[IFK Movie Request] Words of His Silhouette

words of his silhouette

Words of His Silhouette

ditulis oleh kihyukha dan ditulis untuk gxxfyh

Ryu Sujeong [Lovelyz] / Kim Taehyung [BTS’s V] / Byun Baekhyun [EXO] │ Slight!Family. Slight!Friendship. Hurt/Comfort. Mystery. Romance.│ PG-13 │ Vignette

disclaimer cerita dipinjamkan Allah SWT ke saya. Cast milik Allah SWT juga. Selamat menonton!

++

2 Februari

“Halo, selamat malam! Ini Taehyung. Baru pertama kali pakai telepon umum di rumah sakit. Kira-kira ibu harus membayar untuk ini tidak, ya? Tidak? Hmm. Makanan di sini enak, tapi lebih enak di rumahmu, jadi tidak usah repot-repot cari makanan sampai ke sini.”

“Oh, ya, Taehyung mau mengabari bahwa Taehyung tak bisa lagi jalan-jalan sendirian. Sekarang, Taehyung sedang dipapah oleh kakaknya yang keren, Baekkie. Hore! Jeong-jeong sedang mengerjakan PR, ya? Semangat ya, Jeong-jeong. Makan jangan lupa. Jangan banyak-banyak pikirkan Taehyung. Aku juga takkan banyak-banyak memikirkanmu. Ada hal-hal yang harus kupikirkan. Jeong-jeong juga, kan? Tidak sehat menggantungkan harapanmu kepada manusia lain. Manusia kan sangat bisa mengecewakanmu.”

“Oh ya, aku senang hari ini bisa melihatmu berangkat sekolah meski hanya sekilas. Mulai besok, kita takkan bertemu lagi, jadi…. maaf, ya! Dadah, Jeong-jeong!”

++

Iya, iya.

Sesuai keinginanmu.

++

15 Februari

“Jadi… dia baru berangkat ke rumah sakit benar-benar di pagi hari itu? Saat voicemail anehnya sampai di teleponku?”

“Iya. Kenapa? Kaukira memangnya dia berangkat kapan?”

“Malam sebelumnya. Dia kirim chat padaku di malam sebelumnya, katanya mau pergi ke rumah sakit, menyuruhku tak perlu khawatir dan tak perlu banyak tanya, soalnya nanti dia akan kasih kabar lagi.”

“Dan kabar selanjutnya itu? Wah. Adikku memang tak punya otak.”

“Dia tak pernah bilang putus, tapi itu sudah jelas, kan? Maksudku—dia menyuruhku tidak memikirkannya lagi.”

“Dia pengecut, tapi memang kenyataannya begitu—dia sudah tak bisa lagi pakai kakinya untuk memutuskanmu dengan benar.”

Ryu Sujeong menelengkan kepalanya. Punggungnya bersandar ke ranjangnya, sementara kakinya dibiarkan lurus di lantai kayu, dan rambutnya digelung ke atas. Di tangannya, majalah komik remaja nyaris mencapai halaman terakhir. Sedangkan lawan bicaranya, Baekhyun, duduk di pinggir ranjang, matanya terpancang pada PSP di tangannya dan kedua jempolnya lihai bergerak menekan ini-itu. Di mulut pemuda itu, setangkai permen lolipop yang betul-betul hanya tinggal tangkainya saja masih asyik digigiti, tak rela dibuang.

Di dekat kaki Sujeong, ada sekotak takoyaki yang dibawa Baekhyun. Sudah habis. Saat Baekhyun menyerahkannya kepada Sujeong, takoyaki yang harusnya ada delapan, hanya tinggal enam. Katanya, dua sudah dimakan Taehyung. Taehyung tak bisa menghabiskannya, jadi Baekhyun putuskan untuk memberikan saja sisanya kepada Sujeong.

Kurang ajar? Memang. Ketiganya teman sejak kecil. Tak ada kata sungkan di antara mereka. Bahkan Sujeong tak pernah lagi protes semenjak usia mereka sepuluh. Dua kakak-beradik ini memang sesinting itu.

“Terus? Akhir-akhir ini kau rajin sekali ke sini. Taehyung menyuruhmu menggantikannya?”

Bola mata Baekhyun berputar malas. “Enak saja. Kalau Taehyung mau menemanimu, meskipun dia harus menyeret tubuhnya ke sini, ya dia sendiri yang harus lakukan. Aku bukan wakil siapa-siapa. Tapi kudengar ibumu mau masak nasi goreng malam ini.”

Sujeong berdecak. “Terserah.”

Ia kembali membaca lagi, sementara Baekhyun kembali memainkan PSP-nya.

++

Kaupikir aku akan bilang begitu?

Dasar otak udang.

