[Oneshot] “World Has Secret Too”

World Has Secret Too

Title: “World has secret too!”

Scripwriter: Darkyu

Cast: Cho Kyuhyun, Lee Hyurin, and others.

Genre: Romance?

Duration: Oneshot

Rating: PG 15

-Setiap orang punya rahasia, kenapa dunia tidak?-

Hyurin POV

Kulihat pantulan diriku di kaca. Semuanya terlihat sempurna. Maksudku seragam ini, seragam sekolah baruku. Warna merah maroon adalah kesukaanku, jadi sudah pasti aku menyukai seragam ini. Menurutku merah maroon adalah warna yang indah, ah mungkin sebagian besar orang menganggap warna merah maroon adalah warna yang errr sexy? Tapi setelah kupikir- pikir mungkin mereka ada benarnya juga. Aku terkikik geli dengan apa yang kupikirkan barusan. Buru- buru kuusir pergi pikiran konyol itu. Yang harus kupikirkan sekarang adalah bagaimana hari pertama ku di sekolah baru.

Well, aku memang baru saja pindah ke Korea, awalnya aku tinggal di Paris sejak umur 6 tahun, dan sekarang aku harus menghabiskan tahun terakhir SMA ku di Korea. Kenapa aku pindah ke Korea? Ini karena eomma. Sepeninggal appa 3 tahun yang lalu, eomma membesarkanku sendiri, dan lagi, appa tidak meninggalkan apapun untuk kami. Di Paris kami awalnya mempunyai sebuah kedai kopi kecil. Semuanya berjalan lancar sebelum appa jatuh sakit, dan kemudian tidak mampu lagi menjalankan kedai kopi kami. Dan Tuhan juga sangat menyayangi appa, sehingga Dia memanggil appa terlebih dahulu ke pangkuan- Nya. Setelah itu kami hidup pas- pas an. Selain sekolah aku juga bekerja sebagai waitress di salah satu restaurant. Setidaknya gaji yang kudapat bisa untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti makan dan membeli pakaian.

Aku bisa mengerti kenapa eomma ingin pindah ke Korea. Selain karena ini adalah kampung halamannya, juga eomma tidak ingin terus larut dalam kesedihan. Bagaimanpun juga Paris sudah memberikannya sosok namja yang benar- benar ia cintai. Tidak jarang aku mendengar eomma menangis sendirian di kamar sambil memeluk foto appa. Jangan berpikir kalau aku tidak kehilangan appa. Bahkan aku dan appa sangat dekat. Aku hanya tidak mau membuat eomma makin sedih. Aku harus menjadi kuat untuk eomma.

Kulihat foto appa di dinding pojok kamarku. Senyum nya adalah senyum terhangat yang pernah kulihat. Terlihat ia juga sedang memegang gitar. Aku ingat betul kapan foto itu diambil. Foto itu diambil saat aku berumur 8 tahun. Saat dimana pertama kali aku diajarkan appa bermain gitar. Aku memotret appa dengan kamera pemberian eomma.

“Hyurin ah??? Cepat turun dan sarapan! Kau akan telat nanti!” Suara eomma menyadarkanku dari pikiran masa lalu yang tidak akan pernah bisa kulupakan. Aku mendesah berusaha menenangkan diriku sendiri yang tiba- tiba sedikit down karena memikirkan appa.

“Ne eommaaaaaaa.” Balasku. Kurapikan kembali rambutku dan sekali lagi menghadap kaca. Kutatap pantulan diriku tepat di manik- manik mataku sendiri.

“Semuanya akan baik baik saja.” Setelah kuyakinkan pada diriku sendiri, langsung kuambil tas ransel coklatku dan keluar kamar, menuruni tangga, dan masuk ke dalam dapur.

Wasseo?” Tanya eomma sambil mengoleskan selai strawberry ke roti. Aku yakin itu untukku, karena eomma sangat paham jika putrinya ini sangat suka dengan strawberry.

“Ne.” Aku duduk di kursi di seberang eomma. Jangan tanya kenapa aku bisa paham dan bicara bahasa negeri ginseng ini. Ini dikarenakan selama aku di Paris, eomma juga mengajariku bahasa Korea. Sehingga bagiku tidak ada masalah selama disini. Mengerti bahasa negeri orang merupakan salah satu keuntungan tersendiri. Setidaknya kemungkinan aku tersesat itu bisa diminimalisir.

“Sudah kau siapkan semuanya? Nanti eomma harus pergi ke rumah sakit dulu lalu setelah itu eomma akan menjemputmu.”

“Ke rumah sakit? Waeyo? Eomma sakit?” Seakan mengerti dengan tatapan ku yang khawatir padanya, eomma tersenyum menenangkan sambil mencubit pipiku.

“Aniya. Kau berharap eomma mu ini sakit?” Eomma tertawa kecil dan meletakkan roti selai strawberry yang terus menggodaku sedari tadi.

“Bukan seperti itu. Jika eomma tidak sakit lalu kenapa pergi ke rumah sakit?” Terus kupandangi wajah eomma. Berharap tidak menemukan bibir pucat, ataupun mata yang sayu. Jika eomma sedang sakit, sudah pasti dua hal itu yang terlihat. Tapi untungnya semua itu tidak ada.

“Eomma mengunjungi teman eomma yang sedang sakit. Sudah lama eomma tidak bertemu dengannya, dan mendengarnya jatuh sakit, tentu saja eomma harus menjenguknya.” Jelas eomma sambil menatap mata ku. Ya, eomma memang selalu seperti ini. Selalu memikirkan orang lain terlebih dahulu bahkan mengesampingkan keadaan dirinya sendiri. Dan satu hal lagi yang aku suka darinya adalah, eomma selalu menatap tepat di mataku saat berbicara denganku. Ini membuatku merasa dihargai dan diperhatikan.

“Ah begitu” aku mendesah lega, dan buru- buru kusantap roti selai strawberry yang sedari tadi kubiarkan karena sibuk mendengarkan eomma

“Kuharap kau menyukai sekolah baru mu Rin, eomma merasa bersalah karena pindah kesini. Bagaimanapun juga ini hal yang baru untukmu, dan~” eomma menggantungkan perkatannya. Kugenggam tangannya dan terus menatapnya, memberikan kesempatan agar eomma bisa melanjutkan perkatannya

“Eomma egois karena lebih mementingkan diri sendiri. Ini karena eomma belum bisa melupakan appa mu.” Air mata sukses jatuh dari mata bening nya. Tidak kusangka, betapa beruntungnya appa dicintai seorang yeoja yang persis seperti bidadari ini. Hatinya benar- benar seperti permata. Tapi juga bisa rapuh dan hancur lebur jika sudah menyangkut orang yang ia cintai.

“Eomma” kuusap air mata nya, menggenggam tangannya lebih erat. Menguatkannya.

“Ini bukan salah eomma. Lagipula untuk apa melupakan appa? Bukankah kita harus selalu mengingatnya? Aku suka disini, meski baru seminggu disini dan masih banyak yang harus aku lihat dan pelajari. Yang jelas aku sudah tau satu hal tentang cara membungkuk.”

Eomma tertawa mendengar lelucon ku. Ini lebih baik. Melihatnya tersenyum itu sudah lebih dari cukup. Dan jujur saja, aku masih merasa aneh dengan cara memberi hormat orang Korea. Maka dari itu aku sempat bingung saat eomma mengajakku ke supermarket dan tiba- tiba penjaga kasir membungkuk untuk menyapa. Awalnya kukira dia tiba- tiba kena serangan usus buntu.

“Aku yakin kita akan menikmati hidup baru disini. Eomma tidak perlu merasa bersalah.” Mencoba menenangkannya sambil mengeluarkan senyum terbaikku. Lega rasanya eomma kembali tersenyum.

“Kau memang anak yang manis.” Ucap eomma. “Makanlah, kau bisa telat nanti.” Pinta eomma. Kemudian langsung ku lahap roti selai tadi sambil terus memikirkan hal apa yang akan terjadi hari ini. Apa semuanya akan baik baik saja?

Author POV

Hyurin sedang berdiri di depan sebuah ruangan kelas, menunggu untuk dipanggil Kim songsaeng untuk masuk ke dalam dan memperkenalkan diri. Jantung nya berdegup kencang, karena bagaimanapun juga ini semua adalah hal yang baru untuknya. Bukan tentang sekolah, tapi tentang tempat nya. Hyurin menundukkan kepala, mengamati kedua sepatunya sambil sesekali mendesah.

Namun tiba tiba ada sepasang sepatu lain yang berhadapan dengan sepatunya. Dilihat dari model sepatunya dia yakin jika yang berdiri di hadapannya ini adalah seorang namja. Bukan juga seorang guru –karena sepatu yang dipakai bukanlah sepatu model fantovel yang seakan sudah model mutlak untuk semua guru-. Dinaikkannya sedikit pandangannya ke celana.

Celana panjang krem. Sudah pasti itu adalah celana yang digunakan siswa di sekolah ini, selaras dengan warna rok yang ia pakai sekarang. Karena penasaran, Hyurin mendongakkan kepala untuk melihat siapa yang ada di depannya. Sosok yang di depannya ini cukup tinggi, bahkan tinggi Hyurin hanya sebatas bahunya. Hyurin tertegun dengan namja yang sekarang juga sedang menatapnya. Pandangan mereka saling bertemu untuk beberapa saat.

Hyurin POV

Rasanya jantung ku makin berpacu dengan cepat. Bagaimana tidak? Namja ini jika dari skala 1-10, sudah pasti kuberikan angka 10 untuk ketampanannya. Rambut coklatnya selaras dengan kulit nya yang putih. Begitu juga dengan warna mata nya yang coklat. Dari jarak sedekat ini, aku bahkan bisa mendengar deru nafas nya yang tenang.

“Minggir.”

Aku tersentak dan buru buru menyadarkan pikiranku lagi.

Ye?” tanyaku gugup. Suara nya berat dan berhasil membuat dadaku membuncah tidak karuan.

“Kau menghalangi pintu masuknya.”

Aku langsung menoleh ke belakang memastikan apa aku benar- benar menghalangi pintu nya. Ternyata benar. Bodoh! Kenapa aku bisa tepat di depan pintu, kurasa tadi aku tidak disini.

“Ah, m mianhae.” Aku membungkuk sambil meminta maaf. Setidaknya ini kedua kali nya aku menggunakan metode membungkuk setelah kejadian di supermarket. Ku geser tubuhku untuk memberinya jalan, masih sambil menundukkan kepala. Aku takut jika aku terus memandangnya, yang ada jantung ku terus berdegup kencang dan membuatku kewalahan mengatasinya.

