[IFK Movie Request] Blackbird

blackbird

Requested by Yukiharu_nff

Casts Im Jaebum – JB [GOT7], Im Nayeon [TWICE] Genre Family, dark, school life Rating PG-17 Duration Oneshot Disclaimer I own the plot

© 2016 namtaegenic

:::::

“Kau tidak kangen dengan lapangan ini?”

Nama Jaebum mengudara mengisi teras rumah tepat ketika Nayeon menyelesaikan ikatan tali sepatu sebelah kirinya. Belum juga menangkap tanda-tanda kehadiran kakaknya, Nayeon kembali memanggil. Kali ini dengan embel-embel masuk ke kelas detensi apabila terlambat pada jam pertama.

Jaebum bergerak memasang sepatu di sebelah Nayeon tanpa banyak bicara. Di sisinya, berdiri ibu mereka. Raut wajahnya kusam, tenggelam dalam kekhawatiran yang ditujukan hanya pada putra sulungnya.

“Nayeon, hari ini kau pulang dengan kakakmu, kan?” suara ibu nyaris mendesis, tampaknya terlalu sibuk memilih kata-kata yang tepat untuk disampaikan pada kedua anaknya.

Nayeon mendongak, bangkit, dan menyentuh bahu ibunya sembari tersenyum lebar.

“Ibu tenang saja, Kak Jaebum tidak akan jauh-jauh dariku. Tidak perlu dipikirkan, ya, Bu?” Nayeon mengulas kekehan lembut, menarik keyakinan ibunya ke permukaan hingga wanita itu akhirnya tersenyum juga, mau tak mau disaksikan oleh Jaebum.

“Berhentilah bersikap seakan aku mengidap gangguan jiwa,” tukas Jaebum seraya menyampirkan ranselnya di bahu dan melangkah lebih dulu. “Itu memuakkan.”

Nayeon menyusul usai melambaikan tangan pada ibunya, lantas mengejar agar bisa menyejajarkan langkahnya dengan Jaebum. Si kakak memandangnya dengan mata memicing. “Kau nggak perlu mengekoriku ke mana-mana, sungguh. Aku bukan pasien rawat jalan.”

“Tapi kau kan, kakakku,” Nayeon tersenyum manis. “Memangnya tidak boleh, kalau aku membuntuti kakakku ke mana-mana? Kalau ada gadis menyebalkan yang menempel padamu, kan aku bisa—“

“Usaha yang bagus, tapi aku tidak terhibur sama sekali. Terlebih dengan perlakuan semua orang sejak—“

Nayeon menggenggam jemari tangan kakakknya. Lantas ia memasang badan tepat di hadapan Jaebum, mencari-cari kedua manik legam pemuda itu. Mata Jaebum berkaca-kaca, tapi sorotnya penuh kebencian. Kebencian terhadap sekolahnya, kebencian terhadap teman-temannya, kebencian terhadap pandangan orang terhadapnya, dan kebencian pada dirinya sendiri.

Satu bulan yang lalu, Jaebum masih baik-baik saja—masih menggulirkan lelucon dengan teman-temannya, masih berhasil meloloskan bola ke keranjang basket, masih menjalani hukuman lantaran melanggar peraturan sekolah, dan masih menggodai gadis sana-sini. Jaebum masih menjalani hidup secara normal.

Kemudian, pada sore hari pertama di bulan Mei, seorang anak dari klub basket ditemukan tergeletak tak bernyawa di ruang ganti tim laki-laki—dengan masih mengenakan seragam sekolah yang kancingnya baru terbuka separuh, ia tewas bersimbah darah dengan lima liang luka tusukan di dada dan perut. Keadaan mayat waktu itu sungguh mengenaskan. Yang menemukannya pertama kali adalah serombongan junior tim basket putra lainnya. Sekolah makin digemparkan oleh rekaman CCTV di koridor luar yang menangkap sosok korban masuk ke ruang ganti, dan disusul oleh seorang murid lagi. Meskipun CCTV milik sekolah tidak bisa menangkap dan merekam suara, pihak kepolisian mudah saja menyimpulkan bahwa si rambut merahlah pelakunya, karena beberapa menit setelah si tersangka keluar sendirian, anak-anak dari tim basket putra masuk, dan berhamburan ke luar setelah melihat mayat.

Saat itu, semua murid tidak diizinkan untuk pulang hingga sekitar pukul sebelas malam, sementara keseluruhan tim basket ditahan langsung di kantor polisi karena dugaan bahwa anggota merekalah yang paling mengetahui ketepatan lokasi dan waktu. Para murid dipulangkan ke rumah masing-masing setelah tim investigasi yang ditugaskan di sekolah mendapat laporan dari kepolisian pusat, bahwa seorang siswa bernama Im Jaebum praktis ditahan beberapa jam lebih lama karena ciri-cirinya yang paling menyerupai si pelaku. Berambut merah, dengan kalung rantai sepanjang dada, dan wristband hitam di tangan kiri.