++

1 Maret

Baekhyun sudah pulang. Keempat mangkuk yang dipakai makan malam sudah dicuci.

Sehabis ayah dan ibunya masuk ke kamar, Sujeong tinggal sendiri di ruang makan. Cahaya tersiram dari lampu gantung di atas meja, memberi penerangan di pusat ruangan, sementara kegelapan menghinggapi sudut-sudutnya.

Sujeong merogoh kantong keripik kentang di atas meja, mengambil tiga keping sekaligus, dan mengunyahnya dengan kecepatan normal. Buku di tangannya sudah yang keempat. Enam lainnya menanti di sebelah kirinya, siap dipilih jika si nomor empat ini dituntaskan, entah hingga lembar terakhirnya ataukah hanya di tengah-tengah lantaran kontennya kurang menarik hati. Ponsel Sujeong letakkan di sebelah kantong keripik, di posisi yang lebih dekat jangkauannya.

Serta-merta, ponsel itu bergetar.

Sujeong mengulurkan tangannya, matanya berpindah ke layar ponsel. Tetapi sesuatu menghentikannya.

Bukan, bukan apa yang ada di layar. Tetapi apa yang masuk dalam lingkup pandangannya tatkala ia menengok ke kanan, sudut ruangan yang sedari tadi tak ia perhatikan dan ia punggungi saat makan malam. Alih-alih vas koleksi ayahnya yang duduk manis di sana, sebuah cermin panjang berdiri menggantikannya. Sujeong dapat melihat bayangannya sendiri, dengan rambut masih digelung, kaos lengan panjang merah muda tanpa motif, dan wajah belum dicuci sejak kedatangan Baekhyun pukul lima sore tadi.

Siapa yang memindahkan cermin itu ke sini?

Sujeong baru saja hendak bangkit, namun sesuatu menghentikannya.

Ia memutuskan untuk tak jadi pindah, melainkan berusaha mengabaikan cermin itu dan kembali membaca.

Namun, tetap saja, cermin itu mengusiknya.

Kau tidak melihat apa pun di situ, batinnya. Hanya dirimu, yang sedang menjalankan harimu seperti biasa. Itu cuma cermin.

“Yakin?”

“Diam, Taehyung,” desis Sujeong.

Terlambat.

Punggung sosok itu sudah berbayang di cermin—rambut tebalnya yang minta dipangkas habis, badannya yang mungil untuk laki-laki seusianya tetapi berbahu lumayan lebar, juga kemeja putih yang melapisi tubuhnya, yang tidak lagi sekurus ketika ia masih di Sekolah Menengah Pertama. Kepalanya bergoyang-goyang senang.

“Kau bisa melihatku dengan jelas lewat ini.”

“Berisik. Aku mau baca. Jangan ganggu.”

“Iya, deh. Maaf, ya!”

Sujeong menghela napas.

Aku juga tidak mau banyak-banyak memikirkan orang macam kau.

Lalu, usai memberanikan diri, ia masukkan ponselnya ke dalam saku celana pendeknya, mengepit buku-bukunya di ketiak, lantas meninggalkan ruang makannya, tanpa memandang lagi cermin itu.

++

7 Maret

“Permen karet untukmu.”

“Baek, kamarku bukan tempat menghabiskan waktu luang. Dan tidak perlu, aku tidak mau.”

Baekhyun bergeming, lantas menarik uluran tangannya, memutuskan untuk menikmati sendiri permen karet itu. Ia berusaha membuat gelembung besar.

Sujeong, seraya membaca artikel di majalah yang diletakkannya di paha, melirik bungkus permen karet yang digenggam Baekhyun. Rasa blueberry.

“Maaf,” kata Baekhyun tiba-tiba.

Sujeong mengalihkan perhatiannya. “Kenapa?”

Mendadak, pemuda itu tampak gamang, seolah-olah ia baru menyadari sesuatu.

“Tadi di kantin rumah sakit… aku buru-buru memilihnya. Aku lupa kau lebih suka stroberi.”

Ujung bibir Sujeong melejit sekelumit. “Aku tidak mempermasalahkan hal macam itu.”

“Aku lupa. Maaf.”

Si gadis kontan bungkam. Ada kalimat yang tak terungkap dari kata-kata Baekhyun: Ini favoritnya dia.

Sujeong menahan diri supaya tidak menghela napas, lantas menyisir rambut di dekat telinganya.

“Tidak apa-apa.”

“Maaf. Lain kali kubelikan yang rasa stroberi.”

“Terima kasih sudah mau repot-repot.”

“Iya. Maaf.”

“Hmm.”

Hening lagi.

Sujeong tak bisa menatap mata Baekhyun.

Satu jam selanjutnya, kamar itu hanya diisi decak lidah Baekhyun selama ia mengunyah permen karet, beserta bunyi gesekan kertas selama Sujeong membalik halaman bukunya.

