Touching The Moon – Episode 1

Touching The Moon Versi 2  fixxxxx

GALAXYSYFPresents

Touching The Moon – Episode 1

Tsubaki (OC / You) and Kai (EXO)
with
Kenta (Jaehyun NCT U)
Ten (NCT U)

GUIDE BOOK

Hidup seakan berjalan semakin rumit.
Seharusnya kau tak pernah mengenalnya.
Tak ingin kau mengenalnya jika kau tahu kau akan disakiti.
Tapi, apa yang bisa kau lakukan jika kau sudah terlanjur mencintainya.

.

FOREWORD


Malam ini dingin.

Sungguh.

Hal itu bukan lagi sebuah opini dari seorang gadis sepertimu yang berada di tengah hutan selarut ini. Bahkan ketika kau mengenakan sweater berlapis mantel serta celana legging serba hitam, kau masih bisa merasakan bagaimana udara dingin menembus kulitmu hingga ke tulang. Angin sudah seperti membawa butiran-butiran es di setiap hembusannya.

Kau tak pernah takut untuk melangkahkan kakimu di atas tanah lembab hutan kapanpun itu. Akan ada banyak alasan untuk pergi ke hutan ketika kau pikir untuk tidak pergi satu malam saja. Kau selalu menemukan fakta jika hutan adalah satu-satunya tempat yang membuatmu bisa lari dari kenyataan, melepaskan semua bebanmu dan menjernihkan pikiranmu dari tekanan kehidupan sebagai seorang manusia. Atau jika bukan karena itu, kau akan tetap pergi ke hutan setiap malam untuk melatih kemampuanmu sebagai seorang Mage.

Tapi dinginnya malam kali ini terasa begitu berbeda.

Beberapa kali kau mendengar rumor jika akhir-akhir ini kerap terjadi pertempuran antar kelompok werewolf. Akar masalahnya bisa jadi soal daerah kekuasaan. Setiap kelompok pasti punya daerah kekuasaannya sendiri dan saat satu kelompok merasa daerahnya terancam atau berusaha memperluas wilayahnya, pertarunganpun menjadi satu-satunya jalan bagi makhluk ghaib berakal pendek seperti mereka. Hal yang paling kau takutkan soal rumor itu adalah jika rumor itu benar-benar terjadi.

Yeah, kau memang takut.

Kau tak bisa pura-pura tidak tahu atau tidak mendengar suara gong-gongan keras dari arah selatan, terlebih kadang diiringi suara lolongan panjang. Sekeras apapun kau mencoba, hal itu tidak akan berhasil. Dalam seminggu, kau bisa mendengar suara-suara itu sebanyak 3 sampai 6 kali dalam waktu 4 hari—entah harinya akan berurutan ataupun tidak—dan hal itu sudah terjadi selama sebulan.

Malam ini bukanlah yang terburuk, jujur saja. Kau pernah mendengar suara-suara yang lebih mengerikan—dengan suasana yang lebih mencekam—pada bulan puranama kemarin. Kejadiannya belum ada seminggu berlalu dan hal itu membuatmu khawatir. Terlebih lagi jika mengingat bagaimana seram dan mengerikannya para werewolf ketika purnama tiba.

Well, setidaknya hari ini bukan puranama.

Kau tidak ingin secara kebetulan bertemu dengan sekelompok werewolf—atau mungkin lebih—dengan wujud asli mereka, sedang bertarung selayaknya binatang buas memperebutkan hak atas wilayah tertentu. Kau akan berusaha sekeras mungkin untuk menghindar dari wilayah pertempuran para werewolf begitu kau bisa merasakan aliran chakra tubuh mereka yang terbilang sangat cepat. Sudah 2 kali kau nyaris mendekati wilayah yang kau maksud dan sejauh ini kau berhasil terhindar dari suasan menegangkan medan perang.

Yang kau tahu, wilayah tempatmu berada—termasuk dengan wilayah tempatmu tinggal—sudah dikuasai oleh sekelompok werewolf dari klan Higure. Well, kau tidak tahu persis kelompok yang mana karena klan Higure merupakan salah satu dari 3 klan werewolf terbesar dan mereka terbagi dalam beberapa kelompok kecil. Kau bahkan tak pernah bertemu dengan mereka sekalipun, di kota ataupun di hutan. Untuk beberapa alasan, kau menganggap hal itu bagus. Kau juga tidak ingin bertemu dengan mereka kalau bisa.

Semoga saja.

Langkahmu tiba-tiba terhenti ketika kau merasakan sesuatu ada di dekatmu. Kemampuan sensormu cukup kuat untuk mendeteksi kehadiran orang lain. Dari chakra yang bisa kau rasakan, orang ini bukanlah manusia. Alirannya lebih kuat dari yang pernah kau rasakan. Biasanya kau bisa merasakan chakra makhluk lain dari jauh, sehingga membuatmu bisa waspada lebih awal. Tapi kali ini, chakra yang kau rasakan sudah berada di dekatmu.