Namja itu hendak masuk, tapi baru satu langkah kemudian berhenti. Aku bisa melihat dari langkah kaki nya ia mundur lagi ke tempat awalnya. Tepat di depanku.

“Kau anak baru?” tanyanya. Aku langsung balas menatapnya –tentunya dengan sedikit mendongak-

“Ne. Aku baru pindah ke Korea.”

“Ah, jadi kau bukan dari Korea?”

“Ani, aku dari Paris.”

“Paris?” Ia mengangguk- anggukkan kepala. Namun tidak ada senyum sama sekali. Baru kali ini aku melihat seseorang yang tidak tersenyum saat berbicara dengan orang lain. Kecuali memang jika sedang marah. Tapi, hey apa aku barusan membuatnya marah? Hanya karena aku berdiri di depan pintu?

“Sepertinya aku pernah melihatmu.” Ucap nya. Aku tidak mengerti apa yang ia barusan bicarakan, jelas- jelas kami baru saja bertemu.

Baru saja aku ingin menjawabnya, tapi pintu di belakang ku tiba tiba terbuka.

“Hyurin ssi, kau bisa masuk sekarang.” Kim songsaeng sudah berada di sebelahku. Menyadari aku tidak sendiri Kim songsaeng lalu menyapa namja yang ada di depanku ini.

“Kyuhyun ssi? Kau terlambat lagi?”

Ah, jadi namanya Kyuhyun. Bukannya menjawab pertanyaan Kim songsaeng, namja yang bernama Kyuhyun ini langsung melewati kami berdua dan masuk ke dalam kelas,

“Ckck, anak itu memang selalu seperti itu. Ah, Rin, kajja kita masuk dan perkenalkan dirimu ke yang lain.” Kim songsaeng mendahuluiku untuk masuk kelas dan seketika itu aku bisa merasakan kelas tiba- tiba hening dan aku tidak berani menoleh, karena kuyakin semua mata sedang melihatku. Jujur, aku tidak suka menjadi pusat perhatian.

Author POV

“Annyeonghaseyo, Shin Hyurin imnida. Aku dan eomma baru pindah ke Korea. Awalnya kami tinggal di Paris.” Hyurin sedang memperkenalkan diri di depan kelas sambil melemparkan senyum termanisnya. Terdengar beberapa namja mengagumi sosok yeoja yang sedang memperkenalkan dirinya itu. Mata nya yang bulat, kulitnya yang putih, rambutnya yang panjang dan lurus dengan poni yang tertata rapi menutupi kening nya, sudah pasti siapapun akan memuji kecantikannya. Wajahnya juga sangat menggemaskan seperti boneka.

“Paris? Wah kau pasti pernah ke menara Eiffel!” celetuk salah satu namja yang duduk di tengah tengah ruangan. Mendengar pertanyaan konyol itu semua siswa mengejeknya.

“Yak! Pertanyaan macam apa itu? Sudah pasti dia pernah ke menara Eiffel.” Seisi kelas tertawa kecuali seorang namja yang Hyurin temui di depan kelas tadi. Ia sibuk dengan dunia nya sendiri, Ia sibuk dengan benda persegi panjang berwarna biru tua di tangannya.

Hyurin ikut tersenyum melihat candaan teman sekelasnya itu, Sekilas Hyurin melihat ke arah Kyuhyun. Terbesit perasaan ingin sekali namja itu memperhatikannya saat ini.  Tapi sepertinya tidak mungkin.

“Nah Hyurin, sekarang kau bisa duduk di~” Kim songsaeng menyapukan pandangannya ke seluruh sudut ruangan, mencari bangku yang masih kosong.

“Ah itu di depan Kyuhyun, bangku nya masih kosong, kau bisa duduk disana.”

Hyurin menganggukkan kepala dan tidak lupa membungkuk terlebih dahulu ke teman temannya dan ke Kim songsaeng. Hyurin duduk di bangku yang ditunjukkan tadi. Jantung nya kembali berdegup kencang. Bukan karena suasana kelas. Ia tahu jika kelas ini akan menjadi kelas yang menyenangkan, karena ia bisa melihat murid- murid kelas ini ramah dan dengan senang hati menerimanya.

Hyurin gugup karena seseorang yang ada di belakangnya.

Kyuhyun. Ia kembali mengingat nama itu. Nama namja yang berhasil membuatnya terpesona pada pandangan pertama. Dan Hyurin bisa mendengar suara- suara kecil di belakangnya, semacam tembakan? Saat itu juga Hyurin menyadari bahwa benda persegi panjang yang dipegang  Kyuhyun adalah PSP. Hyurin tersenyum kecil, karena siapa sangka jika namja dengan paras tampan dan dingin itu suka sekali bermain PSP.

Namun sekarang bukan senyum yang menghiasi wajahnya, tapi dahinya yang berkerut seolah memikirkan sesuatu. Tentang perkataan Kyuhyun. Dia pernah melihatnya? Dimana?

Kyuhyun POV

Istirahat kali ini benar benar “bukan” istirahat. Bagaimana tidak? Yeoja itu melihatku daritadi dari balik dinding. Bukannya aku tidak melihatnya, tentu saja aku melihatnya, berulang kali sepertinya ia ingin menghampiriku tapi tidak kunjung kemari.

“Ada apa?” kusimpan psp yang daritadi ku “kencani” ke dalam saku, lalu meletakkan kedua tanganku ke belakang sebagai tumpuan bagi tubuhku. Dia terlihat terkejut karena aku menyadari keberadaanya. Bisa kulihat pipi nya merona merah. Manis.

“Eum.. k kau melihatku?” ia melangkahkah kaki nya menjauh dari dinding sambil menyelipkan rambut coklat nya ke belakang telinga.

“Tentu saja. Kau mengganggu istirahatku.” Aku berdiri dan menghampirinya. Yeoja ini tinggi nya tidak lebih dari bahu ku, sehingga aku harus menunduk untuk menatap wajahnya dan berbicara dengannya.

“Ah mianhae..”

“Kenapa tidak di kantin? Ah kau mengikutiku kesini? Tidak banyak yang tahu kalau aku sering kesini.”

Angin mulai berhembus, menerpa wajahku, begitu juga dengan rambut yeoja yang sedang berdiri canggung di depanku ini. Rambutnya berwarna coklat kehitaman. Kuperhatikan dari atas ke bawah, tinggi nya tidak lebih dari bahu ku, dan jika dilihat- lihat wajahnya memang tidak pure korean. Dingin. Kurasa musim salju akan segera datang.

Aku memang selalu menghabiskan waktu istirahatku di atap. Ini karena selain tidak lapar aku juga membenci keramaian. Ke perpustakaan pun percuma, karena pasti banyak yeoja kelewat centil entah darimana tiba- tiba duduk di sampingku, dan mengajakku bicara. Dan itu mengganggu.

“Jika tidak ada yang ingin kau bicarakan…” baru saja aku hendak melangkahkan kaki. “Ah sebentar…” akhirnya dia bicara, kukira angin dan hawa dingin ini membuatnya mematung kedinginan.

“Hhmm i itu..”

“Tidak menatap mata lawan bicara, itu tidak sopan nona.”

Hyurin POV

Sial.

Kenapa aku bisa menjadi segugup ini? Padahal aku hanya ingin menanyakan kenapa dia mengatakan pernah melihatku. Hanya itu.

“Tidak menatap mata lawan bicara, itu tidak sopan nona.”

Deg!

Padahal itu yang sedari tadi kuhindari, maka dari itu aku terus menundukkan kepala. Berdiri di depannya saja, rasanya kaki ku benar benar lemas. Kuremas ujung seragamku sendiri untuk “pegangan”. Setidaknya ini membantu. Ah benar, menatapnya. Kuangkat kepalaku dan mencoba menatap matanya.

“Hhmm m mian… b bukan maksudku me mengi mengikutimu, keundae…” Aku sudah terlihat seperti anak yang baru belajar berbicara. Terbata- bata. Jika bisa, rasanya aku ingin menghilang seketika dan muncul di depan Kim Songsaeng. Untuk apa? Pindah kelas.

“Kau ingin menanyakan tentang “aku yang pernah melihatmu?” Suara berat Kyuhyun menyadarkanku. Bagaimana dia bisa tahu? Ah, kupikir sudah jelas. Lagipula saat aku bertemu dengannya tadi di depan kelas, memang hanya tentang itu pembicaraan kami.

“Eum…” kuiyakan pertanyaannya dengan anggukan kepala. Kualihkan pandanganku sekarang, lagi lagi ke kedua sepatu kets putih yang kupakai. Namun, tidak kudengar balasannya selama beberapa detik, yang ada hanya hembusan angin yang tidak henti- hentinya membuat rambutku yang setengah mati kurapikan tadi di rumah. Karena tidak ada respon, aku memberanikan diri untuk menatapnya lagi (tentunya dengan sedikit mendongak), dan yang kutemukan?

Kyuhyun tersenyum padaku.

Kuulangi lagi, Kyuhyun tersenyum padaku.

Sontak jantung ku kembali berdegup kencang. Pandanganku tidak lepas sedikitpun dari manik- manik mata coklatnya. Bisa kupastikan kalau sekarang wajahku seperti kepiting rebus.

“Kita mungkin akan bertemu lagi, Amie.”

Deg!

Amie? Bagaimana Kyuhyun bisa tahu nama itu?

“M mwo?? K kenapa kau…” sebelum berhasil kuselesaikan kalimatku, Kyuhyun sudah melengos pergi, meninggalkanku yang masih berusaha mencegah nyawa ku melayang, mematung di tengah- tengah atap, masih memikirkan apa yang barusan terjadi.

“Amie…” aku menggumamkan nama itu sambil terus berpikir kenapa namja yang baru ia temui dan ia kenal, tahu nama itu? Bel masuk membuyarkan lamunanku. Buru- buru kurapikan kembali rambutku dan bergegas menuruni tangga menuju ke kelas, tentu saja masih berpikir tentang kejadian di atap. Saat Kyuhyun mengucapkan nama itu.

Amie.

Itu namaku. Nama yang kupakai selama di Paris. Dan bagaimana bisa Kyuhyun mengetahuinya? Benar- benar namja yang misterius. Entahlah, akan kupikirkan nanti.

“Hyurin ah!!!”

Seorang yeoja dengan paras cantik dengan rambut coklat gelombangnya yang digerai berhasil merebut perhatianku, mungkin tidak hanya perhatianku saja, setiap murid yang ia lewati juga memperhatikannya. Dia Hana. Dia teman baruku. Dan sepertinya jika dilihat dari tatapan semua orang yang mengarah padanya, bisa jadi Hana adalah yeoja populer di sekolah ini. Ah, apa namanya? Ulzzang? Yap. Sebutan bagi orang Korea yang wajahnya mirip dengan boneka. Cantik dan menawan.