Pembelaan datang dari tim basket sendiri. Tak terelakkan lagi bahwa beberapa anggota menggunakan wristband yang sama, terutama tim inti. Wristband hitam itu digunakan sebagai penanda persahabatan sekaligus senioritas di tim. Korban bahkan menggunakan wristband serupa.

Mengalah dengan komplain—dan tidak ditemukan bukti yang signifikan dari barang-barang milik Jaebum, pihak kepolisian membiarkannya bebas bersyarat. Namun mereka belum akan menutup kasus.

Bagi Jaebum, tidak ada yang bisa kembali seperti dulu. Tim basket berpihak padanya atas nama solidaritas, tapi seisi dunia memusuhinya. Murid-murid lain tidak ada yang bersedia berada dalam radius kurang dari lima meter darinya. Acap kali pandangan mereka membelalak ketika Jaebum melintas, seakan Jaebum bisa tiba-tiba mengeluarkan sebilah pisau dan menusuk mereka semua layaknya psikopat.

Ini gila, Jaebum bahkan tidak ingat pernah melakukannya—menusuk teman satu timnya. Sungguh, jika saja Jaebum ingat apa yang ia lakukan pada jam itu, pasti ia sudah membela diri dan tidak akan membiarkan orang lain memperlakukannya seperti penjahat.

Ada yang aneh pada hari itu. Jaebum yakin sekali ia tidak melakukan apa-apa—pun berada di dalam pengaruh alkohol atau obat-obatan. Bagaimanapun, tidak ada sedikit saja hal yang diingatnya pada rentang waktu antara usainya kelas Geografi dan saatnya ganti baju bagi tim basket. Jaebum barangkali berada dalam masa trancedelta. Jaebum pernah membaca mengenai hal itu, dan bukannya orang-orang tidak pernah berada pada masa delta—tidur pulas tanpa mimpi. Apa pun itu, yang jelas Jaebum pasti tidak membunuh. Kalaupun ia tidur, ia pasti tidur.

Masalahnya, jika ia ingat bahwa ia waktu itu sedang tidur, mana mungkin ia tidak menyampaikan alibinya.

Lagi pula, pembelaan itu tidak ada gunanya lagi sekarang.

Jaebum berpisah dengan Nayeon dan adiknya itu naik ke deretan lantai dua menuju ke kelasnya. Dari arah yang berlawanan, Mark melambaikan tangan. Mereka melontarkan high five khas tim basket, mengundang pandangan murid-murid lain yang tadinya sudah berpaling. Ekor mata Mark sendiri mengikuti langkah Nayeon sampai ia menghilang di lantai dua.

“Pergi dengan adikmu lagi?” tanya Mark, usai menyuruh Jaebum untuk melepaskan earphone dari telinganya. Sejak kejadian itu, tak sekalipun Jaebum menonton acara berita kriminal, dan lebih memilih mendengarkan musik ketimbang mengotori telinganya dengan gunjingan yang tidak benar.

“Ibuku tidak tenang jika aku tidak berada di bawah pengawasan Nayeon.”

Mark terkekeh. Lantas mereka menepi di ambang pintu yang menghubungkan bangunan dengan lapangan basket.

“Kau tidak kangen dengan lapangan ini?” Mark mengangkat alis. Dengan mantap, Jaebum menggeleng. “Tidak sama sekali. Aku mau melupakan semuanya. Percayalah, Mark, bukan aku yang membunuh… membunuh… “ Jaebum menggantungkan kalimatnya di udara. Matanya menerawang dengan alis yang bertaut.

“Hei, ratusan kali sudah kubilang, aku percaya! Aku yakin bukan kau,” ujar Mark, tersenyum tulus. “Yakin sekali, Jaebum.”

“Trims, omong-omong. Ketemu lagi nanti?” Jaebum kembali memasang earphone-nya, dan melangkah menjauhi pemandangan lapangan basket.

:::::

 

“Kak Jaebum tidak boleh sering-sering bergaul dengan Mark Tuan.” Saat ini, Nayeon tak lagi terdengar mengingatkan—tapi mengultimatum. Seakan bertegur sapa dengan Mark pun adalah tindakan kriminal kelas berat. “Tidak baik.”

Lantas, gadis itu berpindah duduk dari bangku komputer ke tempat tidur kakaknya. “Percayalah, Kak. Aku kenal betul dengannya.”

Dahi Jaebum berkerut. Ada yang tidak ia sukai dari cara Nayeon membicarakan sahabatnya. “Sejauh apa dari Mark Tuan yang sudah kaukenal?”