Sial! Padahal kau benar-benar sedang tidak ingin bertemu dengan werewolf.

Kau mengaktifkan mode sage sesegera mungkin dengan pertimbangan werewolf itu bisa menyerangmu kapan saja. Tubuhmu mulai dihiasi dengan tattoo yang menjalar secara ghaib dari pusat chakramu yang terletak kepala ke seluruh tubuh. Kau beruntung menjadi salah satu dari Mage spesial yang bisa meningkatkan kekuatannya dengan mode sage. Hal itu juga bisa meningkatkan kemampuan sensorikmu yang sudah peka.

Matamu tajam mengawasi sekelilingmu, tapi dalam mode sage yang aktif pun kau belum bisa melihat keberadaan werewolf itu. Kau terus memandangi sekitarmu, kanan, kiri, depan, belakang, tapi sensormu mengarahkan ke arah lain yang belum bisa kau terjemahkan sepenuhnya.

Kau memperluas daerah pencarianmu ke atas, mengangkat kepalamu tinggi ke arah batang pohon yang letaknya bermeter-meter di atasmu. Cukup tinggi sampai kau merasa tidak mampu menjangkaunya dengan mudah. Kau melihatnya di antara rindangnya dedauan di atas pohon. Dia hinggap di salah satu batang besar yang tingginya bisa 4 meter lebih. Kau tak bisa melihat wajahnya atau bahkan sosoknya, dia membelakangi sinar bulan sehingga yang bisa kau lihat hanyalah siluetnya yang memandang terus ke arahmu, hanya matanya yang tajam berkilau keemasan seperti layaknya permata.

Kau tidak punya senjata khusus untuk menghadapi werewolf, tapi seharusnya kemampuan sihirmu bisa menjadi senjata terkuat untukmu. Terlebih kau dalam keadaan mode sage yang sedang aktif. Meski begitu, kau tidak berpikir untuk menyerang duluan selama werewolf itu tidak menyerangmu.

Kau memilih untuk membentuk bola cahaya hanya dengan salah satu tanganmu saja. Itu sihir yang sangat mudah sehingga kau tak akan kerepotan melakukannya dan membiarkan bola cahaya itu terbang ke atas.

Cahaya biru bersinar sejuk, bergerak naik menelusuri batang pohon, menyinari setiap sisi yang gelap hingga mencapai tempat tujuannya. Cahaya itu terlihat indah di antara dedauan, namun werewolf itu cukup terganggu dengan silaunya cahaya yang tiba-tiba masuk ke dalam matanya di awal. Sosoknya bukan lagi hanya sekedar siluet di matamu. Kau tahu dia sedang memandangimu sejak awal, namun kali ini kau bisa mengetahui dengan sangat jelas dengan matanya baru keemasannya yang berkilauan. Bagaimana kedua matanya hanya tertuju padamu saat ini.

Kau melihat wajahnya yang memiliki tattoo di kedua pipinya. Bukan tattoo yang mirip denganmu, tapi dengan itu kau bisa membuktikan, bukan hanya Mage yang mampu mengaktifkan mode sage untuk meningkatkan kekuatan mereka. Werewolf merupakan salah satu makhluk ghaib yang bisa menggunakannya juga dan werewolf ini pun dalam keadaan mode sage yang sedang aktif.

Kau berpikir, mungkin mode sagenya sudah aktif sejak tadi karena—rumor—ada pertarungan yang mungkin saja sedang berlangsung.

Tak ada satupun dari kalian yang bergerak. Tidak kau atau si werewolf itu. Tapi seseorang harus mengambil tindakan sebelum situasi ini semakin terasa aneh dan canggung. Kau melihatnya melompat terjun dari ketinggian 4 meter dengan sangat mulus dan itu membuatmu kaget dengan perasaan takut jika werewolf itu akan menyerangmu. Untuk seorang—atau seekor—werewolf hal itu takkan melukainya dan kau bisa lihat bagaimana dia bisa berdiri tegak dengan cepat setelah mendarat di atas tanah dengan dentuman pelan. Kau melangkah mundur secara spontan dan bersiap untuk menyerang jika dia benar-benar ingin membunuhmu.

“Tunggu!” Kau mendengarnya mencegahmu melakukan sesuatu, menghentikanmu untuk menjauh. Kau mendengar suara yang tak membahayakan, tak seperti berniat jahat. Hal itu tidak termasuk dalam ekspekstasimu ketika bertemu dengan werewolf.

Masih terlalu gelap untuk melihat wajah werewolf ini dengan bulan yang tak bersinar penuh dan bola cahaya milikmu masih ada di atas pohon. Kau punya rasa penasaran besar dengan werewolf ini, mengingat kau belum bertemu dengan satupun dari mereka selama hampir seumur hidupmu.

“Seharusnya kau tidak berada disini,” desisnya padamu.