“Hanaaa!” teriakku riang sambil melambaikan tangan ke arahnya. Hana langsung mengaitkan tangannya ke lenganku. Kami memang sekelas dan Hana duduk di depanku. Dia pribadi yang menyenangkan, bahkan ia menawarkan untuk meminjamkan semua buku catatan nya padaku. Ya meski kulihat tadi kebanyakan isinya adalah lirik lagu. Tapi aku menghargainya dan senang hati menerima penawarannya. Baru beberapa jam saja kami sudah selengket ini. Awalnya kupikir akan sulit bagiku untuk menemukan teman, tapi ini melegakan, aku sudah menemukannya.

“Kau darimana saja? Tadi aku ingin mengajakmu ke kantin dan kau sudah tidak ada di bangkumu. Kau kemana? Perpustakaan?”

Ingin sekali kujawab ke atap, tapi itu tidak mungkin. Perkataan Kyuhyun tiba- tiba terlintas di pikiranku “Tidak banyak yang tahu kalau aku sering kesini.” Jadi mungkin atap adalah “daerah kekuasaannya”, aku mengerti setiap orang mempunyai daerah nya masing- masing. Yang bisa membuat mereka tenang, berpikir jernih jika sedang ada masalah, bukan mengasingkan diri hanya saja ingin memiliki ruang untuk dirinya sendiri dari keramaian. Wow, aku sudah berpikir seperti seorang filsuf. Tapi itu semua karena aku pernah merasakannya, terutama saat awal- awal kehilangan appa.

“Lee Hyurin??” Hana mengguncang tubuhku karena menyadari aku tengah melamun.

“N ne? Ah benar, a a aku di perpustakaan tadi. Mianhae… kau jadi mencariku.” Sesalku. Memang Hana sudah mengajakku untuk pergi ke kantin bersama sebelum istirahat. Tapi aku melupakan janji itu dan mengikuti Kyuhyun. Jangan salahkan aku. Itu karena namja itu benar- benar membuatku penasaran. Kukira perkataannya hanya bercanda, tapi jawaban yang kudapat saat di atap tadi benar- benar makin membuat rasa penasaranku bertambah.

Hana mengangguk- anggukkan kepala mendengar penjelasanku dan buru- buru menggelengkan kepala setelahnya.

“Ani, untuk apa minta maaf. Kita bisa ke kantin lain kali. Dan ingat aku tidak akan melepaskanmu.” Hana mengeratkan tangannya ke lenganku, kami pun tertawa bersama sambil berjalan masuk ke dalam kelas, tentunya dengan pikiranku yang sudah melambung kemana- mana tentang seorang “Kyuhyun”.

Author POV

Sudah seminggu Hyurin berada di sekolah barunya. Dan seminggu juga lah Hyurin masih penasaran dengan Kyuhyun. Tapi mau bagaimana lagi, setiap Hyurin menanyakan tentang hal “itu”, Kyuhyun selalu saja menjawabnya dengan balik bertanya atau jika dijawab, bukan jawaban yang jelas yang seperti diharapkan, terkesan penuh dengan teka- teki. Hyurin memutuskan untuk menyerah dan tidak berminat lagi untuk bertanya pada Kyuhyun. Mungkin saja namja itu hanya mengerjainya,

“Aku kan memang anak baru disini, jadi ini mungkin semacam “simbolik” agar bisa diterima di sekolah ini.” Pikir Hyurin.

Hyurin bergegas keluar perpustakaan sambil membawa beberapa buku yang akan ia pinjam selama beberapa hari ke depan. Bukan buku pelajaran, Hyurin bukan tipe anak yang penasaran dengan ilmu pengetahuan, penasaran dengan bagaimana cara menyelesaikan soal- soal logaritma, penasaran dengan anatomi tubuh manusia (baginya hanya ada jantung, lambung, pau- paru, dan hati), mengumpulkan banyak literatur untuk mengerjakan makalah yang tidak henti- hentinya guru sastra berikan pada murid- muridnya.

“Hyurin ssi, wah sepertinya kau akan jadi penulis yang hebat.” Ucap salah satu penjaga perpustakaan. Hyurin kenal baik dengan penjaga perpustakaan, meski baru seminggu. Hyurin merupakan pribadi yang mudah bergaul dan menyenangkan tidak mengherankan banyak yang menyukainya.

“Ah, aniya, itu terlalu berlebihan. Ini karena aku bosan di rumah. Daripada harus ke toko buku, disini sudah tersedia.” Hyurin tertawa kecil. Penjaga perpustakaan juga ikut tertawa mendengar perkataan Hyurin sambil memeriksa buku- buku yang akan dipinjam Hyurin. Hyurin memang bercita- cita ingin menjadi penulis (tentunya bukan penulis buku aljabar dan kawan- kawannya). Hyurin ingin menjadi penulis novel. Baginya, novel adalah sebuah dunia. Dunia yang bisa ia ciptakan sendiri. Dunia dimana ia yang bisa mengatur jalannya cerita. Dunia dimana ia yang menjad sutradaranya.

“Bagaimanapun juga, kau harus tetap mengejar cita- citamu, Rin. Dengan banyak buku yang kau baca seperti ini, ini memudahkanmu untuk merangkai kata- kata nantinya.” Celetuk namja paruh baya yang sudah menjadi penjaga perpustakaan disana selama lebih dari 10 tahun.

Hyurin yang mendnegar itu hanya tersenyum kecil sambil menganggukkan kepala. Ia memang ingin sekali menjadi penulis, tapi belum ada kepercayaan diri yang cukup dalam dirinya. Bagaimana jika ia tidak bisa membuat jalan cerita yang bagus? Bagaimana jika ia gagal menjadi “sutradara” di dunianya sendiri.

Setelah tanda tangan di sebuah kertas pinjaman, Hyurin segera membawa novel- novel nya keluar perpustakaan. Ia meminjam empat buah novel yang semuanya merupakan novel fiksi dan terjemahan. Terlebih lagi apabila itu novel ciptaan J.K. Rowling. Rowling adalah penulis kesukaanya. Hyurin bahkan memiliki koleksi lengkap novel Harry Potter yang merupakan novel best seller di dunia bahkan diangkat ke layar lebar. Dan tentunya tidak hanya novel Harry Potter saja, masih banyak novel fiksi lain yang ia koleksi. Bahkan ia memiliki lemari khusus untuk semua koleksi novel- novelnya.

Tidak disadari, selama berjalan di lorong, banyak namja yang memperhatikan. Tidak perlu diragukan lagi jika selama ia berjalan, murid namja sering kali curi pandang padanya.

Ya, Hyurin dan Hana sekarang memang duo femme fatale. Itulah julukan yang diberikan pada mereka. Sama- sama cantik dan manis. Hanya saja mungkin Hyurin masih menanggapi apabila ada namja yang ingin berfoto dengannya atau sekedar membelikan minuman untuknya. Hyurin dengan senang hati menerimanya. Tidak dengan Hana, dia akan menolak mentah- mentah itu semua.

Saat Hyurin masuk ke dalam kelas, tidak ada siapapun disana. Ini memang jam istirahat sehingga murid- murid pasti di kantin atau di perpustakaan pikirnya. Hyurin yang merasa tangannya sudah mulai pegal karena membawa empat buah novel –yang cukup tebal- di tangannya, meletakkan novel- novel itu di tas jinjing kecil yang ia bawa. Setidaknya tidak diletakkan dalam ransel, karena itu jelas-jelas akan menyiksa punggungnya.

Hyurin menyapukan pandangannya ke seluruh sudut kelas. Ini tempat barunya, dengan teman- teman yang menyenangkan. Ah tunggu dulu.. menyenangkan? Semuanya? Otomatis Hyurin langsung menoleh ke belakang, tepat pada bangku Kyuhyun.

“Ya.. kecuali namja yang satu ini.” desis Hyurin.

Hyurin kembali membenarkan posisinya. Ia tidak ingin terus berlama- lama larut dalam pikirannya tentang Kyuhyun. Bagaimanapun juga, ia berpikir pasti sudah dikerjai oleh Kyuhyun tentang lelucon aku-pernah-melihatmu. Hyurin menertawai dirinya sendiri karena begitu mudah percaya dan penasaran dengan lelucon seperti itu. Daripada memikirkan hal- hal yang tidak tidak, Hyurin mengambil earphone dari tas dan memasangnya di lubang atas ponselnya. Baru saja Hyurin akan memasangkan ke telinga nya, ia merasa ada suara yang aneh.

Bukan. Bukan suara lebih tepatnya getaran. Hyurin memeriksa ponsel nya kalau- kalau ponsel nya yang bergetar. Setelah diperiksa, tidak ada pesan atau pun panggilan dari ponsel nya. Mungkin itu adalah ponsel orang lain, pikirnya. Hyurin kembali fokus dengan ponselnya, memilih- milih lagu yang akan ia dengarkan. Setidaknya pasti getaran tersebut akan berhenti, toh itu juga bukan urusannya. Namun harapan tidak sesuai dengan ekspetasi. Getaran itu tidak berhenti- henti. Ini bisa diartikan bahwa itu adalah panggilan telfon, bukan hanya pesan. Dan itu telfon yang pasti sangat penting!

Hyurin mencoba meraba- raba meja dan kursi nya, berusaha menemukan sumber dari getararan tersebut, Hyurin berdiri dan menyapukan pandangannya kembali ke seluruh ruangan –setiap sudut-. Masih dengan meraba- raba, akhirnya tangan Hyurin berada di atas meja Kyuhyun.

Disini

Getarannya terasa jelas disini.

Buru- buru Hyurin memeriksa meja Kyuhyun. Gotcha! Tepat di laci meja Kyuhyun, ponsel Kyuhyun sedang bergetar seakan meronta agar sang pemilik segera menjawab panggilan tersebut. Hyurin buru- buru mengambil ponsel Kyuhyun dengan ragu- ragu. Bagaimanapun juga ini bukanlah benda miliknya. Disana tertera tulisan “Eomma”.

“Eomma..” Hyurin bergumam sambil melihat layar ponsel Kyuhyun yang masih menunjukkan panggilan dari “eomma”. Tanpa basa- basi lagi, Hyurin berlari keluar kelas menuju kantin untuk mencari Kyuhyun. Panggilan ini dari eomma Kyuhyun, dan tidak berhenti- berhenti, tentu saja ini adalah semacam panggilan darurat, Bagaimana jika terjadi apa- apa? Bagaimana jika eomma Kyuhyun sedang sakit dan berusaha menelfon Kyuhyun? Bagaimana jika….

