[Vignette] My Brother

My Brother

My Brother

by ahrinfnm

Super Junior’s Yesung & Ryeowook | Brothership | Vignette (>1000 words) | PG

 

Hyung, kau menaruh kunci motor di mana?”

Hyung?”

Hyu-”

“APA KAU TIDAK BISA MENCARI SENDIRI, HAH?!”

Hyung, kau ini kena…”

Aku tidak peduli!

Biar suara debam dari pintu utama yang kubanting sekejap tadi menjadi puncak amarahku. Biar tubuhnya kini terpaku heran karena ulahku atau tidak, aku tidak pernah peduli.

Dan kuharap aku tidak mempunyai adik seperti dia begitu aku kembali nanti.

***

Aku masih ingat, saat Ibu menjerit di dalam ruang bersalin belasan tahun yang lalu. Aku mendengarnya, rasa sakit itu bahkan menjalar sampai tubuhku yang berada di ruang tunggu. Seragam taman kanak-kanak yang waktu itu kukenakan lantas basah seiring dengan suara bayi yang terdengar setelah itu. Suara bayi yang kemudian mendominasi ruangan tempat ibu menjerit tadi. Hingga tak bisa kudengar lagi, apa Ibu masih bergumam lirih?

Dan yang kutemukan saat itu juga adalah Ibu yang malah terpejam di balik selimut putih rumah sakit.

Apa ia kelelahan?

Mungkin. Sampai ia pun tak sanggup lagi menghembuskan napas dari hidung lancipnya.

Dan yah, semua terjadi tepat setelah beliau melahirkan adik kandungku yang oleh Ayah diberi nama Kim Ryeo Wook.

Kim Ryeo Wook, adik kandungku.

.

.

Aku menyesap secangkir cappuccino di hadapanku. Hangatnya benar-benar merasuk ke dalam kerongkongan, melenyapkan rasa dingin dari tetes-tetes air di luar jendela.

Hari ini hujan.

Seperti hari-hari lainnya saat aku meninggalkan rumah karena amarahku mendadak membara. Membakar suasana sunyi nan damai yang kurasakan sebelum Ryeo Wook datang. Menghardik keramahan yang Ryeo Wook sampaikan padaku.

Selalu.

Sudah menjadi rutinitas keseharianku di Minggu atau waktu libur kuliahku. Membenci ia sebagai adik kandung yang tak pernah kuharapkan lahir ke dunia. Berusaha mengusir dia dari dunia yang tak pernah terasa nyaman lagi saat ia tinggal.

Tapi kurasa… hari ini rutinitas itu tidak terjadi.

“Permisi. Ini cappuccino Anda, Tuan.”

Sudut bibirku terangkat sedang membentuk senyuman kecil menanggapi secangkir cappuccino dari nampan pelayan wanita itu padaku. Pelayan wanita yang biasanya, bermanik hitam penuh bintang, bersurai panjang nan berkilau, dengan senyum manis yang selalu terpatri sanggup mematikan rasaku.

Pelayan yang cantik. Pelayan yang selalu kugoda meski kerlingan matanya justeru mengharap balasan Ryeo Wook jika aku mengajaknya kemari. Membuatku cemburu dalam kurun waktu ia menawarkan menu kepada kami.

Dan kemudian, dua bulan yang lalu Ryeo Wook hampir berhasil menaklukkan hati pelayan wanita ini. Jika saja Ryeo Wook tidak membawa seorang gadis dari kampusnya ke kedai ini sehari sebelumnya.

“Apa ada yang ingin Anda pesan lagi?”

“Tidak. Terima kasih.”

Ia menunduk sopan, berjalan mundur perlahan meninggalkan senyumnya padaku. Aku terkekeh kecil. Sudah cukup lama, setelah kupikir ia mengambil cuti karena ingin menjauh dari Ryeo Wook, aku tidak pernah lagi menggoda ia dengan kedipan nakalku. Pun sudah cukup lama, setelah aku merasa iri tidak bisa mendapatkan hatinya, aku menjadi lebih dingin membalas senyum ramahnya.

Dan kini di hadapanku, telah berjejer rapi dua cangkir cappuccino hangat. Salah satunya baru saja diantar pelayan tadi, dan yang lain tinggal tersisa separuh.

Aku memang menyukai cappuccino. Sangat, bahkan tak cukup satu untuk sehari. Karena aku penggemar segala jenis kopi, berbeda dengan Ryeo Wook yang lebih menyukai cokelat hangat di musim dingin, dan juga tak pernah ingin membiarkanku bebas meminum kopi.

“Hyung, kopi itu tidak baik. Apalagi kau meminumnya setiap hari. Kurangi sedikitlah, Hyung. Sekali-kali, coba jaga kesehatanmu.”

Adik cerewet.

Ia laki-laki, tapi begitu senang mencampuri urusanku. Selalu bersikap sok ibu, mengaturku ini-itu, tapi tak pernah menuruti perintahku.

Adik macam apa dia?

Aku tidak tahu.