Kau memutuskan untuk membuat bola cahaya yang lain dengan sekali gerakan cepat. Dia berjalan mendekatimu dan sumber cahaya yang masih berada ditanganmu. Hal pertama yang kau nilai adalah pakaiannya yang tak pernah kau duga. Sebelumnya kau berpikir werewolf mungkin akan berpakaian aneh, seperti seragam klan atau semacamnya, yang pernah kau bayangkan akan sangat primitif. Tapi kau melihatnya memakai ripped jeans hitam (atau celana itu sobek karena pertarungan, kau tak tahu) dan kemeja putih yang sudah kotor (entah itu darah atau tanah, kau juga tak bisa memastikannya) serta leather jacket hitam model terbaru (kau melihatnya beberapa waktu lalu di toko). Stylenya menurutmu terlalu keren untuk ukuran seorang werewolf, terlebih lagi dia menggunakan sepatu merek vans yang sama sekali tidak menggambarkan jika dia ingin pergi untuk perang.

Kau mulai bisa melihat wajahnya lebih jelas lagi. Kau tidak tahu persis kapan tattoo di wajahnya menghilang, tapi wajahnya jadi terlihat jelas tanpa tattoo berwarna merah yang sebelumnya menghiasi wajahnya, meski kenyataannya dia sudah punya luka gores di daerah tulang pipinya dan sudut bibirnya yang memar. Setidaknya dia dalam keadaan normal sekarang. Rambutnya yang kecoklatan terlihat sedikit berantakan, tapi tak jadi masalah bagimu. Dia jauh lebih tinggi darimu, mengingat jika kau memang tidak begitu tinggi sebagai seorang perempuan. Dari apa yang terlihat, mungkin dia tak jauh lebih tua darimu, terlebih dengan selera fashionnya yang modis begitu, dia tak mungkin berumur dewasa. Lagi pula wajahnya masih sangat mulus dari keriput. Umurnya tak mungkin melebihi 25 tahun jika analisismu benar.

“Kenapa?” kau bertanya. “Apa karena aku berada di daerah kekuasaanmu?”

“Bukan,” balasnya cepat. “Tempat ini akan jadi medan perang tak lama lagi. Meski kau seorang Mage, aku yakin kau tidak ingin melihat bagaimana werewolf berperang secara langsung.”

Dia beranalisa dengan baik soal dirimu (atau memang seharusnya sudah bisa ditebak) dan dia ada benarnya. Kau memang tidak ingin melihat dengan mata kepalamu sendiri pertarung antar werewolf yang sangat brutal. Lagi pula, kau bisa saja pergi dari sini tanpa disuruh.

Tapi kau masih ingin melihat werewolf lebih lama lagi. Bahkan kau ingin melihatnya berubah. Meski begitu, kau tidak bisa meminta begitu saja. Kau tidak mungkin menyuruh seorang werewolf berubah menjadi serigala raksasa di hadapanmu seenaknya. Werewolf hanya bisa berubah ke wujud serigala raksasa hanya pada waktu tertentu dan biasanya tak semua werewolf bisa berubah semau mereka.

Kau memutuskan untuk menonaktifkan mode sage setelah kau pikir keadaan ini mungkin tak sepenuhnya membahayakan. Tattoo kehijauan yang menjalar di tubuhmu perlahan menghilang,  Dan jika berpikir soal mode sage, mengingat bagaimana bentuk tattoo werewolf ini, kau mengenalinya sebagai anggota klan Higure. Mudah untuk mengenalinya berkat buku tentang mode sage yang pernah kau baca dari tumpukan buku tua di rumahmu. Mungkin dia memanglah salah kelompok werewolf yang memegang kekuasaan di daerah ini.

Kau bahkan tak ragu untuk bertanya. “Kau dari klan Higure, kan?”

Dia mengangguk sebagai jawaban. “Apa kau tinggal di daerah ini?” tanyanya bingung.

“Kenapa? Heran karena kau tak tahu ada Mage tinggal di daerah kekuasaanmu?”

Dia mengangkat alisnya. Sepertinya dia memang baru tahu jika Mage sepertimu tinggal di wilayah ini. Kau juga tak heran karena kau tak pernah bertemu dengannya ataupun anggota kelompok yang lain. Kau juga tidak suka mengekspos kekuatanmu di tempat umum.

“Siapa namamu?” dia bertanya, tapi kau tak suka dengan nada yang digunakannya. Seperti sedang menginterogasimu.

“Nakamura Tsubaki.”

Tsubaki(=Camellia), ya? Akan kuingat itu,” ujarnya. “Klan?” dia bertanya lagi.

“Aku tidak punya klan.” Sepuluh tahun hidup sendirian hingga umurmu yang ke-18, membuatmu tak punya keluarga ataupun klan. Kau bahkan tidak ingat siapa orang tuamu.

“Aku tak heran. Mage memang tak suka berkelompok.”

“Dan kau?”