Buru- buru Hyurin segera mengusir pikiran pikiran buruk yang ada di kepalanya. Lagipula bagaimana bisa Kyuhyun meninggalkan ponselnya di kelas? Memangnya tidak takut jika ponsel nya hilang? Atau mungkin ada yang bertindak jahil padanya dengan memanfaatkan ponselnya? Mungkin saja bukan? Terlebih sifat Kyuhyun yang sedingin es situ menambah keyakinan Hyurin dengan semua dugaan nya barusan.

Hyurin terus mengomel tidak jelas sambil berlari mencari Kyuhyun. Sesampainya di kantin, masih banyak murid yang belum menyelesaikan makannya. Ini sedikit menyulitkan Hyurin untuk mencari Kyuhyun. Meskipun Kyuhyun tinggi, toh disini semuanya duduk, mana mungkin ia bisa melihat Kyuhyun dengan jelas? Hyurin terus mengelilingi bangku- bangku kantin sambil mengamati setiap orang yang duduk menikmati makanannya. Ponsel Kyuhyun terus bergetar, dan ini membuat Hyurin kembali kewalahan menghadapi jantung nya yang terus berdegup kencang.

Hyurin berhenti dan berdiri di tengah- tengah kantin, masih mengamati setiap sudut kantin mencari Kyuhyun.

Tapi tunggu dulu…

Istirahat.. Tidak suka keramaian…

Atap…

Hyurin yang baru menyadari sudah mencari di tempat yang salah kembali berlari keluar dari kantin sambil sesekali meminta maaf dan menunduk apabila berpapasan dengan namja yang menawarkannya minum. Hyurin memang merasa tidak enak karena menolak, tapi yang di pikirannya sekarang hanyalah menemukan Kyuhyun.

Hanya itu.

Hyurin POV

Atap

Dia selalu disana.

Kupercepat langkahku, ani, bahkan sekarang aku berlari menuju atap. Ponsel Kyuhyun tidak henti- hentinya bergetar. Ini pasti sangat penting, apalagi dari eomma nya. Aku mendengar banyak yang menyapaku, tapi aku tidak bisa membalas bahkan sekedar menoleh. Sungguh, bukan maksudku untuk tidak menghiraukan sapaan mereka, tapi sekarang aku hanya ingin segera menemui Kyuhyun. Kunaiki anak tangga satu persatu. Jika tidak mengingat aku sedang memakai rok tanpa celana training, mungkin aku sudah menaiki dua anak tangga sekaligus.

Kenapa namja itu memilih tempat yang menyusahkan hanya untuk beristirahat. Memangnya dia tidak lapar? Kurutuki pikrian- pikiran konyolku yang mulai muncul karena panik. Sial! Apa anak tangga ini beranak? Kenapa rasanya daritadi tidak sampai- sampai. Bisa kurasakan kaki ku mulai sakit, terutama di daerah betis. Sampai di rumah nanti aku harus mengompresnya agar tidak makin sakit keesokan harinya.

“Hhh…” nafasku memburu saat sudah sampai di pintu yang langsung terhubung dengan atap. Ponsel Kyuhyun kembali bergetar, sehingga buru- buru kubuka pintu dan

“Buukkkk”

Bisa kurasakan pening di kepalaku. Barusan aku menabrak sesuatu, dan sekarang aku sedang memijat kening ku, berusaha untuk mengatasi pandangan yang sedikit kabur. Bisa kulihat sepasang sepatu ada di depan sepatu ku. Ah.. Jadi aku menabrak seseorang bukan sesuatu, dan rasanya aku tahu sepatu itu.

“Kau lagi?” Bisa kudengar suara berat khas seorang namja. Aku tahu siapa pemilik suara itu. Tidak ku hiraukan nada nya yang meledek dan sinis, setidaknya aku bisa bernafas lega sekarang sudah bertemu dengan namja yang membuatku benar- benar kelelahan. Akhirnya… Cho Kyuhyun.

Ponsel Kyuhyun kembali bergetar. Baru kali ini aku merasa sebuah ponsel bisa membuat betisku sakit.

Kyuhyun POV

Aku buru- buru berdiri saat menyadari tidak ada ponsel di saku ku. Bagaimana bisa aku lupa membawanya? Kurogoh kembali saku celana dan seragamku, tapi tidak ada ponsel disana. Sepertinya tertinggal di laci meja pikirku. Tidak menunggu lama, buru- buru kupercepat langkahku menuju pintu.

“Buukkkkkkk”

Pintu tiba- tiba terbuka sebelum aku berhasil memegang knop nya. Tapi seseorang di balik pintu itu berhasil membukanya duluan. Dan dia menabrakku. Dadaku terasa sedikit sakit, karena seseorang tadi hanya setinggi bahu ku, sehingga kepalanya membentur dada ku. Kumundurkan sedikit langkahku untuk melihatnya dengan jelas, sehingga aku bisa memaki nya habis- habisan.

Yeoja itu sedikit menundukkan kepala dan memegangi kening nya, sehingga aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Dahi ku mengernyit bingung, berusaha mengenali rambut coklat kehitaman itu, melihatnya dari atas sampai bawah dan berhenti di sepatu nya. Ah..

“Kau lagi?”

Sengaja kubuat nada bicaraku sedikit meledeknya. Ya, itu agar dia terpancing emosi nya, dan meluapkan kemarahannya padaku. “senjata makan tuan”. Mungkin itu yang ada di pikiranku sekarang. Dengan dia yang nantinya akan marah padaku dan berteriak di depanku, aku bisa memutarbalikkan keadaan. Bukankah seharusnya aku yang marah disini? Lagipula dia sudah tau jika ini daerah kekuasaanku, masih saja mengikutiku kesini. Aku bisa membayangkan bagaimana ekspresinya nanti saat aku membuatnya tutup mulut dan terpojok.

“Bukankah sudah kubi…” belum sempat aku menyelesaikan perkataanku, tiba- tiba dia, Hyurin, menggenggam tanganku. Sontak aku terkejut, bagaimana tidak ? Yang awalnya aku kira dia akan mengomel tidak jelas, sekarang ia menggenggam tanganku. Bisa kulihat yeoja ini masih mengatur nafasnya. Kuberikan ia waktu untuk itu dan menunggunya untuk melanjutkan apa yang akan ia perbuat.

“Ini..” dia meletakkan sesuatu di tanganku. Aku mengenali sesuatu itu.

Ponselku.

Author POV

“Hhh.. p ponselmu, terus bergetar daritadi, hhh kurasa itu panggilan penting, jadi aku mencarimu hhh..” Hyurin masih berusaha mengatur nafasnya, sedangkan Kyuhyun tampak berusaha memahami situasi yang sedang terjadi. Terlebih lagi sekarang eomma nya sedang menelfon, Hyurin bilang daritadi eomma nya terus mencoba menelfonnya. Kyuhyun buru- buru menekan ponsel dan menjawab panggilan eomma nya. Jantung Kyuhyun berdegup kencang, Kyuhyun sepertinya sudah mengetahui jika eomma nya akan berkali- kali menghubunginya, itu berarti ada sesuatu yang tidak beres. Dan Kyuhyun tahu itu, sehingga ia berusaha menahan dirinya sebelum mendengar perkataan eomma nya.

“Eomma?” Kali ini Hyurin menemukan anda bicara yang berbeda dari Kyuhyun. Suara nya sedikit bergetar dan ada rasa ketakutan disana. Hyurin bahkan bisa melihat jika wajah Kyuhyun menegang. Sepertinya benar, benar yang ia pikirkan. Ini pasti berita buruk bagi Kyuhyun. Hyurin terus memandang raut wajah Kyuhyun dengan khawatir. Bahkan sekarang rasa sakit di betisnya sudah tidak bisa ia rasakan lagi. Apa mungkin karena hawa dingin Korea yang mulai datang, sehingga membuatnya mati rasa?

“A aku akan segera kesana” lirih Kyu sambil memutuskan sambungan telfon nya.

“Gwenchana? Apa terjadi sesuatu?” Hyurin memberanikan diri untuk bertanya. Hyurin tahu jika tidak seharusnya ia bertanya seperti itu. Tapi entah kenapa Hyurin ingin sekali menanyakan ada apa, ia merasa… merasa agar Kyuhyun membagi beban itu dengannya.

Tubuh Kyuhyun tiba- tiba terasa lemas. Mendengar pertanyaan Hyurin, Kyuhyun menoleh padanya dan menatap matanya.

“B bisakah kau sampaikan ke Kim songsaeng.. a aku harus pergi sekarang…” dengan suara yang bergetar dan terus berusaha menyeimbangkan badannya sendiri yang terasa sebagian besar sudah mati rasa, Kyuhyun meminta tolong pada Hyurin. Hyurin dengan cepat menganggukkan kepalanya, mengiyakan, agar Kyuhyun tidak perlu mengkhawatirkan Kim songsaeng.

“Kau tidak perlu…”

Buukkkkkk

Tubuh Kyuhyun limbung dan menimpa Hyurin. Beruntung Hyurin buru- buru menangkap Kyuhyun, meski dengan tubuh kecilnya yang tidak sebanding dengan tubuh Kyu, Hyurin sekuat tenaga menahan tubuh Kyuhyun agar tidak jatuh. Beruntung terdapat kursi kayu panjang di dekat mereka. Tanpa berpikir panjang Hyurin memapah tubuh Kyuhyun agar duduk di kursi tersebut. Dan sialnya rasa sakit di betis Hyurin kembali terasa. Sambil menahan sakit, akhirnya Hyurin berhasil membantu Kyu agar duduk di kursi panjang tersebut.

Hyurin POV

Kyuhyun terlihat sangat shock setelah menerima panggilan telfon dari eomma nya tadi. Entah kenapa yang biasanya seorang Kyu yang penuh dengan karisma, sekarang benar- benar terlihat berbeda. Sekarang aku mengerti dan percaya, setiap orang memiliki sisi lemah mereka masing- masing, sekuat apapun itu. Batu saja bisa hancur apabila terus menerus terkena hujan ataupun terkena pukulan yang sangat keras. Mungkin sekarang, pukulan yang sangat berat itu lah yang diterima Kyuhyun.

Aku terus memandangi wajahnya dari samping, tidak berani bertanya apapun dan memberikannya waktu untuk menenangkan diri. Sekarang ia hanya menatap kosong ke depan. Dan sekarang bisa kurasakan badan ku sendiri kedinginan. Bagaimanapun juga rok seragam sekolah tidak panjang bahkan mungkin kata pendek lebih tepatnya, alhasil aku kedinginan sekarang di tengah hembusan hawa dingin Korea. Aku melihat sekeliling, berusaha mencari sesuatu yang bisa kupikirkan sambil menunggu Kyu untuk bicara.