Nayeon melambaikan telapak tangannya, mengindikasikan bahwa ia menolak membicarakan Mark Tuan lebih lanjut. Lantas setelah Nayeon tampaknya tidak lagi hendak meluncurkan topik obrolan lain, Jaebum menjadikan kedua lengannya sebagai alas kepala. Ia merebahkan diri, dan matanya memandang langit-langit kamar.

“Nayeon, kau pernah merasa kehilangan sebagian persen dari ingatanmu? Kau tahu, seperti kau bertemu seseorang, atau membeli barang, lalu kaulupa?”

Hening sejenak sebelum Nayeon menjawab. “Sering. Soalnya aku kan, pelupa, hehehe.”

Jaebum menggeleng-geleng. “Bukan, bukan seperti kau pelupa, atau pikun. Tapi, ibarat ingatanmu seperti buku, lalu ada seseorang yang menyobek salah satu halamannya, dan di dalam dirimu, kejadian itu tidak ada lagi.”

Nayeon tampak berpikir, kemudian menggeleng dengan polos. Jaebum menghela napas. Ia yakin sekali hal itu terjadi padanya saat bicara pada Mark tadi pagi. Ia melupakan satu hal yang sangat krusial. Seakan hal tersebut sudah berada di ujung lidahnya, namun tak terlontar dari benak.

Nayeon menepuk lutut kakaknya. “Kak Jaebum harus segera membuang pikiran-pikiran yang tidak penting. Ingat yang penting saja. Misalnya hari ulangtahunku!” guraunya. Mau tak mau Jaebum tersenyum dan mengusak rambut Nayeon.

Yah, untunglah Nayeon selalu ada di sisinya. Karena jika tidak, barangkali Jaebum sudah melakukan tindakan yang gila terhadap diri sendiri.

:::::

 

Ini sudah yang ketiga kalinya Jaebum menyusun-membongkar-menyusun-lagi semua barang-barang di kamarnya, belum juga ditemukannya buku tahunan senior dua tingkat di atas mereka. Jaebum memerlukannya untuk mencari nomor telepon dari sponsor yang senantiasa menyokong tim basket sekolah mereka. Sebenernya Jaebum sudah tidak mau lagi berhubungan dengan timnya, tapi mengingat bahwa anak-anak dari tim putra sangat mendukungnya setelah kejadian itu, Jaebum bersedia membantu.

Sebuah memori melintas di benak Jaebum. Belum lama ini Nayeon meminjam buku tahunan itu untuk mendapatkan profil dari pemuda yang jadian dengan temannya. Biasalah, gadis-gadis kalau sudah penasaran, kemampuan investigasinya melebihi agen rahasia.

Lantas Jaebum melangkah ke kamar Nayeon, memutuskan untuk tidak perlu minta izin adiknya yang sedang kursus piano itu. Lagi pula kamar Nayeon tidak pernah dikunci.

Aroma seperti permen menyeruak kala Jaebum melangkah masuk ke dalam kamar adiknya. Kamar Nayeon adalah kamar gadis paling rapi yang pernah ia bandingkan dengan yang ada di televisi. Adiknya yang manis dan polos itu memang sangat cerewet jika sudah berhubungan dengan kerapian rumah. Jaebum jadi merasa bersalah mau mengobrak-abriknya.

Pemuda itu memulai pencariannya dengan memerhatikan deretan buku Nayeon di meja belajar. Tidak ada. Buku itu warnanya biru donker. Deretan itu merah muda semua. Lantas tangan Jaebum mulai membuka-buka laci. Di sana ada benda-benda remeh seperti gunting kuku, alat manikur warna-warni, gunting, lem stik, dan beberapa pulpen.

Belum menyerah, Jaebum membuka rak di bawah laci meja belajarnya. Oh, mudah sekali mencarinya di sini. Itu dia, buku tahunan berwarna biru donker. Jaebum kontan menariknya, namun ekspresinya berubah ketika melihat apa yang tertulis di sampul. Bukan, ini bukan buku tahunan yang dicarinya.

Supranatural: Mitos Bermain di Alam Bawah Sadar Orang Lain.

Dahi Jaebum berkerut. Buku itu beraroma buku tua, dan ditulis tangan dengan tinta hitam, nyaris tak terlihat di alas biru donkernya. Jaebum membuka buku itu, lantas membaca sebagian isinya dengan dahi berkerut.

Boleh percaya, boleh tidak. Namun jangan sekali-kali mempergunakannya untuk hal buruk.

Untuk apa Nayeon membaca buku seperti ini? Ini jenis buku yang dicetak mandiri, dan tidak dijual di mana pun kecuali mungkin kau pelanggan pasar gelap mistis atau apalah.