Dia mengulurkan tangannya sebagai tanda jika dia mau diajak berkenalan. Itu bagus, meski menurutmu itu hal yang aneh mengingat bagaimana cara werewolf itu bicara padamu dari tadi. Yang perlu kau lakukan hanyalah menyambut tangannya dengan tangan kananmu yang kosong, karena kau sudah melepas bola cahaya buatanmu untuk melayang-layang di udara. Tak baik jika menolak ajakan damai seperti ini. Kau bisa hidup aman jika sudah mengenal salah satu makhluk yang menguasai daerah tempatmu tinggal. Kau menyambut tangannya antusias. Tangannya begitu hangat dan besar. Kau bahkan tak yakin bisa menjabat tangan itu sepenuhnya dengan tanganmu yang kecil.

“Aku Akimoto Kai. Kau sudah tahu klanku, kan?”

Kau mengangguk pelan ketika tanganmu digoyangkan perlahan sebagai tanda perkenalan. Kai tak seseram yang kau kira. Atau setidaknya begitu sejauh ini.

“Sebaiknya kau segera menjauh dari tempat ini. Mage sepertimu seharusnya sudah bisa merasakan chakra werewolf yang sedang menuju kemari.”

Sensormu aktif dengan sendirinya. Kau melihat sekelilingmu ketika kau bisa merasakannya. Ada 6 atau 8 chakra yang bisa kau rasakan bergerak cepat ke arah tempat ini. Kalau sudah begini, kau tak bisa terus berlama-lama di sini atau kau akan terjebak di dalam pertarungan mengerikan antar kelompok werewolf.

Perhatianmu kembali pada Kai, membuatmu kembali mendangakan kepalamu untuk benar-benar bisa melihat wajah Kai yang letaknya sekitar lebih dari 20 senti di atasmu.

“Baiklah.” Kau meletakan tanganmu di pundak Kai, mengalirkan sesuatu dari pusat chakramu yang membuat matamu berubah hitam sesaat. Alirannya terlihat begitu jelas di bawah cahaya biru ciptaanmu. Sesuatu bergerak cepat membentuk pola melalui tanganmu hingga berakhir di pundak Kai dan tersebar ke seluruh tubuh.

“A-apa yang kau lakukan?” tanya Kai panik.

“Aku hidup di wilayah ini selama 18 tahun hidupku dengan aman. Jika wilayah ini jatuh ke tangan kelompok lain, aku tak yakin wilayah ini akan seaman sebelumnya. Anggap saja hadiah perkenalan dariku dan bentuk dari dukunganku untuk kelompokmu.”

Ya, kau memberinya kekuatan ekstra. Kau mengalirkan sebagian chakramu padanya. Tak perlu khawatir jika chakramu akan habis, karena Mage punya chakra yang tak terbatas. Kau bahkan tidak perlu memberinya chakra dalam mode sage yang aktif, begitu saja sudah cukup. Akan sangat mencurigakan jika secara tiba-tiba Kai punya kekuatan besar karena memperoleh chakra tambahan dari seorang Mage dalam mode sage yang aktif.

Kai tersenyum padamu. Mungkin sebagai tanda terima kasih.

Tak ada ucapan formal soal saling meninggalkan, ketika Kai berbalik dan kau mulai mengambil langkah menjauh. Untuk sekilas kau melihatnya berlari meninggalkanmu, di bawah sinar bulan yang indah menyinari kalian berdua, dan kau mulai berubah menjadi kepulan asap yang bergerak cepat tanpa harus ada kendali dari angin.

Kau akan mengingatnya. Kau tidak ingin lupa.

____

Langit masih gelap ketika kau terbangun. Hanya ada sedikit cahaya dari sang mentari yang mulai mengintip di pagi hari. Belum ada suaranya nyanyia burung-burung kecil sepagi ini. Tak perlu ada alarm atau suara orang yang membangunkanmu untuk membuatmu membuka mata setiap pagi. Suasana masih begitu sunyi di saat kau akan memulai hari. Kau terbiasa hidup sendirian, tanpa bergantung pada siapapun atau apapun.

Sebagai seorang pelajar, kau masih punya kewajiban untuk sekolah. Kau masih harus bangun pukul 6 pagi dan berangkat ke sekolah setiap jam 7. Sekolah dimulai pukul 8.50 pagi hingga jam 4 sore. Kau selalu membuat sarapan sendiri setiap pagi dan bekal untuk kau bawa ke sekolah.

Setelah sekolah, kau tidak pernah langsung pulang. Kau akan pergi ke tempatmu bekerja paruh waktu hingga jam 10 malam. Kau tak pernah mengikuti kelas tambahan, karena secara ajaib kau sudah bisa memahami pelajaran sekolah dengan hanya belajar sendiri. Terkadang kau akan langsung pulang setelah bekerja. Jika ada beberapa masalah atau hanya sedang ingin, kau akan pergi ke hutan seperti biasa.

Di rumahmu, pemandangan alat bersih-bersih yang bergerak sendiri ketika kau sedang melahap sarapanmu bukan sesuatu yang aneh di rumah ini. Sihir menjadi satu-satunya bantuan yang kau miliki untuk mengurus rumah sendirian. Tak ada siapapun yang tinggal di sini selain kau, atau orang yang akan berkunjung pun tak mungkin ada (untuk beberapa orang mungkin ada pengecualian). Kau suka kebersihan, kau suka jika segala sesuatu terlihat rapih. Hal itu yang mendorongmu untuk membuat rumah menjadi bersih dan rapih.