Tiba- tiba saja bisa kurasakan sesuatu di atas tanganku yang mengepal di atas paha -untuk mencari kehangatan-. Itu blazer milik Kyu. Aku menoleh dan mendapati Kyu hanya memakai kemeja seragam putih. Sedangkan blazer merah maroon nya sudah berada di atas rok ku.

“Aku..”

Belum sempat kuselesaikan pertanyaanku, Kyu sudah bangkit berdiri. Bisa kurasakan aura dingin nya kembali lagi. Sepertinya ia sudah kembali menjadi Kyuhyun yang sebelumnya. Dingin. Tapi di sisi lain aku bersyukur, setidaknya ia sudah bisa mengendalikan dirinya sendiri dan bahkan sekarang bisa berdiri di sampingku.

“Tolong sampaikan ke Kim songsaeng soal tadi. Jika ditanya kenapa, aku akan menghubunginya sendiri untuk menjelaskan” kata Kyuhyun tanpa menoleh sedikitpun padaku.

“Hhmm” aku menganggukkan kepala mengiyakan.

“Ah ini..” buru- buru kulipat blazer Kyuhyun dengan rapi bermaksud untuk mengembalikannya kembali. Namun setelah aku berhasil melipatnya, Kyuhyun sudah tidak ada di tempatnya ia berdiri tadi. Bisa kudengar derik pintu yang terhubung dengan atap ini. Pintu itu sudah tertutup kembali dan tinggal aku seorang disini. Kugenggam kembali blazer Kyu, sambil berharap jika semuanya akan baik- baik saja. Ya, semuanya.

Hari ini terasa benar- benar panjang. Entah kenapa sejak tadi aku terus memikirkan Kyu. Bagaimana keadaannya, apa semuanya baik- baik saja.. Tapi tunggu dulu kenapa aku harus memikirkannya? Toh tidak ada hubungannya denganku. Untung saja saat aku memberitahu Kim songsaeng tadi, ia percaya dan tidak berpikir kalau aku hanya berbohong, ani bukan aku mungkin lebih tepatnya Kyu. Bisa dimaklumi jika guru berpikir seperti itu, apalagi Kyuhyun tidak langsung menemuinya dan memberitahunya, aku yang dijadikan perantara, bisa saja kan jika aku dituduh hanya untuk “melindungi” Kyuhyun yang bolos sekolah mungkin? Tapi sepertinya Kim songsaeng percaya dengan apa yang kusampaikan tadi, toh aku mneyampaikan yang sebenarnya. Jika dipikir- pikir Kyuhyun memang bukan tipe siswa yang suka bolos sekolah, meski sering telat.

Bus berhenti di depan halte. Segera saja aku turun dan melanjutkan jalan kaki sampai ke rumah. Jarak antara rumah dan halte bus tadi memang tidak jauh, mungkin hanya sekitar 2 menit lagi aku sampai. Sepanjang 2 menit itu juga aku kembali memikirkan Kyu.

“Haish.. memangnya apa hubungannya denganku? Hyurin, micheosso?” aku terus merutuki diriku sendiri karena memikirkan Kyuhyun. Mungkin sifat eomma juga menurun padaku. Tentang yang suka memikirkan keadaan orang lain tanpa memikirkan diri sendiri. Terang saja, rasa sakit di betisku masih ada, dan bahkan makin sakit jika dibuat berjalan. Seharian tadi setelah dari atap aku langsung kembali ke kelas, tidak banyak berdiri dan berjalan itu membuat betisku tidak terlalu sakit, namun sekarang saat berjalan kembali ke rumah, rasa sakitnya makin terasa.

 Sesampainya di rumah, aku bisa mencium bau masakan eomma yang membuat perutku terus meronta ingin diberi makan. Seharian tadi sebelum ke perpustakaan, aku makan roti selai strawberry kesukaanku yang dibawakan eomma. Perutku sekarang rasanya benar- benar lapar, ditambah berlarian sepanjang lorong dan naik turun tangga tadi, apa aku seorang atlet?

“Aku pulangggggg” aku berteriak sambil masuk ke dapur. Terlihat eomma sedang menyiapkan masakan nya di meja. Momen seperti ini lah yang aku suka, eomma selalu ada di dapur saat aku pulang sekolah, masakan- masakannya yang menggoda selera sudah tersusun rapi di meja, dan yang terpenting eomma menyambutku dengan senyuman nya. Tidak ada yang lebih baik dari itu.

“Putri eomma sudah pulang? Bagaimana hari mu?” Eomma menghampiriku dan merapikan rambutku. Aku bisa merasakan sentuhan lembut dan penuh kasih sayang disana. Sejenak aku bisa melupakan rasa sakit di betisku. Kupeluk tubuh eomma erat, bisa kurasakan eomma terkejut karena perlakuanku.

“Ah, Rin? Gwenchana? Apa hari mu buruk?” Eomma mengelus rambut ku dengan lembut. Terselip kekhawatiran di nada bicaranya. Eomma selalu saja seperti ini, yap, memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri. Ah ani, aku bukan orang lain, aku putrinya. Aku tersenyum kecil, merasa aneh sekaligus bersalah karena eomma selalu mengkhawatirkan keadaannya, sedangkan sekarang saja ia sendiri tidak menanyakan bagaimana hari eomma nya. Eomma yang menyadari aku tidak berbicara sepatah kata pun bahkan sejak masuk rumah tadi, langsung melepas pelukanku dan menatapku khawatir.

“Gwenchana?”

“Eomma…”

“Waeyo? Apa ada yang mengganggumu? Atau ada yang sakit? Sebelah mana?” Eomma terus menyerangku dengan berbagai pertanyaan. Aku hanya bisa tersenyum lalu menggenggam tangannya.

“Gwenchana, semuanya baik- baik saja eomma. Memangnya eomma ingin terjadi apa- apa dengan putri mu yang manis ini?” Aku mengerucutkan bibir dengan nada yang menggerutu. Eomma mencubit pipi ku gemas. Dari jarak sedekat ini aku bisa melihat keringat eomma yang membasahi keningnya.

“Kkk, tentu saja tidak. Syukurlah jika harimu baik- baik saja. Mandilah lalu makan. Eomma masakkan makanan kesukaanmu, bulgogi.”

Mendengar kata “bulgogi” membuat perutku kembali berbunyi. Aku tidak peduli dengan program diet ku, sekarang aku harus makan. Aku menatap eomma sayu, eomma yang seakan sudah mengerti maksudku hanya tersenyum lalu menganggukkan kepala.

“Eits, jangan lupa cuci tanganmu terlebih dahulu. Jika tidak jangan salahkan eomma kalau rasa makanan nya tidak enak, itu karena tangan mu yang kotor.”

“Arraseo arraseo eommaaaaa” kukecup pipi eomma lalu meletakkan ranselku di kursi dan mencuci tanganku di wastafel. Setelah selesai buru- buru aku duduk di kursi. Masakan eomma memang selalu menggugah selera. Terlihat asap masih mengepul di atas masakannya, perutku makin meronta untuk segera makan. Namun ternyata eomma mengambilkan makanan untukku, aku menunggu sambil sesekali menghentakkan kaki agar eomma bisa lebih cepat sedikit. Anaknya ini benar- benar sudah menderita seharian. Kelaparan. Kesakitan.

Menyadari kelakuan putrinya yang seperti bocah ini, eomma akhirnya meletakkan piring yang sudah terisi dengan bulgogi dan nasi. Akhirnya… Buru- buru kuambil sendok dan garpu namun seketika itu juga tanganku ditepis eomma. Aku yang terkejut lalu menatap eomma bingung.

“Berdoa dulu ckck” eomma menautkan kedua tangannya sebagai tanda agar aku juga ikut berdoa. Aku hanya tersenyum kecil sambil buru- buru menautkan kedua tanganku. Eomma memang selalu mengajariku seperti ini sejak kecil. Katanya, “sertakan Tuhan dalam hal apapun”. Kupejamkan mataku dan berdoa, bersyukur pada Tuhan karena eomma masih mendampingiku dan membuatkan masakan yang enak untukku. Setelah selesai, akhirnya aku bisa makan masakan eomma ini. Seperti biasa, masakannya selalu enak. Eomma suka sekali memasak, bahkan ia dulu sering ikut kompetisi masak di Paris. Aku dan appa selalu menemani eomma dan ikut gugup saat eomma mengikuti kompetisi. Padahal yang ikut kompetisi eomma, yang gugup aku dan appa.

Namun, sejak appa meninggal, eomma sudah tidak pernah ikut kompetisi memasak lagi. Ya memang akan berbeda nantinya. Yang biasanya ada aku dan appa di bangku penonton untuk menyemangati eomma, tapi kemudian sudah tidak ada sosok namja yang eomma cintai itu. Aku bisa memahami itu. Sesekali aku menggoda eomma untuk ikut kembali beberapa kompetisi memasak, namun ia menolak dengan alasan lebih baik memasak untukku.

“Ah iya, Rin apa kau masih menyimpan gitar dari appa?” eomma bertanya sambil menyuapkan bulgogi ke mulutnya. Sedangkan mulutku masih penuh, hingga akhirnya aku hanya menganggukkan kepala mengiyakan. Tapi jika dipikir- pikir, kenapa eomma tiba- tiba menanyakan tentang gitarku? Dan lagi, tidak biasanya eomma membicarakan hal yang berkaitan dengan appa. Aku terus mengunyah bulgogi dengan perlahan agar tidak tersedak, sambil menatap eomma, menunggu respon darinya.

“Kau masih ingatkan waktu eomma ke rumah sakit menjenguk teman eomma?”

Lagi- lagi aku hanya menganggukkan kepala dan sibuk mengunyah, sampai sampai bulgoginya terasa hambar.

“Eomma tidak sengaja melewati bangsal untuk anak- anak yang sedang sakit dan dirawat disana. Kebetulan saat itu eomma tidak sendirian, tapi dengan istri teman eomma yang sakit itu, mereka berdua pemilik rumah sakit tersebut.” Eomma terus bercerita sambil sesekali melahap daging bulgoginya. Aku hanya bisa mendengarkan, karena menurutku lebih baik biar eomma menyelesaikan ceritanya, setelah itu aku pasti akan meresponnya –tidak dengan menganggukkan kepala saja pastinya-

“Dan kebetulan juga, istri teman eomma itu, ia sangat menyukai anak- anak, bahkan sering menjenguk anak- anak yang dirawat disana hanya sekedar untuk membagikan makanan kecil, ah… dia benar- benar baik.”

Sekarang aku hampir menghabiskan seluruh porsi bulgogiku. Aku sesekali mengangguk- anggukkan kepala untuk merespon eomma. Tentu saja aku mendengarkan. Teman eomma, rumah sakit, bangsal, anak- anak, makanan kecil.