Yang hanya aku tahu, aku diberi kepercayaan oleh Ayah agar aku selalu menjaganya. Diberi kepercayaan agar aku dapat meredam amarahku kepadanya. Aku diberi kepercayaan penuh oleh Ayah, bahkan sebelum beliau meninggal dua tahun lalu dalam sebuah kecelakaan tunggal, di hari ulang tahunku.

.

.

Hujan masih belum reda.

Aku melirik jam tanganku. Empat dan dua belas berturut-turut menjadi angka yang ditunjuk oleh jarum pendek dan panjangnya. Gumpalan napas pun bertiup dari hidungku. Sinar yang kupancarkan bahkan tak cukup kuat untuk mengalahkan awan yang terus kelabu.

Dan seperti biasa, aku lupa membawa payung atau pun jas hujan sebagai pelindungku.

“Hyung, kita pulang nanti saja, ya? Hujannya belum reda. Bagaimana kalau kau sakit lagi? Kita, kan, hanya membawa motor.”

Dia benar-benar cerewet.

Padahal sudah berulang kali kukatakan padanya, aku tidak sakit. Hanya saja sesekali tubuhku sensitif menerima hujaman air bumi yang menyebabkan suhu tubuhku meninggi. Dan Ryeo Wook yang kemudian memperingatkanku, layaknya ibuku dulu.

Aku merogoh saku jaketku, menyiapkan kunci motor. Kulemparkan pandangan lebih luas di teras kedai ini. Motor itu ada di sana, sendiri di area parkir tanpa pengayup yang dapat menjaganya dari kejamnya rintikan air.

Lalu mendadak hatiku bimbang, hendak menghampiri tapi jaket yang kukenakan tak cukup hangat. Namun jika aku masih menuruti perintah Ryeo Wook yang terus terngiang di kepalaku, aku yakin, aku akan menyesal berkali-kali lipat dari ini.

Jadi…

…aku putuskan untuk pergi.

***

Hyung, maaf aku pinjam motormu lagi. Aku janji tidak akan lama. Sungguh! Motormu aku jamin akan kembali dalam keadaan baik. Gomawo, Hyung!

Ck, dasar pembohong!

Berani-beraninya dia membohongiku lewat pesan singkat terakhir darinya tanggal 30 April lalu. Ya, kita mungkin memang hanya punya satu motor di rumah, dan itu milikku. Lalu dia pun selalu janji akan pulang cepat, janji akan mengembalikan motorku dalam keadaan baik setiap kali meminjamnya.

Tapi, apa buktinya?!

Di hari itu, tanggal 30 April, ia mengingkari janjinya sendiri.

Aku menunggu waktu itu, hingga jam berdentang lewat dari pukul dua belas malam. Tidak ada kabar, dan dia tak kunjung kembali.

Mana janjinya yang akan pulang cepat? Lagi-lagi dia membuatku membatalkan seluruh rencanaku untuk pergi. Gara-gara dia impianku berkencan dengan salah satu gadis tercantik di kampus pupus sudah. Gara-gara dia pula, aku tidak bisa hadir dalam latihan band-ku yang akan tampil seminggu kemudian.

Dan yang lebih parah lagi, dia mengingkari janji untuk mengembalikan motorku dalam keadaan seperti semula begitu aku mendapat kabar tentangnya.

Motorku tidak dalam keadaan baik. Lecet terdapat di sekujur tubuhnya yang kemudian langsung dibawa ke kantor polisi sebagai bukti.

Ya, bukti bahwa kecelakaan terjadi di persimpangan lima menuju rumah kami.

Dan tidak hanya motorku, Ryeo Wook juga tidak pulang ke rumah karena langsung dilarikan ke Rumah Sakit dalam keadaan luka parah di kepalanya.

Well, dia benar-benar seorang pembohong, kan?

.

.

Dan kini, aku berdiri di sebelah Ryeo Wook yang hanya menyambut kedatanganku dengan mata terus terpejam, dan tubuh yang masih bergeming tak mengindahkanku.

Hari ini, hari ke-52 ia tak sadarkan diri di Rumah Sakit.

Dia koma, akibat kepalanya terbentur keras pada trotoar hingga menghabiskan darah yang begitu banyak. Aku tidak bisa melakukan apa-apa, karena golongan darah kami berbeda. Yang aku bisa, hanyalah memanggil salah seorang kawannya untuk membantu, menyelamatkan adikku dari ujung mautnya.

Aku tidak mengerti.

Harusnya aku merasa kesal karena Ryeo Wook mengingkari janjinya, dan malah menghancurkan motorku satu-satunya. Harusnya aku merasa marah karena lagi-lagi Ryeo Wook membatalkan rencanaku untuk menggelar debut resmi bersama band-ku demi menunggunya melakukan operasi, yang baru dilakukan seminggu setelah kecelakaan terjadi. Harusnya hari itu menjadi hari yang paling kutunggu, tapi… aku justeru tidak datang. Aku memilih tetap tinggal di Rumah Sakit, menunggu Ryeo Wook keluar dari ruang operasi dalam keadaan sehat seperti biasa.