Sudah hampir 10 tahun kau buat perabotan di rumahmu seolah punya nyawa, membuat mereka bisa melakukan pekerjaan sesuai dengan fungsi mereka. Hal itu sangat membantu dalam hal membereskan rumah, mencuci semua pakaianmu, ataupun memperbaiki perabotan yang rusak.

Kau sudah selesai dengan sarapanmu. Kau berdiri membawa piring makananmu yang kotor ke tempat cuci piring dan meraih kotak bekalmu di atas meja dapur dan segera memasukannya ke dalam tasmu. Bekal yang kau sediakan tak pernah begitu special, tapi yang terpenting bagimu adalah rasa kenyang yang kau dapatkan setelah memakan bekalmu.

Langkahmu kembali bergerak setelah tas sekolahmu sudah ada di punggungmu. Kau bergumam, “Maaf,” pada sebuah sapu yang tak sengaja kau tendang di bawah kakimu. Mereka—perabotan rumahmu—sudah seperti punya nyawa di rumah ini di tanganmu. Bahkan yang biasa kau lakukan setiap pagi adalah berteriak pamit kepada perabotan rumah tanggamu. Mereka akan berhenti sejenak dan menggoyangkan bagian alat mereka sebagai ucapan ‘sampai jumpa’ dan ‘hati-hati di jalan’.

Kau akan berjalan menuju stasiun kereta seperti yang biasa kau lakukan. Jarak rumahmu ke stasiun tak begitu jauh. Lagipula ini merupakan rutinitasmu, jadi kau tak pernah protes soal jarak. Satu-satunya benda yang akan selalu ada di tanganmu setiap berangkat sekolah adalah sebuah buku tentang Mage ataupun tentang sihir dan mantera. Tentu saja kau menyampul buku-buku aneh itu dengan kertas bermotif berwarna-warni untuk menghindarkan dari perhatian orang-orang di sekitarmu.

Kau sudah 18 tahun, tapi kau masih harus banyak belajar tentang jenismu sendiri dan tentang duniamu. Meski kau tergolong Mage yang spesial, tapi kekuatan yang kau memiliki belum seberapa. Kau masih berada di level menegah ke bawah dalam masalah sihir. Kau mengakui jika kemampuan sihirmu cukup payah. Kau hanya bisa menggunakan sihir untuk keperluan sehari-hari.

Untuk beberapa saat kemudian, kau mendengar keretamu datang. Semua orang mulai bersiap dan berdiri dari tempat mereka menunggu, termasuk kau. Kereta datang dengan cepat sesuai jadwal dan mulai berhenti perlahan. Peraturan untuk penumpang kereta; dahulukan yang keluar. Jadi kau menunggu penumpang lain turun sebelum benar-benar masuk ke dalam kereta.

Seperti biasa, kau tak mendapatkan tempat duduk. Kau tak pernah heran soal itu. Pagi adalah waktu terpadat untuk naik kereta. Pelajar sekolah, mahasiswa dan karyawan akan terlihat banyak memenuhi gerbong.

Tempat favoritmu berdiri adalah dekat pintu dan usahakan tak ada orang yang berdiri di dekatmu. Kau bisa membaca buku abnormalmu itu dengan bebas tanpa khawatir manusia biasa akan membacanya. Kau jadi lebih konsentrasi dalam membaca bukumu, ketimbang berdiri di tengah-tengah gerbong atau duduk bersama penumpang lain.

Kau sedang belajar bagaimana cara menggunakan sihir sebagai pertahan diri, atau bisa dibilang untuk bertarung. Peperangan antar werewolf akhir-akhir ini membuatmu takut. Mau tidak mau kau harus belajar lebih banyak mantera untuk melindungi diri. Meski begitu, kau masih punya kendala. Kau tidak bisa hanya sekedar menghafal mantera dan menggunakannya jika kau butuh saja. Kau perlu berlatih, tapi karena kondisi dan situasi, hal itu jadi tidak mungkin dilakukan dalam waktu dekat.

Memang repot jika kau tak punya seseorang untuk melatih kekuatanmu.

“Tsubaki-chan?”

Kau mendengar namamu dipanggil, tapi suaranya terdengar kurang familiar. Dia bahkan memanggilmu ‘chan’. Apa mungkin dia seseorang yang kau kenal?

Pada akhirnya kau menoleh. Alismu mengkerut ketika melihat wajahnya. Masalahnya bukan dengan siapa kau bertemu, tapi bagaimana ekspresi orang itu yang menurutmu tidak wajar. Wajahnya terlihat begitu antusias ketika melihatmu. Senyumnya sangat lebar tanda senang bukan main. Tapi melihat sikapnya yang begitu, kau justru agak takut.