++

.

.

.

Aduh.

Suaramu lagi.

.

.

.

.

9 Maret

“Sujeong, tidak makan di bawah?”

“Tidak, Bu. Di kamar saja.”

Gadis berambut cokelat itu meletakkan piring makan malamnya di lantai. Kasihan ibunya, makan sendirian di bawah. Ayah lembur hari ini. Tetapi Sujeong ingin menghindari cermin itu. Juga telepon yang menyimpan voicemail suaranya di ruang televisi.

Kenapa, sih?

Aku tidak menggantungkan harapan apa pun. Itu juga bukan dia.

“Kamu tidak mau mengunjungi Taehyung?”

Sudah, kok, bohong Sujeong tadi. Ibunya berkali-kali menanyakan itu, dan berkali-kali pula tak ia timpali. Karena tak ingin lagi ditanyai, maka dari itu ia berbohong.

Mau berkunjung bagaimana?

Dia sudah bilang ‘dadah’, kok. Mana mau dia dikunjungi olehku.

Sujeong duduk membelakangi ranjangnya, memeluk lututnya sendiri, kembali menghela napas.

Tidak boleh begini.

Ia meraih ponselnya, memutuskan untuk melihat Instagram—mencari yang seru-seru. Mungkin acara-acara populer selama libur musim semi ini. Tayangan drama, mungkin. Atau bisa juga film baru. Ia sudah lama ingin coba ke bioskop sendirian. Atau dengan Baekhyun juga boleh. Sujeong ingin bepergian besok, ke mana pun itu.

Jarinya bergerak mengetik huruf-huruf—Traveling murah di Korea.

Akan sangat bagus kalau ia bisa pergi lebih dari satu hari. Barangkali bisa dua hari.

Atau lebih dari itu.

++

.

.

.

.

11 Maret

Sujeong, temanmu sampai mengirim personal chat padaku. Dia bilang penting. Periksa KakaoTalk-mu kenapa, sih?

“Iya, iya. Bilang padanya, nanti kubalas. Atau suruh dia beri tahu kau, nanti kau beri tahu aku.”

Ya, sudah. Foto di kamarmu….

“Apa? Maaf, tidak kedengaran.”

Tidak. Cek KakaoTalk, oke? Dah!

Baekhyun menutup sambungan. Sujeong meletakkan gagang teleponnya, tak ingin menyentuh benda itu lama-lama, kemudian berlari melewati ruang makan. Siluet cermin melintas, terpantul di matanya yang gelisah.

“Jeong-jeong.”

Berisik.

Berisik. Berisik. Berisik.

++

.

.

.

.

“Tadi aku ditanya sama temanku, ‘Kenapa kau memilih jadian dengan Sujeong?’”

“Terus?”

“Terus?”

Tawanya memenuhi ruangan.

“Itu pertanyaan bodoh, kan? Sudah jelas karena aku suka Jeong-jeong. Kalau tidak suka, untuk apa Taehyung jadian.”

Meski kedengarannya seperti idiot, Taehyung tak pernah lepas dari logikanya. Taehyung yang mengatakan apa pun sesuka hatinya, Taehyung yang punya prinsip yang dipegang teguh dalam hidupnya… Sujeong tak bisa tidak kagum kepada sosoknya. Apalagi Sujeong tumbuh bersamanya, melihat perkembangannya. Taehyung yang mungil, sekarang bahkan bisa menggendong Sujeong tanpa ancang-ancang atau nyaris terjatuh. Taehyung yang dulunya ketika berlari selalu terantuk batu, mampu mengayunkan kakinya sejauh mungkin, sebebas mungkin.

Live in the moment, kata orang Barat. Aku suka itu. Aku juga suka Jeong-jeong. Itu yang terpenting, kan? Karena ketika aku bicara sekarang, aku juga sedang membicarakan masa depan. Kau paham maksudnya? Karena waktu terus berjalan.”

Taehyung hangat dengan caranya sendiri.

Meski ia akhirnya tak lagi bisa berlari, pikirannya masih terus berlari, masih terbang dengan bebas.

“Jeong-jeong, meski kakiku begini, dan kelak seluruh tubuhku juga, dan kita sudah tahu dari dulu kemungkinan akan begini, tapi aku masih bisa menjadi Taehyung, lho. Ini pertama kalinya aku bicara masa depan: Aku akan tetap jadi Taehyung. Kita sudah menerima kondisiku, kan? Aku sudah, Baekkie sudah, dan kau juga harusnya sudah.”

Sudah, kok.

Kau tak pernah ragu-ragu.

Apa karena itu aku jadi suka padamu?

Tidak hanya karena itu, kan?

Aku tidak tahu.

Aku tidak tahu.

