BROKE

Broke2

GALAXYSYFPresents

Broke

Main Cast
Jung Jae Hyun
Cheng Xiao

Supporting Cast
Qian Kun (mentioned only)
Son Eun Seo (mentioned only)

Romance.Hurt.Alternate Universe

Selama ini dia pikir dia telah dicampakan karena hadirnya pria lain. Dia pikir harapannya telah dihancurkan sampai dia pernah berpikir untuk berpaling pada gadis lain. Tapi perihnya kenyataan akhirnya terungkap. Dia tak pernah dicampakan, namun gadis itu memilih berkorban demi sahabatnya meski artinya dia harus mencintai pria lain dengan terpaksa.

“You broke me in order not to break someone else.
You’re selfish.”

_____

Ini pertama kalinya aku bertemu dengannya lagi. Cheng Xiao. Setelah 2 tahun berlalu sejak malam kelulusan kami, aku tak menyangka kami bisa bertemu lagi di negara yang sudah ia tinggalkan ini. Dia yang mencampakanku dan memilih pria lain, sekarang, muncul dengan wajahnya seolah dia ini malaikat tak berdosa.

“Hai,” sapa Xiao ramah. “Sudah lama kita tidak bertemu, Jaehyun.”

Jaehyun bergeming untuk sesaat. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya saat dia masih tetap dingin ketika berhadapan dengan Xiao meski empat tahun sudah berlalu sejak hatinya menjadi sakit. Rasanya seperti tak ada yang berubah walaupun waktu seharusnya bisa memperbaiki keadaan. Sudah sangat lama dan masih tetap begitu, dinding tebal membatasi mereka sebagai mana dulu sebuah tembok mampu membelah Jerman menjadi 2 bagian.

Salju pertama turun di malam natal. Malam jadi begitu dingin, suasana yang membuatnya begitu. Xiao tetap berusaha tersenyum kecil, meski tak ada ekspresi yang bisa diberikan Jaehyun. Mereka bahkan berdiri di jarak yang tak wajar untuk teman lama yang baru saja bertemu. Semuanya memang tak akan pernah bisa sama seperti dulu. Seperti hati yang pernah terasa begitu hangat sudah membeku.

“Sedang apa kau di sini?” tanya Jaehyun. Tak ada keramahan pada nada bicaranya seolah dia membenci keadaan dimana dia harus kembali melihat wajah Xiao. “Kupikir kau akan terus di Beijing bersama Kun. Rupanya kau masih bisa kembali kemari.”

“Kau sama sekali tidak berubah. Sepertinya kau masih membenciku. Aku tidak heran,” kata Xiao tetap kalem. Dia hanya bisa tersenyum dan itu membuat Jaehyun muak.

“Berhentilah bersikap seperti itu. Itu tak akan merubah apapun.”

Memang tak akan ada yang berubah, bahkan dengan keajaiban  di bulan Desember sekalipun semua akan tetap sama. Jaehyun mungkin tidak membenci Xiao sebagaimana Harry Potter membenci Voldemort, tapi hati Jaehyun pernah dibuat terluka gadis dan dia tak pernah lupa. Harapannya pernah dibuat hancur ketika dia pikir telah menemukan gadis yang baik dan sempurna untuknya.

“Ya, kau membenciku apapun yang terjadi. Padahal aku hanya ingin hubungan kita baik-baik saja sebagai seorang teman. Itu saja rasanya sudah cukup,” kata Xiao tenang.

“Apa kau pikir hubungan kita bisa baik-baik saja setelah kau mencampakanku dulu demi pria lain? Setidaknya pikirkan itu ketika kau memutuskan untuk tak menganggapku.”

Luka dalam hati Jaehyun tak kunjung sembuh meski kehadiran gadis lain mencoba tuk menyembuhkannya. Rasa sakit yang dirasakannya tak bisa hilang meski waktu sudah berlalu. Kenyataan bahwa dia tidak pernah membenci Xiao sepenuhnya memang lah benar, namun api amarah tak kunjung padam hingga detik ini. Setiap kali dia melihat wajah Xiao, dia akan selalu teringat dengan apa yang pernah dilakukan gadis itu padanya. Hampir mustahil untuknya memaafkan Xiao.

