[Ficlet] Don’t Be Sick

don't be sick

Don’t Be Sick

presented by thelittlerin

.

DAY6 Yoon Dowoon, TWICE Im Nayeon

Fluff | PG-15 | Ficlet

.

Kalau Nayeon sampai jatuh sakit, Dowoon akan menjadi bahan hujatan semua orang.

(special thanks to Manda buat ‘prompt’nya! ^^)

“Dowoon-ah! Titip Nayeon ya!”

Kalimat itu terulang kembali di benak seorang Yoon Dowoon. Kalimat setengah memerintah yang keluar dari mulut Kang Younghyun yang kemudian diikuti oleh seruan serupa oleh senior-seniornya yang lain. Kalimat yang kini mengantarkan dirinya pada sebuah situasi canggung.

Bukan tanpa alasan situasi canggung ini terlahir. Sudah menjadi rahasia umum di kalangan senior-senior Dowoon kalau ia menyukai Nayeon dan fakta bahwa Younghyun pernah ‘menjodohkan’ mereka berdua tidak membantu mengurangi kecanggungan yang ada.

Eum…” Astaga, seseorang tolong bantu Dowoon berbicara pada gadis di sebelahnya ini.

Senyum yang terbentuk di paras ayu Nayeon hanya membuat semua kosakata di kepala Dowoon hilang tak berbekas. Kedua matanya berbinar dan pipinya sedikit memerah, entah apa penyebabnya—Dowoon lebih memikirkan bagaimana caranya bernapas untuk saat ini.

“Mau kuantar pulang?” Beruntung, Dowoon bisa mengeluarkan tiga kata keramat itu.

“Boleh?” jawab Nayeon cepat.”Tidak merepotkan?”

“Kalau aku tidak mengantarmu malah aku yang akan repot nanti,” jawab Dowoon, mengingatkan Nayeon akan perintah senior-senior mereka tadi. Nayeon tertawa kecil, lesung pipinya tertangkap jelas oleh kedua netra Dowoon, membuat lelaki itu kembali lupa cara bernapas.”Sepedaku ada di ujung tempat parkir, kamu mau ikut apa menunggu di sini?”

“Ikut, di sini sedikit menyeramkan,” jawab Nayeon. Menunjuk keadaan lobi gedung yang menyiratkan aura seram—senja sudah mulai surut namun lampu-lampu belum juga dinyalakan, Nayeon tak berani berdiri di sini sendirian.

Waktu tempuh antara lobi gedung dan sepeda Dowoon tidak melebihi tiga menit dengan kecepatan sedang, namun Dowoon merasa ia sudah berjalan selama tiga puluh menit. Tak menemukan satu pun topik yang bisa ia gunakan untuk mengisi keheningan.

Bahkan hingga Dowoon berhasil mengeluarkan sepedanya dari himpitan sepeda lain, keheningan itu masih betah berdiam diri. Seolah-olah tak memiliki intensi untuk menyingkir dari sepasang anak manusia itu.

“Rokmu tidak apa-apa nih?” tanya Dowoon sebelum naik ke atas sepeda, berusaha tidak melihat terlalu lama ke arah rok merah muda milik Nayeon..

“Tidak apa-apa,” kata Nayeon,”ayo cepat, nanti keburu hujan.”

Perkataan Nayeon serta merta membuat Dowoon mendongak. Awan mendung dengan cepat mengisi penglihatannya, ditambah dengan angin dingin yang datang entah dari mana. Sepertinya malam ini hujan akan turun.

“Ya sudah, ayo naik.”

Dowoon hampir tak merasakan pertambahan beban yang signifikan ketika Nayeon duduk di atas boncengan sepedanya. Sama sekali berbeda ketika ia, dengan terpaksa, memboncengkan salah satu seniornya—sebut saja namanya Park Sungjin.

Akan tetapi, cengkeraman pelan Nayeon pada jaket hitamnya sudah cukup membuat Dowoon melupakan caranya mengayuh sepedanya.

Ah, sudah terlalu banyak hal yang lelaki itu lupakan pada sore hari ini akibat gadis bernama Im Nayeon itu.

Sepeda biru milik Dowoon melaju dengan kecepatan sedang. Tidak terlalu pelan dan tidak terlalu kencang—angin yang berhembus sudah mulai terasa dingin, berbahaya kalau Dowoon mengayuh dengan kecepatan penuh seperti biasanya.

Sepertinya keheningan sudah menjadi teman akrab dari Yoon Dowoon dan Im Nayeon. Kali ini pun keheningan mendominasi perjalanan mereka. Walaupun Nayeon sesekali bersuara, memberikan petunjuk arah menuju rumahnya agar Dowoon tidak mengarahkan sepedanya pada jalan yang salah. Dowoon sendiri tidak pernah menginisiasi percakapan, hanya membalas petunjuk-petunjuk Nayeon dengan jawaban-jawaban pendek.

Perjalanan mereka sebentar lagi akan berakhir, tinggal berbelok di ujung kanan dan berjalan sekitar seratus meter lagi—menurut arahan Nayeon. Namun sepertinya alam semesta punya rencana lain untuk mereka berdua.