Yang dibaca Jaebum selanjutnya jelas membuat dahinya berkerut makin dalam. Di dalamnya, tersurat sebuah mitos kuno mengenai cara bermain-main dengan alam bawah sadar orang lain, lantas melakukan hal yang kita inginkan dengan memanfaatkan tubuh orang tersebut. Jaebum terperangah dengan ilustrasi-ilustrasi mengerikan yang disuguhkan buku itu. Lebih terperanjat lagi ketika selembar potret tidak sengaja terjatuh dari sana.

Jaebum memungutnya dan menahan napas. Itu foto Mark Tuan, tampaknya diambil saat ia sedang men-dribble bola.

“Kak Jaebum tidak pernah masuk ke kamarku tanpa izin sebelum ini.”

Masih mendekap buku dan memegang foto Mark, Jaebum tersentak. Dari ambang pintu, Nayeon sudah memandangnya dengan tatapan dingin. Lantas ia melangkah masuk dan merebut buku itu dari tangan Jaebum. “Kenapa kalau aku membacanya? Memangnya aku tidak boleh ikut menyelidiki kejadian yang merusak nama baikmu waktu itu?”

Jaebum membuka-tutup-buka mulutnya, namun tak satu kata pun lolos dari sana. Nayeon menghempaskan tubuh ke tempat tidur, dan menghela napas.

“Tadinya aku mau merahasiakan ini dari Kak Jaebum,” ujarnya. “Beban Kak Jaebum sudah terlalu besar sejak pembunuhan anggota tim basket itu. Jadi aku mencari informasinya sendiri.”

Lagi-lagi mata Jaebum menerawang, mencoba mengingat-ingat sesuatu.

“Kupikir karena polisi sudah mencoba mendeteksi semua logika dari kasus ini, aku mencoba cara lain. Ketika Kak Jaebum bilang tidak ingat soal apa yang sedang Kak Jaebum lakukan, kupikir ini ada hubungannya dengan praktik supranatural. Buku ini kudapatkan dari bibinya temanku. Ia mahir soal—kautahu, Kak—sihir kuno.”

“Di zaman sekarang ini?!” Jaebum menukas tak habis pikir, sementara Nayeon menunduk, tampak menyesal dan sedih. Karena kasihan, Jaebum minta maaf dan duduk di sebelah adiknya. Nayeon meneruskan. “Ternyata ada semacam ilmu hipnotis, di mana kita bisa mengendalikan pikiran seseorang hanya dengan cara-cara yang diberikan.” Lantas Nayeon menekap mulutnya dan menangis. Tampaknya ia tidak sanggup mengucapkan yang satu ini.

“Nayeon….”

“Seorang temanku melihat Mark Tuan melakukannya padamu di lapangan basket. Tangannya—tangannya menari-nari di depan wajahmu yang tampak ko—hiks—kosong. Lalu kau masuk ke dalam sekolah kita, dan begitulah kejadian seterusnya. Kau menghabisi nyawa temanmu, lalu… lalu… kau keluar, membersihkan diri di kamar mandi dekat gudang, dan mengganti baju seragammu. Mark Tuan selalu tahu kalau kau membawa seragam cadangan tiap hari!”

Membawa seragam cadangan sudah menjadi kebiasaan tiap anggota tim. Jadi Jaebum hanya bisa diam membeku mendengar penuturan Nayeon. Adiknya ini bekerja keras mencari cara yang sangat tidak masuk akal demi membuktikan bahwa ia tidak bersalah. Nayeon melakukan hal di luar akal sehatnya hingga sejauh itu hanya demi membersihkan nama baik Jaebum.

Menahan agar air matanya tidak ikut-ikutan tumpah, tangan kanan Jaebum merengkuh Nayeon, membenamkan kepala adiknya ke pelukan, sementara tangan kirinya  terkepal.

Mark Tuan akan menerima akibatnya.

:::::

 

Mark berdiam diri ketika kedua tangan Jaebum mencengkeram kerah seragamnya. Kedua pemuda itu menepikan diri di lapangan basket yang sedang tak terpakai, hanya agar Jaebum bisa memberi pelajaran pada Mark.

“KAU MEMBUATKU MELAKUKAN INI! KAU MEMBUATKU JADI PEMBUNUH! KEPARAT KAU MARK, KEPARAT!” Jaebum mendorong Mark dengan emosi. Sementara yang kena damprat malah tersenyum pahit, lalu memandang Jaebum tanpa aura ingin membalas.

“Im Jaebum,” ujarnya. “Siapa menurutmu yang aku—atau kau—habisi nyawanya di ruang ganti pria waktu itu?” tanya Mark lembut namun lirih. Jaebum membuka mulut, tapi tak ada satu nama pun yang keluar. Lantas untuk yang kesejuta kalinya pada momen yang sama, Jaebum menerawang. Benar sekali, ia tidak pernah ingat siapa anggota tim inti basket yang bersimbah darah di ruang ganti. Padahal nama itu disebut tanpa henti di kantor polisi.

