[Vignette] I’ll Meet You There

I'll Meet You There

Scriptwriter: ChijeuPark | Main Cast: Mark Tuan GOT7

Support cast: Jung Jihyun & Riley Tuan (OC) | Duration: about 1000 words (Vignette)

Genre: Friendship, hurt, family | Rating: PG-13

Summary :

Kapan kakak akan pulang?

Bukankah semua itu terlihat indah ketika dipandang dari kejauhan?

Hari sudah beranjak petang ketika Mark pulang. Ia tersenyum lebar mendapati adiknya yang menunggu di depan pintu. Sambil mengganti seragam kerjanya dan menyiapkan makan malam, Mark mendengar Riley berceloteh tentang kartun yang dilihatnya di televisi.

Mark terbiasa menemani Riley makan di atas atap kontrakan mereka. Bangunan bertingkat empat itu memang sederhana dan bahkan terkesan kumuh, namun pemandangan yang tersaji dari atas atap lebih dari itu. Ada sebuah taman hiburan yang berada tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Jika petang tiba, lampu-lampu wahana yang berwarna-warni akan berpendar memukau dari kejauhan.

Mereka memandang langit senja yang merona dalam warna ungu. Sementara lampu-lampu gedung perkotaan berkelap-kelip di sepanjang jarak pandang. Mark duduk dengan gitar di pangkuan. Beberapa helai rambutnya berkibar tertiup angin dan sebagian menutup sebelah matanya.  Sementara jemari tangannya memetik senar gitar perlahan sambil menyenandungkan lagu dengan pelan.

            “Kenapa kakak tidak mau makan?” Bocah kecil berusia empat tahun itu menyeletuk. Tangannya yang mungil menyodorkan setangkup roti isi sosis di depan Mark, namun si kakak menggeleng.

            “Riley saja yang makan, biar nanti cepat tumbuh tinggi seperti kakak.”

            Mark mencuri-curi pandang ke arah Riley, menyadari dengan jelas kalau sedari tadi adiknya itu memandang taman bermain di sana dengan penuh minat. Bukan hanya hari ini saja. Kemarin-kemarin juga begitu, bahkan sejak mereka berdua pindah ke sini. Taman hiburan itu sudah pasti menarik perhatian adiknya, namun bocah kecil tidak pernah mengatakan apapun. Meski masih kecil, Riley tidak pernah meminta macam-macam atau menuntut terlalu banyak dari Mark.

            Tapi terkadang hal itu membuat Mark sedih. Ia merasa bersalah karena tidak bisa memberikan yang terbaik bagi adiknya.

            “Riley, apa kamu mau pergi ke sana bersama kakak?” Mark menoleh, menatap adik kecilnya.

            Riley mengerjapkan matanya. “Ke taman hiburan?”

            Mark mengangguk sementara ia meletakkan gitar di sampingnya. “Benar, ayo naik bianglala dan roller coaster. Riley belum pernah mencobanya, kan?”

            “Apa noona juga akan ikut?”

            “Kamu mau mengajak kak Jihyun ke sana?” tanya Mark seraya menaikkan alis dan tersenyum. Jihyun adalah gadis yang menjadi tetangga mereka semenjak mereka pindah ke sini.  Gadis itu sering sekali menemani Riley jika Mark belum pulang atau membawakan makanan untuk mereka berdua.

            Riley mengangguk bersemangat. “Kita bertiga ke sana bersama, ya?”

            Mark menggumam setuju dan tersenyum lega. Tidak ada salahnya menawarkan kebahagiaan seperti ini pada adiknya. Sekali ini saja selagi punya kesempatan, Mark ingin sekali Riley bisa seperti anak-anak lain pada umumnya.

Mereka sudah tinggal di sini selama kurang lebih satu tahun, setelah sebelumnya berpindah-pindah tempat tinggal. Mark bisa cukup berbangga hati karena bisa menemukan tempat tinggal layak bagi mereka berdua. Ditambah sekarang ini ia memiliki pekerjaan paruh waktu tetap, menjadi kasir di swalayan dan menyanyi di café setiap akhir pekan.

            Orang tua mereka sudah meninggal. Mark masih mengingat dengan jelas kejadian dua tahun lalu yang merenggut nyawa ayah ibunya. Ia masih berumur sembilan belas tahun waktu itu. Kedua orang tua Mark menjadi korban kecelakaan mobil, yang ternyata dilakukan secara sengaja oleh seorang rekan kerja ayahnya yang iri karena ayah Mark berhasil naik pangkat.

            Semenjak itu, Mark dan adiknya harus pindah ke rumah paman mereka. Semuanya baik-baik saja saat itu. Hingga kemudian di suatu malam, Mark tidak sengaja mendengar paman dan bibinya bertengkar.

            Mereka bertengkar soal kedatangan Mark dan adiknya di rumah mereka, yang otomatis membuat mereka terbebani karena biaya hidup yang bertambah banyak. Merasa pedih, Mark akhirnya diam-diam meninggalkan rumah itu saat tengah malam bersama Riley yang masih sangat kecil.