Sudah hampir satu tahun Jaehyun berusaha untuk lebih dekat dengan Xiao dulu. Harapan tumbuh besar seiring dengan Xiao yang seolah memberinya respon positif. Mereka sudah seperti berkecan meski tak ada yang meresmikannya. Semua berjalan dengan indah sampai suatu hari Xiao tiba-tiba berpaling pada Kun. Pada saat itu juga Jaehyun merasa seperti dibuang. Dia merasa usahanya selama ini tak pernah dihargai. Bahkan, Xiao tak pernah bisa merasakan cinta Jaehyun yang selalu berusaha ditunjukan.

Sampai akhirnya Jaehyun mengenal, teman dekat Xiao. Dia merasa dia bisa berpaling dari Xiao dan menunjukan pada gadis itu kalau dia tidak akan tetap berada di tanah setelah Xiao membuatnya jatuh seperti tak lagi bisa berdiri. Hatinya pernah merasa lebih baik, namun yang membuatnya kecewa adalah rasa sakit itu datang kembali.

“Kau masih marah soal itu? Kupikir kau sudah tak mengingatnya lagi,” ujar Xiao.

“Kau pikir aku lupa? Wah, ternyata kau mudah sekali melupakan kesalahanmu dan terus bertingkah seperti tak punya dosa,” ketus Jaehyun dengan nada menyindir. “Apa yang kau pikirkan saat itu, huh? Kau memberiku harapan, namun kau rebut kembali dan menghancurkannya. Kau nyaris berhasil menghancurkanku. Itu kah yang kau inginkan?”

Pria itu belum pernah meluapkan kekesalan hatinya seperti ini. Tak pernah sebelumnya.

 “Tidak masalah jika kau membenciku,” kata Xiao. “Karena yang kupikirkan saat itu adalah asalkan aku bisa membuatmu jauh dariku, aku rela. Asalkan itu membuatmu berpaling pada Eunseo, aku tak akan keberatan, apalagi menyesal. Itu lah yang kuinginkan, Jung Jaehyun. Itu lah yang kuinginkan.”

Jaehyun bergeming untuk sesaat. Udara dingin menghambatnya untuk berpikir lebih cepat dalam mencerna apa yang baru saja Xiao katakan. Hal yang bisa ia katakan adalah “Apa? Kau ini bicara apa? Apa maksudmu?”

“Sudah lama aku ingin kau tahu yang sebenarnya, karena terkadang hatiku juga merasa lelah untuk selalu berpura-pura. Lagipula, kau dan Eunseo juga sudah putus, kan? Jadi tak ada salahnya aku menjelaskan semuanya.”

Beberapa kali Xiao menarik nafasnya seperti bersiap untuk sesuatu yang tak pernah dilakukan sebelumnya. Untuk mengatakan, “Bahkan sebelum kita mulai dekat, Eunseo sudah menyukaimu. Dia mengakuinya.”

Kedua mata bulat Xiao terlihat mulai berkaca-kaca ketika air mata mulai menggenang dan siap untuk jatuh. Uap dingin terus keluar dari mulut Xiao setiap kali di bernafas. “Eunseo adalah temanku. Menurutmu apa yang harus kulakukan ketika laki-laki yang disukai sahabatku mulai mendekatiku?”

Tak ada suara yang Jaehyun timbulkan ketika pria itu memutuskan untuk mendengarkan sampai cerita selesai. Perlahan namun pasti, Jaehyun mulai mengerti makna dari apa yang berusaha Xiao katakan dan apa yang akan ia katakan, tak akan pernah sama dengan apa yang ia pikirkan selama ini.

“Aku adalah orang yang paling mengerti perasaan Eunseo saat itu. Meskipun tidak secara langsung ia memberitahuku tentang apa yang ia rasakan, tapi aku tahu persis bagaimana rasanya jadi dia. Aku pernah berada di posisinya, ketika laki-laki yang kusukai lebih tertarik pada temanku. Aku tidak ingin Eunseo merasakan perasaan menyakitkan seperti itu. Maka, selama kita belum ada hubungan, keadaan bisa kuperbaiki dan belum terlambat bagi Eunseo untuk mendapatkanmu.”