“Itu… uhm, aku… aku tidak ingat.” Jaebum mencengkeram rambutnya dengan kesal. “Aku tidak ingat!!!”

Mark menghela napas.

“Aku, Jaebum. Akulah yang tergeletak bersimbah darah dengan lima luka tusukan di ruang ganti tim basket putra waktu itu. Akulah yang tewas. Akulah yang dihabisi nyawanya.”

Mata nanar Jaebum menatap Mark lekat-lekat. Tu-tunggu dulu, Jaebum tidak mengerti satu kata pun dari ucapannya. Bagaimana mungkin bisa…?

Angin semilir menyentuh kulit Jaebum. Sementara wajah Mark masih memancarkan ekspresi tulus, penuh persahabatan, seperti yang selalu ia tampakkan pada Jaebum.

“Aku mati di tanganmu, Jaebum. Tapi sebelum penusukan pertama, aku cuma butuh waktu satu detik untuk mengetahui bahwa saat itu, kau bukanlah kau.”

“BERENGSEK, BICARA APA KAU, MARK?!” Jaebum melontarkan makian, lebih kepada dirinya sendiri.

Mark memasukkan tangannya ke saku blazer. “Sebelum pisau itu kauhujamkan ke jantungku, kau mengatakan sesuatu.”

“APA?!”

“Katamu, ‘inilah akibatnya kalau kau mematahkan hatiku, Mark.’”

Jaebum membeku. Seakan ia sedang menghadap ke suatu panggung pertunjukkan, dan menunggu terlalu lama untuk menontonnya, lalu tiba-tiba saja tirai terbuka, dan si pemain opera menjelaskan kenapa butuh waktu lama untuk membuka tirainya. Seperti itulah yang Jaebum rasakan ketika mendengar kalimat Mark barusan.

Lalu semua yang dirasanya hilang seakan berebut untuk masuk lebih dulu di kepalanya. Adalah Mark, yang tewas terbunuh di ruang ganti pria. Adalah nama Mark, yang diteriakkan seluruh penghuni sekolah, dan masih juga disebutkan di kantor polisi, di sekitarnya, bagaikan dengungan lebah. Dan jika saja Jaebum tidak selalu menggunakan earphone-nya, barangkali ia bisa selalu mengingat nama Mark lewat mulut orang-orang yang membicarakannya. Pantas saja orang-orang memandanginya tiap kali ia menyapa, mengobrol, atau melayangkan high five dengan pemuda itu.

Ia membunuh Mark. Bukan dirinya, tentu saja. Karena yang memahami semua soal menguasai pikiran orang lain hanya—

“Kalau Kak Jaebum membaca keseluruhan isi buku kemarin itu, Kak Jaebum akan tahu bagaimana caranya ‘menyobek salah satu halaman dari ingatan’.”

Tak jauh dari lapangan basket, Jaebum terperangah hingga nyaris muntah. Nayeon, adiknya, sudah berdiri di sana entah sejak kapan. Ia bersedekap, rambut lembutnya tertiup angin sepoi-sepoi, menambah efek kecantikannya, jika saja sorot matanya tidak terlalu dipenuhi hawa membunuh. Nayeon menyunggingkan senyuman asimetris, lantas menghampiri mereka berdua. Ia melirik Mark dengan malas.

“Hah, sudah mati pun kau masih menyusahkan. Akan kusingkirkan kau setelah ini, Mark Tuan.” Usai mengucapkan hal mengerikan itu, Nayeon beralih pandang ke arah kakaknya yang sangat berantakan.

“Kau juga!” Nayeon membentak Jaebum. “Seharusnya tidak kuhilangkan cipratan darah di seragammu waktu itu, biar kau masuk penjara dan tidak merepotkanku!” lantas Nayeon mengerang kesal. “Kenapa seakan aku tidak bisa bahagia? Si berengsek ini menolak pernyataan cintaku, lalu aku harus menyusun skenario baru! Kenapa kalian menyusahkanku? Kenapa?!”

Ketika Jaebum berpikir ia sudah mengenal adiknya, barangkali Jaebum salah. Selama ini ia hanya peduli pada teman-teman dan tim basketnya. Ia baru ingat bahwa sebelum kejadian itu, ia sudah mengabaikan Nayeon, tidak menjemputnya setiap pulang kursus dengan alasan latihan basket tambahan, sehingga lambat-laun adiknya yang lugu berubah menjadi monster tanpa ada pengawasan sedikit pun darinya.