Siluet itu terus-menerus muncul di cermin. Suara itu seakan-akan kerap terngiang dari moncong telepon. Mataku tak bisa lagi memandang ke sembarang arah di rumah ini.

Tapi aku tetap saja tak sanggup bergerak pergi.

“Hei, Jeong-jeong,”

“Kau tidak perlu ada di sampingku pun, aku sudah merasa dicintai olehmu.”

Tapi, Taehyung.

Bukankah kau semestinya membiarkanku melakukan lebih dari itu?

++

.

.

.

.

“Jeong-jeong, katanya aku sakit.”

“Sakit apa?”

“Tidak tahu? Sesuatu yang bikin lumpuh total. Belum ada obatnya. Aku tidak tahu itu kebohongan atau bukan, tapi yang jelas, aku harus bolak-balik rumah sakit. Aku cari di internet, katanya itu bikin lupa ingatan, tapi kalau aku sih… Jeong-jeong?”

Tak ada jawaban.

“… jangan nangis, dong. Baekkie dan ibu sudah menangis tadi, aku tidak mau kau ikut-ikutan.”

“… kenapa kau kasih tahu aku hal begitu?”

“Jadi kau mau aku bohong? Tidak, kan?”

“… kenapa kau tertawa?”

“Apa salahnya tertawa?” Dia sungguh-sungguh tertawa. “Haruskah aku menangis? Aku sudah keburu kena, tak ada manfaatnya kalau aku menangis atau menyesal. Iya, kan? Aku hidup di masa sekarang. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, apalagi ditangisi. Kau juga, belum tentu hidup lebih lama dari aku.”

“Jaga mulutmu.”

“Maaf, maaf, maaf, maaf. Tapi benar, kan? Baekkie juga, ibuku juga, siapa pun di dunia ini juga. Aku berdoa untuk kepanjangan umurmu dan semuanya, tetapi bukan aku yang menjamin, kan?”

“Kau ini, ya. Sampai akhir tak pernah bicara manis.”

Tapi omongannya masuk akal. Sangat.

++

.

.

.

.

Hei, Taehyung,

sahabat sejak kecilku,

sang pemikir agung nan cerdik dan lugu,

yang meletakkan harapannya pada detik yang tengah dilaluinya,

sekarang kutanya kau.

.

.

.

.

.

Voicemail terakhir di ponsel Taehyung. Baekhyun, setelah sejemang menimbang-nimbang, akhirnya menekannya.

Kau… dasar berengsek keparat sialan!

Tawa Baekhyun mau tak mau meledak.

Ini Sujeong?

Kau mau aku menjawab seperti apa? Dasar kau bunglon ekor zebra! Iyaaaa, Taehyung! Aku pahaaaam sekali! Tentu saja, tidak memikirkanmu, kan? Itu hal mudah! Tenang saja! Kau juga, makan yang banyak, ya! Dadaaaaah—otakmu miring, ya!? Kuputus lidahmu lama-lama!

Baekhyun sontak berhenti tertawa.

Kalau semudah itu melupakan orang, menyayangi orang lain juga tidak akan serumit ini! Otakmu jatuh di suatu tempat, ya!? Memangnya kaupikir kau siapa—memangnya kau lebih tampan dari Baekhyun? Lebih memesona dari Baekhyun? Aku naksir dia sepanjang kelas empat, lebih dulu daripada naksir kau—kupikir-pikir lagi, kenapa bisa aku suka padamu!? Sekarang kutanya, ya, Taehyung, kalau semudah itu kau bisa melupakan aku, lalu voicemail di ponselku itu untuk apa!?

Sujeong terdiam sebentar. Ada suara isakan.

Kau takut, ha!?

Kau takut?

Suaranya bergetar.

Paling tidak… biarkan aku tahu… kalau kau takut….

… biarkan aku tahu… sebelum itu….

++

.

.

.

.

Suaranya yang agak berat tidak begitu jelas. Krosak krosak gaduh. Entah ia merekamnya di mana.

“… Jeong… sekarang… masih jadi… waktu yang paling… kupilih… Sujeong… aku takut… Sujeong… maafkan aku… kau pasti marah… aku takut… tapi aku ingin… kau memikirkan… Taehyung… sebagai Taehyung… yan…g sebenar… benarnya… Taehyung ingin… jujur… tapi… yang keluar… malah seperti… itu… Baek… menempeleng… kepalaku….”

Sujeong terbahak. Tangannya lekas-lekas menutup mulutnya, membiarkan dua bulir air membasahi sisi atas jari-jemarinya.

“… aku senang, Jeong-jeong… aku senang….”

“… senang apa? Bodoh.”

“… tapi, akhirnya, aku seriu—”

Krosak krosak.

Sudah.

Selesai.

