The Story Only I Didn’t Know [1/9]

The Story Only I Didn't Know

Title: The Story Only I Didn’t Know [1/9]

Scriptwriter: Ririn_Setyo

Main Cast: Park Chanyeol, Song Jiyeon, Park Minjung

Support Cast: Lee Sungmin, Kim Sangwon, Park Jungso, Choi Siwon, Other cast

Genre: Romance, Family

Duration: Chaptered 1-9

Rating: Adult

-“Ah! Apa mencintai harus sesakit itu?”-

YeomKwang High School

In The Park – 01.00 pm

Song Jiyeon gadis cantik berambut panjang yang tergerai indah itu, tampak menutup buku bacaannya dan memutar posisi tubuhnya yang kini tengah duduk di salah satu bangku taman yang ada di sekolahnya ini, saat mata bening crystalnya terlihat mulai jengah pada objek yang ada di hadapannya.

Dari arah pandangnya kini gadis itu dapat melihat dengan jelas, seorang laki-laki bertinggi badan 185 cm, bermata bulat dengan hidung yang terlihat sedikit besar, dari kebanyakan orang Korea lainnya, dengan senyum meremehkan yang terlihat tiap kali laki-laki itu melihat lawan bicaranya, tengah asik mengobrol dengan 2 orang temannya yang sama menyebalkannya dengan laki-laki itu.

Laki-laki itu bernama Park Chanyeol, laki-laki playboy temperamental yang punya hobi membullisiapapun yang di anggap menganggu kenyamanan dari laki-laki jangkung itu, tanpa ada seorang pun yang berani untuk menghentikannya. Bukan tanpa alasan semua murid di YeomKwang High School tidak berani melawan perbuatan Chanyeol, ya semua terjadi karna status yang di sandang laki-laki itu, status yang akan berakibat fatal untuk diri mereka bahkan untuk keluarga mereka, jika sampai berurusan dengan seorang Park Chanyeol.

Park Chanyeol adalah putra ke dua dari seorang konglomerat pemilik Heaven Corporation, sebuah perusahaan besar dan sangat berpenggaruh di Korea Selatan bahkan dunia, perusahaan yang bergerak di bidang pembangkit tenaga listrik dan juga merupakan pemilik merek dagang ponsel terbesar di dunia, yang tahun ini kekayaannya mencapai hingga US$ 43 Miliar.

Heaven Corp juga menduduki peringkat kedua terbesar di dunia dalam penjualan semi konduktor, membuat keluarganya berada dalam daftar orang terkaya nomor satu di Korea Selatan dan masuk dalam daftar 15 orang terkaya di dunia, dan sialnya lagi ayah laki-laki itu juga menjabat sebagai pemilik sekolah Jiyeon saat ini.

Park Chanyeol juga suka sekali membanggakan harta keluarganya, hingga membuat siapapun merasa terintimidasi dan Jiyeon benar-benar tidak suka dengan semua itu.

“Apa yang kau lihat, Jiyeon-aa?” Jiyeon terlihat sedikit terkejut, saat mendapati sahabatnya Lee Jihyun yang sudah duduk di sampingnya.

Gadis cantik bermata sipit yang sudah menjadi sahabat Jiyeon, sejak usia mereka masih 7 tahun, dan Jihyun terlihat tersenyum saat mengikuti arah pandang Jiyeon saat ini. “Eoh! Sejak kapan kau tertarik dengan tuan muda Chanyeol yang tampan itu, Jiyeon?” tanya Jihyun dengan kekehan kecilnya.

“Yak! Siapa yang tertarik dengannya Jihyun? aku hanya tidak sengaja melihatnya.” Jawab Jiyeon sambil mengalihkan pandangannya, membuka kembali buku bacaannya dan mengabaikan Jihyun yang terlihat sudah tertawa senang di sampingnya.

“Berhenti tertawa Jihyun! Ini benar-benar tidak lucu,” ucap Jiyeon dengan wajah sewotnya saat melihat Jihyun yang masih tertawa.

“Ya ampun kenapa sekesal itu Jiyeon, aku tahu jika kau tidak begitu menyukai kelakuan Chanyeol yang menyebalkan itu, dan kau pasti juga tahu jika aku juga tidak tertarik dengan laki-laki temperamental itu.” Jihyun menyandarkan tubuh langsingnya di sandaran bangku, jemari indah gadis itu terlihat membenarkan tatanan rambut panjangnya dengan lembut, dengan mata yang masih mencuri pandang ke arah Chanyeol dan 2 orang temannya di depan sana.

“Kau memang tidak boleh menyukainya Jihyun sayang, karna kau sudah punya Siwon oppa.” ucap Jiyeon dengan mendaratkan jari telunjuknya di kening sahabatnya itu membuat Jihyun, gadis yang sedikit membenci Chanyeol sekaligus mengagumi laki-laki itu menjerit tak terima.

“Aish!” ucap Jihyun dengan mengusap keningnya. “Kau tahu Jiyeon? Siwon oppa akhir-akhir ini sangat membosankan,” Jihyun menghembuskan nafasnya pelan. “Sejak dia lulus kuliah dan mulai bekerja di perusahaan ayahnya itu, dia jadi sangat sibuk.” Jihyun memajukan bibirnya kesal, saat mengingat betapa sibuknya Choi Siwon, laki-laki penerus perusahaan Hyundai Departement Store, yang sudah menjadi kekasih pujaan hatinya itu sejak 1  tahun yang lalu.

“Itu salah mu sendiri, kenapa kau mau berpacaran dengan pria tua seperti Siwon oppa,” ucap Jiyeon dengan tertawa puas saat melihat wajah kesal Jihyun.