“Namun, karena kondisi suaminya yang sedang sakit sekarang, ia jadi tidak bisa berkunjung ke bangsal anak- anak. Maka dari itu, sebagai penggantinya, ia ingin memberikan hiburan pada anak- anak tersebut.”

“Hiburan?” kali ini aku merespon. Meski satu kata.

“Ne.” eomma mengiyakan.

“Rin…”

“Hm? Waeyo eomma?” aku menaruh sendok dan garpu yang sedari tadi kugunakan di atas piring, kemudian menatap eomma, menaruh seluruh perhatianku padanya.

“Berhubung kau masih menyimpan gitar pemberian appa mu, lalu kau juga bisa bernyanyi. Bisakah kau melakukan itu untuk anak anak? Menyanyi untuk mereka?”

Hening sejenak.

Bisa kurasakan eomma menatapku antusias. Ia sedang menunggu jawabanku. Ani, lebih tepatnya ia ingin mendengar “persetujuan” dariku.

“Aku? Menyanyi? Untuk mereka? Tapi…. tapi aku belum pernah menyanyi di depan orang banyak eomma. Lagipula..”

“Lagipula?” eomma menggenggam tangan kananku dengan kedua tangannya. Bisa kurasakan kehangatan dari genggaman tangan eomma. “Kau tidak ingin menghibur mereka? Mereka merasakan kesakitan yang bahkan mereka sendiri tidak bisa membayangkan sampai kapan akan berakhir, atau bahkan berakhir seperti apa. Mereka hidup dibayangi dengan kekhawatiran yang luar biasa. Meski begitu, mereka mencoba bertahan, bertahan semampu mereka.”

Eomma terus menatapku, bisa kurasakan ketakutan juga kekhawatiran di matanya. Eomma merasakan apa yang mereka rasakan. Anak- anak itu. Kesakitan yang mereka dapat, bahkan karena takdir yang tidak bisa dilawan siapapun. Sekarang aku mengerti, aku bisa merasakannya.

“Setidaknya kau bisa membantu mereka bertahan, Rin ah”

“Dengan menyanyi?”

“Keajaiban datang dari hal terkecil sekalipun.”

Eomma tersenyum. Eomma benar, setidaknya aku bisa menghibur mereka, membuat mereka menyanyi bersamaku. Appa pernah bilang “bernyanyilah sepenuh hati, itu akan membuathati mu merasa senang dan tidak menangis. Jika hati sudah menangis, maka seluruh tubuhmu akan merasakan sakit.” Di saat orang lain mungkin membawakan obat atau bubur untuk seseorang yang sedang sakit, berbeda dengan appa. Appa justru memberikanku gitar. Menyuruhku bernyanyi bersamanya. Dan ajaibnya, aku selalu merasa baikan setelah bernyanyi. Bernyanyi dengan sepenuh hati.Kurasa aku mengerti kenapa eomma memintaku melakukan ini.

“Baiklah eomma, aku akan menyanyi bersama mereka.” Aku tersenyum sambil menggenggam kedua tangan eomma. Eomma juga tersenyum mendengar jawabanku. Tidak ada salahnya membagi kebahagiaan dengan orang lain. Agar hati mereka tidak menangis.

“Syukurlah. Gomawo Rin ah, eomma senang sekali mendengarnya. Besok kau libur kan? Bagaimana jika besok kau ke rumah sakit?”

“Ne eomma, besok aku akan kesana. Ah, pasti menyenangkan bisa nernyanyi bersama mereka.”

Eomma hanya tersenyum mendengar perkataanku, kemudian ia mengambil piringku yang sudah kosong bermaksud untuk mencucinya. Aku menahannya, dan memutuskan untuk mencucinya sendiri. Saat bangkit berdiri, bisa kurasakan rasa sakit di betis ku lagi.

“Arrghh” otomatis aku langsung terduduk kembali sambil memegangi betisku. Rasanya seperti ditarik saat berdiri.

“Gwenchana? Kau kenapa sayang?” eomma buru- buru menghampiriku. Mengedarkan pandangannya padaku dari atas sampai bawah, memastikan bagian mana yang sakit. Eomma jongkok disampingku, menyingkirkan tanganku perlahan dari betisku.

“Rin, betis mu sakit? Kenapa? Apa kau habis jatuh?”

“Ne? Ah a ani, itu karena hhmm ah tadi ada pelajaran olahraga, dan songsaengnim menyuruh berlari mengelilingi lapangan, dan hhmm dan aku belum melakukan pemanasan sebelumnya, jadi yah hmm..”

“Haish kau ini, bagaimana bisa kau tidak pemanasan? Ck, yasudah langsung masuklah ke kamar, nanti akan eomma bawakan kompres agar besok sudah tidak terlalu sakit lagi.”

“Ne eommaaa.” Kukecup pipi eomma lalu tersenyum manis padanya. Eomma mencubit pipiku gemas. Mungkin benar, jika dikompres, rasa sakit nya bisa berkurang. Hah… kali ini aku kembali memikirkan Kyuhyun. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Apa semuanya baik- baik saja? Semoga semuanya baik- baik saja.

“Rin?”

Kenapa kau jadi memikirkannya? Memangnya apa urusanku?

“Rin??”

Tunggu dulu, jika ingat- ingat, dia tidak mengucapkan terima kasih padaku tadi. Dan lagi, kenapa aku mau saja disuruh menyampaikan “ketidakhadirannya” pada Kim songsaengnim? Memangnya aku dibayar?

“Hyurin ssi????”

“N ne?” aku terkejut karena eomma memanggilku dengan cukup keras.

“Ck, apa yang sedang kau pikirkan? Kau sampai tidak mendengar eomma memanggilmu daritadi. Ada apa?”

“Ah ani, tidak ada apa apa eomma”

“Jinjja? Baiklah, kajja akan eomma antar ke kamarmu”

“Aniya, Aku bisa sendiri, eomma tidak perlu mengantarku.” Kuraih tas ku dan bangkit perlahan sambil berusaha menyeimbangkan diri sendiri.

“Kau yakin?” eomma menatapku khawatir.

“Tentu saja, eomma”

“Baiklah kalau begitu, eomma akan menyiapkan kompres untuk kaki mu. Mandilah dulu, eomma juga masih harus membersihkan piring- piring ini lalu membawakan kompres nya.”

“Arraseo” kukecup pipi eomma sekali lagi, lalu berjalan perlahan keluar dapur menuju kamar. Akhirnya aku bisa mengistirahatkan tubuhku, hari ini benar- benar terasa panjang dan melelahkan. Satu persatu anak tangga kunaiki perlahan sambil berpegangan pada pinggiran tangga. Lagi- lagi aku memikirkan Kyuhyun. Ya.. daripada memikirkan yang tidak- tidak, lebih baik aku memikirkan tentang besok, bernyanyi untuk anak- anak, pasti akan menyenangkan.

Author POV

Hyurin baru saja turun dari bus yang mengantarkannya ke rumah sakit tempat ia akan bernyanyi. Kaki Hyurin sudah terasa lebih baik setelah dikompres semalam, sekarang ia bisa berjalan dengan lancar, meski masih ada sedikit nyeri di bagian tertentu. Setidaknya ini sudah lebih baik pikirnya.

Sambil membawa tas berisi gitar pemberian appa nya. Ia memasuki rumah sakit yang sangat besar itu. Bau obat- obatan menyeruak ke hidung nya. Terlihat hari ini rumah sakit sangat sibuk, terlihat banyaknya suster dan dokter yang lalu lalang sambil memeriksa dokumen- dokumen yang mereka bawa. Beberapa dokter diikuti suster juga melintas di depan Hyurin, membicarakan tentang hal- hal yang tidak Hyurin mengerti. Nama obat mungkin? Hyurin tidak ambil pusing karena memang ia tidak mengetahuinya. Yang jelas, apa yang dokter dan suster itu bicarakan pasti yang berhubungan dengan kesehatan, pikir Hyurin.

Hyurin menyapukan pandangannya ke seluruh lobby. Jujur saja ia bingung harus pergi kemana. Tadi saat berjalan melewati halaman rumah sakit, Hyurin bisa melihat bahwa rumah sakit ini tidak hanya memiliki satu gedung, tapi ada tiga gedung lagi di samping dan di belakang gedung utama yang besar. Masih menyapukan pandangannya, akhirnya Hyurin menemukan meja resepsionis. Hyurin memang berangkat sendiri kesini. Eomma nya tidak bisa menemani karena tiba- tiba ada urusan mendadak. Alhasil Hyurin sekarang sendiri seperti anak hilang.

Belum sempat melangkahkan kakinya, tiba- tiba seorang suster yang sedang mendorong tempat tidur beroda dengan tergesa- gesa sedikit berlari ke arah Hyurin, tanpa melihat posisi Hyurin yang hendak berjalan maju ke depan.

“Aarrgghhhh!”

Tangan kanan Hyurin terserempet pinggiran tempat tidur yang sialnya terbuat dari besi. Suster yang mendorong tempat tidur tadi buru- buru mmeminta maaf dan membungkuk pada Hyurin berkali- kali. Suster itu terlihat sangat bingung dan panik, bisa Hyurin lihat keringat di dahi suster tersebut yang terus menetes.

“Yaakkkk palliiiiii!!!!” terdengar teriakan seseorang dari pintu masuk. Bisa Hyurin lihat terdapat ambulans sedang terparkir di depan. Sepertinya suster ini membawakan tempat tidur untuk seorang pasien yang ada di dalam sana. Mengerti akan hal itu, Hyurin mengatakan pada suster kalau ia baik- baik saja –meski tangannya terasa benar benar sakit-. Bagaimanapun juga ada seseorang yang lebih sakit sekarang. Suster tadi kembali membungkuk minta maaf dan mendorong tempat tidur menuju pintu masuk.

“Setelah kaki, sekarang tangan. Yang penting bukan hati” Hyurin tertawa geli mendengar perkataannya barusan. Dia sudah terlalu banyak membaca roman picisan. Sambil memijat bagian pergelangan tangannya yang sakit, Hyurin kembali melangkahkan kaki nya menuju meja resepsionis.

Beruntung salah satu suster yang menjaga meja resepsionis tadi mau mengantarkan Hyurin ke bangsal anak- anak. Jadi, ia tidak takut tersesat di rumah sakit yang begitu besar ini. Sepanjang perjalanan menuju bangsal anak- anak, ia bisa melihat banyak pasien yang ada di rumah sakit ini. Ya, disinilah tempat bagi mereka untuk mencari kesembuhan. Hyurin juga menganggap bahwa rumah sakit sebenarnya adalah tempat yang penuh penyesalan, kekhawatiran, dan ketakutan. Interior dan arsitektur rumah sakit ini benar- benar bagus dan megah, fasilitas yang diberikan pada pasien juga sangat lengkap.

