Magnetic (Chapter 3)

Magnetic (Chapter 3)

Magnetic

(Chapter 3)

Scriptwriter: deerochan | Casts: Junior (GOT7), Min (OC) | Support Casts: Jackson, Mark, Jaebum, Bambam, Yugyeom, Youngjae (GOT7) | Genre: romance, fluff | Rating: General | Duration: 3000+ words

Summary:

Aku adalah seorang laki-laki yang bebas, menyenangkan, terkadang sedikit serius dan menawan. Aku bisa menyanyi dan menari dengan sangat baik, senyumanku pun mempesona. Bukankah tak ada alasan ‘dia’ tidak menggilaiku?

Disclaimer: ini semua fiksi dan hanya khayalan author saja (fancafe etc.), kecuali untuk buku yang dibaca Jinyoung benar adanya. :3

Previous: MAGNETIC 1 (JB) | 2 (Jackson)

 

 

(Come to me, you’re so magnetic

I’m attracted to all of you)

 

              7 hari lagi.

              Kira-kira tinggal tujuh hari untuk comeback stage album terbaru dari GOT7. Aku sebagai ibu dari anak-anakku di GOT7 merasa amat bangga mereka berlatih dengan baik sekali. Meskipun banyak kendala, akan tetapi itu tidak berarti besar dan kami bisa melaluinya dengan baik.

              Baru-baru ini setiap kami berangkat latihan atau pergi ke JYP Headquarter, para fans selalu berkumpul ramai sekali. Mereka rela berjam-jam berdiri dan menunggu di sana hanya untuk melihat kami keluar dari mobil dan sekadar melambaikan tangan pada mereka. Pasalnya, seminggu sebelum comeback stage adalah waktu yang jelas membuat iGOT7 merasa amat antusias.

              Siang ini, rombongan itu ada lagi. Aku duduk di sebelah Mark, tepatnya di dekat jendela saat di dalam mobil. Dari kejauhan saat kami menuju markas pusat, para fans sudah berteriak dan membawa banyak goods atau merchandise GOT7.

              Aku mengintip mereka dan mencari-cari satu orang gadis. Tak lama, mataku menangkap sosok gadis yang kucari. Gadis itu menarik perhatianku akhir-akhir ini karena ia selalu memakai semua merch-ku dari kepala sampai kaki. Mulai dari topi, syal, rompi sampai aksesoris di pergelangan tangannya. Aku merasa benar-benar senang melihat aku begitu dicintai.

Ngomong-ngomong, aku sudah seringkali bertemu gadis itu di manapun acara kami diadakan, jadi aku sudah amat mengenal wajahnya. Dia juga sering mampir ke fancafe milik kami.

              Begitu kami turun dari mobil, sorakan demi sorakan terdengar di sekeliling kami. Meskipun kadang itu terdengar berisik, aku selalu menikmatinya. Penjaga kami meminta para fans memberi jalan untuk kami lewat dan untungnya mereka dengan senang hati membuat barisan untuk membuka jalan.

              Karena aku adalah seorang idol yang sangat baik hati, aku ingin memberi sedikit fan service pada salah satu dari mereka. Aku mendekati gadis yang menarik perhatianku tadi dan menyadari bahwa ia masih memakai seragam sekolah. Sambil mendekatinya aku membaca nama yang tertera di seragamnya dalam hati. ‘Min’.

              “Hai, Min!” di tengah kerumunan itu aku memanggil namanya dan mengacungkan tanganku untuk memberinya high-five. Gadis itu terkejut, ia lalu dengan cepat menyambut uluran tanganku untuk membalas high-fiveku. Ia tersenyum senang dengan wajah tersipu dan memanggilku, “Junior Oppa! Fighting!”

              Aku mengangguk sambil tersenyum lalu masuk mengikuti teman-temanku menuju ke dalam. Kadang, aku menikmati popularitasku seperti ini. Hanya melakukan hal seperti itu—bahkan terkadang tidak melakukan apapun—saja mereka tersenyum senang karenaku. Rasanya aku seperti mempunyai kemampuan untuk menyihir gadis-gadis di sekitarku.