Namun tawa Jiyeon terhenti saat Jihyun tiba-tiba tersenyum, gadis itu kini terlihat kembali menatap objek yang menjadi topic pembicaraan mereka sebelumnya, Park Chanyeol.

“Tapi— tidak ada yang bisa menyangkal jika Chanyeol sangat tampan, dia juga sangat tinggi Jiyeon-aa,” sekarang Jihyun tampak menopang dagunya dengan kedua tangannya, mata gadis itu tampak berbinar dengan senyum yang di buat seimut mungkin, membuat Jiyeon memutar bolamatanya tanpa minat.

“Yak! Lee Jihyun,”

“Wae?” tanya Jihyun dengan tatapan tidak pedulinya, gadis itu kembali tersenyum dengan manis. “Apa kau tidak lihat bahu bidangnya? Perut sixpacknya? Lengan berototnya? Dan suara bass nya yang terdengar sexy,— Ah! dia benar-benar laki-laki sejati. Aku benar-benar menyesal karna sudah jatuh cinta dengan Siwon oppa, hingga membuat ku tidak bisa lagi mengapai Park Chanyeol yang tampan itu,” kali ini Jihyun memukul pelan pundak Jiyeon dengan masih tersenyum aneh, membuat Jiyeon menghela nafasnya lalu ikut memandang ke arah Chanyeol yang masih terlihat asik mengobrol dengan teman-temannya itu.

“Bukankah Siwon oppa juga memiliki semua itu?” tanya Jiyeon dengan memiringkan kepalanya.

“Tapi Chanyeol lebih tinggi,” ucap Jihyun dengan wajah sedihnya. “Ayolah Jihyun mereka hanya beda 2 cm.” jawab Jiyeon dengan menatap malas Jihyun yang kini sudah menyandarkan kepalanya di bahu Jiyeon.

“Tapi tetap saja, Chanyeol lebih muda dan lebih menarik dari Siwon oppa yang mulai menua itu.”

“Ah!” desah Jiyeon dan juga Jihyun bersamaan. “Ne kau benar dia tampan dan sempurna, lalu kau mau aku bagaimana Jihyun? Mengejarnya lalu memintanya untuk menjadi pacar ku?” Jihyun tampak mengangguk pelan. “Sepertinya begitu.” Jawab Jihyun asal, membuat Jiyeon kembali mendaratkan telunjuknya di kening gadis itu.

“Ya dan setelah itu aku pasti akan mendapat cacian dan makian dari laki-laki tak tahu diri itu, karna aku jauh dari kata sexy, benar begitu?” tanya Jiyeon sambil memandang muak ke arah Jihyun yang masih bersandar di bahunya, dengan tidak mengubah expresi menjijikkan di wajah cantik gadis itu.

Sesaat kemudian Jihyun mengangkat kepalanya dari bahu Jiyeon dan menatap sahabatnya itu dengan tatapan sedihnya. “Eoh! Kita berdua hanya termasuk dalam kategori gadis cantik yang jauh dari kata sexy.” Jihyun memandang miris ke dada datarnya, lalu menunduk dengan lesu. “Menyedihkan,—-” Ucap Jihyun saat mengingat jika Chanyeol hanya suka dengan gadis-gadis yang terlihat sexy di segala bagian.

Jiyeon mengacak rambutnya pelan, menutup kembali buku bacaannya lalu menarik paksa Jihyun dari tempat mereka kini, karna jika di lanjutkan gadis itu akan benar-benar gila saat harus meladeni pembicaraan yang tidak penting ini, pembicaraan konyol tiap kali Jihyun dan Jiyeon tidak sengaja membahas sosok dari seorang, Park Chanyeol.

***

Chanyeol terlihat tertawa dengan keras, saat Kai sahabatnya kembali menanyakan alasannya putus dari Moon Jisun, gadis cantik yang baru 2 minggu menjadi kekasihnya, gadis yang sempat membuat Chanyeol terpesona karna wajah cantik dan otak cerdas yang di miliki gadis itu.

“Ya! aku harus bilang berapa kali lagi kalau aku bosan dengan gadis kaku itu, Kai.” jawab Chanyeol di sela-sela tawanya. “Dia bahkan melarang ku untuk menciumnya, benar-benar membosankan.” Ucap Chanyeol lagi sesaat sebelum duduk di sebelah Yixing, sahabatnya sejak 10 tahun lalu, sahabat yang di kenalnya melalui jejaring social Twitter, berkewarganegaraanChina dan merupakan anak pemilik Hotel mewah di China sana, yang memutuskan untuk bersekolah di Korea setelah menjalin pertemanan dengan Chanyeol.

“Aku rasa kau akan melakukan hal yang sama dengan ku kan Kai,? dan seharusnya aku memilih Hyunna yang sexy itu, benar begitu kan Yixing?” tanya Chanyeol seraya merangkul sahabatnya itu, yang terlihat tidak peduli dengan pembicaraan Chanyeol dan Jongin yang tidak penting itu dan memilih asik dengan novel bacaannya.

“Eoh!” jawab Yixing singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari novel tebal, karya JK Rowlingyang sangat terkenal di seantero dunia.

Yak! Jangan menagacuhkan ku!” ucap Chanyeol dengan nada dinginnya, membuat Yixing menutup buku bacaannya dan menatap sabahatnya itu dengan tersenyum, dia hafal betul jika Chanyeol sangat tidak suka di acuhkan olehnya sedari dulu.