Sujeong kembali ke home. Logo chat messenger yang disebut-sebut Baekhyun berada di sudut kanan atas. Keraguan menjeratnya, tetapi memutar kembali voicemail Taehyung saja ia bisa, masa yang ini tidak?

Jadi, ia tekan logo aplikasi itu. Sederet chat paling atas langsung terpampang di depan matanya.

Park Myungeun  (11 Maret 2014. 11:32) BACA, RYU SUJEONG.

Byun Baekhyun  (7 Maret 2014. 13:03) Nanti ke rumahmu. Sedang urus berkas di RS.

Seo Jisoo  (26 Februari 2014. 08:16) Jalan-jalan, yuk?

Park Jimin  (19 Februari 2014. 14:05) Turut berduka ya.

Kim Seokjin  (19 Februari 2014. 14:01) Sudah hubungi Baek. Turut berduka untuk kalian.

Sujeong dibelenggu oleh rasa takut, sampai-sampai ia lupa apa yang sebenarnya ia takutkan dari sana.

Dialihkannya pandangan ke ruang kosong di hadapannya, tempat di mana seharusnya cermin di ruang makan berada sebelum ia pindahkan sendiri ke ruang televisi. Pada akhirnya, karena memenuhi ruangan, ayahnya memindahkan cermin itu ke ruang makan.

Layar ponselnya mati. Cahaya memantul di layar gelap itu, menyebabkan Sujeong bisa melihat apa yang ada di dinding belakangnya.

Taehyung si berengsek tersenyum di bingkai foto.

Tak pernah diturunkan. Tak pernah ditutupi. Hanya saja selalu Sujeong belakangi. Ia tak sampai hati untuk melihatnya, apalagi menyentuhnya.

Tak boleh ada cermin. Nanti terlihat. Mau di mana pun cermin itu di kamar ini, nanti foto itu terlihat.

Harus dipindahkan.

Sujeong kembali ke daftar suara yang tersimpan di ponselnya.

Voicemail itu belum selesai ternyata.

Entah apa yang membuatnya berani menekannya. Yang jelas, suara itu menyapa kembali.

“—aku kangen. Dah, Sujeong.”

Sujeong.

“Jaga mulutmu.”

Hanya saat ia sedang serius, nama belakang Sujeong tidak ia sebut dua kali.

Voicemail – Kim Taehyung. 18 Februari 2014, 23:45

Bulir kristal itu mengalir lagi.

Oh, iya.

Sudah sebulan, ya.

Kenapa sih kaubiarkan aku menyesal?

Kenapa sih kau berkata-kata seolah-olah aku bukan lagi siapa-siapamu?

Aku takut aku akan marah, aku takut aku akan menamparmu, aku takut aku akan menangis tak henti-hentinya kalau mengunjungimu di rumah sakit. Makanya aku tak pernah berani. Tak pernah bisa.

Tapi kaubiarkan aku benar-benar tidak pernah bisa melakukan itu.

Sujeong mengizinkan air matanya jatuh sepuasnya, membiarkan erangan dan isakan meluncur dari mulutnya sepuasnya.

Aku menahannya sebulan, Taehyung.

Aku menahannya sebulan.

++

.

.

.

.

“Saat terakhirnya… dia bilang apa?”

“Tidak ada. Dia minta kami semua keluar kamar. Ingin sendirian selama satu jam. Kurasa selama itu dia merekam voicemail untuk dikirim kepadamu—itu kegiatan yang susah. Tangannya sudah… sulit.”

“Oh….”

“Dia menangis sesenggukan.”

“Serius?”

“Aku berdiri di depan pintu kamarnya selama sejam lebih, jadi bisa dengar kalau dia bersusah-payah menghapus air matanya. Pernah lihat adikku seperti itu? Dia dengan logikanya memang Taehyung yang sebenar-benarnya, tetapi dia juga punya rasa takut. Kurasa bukan takut pada kematian. Dia takut menghadapi kita semua.”

“… menghadapiku, maksudmu.”

“Tapi, begitu-begitu dia tidak menyesal. Dia bilang manusia yang sampai kapan pun tak boleh melihatnya dengan air mata cuma Sujeong seorang. Dia bilang kau akan meledeknya.”

“Meledeknya—dasar si berengsek. Bagaimana mungkin aku meledeknya kalau kondisinya seperti itu?!”

“Itu cuma alasan Taehyung. Aslinya dia hanya tak mau melihatmu menangis. Soalnya dia tak bisa lagi sekadar menghapus air matamu.”

++

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Aku boleh marah, kan?

Aku boleh menangis, kan?

Kutendang nisanmu kalau tidak boleh.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Aku kasihan pada Baekhyun yang kasihan padaku.

Tidak, Baekhyun melakukan itu karena dia sayang padaku. Itu sudah pasti.