              Hari ini kami menyelesaikan banyak pekerjaan. Mulai urusan di kantor sampai survey panggung, jadinya kami semua pulang malam hari. Manajer menawarkan untuk mencari makan malam di sekitar sana, akan tetapi teman-teman sudah cukup lelah. “Baiklah, aku akan memesankan pizza untuk kalian. Beristirahatlah di asrama,” ujar manajerku saat kami dalam perjalanan kembali ke asrama. Mobil langsung ramai karena semua berebut untuk memesan topping pizza sesuai keinginan mereka.

              Akan tetapi, malam ini aku justru tidak merasa lapar. Aku hanya ingin menghirup secangkir black coffee atau latte pelan-pelan sambil menikmati novel-novel klasik. Karena itu aku ada ide. “Noona, sekarang masih jam sembilan malam, ‘kan? Turunkan aku di fancafe, aku ingin mampir ke sana.”

              Manajerku dan member lain mengernyit heran. “Malam-malam begini?”

              “Apa kau tidak lapar atau lelah sekarang ini?” Tanya Jackson padaku.

              “Aku hanya tidak nafsu makan. Aku rindu latte dan grilled potato dari kafe kita,” jawabku. Manajerku mengangguk-angguk.

              “Baiklah, lagipula sudah jam sembilan. Sepertinya kafe sudah sepi dan tidak banyak penggemar di sana pada jam-jam sekarang ini. Aku akan menjemputmu jam sepuluh, oke? Kau harus beristirahat dan bangun pagi.” Jawab manajerku sementara aku mengangguk mantap.

              Aku turun dan masuk ke fancafe sendirian sementara yang lain menuju asrama. Aku membuka pintu kafe dan suara lonceng terdengar. Klining! Aku selalu suka suara itu. Kuedarkan pandanganku ke sekitar. Pengunjung kafe hanya ada dua-tiga orang, namun sepertinya mereka tidak menyadariku.

              Aku sedang menuju sofa pojok di dekat rak buku-buku saat Kepala Toko menyapaku dan segera mendekatiku. “Junior! Tumben sekali malam-malam begini kemari, di mana yang lain?”

              “Aaa, mereka tidak ikut denganku, Ahjussi. Malam ini aku kemari sendirian karena aku ingin menikmati secangkir latte untuk penghilang lelah,” jawabku.

              Kepala Toko tersenyum senang dan mempersilahkanku duduk. “Satu spesial latte untuk bintang tamu kita!”

              “Ah, dan sepiring grilled potato,” tambahku lagi. Kepala Toko mengacungkan jempolnya dan beranjak pergi ke dapur. Aku duduk di sofa dan menikmati pemandangan di luar lewat kaca besar kafe yang berada tepat di samping kiriku. Kerlap-kerlip cahaya mobil dan lampu jalan membuat perasaanku berangsur membaik setelah hari yang panjang dan melelahkan ini.

              Aku melihat-lihat deretan buku bacaan di rak besar kayu jati saat kudengar seseorang memekik memanggil namaku, “Junior Oppa!!!”

              Aku menoleh ke belakang dan melihat seorang gadis menutup mulutnya dengan kedua tangan saat aku berbalik. Matanya terbelalak kaget. “Apa… ada secret meeting malam ini?”

              “Oh, tidak-tidak,” aku berdiri sambil tertawa. “Aku hanya ingin mampir kemari setelah banyak pekerjaan. Aku hanya kebetulan kemari.” Jawabku. Ia terlihat manggut-manggut senang.

              Gadis ini adalah gadis yang tadi siang, Min, aku masih ingat dengan jelas namanya karena singkat dan mudah. Sungguh kebetulan kami bertemu di sini. Apa jangan-jangan ia setiap hari pergi kemari? Tanyaku dalam hati. Sesaat kemudian, aku melihat Min membuka ransel putihnya dan mengeluarkan kamera Polaroid dari dalamnya.

              “Ini sungguh suatu kebetulan! Bolehkah aku meminta kita berfoto dengan instax?” tanyanya sopan. Oh, bagus, bagus. Ia tidak terlihat berteriak-teriak heboh atau gemas—malahan menjaga kesopanan di depanku. Aku senang dengan penggemar yang bisa menjaga kondisi hatinya.

              “Baiklah,” aku menyanggupi tawarannya dan ia mengambil foto kami berdua dari sisi kanan atas. “Waaa! Aku suka ini,” sahutnya ketika selembar foto keluar dari polaroidnya.