“Ne aku setuju dengan mu, karna sejak dulu aku tahu kau hanya akan bertahan dengan gadis yang mau menyerahkan apapun untuk mu tanpa menolak, kecuali— untuk tidur dengan mu karna jika itu terjadi maka kau akan mendapat masalah dari ayah mu, dan mungkin nama mu akan di coret dari daftar pewaris Heaven Corporation, benar begitu?” tanya Yixing dengan senyum nakalnya.

Sedang kan Kai laki-laki jangkung, anak tunggal dari pemilik perusahaan kosmetik dan parfum terbesar di Korea Selatan, yang bahkan sudah menguasai pasar di daratan Eropa dan Asia, laki-laki yang juga memiliki kadar ketampanan jauh di atas rata-rata itu terlihat sudah tertawa dengan keras.

“Aigoo kau benar-benar sahabat ku, tuan muda Zhang Yixing.“ ucap Chanyeol dan ikut tertawa senang bersama Kai.

***

Jiyeon yang baru saja akan masuk ke dalam kelasnya, terlihat terkejut saat mendengar suara gaduh dari ujung kelasnya, membuat gadis itu berlari mendekat ke asal suara. Beberapa siswa sudah terlihat berkumpul, melihat kejadian di depan meraka tanpa ada satu pun yang merasa peduli, dengan seorang siswa laki-laki yang tersungkur di lantai tepat di hadapan Chanyeol dan 2 teman tampannya.

Jiyeon memutar bolamata beningnya dengan malas, gadis itu sudah sangat hafal dengan apa yang akan terjadi setelahnya dan benar saja siswa malang itu kini sudah basah kuyub, karna Chanyeol baru saja memberi perintah kepada Jongin untuk menyiram siswa itu, dengan seember air dingin yang di bawa oleh Baekhyun, salah satu pesuruh setia yang mengabdikan dirinya pada Chanyeol.

Jiyeon membalikkan tubuhnya, menahan marahnya saat tawa sumbang Chanyeol dan teman-temannya mulai membahana, gadis itu sama dengan siswa lainnya tidak berani jika harus melawan seorang Park Chanyeol.

“Ah! Kenapa aku harus selalu melihat kelakuan menyebalkan laki-laki itu,” gumam Jiyeon di sepanjang langkahnya kembali menuju kelasnya.

Gadis itu masih sedikit kesal dengan ulah brengsek dari Chanyeol, membuat Jiyeon kembali berfikir, kenapa Tuhan menciptakan manusia seperti Chanyeol, manusia tak tahu diri dengan semua kesempurnaan yang di milikinya

***

Chanyeol’s House – 05.00 pm

Chanyeol berjalan pelan memasuki rumah mewahnya, beberapa pelayan tampak membungkuk hormat dan mengambil tas yang di sodorkan laki-laki itu dengan tetap menunduk. Seorang lelaki paruh baya dengan senyum wibawanya tampak menyambut kepulangan Chanyeol, dengan segelas air putih yang ada di atas nampan yang di bawa oleh seorang pelayan wanita yang berdiri di samping laki-laki bertubuh tambun itu.

“Tuan muda sudah pulang rupanya.” Ucap laki-laki paruh baya itu dengan tersenyum, tangannya mengulurkan segelas air putih yang di bawanya kepada Chanyeol yang sudah tersenyum ke arahnya.

“Terima kasih paman Kim,” jawab Chanyeol dengan senyum ramahnya, lalu meminum air yang di sodorkan padanya, membuat Kim Sangwon kembali tersenyum. “Apa Jungsoo hyung dan appabelum pulang?” tanya Chanyeol seraya melangkah menaiki anak tangga, menuju kamar tidurnya dengan di ikuti Sangwon yang berjalan di sampingnya.

“Tuan muda Jungsoo hari ini terbang ke Milan dan baru akan kembali dalam 3 hari kedepan, sedangkan Direktur sedang ada di Jepang dan baru akan kembali besok pagi, hanya tinggal nyonya Park,—-“

“Arraseo,” jawab Chanyeol cepat yang membuat perkataan Sangwon terhenti seketika. “Tuan muda tenang saja, karna Direktur memastikan akan kembali besok untuk merayakan ulang tahun tuan muda.” Ucap Sangwon dengan tersenyum.

“Tidak terasa tuan muda besok akan berumur 17 tahun.“ Chanyeol tersenyum, menatap paman yang selalu berada di sampingnya sejak dulu, paman yang selalu menjadi temannya di dalam rumah mewahnya yang selalu sepi itu. “Apa tuan muda masih membutuhkan sesuatu?” tanya Sangwon masih dengan tersenyum.

“Heem tidak ada, aku hanya ingin istirahat sekarang.” Jawab Chanyeol dengan nada pelannya, membuat Sangwon mengangguk mengerti lalu berlalu dari hadapan Chanyeol.

Chanyeol kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar tidurnya, sesekali terdengar laki-laki itu bersenandung dengan riang, namun langkah laki-laki tinggi itu terhenti seketika saat seorang wanita paruh baya, yang terlihat jauh lebih muda dari usianya itu sudah berdiri beberapa langkah di depannya.

Wanita yang mempunyai garis kecantikan yang tak terbantahkan, yang tersembunyi di balik wajah angkuhnya yang terlihat kaku dan tak bersahabat, tersenyum dingin ke arah Chanyeol yang terlihat membungkuk dengan senyuman lebar yang selalu mampu membuat seorang Park Minjung merasa sangat muak.

“Eomma,—“ panggil Chanyeol dengan ragu.

“Mwo? YAK!!” teriak wanita itu seketika, membuat Chanyeol memejamkan matanya dan menarik nafasnya yang mulai sesak tiap kali dia berhadapan dengan wanita itu.