“Ini aku. Kai. Kau ingat?”

Kau tak mungkin lupa dengan wajah itu, tapi kau juga tak merasa yakin. Suatu kebetulan bisa bertemu dengannya di tempat yang setiap hari kau kunjungi. Padahal sebelumnya kau tak pernah melihat Kai berada di kereta yang sama denganmu. Dan dia terlihat begitu biasa; kaos, jaket, celana jeans dan sneakers. Mungkin hal tidak biasa yang ada pada dirinya adalah ada beberapa plester yang menempel di wajahnya. Kau tak heran.

“Aku ingat,” jawabmu dingin.

“Aku senang kau masih ingat dengaku. Padahal sudah seminggu.” Kai memang terlihat senang. “Apa aku menggangu?”

Tanganmu bergerak menutup buku cepat. Kau tahu, dia sempat melihatmu membaca buku hingga bertanya apakah dia mengganggumu atau tidak. Meksi kau bukan tipe orang yang suka mengobrol, tapi mengacuhkan seseorang demi buku sangatlah tidak sopan. “Tidak. Aku memang sedang tidak melakukan apapun.”

“Hmm… Kau rupanya masih sekolah ya..” ujar Kai yang melihatmu mengenakan seragam SMA. Fakta itu tak bisa ditutupi, kau juga tidak mau.

“Bagaimana kabarmu?” kau bertanya. Memang terlalu formal untuk memulai sebuah obrolan, tapi memang begitulah kau; kaku.

“Formal sekali,” protesnya. “Apa kita tak bisa memulainya dengan ‘apa kau punya akun SNS’? Atau ‘apa kau kosong akhir pekan ini’?” Kai tertawa, tapi kau tak menganggap hal itu lucu. Kau tidak tahu apa dia bercanda atau tidak, dan menurutmu itu aneh dan cukup mengerikan. “Hehehe… Aku baik, jika pertanyaamu tadi masih berlaku. Terima kasih atas bantuanmu waktu itu.”

“Baguslah. Setidaknya bantuan dariku bisa berguna. Jadi aku masih aman tinggal disini,” ujarmu tak berekspresi. “Kau mau pergi kemana?”

“Kuliah. Sebenarnya tak banyak yang bisa kulakukan karena aku sudah mau lulus, tapi dosen memintaku untuk datang membantunya.” Dia tersenyum lagi. “Ngomong-ngomong, aku serius soal pertanyaanku yang tadi.”

Kau terdiam sebentar. Kau tidak punya akun SNS apapun. Selama ini kau hanya mengirimkan pesan singkat—atau SMS—untuk berkomunikasi dengan teman sekelasmu jika kau memang sedang butuh. Kau tak pernah memberikan nomor ponselmu ke sembarang orang, apalagi orang asing yang tak kau kenal. Tapi tak ada salahnya kalau kali ini ada pengecualian. Kai mungkin tipe orang yang bisa dipercaya.

“Aku tak punya akun SNS, jadi aku akan memberikan nomorku, jika kau memang menginginkannya.” Kau mengeluarkan ponselmu dan segera menunjukan nomormu pada Kai (kau tak pernah ingat nomor ponselmu sendiri). Kau bisa lihat bagaimana Kai begitu semangat mengambil ponselnya untuk menyimpan nomormu secepat ia bisa. Kau tak mengira akan ada orang yang sesenang dia hanya karena mendapatkan nomor ponsel.

“Bagaimana dengan akhir pekannya?” tanya Kai lagi. “Aku ingin memperkenalkanmu dengan anggota kami yang lain. Itu pun jika kau ada waktu.”

“Entahlah. Aku tidak yakin. Aku bekerja di akhir pekan.” Kau ragu jika soal akhir pekan itu. Kau masih tetap bekerja di akhir pekan. Lagipula, kau tak pernah pergi bersama seseorang sebelumnya, apalagi bersama laki-laki. Kau juga takut salah mengartikan ajakan Kai. Ini sangat aneh untukmu. Apalagi dia akan mengajakmu bertemu dengan werewolf lain di kota. Bagimu, bertemu dengan satu werewolf sudah lebih dari cukup. Kau tak ingin bertemu yang lain, kalau bisa.

“Ayolah. Kau tidak perlu bertemu dengan anggota yang lain jika kau memang tidak mau. Tapi setidaknya kita bisa pergi ke suatu tempat,” ujar Kai menghasut. “Lagipula, tidak akan jadi masalah jika tidak masuk kerja sehari.”

Kau bisa saja menolak dengan banyak alasan, tapi kata-kata penolakan tak kunjung keluar dari mulutmu. Ada rasa ingin menerima ajakan itu karena, jujur saja, tak ada yang pernah mengajakmu jalan sebelumnya. Tapi di sisi lain, kau juga ingin menolak. Kau tidak ingin menjadi terlalu dekat dengan werewolf.

“Kuanggap itu sebagai ‘iya’,” kata Kai menyimpulkan tingkamu yang hanya diam saja.