“Tapi kau…” kata Jaehyun memulai. Untuk beberapa saat dia mencoba untuk tidak mepercayai perkataan Xiao, tapi gadis itu bicara begitu meyakinkan. “Tapi kau terus bertingkah seperti kau benar-benar mencampakanku karena Kun. Itu, kan yang kau lakukan? Iya, kan?”

“Ya. Seperti yang kubilang, aku lelah berpura-pura. Kulakukan itu agar kau menjauh—“

“Apa kau tahu yang kau lakukan itu menyakiti hatiku?” ucapan Jaehyun memotong perkataan Xiao cepat sampai gadis itu tak bisa melanjutkan kalimatnya. “Aku tanya, apa kau tahu?”

“Aku tahu,” balas Xiao dengan wajahnya yang mulai memerah. “Tentu saja aku sadar kalau itu akan menyakitimu. Tapi semua kulakukan demi Eunseo. Aku lebih memilih persahabatanku dengan Eunseo. Maafkan aku.”

“Apa itu artinya kau tak pernah menyukai Kun? Semuanya bohong. Iya?”

Xiao menganggung sebagai tanda bahwa dia memang tak pernah mencintai Kun, bahkan setelah mereka mulai berkencan di kelas 2.

Jaehyun tak pernah merasa dipermainkan seperti ini.

Untuk pertama kalinya, Jaehyun mengambil langkah untuk berada lebih dekat dengan Xiao. Dia meraih kedua lengan Xiao dengan tangannya seolah gadis itu akan lari sewaktu-waktu darinya. Dia menatap kedua mata Xiao seperti dia bisa mengetahui kebenaran bersama dengan emosinya yang bercampur-aduk. Namun yang bisa ia dapat hanya sepasang mata yang pernah disukainya dulu, keindahan mata yang pernah dia kagumi dulu, yang penuh dengan air yang terbendung di sudut mata.

WAE??? Kenapa kau menyiksa dirimu sendiri?” teriak Jaehyun dengan nada suaranya yang hampir membentak. “Kau membuatku membencimu. Kau mencoba untuk bertahan dalam hubungan yang belum tentu membuatmu bahagia. Kau pikir dengan kau melakukan itu akan membuat semua baik-baik saja? Kau tak hanya melukai 1 hati, tapi 2; hatimu sendiri dan hatiku—“

“Lalu, apa bedanya dengan menyakiti hatiku dan hati Eunseo?!” Xiao membalas dengan nada yang tak jauh beda, namun akibatnya air mata mengalir jatuh di pipinya. “Aku tetap akan menyakiti 2 hati jika aku tetap bersamamu dan Eunseo membenciku.”

Keduanya diam sesaat dengan nafas yang berat disetiap tarikannya. Jaehyun melepas cengkraman tangannya dan membuat tubuh Xiao sedikit terguncang. Terdengar Jaehyun menggeram ketika dia mulai tidak bisa berhenti bergerak untuk menahan luapan emosinya. Dengan sekuat tenaga dia mencoba untuk tidak meledak dengan apa yang sedang ia rasakan. Ini lebih dari sekedar dicampakan. Namun kenyataan bahwa dicampakan hanyalah bagian dari kebohongan yang selama ini ia percayai terasa lebih pahit, begitulah rasanya.

“Kau egois,” hardik Jaehyun. “Kau juga tidak tahu apakah Eunseo akan membencimu atau tidak.”

“Kau juga tidak pernah tahu bagaimana sulitnya aku memperbaiki hubunganku dengan Eunseo, menjelaskannya kalau yang kusukai adalah Kun. Dia sudah berubah jadi dingin ketika kita semakin dekat. Apalagi yang akan dia lakukan setelah kita jadian selain membenciku? Kau tidak tahu betapa kerasnya aku berusaha berpura-pura mengejar Kun bahkan sampai satu angkatan mempercayainya.”

Tak ada yang bisa Jaehyun katakan untuk membalas Xiao, karena pada kenyataannya, dia tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi dibalik layar. Posisi Xiao saat itu memang serba salah, namun untuk beberapa alasan, Jaehyun tetap tidak bisa menerimanya.