Sudah berapa kali aku bilang pada mu, kalau aku bukan ibu mu Park Chanyeol.” Ucap Minjung dengan emosi tertahan, membuat Chanyeol terdiam dengan menundukkan kepalanya, meremas tangannya yang mulai bergetar menahan semua rasa yang sudah di tahannya selama bertahun-tahun.

“Kenapa kau hanya diam? Aku benar kan?” ucap Minjung dengan dingin, saat di lihatnya Chanyeol yang masih menunduk.

Perlahan Chanyeol menegakkan kepalanya, mata bulat Chanyeol menatap Park Minjung yang kini mulai melangkahkan kakinya, berjalan mendekat dan berhenti tepat di hadapannya. “Panggil aku Nyonya Park! Karna sampai kapan pun aku tidak sudi untuk menjadi ibu mu!” suara itu begitu dingin hingga mampu membekukan hati Chanyeol, tiap kali wanita itu mengatakan hal ini dan hanya anggukan kecil yang akan Chanyeol berikan sebagai jawabannya sejak dulu.

“Kau tahu betapa muaknya aku saat harus berbagi nama Park dengan mu? Mengakui kau sebagai anak ke dua ku di depan orang-orang di luar sana, hah! Apa kau itu?”  ucap Minjung dengan emosi yang semakin meninggi yang terlihat jelas dari balik mata dinginnya. “Aku sudah lama sekali menahan ini semua, jika bukan karna sebuah janji aku pasti akan mengatakan semuanya, mengatakan jika kau bukan sekedar anak angkat suami ku, mengatakan hal yang aku yakini akan membuat mu menyesal telah di lahirkan ke muka bumi ini.”

Minjung menghembuskan nafasnya, menahan semua amarah yang sudah di tahannya selama bertahun-tahun, menahan sakit hati yang selalu membuatnya mengkonsumsi Lexotan di malam-malam kelamnya. Wanita itu mulai melangkah menjauh dari Chanyeol yang masih membisu di tempatnya berdiri, dengan genggaman tangan yang mengeras menahan rasa sesak yang melanda dadanya, tiap kali dia meluapkan rasa marah nya terhadap Chanyeol.

Chanyeol menahan emosi di dadanya yang siap meledak kapan saja yang tertahan sejak dulu, sejak wanita yang selalu Chanyeol anggap sebagai ibunya itu membahas masalah ini, masalah yang hingga kini menjadi teka-teka tanpa jawaban untuk Chanyeol.

“Katakan pada ku, Nyonya Park!” ucap Chanyeol tiba-tiba, laki-laki itu memutar tubuhnya menatap Minjung yang sudah menghentikan langkahnya menuruni anak tangga. “Aku ingin mengetahuinya, mengetahui rahasia besar yang selalu kau ucapkan pada ku sejak dulu.” Lanjut Chanyeol dengan suara yang terdengar mulai serak.

Ya sejak dulu Minjung selalu membahas masalah ini, selalu memaki Chanyeol dan melarang laki-laki itu untuk memanggilnya Ibu, jika mereka hanya berdua di rumah. Sebuah masalah yang tak pernah berani Chanyeol tanyakan kepada ayah dan kakak laki-lakinya, karna rasa takut yang selalu hinggap di hatinya, ya Chanyeol benar-benar takut dengan sebuah kenyataan yang di yakininya akan membuatnya sangat terluka, jika dia mengetahui rahasia ini. Tapi kini Chanyeol sudah tidak tahan lagi, dia ingin mengetahuinya, mengetahui semua cerita di masa lalu yang tidak di ketahuinya, hingga membuat wanita yang dulu sangat menyayanginya itu berubah.

Minjung tersenyum samar, wanita itu menatap Chanyeol dengan senyum meremehkan hingga mampu menyembunyikan tatapan terlukanya saat ini. “Belum saatnya, tapi bisa ku pastikan kau akan tahu sebentar lagi, Park Chanyeol.” Ucap Minjung sesaat sebelum melanjutkan langkahnya, meninggalkan Chanyeol dengan segudang pertanyaan tanpa jawaban di belakang sana.

***

Chanyeol’s Room

Chanyeol membanting pintu kamarnya dengan keras, nafas laki-laki itu terdengar memburu dan melangkah kasar memasuki kamar tidurnya yang super besar dengan semua property mahal yang terdapat di dalamnya. Mata bulat laki-laki itu mulai di penuhi butiran bening yang semakin mendesak untuk keluar dari dua soket matanya, membuat laki-laki itu menarik nafasnya dengan kasar. Chanyeol menatap marah ke arah sebuah bingkai foto berukuran besar yang terpajang di dinding kamarnya, foto yang menampakkan senyum bahagianya bersama ayah, ibu dan kakak laki-lakinya.

Sebulir airmata akhirnya jatuh juga di pipi Chanyeol yang terlihat pucat, perlahan laki-laki itu berjalan mendekati bingkai foto, tangannya terulur menyentuh wajah orang tuanya dengan airmata yang sudah tidak bisa lagi di tahannya, meluncur deras membahasi kedua pipinya.

“Eomma—- “ ucap Chanyeol dengan suara lirihnya. “Cerita apa yang tidak aku ketahui di masa lalu mu, hingga membuat mu sangat membenci ku.” Ucap Chanyeol dengan suara gemetarnya saat tangannya menyentuh wajah Minjung di dalam bingkai foto. “Apa aku melakukan kesalahan besar, hingga kau tidak bisa memaafkan ku?” tanya Chanyeol lagi dengan suara yang mulai tertahan di tenggorokannya, yang mulai tersumbat seiring airmata yang semakin deras membahasi wajahnya.