              “Kamu salah satu penggemar beratku, bukan? Aku seringkali melihatmu di JYP Headquarter baru-baru ini…”

              Min menoleh dan matanya berbinar. “Kamu menyadarinya, Oppa? Aku senang sekali!” ia mengangguk beberapa kali. “Bukan hanya baru-baru ini saja. Aku sudah menjadi penggemar beratmu sejak lama!”

              Aku tersenyum mendengarnya. “Ketika bertemu dan berfoto bersama, para fans selalu berteriak dan berebut memelukku. Apa kamu sudah terbiasa melihatku sehingga lagakmu biasa saja saat kita berfoto tadi?”

              Min melotot. “Bagaimana bisa aku terbiasa? Ketika bertemu Junior Oppa, aku selalu berdebar-debar sekali. Mungkin nanti malam aku tidak akan bisa tidur!” jawabnya. “Lagipula menurutku, skinship is a big No-No,” lanjutnya tegas sambil mengacungkan telunjuknya ke kiri dan ke kanan.

              Perkatannya yang tajam itu menikamku. Aku terbata-bata mengulangi pernyataannya. “B-big No-No? Kenapa memangnya…?” tanyaku heran. Memangnya tampilanku buruk sehingga ia tidak mau bersentuhan denganku?

              “Iya, karena aku selalu memikirkan perasaanmu, Oppa. Aku yakin kalian tidak akan suka melihat fans yang berebut memeluk, menggandengmu atau mencubitimu, benar, ‘kan? Jadi meskipun itu membuat kami semua senang, aku sadar bahwa itu akan mengganggumu.” Jelasnya sambil mengeluarkan spidol dari tasnya. Perkataannya membuatku agak lega, meskipun masih terasa sebal. Bisa-bisanya berkata segamblang itu di depan idolanya.

              “Junior Oppa, tolong tanda tangani foto ini. Bolehkah?” ia menyerahkan hasil foto tadi dan spidol untukku. Aku mengangguk bersedia dan menandatangani foto tadi.

              “Apa aku harus menulis ‘untuk Min’ di sebelah sini?” tanyaku padanya sambil menunjuk celah kosong di sebelah tandatanganku.

              “Apakah boleh? Wah, terima kasih banyak! Aku senang sekali!” Min mendesis. “Ah, Junior Oppa, kau sedang melakukan apa tadi? Apa aku mengganggumu?”

              “Tidak, kok. Aku hanya sedang ingin menikmati minuman hangat di malam yang dingin ini sendirian. Lalu kamu? Kau datang dengan siapa?” tanyaku sambil memberikan foto dan spidol tadi padanya. Aku tidak melihat seorang pun menemaninya.

              “Ehm, aku datang sendiri. Setiap hari sepulang kursus jam delapan malam, aku menyempatkan diri mampir kemari. Berlama-lama di tempat yang banyak gambar wajahmu dan musik-musikmu membuat lelahku hilang!” jawabnya senang. Aku mengulum senyum sedikit tersanjung akan jawabannya.

              “Kalau begitu, kamu bisa memindahkan gelasmu ke meja ini,” tawarku. Min membelalak kaget mendengarnya. “Serius? Woaah! Aku akan dengan senang hati…!”

              “Anggap saja ini adalah hadiah untukmu karena sudah mendukungku selama ini.” Kataku. Min tersenyum salah tingkah dan berbalik ke mejanya untuk mengambil gelasnya. “Ini adalah hari keberuntunganku!” aku mendengar dia berbisik.

              Tak lama, pesananku datang dan salah satu penggemar beratku ini telah duduk di depanku. Ia meminum cream soda-nya sambil memandangiku senang.

              “Hmm, kalau sudah begini, aku selalu ingin membaca buku,” sahutku sambil melirik rak buku di sebelahku. Min tiba-tiba menyahut.

              “Ah, aku tadi menyelesaikan satu novel yang bagus yang kuambil di rak itu! Hari ini aku ingin mengembalikannya. Apakah Oppa mau pinjam novel yang        ingin aku kembalikan itu?” tanyanya cepat sambil membuka ranselnya.

              “Biarkan aku melihatnya.”