“Kau menghancurkanku agar tidak menghancurkan orang lain. Lalu kau mengirim seseorang yang kau pikir bisa memperbaikiku keping demi keping. Sayangnya kau salah, Xiao. Aku tetap hancur meski ada Eunseo di sampingku. Karena yang bisa memperbaiki hati yang hancur adalah orang yang menghancurkannya.”

Angin berhembus seperti siap tuk kembali membekukan kedua hati yang rapuh. Air mata hampir tak bisa lagi turun ketika udara semakin dingin seiring bertambahnya malam, hanya menyisakan rona merah di wajah. Salju turun lebih banyak dari sebelumnya hingga menutupi beberapa bagian dari halaman gereja.

Malam ini akan menjadi malam dimana salju pertama turun di waktu yang tak biasa.

“Aku ingin kau tahu,” kata Jaehyun bersuara lagi. “Aku selalu berharap kau lah yang akan memperbaiki hatiku, Xiao. Meski kecil, harapan itu masih ada.”

Xiao diam membisu. Dia hanya bisa diam.

“Kupikir setelah ada Eunseo, semua akan kembali seperti normal dan aku bisa melupakanmu. Kukira hatiku akan pulih dan aku bisa mendapatkan kembali kebahagian yang pernah hilang. Tapi kenyataannya aku tak bisa lupa padamu meski ada gadis lain di hidupku. Aku sadar, hubunganku dengan Eunseo juga hanya lah usahaku untuk lari. Dunia ini selalu mengingatkanku padamu. Terkadang itu membuatku tak nyaman karena harus mengingat kembali rasa sakit itu. Tapi di sisi lain, aku ingin kau tetap ada di sampingku seperti waktu itu dan rasa benciku padamu berhasil menutupinya.”

Jaehyun mengakhiri hubungannya dengan Eunseo setelah ia pikir hubungan itu tidak akan berhasil jika hanya sebagai bentuk pelarian. Namun untuk beberapa masalah, hal itu tidak merubah keadaan meski kenyataannya Jaehyun dan Xiao kembali menjadi individu tanpa pasangan.

Xiao memaksakan untuk tersenyum meskipun Jaehyun tahu itu susah. “Kau juga tak berusaha lebih keras waktu itu. Itu membuatku sedikit kecewa.”

Jaehyun mulai sadar atas kesalahannya. Dia tak akan mengelak atau membantahnya. Terlalu cepat Jaehyun melepas Xiao waktu itu. Dia terlalu sibuk dengan rasa sakitnya ketimbang untuk memperjuangkan cintanya. Awan hitam begitu cepat menghalangi hatinya dan pelangi hampir tak pernah datang untuk membuatnya sadar.

“Kau membuat semuanya jadi terlambat,” kata Jaehyun.

“Kalau begitu, kita biarkan saja seperti ini,” balas Xiao cepat. “Seperti yang kau bilang, semuanya sudah terlambat. Tidak ada yang bisa kita perbaiki. Jadi kita biarkan saja seperti ini. Anggap saja aku memang mencampakanmu karena Kun dan kau tetap membenciku yang telah melukaimu. Lagipula persahabatanku dengan Eunseo tetap terjaga sampai sekarang meski jarak memisahkan kami. Tak ada yang perlu disesali. Iya, kan?”

Bagi Jaehyun, banyak hal yang ingin ia sesali. Dia juga ingin Xiao menyesali sesuatu meski hanya sekali. Satu tahun tak pernah menjadi waktu yang sebentar bagi Jaehyun. Dia bisa mengenal Xiao lebih baik. Jauh lebih baik. Banyak memori indah yang terekam dalam ingkatannya, meski terkadang hilang seperti asap dan kembali lagi. Butuh waktu lebih dari empat tahun untuk mengilangkan itu semua.

Denting lonceng merambat di udara ketika malam telah mencapai puncaknya. Natal telah datang dan Jaehyun tetap diam sementara Xiao mengambil langkah. Kedua kaki gadis itu membawanya mendekat pada Jaehyun namun berlalu ketika tubuhnya melewati sosok pria yang tetap terdiam di tempatnya berdiri. Namun Xiao tak bisa berjalan lebih jauh saat ia sadar tangan besar Jaehyun sudah mengunci lengannya.