Chanyeol meraba dadanya yang terasa sesak dengan isakan tertahan, matanya kembali menatap wanita dingin yang sangat di sayangi Chanyeol sejak dulu, wanita yang pernah memeluknya dengan hangat di saat pertama kali Chanyeol menjadi bagian dari keluarga Park. Wanita yang tersenyum senang saat Chanyeol memanggilnya Ibu di puluhan tahun yang lalu, wanita yang tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin saat Chanyeol menginjak umur 12 tahun, hingga mengubah Park Chanyeol dari anak periang yang baik hati menjadi anak laki-laki brengsek di luar sana.

Ya Chanyeol berubah dan melakukan semua hal-hal brengsek di luar sana untuk meluapkan semua kekesalannya, saat laki-laki itu tak mendapat penjelasan apapun tentang perubahan sikap dari sang ibu yang hingga kini masih sangat di sayangi Chanyeol.

Chanyeol menyeka airmatanya dengan kasar, meraih jaket dan kunci mobilnya lalu berjalan keluar dari kamarnya, masih dengan seragam sekolahnya dan bekas airmata yang terlihat jelas di wajah laki-laki itu, membuat beberapa pelayan menatap takut sekaligus khawatir saat Chanyeol berjalan melewati mereka.

“Tuan Muda! Tuan muda mau ke mana? Di luar sudah mulai mendung.” Teriak Sangwon saat melihat Chanyeol yang berjalan tergesa.

Chanyeol tidak peduli, laki-laki itu tetap melanjutkan langkahnya menuju pintu rumahnya, mengabaikan laki-laki paruh baya itu yang berusaha menghentikannya. Chanyeol mengangkat satu tanganya ke arah pelayan yang berdiri di dekat mobilnya, dan dengan cepat pelayan itu mengangguk lalu menghidupkan mesin mobil, memakirkan mobil sport berwarna merah tepat di hadapan Chanyeol.

“Tuan muda Chanyeol, sebenarnya ada apa?” tanya Sangwon saat berhasil menyusul Chanyeol dengan nafas yang sedikit tersenggal saat harus mengimbangi langkah besar Chanyeol, tangannya menyentuh lengan Chanyeol dengan lembut.

Chanyeol menghentikan gerakan tangannya di knop pintu, menatap datar paman yang sudah merawatnya sejak hari pertama laki-laki itu berada di rumah ini, seorang paman yang begitu menyayanginya dan juga di sayangi Chanyeol sejak dulu.

“Tidak ada apa-apa, aku hanya butuh udara segar,” ucap Chanyeol dengan suara pelannya, dia tahu betul jika pamannya itu saat ini sangat mengkhawatirkannya.

“Tapi,—“

“Kim Ahjussi tenanglah, aku baik-baik saja.” Ucap Chanyeol lalu masuk ke dalam mobilnya, dan melajukannya dengan kecepatan tinggi, membuat Sangwon menghela nafasnya pelan.

Dari balik dinding kaca di lantai dua tampak seorang wanita yang menatap kepergian Chanyeol dengan senyuman getirnya, wanita yang tampak menyesal karna sudah menyakiti hati seorang anak yang dulu sangat di sayanginya, hingga sebuah kenyataan pahit yang diterimanya di malam kelam beberapa tahun lalu, kenyataan pahit yang menghancurkan hati dan hidup bahagianya, hingga mengubah cara pandangnya terhadap Chanyeol dan membenci anak yang pada dasarnya tidak pernah tahu tentang semua kejadian pahit itu, kejadian pahit buah dari sebuah kesalahan fatal dari orang-orang yang di sayanginya di masa lalu.

***

YeomKwang High School – 06.00 pm

Jiyeon tampak kesal saat menatap langit yang mulai menghitam, gadis itu bergumam kesal saat mengingat dia yang menolak ajakan Jihyun untuk pulang bersama hari ini, karna ternyata ChaAhjussi sopir pribadi keluarganya hari ini mendadak sakit, dan Jiyeon kembali menyesal saat menolak di jemput oleh sopir pribadinya yang lain dan lebih memilih pulang dengan taxi hari ini.

Jiyeon membereskan semua buku-buku tebalnya, menjejalkanya ke dalam tas punggungnya yang berwarna biru muda, dengan kembali bergumam kesal karna hari ini gadis itu pulang terlambat lagi, karna tugas tambahan yang di berikan oleh guru matematikanya yang menyebalkan bernama Cho Kyuhyun. Jiyeon benar-benar kesal dengan guru nya itu, guru yang memiliki wajah tampan namun berhati bak seorang Evil, karna selalu memberinya tambahan pelajaran tiap kali gadis itu atau pun teman-temannya yang lain mendapat nilai 8 di ujian matematika, dan membuat dirinya dan beberapa temannnya yang lain harus pulang selarut ini.

Gadis itu mulai melangkah pelan menyusuri sekolahnya, hingga berada di trotoar jalan menuju sebuah halte yang ada di depannya, sesekali gadis itu menatap langit yang semakin menghitam dan siap menurunkan hujan kapan saja dengan kembali mengumpat kesal, karna sebuah alasan, hujan akan selalu membuatnya demam sejak dulu. Jiyeon merapatkan jaketnya yang berwarna biru saat dirinya sudah berdiri di depan halte, gadis itu memilih duduk di bangku sambil menunggu taxi yang melintas.

