, kamu akan bersinar di panggung yang paling terang. Aku yakin kamu akan bisa mencapainya.

Aku akan selalu mendukungmu, jadi kumohon bersemangatlah.

Aku memang mendukungmu, dan akan selalu begitu. Aku mendukung dan mencintaimu dengan segenap hati. Aku mendoakanmu setiap hari—ekspresi cinta terbesarku untukmu. Aku akan bahagia jika kamu bahagia, dan aku akan menangis jika kamu menangis. Kumohon, bersemangatlah. Tetaplah menjadi Jackson yang sekarang. Jackson Oppa yang menarik hati. Jackson Oppa yang kuat, tegar dan selalu berusaha tersenyum bagaimanapun sulitnya keadaan.

Aku akan selalu mendukungmu, jadi kumohon bersemangatlah.

Fe

Aku tertegun. Terdiam lama selepas membacanya. Tubuhku beku dan hatiku tergetar.

Fe… Siapakah kamu? Kenapa kamu mengatakan ini padaku? Kamu memberiku arti dari barisan awal setiap suratmu. Aku bisa membayangkanmu berkata, “Oppa, inilah artinya… Bersemangatlah!”

Aku seperti ditampar-tampar oleh perkataannya. Bagaimana bisa ada setitik saja perasaan untuk ingin mengkhianati penggemarku ini? Apa yang kulakukan di sini? Aku harus segera latihan dan berjuang dengan keras, agar aku bisa berdiri di panggung yang paling terang.

Ketika aku dengan cepat memutar arah sepedaku, untuk sekilas aku melihat bayangan seorang gadis tidak terlalu jauh dari hadapanku.

Gadis dengan rambut hitam kecoklatan, jeans hitam dan sepasang boots. Dengan parka hijau dan syal krem melingkari lehernya.

Aku menjatuhkan sepedaku tanpa sadar. Kakiku tiba-tiba melangkah cepat ke arahnya. Dengan seribu pertanyaan di benakku dan dengan debaran jantung yang tidak menentu.

Gadis itu berjalan beberapa langkah di depanku. Dekat. Sangat dekat.

“Fe!”

Gadis di depanku itu menoleh dengan cepat. Menatapku tepat di manik mata, tertegun.

“A-apakah kamu adalah Fe?” tanyaku terbata-bata.

Gadis itu terdiam. Ia lalu tersenyum, perlahan.

Bukannya membelalakkan mata, kaget atau berteriak-teriak dengan keras. Ia justru tersenyum… Bibirnya dan matanya, seluruh wajahnya seakan ikut tersenyum padaku.

Melihat itu, segala yang ada di benakku terasa sangat jelas sekarang. Kian jelas, tumbuh dan mekar dengan amat indah. Finally…

(I don’t know, I’m not in the right mind, my heart is a mess

There is a solution to this condition, it’s your love)

 

2 thoughts on “Magnetic (Chapter 2)”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s