Kereta berhenti perlahan di sebuah stasiun. Kai jadi berdiri terlalu dekat denganmu, mengingat kau berdiri di depan pintu. Kau bahkan bisa merasakan aliran chakra miliknya yang bergerak dengan cepat, aroma tubuhnya begitu menyengat di indera penciumanmu dengan jarak sedekat ini. Kau mengambil langkah mundur, namun—tanpa kau duga—Kai menahan punggumu dengan tangannya, membuatmu berhenti bergerak ketika pintu di belakangmu mulai terbuka secara otomatis.

“Hati-hati.” Kau mendengarnya berbisik. “Baiklah. Aku berhenti disini. Akan kujemput kau di hutan, tempat kita bertemu. Kuharap kau benar-benar datang.”

Kai melesat cepat melalui pintu di belakangmu. Tak ada kata perpisahan, seperti waktu itu. Semua berlalu begitu saja. Tapi setidaknya kau melihat Kai berbalik, mencari waktu untuk melihatmu yang terakhir sebelum kalian benar-benar berpisah kali ini. Untuk kesekian kalinya, laki-laki itu tersenyum lagi, melambaikan tangannya padamu sebelum pintu kereta di depanmu kembali tertutup. Kereta melaju dan bayangan Kai hilang begitu saja dari pandanganmu.

Kau masih tidak percaya kau bisa bertemu orang seperti itu, yang begitu antusias untuk bisa mengenalmu. Dia lah yang pertama.

____

Dua hari berlalu setelah kau pertemuanmu yang kedua dengan Kai. Itu artinya kau punya waktu 2 hari sebelum pertemuanmu dengan dia berikutnya. Terkadang kau ingin mengabaikan hal itu, tapi tak jarang kau merasa dirimu terlalu antusias. Ada waktunya ketika kau tiba-tiba memikirkan baju apa yang akan mengenakan di akhir pekan. Mungkin hal itu terjadi karena efek dari fakta dimana belum ada yang pernah mengajakmu pergi sebelumnya. Untuk beberapa kondisi yang lain, kau merasa khawatir dengan pertemuanmu dengan werewolf itu. Ada saja pikiran yang terlintas di otakmu untuk membatalkan rencana akhir pekan itu, tapi hingga detik ini kau tidak melakukannya. Lagipula, kau juga tidak tahu nomor Kai. Dia tidak memberikan nomornya kemarin. Dia juga belum menghubungimu meski kau sudah memberikan nomormu.

Kau ada di tempatmu bekerja sekarang, di sebuah coffee shop yang letaknya tak jauh dari rumahmu. Tempatmu bekerja tidak pernah sepi pelanggan. Kau bisa selalu mensyukuri hal itu. Kau bekerja sebagai seorang part-time barista di sebuah coffee shop. Bekerja di sini tidak perlu menjadi barista professional yang punya pengalaman kerja bertahun-tahun. Kau juga lebih banyak melakukan pekerjaanmu di depan kasir atau bersih-bersih ketimbang meracik minuman kopi yang sudah ada pekerja yang lebih ahli.

Jika sudah di saat seperti ini—bekerja—, kau akan memilih untuk mengabaikan segala pemikiran tentang pertemuanmu dengan Kai nanti. Kau menyibukan dirimu dengan membersihkan beberapa meja yang baru ditinggalkan oleh pelanggan yang sudah selesai dengan minuman mereka. Kau juga mondar-mandir mengantarkan minuman ke pelanggan yang sudah menunggu kopi yang sudah mereka pesan.

“Tsubaki-chan!”

Kau menoleh cepat begitu mendengar namamu dipanggil. Dia Mizuki, seorang pekerja lain di coffee shop ini. Biasanya jika dia sudah memanggilmu, dia pasti akan memintamu untuk menggantikan tempatnya di depan kasir. Karena pemikiran itu, kau jadi selalu langsung menghampirinya tanpa menunggu dia mengatakan alasan kenapa dia memanggilmu.

Berdiri di depan kasir sudah menjadi salah satu kegiatan rutinmu setiap hari. Dan ketika kau sudah berdiri di sana, kau pasti bisa melihat seorang laki-laki yang duduk di meja nomor 5 sedang minum secangkir chococino hangat yang sesekali tertangkap sedang memandang ke arahmu. Laki-laki itu datang setiap hari. Tak seharipun kau tidak melihat dia di meja yang sama. Terkadang dia bisa duduk di meja nomor 3 atau 7 jika meja nomor 5 ada orang lain.

Snapshot - 17

Kau menyebut laki-laki itu Choco dalam benakmu setiap kau berpikrr tentangnya. Mengingat dia selalu memesan minuman yang sama, kau berpikir nama panggilan itu tepat untuknya. Kau tidak pernah tahu namanya meski kau sudah sering melihatnya. Karena itu lah kau membuat nama panggilan sendiri untuknya. Kau berpikir bahwa Choco mungkin masih remaja sepertimu. Wajahnya bergitu cerah dan kulitnya putih seperti salju. Dia punya rambut berwarna coklat gelapnya yang jatuh menutupi dahinya. Cara berpakainnya selalu terlihat casual; kaos, jaket, atau kemeja, terkadang mantel, dan celana jeans. Setidaknya dia selalu mengenakan sepatu yang sama: sepasang adidas superstar warna putih yang banyak dipakai orang. Kau punya sepatu seperti itu.