“Selain itu, yah, aku berminat sekali dengan ilmu sihir. Dan ternyata berguna juga. Biar kuberitahu apa yang ada di halaman bonusnya,” Nayeon menyibakkan rambutnya dan mengikik seakan topik gila ini benar-benar membuatnya bersemangat. “Cara menghancurkan roh gentayangan.

Jaebum membelalak. Nayeon akan menghancurkan Mark. Tidak, tidak boleh! Mark memang sudah mati, tapi tidak ada yang boleh menyakiti sahabatnya dua kali.

Lantas Jaebum mendorong Nayeon, dan memasang badan di depan Mark untuk melindunginya entah dengan cara apa. Dilawan sedemikian rupa, Nayeon malah tertawa terbahak-bahak.

“Kak Jaebum, sabarlah sedikit. Setelah kuselesaikan roh sialan ini, aku bisa mengurusnya jika Kak Jaebum ingin melanggengkan persahabatan tolol kalian. JADI SEKARANG MINGGIRLAH!!!”

“Tidak! Kau penjahat! Pembunuh! Kau tak layak jadi adikku!”

Sebenarnya Jaebum hanya melontarkan kalimat acak di dalam kepanikannya. Tapi serta-merta raut wajah Nayeon berubah murung. Ia menggigit bibir dan menangis sesenggukan. Mulutnya meracau, mengulang-ulangi apa yang baru saja Jaebum katakan.

Namun tak lama. Sejurus kemudian ia kembali mengangkat dagunya. Disodorkannya telapak tangannya ke depan seakan mau mencengekeram mereka berdua. Desiran angin janggal berputar di sekeliling mereka, menerbangkan dedaunan dalam lingkup lokal. Barangkali inilah sihir yang dipelajari Nayeon. Inilah akhir dari Jaebum dan Mark.

“Kuhabisi kalian! Kuhabisi kalian, Mark Tuan, dan… dan…,” ucapan Nayeon terhenti di udara. Dahinya berkerut, makin lama makin dalam. “Tunggu, siapa tadi namamu?” ia bertanya pada Jaebum yang tercengang. Angin yang sangat ganjil itu masih berputar di telapak tangannya, dan di sekeliling mereka, tapi Nayeon belum melakukan gerakan lainnya. Air mukanya tampak menyiratkan bahwa ia masih mengingat-ingat.

Nayeon lupa nama Jaebum, kakaknya sendiri. Entah apakah itu pengaruh sihirnya atau bukan. Namun tiba-tiba saja tangan Nayeon terpelintir ke atas, disusul dengan jeritan dari gadis itu, sebelum akhirnya ia benar-benar terkapar di lantai beton. Terbatuk sebentar, dan aliran liur keluar dari dalam mulutnya. Matanya membelalak ke atas.

Cara mati yang mengerikan.

:::::

 

Hantu Mark tak pernah muncul lagi sejak kematian Nayeon yang disimpulkan sebagai serangan jantung, karena sihir hitam itu membuat beberapa bagian badannya membiru. Tidak ada bukti yang bisa menguatkan bahwa Jaebum adalah pembunuh Mark, dan atas permintaan khusus dari kedua orang tua Mark, kasus ditutup.

Enam bulan sejak kejadian itu, Jaebum untuk pertama kalinya membuka kembali kamar Nayeon, yang bagaimanapun menyimpan kenangan terakhir bersama adiknya. Buku mengenai sihir itu tergeletak di meja belajarnya. Jaebum duduk di tempat tidur Nayeon, membuka buku itu di pangkuannya, dan menelaah halaman per halaman, hingga ke halaman bonus—Cara Menghancurkan Roh Gentayangan. Bagaimana mungkin adiknya bisa terperangkap dalam kejahatan yang dibuatnya sendiri hanya berbekal uji coba?

Mata Jaebum terpaku pada sebaris catatan di bagian bawah halaman bonus. Terlalu banyak mempraktikkan hal ini dapat menghilangkan sedikit ingatanmu. Barangkali inilah yang dilupakan oleh Nayeon.

Tak puas dengan halaman bonus, Jaebum membuka halaman terakhir. Napasnya tercekat begitu membaca tulisan Nayeon yang kecil dan rapi.

Lenyapkan buku ini jika aku mati konyol. Aku tetap menyayangi Kak Jaebum.

Jaebum menitikkan air mata. Jika Nayeon tidak menyayanginya, ia tidak akan melenyapkan baju seragam Jaebum yang terkena cipratan darah waktu itu demi melindunginya.

Menarik senyum pahit, Jaebum membawa buku itu ke halaman belakang, beserta pemantik.

FIN.

namtaenote:

Percakapan namtaegenic dan Joonisa di chatroom LINE:

N: eh aku suka loh rikuesnya si Neng yang NFF itu, dark-school life, Jepang banget kan.