Aku menunggu Ryeo Wook. Menunggu dengan harapan ia segera bangun dan merapalkan kalimat-kalimat nasehat yang biasanya kuanggap mengganggu. Menunggu dengan harapan ia tak meninggalkanku layaknya Ibu atau Ayah. Menunggu dengan harapan saat ia terbangun, aku bisa memeluknya erat tanpa rasa benci, hanya ada rasa takut kehilangan yang selama ini ia nyatakan padaku.

Dan aku…

…menyesal?

“Hyung, selamat ulang tahun! Maaf selama ini aku belum bisa membahagiakanmu seperti janjiku pada ibu dan ayah. Maaf aku terus meminjam motormu dan berulang kali merusakkannya. Tapi aku janji, kalau uang yang kukumpulkan sudah cukup, aku akan membelikanmu motor yang lebih bagus. Biar motormu yang sering kurusakkan aku pakai saja, dan kau pakai yang baru, oke?”

Aku merogoh saku celanaku yang basah, akibat dari keputusanku menembus hujan tadi. Kunci motor kutarik keluar dari sana, memandanginya dan menggenggamnya erat.

Ryeo Wook pernah berjanji, di hari ulang tahunku Agustus yang lalu. Ia ingin membelikanku motor baru, menggantikan motor lamaku yang kini tengah berada di bengkel karena kecelakaan yang menimpanya bersama motorku. Tapi aku tak pernah mengindahkan janjinya itu, menganggapnya angin lalu.

Namun kini aku merasa… bodoh.

Aku bodoh karena telah membenci, menghardik adik kecilku yang selama ini tak ada benarnya di mataku. Aku bodoh karena tidak sekali pun aku menyadari keberadaannya di sisiku sungguh berarti.

Kim Ryeo Wook, dia yang menggantikan sosok ibu yang meninggalkanku demi dirinya. Dan juga menjadi seorang ayah sekaligus semenjak dua tahun lalu.

Kim Ryeo Wook, adik kandungku, justeru menggantikan peranku sebagai kakak yang seharusnya, akibat dendamku sendiri.

Aku mengambil kursi di sebelahku, mendudukkan diriku di sana. Aku meraih tangan Ryeo Wook yang tak terbalut infus, menjadikannya tumpuan kepalaku. Napas panjang kuhirup bersamaan dengan pejaman mataku, mencoba ikut merasakan sakit yang dirasa Ryeo Wook kini.

Hari ini, untuk pertama kalinya aku kembali ingin mengingat dua kejadian yang terus kucoba lupakan. Dimana secara bersamaan, Ryeo Wook lahir sedangkan Ibu meninggalkanku untuk selamanya. Dua kejadian di hari dan jam yang sama, tapi perbedaannya membuat dadaku sesak. Aku sudah berusaha melupakannya. Sudah berusaha untuk tidak mengucapkan sebaris kalimat basa-basi itu kepada Ryeo Wook.

Kecuali….

“Hei, My Brother! Kau bisa dengar Hyung, kan? Selamat ulang tahun! Hyung pastikan Hyung menjadi yang pertama mengucapkannya di tahun ini, jadi kau harus mendengarnya!”

Aku… aku bisa mengucapkannya. Aku tidak pernah menyangka aku bisa melakukannya seperti saat ia begitu semangat memelukku di setiap hari ulang tahunku.

“Ryeo Wook-ah, ayo cepat bangun! Hyung punya hadiah untukmu.”

Aku membuka telapak tanganku yang lain. Kunci motor tadi, kutangkupkan segera pada telapak tangan Ryeo Wook yang pucat pasi.

“Nah, ini kunci motormu. Kau tahu, kan, kalau Hyung tidak pernah suka kau meminjam motor Hyung? Jadi sekarang kau tidak boleh lagi meminjam motor Hyung! Mulai sekarang jangan lagi mengebut untuk bergantian motor dengan Hyung. Kau bebas sekarang. Makanya, cepatlah bangun, Wook-ah. Cepat bangun dan cobalah motor barumu!”

Sejenak aku mengambil napas panjang. Tanganku tergerak menyeka air mataku sendiri. Aku pernah merasakan sakit ini. Rasa sakit yang menusuk ulu hatiku, memaksa agar kurelakan seseorang yang kucintai pergi dari hidupku.

Tapi untuk Ryeo Wook…

…aku tidak ingin rasa sakit ini semakin menjadi.

“Ryeo Wook-ah, kau dengar Hyung, kan? Kau mau turuti keinginan Hyung lagi, kan? Hyung mohon, temani Hyung dulu di sini, ya. Kau berjanji ingin membahagiakan Hyung, kan? Ryeo Wook-ie… bangun, Wook-ie! Jangan meninggalkan Hyung seperti Ayah dan Ibu!”

.

.

Aku memang tidak pernah peduli.

Biar suara debam dari pintu utama yang kubanting setiap harinya menjadi puncak amarahku. Biar tubuhku kini menggigil karena ulahku yang nekat demi menjaga Ryeo Wook di sini, aku tidak peduli.

Dan kuharap aku mempunyai adik seperti dia sampai aku mati nanti.

END

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s