“Gerimis,” gumam Nayeon. Pelan, tetapi cukup keras untuk dapat didengar Dowoon dan ada sedikit nada panik di dalam suaranya. Dowoon menengadahkan tangan, merasakan titik-titik air menerpa telapak tangannya.

Buru-buru, Dowoon menekan pedal rem dan menghentikan sepedanya di pinggir jalan—dengan efek samping kepala Nayeon membentur punggungnya.

Tanpa turun dari atas sepeda, Dowoon dengan cekatan melepas jaketnya, menyisakan sehelai kaus putih yang melekat di badan, lantas mengulurkannya ke arah Nayeon.”Pakai ini.”

Eh, tapi—“

“Jaketku tahan air kok,” potong Dowoon cepat. Tak mau berlama-lama berdiam diri ditempa air hujan. Tetapi, saat menyadari bukan itu maksud Nayeon, lelaki itu cepat-cepat menambahkan,”kalau kamu sampai sakit, aku yang akan mati besok.”

Lagi-lagi, Dowoon mengingatkan Nayeon akan senior-senior mereka. Membuat Nayeon perlahan dan tanpa kata memakai jaket hitam pemberian Dowoon. Sedikit tak enak hati, terlebih Dowoon tak menggunakan pelindung apa pun untuk menghalau air hujan yang turun.

“Siap-siap ya, aku akan sedikit ngebut.”

Belum sempat Nayeon menyiapkan dirinya, bahkan posisi duduknya saja belum benar betul, Dowoon sudah mengayuh sepedanya dengan kecepatan tinggi. Nayeon tersentak kaget, kemudian secara refleks melingkarkan lengannya di pinggang lelaki itu agar tubuh mungilnya tidak jatuh dengan tidak anggun ke atas aspal hitam. Tangannya yang bebas terangkat ke wajah, melindungi poni sekaligus menghalau air yang berniat masuk ke dalam matanya.

Kecepatan sepeda itu tidak berubah sampai di ujung jalan. Dowoon menekan pedal rem pelan, hanya untuk sedikit memperlambat laju sepedanya, kemudian berbelok ke arah kiri dengan mulusnya. Setelah itu, laju sepeda kembali dipercepatnya. Hampir melewatkan rumah Nayeon kalau saja gadis itu tidak memperingatkannya terlebih dahulu.

“Terima kasih,” ujar Nayeon. Mengembalikan jaket hitam yang sempat dipakainya kepada sang pemilik.”Gara-gara aku, kamu jadi kehujanan.”

“Tidak apa,” balas Dowoon, dengan gesit memakai kembali jaket miliknya. Menutupi kaus putihnya yang sedikit basah dari pandangan orang-orang di sekitarnya—dari Nayeon lebih tepatnya.”Masuk sana.”

Nayeon mengangguk.

“Sampai jumpa besok, Dowoon-ah.”

“Sampai jumpa, Nayeon-ah.”

fin.

A/N:

Ya, seperti yg sudah disebutkan di atas, fic ini ditulis berdasarkan ‘prompt’ dari Manda yg lahir akibat obrolan delu kami berdua di twitter .__. anyway, makasih lho Man, udah ngasih aku ide cerita😉

mind to review, then, movie-freaks-deul? ^^

8 thoughts on “[Ficlet] Don’t Be Sick”

  1. AH KAKTIWI AH SEBEL HUHUHU (lah yang ngasih ide siapa, malah sebel sendiri)

    Aduh gemes ya, mereka.. bayangin coba siapa tahu besoknya yang sakit malah Dowoon :_( sampe dorm dah basah kuyup gitu terus ditanyain hyungdeul “LO KEUJANAN?? ANJIR NAYEON GIMANA?” lah yang basah kuyup dia kok yang ditanyain malah si eneng :_( BTW AKU JADI KEPIKIRAN PLOT-BUNNY HABIS KEJADIAN GONCENGAN/KEUJANAN INI AH

    (..menangisi tumpukan pekerjaan)

    Hu kaktiwi.. ini aku nulis apa ya, malah nggak ngomen dengan baik dan benar isinya cuma meracau dan baper ;; ^ ;; (dan kepikiran plot lain) (mantep gak tuh tapi)

    Yak sekian dulu ya kaktiw \:___D/ (UDAH)

    Suka

  2. KAKTIWI INI TUH INI TUH INI TUH INI TUH GABISA GINIIIIII!!!!!!

    Ini tuh gemesin banget yaampun sekarang bayangan akan Yoon Dowoon berkaos putih kebasahan tidabisa menghilang dari kepala heuheuheuheu;;;; GACUKUP MAS KAMU NGAMBIL MASA MUDAKU (?)

    Aku gemes banget bacanya yaampon dibonceng dowoon sambil ngebut sounds too good to be true❤ aku suka banget mereka berdua aku suka banget yoon dowoon huhuhuhuhuhu TENGS KAKTIWI DAN KAKMANDA YG SUDAH BUAT INIIII❤🙂😀

    p.s : kakmanda aku juga jadi kepikiran plot setelah ini hahaX)

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s