“Kau ini bukan Cinderella yang harus pergi ketika lonceng tengah malam berbunyi,” kata Jaehyun, dengan suara yang sama dingingnya namun terdengar lebih tenang dan nyaman, juga mampu membuat Xiao tak berniat untuk melanjutkan langkahnya.

“Kau pikir aku akan melepaskanmu lagi kali ini?”

END



A/N

Halo^^ Gimana? Aneh ya? Makhlum, saya tidak ahli dalam membuat romance yang menginspirasi T-T Terbukti dengan gagalnya fanfict ini  mengikuti lomba ff. Saya memang tidak bisa menginspirasi orang dengan cerita romance. Sayangnya saya juga terlalu kaku untuk memilih romance huhuhu </3 Tapi, karena sayang dibuang, jadinya aku post disini hehehehe

Anyway, gimana ceritanya? Emang sih, perlu buaaanyak perbaikan dan aku masih harus belakajar banyak. Jadi, jangan sungkan untuk kasih kritik dan sarannya^^

Jadi, ceritanya, aku buat ff ini berdasarkan kejadian sebenarnya tentang seorang anak kelas X SMA, yang seumur hidupnya sudah melajang alias tidak pernah pacaran, yang dekat dengan seorang laki-laki yang baru dikenalnya ketika masuk SMA. Menurut orang-orang sih cewek ini nggsk peka jadi dia masih cuek2 aja tapi masih iya-iya aja sama anak cowok yang deketin dia. Trus dia sadar, temen SMP-nya yang suka sama si cowok mulai sedih, jadi si cewek ini tidak tega. Dia juga nggak mau dpt istilah temen makan temen, jadi dia memutuskan untuk pura-pura suka dengan anak lain. Si cewek sampe bilang “mendingan gue tetep jomblo dah daripada gue TMT”. Pada akhirnya si cewek masih menjomblo sampai kelas XII (sampai sekarang dengan total waktu melajang 17 tahun), namun dia nggak nyesel karena si cowok beneran jadian sama temen SMP si cewek (walaupun cuma 1 semester, tapi tidak mengapa, yang penting mereka pernah bahagia)(lagian si cewek juga nggak suka2 amat, jadi ya sudah).

Apa yang terjadi di dunia nyata nggak kyk yang ada di ff ini kok😄 Karena pada kenyataannya hubungan kedua manusia ini—si cewek dan si cowok—baik-baik aaja sebagai temen satu sekolah (meskipun sejak awal kelas XII jadi diem2an). Lagipula si laki-laki jauh lebih cepat move on daripada tokoh Jaehyun di cerita ini, kawan. Bahkan sejauh ini sudah pacaran 2 kali. Sungguh mengecewakan.

Anyway, thank you for reading this episode. Hope you can enjoy every single word and be patient to wait the next episode. Leave a nice COMMENT and don’t forget to LIKE. SHARE to your friends too^^ See you❤

6 thoughts on “BROKE”

  1. AHHHHH ini bukan ff gagal! aduh, justru aku terharu banget bacanya hiks </3
    kesian dede Jae hiks hiks~
    aku suka sama ffnyaaa, jangan khawatir hehehe.
    salam kenal ya, aku Lyne, kesemsem banget sama dede ini lol

    Suka

  2. halo celine ^^ perasaanku atau aku jarang komen di ffmu ya? maap2. aku pingin nulis pake cast xiao tapi trs bingung karakter dia itu dibikin gimana enaknya hehe dan ketemu ginian
    agak kaget juga liat tulisanmu yg romance ternyata modelnya begini hehe kamu kan sukanya nulis dark. dan rasanya emang agak terlalu lebay si jaenya tapi gapapa. still worth reading dan seseknya si xiao masih kerasa. dan cliffhanger/?nya juga suka! closing yg keren kalo menurutku ehehe
    keep writing!

    Suka

    1. halo^^ makasih udah mampir2 hehehe
      aku masih butuh banyak belajar soal romance T-T Semoga hasil ff romance ku bisa lebih baik buat ke depannya^^ thank you buat masukannya❤❤

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s