Tiba-tiba sebuah mobil sport mewah berwarna merah berhenti tepat di hadapannya, membuat gadis itu mengeryit takut karna tidak ada siapapun di halte ini. Jiyeon menatap pintu mobil yang mulai terbuka dengan tatapan gusarnya, sesaat kemudian mata bening gadis itu membulat saat menatap sosok yang keluar dari mobil mewah itu, seorang laki-laki tinggi yang di kenalnya.

“Park Chanyeol,—“ gumam Jiyeon dengan suara pelannya, menatap laki-laki yang bahkan masih menggunakan seragam sekolahnya itu dengan tatapan terkejutnya, berjalan menunduk hingga tidak menyadari keberadan gadis itu saat ini.

Laki-laki itu duduk tepat di sebelahnya dengan menghembuskan nafas beratnya, penampilan laki-laki itu jauh dari penampilan biasanya yang selalu mempesona, bahkan rambut laki-laki itu terlihat berantakan, membuat gadis itu menggeser posisinya sedikit menjauh dari laki-laki yang di bencinya itu.

Jiyeon mengalihkan pandangannya, meremas jemarinya yang mulai mendingin dengan gusar, gadis itu kini benar-benar mulai merasa takut dengan pikiran yang mulai terbentuk di benaknya, pikiran jika Chanyeol akan berulah kurang ajar pada dirinya. Gadis itu kembali mengumpat saat tak ada satu taxi pun yang melintas di hadapannya, dengan ragu gadis itu mengerakkan kepalanya menatap Chanyeol yang masih duduk di sebelahnya, saat gadis itu merasa semakin takut dengan keadaan hening yang tercipta di antara mereka selama beberapa menit sejak laki-laki itu duduk di sampingnya.

Jiyeon terdiam saat menatap wajah Chanyeol yang terlihat menyedihkan, dengan sisa airmata yang terlihat jelas di pipi pucat laki-laki itu, laki-laki tinggi yang selama ini terlihat menyebalkan saat ini terlihat berbeda. Laki-laki itu menyandarkan tubuhnya ke sandaran bangku tunggu di halte ini dengan memejamkan matanya, membuat Jiyeon bebas memandang wajah laki-laki itu, namun sesaat kemudian gadis itu terlihat terpaku saat melihat sebulir airmata mengalir dari sudut mata Chanyeol yang terpejam, gadis itu tercekak hingga hanya bisa membulatkan matanya, benar-benar tidak menyangka jika laki-laki menyebalkan itu bisa menangis.

Jiyeon kembali terpaku saat bahu Chanyeol mulai bergetar hebat, isakan pun mulai terdengar dari bibir laki-laki itu, Jiyeon mengerjabkan matanya saat laki-laki itu meneganggak tubuhnya, menutupi wajahnya dengan kedua tangannya lalu mulai menangis dengan isak yang tertahan,  membuat Jiyeon membeku dalam keterkejutannya.

Jiyeon ingin sekali menyentuh bahu laki-laki itu yang semakin bergetar, untuk sekedar memberi tahu jika saat ini laki-laki itu tidak sendirian, walau bagaimana pun bencinya Jiyeon terhadap laki-laki itu, tapi tetap saja dia tidak sampai hati jika melihat keadaan menyedihkan laki-laki itu saat ini.

Gadis itu mulai mengulurkan tangannya dengan ragu, menggigit bibirnya saat tangannya sudah berada di atas bahu laki-laki itu. Namun dengan cepat gadis itu menarik tangannya saat suara Chanyeol mulai terdengar dengan samar.

“Eomma,—-“ suara itu terdengar serak dan lirih, penuh luka yang menyayat hati, hingga tanpa sadar Jiyeon meneteskan airmatanya.

Gadis itu memutuskan hanya menatap laki-laki yang terus menangis itu dalam diam, membiarkan laki-laki itu meluapkan semua kesedihan yang tidak di ketahuinya untuk puluhan menit ke depannya.

Jiyeon mengalihkan pandangannya menatap hujan yang entah sejak kapan sudah membasahi bumi, menghapus sisa airmata di pipinya dan kembali menatap Chanyeol yang masih menunduk, dengan segudang pertanyaan yang mulai memenuhi pikirannya.

***

Hujan mulai berhenti meninggalkan tetesan-tetesan halus yang tertinggal di atap halte, Jiyeon masih berada di halte masih berada di samping laki-laki yang kini sudah berhenti menangis. Jiyeon menarik nafasnya saat laki-laki itu mulai menegakkan tubuhnya, menghapus sisa airmata di pipinya dan menghela nafas beratnya, pandangan laki-laki itu lurus ke depan dengan tatapan kosong yang terlihat jelas dari dua bolamata bulatnya, bolamata yang selama ini terlihat berbinar dengan semua kesombongan di baliknya, namun kini bolamata itu memerah dan tak bernyawa.

Jiyeon mengerjab dengan menahan nafasnya saat tiba-tiba laki-laki menolehkan wajahnya, menatap sekilas wajah gadis itu dengan tatapan yang tidak bisa di artikan oleh siapapun, sesaat sebelum kembali menatap ke depan, membuat Jiyeon merasa takut dengan degupan jantung yang memompa cepat.

Jiyeon mengalihkan pandangannya saat 2 mobil berwarna hitam sudah berhenti di depan halte, beberapa laki-laki yang terlihat rapi dengan jas hitam yang membalut tubuh mereka, turun dari mobil dengan tergesa lalu berdiri berbaris di depan mobil, satu orang laki-laki membuka pintu mobil yang terdapat seorang laki-laki paruh baya di dalamnya. Laki-laki paruh baya itu menatap ke arah gadis itu dan Chanyeol dengan senyum kekhawatiran yang terlihat jelas di wajah wibawanya, berjalan hingga berada di hadapan Chanyeol yang masih tak bergeming.