              Min mengeluarkan sebuah buku tebal bersampul rapi dari tasnya. “Ini adalah novel yang menurutku sangat-sangat bagus! Kepala Pelayan memperbolehkanku membawanya pulang pekan lalu karena aku sering datang kemari,” katanya dan menyerahkan buku tebal itu padaku.

              “Kalau kamu bilang ini sangat menarik, aku akan membawanya pulang dan membacanya juga…” kataku padanya.

              “Benarkah? Iya, kumohon bacalah! Judulnya adalah ‘So I Married The Anti-fan’, karya Kim Eun Jong!”

              Aku terdiam untuk beberapa saat. “Apa tadi judulnya…?”

              “Judulnya ‘So I Married The Anti-fan,” katanya lebih pelan. “Karena judulnya menarik, aku segera membacanya.”

              Aku terbengong mendengarnya.

              “Ceritanya tentang seorang perempuan yang sangat membenci seorang idola yang terkenal saat itu! Idola tersebut sangatlah terkenal dan memiliki pesona yang memikat setiap wanita. Akan tetapi, Geun Yong—tokoh utama perempuan di situ—ternyata mengetahui sisi gelap idola tersebut. Ia begitu membenci idola tersebut karena idola tersebut membawanya jatuh dalam masalah. Jadi ia menjadi seorang anti-fan dan membongkar segala kebusukan idola itu!”

              Aku makin terbengong-bengong dibuatnya. Bisa-bisanya dia bercerita dengan begitu asyik tanpa memikirkan perasaan seorang ‘idola’ yang ada tepat di depan hidungnya.

              “Bagaimana? Menarik, bukan?” tanyanya antusias. Aku tersenyum tak ikhlas.

              “Ha-ha… Sepertinya menarik, ya? Akan kubaca lain kali…” aku terkekeh setengah hati dan mengembalikan buku itu di rak, lalu tersenyum padanya. Setengah hati juga.

              “Baiklah, bacalah lain kali. Oh, ini sudah jam setengah sepuluh malam. Aku harus pulang ke rumah!” ia membereskan barang-barangnya dengan buru-buru lalu memasukkannya ke ransel. Min berdiri dan bergegas berpamitan padaku.

              “Junior Oppa, hari ini tidak akan kulupakan. Terima kasih telah berbaik hati padaku! Aku sangat bahagia.” Ia membungkuk sedikit dengan sopan.

              “Benarkah kamu mau pulang? Ini sudah sangat malam. Apakah aku harus mengantarmu?” tanyaku padanya, membuatnya tertegun dan terdiam lama. Ia lalu menggelng.

              Apa? Ia tidak mau? Batinku. Sekarang ini setiap wanita di dunia akan melakukan apa saja untuk diantar Oppa pulang ke rumah, namun ia malah tidak mau? Tiba-tiba aku merasa sangat emosi dengan gadis yang satu ini.

              “Kalau seseorang melihat, itu akan bermasalah buatmu. Lagipula aku biasa pulang sendiri. Tapi aku sangat senang dengan ajakan Junior Oppa! Terima kasih telah berlaku baik padaku!” ia mengangguk sekali lagi dengan ekspresi tersipu. Hah, tentu saja. Ia menolak tawaran bagus itu semata-mata demi kebaikanku. Ia tetap mencintaiku, kok.

              “Baiklah, hati-hati.” Aku berdiri mempersilahkannya pergi. Ia bergegas pergi, namun beberapa langkah kemudian, ia berbalik.

              “Junior Oppa, bisakah kamu sampaikan pada Youngjae Oppa salam dariku?” tanyanya padaku. “Aku sangat menyukai suaranya yang lembut! Bisakah kau sampaikan padanya? Aku tidak pernah bisa memulai percakapan dengannya, jadi aku ingin kamu yang menyampaikannya…” Sesudah menyelesaikan kalimatnya, ia lalu membungkuk lagi, mengucapkan terima kasih dan beranjak pergi. Sedangkan aku? Aku terpaku diam di tempatku.

              “Bisa-bisanya kau…” aku mendesis geram padanya. Ia berkata seolah hal itu adalah sesuatu yang wajar dan tak menyakiti hatiku. Kalau kamu mencintaiku, harusnya kamu hanya melihatku seorang! Aku membatin.