Tapi gara-gara adik tak berguna macam kau dia jadi datangi aku tiap hari, temani aku tiap hari.

Dia juga punya hidup, tahu.

Dia juga menderita, tahu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

“Baekhyun?”

“Iya?”

“KakaoTalk sudah kubalas, tenang saja. Tapi aku mau keluar hari ini. Mau temani, tidak? Maaf, ya.”

Baru kali ini Sujeong minta maaf sebenar-benarnya kepada Baekhyun. Bertahun-tahun ini, kata ‘maaf’ dan ‘terima kasih’ menjadi sekadar ucapan saja lantaran mereka terlalu dekat. Tetapi, ‘maaf’ dari Baekhyun kemarin, ketika ia merasa bersalah sudah membeli permen karet dengan rasa yang keliru, membuat Sujeong berpikir ulang, bahwa kata ‘maaf’ ini sudah sepatutnya ia ungkapkan.

Baekhyun juga kakak untuk Sujeong. Meski kadang kala tindakannya sama kurang ajarnya, tetapi Sujeong tahu benar, Baekhyun selalu merasa bertanggung jawab atas dirinya dan Taehyung.

Kalau Taehyung berpegang dengan prinsipnya, Baekhyun kukuh dengan rasa ingin melindunginya.

Dari seberang sana, terdengar hela napas lega.

Sujeong bisa membayangkan senyuman terulas di bibir lawan bicaranya.

“… boleh. Ke mana?”

Sujeong bersumpah, manakala ia berhasil memandang mata Baekhyun nanti, ia akan berterima kasih lagi.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dadah juga, Taehyung.

Tapi aku bukan pengecut seperti kau.

Akan kukatakan sendiri di depanmu.

Meski tak ada lagi wujud aslimu,

seperti bayang-bayang di cermin itu,

tapi kau pasti akan dengarkan, kan?

Kutendang nisanmu kalau kau tak mau.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Taehyung,

Sekarang, kutanya, ya.

Kalau aku masih banyak-banyak memikirkanmu,

boleh kan apa yang kurasakan ini,

kubiarkan tanpa kuselimuti lagi dengan tangis dan luka?

 .

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

fin.

Btw. Iya. jadi. begitu.

Pertama-tama mohon maaf??? Kalau Anda mengharapkan cerita angstromance yang penuh kata cinta, Anda sudah salah pilih penulis. Dan maaf juga kalau terlalu singkat HUHU ngejar feeling tulisan sampai jam setengah tiga pagi. Maaf loh kalau enggak dapat feel-nya. :(

Kedua, kalau ini Out of Character ((KAYAKNYA EMANG SIH? Apalagi Sujeong maaf ya anak orang manis banget gitu dibikin berkata kasar)), saya kembali memohon maaf.

P.S: kihyukha sudah punya satu novel sendiri, lho! Genre-nya action fantasy, seri pertama dari satu seri cerita. Novel ini Original fiction yang dulu dasarnya dari fanfiction buatan sendiri juga, Black Circus! Kalau tertarik, monggo bisa dicek di sini! #promosi

Semoga menikmati! Review, please?

Salam, fikha.

30 thoughts on “[IFK Movie Request] Words of His Silhouette”

    1. KAK DITA SUNBAENIM TERIMA KASIH SUDAH BERKUNJUNG KE LAPAK SAYA. Aamiin bisa sedih kak, tapi ngga tears-driven (?) soalnya pendek banget huhu terima kasih sekali lagi kak ditaaa!

      Suka

  1. Huaa kakak.. ini sesuai banget dengan romance kesukaanku. Aku gak suka yg terlalu penuh dengan menye2 (?) gitu jadi ini sesuai banget denganku🙂
    Dan yeah aku suka dengan karakter OOC nya Sujeong. Meski di awal jujur agak gak ngerti dengan alurnya yg kayak loncat2 gitu ya?
    Akhir kata, terima kasih banyak kakak!!

    Suka

    1. Heihooo! Yeay, terima kasih yaaa! Aku sejujurnya ga kenal Lovelyz makanya jadi bingung mau nulis Sujeong kayak gimana jadi deh tipikal karakter cewek di fenfikku begini huhu😦
      ini alurnya maju terus kookkk. cuma emang tanggalnya harus diperhatiin soalnya banyak clue-nya. Sama-sama ya! Terima kasih sudah rikues, aku jadi bisa ngegas nulis lagi. Ohiyaaa nama kamu siapaaa?