“Saya sangat yakin, jika tuan muda ada di halte ini.” Ucap laki-laki itu seraya menyentuh bahu Chanyeol dan menepuknya pelan. “Percayalah jika semuanya— semuanya akan kembali baik-baik saja, tuan muda Park Chanyeol.” Chanyeol menegakkan tubuhnya, lalu tiba-tiba memeluk laki-laki paruh baya itu dengan erat.

“Gomawo Kim Ahjussi, gomawo.” Ucap Chanyeol dengan suara lirihnya, membuat Sangwon tersenyum sambil mengusap pelan bahu bocah laki-laki yang sangat di sayanginya itu.

“Sekarang kita pulang, tuan muda.” Chanyeol mengangguk lalu mulai berjalan dan masuk ke dalam mobilnya.

Sangwon menatap Jiyeon dengan tersenyum, membuat gadis itu tergagap dan membungkukkan tubuhnya dengan ragu. Sangwon menutup pintu mobil yang terdapat Chanyeol di dalamnya lalu memerintahkan orang-orang yang berdiri untuk menghampiri Jiyeon, membuat gadis itu terkejut dengan ketakutan yang mulai menjalari tubuhnya.

“YAK! Apa yang mau kalian lakukan pada ku?” ucap Jiyeon saat dua orang laki-laki yang hendak merangkul lengannya. “Jangan kurang ajar, aku bisa mengadukan kalian kepada ayah ku, dan kalian semua bisa di tuntut karna sudah menculik anak dari Song Jongki, pemilik perusahaan Hyundai dan KIA Car di Korea ini,” ucap Jiyeon dengan memasang kuda-kuda, membuat Donghee tersenyum dari balik bangku mobil yang di dudukinya.

“Tuan muda, kekasih baru ada menolak untuk ikut pulang bersama kita,” ucap Sangwon dengan tersenyum.

“Mwo?” Jawab Chanyeol dengan tatapan tidak mengertinya.

“Gadis itu, kekasih tuan muda yang baru kan?” ucap Sangwon sambil menatap Jiyeon yang kini sudah mengibaskan tas punggungnya kepada 2 laki-laki yang masih memaksanya untuk masuk ke dalam mobil.

“Gadis itu sangat cantik, pandangan matanya saat menatap tuan muda tadi penuh dengan perhatian yang tulus, terlihat sangat berbeda dengan kekasih-kekasih tuan muda terdahulu.” Ucap Sangwon denga terus memperhatikan ulah Jiyeon di depan sana.

Chanyeol mengikuti arah pandang Sangwon, menatap Jiyeon dari balik kaca mobilnya dengan senyum yang tiba-tiba sudah terbentuk di bibirnya, saat akhirnya 2 orang penjaganya itu berhasil membawa gadis itu menuju mobilnya, dan teriakkan memekakkan pun terdengar saat gadis itu sudah duduk di sampingnya.

“YAK! PARK CHANYEOL!!” teriak gadis itu dengan keras. “Bilang pada semua bodyguard mu kalau aku ini bukan kekasih mu, kita bahkan tidak saling mengenal dan biarkan kau pulang ke rumah ku dengan taxi.” Ucap gadis itu dengan berusaha membuka pintu mobil secepat yang dia bisa.

“Agasshi,” suara lembut itu menghentikan kegiatan Jiyeon mendobrak pintu mobil Chanyeol, mata bening gadis itu menatap seorang laki-laki yang tadi sempat tersenyum ke arahnya, yang kini duduk di sebelah sopir. “Saya mohon tenanglah, kami akan mengantarkan Agasshi sampai kerumah dengan selamat.” Ucap paman itu lagi dengan senyum yang mampu membuat Jiyeon merasa sungkan, hingga membuat gadis itu mengangguk kecil.

Gadis itu menarik nafasnya, memandang ragu ke arah Chanyeol yang duduk di sebalahnya, laki-laki itu sedari tadi tidak mengeluarkan suaranya, tidak membentak seperti biasanya. Laki-laki itu bahkan tidak melihat ke arahnya, bahkan kini laki-laki itu sudah terlihat bersandar nyaman di jok mobil dengan mata yang terpejam.

“Jiyeon agasshi,” Jiyeon sedikit terkejut lalu menatap paman yang duduk di depannya dengan dahi yang berkerut. “Dari mana Ahjussi tahu nama ku?” tanya gadis itu dengan ragu.

“Dari nama yang ada di seragam Agasshi,”  jawab Sangwon dengan tersenyum, membuat Jiyeon tertawa pelan. “Ah! Iya benar aku Jiyeon, Song Jiyeon nama Ahjussi siapa?” tanya Jiyeon dengan senyum ramahnya.

“Panggil saja saya Kim Sangwon, Agasshi.” Jiyeon mengangguk mengerti, sesaat sebelum mobil yang di tumpanginya mulai melaju.

“Kim Ahjussi rumah ku ada di daerah,—“ ucapan Jiyeon terhenti seketika, saat Sangwon mengangguk. “Ne saya mengerti, siapa yang tidak tahu rumah dari penerus perusahaan mobil yang terkenal itu,” ucap Sangwon masih dengan tersenyum, membuat Jiyeon mengangguk dengan tersenyum kaku dengan menebak-nebak jika paman di hadapannya ini pasti mendengar ucapannya beberapa saat yang lalu.

***

Jiyeon’s House

Jiyeon turun dari mobil Chanyeol dengan tergesa, tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada laki-laki yang masih membisu dengan mata yang terpejam, di sepanjang jalan menuju rumahnya. Gadis itu membungkuk ke arah Sangwon yang sudah berdiri di depannya.