              Tunggu, tunggu…, tadi bahkan ia menolak aku mengantarnya pulang dan menolak bersentuhan denganku. Satu lagi, ia menyuruhku membaca buku rekomendasinya yang berisi tentang seorang idola dan seorang anti-fannya. Anti-fan?! Apa ia bermaksud menyindirku? Astaga… Baru kali ini ada penggemar seperti itu. Aku gemas sekali padanya!

              Lihat saja, Min, aku menyesal memberikan fanservice-ku padamu! Tidak akan kuulangi lagi untuk kedua kalinya, rutukku dalam hati.

              Keesokan harinya, selepas latihan, keinginanku membawaku pergi ke fancafe itu lagi. Aku merasa sebal pada Min dan aku ingin membalas perkataan-perkataan tajam berkedok cinta-nya kemarin. Aku yakin dia masih di sana sekarang. Kalau seorang penggemar saja bisa membuatku kesal, apalagi aku padanya! Ha-ha-ha!

              Aku datang sama seperti kemarin, jam sembilan tepat. Sama seperti kemarin, tidak ada member yang ikut denganku karena mereka ingin me-monitoring penampilan kami di stage-stage yang lalu bersama-sama di asrama, untuk menunjang penampilan kami minggu depan. Aku bilang pada manajerku bahwa aku benar-benar ingin secangkir kopi lagi malam ini, jadi sama seperti kemarin, ia bilang dia akan menjemputku jam sepuluh.

              Benar saja, begitu aku masuk dan mengedarkan pandanganku ke seluruh kafe, terlihat Min sedang duduk di pojok. Ia memakai jaket merah tebal, menyesap secangkir teh sambil melihat tayangan televisi fancafe yang sedang menampilkan beberapa MV GOT7.

              “Ehem,” aku berdehem keras membuat Min dan beberapa pelayan menoleh. Pelayan yang melihatku buru-buru mendatangiku dan menyambutku dengan hangat. Mereka mempersilahkanku duduk dan menanyai apa pesananku. Aku duduk di sofa yang sama seperti kemarin, dan memesan sesuatu yang sama seperti kemarin. Tak lama kemudian ,lewat sudut mata, aku mendapati Min sedang menuju ke arahku sambil tersenyum senang. “Junior Oppa! Kau datang lagi?”

              Aku pura-pura tidak mendengar apapun. Ketika ia ada tepat di sebelahku, aku mendongak dan memandanganya dengan wajah datar. “Kau masih ingat aku, ‘kan?” tanyanya.

              Aku memandanganya masih dengan tatapan yang sama. Mana mungkin tidak ingat? Rutukku. Ia lalu duduk di depanku tanpa permisi.

              “Oppa, apakah hari ini—”

              “Kenapa kamu duduk di sana?” tanyaku sinis. “Memangnya siapa kamu?”

              Min terlihat bingung. “Aku Min yang kemarin,” jawabnya polos. Astaga, itu adalah pertanyaan retorik, kenapa ia bahkan menjawabnya? Sungguh tidak peka.

              “Aku ingin sendirian sekarang,” kataku.

              Min menunduk, terlihat sedih. “Maafkan aku, Junior Oppa. Aku mempunyai feeling akan bertemu denganmu lagi hari ini, jadi aku menyiapkan sesuatu untukmu. Aku hanya bertanya apakah kau sudah makan,” katanya, nadanya sungguh membuatku tidak tega. Min lalu berdiri dan membungkuk sopan, meminta izin untuk permisi.

              Ia menjauh sementara aku memandang punggungnya yang lemas ketika membuang napasnya panjang. Ya ampun, sungguh merepotkan, kini aku bahkan menyesali perkataanku. “Tunggu, Min.” sahutku. Ia berbalik.

              “Duduklah kemari, dan biarkan aku mencicipi apa yang kamu siapkan,” ujarku. Min yang tadinya terlihat amat suram seketika cerah, ia lalu tertawa lebar dan berlari untuk mengambil tasnya. Begitu ia sampai di mejaku, ia mengeluarkan sekotak bekal dan membukanya. Kotak bekal itu penuh sandwich yang telah dipotong rapi segitiga. “Ja-jaaa!”

              “Kamu membuat ini semua untukku?” tanyaku takjub, sekaligus penasaran. Ya siapa tau ia membuatkannya juga untuk Youngjae.