Tapi sebagus apapun rumah sakit itu, secanggih apapun alat- alat yang digunakan, semuanya tidak lebih hanya sekedar “perantara”. Di sinilah penyesalan saat saat dimana tubuh masih sehat dirindukan, kebahagiaan tanpa kesakitan dirindukan, senyuman tanpa luka dirindukan. Yang ada hanyalah kekhawatiran. Kekhawatiran akan takdir yang nantinya datang dan menentukan. Memang…. Memang semua makhluk hidup akan mati, itu tidak bisa dipungkiri. Tapi, jika bisa memilih, apabila jatah hidup manusia 100 tahun,  bukankah kita semua ingin menikmati dan menjalani 100 tahun itu? Bukan sok naïf, tapi Hyurin yakin jika semuanya berkeinginan seperti itu, termasuk dirinya. Lagi- lagi takdir menang.

Hyurin dan suster yang menemaninya tiba di pintu masuk gedung di samping gedung utama. Terdapat tulisan “bangsal anak- anak” tepat di atas pintu masuk. Berbeda dengan gedung sebelumnya yang penuh dengan orang dewasa, disini mereka benar- benar membuat tempat yang anak- anak “sukai”. Dinding di cat berwarna warni, kursi besi rumah sakit seakan mitos di sini, semua kursinya berbentuk karakter kartun. Bahkan bisa dibilang ini seperti bukan rumah sakit. Hyurin tersenyum sambil memandangi sekeliling, lalu pandangannya berhenti pada panggung kecil di tengah –tengah lobby. Di depan panggung sudah berkumpul anak anak kecil dengan baju rumah sakit mereka, duduk manis di tempatnya masing- masing. Hyurin berpikir jika panggung itu adalah tempatnya bernyanyi nanti.

“Nah mereka sudah menunggu nona.” Suster yang mengantar Hyurin tersenyum sambil mengarahkan tangan ke panggung bermaksud mempersilahkan Hyurin untuk tampil. Di atas panggung sudah ada suster lain yang sepertinya sudah menyadari kedatangannya sehingga ia mencoba memberitahu anak- anak di depan panggung untuk tenang. Hyurin mengucapkan terima kasih –dan tak lupa membungkuk- kepada suster yang mengantarnya lalu berjalan kea rah panggung. Bisa ia rasakan semua pandangan anak- anak lugu itu mengarah padanya. Bagaimana ini, ia bisa merasakan jantung nya kembali membuncah. Ayolah ini kan hanya di depan anak- anak, pikirnya. Bagiamanapun juga ini adalah hal yang baru dan pertama kali baginya unutk bernyanyi di depan umum. Biasanya ia hanya bernanyi untuk eomma dan appa nya, tentunya juga untuk dirinya sendiri.

Hyurin POV

Aku sudah duduk di kursi di tengah tengah panggung sederhana ini. Bisa kurasakan tatapan polos dan lugu anak anak yang duduk manis di kursinya masing- masing di depanku. Tentu saja beberapa suter dan dokter berada di sekitar mereka, menjaga mereka agar tidak terlalu kelewat senang atau excited sehingga melupakan keadaan tubuh mereka sendiri. Ya memang di usia sekecil mereka, seharusnya berada di taman, bermain bersama teman teman sebayanya, bukan disini, di rumah sakit, meski interior ruangannya dibuat senyaman mungkin bagi anak- anak, bagaimanapun juga tempat mereka seharusnya bukan disini.

Aku mengambil gitar coklat dari tas yang sedari tadi kubawa. Gitar coklat dengan guratan kecil di sisi nya. Itu karena saat aku belajar gitar dengan appa, aku tidak bisa diam, sehingga terkadang gitar yang kubawa bisa membentur sesuatu karena kelakuanku yang kelewat aktif. Bahkan bukan sekali dua kali gitar ini jatuh. Tapi sampai sekarang gitar ini baik- baik saja. Bahkan aku sangat menyukai bunyi yang dikeluarkan senar nya. Entahlah, menurutku berbeda dengan gitar yang lain. Gitar ini memiiki suara khas nya sendiri. Dan aku sangat menyukainya. Gomawo, appa.

“Annyeong.” Sapaku sambil melambaikan tangan kananku ke mereka, sedangkan tangan kiriku untuk memegangi gitar agar tidak jatuh dari pangkuanku. Awalnya tidak ada yang menjawab sapaanku, mereka baru menjawab saat suster mengatakan pada mereka agar menjawab sapaan dariku. Tidak masalah bagiku. Mereka memeprhatikanku di depan sini saja itu sudah melegakan. Kupikir nantinya mereka tidak akan memperhatikanku karena aku orang asing, tapi syukurlah itu tidak terjadi, mereka anak- anak yang baik.

“Hhmm.. bagaimana keadaan kalian? Apa kalian semua sudah makan?” tanyaku sambil mengedarkan pandanganku ke semua anak- anak. Mereka terlihat sangat lugu sekaligus lucu. Di sisi lain ada perasaan sedih karena mengetahui jika mereka sedang sakit.

“Belummmmmm” teriak mereka bersamaan. Salah satu suster yang di dekat mereka bergurau berpura- pura marah pada anak anak karena sebenarnya ini sudah lewat jam makan siang, dan anak- anak tadi sudah mendapatkan makanannya.

“Bagaimana bisa itu makan? Sup lagi,itu tidak mengenyangkan, padahal aku ingin bibimbap.” Gerutu salah satu namja kecil dengan rambut hitam nya yang terlihat lembut dan poni yang menutup kening nya membuat ia tampak sangat menggemaskan. Seakan setuju dengan perkataannya, semua anak- anak mengatakan “Neeee” bersama sama sambil menggerutu kecil. Terlihat lucu sekali. Seketika seluruh suster dan dokter juga ikut tertawa, seakan tidak ingin kalah mereka masih saja berdebat dengan anak- anak tentang “makan”. Melihat suasana seperti ini aku juga ikut larut dalam tawa. Ya, setidaknya ini bukan tempat yang mengerikan bagi mereka, semua dokter dan suster menjaga mereka dengan baik, bahkan menjadi teman mereka. Teman yang bahkan bisa menyembuhkan mereka.

“Baiklah, jika kalian belum makan, aku akan bernyanyi untuk kalian. Aku jamin kalian akan langsung kenyang.” Senyumku sambil melihat ekspresi anak anak yang bingung dengan perkataanku barusan. Yang kudapat? Ekspresi aneh.

“Bagaimana bisa? Itu tidak masuk akal.” Sahut seorang yeoja sekitar umur enam tahun yang duduk paling depan.

Aku mengangguk- anggukkan kepala antara menimbang nimbang jika yang ia katakana benar atau salah. Jujur aku sendiri juga tidak paham dengan perkataanku barusan. Aku hanya ingin bercanda dengan mereka.

“Kita lihat saja nanti, apakah kalian masih lapar atau tidak saat aku selesai bernyanyi.” Aku tersenyum pada mereka, sebenarnya aku punya rencana lain untuk membuktikan bahwa pernyataanku benar, tapi… biarkan aku bernyanyi dulu.

Suasana kembali hening, mereka semua menungguku untuk bernyanyi. Kubenarkan posisi gitar di pangkuanku. Kini aku sudah dalam posisi akan memaikan gitar, tinggal kupetik saja senarnya hingga menimbulkan suara yang nantinya sudah lama tidak aku dengar, sejak appa meninggal.

Sejenak kembali kutatap mata anak- anak itu. Aku tersenyum pada mereka, mereka tidak membalasnya, mereka menungguku untuk memetik gitar coklat ini, Mereka sudah tidak sabar.

Kupetik salah satu senar gitar, tepatnya pada kunci C.

Namun…

Seketika tanganku merasakan nyeri yang teramat sakit. Nyeri itu datang dari pergelangan tangan kananku. Aku tidak mengerti kenapa bisa sesakit ini. Berusaha mencoba kembali memetik senar gitar tetapi tidak bisa. Rasanya untuk digerakkan saja benar benar sakit. Aku benar- benar tidak mengerti kenapa bisa…

Ah

Di lobby tadi…

Aku baru ingat jika tentang kecelakaan kecil tadi. Tempat tidur yang didorong suster tadi menabrak tangan kanan ku. Kenapa baru terasa sakit sekarang? Kenapa tidak nanti saja saat aku sudah selesai bernyanyi? Sial.

Seakan mengerti ada yang tidak beres, salah satu suster menghampiriku, menanyakan padaku ada apa dan kenapa. Aku menjelaskan semuanya sambil memijat mijat pergelangan tanganku berharap akan segera membaik. Oh ayolah, setidaknya ijinkan aku menyanyi beberapa bait untuk mereka.

“Aku juga baru sadar tentang hal ini. Tapi tenang saja, mungkin setelah aku pijat seperti ini rasa sakitnya akan hilang.”

“Dasar bodoh.”

Aku yang sedari tadi fokus dengan pergelangan tanganku, tersentak karena jawaban yang kudapat adalah “dasar bodoh”? Kenapa jawaban seperti itu yang aku dapat? Well, memang pijatan tidak akan membantu, tapi hey aku kan sedang berusaha agar bisa bernyanyi. Tapi tunggu dulu, kenapa suaranya berubah? Maksudku…

Kudongakkan kepala, melihat seseorang yang ada di sampingku saat ini. Bukan lagi seorang yeoja dengan  baju putih dan topi suster di kepalanya. Tapi seorang namja. Aku mengerjapkan mataku berkali- kali, berusaha memahami sesuatu. Tidak, tapi mengingat. Tidak, tapi berusaha sadar. Sadar jika namja yang di sampingku ini adalah

Kyuhyun.

Mata bulat coklat yang senada dengan rambut coklatnya. Tentu saja aku mengingat wajah ini. Ini Cho Kyuhyun.

Tapi….

Bagaimana bisa?

Author POV

Kyuhyun sekarang sudah berdiri di samping Hyurin yang terlihat seperti sebagian dari jiwanya tidak bisa menemukan tubuhnya kembali. Kyuhyun hanya tersenyum melihat tingkah yeoja yang ada di samping nya ini, melihatnya dengan tatapan yang benar- benar lucu menurutnya.

Merasa sudah terlalu lama berdiri dan dilihat oleh Hyurin dengan tatapan seperti itu, akhirnya Kyuhyun mengambil salah satu kursi kosong yang ada di sudut panggung dan meletakkannya di samping Hyurin. Ia melepaskan coat coklatnya dan menyampirkan di belakang punggung nya. Kyuhyun mengenakan sweater putih dengan bagian kerah yang menutupi lehernya, terlihat sangat nyaman dan hangat.