            Kehidupan Mark yang benar-benar baru dimulai dari situ. Laki-laki itu masih mengingat dengan jelas ada seorang pria paruh baya menemukannya di tepi jalan. Pria itu membawa Mark dan adiknya pulang, menyuruh mereka tinggal bersama keluarganya. Hingga Mark bisa bertemu dan mengenal putri pria itu, Jihyun yang kini menjadi sahabat baiknya.

            Keluarga Jihyun bukan keluarga berada. Mereka hanya memiliki usaha kedai ramyeon kecil-kecilan. Namun kebaikan hati mereka benar-benar luar biasa. Paman dan bibi Jung bahkan sudah menganggap Mark dan adiknya seperti anak sendiri. Mereka juga membantu menyekolahkan Riley di taman kanak-kanak.

            Mark bersyukur karena ia bersama mereka. Ia selalu bersyukur mengenal gadis seperti Jihyun.

            .

            .

            .

            Bocah kecil itu menggenggam tangan Jihyun. Sementara tangan yang satunya memegang balon gas warna biru cerah. “Seminggu yang lalu Riley dan kak Mark duduk di sana. Dia mengajak Riley ke sini. Rumah kita terlihat keciiiiil sekali ya, noona,” ucapnya sambil tersenyum riang.

            Jihyun hanya mampu mengangguk. Ia ingin sekali menjawab celotehan adik kecil Mark itu, tapi terlalu takut jika tangisnya meledak. Sebisa mungkin ia menahan air mata yang mulai merebak keluar.

            Suasana taman bermain sangat ramai di akhir pekan seperti sekarang ini. Jihyun menggenggam erat tangan Riley. Tangannya gemetar dan basah karena keringat dingin. Ia tidak ingin kehilangan Riley. Tidak, setelah Jihyun harus menerima kenyataan bahwa ia telah kehilangan Mark.

            .

            .

            .

            Sebetulnya jika ia bisa, Mark tidak akan pernah mau mengalami kejadian seperti ini untuk kedua kalinya. Dua tahun yang lalu, hal semacam ini terjadi. Bedanya kali ini Jihyun yang berada dalam posisinya dulu.

            Banyak hal yang sudah terjadi dalam hidupnya. Dan Mark sudah cukup berpengalaman menghadapinya. Laki-laki itu tersenyum kecil, berusaha ikhlas menerima apa yang akan terjadi padanya setelah ini. Dia tidak akan mengkhawatirkan apapun, kecuali Riley yang masih kecil dan sudah pasti belum bisa memahami semua ini.

            Lalu bagaimana dengan Jihyun? Mark juga tidak rela berpisah dengan Jihyun, tapi dia bisa apa?

            “Jihyun, bawa Riley ke sana ya.”

            Mark berbaring di jalan. Jihyun berlutut di samping laki-laki itu, mengenggam telapak tangannya erat. Gadis itu sudah tidak bisa lagi menahan air mata dari pelupuk matanya. Banyak orang berkerumun di sekeliling mereka, menatap Mark yang kesakitan dengan panik.

            “Mark, jangan pergi kemana-mana.” Jihyun bersusah payah menjawab, air mata mengalir deras membasahi kedua pipinya. “Mereka sudah memanggil ambulans. Kumohon bertahanlah, kau tidak boleh pergi.”

            Mark tersenyum hangat. Meski kepalanya sakit luar biasa, ia mencoba berkata setenang mungkin. “Bantu aku duduk, Jihyun.”

            Masih menangis, Jihyun mengangguk. Tangannya yang gemetar beralih ke punggung Mark, membantu laki-laki itu untuk duduk. Mark meletakkan dagunya di atas bahu Jihyun dan mengalungkan kedua lengannya di antara tubuh gadis itu.

            “Aku mengandalkanmu, Jihyun. Keluargamu adalah malaikat bagi kami.” Nafas Mark yang hangat menerpa lehernya. Laki-laki itu susah payah melanjutkan kata-katanya. “Maaf karena selalu merepotkanmu. Dan aku sudah pasti akan lebih merepotkanmu lagi setelah ini. Tapi kumohon, tetap bersama Riley, ya.”

            Jihyun menggeleng. “Jangan bicara seperti ini.”

            “Aku menabung selama ini. Buku tabungannya ada di kamarku, Jihyun. Jadi jangan khawatir, ya. Jangan bekerja terlalu keras lagi.”

            “Bodoh, bukan itu yang kukhawatirkan.”

            “Aku tahu.” Mark tersenyum pedih. “Tapi kumohon hiduplah dengan baik, Jihyun.”

            Bersama itu, Jihyun bisa merasakan tangan Mark yang mengendur di sekelilingnya dan kepala laki-laki itu yang terkulai lemas di bahunya.

            .

            .

            .

Noona,” panggil Riley sementara bianglala itu turun dari ketinggian. “Kapan kakak akan pulang?”

.fin.

Terima kasih sudah membaca😀 ini fanfiksi pertama tentang Markeugege yang kubuat ehehhhhe.

Mind to review?

One thought on “[Vignette] I’ll Meet You There”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s