“Terima kasih Jiyeon Agasshi, terima kasih karna sudah menemani tuan muda Chanyeol hari ini, dan— bersabarlah sebentar dengan semua sikap buruk tuan muda pada mu, karna sebenarnya tuan muda adalah laki-laki yang sangat baik.” Ucap Sangwon dengan tersenyum, membuat Jiyeon mengurungkan niatnya untuk mengatakan jika dirinya bukan kekasih dari Chanyeol, karna gadis itu yakin kalau kesalahpahaman ini akan segera berakhir.

***

Park’s House

Chanyeol’s Room – 11.50 pm

Chanyeol merebahkan tubuh lemahnya di ranjang tidurnya, setelah sebelumnya laki-laki itu membersihkan tubuhnya, dan menikmati coklat panas yang sudah tersaji di meja di samping ranjangnya. Laki-laki menarik nafasnya perlahan, menatap jam dinding yang berdetak hingga menimbulkan suara yang memecahkan kesunyian di kamar tidurnya yang luas itu.

Chanyeol mengalihkan pandangannya saat handpone nya bergetar, matanya berbinar senang saat menatap nama pemanggil di layar ponselnya itu.

“Hyung,—“

“Saenggil Chuka hamnida, saegil chukka hamnida… Sarangheo Park Chanyeol, saengil Chuka hamnida..” Chanyeol tertawa pelan dengan sebulir airmata yang tiba-tiba sudah jatuh di pipi pucatnya, saat suara senang di seberang sana masih mengema di telingganya, suara dari laki-laki yang sangat di sayanginya.

Gomawo Jungsoo Hyung,” jawab Chanyeol dengan kembali meneteskan airmatanya, membuat suaranya sedikit tersendat.

Ya apa kau menangis?” tanya Jungsoo di seberang sana, dengan nada yang mulai khawatir

“Aku tidak menangis, hyung.” jawab Chanyeol seraya menyeka airmatanya.

Hari ini kau sudah 17 tahun dan ingat kita sudah merayakan ulang tahun mu selama 13 tahun, jangan membuat ku merasa bersalah karna tidak ada di ulang tahun mu kali ini.” Ucap Jungsoo masih dengan nada khawatirnya.

“Tenanglah hyung aku hanya merasa terlalu senang, karna hyung adalah orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun untuk ku,” sebuah kekehan kecil keluar dari bibir Chanyeol membuat Jungsoo ikut terkekeh di seberang sana.

“Mulai sekarang berhentilah bermain-main Chan-aa, mulailah bertanggung jawab dengan semua yang kau lakukan, dan tetaplah percaya jika aku sangat menyayangi mu sedari dulu, apapun yang terjadi kau mengerti?” Chanyeol mengangguk pelan, tersenyum walau dia tahu Jungsoo tidak akan melihat semua itu.

“Ne arraseo, aku— aku juga sangat menyayangi mu hyung dan cepatlah kembali,” ucap Chanyeol dengan memandang foto keluarganya yang tertempel di dinding tepat di depan ranjang tidurnya.

“Eoh! Istirahatlah,” Chanyeol kembali tersenyum, meletakkan handphonenya di atas meja, lalu mulai memejamkan matanya, menenangkan hatinya dan berusaha melupakan semua kejadian yang terjadi hari ini.

Kejadian yang selalu terjadi berulang-ulang sejak dulu, kejadian yang selalu mampu membuatnya terpuruk dalam kesedian yang begitu dalam. Tapi ada hal yang masih bisa membuat Chanyeol tersenyum hingga saat ini, dia masih memiliki seorang kakak laki-laki yang begitu menyayangi dirinya, memiliki ayah yang sangat sibuk tapi selalu bisa meluangkan waktu untuknya, dan tentu saja paman Kim yang selalu mampu menghiburnya, ya Chanyeol sangat mensyukuri semua itu.

Laki-laki itu kembali menarik nafasnya, sesaat sebelum berdoa di dalam hati, doa yang selalu di ucapkannya sebelum dia tertidur di malam hari, sebuah doa dan harapan yang di yakininya akan terkabul suatu hari nanti, harapan jika sang ibu akan kembali seperti dulu, seperti saat pertama kali laki-laki itu bertemu dengan wanita itu 14 tahun yang lalu.

TBC

Cerita ini juga dipublikasikan di blog pribadi

https://ririnsetyo.wordpress.com

Silahkan mampir🙂

 

 

11 thoughts on “The Story Only I Didn’t Know [1/9]”

  1. Wwwwaaaaahhhh keren banget ff nya bagus ini bagus saya suka saya suka 🙆🙆🙆😄😄

    lanjut..lanjut..lanjut…. 😇
    ditunggu chapter selanjutnya chingu aku suka pada bacaan pertama hehehe… /ngwomong oppo to 😀

    semangat ngelanjutin chapternya ya bingung mau comment apa abis ini udah bagus hihihi….
    pokoknya aku tunggu chapter selanjutnya chingu and ijin ngunjungin blog kamu ya terimakasih ☺😊

    XOXO 😘😘

    Suka

  2. Ceritanya seruuu dan panjang dalam satu chapterrr, jadi bisa baca lebih lama dan gak cepet habis gara gara tbc wkwkwk.
    Bagus thorr, chapter pertamanya gak terlalu cepet dan lebih mengenalkan cast dan masalahnyaa.
    Pas bacanya agak kesel sendiri pas ngebaca sikap chanyeol, tapi…
    Emang setiap hal dan masalah pasti ada penyebabnya😄

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s