“Annyeong. Ah, apa kalian sedang menunggu pertunjukannya?” Kyuhyun bertanya pada anak anak dengan mengeluarkan senyuman hangatnya. Anggukan kepala anak- anak menjawab pertanyaan Kyuhyun. Seketika para suster dan dokter membagikan sebuah bingkisan pada anak anak. Bingkisan- bingkisan itu dibawa oleh beberapa orang yang datang bersama Kyuhyun tadi. Terlihat wajah antusias dan senang saat mereka menerimanya. Ternyata itu adalah bingkisan berisi roti dan mainan.

Hyurin melihat ke arah anak- anak masih dengan tatapan bingung. Hyurin berusaha memahami situasinya sekarang. Tiba- tiba saja Kyuhyun mengambil gitar coklat milik Hyurin dan mengambil alih untuk memainkannya. Mencoba mengenali gitar tersebut dengan memainkan beberapa kunci. Bagi Kyuhyun sebelum memainkan alat musik, dia harus mengenalnya, menyatu dengannya. Dengan begitu seperti ada ikatan satu sama lain.

“Kyuhyun ssi…” Hyurin memberanikan diri untuk berbicara sekarang.

“Nanti saja. Sekarang aku yang akan menggantikanmu memainkan gitar. Tapi kau harus tetap bernyanyi, aku juga akan menemanimu bernyanyi.”

“Ne??”

Kyuhyun bertepuk tangan bermaksud untuk meminta perhatian anak- anak. Para suster dan dokter membantu menenangkan mereka. Hyurin yang masih shock berusaha untuk menguasai dirinya sendiri lagi. Entah apa yang dilakukan Kyuhyun disini, akan ia pikirkan nanti.

“Baiklah, sekarang kami akan mulai bernyanyi. Kalian sudah kuberikan bingkisan, jadi kalian harus memperhatikan kami, eoh?” ucap Kyuhyun kepada anak- anak. Hyurin hendak menanyakan pada Kyuhyun lagu apa yang akan mereka nyanyikan, tapi terlambat. Kyuhyun sudah mulai memainkan jari- jarinya, memetik senar gitar. Hyurin benar- benar bingung, karena sebenarnya ia sudah menyiapkan lagu yang akan ia nyanyikan. Jika ia tidak mengatakan pada Kyuhyun, dan Kyuhyun menyanyikan lagu yang Hyurin tidak tahu, bagaimana?

Sejenak Kyuhyun berhenti memetik gitar, memberikan jeda sebelum ia mengeluarkan suara bass nya untuk bernyanyi.

I can show you the world

Hyurin tertegun sambil menatap wajah Kyu. Kekhawatiran nya hilang seketika, karena memang lagu ini yang akan ia nyanyikan.

Shining, shimmering, splendid

Tell me princess now when did you last let your heart decide?

Alunan petikan senar dari gitar tua itu mengalir dengan sempurna. Seakan antara Kyuhyun dan gitar itu memiliki ikatan selain dengan pemiliknya sendiri.

I can open your eyes

Take you wonder by wonder

Over sideways and under

Hyurin melihat ke arah anak- anak. Mereka menikmatinya. Bahkan ada satu dua anak yang mencoba mengikuti Kyuhyun bernyanyi meski Hyurin tahu jika mereka tidak hafal liriknya, hanya ingin sekali mengikuti Kyuhyun bernyanyi. Ini memang lagu tema dari film Disney yaitu Aladdin. Lagu ini benar- benar familiar bagi anak- anak. Itulah kenapa Hyurin memilih lagu ini.

On a magic carpet ride

Dan setelah ini, adalah bagian yang menurut Hyurin benar- benar akan membuat siapapun kembali ke masa lalu, kembali mengingat tentang kisah cinta Aladin dan Jasmine yang penuh dengan keajaiban.

Hyurin POV

A whole new world

Dunia benar- benar sangat luas.

A new fantastic point of view

Kau tidak akan menyadari betapa banyak hal yang menakjubkan yang dunia ini sembunyikan

No one to tell us no

Rasa penasaran itu akan membawamu mencarinya, menepis semua keraguan orang- orang tentang hal konyol yang sedang membuncah

Or where to go

Dunia ini memang kecil, namun terasa benar- benar luas saat kau menemukan satu saja rahasia yang ia sembunyikan.

Or say we’re only dreaming

Membuatmu lagi dan lagi untuk mencarinya. Dan saat itulah mimpi menjadi kenyataan.

Kyuhyun POV

Bagianku sudah selesai. Sekarang saatnya Hyurin untuk bernyanyi. Tidak menghentikan alunan gitar yang kumainkan, aku terus mengiringinya. Bagian kedua dari reff lagu yang merupakan lagu favoritku sedari kecil. Tidak kusangkan jika Hyurin juga menyukainya

A whole new world

Suaranya menggema di seluruh ruangan, dimana anak- anak menikmatinya. Tidak buruk kupikir. Sepertinya dia sudah menyanyi sejak lama. Suaranya begitu halus, ditambah dengan lagu ini yang menyiratkan begitu banyak makna tentang cinta dan kasih sayang.

A dazzling place I never knew

Ya, dunia memang penuh dengan kejutan dan rahasia. Setiap orang memiliki rahasia, kenapa dunia tidak?

But when I’m way up here

Jika aku mempunyai permadani aladin itu, jelas aku akan menggunakannya untuk menemukan rahasia- rahasia itu. Melihat dari langit mungkin akan lebih jelas dan megagumkan

It’s crystal clear

Saat kau menemukan apapun rahasia itu. Jika kau bisa melihatnya dengan jelas. Bukankah itu hebat?

And now I’m in whole new world with you

Aku memang sedang di dunia penuh rahasia itu. Sekarang. Tidak sendiri. Tapi dengannya.

Author POV

Sepanjang pertunjukan, Kyuhyun dan Hyurin menikmatinya, begitu juga dengan semua orang yang ada disana. Mereka sangat menikmati lagu yang dibawakan Kyuhyun dan Hyurin. Sepertinya lagu ini benar- benar semacam “legenda”. Bahkan terlihat orang dewasa yang melihatnya ikut menyanyikannya sambil menggerakkan kepala dan sesekali bertepuk tangan mengiringi permainan gitar Kyuhyun.

Begitu juga dengan anak- anak. Mereka memeperhatikan Kyuhyun dan Hyurin antusias. Suara mereka berdua begitu harmonis, ditambah dengan alunan gitar yang sangat indah, membuat siapapun yang mendengarkannya akan “ketagihan”.

A whole new world…

A whole new world…

Suara Kyuhyun dan Hyurin saling bersahutan. Saling melengkapi dengan harmonisasi yang begitu indah layaknya musik klasik yang memabukkan.

That’s where will be….

That’s where will be….

Mereka berdua hanyut dalam pertunjukan mereka sendiri. Saling bertatapan satu sama lain. Mencoba ikut larut dalam sebuah lagu yang akan sampai pada akhirnya.

A thrilling chase

Kini mereka berdua terjebak dalam tatapannya masing- masing. Tidak peduli dengan getaran aneh yang mereka rasakan. Mereka hanya ingin menikmati bagian akhir ini.

A wondrous place

Sepertinya dunia mendengar nyanyian mereka. Tentang rahasia apa yang dunia sembunyikan.

Sekarang mereka sepertinya mendapatkan satu jawaban kecil itu

For you and me…..

Dunia ada di antara kau dan aku.

“Kenapa kau bisa ada disini?”

“Memangnya aku tidak boleh disini? Bukankah rumah sakit adalah tempat umum”

“Ani, maksudku…”

“Gomawo”

“Ne? Untuk?”

“Karena sudah membantuku saat di sekolah waktu itu.Sepertinya aku berhutang padamu.”

“Ah tentang itu, tidak usah kau pikirkan.”

“Baiklah, tidak akan kupikirkan jika begitu,”

“Dasar. Kenapa aku bisa bertemu namja yang tidak punya rasa tanggung jawab seperti ini ck. Hahaha.”

Kyuhyun dan Hyurin sedang menikmati makanannya di samping panggung setelah selesai bernyanyi. Mereka menikmati pembicaraan mereka meski banyak sekali pertanyaan yang ada dipikiran Hyurin, tapi mungkin akan lebih baik jika Kyuhyun mengatakannya sendiri pikirnya,

“Kau tidak penasaran?” tanya Kyu.

“Tentang?”

“Sebenarnya yang terjadi waktu di atap itu apa? Kenapa aku bisa disini?Kenapa aku menyanyikan lagu A whole new world? Ah dan bagaimana aku bisa mengetahui tentang nama “Amie”?”

“Aku akan menunggu sampai kau mengatakannya sendiri.” Hyurin kembali melahap roti selai strawberry nya.

Kyuhyun mengangguk- anggukkan kepala sambil mengunyah roti coklatnya. Terlihat sedang memikirkan sesuatu.

“Tidak ada hal buruk yang terjadi waktu itu.”

“Ne?”

“Eomma menelfonku memberitahukan jika appa sudah sadar dari koma nya selama lima tahun akibat kecelakaan beruntun.”

Hyurin terdiam mendengar pernyataan Kyuhyun. Jadi tidak terjadi hal buruk yang selama ini Hyurin pikirkan. Itu melegakan pikirnya.

“Kenapa aku disini? Karena appa dirawat di rumah sakit ini. Eomma juga bilang jika kau datang kesini. Jadi daripada aku bosan, aku menghampiri bangsal anak- anak.”

Hyurin berusaha mencerna perkataan Kyuhyun. Tunggu dulu.. eomma nya? Jadi…

“Lagu itu? Ah, kulihat tadi di dalam tas gitar mu ada kertas berisi kunci gitar lagu ini. Jadi kupikir mungkin kau akan menyanyikan lagu itu. Benar kan?”

Hyurin sekarang menatap wajah Kyuhyun dari samping. Ekspresi di wajahnya seperti mengatakan “apa yang barusan terjadi?”

Kyuhyun yang melihat ekspresi Hyurin hanya tersenyum kecil sambil menaikkan sebelah alis nya, menahan tawa. Kyuhyun kembali melahap roti coklatnya. Tinggal satu pertanyaan lagi bukan?

“Dan kenapa aku bisa tahu tentang namamu? Amie?”

Kyuhyun menoleh ke arah Hyurin, menatap tepat di manik manik mata coklat milik Hyurin. Sedangkan Hyurin? Baginya ini seperti sedang menunggu hasil ujian. Ia ingin segera mengetahuinya.

 

“Kurasa setiap orang punya rahasia bukan? Amie?”

 

 

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s