J: Wah iya ya, dark-school. Jepang banget. Yang bunuh temen-temen di sekolahan. Trus ternyata gurunya dibunuh juga.

N: Kriminal amat sih, Nis. Sabi-sabi.

J: Ya, Jejepangan kan biasanya gitu. Temennya di-bully trus akhirnya balas dendam trus jadinya sekolah berdarah.

 

34 thoughts on “[IFK Movie Request] Blackbird”

  1. Kyaaa, Kak Eciiii….
    Ini keren bgt Kak, asli kereeen..!
    Awalnya aku udah ngeh kalau yang dibunuh itu Mark, trus pelakunya Jaebum. Eh, pas baca terus plot twist-nya dpt bgt Kak.
    Nayeon yang lucu, lugu plus imut kyk gitu tiba-tiba jadi dingin sm jahat, gara2 ditolak Mark.
    Dark-nya dpt bgt.
    School life-nya apalagi, berasa bener2 nonton film aku, Kak.
    Trus, family-nya jg.
    Walaupun Nayeon berubah, tapi … kalimat terakhir dia di buku itu, menyentuh bgt. Dia tetep sayang sama kakaknya, aku terharu baca endingnya Kak.

    Trus waktu Jaebum sadar kalau selama ini dia udah abai sama adiknya, aku terharu lagii. Sebagai kakak aku jg sering sih ngelakuin ini sama adik aku, kadang suka cuek kalau lg asik sm dunia sendiri (ngerasa bersalah jadinya T.T).

    Trus karena aku anak tengah, jadi aku jg bisa ngebayangin gimana sedihnya Nayeon waktu kakaknya asik sendiri ((curhat lagi)).

    Persahabatan Mark-Jaebum nya jg aku suka. Apalagi pas Mark tetep senyum tulus gitu sama dia, nemenin Jaebum meskipun udah beda alam, agak horor sih sebenernya, hehe.
    Tpi, sahabat kyk gitu langka bgt kaan. Tetep peduli sama Sahabatnya yang udah bikin nyawa dia melayang, ganteng lagi /Neng salah fokus/

    terakhir, aku nggak nyadar kalau ini oneshoot. Soalnya aku bacanya nggak kerasa Kak, tau2 udah ‘Fin’ aja. Berasa nggak percaya, hah udah selesai nih? Udah?
    Dan ternyata emang udah selesai -_-

    dan untuk note-nya, makasih kalau Kak Eci udah suka sama rikuesan akuu. Aku suka bgt genre dark-school life sih Kaak. Cuman susah nemuinnya, jarang gitu.
    Pokoknya aku suka bgt Kaaak, makasih udah bikin cerita super keren kyk gini😀
    (semoga ga gumoh baca komenan aku yg panjang ini)
    lopelope buat Kak Eciii ^^❤❤❤

    Suka

    1. Halo, Neng! Jadi di sini aku bikin si Jaebum dihilangin ingatannya setelah kejadian, makanya kutulis bahwa dia suka menerawang, kenapa dia menerawang tiap kali ngomongin korban pembunuhan? karena dia nggak inget sama siapa yang terbunuh. karena itu pula di sini nggak aku tulis nama Mark dari awal, biar twistednya dapet hehehe.
      Makasih Neng sudah rikues. terus dukung IFK ya ^^

      Disukai oleh 1 orang

  2. INI DIA.

    Yeokshi kakeci, yeokshi mamaknya dokyom! Berapa lama aku udah gak baca supranatural dan dark gini :””’) Tengs kak udah buat ini! Dan thanks jugaaa untuk yang udah rikues inii! Sekarang manfaat dari page rikues jadi lebih keliatan ya hamdalah :))))

    Eterus ceritanya aku menbung nih kak gmn melanjutkan komenku huhu. Btw aku suka sama castnya!!!!!!!!!!! Suka sama karakterisasinya juga. Yeokshi khas anime biasanya yg diem-diem manis tautaunya jejejejejeng pembunuh level akut. Tadinya aku gak curiga sama Nayeon sih, abis di awal dia ade yang manis bangeet. Tapi pas dia memperingatkan jaebum buat gak main sama Mark, baru tuh aku curigaaaa. Apalagi pake ada buku kuno itu di kamarnya, makin-makiiiin. Terus aku mau bilang X) scene favoritku di sini pas Nayeon meninggal, kak. Huhuhu apasih aku. Tapi serius sih aku suka banget scene itu. Apa ya, di satu scene itu tuh udah kegambar genre dark, family, sekaligus school-lifenya. Terus kayak yang tegang sekaligus nyayat hati dan keliatan psiko gituuuu. I REALLY LOVE THAT ONE!