      Suka

    1. fikh serius aku tuh paling gabisa baca yang ginian soalnya apaan aku pasti akhir-akhirnya nangis, apalagi yang diajak nonton film macem one litre of tears gitu yang heroin nya sakit atau apalah pasti gamau duluan deh soalnya pasti akhirnya nangis. Parahnya lagi yah fikh backsound nya tuh bikin sedihnya tambah kerasa :” aku boleh marah nggak? (gadeng becanda) DUUH NANGIS NIH NANGIS :” MASA AKU BACA KALIMAT AWAL AJA UDAH MAU NANGIS

      aku kok mikirnya malah sujeong ga ooc yah fikh dia tuh emang kaya gitu ga sih anaknya? ahaha duh tae tae nya so sweet banget fikh kamu bikinnya :” btw aku dari awal penasaran banget dia sakit apa fikh? parkinson? apa kamu udah jelasin dia sakit apa terus akunya yang nggak ngeh? hehehe

      iiiih ini aku bacanya mau magrib fikh sore-sore gitu feelnya ngedukung banget buat mewek-mewek untung aku bacanya di kamar :” duh ini aku suka banget lah fikh :’) semangat terus ya fikha nulisnyaaa!

      Suka

  2. Boleh panggil Fikha ‘kaaan?
    Tuuh kaan, Taehyungnya udah nggak ada. Udah mulai aneh sama kalimat pertamanya, entah ini udah fanfik keberapa di mana Taehyung dibikin ga ada -_-
    tpi, romance-nya ngena bgt loh ini.
    Aku suka feel pas bacanya, sedih tapi tetep bisa kerasa manisnya, walaupun soft gituu…
    Aku suka pemikiran Taehyung di sini, yaa intinya mah aku suka ceritanya ^^
    salken, Neng 96L

    Suka

    1. Boleeeh, salam kenal yaa Kak Neng!
      HAHA ini jujur ff Taehyung pertamaku dan aku juga hampir ga pernah baca ff BTS tapi sejak Run Taehyung emang enak dibikin tragis sih karena dia emang bagus aktingnya
      oh iya? Alhamdulillah huehehe. pemikiran Taehyung hasil dari pemikiranku sih, dan aku selalu pakai karakter fiksiku buat ‘berantemin’ apa yang kupikirin. Syukur Kakak sukaaa! Terima kasih sudah membaca kaaak xD

      Suka

  3. HUHUHAHAHUHUHU

    Kataku sih sujeong di sini gak ooc fikh?????? like, seriously, pas-pas aja kok baca dia begituu. Apaya, PAS BENERAN KOK! wkwkwk edisi susah nulis komen nih aku, maafkan yaaa!

    Hubungan 3 tokohnya menariiik, terus scene favku sih yang Baekhyun minta maaf terus-terusaaan! Ada sesuatu di situ yang artinya daleeem :””) Anyway, ngebayangin Taehyung manggil Sujeong dengan jeong-jeong tuh manis x) Btw ralat deh fikh, scene baekhyun minta maafnya fav ke 2 aja soalnya fav yang bener-bener fav pas Taehyung bilang kangen ke Sujeong; gapake jeong-jeong saking dia seriusnya. Aw, that was….. :”’))))

    Sugohaeso, ching! Aku tau romens bukan pijakanmu, tapi semoga kamu dapet skenario romens yang adem bersama kangmz meski suatu hari nanti HAHAHAHAHA
    😉 see you, Fikha! (dhila gandalf)HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA

    Suka

    1. HAI DHIL MAAF INI BARU DIBALES OMG AKU SANGAT TIDAK BERSYUKUR MENDAPAT KOMEN DARI ORANG-ORANG HEBAT

      ohiyaya??? maaf ya aku gatau lovelyz HUHU iyaaa aku juga pas nulisnya pun ngerasa seneng banget karena aku pun sangat sadar bagaimana aku susah minta maaf dan terima kasih ke orang yang deket sama aku kek keluarga dan sahabat??? jadi ketika nulis itu aku merasa keak wow ternyata emang butuh keberanian dan ketulusan untuk menyampaikan ini. aku tidak menyangka sih karena aku juga suka sama cerita ini entah kenapa, apakah karena kesederhanaannya atau karena aku bisa bikin romens tanpa cheesy dan cringy? (padahal cringy juga)

      HAHAHAHAHHAHAHA AAMIIN btw bentar lagi aku mau post ttg karakter BC di instagram including Miou! MAKASIH BANYAK DHILAA

      Disukai oleh 1 orang

  4. boleh panggil fikha aja kan? kita sama2 line 98 loh… >.< btw aku dapet feelnya kok.. justru yang begini ini aku sukaaa :)) sering2 bikin begini ya fikhaaa ^^
    oh ya lupa. SALAM KENAL AKU WASHFA \^_^/

    Suka

    1. BOLEH BANGEEET HALO WASHFA INI WASH BUKAN TEMAN LINEKU??? okaaai bismillah semua rikues bisa kuselesaikan huehehe aku ngga bisa bikin romens yang bikin orang menggelinjang karena kemanisannya soalnya hueehehe makasih banyak washhh!!!