Choco tak pernah duduk untuk waktu yang lama sehingga kau tak pernah ada pemikiran buruk tentangnya. Dia akan datang jam 7 kemudian pergi setelah 20 sampai 40 menit duduk untuk meminum minuman yang ia pesan. Pernah sekali kau mencoba untuk memeriksa aliran cakhra miliknya dan tidak ada yang aneh dari hal itu. Chakra dalam tubuhnya mengalir normal seperti manusia kebanyakan. Jadi, kau tak berpikir jika dia berbahaya.

Matamu melirik ke arah jam di tangan kirimu. Bukan hal yang wajar untuk orang sepertimu menghitung lama waktu seseorang duduk di dalam sebuah coffee shop, tapi kau sudah menghitung 35 menit waktu Choco duduk di meja nomor 5. Kemudian kau melihatnya berdiri. Biasanya dia akan langsung pergi, tapi kali ini dia terlihat berjalan menuju kasir, lebih detailnya ke arahmu. Dia berhenti beberapa meter di depanmu dan mulai melihat papan daftar minuman di atas kepalamu.

Mungkin dia ingin mencoba minuman yang lain, pikirmu.

Choco kembali berjalan menuju ke arahmu. Dia terlihat sudah menemukan minuman apa yang akan ia beli (mungkin). Kakinya kembali membuat tubuhnya berhenti tepat di hadapanmu. Ini pertama kalinya kau ada ada di kasir ketika Choco akan memesan sesuatu. Biasanya pegawai bernama Mizuki yang akan menerima pesanannya.

“Selamat malam! Ingin pesan apa?” ucapmu ramah.

Dia tersenyum padamu dan kemudian berkata, “Tolong chococino satu.”

Astaga. Kupikir dia akan memesan yang lain, batinmu menggerutu.

“Yang blend ya,” tambahnya.

Setidaknya bukan hot chococino.

“Kau yakin tidak ingin mencoba minuman yang lain?” tanyamu meyakinkan.

“Kau punya rekomendasi?”balasnya bertanya.

Kau punya dua jenis minuman yang kau sukai. Itu bisa jadi rekomendasi yang bagus. “Kami punya banana cream pie frappucino dan green tea latte.”

“Apa itu favoritmu?” dia bertanya lagi dan kau memberi jawaban dengan menganggukkan kepalamu yakin. “Kalau gitu aku ingin coba banana fappucinonya.”

Kau menyerahkan tugas membuat minuman pada barista berpengalaman di belakangmu dan kurang dari 5 menit banana cream pie farppucino sudah siap disajikan. Beruntung Choco bisa sabar menunggu dengan hanya diam memandangmu sambil menyelesaikan transaksinya.

“Ini dia. Satu banana cream pie frappucino,” katamu antusias meletakan gelas minuman di depan mesin kasir.

“Terima kasih.” Dia berjalan pergi meninggalkan senyuman manis di benakmu. Kau terus melihatnya yang melangkah keluar melalui pintu kaca. Biasanya kau akan melihatnya berjalan ke sebuah halte di depan dari dinding coffee shop hampir seluruhnya kacaNamun kali ini, dia menghilang begitu pintu tertutup.

Secara spontan kau berlari meninggalkan tempatmu. Kau memastikan apa yang kau lihat tadi bukanlah seorang laki-laki yang menghilang di balik pintu. Tapi tak ada siapapun di sana selain pejalan kaki yang kebetulan lewat. Kau juga tak melihat Choco  di halte, tempat dimana dia akan menunggu bus datang.

Faktanya, dia benar-benar hilang.

To be continue



A/N

Halo^^ Gimana episode 1 nya? Semoga bisa menjadi awal yang baik untuk fanfict ini🙂

Respon dari readers untuk foreword kemarin sangat memuaskan^^ Masuk ke daftar Top Post dan nyaris jadi Movie of The Week >< Semoga episode 1 ini bisa mengundang lebih banyak perhatian <3<3

Kritik dan saran sangat diterima di sini🙂 Jadi kalau aku dari tulisan aku ini ada yang salah, jangan takut untuk membetulkan^^ tapi dengan cara yang baik ya (karena waktu itu pernah ada readers yang ngritiknya nyolot banget, seolah-olah fanfict aku itu fanfict terjelek sepanjang masa #cuhat).

Anyway, thank you for reading this episode. Hope you can enjoy every single word and be patient to wait the next episode. Leave a nice COMMENT and don’t forget to LIKE. SHARE to your friends too^^ See you❤

Oiya, boleh minta pendapatnya soal poster^^ Terima kasih❤

8 thoughts on “Touching The Moon – Episode 1”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s