    Hehehehe, good job kakeci yeokshi namtaegenic😉 Seeu, kak!❤

    Suka

    1. Halo, Dhila! Aku emang sengaja menghilangkan informasi mengenai siapa korban itu, makanya sejak awal kutulis ‘anggota tim basket’ tanpa nyebutin nama, biar pas mark ngaku (karena jaebum bahkan nggak tahu kalo mark sudah mati) jadinya twisted. hehehe, makasih dhila ^^

      Disukai oleh 1 orang

  3. Suka suka! Ditambah pemainnya nayong dan jaebum. Pas banget buat jadi adik-kakak. Awalnya aku nyangka mark yang bunuh eh gak taunya nayeon huh. Suka!^^

    Suka

  4. kak eciiiiii ini bagus banget yampon. suasana family antara jaebum sama nayeon kerasa banget, apalagi sama dark school-lifenya. nggak nyangka kalo mark itu siswa yang terbunuh sama jaebum- oke, bukan jaebum, maaf. nggak nyangka kalo ternyata biang kerok (?) dari ini semua tuh si nayeon, apalagi dia juga sayang banget gitu ya sama kakak tampannya😦 ((nahloh)).
    baca ceritanya kak eci yang ini tuh kayak nggak kerasa aja udah sampe ending. aku kayak: “lah? udah ending?”😄
    pokoknya ini keren. pake banget. udah, gini aja.
    keep writing ya kak eci ♡

    Suka

    1. halo katee! iya, makanya sejak awal aku nggak sebutin nama siswa yang jadi korban itu, soalnya aku juga bikin si jaebum lupa ingatan kan, dan biar menimbulkan efek twisted di akhir hehehe. iyanih oneshot huhuhu semoga suka ya, makasih sudah mampir ^^

      Suka

  5. kereeenn…kereeeeennn…kereeeennn !!!!!!!
    ehmmm…bingung mo bahas yang mana soalnya dari awal..tengah..ampe akhir…menurut aku gak ada yang cacat thor !!!

    dan yeoksi tegang nya dapet…trus aku juga jadi ikutan menelusuri pembunuhan di lapangan basket itu…aku juga jadi nge-bayangin gimana kacau nya jaebum pas ngobrol ama mark…saat dia tau kalo yang dia bunuh itu mark…

    dan gak nyangka kalo ternyata nayeon yang ngelakuin ini semua…awalnya aku kira mark masih hidup dan yang ngebunuh anggota tim inti itu mark karena nayeon bilang kalo mark itu jahat dan bla bla…tapi asli gak nyangka banget sama apa yang mark bilang…(aku aja ampe balik lagi baca ke atas buat tambah paham maksud mark ngomong).

    dan dari semua itu yang bikin aku terharuuuu bangeeet pas tulisan nayeon terakhir….emang yaaa inti nya gak bakal ada yang bisa ngelebihin rasa sayang antar keluarga….

    thor…pokoknya aku cuma bisa bilang….INI FF DAEBAK !!!! NYESEL KALO GAK BACA !!!

    Suka

  6. Aku ketipu plot twist >< tapi sekejam-kejamnya nayeon dia sayang ya sama jaebum, tapi kalo sayang kenapa harus pake badan jaebum kenapa nayeon hhhuhuhu ah jadi sedih😦😦
    Ini enak deh bacanya, gak bikin pusing tp tetep bikin kaget (?) hehe fighting namtaegenic, ditunggu fic yang lainnya😀

    Suka

  7. kak eciiiiiiiii kok aku nangis ya waktu nayeon nya mati, ih ini apa deh,

    BAGUS BANGET KAKKKKKKKKK YAAMPUNNNNNNNNN KERENNNNNNN

    Kak eciii ihh gemeshhh ihhhhh bisa gitu ya bikin cerita sewow ini,

    Suka

  8. oh.. pantesan dari awal ngeliat poster nya ada mark tapi kok gak disebut di castnya. jadi begitu toh ternyata mark itu si korban..
    aku pikir mark itu pembunuhnya eh malah yg bunuh. ternyata gak nyangka banget nayeon yg, ya begitulah

    pokoknya keren banget. apalagi. endingnya tuh terharu. keinget kakak yg jauh deh. jadi kangen kakak😦

    Suka

  9. Hi ka,aku aii 95line,salam kenal ^^Euwhh family,friendnya kenteelll bngt ka!! Pengen ada yg temenan ampe gitu,,
    tapi pas awal ga nyangka Mark meninggal,cuma aneh aja kaya anak skolah liatin Jb sma Mark ko kya apa gitu,twistnya pkoknya dapet dh ka!!
    Di akhir jga terharuuu! Nayeon sayang Jaebum meskpun dia udah bikin salah sma kedua orang ituu!!

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s