              “Iya!” dia mengangguk senang dan berhenti sejenak, “ngg… Tapi sebenarnya, saat membuat ini aku menjadi kepikiran dengan Mark Oppa. Ia sudah lama tinggal di LA, dan ia pasti menyukai sandwich—”

              “Hentikan,” potongku tegas. Ini semua sudah mencapai batas kesabaranku. Ya, aku sadar bahwa Mark adalah visual dari grup kami, dan kuakui ia memang tampan (bahkan aku menyukai wajahnya). Tapi menurutku ini sudah berlebihan. Jika orang lain yang mengatakannya, aku tidak keberatan. Tapi entah mengapa ketika Min yang mengatakannya, aku menjadi tidak rela.

              Maksudku, hei, dia adalah penggemar setiaku, bukan? Seharusnya ia hanya fokus padaku, bukan dengan yang lain.

              “Ada apa, Junior Oppa?”

              “Ada apa?” aku bertanya tidak habis pikir. “Jika kamu membuatkannya untuk Mark Hyung, maka pergilah ke asrama kami sekarang dan berikanlah secara eksklusif untuk Mark-mu tersayang,” lanjutku terdengar agak sinis, namun dengan senyuman di wajahku.

              Ia menatapku kaget. “Aku hanya berkata bahwa ketika membuatnya aku… Oppa, apa aku melakukan sesuatu yang membuatmu kesal? Kenapa tiba-tiba…”

              “Tentu saja!” aku menjawabnya cepat.

              “Apa?” tanyanya, tak kalah cepat. Membuatku menggertakkan gigi gemas. Aku ingin sekali memberitahukannya bahwa aku baru pertama kali menemui penggemar yang seperti dia. Dia adalah gadis yang kutahu sangat menggilaiku, namun di depanku dia membuatku merasa seolah aku bukan siapa-siapa di  matanya. Kurasa tidak berlebihan bila aku menyebut ini sebagai sebuah pengkhianatan seorang fans yang setia, bukan?

              Aku ingin membeberkan itu semua, tapi aku sadar imejku akan runtuh jika aku mengatakan hal itu. Jadi aku hanya memberitahukan satu alasan mengapa aku sebal padanya. “Aku sedikit tersinggung saat kamu menyuruhku membaca novel tebal yang kemarin itu.”

              “Apa…?” tanyanya heran.

              “Novel itu. ‘So I Married The Anti-fan’,” ulangku, “aku bertanya-tanya kenapa kamu bisa menyuruhku membaca novel seperti itu sedangkan aku sendiri adalah seorang idola. Aku merasa kamu menyindirku dengan berkata seperti itu. Menyebalkan.”

              Tak lama kemudian, aku melihat Min tertawa geli di depanku. Aku menatapnya heran. “Hahaha! Junior Oppa sudah membaca buku itu?” tanyanya padaku. Aku menggeleng pelan. Logika saja, tidak mungkin aku mau membaca buku seperti itu.

              “Ya ampun! Hahaha!” Min tak berhenti tertawa, sementara aku semakin sebal dan ingin menutup mulutnya sesegera mungkin. “Bisa-bisanya kamu tertawa saat aku memang sedang kesal!”

              Min menahan tawanya kemudian. Ia memegang perutnya geli dan berkata padaku, “Akan kuceritakan sedikit ceritanya.”

              “Apa katamu?”

              “Sssh! Dengarkan dulu,” potong Min. “Dengarkan, ya, Junior Oppa. Tokoh utama wanita di novel itu sangat membenci seorang idola karena idola itu merusak hidup dan pekerjaannya. Ia lalu menjadi anti-fan idola tersebut dan membongkar segala kebusukannya. Wanita itu seakan-akan dibenci seluruh dunia karena bertingkah layaknya seorang yang sangat membenci idola setiap orang. Karena wanita itu sangat tenar dibicarakan, ia lalu diundang untuk suatu reality show di sebuah stasiun TV ternama. Acara itu berjudul So I Married The Anti-fan. Wanita itu diharuskan tinggal bersama idola tersebut untuk beberapa waktu. Di sana idola tersebut berusaha untuk menjadikannya sebagai penggemar, sedangkan wanita tersebut berusaha membongkar kebusukan seorang idola tersebut.” Jelasnya panjang lebar.