      Suka

  5. Fikha, oja jadi ingin berkata kotor/? atas ff ini :” tau gak aku baca ini pas lagi dikampus, dikeramaian, pas hujan pula, sambil dengerin ini musik, kudiejek karna nagis sendirian depan laptop :”

    Duh, fikha, ku tereyuh, tapi juga ingin berkata kotor karna diledekin nangis depan kampus:”

    As expected, bu direktur terbaiklah :’))

    Suka

    1. KAK OJAAAAAA ANNYEONGGG MAAF BARU DIBALAS SUNGGUH KU TAK TAHU DIRI

      demi apa kakak nangis??? huhu aku tak pernah membayangkan fic ini bisa bikin orang nangis loh, dan pas hujan tuh sesuatu sekaliii. gapapa kak nangis adalah tanda ketulusan hati manusia jadi is gud!!

      AAMIIN yang terbaik juga buat kak ojaaa

      Suka

    1. HALOOOO FIKHA 98L SALAM KENAL!!!! sumpah aku syok aku sudah termasuk gen tua HIKS. gapapa nangis adalah tanda kelembutan hati heuheu terima kasih banyak yaaa DAN MAAF BANGET BARU DIBALAS SEKARANG AKU SUNGGUH BERDOSA aku panggil apa nihhh

      Suka

  6. Fikh, aku baru baca ini gara-gara….. Entahlah, mood baca fic orang belum tumbuh kemaren kemaren trus baru sekarang pengen baca fic dan aku inget kamu pernah bikin FF mbak Sujeong yaampun :”)
    Ceritanya apik tenan loh Fikh yaampun……. Apa ya….. Sedihnya tuh yang tersirat gitu, kamu gaperlu pake kata-kata yang menye-menye tapi aku udah nangis dibuatnya huhuhuhu.
    Ah pengen berkata kasar juga baca ini dan nanggepin sikap Taehyung yang……. terlalu prinsip? Dan antara mau nangis sama ketawa miris baca Sujeong banyak banget ngeluarin kata-kata kasar :””””
    Tapi ini nggak OOC kok Fikh, percayalah. Mbak Sujeong walau penampilan di depan umum manis gitu gitu emang cocok peran begini :”))))))
    Dan, uh apalagi ya………
    Jempol banyak banget deh buat kamu Fikh, kamu udah ngebalikkin mood baca FF lagi ke aku huhuhuhu :”) dan bikin sampe nangis padahal mah udah lamaaaaaaa banget aku ga baca FF sampe begini ehehehehe :”)
    Terus nulis Fikh! (Dan maapin aku kalo nggak produktif TT)

    Suka

    1. INESSSSS semoga sukses SBMPTNnya ya! Aamiin! aku juga gitu nes huhu selalu mager kalau mau baca ff orang dan mager pulak nulis ff omaji aku sangatlah tak berguna

      aku mencoba bikin ironi sih, dengan sujeong dan baekkie awalnya sama sekali ga sedih tapi in the end ternyata di dalam mereka tuh breakdown banget. aku bingung kenapa fic ini bisa bikin orang nangis tapi sungguh terima kasih sudah menangis atas ceritaku huhu I really don’t deserve

      iyaaa Taehyung terlalu memegang prinsipnya, bahkan ga bisa dijatuhin oleh Sujeong. tapi kita pasti bakal jadi kayak Sujeong ga sih bukan sedih yang keluar uneg-uneg juga ikutan

      WIH ALHAMDULILLAH aku tuh buta lovelyz sama sekali jadi maafkan aku yorobundeul yang mencintai lovelyz :((

      SELAMAT MEMBACA FF LAGI YA INEEEES DOAKAN AKU JUGA CEPAT BALIK FEEL-NYA! hiks makasih banyaaaakkk banyakbanyak. Aamiin! Semoga kita semua terus produktif sehingga tetap eksis di dunia perffan ini huhu bismillah!

      Suka

  7. Pas baca tuh bibgun apa gk mau hat cermin. Dikira karena ada hantu tae masa atuh ih:(

    Sedih sih ya ternyata emang taenya udh mati tapi sujeong gamau terima tapi akhirnya… ah sudahlah :”))))

    Nice fic!^^

    Suka

    1. Halooo Tob!! Aku sering liat kamu di IFK huehehe mungkin ini pertama kalinya kamu nyamper lapak aku ya. kenalkeun fikha 98l! selamat menjelajahi IFK lagi yaaa terima kasiiih

      Suka

      1. Wah iyaaa? Maaf atuh suka nyampah gini ya: ”’)

        Baru beberapa Bulan ini display namenya pakai tob, dulu hvirus (mungkin tahu/? Hehe)

        Dan, kembali Kasih fikha! Disini t o b dari 98l juga, btw:3

        Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s