              “Lalu?” aku mengernyitkan dahi.

              “Mereka mengalami banyak hal. Lalu, mereka jatuh cinta,” katanya.

Aku tertegun.

              “Aku ingin berkata pada Junior Oppa melalui novel tersebut. Janganlah terlalu membenci seseorang, suatu saat bisa jadi kamu berbalik mencintainya. Begitu juga sebaliknya. Jangan terlalu cinta pada seseorang, ketika ia melakukan suatu hal yang buruk, kamu akan dengan mudah membencinya. Itu disebabkan karena benci dan cinta letaknya sama-sama di hati,” Min menjelaskan dengan tenang. Aku seperti terbius oleh ucapannya.

              “Apakah itu jugalah alasannya kamu tidak ingin berlebihan di hadapanku?” tanyaku, memberanikan diri. Min tersenyum.

              “Junior Oppa, aku mengagumimu, bahkan bisa dibilang amat mengagumimu,” ujarnya, lebih memelankan suaranya. “Akan tetapi aku tidak ingin bersikap terlalu berlebihan padamu. Aku takut ketika aku menunjukkan sikapku kamu tidak akan menganggapnya menyenangkan. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku menjaga privasimu, serta tidak ingin mengganggu waktumu. Aku mendukung kalian semua, akan tetapi mataku selalu tertuju padamu, Junior Oppa. Maafkan aku jika aku membuatmu marah, tapi aku melakukan itu agar aku bisa membuatmu senang barang sedikit saja.” Min lalu berdiri. Aku masih saja menatapnya. Ia lalu bergegas berpamitan padaku.

              “Malam sudah larut dan aku harus pulang. Aku harap Junior Oppa beristirahat dengan baik malam ini,” ucapnya dengan tawa lebarnya. Tawa lebarnya yang menurutku… menarik.

              Min berjalan keluar sementara tubuhku seperti terhipnotis untuk mengikutinya. Aku menangkap lengan jaketnya dari belakang dan ia berhenti terkejut. Ia menatapku dan kami sama-sama terdiam cukup lama, bingung akan berkata apa.

              “Maaf,” akhirnya cuma itu yang keluar dari bibirku. Min tersenyum lebar mendengar itu, sekali lagi, membuat ada debar-debar halus di dadaku. Senyumnya yang seperti magnet itu, entah kenapa aku suka.

              “Jangan dipikirkan, Junior Oppa. Beristirahatlah dan nikmati sandwich-mu.” Katanya, lalu berbalik untuk bergegas pulang. Aku pun kembali ke mejaku. Duduk dan menatap sandwich dalam kotak bekal ungu itu.

              Aku menghela napas dan tiba-tiba jariku mencari buku yang ia tunjukkan kemarin. Hanya tiba-tiba saja, aku merasa ingin membacanya. Aku menjadi amat penasaran soal isi buku yang telah Min ceritakan tadi.

              Novel tebal itu akhirnya ketemu. Aku berniat membawanya pulang ke asrama sesuai kataku kemarin. Kubuka halaman demi halaman yang ada di novel tersebut. Sesaat setelah itu, ada secarik kertas jatuh ke lantai dari selipan halaman novel tadi. Aku bergegas memungutnya dan ada satu kalimat di sana.

              Satu kalimat yang ditujukan untukku, membuatku mendongak dan menatap acak salah tingkah. Entah kenapa tulisan di sana membuatku senang sekaligus tersanjung.

              Saranghamnida, Junior Oppa.

              Aku tersenyum lebar dan tidak bisa berhenti mengulangi membacanya.

(I keep getting shaken up

I’m falling for you more and more, you’re so fantastic)       

 

3 thoughts on “Magnetic (Chapter 3)”

  1. AAAH INI DAEBAK SEKALI MASTERNIM!! 💖💜💖💜
    SAYA SEMAKIN JATUH CINTA SAMA JUNIOR HWHW

    hehe, aslinya iseng aja cari di google dg keyword: GOT7 fanfiction
    terus lihat fict yg tentang mark, dan begitu lihat ada link “junior” langsung deh dibuka…

    eeh, taunya malah nemu fict sedaebak ini hehehe…

    good luck masternim! ditunggu fict-fict GOT7 selanjutnya ya!!

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s